BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
B. ANALISIS AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2013
1. Sasaran Strategis “Meningkatnya Status Kesehatan Dan
Untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis tersebut di atas ditetapkan tiga indikator sebagai berikut:
a. Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh nakes terlatih (cakupan Pn)
Cakupan Pn menggambarkan indikator pelayanan kesehatan terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas kesehatan. Indikator Pn menjadi penting karena periode persalinan merupakan salah satu periode rentan terhadap resiko kematian ibu di Indonesia dan merupakan bagian dari indikator Millenium Development Goals (MDGs).
Indikator Pn diukur dari jumlah persalinan yang ditolong tenaga kesehatan dibandingkan dengan jumlah sasaran ibu bersalin dikali 100%. Tahun 2013, sebanyak 90,88% ibu hamil telah mendapat pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan. Capaian ini cukup menggembirakan karena telah melampau target yang ditetapkan (89%). Hasil pelaksanaan kegiatan dalam 5 (lima) tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3
Capaian Indikator Pn antar tahun 2009-2013
Indikator Target Realisasi Capaian
Persentase persalinan yang ditolong tenaga kesehatan terlatih (Cakupan Pn)
89% 90,88% 102,11%
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
Pada tabel diatas terlihat bahwa cakupan pelayanan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menunjukkan adanya peningkatan bila diperbandingkan antar tahun. Kecenderungan peningkatannya berkisar antara 0,4% hingga 2,26%. Peningkatan terendah (0,4%) terjadi antara tahun 2009 dan 2010 sedangkan tertinggi (2,26%) terjadi antara tahun 2011 dan 2012. Namun demikian cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan setiap tahun telah memenuhi target Renstra Kementerian Kesehatan (2010-2014).
Perbandingan dengan target Renstra, capaian indikator Pn selalu konsisten memenuhi harapan. Terutama tahun 2013, sampai bulan Pebruari tahun 2014 capaian cakupan Pn sebesar 90,88% telah melampaui target yang ditetapkan (89%), bahkan telah melampaui target tahun 2014 sebesar 90%. Perbandingan capaian target Pn antar tahun terhadap target Renstra dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik 1
Tren cakupan Pn tahun 2010-2013 dibandingkan target Renstra Kemenkes 2010-2014
Secara nasional target indikator Pn tersebut telah tercapai, namun masih terdapat disparitas cakupan antar provinsi. Rentang disparitas antar provinsi cukup lebar yaitu berkisar antara 33,3% (Prov. Papua)
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
hingga 99,9% (Prov. Jawa Tengah). Secara rinci cakupan Pn menurut provinsi dapat dilihat grafik berikut.
Grafik 2
Capaian cakupan Pn tahun 2013
Grafik diatas menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan target nasional maka provinsi dengan capaian cakupan Pn rendah adalah; Provinsi Lampung, Jawa Barat, Aceh, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Maluku, NTT, Papua Barat dan Papua. Khusus di Provinsi Papua, perlu ditelusuri lebih lanjut terkait rendahnya capaian cakupan Pn ini.
Kementerian Kesehatan telah melaksanakan berbagai kegiatan sebagai upaya peningkatan kualitas dan cakupan Pn tersebut pada tahun 2013, yaitu:
1) Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu (RAN PP AKI) Tahun 2013-2015, melalui penyusunan Rencana Aksi Nasional.
2) Peningkatan cakupan Pn dan Kf melalui Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu Kelahiran.
3) Penguatan Manajemen dan Jejaring Rujukan di tingkat kabupaten/kota pada Pelayanan Persalinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan,
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
4) Peningkatan koordinasi dengan lintas program dan lintas sektor kesehatan untuk peningkatan cakupan Pn dan Kf di Fasilitas Kesehatan,
5) Peningkatan kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat dan Organisasi Profesi,
6) Fasilitasi, Advokasi, Supervisi dan bimbingan teknis bagi pengelola program kesehatan ibu di daerah dengan cakupan Pn dan Kf rendah.
