BAB 3. AKUNTABILS KINERJA
3.2. Evaluasi dan Analisa Capaian Kinerja
3.2.1. Sasaran Strategis 1
Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Hak Perempuan, Pemenuhan Hak Anak dan Perlindungan Khusus Anak untuk Mewujudkan Indonesia Ramah Perempuan dan Layak Anak
Sasaran Strategis pertama ini memiliki 9 (sembilan) Indikator Kinerja Utama (IKU). Capaian 9 (sembilan) IKU dari Sasaran Strategis 1 dijabarkan pada Tabel 7. Dari 9 IKU, sebanyak 6 IKU memiliki capaian yang sangat baik (≥100% target), 2 IKU memiliki capaian baik
(90-<100% target), dan 1 IKU memiliki capaian yang kurang (<70% target).
Tabel 7 Capaian 9 (Sembilan) Indikator Kinerja Utama dari Sasaran Srategis 1
No. Indikator Kinerja Utama Target Realisasi Capaian
(%)
1. Indeks Pembangunan Gender (IPG) 91,28 91,06 99,76
2. Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) 73,50 75,57 102,82
3 TPAK Perempuan 53,13 53,13 100.00
4 Indeks Perlindungan Anak ( IPA) 68,10 66,89 98,22
5 Prevalensi Kekerasan terhadap Perempuan (KtP)
9 8,7 103,45
6 Prevalensi Kekerasan terhadap Anak (KtA) Lk=58,9 Pr=59
Lk=34 Pr =41,05
Lk=173,23 Pr=143,73 7 % Perempuan Korban Kekerasan yang
Mendapatkan Layanan Komprehensif
80 87,67 109,5
8 % Anak Korban Kekerasan yang Mendapatkan Layanan Komprehensif
68 71,81 105,60
9 % Daerah dengan Peringkat Ramah Perempuan dan Layak Anak (RPLA)
32,35 20,59 63,87
Indikator kinerja yang capaiannya sudah sangat baik (≥100%) adalah:
1. Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) 2. TPAK Perempuan
3. Prevalensi Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) 4. Prevalensi Kekerasan terhadap Anak (KtA)
5. Persentase Perempuan Korban Kekerasan yang Mendapatkan Layanan Komprehensif 6. Persentase Anak Korban Kekerasan yang Mendapatkan Layanan Komprehensif Indikator kinerja yang capaiannya sudah baik (90-<100%) adalah:
1. Indeks Pembangunan Gender (IPG) 2. Indeks Perlindungan Anak ( IPA)
Indikator Kinerja 1: Indeks Pembangunan Gender (IPG)
Keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada sejauh mana keseimbangan partisipasi perempuan dan laki-laki terus didorong secara maksimal di semua aspek kehidupan. Dalam meningkatkan partisipasi laki-laki dan perempuan, keterbukaan akses yang setara dan kontrol yang seimbang menjadi prasyarat, sehingga manfaat dapat diperoleh secara adil dan merata. Untuk tujuan tersebut, urgensi kesetaraan gender semakin nyata di semua bidang pembangunan, baik di bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan, sosial, dan politik.
Gender adalah perbedaan peran, kedudukan, tanggung jawab, dan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas menurut norma, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan masyarakat. Isu gender telah menjadi salah satu tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals
(SDGs). Persoalan gender secara eksplisit tercantum sebagai tujuan ke-5 dari 17 tujuan SDGs, yaitu: ‚Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan‛. Untuk mencapai SDGs tersebut, maka salah satu strategi yang dilakukan pemerintah adalah melakukan penerapan pengarusutamaan gender (PUG) dalam pembangunan nasional.
PUG mendorong kesetaraan gender di seluruh aspek pembangunan melalui pengintegrasian pengalaman, kebutuhan serta aspirasi perempuan dan laki-laki, ke dalam berbagai kebijakan dan program mulai dari tahap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pemantauan. Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang
Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan, menginstruksikan kepada seluruh Menteri dan Kepala Lembaga non Kementerian (K/L), Lembaga Tinggi Negara, Kapolri, Panglima TNI, para Gubernur dan para Bupati/Walikota di seluruh Indonesia untuk melaksanakan pengarusutamaan gender dalam pembangunan.