Walaupun capaian cakupan
indikator Pn telah sesuai harapan, namun Angka Kematian Ibu hingga saat ini masih tetap tinggi, bahkan kasus kematian terjadi peningkatan di fasilitas kesehatan (Rumah Sakit). Hal tersebut berkaitan dengan berbagai sebab, baik langsung maupun tidak
langsung. Penyebab langsung
(Direct Obstetric Death) kematian ibu antara lain adalah komplikasi obstetri pada masa hamil, bersalin dan nifas, atau kematian yang disebabkan oleh suatu tindakan, atau berbagai hal yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan selama hamil, bersalin atau nifas terkait erat dengan faktor penolong persalinan (tenaga) dan tempat/fasilitas persalinan. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) 2012, Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih sudah memperlihatkan tren peningkatan dari tahun sebelumnya, namun kualitas pelayanan dan kompetensi tenaga kesehatan belum sepenuhnya sesuai standar pelayanan.
Oleh karena itu, kebijakan Kementerian Kesehatan adalah seluruh persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan dan diupayakan dilakukan di fasilitas kesehatan. Hal ini sejalan dengan kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
(JKN). Penyelenggaraan JKN dimulai terhitung per tanggal 1 Januari 2014. Dengan berlakunya JKN, maka Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan akan difokuskan untuk kesiapan fasilitas kesehatan dalam mempersiapkan pelayanan untuk mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan ibu bersalin. Pada tahun 2013 Kementerian Kesehatan memfasilitasi penyediaan Bidan Kit sebesar 1.377 unit, tenaga penolong persalinan yang berkompeten sebanyak 104.178 bidan desa di Indonesia dan 56.561 diantaranya tinggal di desa. Keberadaan Bidan yang tinggal di desa memberi kontribusi positif dalam penurunan kematian ibu, namun hingga saat ini banyak bidan yang seharusnya tinggal di Desa, ternyata tidak ada di tempat.
Salah satu upaya penting dalam program kesehatan ibu di Indonesia adalah Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K). Program ini
difokuskan pada upaya deteksi dini untuk menghindari risiko kesehatan pada ibu hamil, menyediakan akses dan pelayanan kegawatdaruratan kebidanan dan bayi baru lahir dasar di tingkat Puskesmas (PONED), serta
pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal komprehensif di Rumah Sakit (PONEK). Dalam implementasinya, P4K dilaksanakan terintegrasi dengan Desa Siaga. Hingga tahun 2013, tercatat 61.731 desa (80%) telah melaksanakan P4K.
Berdasarkan data SDKI 2012, persalinan di rumah dan lainnya masih mencapai 36%. Selain itu, di daerah dengan kondisi geografis sulit, akses ke fasilitas pelayanan kesehatan secara cepat juga menjadi sebuah kendala yang dialami masyarakat.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
Di daerah-daerah tersebut, kebijakan Kementerian Kesehatan adalah tetap pengembangan program Kemitraan Bidan dan Dukun serta Rumah Tunggu Kelahiran. Hingga tahun 2013 persentase kemitraan bidan dan dukun telah mencapai 73,2%, lebih tinggi dibanding tahun 2011 sebesar 68,6%. Bagi ibu hamil dengan akses persalinan yang sulit, Kementerian kesehatan menyediakan rumah tunggu persalinan. Hal ini untuk mendekatkan akses pelayanan kepada ibu hamil, terutama bagi ibu hamil dengan penyulit. Fokus pengembangan Rumah Tunggu Kelahiran adalah pada daerah DTPK. Sampai tahun 2011, tercatat 6 unit (12%) Rumah Tunggu Kelahiran di wilayah Puskesmas DTPK dan meningkat pada tahun 2013 sebanyak 597 unit.
Jaminan Persalinan. Kementerian Kesehatan sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 telah mengupayakan program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang merupakan jaminan paket pembiayaan sejak pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, hingga pelayanan nifas termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Penyediaan Jampersal mempunyai kontribusi yang cukup penting dalam meningkatkan cakupan Pn diseluruh wilayah Indonesia dalam upaya mengatasi hambatan finansial. Pada tahun 2014, pengelolaan Jampersal dan Jamkesmas direncanakan akan bertransformasi ke dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam pelayanan persalinan antara lain:
1) Faktor pendukung keberhasilan:
a) Meningkatnya komitmen dan dukungan dari Pemerintah Daerah setempat dalam mendukung program peningkatan Pn dan Kf di fasilitas kesehatan.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
b) Meningkatkan kapasitas petugas dalam pertolongan persalinan. c) Melakukan bimbingan teknis dan pendampingan.
d) Adanya program Jamkesmas dan Jampersal, Kemitraan Bidan dan Dukun, serta Rumah Tunggu Kelahiran.
e) Meningkatnya peran serta dan kesadaran masyarakat untuk melakukan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
f) Menguatnya motivasi dan komitmen tenaga kesehatan setempat dalam menjalankan program.
g) Meningkatnya dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan lainnya.
h) Meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam program kesehatan ibu di Puskesmas maupun di desa.
2) Faktor penghambat keberhasilan:
a) Belum semua bidan desa tinggal di desa. b) Belum semua dukun bermitra dengan bidan.
c) Walaupun persalinan ditolong tenaga kesehatan sudah tinggi, namun masih ada persalinan yang dilakukan di rumah.
d) Belum semua Puskesmas dan Poskesdes memiliki sarana, prasarana, dan peralatan yang memadai untuk menolong persalinan.
e) Masih ada kepercayaan sebagian masyarakat yang lebih memilih persalinan ditolong non tenaga kesehatan dan dilakukan di rumah. f) Koordinasi dan integrasi lintas program masih kurang optimal.
g) Masih kurangnya pemahaman petugas kesehatan dalam menentukan sasaran ibu bersalin dan nifas serta dalam merencanakan kunjungannya.
h) Sistem pencatatan dan pelaporan belum sesuai yang diharapkan (ada yang tidak tercatat atau ada keterlambatan pengiriman laporan).
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
i) Puskemas yang telah dilatih PONED belum sepenuhnya berfungsi secara optimal, disebabkan mobilitas SDM/provider tinggi, peralatan tidak memadai dan lokasi tidak strategis.
j) Belum semua kabupaten/kota mempunyai RS mampu PONEK. k) RS mampu PONEK belum sepenuhnya berfungsi secara optimal
disebabkan keterbatasan SDM dan sarana prasarana.
l) Masih kurangnya tenaga kesehatan (bidan) untuk melaksanakan kunjungan nifas ke rumah, apabila pasien tidak datang ke fasyankes.
m) Belum optimalnya pencatatan dan pelaporan data KIA.
3) Alternatif pemecahan masalah:
a) Advokasi ke Pemerintah Daerah terkait ketersediaan dan distribusi tenaga kesehatan yang merata serta penyediaan alokasi APBD yang memadai untuk kegiatan kesehatan ibu.
b) Meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam program kesehatan ibu, baik di Puskesmas maupun di desa.
c) Melaksanakan bimbingan teknis untuk:
• Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui P4K dalam Desa Siaga.
• Memfokuskan pemanfaatan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk kegiatan-kegiatan prioritas, termasuk kesehatan ibu.
• Memperbaiki sistem pencatatan dan pelaporan.
• Meningkatkan koordinasi dan integrasi Lintas Program/LS untuk mendukung kegiatan KIA .
• Memperluas jejaring untuk mendukung pelaksanaan kegiatan KIA.
• Memperkuat manajemen dan jejaring pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
b. Persentase cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1)
Cakupan Kunjungan Neonatal Pertama atau yang disebut dengan KN1, merupakan indikator yang menggambarkan upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko kematian pada periode neonatal yaitu 48 jam setelah lahir yang meliputi, antara lain kunjungan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM) termasuk konseling perawatan bayi baru lahir, ASI eksklusif, pemberian Vitamin K1 injeksi dan Hepatitis B injeksi.
Tabel 4
Capaian Indikator KN1 tahun 2013
Indikator Target Realisasi Capaian
Persentase cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1)
89% 92,33% 103,74%
Sumber data: Laporan Kesehatan Anak Tahun 2013
Tabel diatas menggambarkan perkembangan cakupan KN1 dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir. Trend cakupan menunjukkan kenaikan setiap tahun, dengan rentang kenaikan cakupan berkisar antara 1,8% hingga 6,5%. Kenaikan tertinggi terjadi antara tahun 2010-2011 (3,41%) dan terendah antara tahun 2011-2012 (1,8%). Walau secara keseluruhan masih memenuhi target, tetapi terjadi penurunan rentang cakupan antara tahun 2011-2012 dibanding tahun sebelumnya (2010-2011) dan semakin melambat pada tahun 2013, hendaknya menjadi perhatian serius untuk mencari faktor penyebabnya.