Untuk mengukur kesetaraan gender dan mengevaluasi hasil pembangunan perspektif gender digunakan beberapa indikator, diantaranya adalah Indeks Pembangunan Gender (IPG). IPG merupakan perbandingan antara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) laki-laki dan IPM perempuan. IPM merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia yang dilihat dari tiga dimensi yaitu kesehatan (angka harapan hidup), pendidikan (rata-rata lama sekolah dan angka harapan lama sekolah), dan ekonomi (Produk Nasional Bruto per kapita).
IPG merupakan ukuran keberhasilan pembangunan kesetaraan gender (laki-laki dan perempuan) dari dimensi kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Dimensi kesehatan menggunakan variabel usia harapan hidup (UHH). Dimensi pendidikan menggunakan variabel harapan lama sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS). Sedangkan untuk dimensi ekonomi ditunjukkan dengan variabel jumlah pengeluaran (konsumsi) sebagai proksi dari pendapatan. IPG digunakan sebagai IKU Kemen PPPA karena indikator ini menjadi salah satu ukuran keberhasilan dalam menurunkan kesenjangan atau gap pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. Semakin tinggi angka IPG (mendekati 100) maka semakin kecil kesenjangan gender yang terjadi. IPG dihitung berdasarkan data IPM terpilah jenis kelamin yang dipublikasikan oleh BPS tahun 2021 (analisis data tahun 2020).
Gambar 5 menunjukkan bahwa kesenjangan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia semakin berkurang. Hal ini terlihat dari capaian IPG yang mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Capaian IPG Indonesia dari tahun 2010 (89,42) sampai 2020 (91,06) mengalami peningkatan sebesar 1.64 poin. Secara umum, peningkatan IPG ini disebabkan oleh pertumbuhan IPM perempuan yang lebih besar dibanding IPM laki-laki.
Gambar 5 Perkembangan IPG Tahun 2010-2020 Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
89,42 89,52
90,07
90,19 90,34 91,03
90,82 90,96 90,99 91,07 91,06
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Data tahun 2010-2015 menunjukkan angka IPG yang konsisten meningkat dari 89,42 menjadi 91,03. Akan tetapi pada tahun 2016, terjadi penurunan IPG menjadi 90,82. Pada tahun 2016-2019 capaian IPG kembali menunjukkan tren peningkatan yang positif dari 90,82 menjadi 91,07. Capaian IPG Tahun 2020 (91,06) mengalami penurunan sebesar 0,01 poin dari tahun sebelumnya. Penyebab penurunan IPG adalah pada dimensi ekonomi, pandemi Covid-19 berdampak terhadap ekonomi perempuan yaitu pengeluaran perkapita perempuan mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan laki-laki. Meskipun capaian IPG tahun 2020 sudah cukup tinggi yaitu 91,06, namun belum mencapai target IKU Kemen PPPA tahun 2020 yaitu 91,28 sehingga capaian IPG tahun 2020 sebesar 99,76%.
IPG dihitung dari perbandingan antara IPM laki-laki dan IPM perempuan. Data BPS menunjukan bahwa IPM laki-laki masih lebih tinggi dibandingkan IPM perempuan (Gambar 6). Di bidang kesehatan, angka harapan hidup perempuan selalu lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Sebaliknya dibidang ekonomi, pengeluaran per kapita laki-laki selalu lebih tinggi dibandingkan perempuan. Pada bidang pendidikan, angka harapan lama sekolah perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki sedangkan rata-rata lama sekolah perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Data BPS menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia di Indonesia mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Hal ini terlihat dari capaian IPM yang terus menunjukkan peningkatan signifikan yang diukur melalui indeks kesehatan, pendidikan dan pengeluaran pada laki-laki dan perempuan. Namun, Gambar 6 menunjukkan bahwa kenaikan IPM perempuan lebih lambat dibandingkan IPM laki-laki.