Bila dibandingkan dengan target Renstra dalam 5 (lima) tahun terakhir, maka cakupan KN1 menunjukkan peningkatan yang positif. Pada tahun 2009 indikator KN1 tidak memenuhi target (-1,4% dibawah target), namun sejak tahun 2010 hingga tahun 2013,
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
cakupan indikator KN1 mengalami peningkatan hingga mencapai 4,51% (2011), 4,31% (2012) lebih tinggi dibanding target Renstra tahun yang sama. Pada tahun 2013 (92,33%) walau memenuhi target renstra namun ada kecenderungan menurun. Bila kondisi ini dapat segera diperbaiki dan atau dipertahankan maka diperkirakan capaian kinerja Indikator KN1 pada tahun 2014 akan tercapai dengan baik (on track). Tren capaian kunjungan neonatal pertama (KN1) lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik 3
Tren Capaian Kunjungan Neonatal Pertama (KN1) Tahun 2009 – 2013
Secara nasional, capaian KN1 telah terpenuhi. Tetapi masih terdapat disparitas cakupan antar provinsi berkisar antara 39,05% hingga 99,69%. Secara nasional cakupan KN1 sebesar 92,33%. Bila dibandingkan dengan target nasional terdapat 12 provinsi yang telah memenuhi target yaitu: DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, NTB, Gorontalo, Jawa Barat, dan Lampung. Sedangkan tiga Provinsi dengan capaian terendah adalah Papua, Papua Barat dan NTT.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
Gambar 4 - Konseling ASI pada saat Kunjungan Noenatal
Grafik 4
Cakupan KN1 menurut Provinsi Tahun 2013
Faktor yang mempengaruhi pencapaian target KN1 antara lain masalah jumlah, distribusi dan kualitas SDM kesehatan yang belum merata, serta belum semua nakes memberi pelayanan Kunjungan Neonatal sesuai standar. Hal ini
diperberat oleh masalah akses geografis dan juga ketersediaan logistik, masih banyak persalinan yang meski ditolong oleh nakes tetapi tetap dilakukan di rumah, masalah koordinasi dan integrasi lintas program yang belum optimal, masih
lemahnya pemberdayaan
keluarga/masyarakat terhadap penggunaan buku KIA. Sistem pencatatan dan pelaporan yang belum sesuai dengan yang diharapkan, misalnya penolong persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan tidak mencatat dengan benar pelayanan yang telah diberikan.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
Beberapa upaya yang dilakukan terkait dengan pencapaian indikator ini, diantaranya adalah :
1) Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan (dokter, bidan dan perawat) melalui pelatihan Manajemen Asfiksia, pelatihan Manajemen Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), Peningkatan Kemampuan Dokter Umum dalam Penanganan Neonatal, Bayi dan Balita )
2) Kegiatan pendampingan oleh Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan anak di daerah perbatasan telah dilakukan pada pertengahan tahun 2013 dan akan dilanjutkan dalam 6 bulan kegiatan.
3) Distribusi pedoman terkait pelayanan kesehatan neonatal esensial dan pengembangan materi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) hingga ke tingkat puskesmas dan jajarannya.
Gambar 5 - Fasilitasi Peningkatan Pelayanan BBL dan Bayi di Puskesmas dan RS di Kab. Lampung Tengah
Gambar 6 - Peningkatan Kapasitas Dokter Umum dalam Tatalaksana Bayi dan Balita Sakit di Jakarta
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
4) Peningkatan koordinasi lintas program dan lintas sektor melalui pertemuan Pokja MDG, Konsorsium Perguruan Tinggi.
5) Mendorong distribusi tenaga kesehatan (bidan, perawat) yang berkompetensi secara adil hingga ke pedesaan; distribusi dokter umum di seluruh puskesmas dan dokter spesialis ke seluruh kab/kota.
6) Peningkatan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap standar/pedoman melalui pendampingan, pemanfaatan Jampersal, penguatan pemanfaatan register kohort bayi untuk pemantauan sasaran neonatus.