Secara nasional, sejak tahun 2016 Indonesia sudah mencapai status tinggi yaitu 70,18.
Capaian ini terus meningkat dari tahun ke tahun hingga di tahun 2020. Capaian Indonesia pada IPM tahun 2020 ini mendudukkan Indonesia pada peringkat 107 dari 189 negara. Di tingkat ASEAN, Indonesia masih berada pada peringkat ke-5 dari 10 negara di ASEAN.
Dengan demikian, posisi Indonesia berada di peringkat tengah sama seperti Filipina, dibawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand; namun berada di atas Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja.
Jika dipilah berdasarkan jenis kelamin, nilai IPM ini masih menunjukkan kesenjangan pada perempuan, karena IPM perempuan masih tertinggal dibanding laki-laki (Gambar 6). Sejak tahun 2010, IPM laki-laki telah berstatus tinggi dengan nilai IPM di atas 70, namun IPM perempuan masih berstatus sedang dengan nilai IPM di kisaran angka 63,4. Tahun 2020, IPM perempuan masih berstatus sedang dengan nilai IPM 69,19, tertinggal jauh dengan laki-laki yang telah mencapai nilai IPM 75,98.
Gambar 6 Perkembangan IPM Tahun 2010-2020 Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
Di bidang kesehatan, angka harapan hidup di Indonesia baik laki-laki maupun perempuan terus mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir (Gambar 7). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan status kesehatan masyarakat Indonesia. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, perempuan memiliki usia harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Hal ini menunjukkan derajat kesehatan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki-laki.
Pada tahun 2020, usia harapan hidup perempuan Indonesia adalah 73,46 tahun meningkat 1,63 tahun dibandingkan tahun 2010 (71,83 tahun). Sementara itu, usia harapan hidup laki-laki pada tahun 2020 adalah 69,59 tahun lebih lama 1,7 tahun dibandingkan tahun 2010 (67,89 tahun).
Gambar 7 Perkembangan Usia Harapan Hidup Tahun 2010-2020 Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
70,94 71,45 71,98 72,69 73,36 73,58 74,26 74,85 75,43 75,96 75,98
63,43 63,96
64,83 65,56 66,27 66,98 67,44
68,08 68,63 69,18 69,19 66,53 67,09 67,7 68,31 68,9 69,55 70,18 70,81 71,39 71,92 71,94
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Laki-laki Perempuan Total
71,83 72,02 72,22 72,41 72,59 72,78 72,8 73,06 73,19 73,33 73,46
67,89 68,09 68,29 68,49
68,87 68,93 69,09 69,16 69,3 69,44 69,59
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Perempuan Laki-laki
Dimensi pendidikan dilihat dari rata-rata lama sekolah dan perkembangan angka harapan lama sekolah. Gambar 8 dan 9 menunjukkan bahwa kesenjangan peluang sekolah antara perempuan dan laki-laki sudah semakin rendah. Artinya, laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan sekolah yang hampir sama atau tidak berbeda. Dalam sepuluh tahun terakhir, secara keseluruhan, terdapat peningkatan rata-rata lama sekolah dan angka harapan lama sekolah.
Gambar 8 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Tahun 2010-2020 Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
Gambar 8 menunjukkan adanya peningkatan rata-rata lama sekolah 1 tahun untuk laki-laki dan 1,18 tahun untuk perempuan dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2020, rata-rata lama sekolah laki-laki (8,9 tahun) lebih tinggi dibandingkan perempuan (8,07 tahun). Akan tetapi angka harapan lama sekolah laki-laki (12,93 tahun) lebih rendah dibandingkan perempuan (13,04 tahun).
Secara umum, hampir tidak ada perbedaan peluang pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini terlihat dari garis angka harapan lama sekolah antara laki-laki dan perempuan yang hampir sejajar. Gambar 9 menunjukan bahwa angka harapan lama sekolah perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Angka harapan lama sekolah dalam 10 tahun terakhir mengalami peningkatan 1,67 tahun untuk perempuan dan 1,73 tahun untuk laki-laki. Pada tahun 2020, terlihat bahwa harapan lama sekolah perempuan 13,04 tahun sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki 12,93 tahun.
7,91 7,98 8,06 8,14 8,24 8,35 8,41 8,56 8,62 8,81 8,9
6,89 6,96 7,03 7,09 7,23 7,35 7,5 7,65 7,72 7,89 8,07
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Laki-laki Perempuan
Gambar 9 Perkembangan Angka Harapan Lama Sekolah Tahun 2010-2020 Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
Perhitungan IPM terkait dimensi ekonomi dilihat dari pengeluaran per kapita per tahun.
Ketimpangan ekonomi yang cukup signifikan masih terjadi antara laki-laki dan perempuan. Gambar 10 memperlihatkan rata-rata pengeluaran per kapita per tahun laki-laki 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan. Dalam 10 tahun terakhir, terdapat peningkatan rata-rata pengeluaran laki-laki sebanyak Rp 1.607.000/ kap/ tahun dan perempuan sebesar Rp 1.433.000/ kap/ tahun. Pada tahun 2020, rata-rata pengeluaran laki-laki (Rp 15.463.000/ kap/ tahun) atau 58% lebih tinggi dibandingkan perempuan (Rp 9.004.000/ kap/ tahun)
Gambar 10 Perkembangan Rata-rata Pengeluaran Per Kapita (Ribu Rp/orang/tahun) Tahun 2010-2020
Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
13856 13984 14113 14132 14150 14163 14554 14932 15546 15866 15463
7571 7688 8063 8189 8316 8464 8591 8752 9042 9244 9004
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Laki-laki Perempuan
11,2 11,41
11,63 12,07
12,37 12,42
12,67 12,78 12,84 12,87 12,93
11,37 11,56
11,75 12,13
12,4
12,68 12,79 12,93 12,99 13,03 13,04
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Laki-laki Perempuan
Pada tahun 2020, capaian IPG secara nasional adalah 91,06 namun, masih terjadi disparitas capaian IPG antar provinsi (Gambar 11). Provinsi DI Yogyakarta memiliki IPG tertinggi (94,8) sedangkan Provinsi Papua memiliki IPG yang terendah (79,59).
Berdasarkan sebaran provinsi, terdapat 15 provinsi dengan nilai IPG di atas nilai nasional.
Lima provinsi dengan capaian IPG yang tertinggi adalah DI Yogyakarta (94,8), DKI Jakarta (94,63), Sulawesi Utara (94,42), Sumatera Barat (94,17), dan Bali (93,79). Sementara itu, lima provinsi dengan capaian IPG terendah adalah Provinsi Papua (79,59), Papua Barat (82,91), Kalimantan Timur (85,7), Kalimantan Utara (86,67), dan Gorontalo (86,73). Secara keseluruhan, di tahun 2020, baru terdapat 14 provinsi yang telah mencapai target Kemen PPPA dengan capaian IPG sebesar 91,06.
Gambar 11 Capaian IPG Tahun 2020 Berdasarkan Provinsi Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
Dalam melaksanakan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, Kemen PPPA telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan integrasi gender melalui strategi pengarusutamaan gender ke dalam program dan kegiatan, baik di tingkat kementerian maupun pemerintah daerah. Sejak terbitnya Inpres tersebut, berbagai upaya telah dilakukan untuk mempercepat pelaksanaan PUG pada berbagai bidang pembangunan. Inpres tersebut mewajibkan semua Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah untuk melaksanakan Pengarusutamaan Gender.
PUG di dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional sebagaimana termaktub dalam Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. Dasar pelaksanaan PUG
dalam pembangunan juga telah diperkuat melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 (UU Nomor 17 Tahun 2007) serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, 2010-2014, 2015-2019 dan 2020 – 2025 yang mengatur bahwa kesetaraan gender ditetapkan sebagai salah satu prinsip yang harus diarusutamakan di seluruh program/kegiatan pembangunan.