7) Jampersal. Pada 1 Januari 2014, Jampersal akan terintegrasi kedalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal ini berarti, coverage dari Jampersal hanya akan tertuju pada ibu yang menjadi peserta JKN terutama yang berasal dari keluarga tidak mampu dan dari keluarga mampu. Hal ini kemungkinan akan berdampak terhadap capaian kunjungan neonatus (KN) dikemudian hari.
Hambatan:
1) Kualitas tenaga masih belum sepenuhnya sesuai standar, dan distribusinya tidak merata.
2) Rendahnya komitmen pemerintah daerah terhadap peningkatan upaya kesehatan anak.
3) Sarana dan prasarana yang terstandar belum sepenuhnya dapat terpenuhi terutama di daerah dengan akses sulit.
Rencana Tindak Lanjut:
1) Peningkatan kapasitas tenaga pelayanan kesehatan anak.
2) Advokasi dan mendorong komitmen pemerintah untuk
mendukung peningkatan pelayanan kesehatan anak melalui penyediaan biaya dan penyusunan regulasi daerah.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
c. Persentase Balita Ditimbang Berat Badannya (D/S)
Cakupan D/S menggambarkan tingkat motivasi/partisipasi masyarakat dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan, serta kesehatan balita di Posyandu. Indikator ini menjadi penting karena selain menunjukkan pelayanan gizi pada balita, juga memiliki korelasi yang kuat dengan peningkatan cakupan pemberian vitamin A, Imunisasi dan penemuan kasus kurang gizi di Posyandu. Kondisi yang dicapai tahun 2013 sebesar 80,3% (>80%), secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5
Capaian Indikator D/S tahun 2013
Indikator Target Realisasi Capaian
Persentase Balita
ditimbang Berat Badanya (D/S
80% 80,3% 100,4%
Sumber data: Laporan Gizi Tahun 2013
Tabel diatas menggambarkan perkembangan cakupan D/S dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir. Trend cakupan menunjukkan kenaikan setiap tahun, dengan rentang kenaikan cakupan berkisar antara 3,5% hingga 5,1%. Kenaikan tertinggi terjadi antara tahun 2012-2013 (5,1%) dan terendah terjadi antara tahun 2010-2011 (3,5%). Walau secara keseluruhan masih memenuhi target, tetapi terjadi penurun rentang cakupan antara tahun 2010-2012 dan selanjutnya melambat bila dibanding target.
Bila dibandingkan dengan target Renstra, dalam 5 (lima) tahun terakhir maka cakupan D/S dapat tercapai. Rentang capaian terhadap renstra berkisar antara 0,1% hingga 3,5%. Pada tahun 2009 indikator D/S ini 3,5% lebih tinggi dari target (60%), namun sejak tahun 2010 cenderung melambat. Pada tahun 2010 hingga tahun 2012 terlihat mulai melambat dengan selisih capaian 2,9% (2010) dan menurun hingga
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
0,1% di tahun 2011. Bila kondisi ini tidak disikapi secara serius dengan menunjukkan kinerja program yang lebih baik, maka dikhawatirkan pada tahun 2014 tidak dapat mencapai target yang ditetapkan. Grafik dibawah ini menggambarkan lebih jelas hal tersebut.
Grafik 5
Tren Cakupan D/S dibanding Target Renstra 2009-2014
Walaupun secara nasional cakupan D/S ini mencapai target, tetapi masih terdapat disparitas capaian antar provinsi. Rentang capaian antar provinsi berkisar antara 38,8% (Papua) hingga 89,4% (Jawa Tengah). Terdapat 16 provinsi yang cakupannya masih di bawah target dan rata-rata nasional. Trend cakupan D/S tahun 2013 menurut provinsi dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik 6
Capaian D/S menurut Provinsi Tahun 2013
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
Pemantauan pertumbuhan anak yang dilakukan melalui penimbangan berat badan secara teratur, memiliki 2 (dua) fungsi yaitu : 1) sebagai strategi dasar pendidikan gizi dan kesehatan masyarakat, 2) sebagai sarana deteksi dini dan intervensi
gangguan pertumbuhan serta entry point berbagai pelayanan kesehatan anak seperti imunisasi, pemberian kapsul vitamin A, pencegahan diare, dan
sebagainya untuk peningkatan
kesehatan anak. Peran serta
masyarakat dalam penimbangan balita (D/S) menjadi sangat
penting dalam deteksi dini kasus gizi kurang dan gizi buruk. Semakin cepat ditemukan, maka penanganan kasus gizi kurang atau gizi buruk akan semakin baik. Penanganan yang cepat dan tepat sesuai tata laksana kasus anak gizi buruk akan mengurangi risiko kematian, sehingga angka kematian akibat gizi buruk dapat ditekan.