Pemberian Penghargaan APE (Anugerah Parahita Ekapraya) yang dilaksanakan Kemen PPPA sejak tahun 2006, merupakan sebuah bentuk apresiasi yang diberikan kepada Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah yang telah memperlihatkan keberhasilan maupun kemajuan-kemajuan dalam melaksanakan implementasi PUG di dalam berbagai bidang pembangunan. Namun belum semua kementerian/lembaga dan pemerintah daerah berpartisipasi mengikuti evaluasi pelaksanaan PUG dan menerima penghargaan APE, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 8 Penerima Penghargaan APE Tahun 2016-2020
Kategori APE 2016 APE 2018 APE 2020
K/L Prov Kab/Ko K/L Prov Kab/Ko K/L Prov Kab/Ko
Mentor 4 6 5 6 4 4 7 4 4
Utama 3 4 19 1 8 36 - 13 59
Madya 2 4 41 1 8 75 6 4 91
Pratama 3 3 19 2 44 - 8 112
Total 12 17 84 8 22 159 13 29 266
Gambar 12 Peta Sebaran Provinsi Penenerima APE Tahun 2020
Dari data tersebut, masih diperlukan upaya-upaya advokasi dan koordinasi untuk meningkatkan pelembagaan PUG (meliputi 7 prasyarat) serta implementasi baik di pusat maupun di daerah. Mulai dikembangkannya Indeks PUG sebagai alat untuk mengukur outcome dan impeks dari seluruh stategi kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan dalam rangka mencapai keadilan dan kesetaraan gender yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, diharapkan akan semakin memperlihatkan gambaran tingkat pelembagaan dan pelaksanaan PUG baik di Kementerian dan Lembaga maupun di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Capaian Indeks tersebut secara otomatis akan menjadi sebuah indeks yang akan digunakan untuk mengukur kinerja pelaksanaan strategi PUG sebagai indeks antara dari pencapaian IPG, dan IDG.
Dibandingkan dengan pencapaian pada periode sebelumnya banyak kemajuan yang dicapai, khususnya pada pemenuhan pra-syarat kelembagaan dimana semua daerah sudah mempunyai dasar hukum dan syarat lainnya. Namun demikian, pelaksanaan PUG belum berjalan seperti yang diharapkan. Walaupun prasyarat kelembagaan sudah mengalami banyak kemajuan, namun pelaksanaan PUG masih diartikan sebagai pemberdayaan perempuan yang dilakukan belum dengan sistematika PUG/PPRG. Proses PPRG sudah dapat dilakukan dengan lebih leluasa mengingat dasar hukum dan syarat kelembagaan lainnya sudah lebih tersedia. Tahap selanjutnya adalah menggunakan fasilitas tersebut untuk mendorong pelaksanaan PUG.