Gambar 9
Aktifitas Penimbangan di Posyandu Puskesmas Rejo Agung Ploso – Jombang – Jawa Timur
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
Faktor pendukung dan penghambat keberhasilan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Faktor Pendukung
Tingkat capaian indikator kinerja persentase balita ditimbang berat badannya (D/S) dapat sedikit diatas target yang ditetapkan, yaitu 80,15% antara lain dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukung berikut:
a. Adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah setempat.
b. Adanya kemauan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan balita di lingkungannya.
c. Tingginya motivasi dari tenaga kesehatan setempat dalam menjalankan program.
d. Adanya dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan lainnya.
e. Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar di Posyandu dengan dilandasi Permendagri nomor 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar di Posyandu. f. Adanya Surat Edaran Menteri Kesehatan nomor
HK/Menkes/333/IX/2012 tanggal 21 September 2012 perihal Penyelenggaraan Bulan Penimbangan di seluruh Indonesia pada setiap Bulan November setiap tahun sebagai upaya berdaya ungkit meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penimbangan.
g. Tersedianya dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang menjadi daya ungkit peningkatan kinerja puskesmas termasuk dalam pembinaan posyandu yang berdampak pada peningkatan D/S.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
2. Permasalahan Terkait Pencapaian Indikator
Belum tercapainya target D/S di beberapa provinsi dari target nasional dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
a. Permasalahan geografis seperti di Kabupaten Indramayu, terdapat jarak rumah penduduk ke Posyandu sekitar 2 km yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Untuk wilayah Papua di kabupaten Wamena penduduk harus berjalan kaki 2-3 jam untuk mencapai Posyandu.
b. Kurangnya dukungan dari para pemangku kepentingan, dimana Posyandu hanya didukung oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas setempat.
c. Kualitas dan kuantitas dari kader masih kurang.
d. Terbatasnya dana operasional, sarana dan prasarana di Posyandu.
e. Kurangnya kemampuan tenaga dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling.
f. Tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat Posyandu masih rendah.
3. Alternatif Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi permasalahan di atas maka perlunya dirumuskan alternatif pemecahan masalah, diantaranya adalah:
a. Mensosialisasikan dan memantau pelaksanaan Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK/Menkes/333/IX/2012 tanggal 21 September 2012 perihal Penyelenggaraan Bulan Penimbangan di seluruh Indonesia pada setiap Bulan November setiap tahun sebagai upaya berdaya ungkit meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penimbangan.
b. Advokasi dan readvokasi kepada pemangku kepentingan terkait.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MINISTRY OF HEALTH REPUBLIC OF INDONESIA
c. Pelatihan fasilitator dan pemantauan pertumbuhan kepada seluruh tenaga kesehatan di Indonesia. Hingga akhir Desember 2013 telah dilatih sebanyak 1.749 pengguna akhir (end user) dan 193 fasilitator.
d. Melakukan bimbingan teknis kepada tenaga kesehatan baik di puskesmas maupun di posyandu.
e. Pelatihan ulang kader posyandu (refreshing kader).
f. Peningkatan pemberdayaan masyarakat terutama di posyandu.
g. Penyediaan dana melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dengan perencanaan yang sesuai dengan besaran masalah di Puskesmas.
h. Di samping upaya tersebut di atas, telah diinventarisasi berbagai upaya terobosan atau kegiatan dalam rangka peningkatan D/S antara lain :
1) Arisan posyandu yaitu kegiatan yang dilaksanakan pada hari buka posyandu dengan melibatkan keluarga yang memiliki balita sehingga membuat para peserta arisan merasakan keterikatan untuk datang ke posyandu.
2) Demo memasak atau demo kecantikan yaitu kegiatan yang dilakukan pada hari buka posyandu dengan memanfaatkan keterampilan yang dimiliki masyarakat atau dapat juga