Penguatan dasar hukum melalui penyusunan RUU Kesetaraan Gender diharapkan dapat menjadi payung hukum yang komprehensif dan tunggal dalam pelaksanaan PUG di Indonesia. Selain penyelesaian RUU Kesetaraan Gender, kebijakan-kebijakan lain yang telah dirumuskan di tahun 2021 dan diharapkan akan selesai pada tahun 2022 antara lain:
a. Rancangan Perpres tentang Grand Design Peningkatan Keterwakilan Perempuan di DPR, DPD dan DPRD;
b. Rumusan Peraturan Menteri PPPA tentang Parameter Kesetaraan Gender berikut lampiran PKGnya;
c. Rumusan Peraturan Menteri PPPA tentang Indeks PUG berikut lampiran Indeks PUGnya; dan
d. Pedoman Standarisasi Lembaga Penyedia Layanan Pemberdayaan Perempuan yang akan menjadi panduan dalam standarisasi lembaga
Selain itu, fasilitasi PUG dan PPRG di berbagai bidang pembangunan baik di pusat maupun di daerah, termasuk dalam Prioritas Nasional. Pada tahun 2021, kegiatan advokasi, koordinasi dan pendampingan teknis dalam penguatan pelembagaan PUG serta mendorong peningkatan Anggaran yang Responsif Gender bagi K/L dan daerah sebagai berikut :
Tabel 9 Kegiatan Advokasi, Koordinasi dan Pendampingan Teknis dalam Penguatan Pelembagaan PUG Tahun 2021
Kementerian/Lembaga Provinsi
1. Kemenko Polhukam 2. Kemenko Perekonomian 3. Bappenas
13. Kemen Kelautan dan Perikanan 14. Kemen LHK
2. Prov Sumatera Utara 3. Prov Sumatera Barat 4. Prov Sumatera Selatan 5. Prov Kepualuan Riau 6. Prov Riau
7. Prov Bangka Belitung 8. Prov Jambi dukungan manajemen adalah sebagai berikut :
Tabel 10 Kementerian/Lembaga yang Memiliki Anggaran yang Responsif Gender Tahun 2019-2021
No Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021
1. Kemendagri Kemendagri Kemendagri
2. Kemenlu Kemenlu Kemenlu
3. Kemenkeu Kemenkeu Kemenkeu
4. Kementan Kementan Kementan
No Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021
5. Kemen ESDM Kemen ESDM Kemen ESDM
6. Kemenhub Kemenhub Kemenhub
7. Kemenkes Kemenkes Kemenkes
8. Kemenag Kemenag -
9. Kemenakertrans Kemenakertrans -
10. Kemensos Kemensos Kemensos
11. Kemen LHK Kemen LHK Kemen LHK
12. Kemen KP Kemen KP Kemen KP
13. Kemen PUPR Kemen PUPR Kemen PUPR
14. Kemenko PMK Kemenko PMK Kemenko PMK
15. Kemenkop & UKM Kemenkop & UKM -
16. Kemen PPPA Kemen PPPA Kemen PPPA
17. Kemenpan RB - -
18. Kemen Kominfo Kemen Kominfo -
19. Kemendes Kemendes -
20. Kemenpora Kemenpora -
21. BPS BPS BPS
22. BPOM BPOM BPOM
23. Lemhanas Lemhanas Lemhanas
24. BKKBN BKKBN BKKBN
25. LIPI LIPI LIPI
26. BNPB BNPB BNPB
27. BNP2TKI BNP2TKI BP2MI
28. - Kemenristekdikti -
29. - Kemen Agrarian &
Tata Ruang/BPN
-
30. - - Sekretariat Negara
31. - - BKPM
32. - - BPPT
33. - - Kemendag
Sumber : Krisna, Bappenas
Terdapat penurunan jumlah K/L yang melaksanakan tagging ARG di Tahun 2021, yang dapat disebabkan refocusing anggaran baik di sisi stakeholder maupun Kemen PPPA, dimana kegiatan-kegiatan pendampingan berkurang dan penggunaan metode online dalam pelembagaan PUG memerlukan penyesuaian-penyesuaian, baik dari sisi SDM maupun penyelenggaraan terhadap perubahan metode ini.
Partisipasi baik K/L maupun daerah dalam melaksanakan kebijakan PUG di berbagai bidang pembangunan di tahun 2021 antara lain :
1. Kemenkes :
Mengintegrasikan gender ke dalam modul pelatihan bagi tenaga Kesehatan
Mengintegrasikan gender dalam Peta Jalan Kualitas Udara dalam Ruang 2022 – 2030 dan dalam Lembar Pemantauan Peta Jalan Kualitas Udara dalam Ruang 2020 - 2030
2. BKKBN :
Anggaran Stunting yang Responsif Gender 3. Kemensos :
Anggaran Stunting yang Responsif Gender 4. Kemenag :
Mengintegrasikan gender ke dalam kurikulum pembelajaran, proses pembelajaran dan buku mata kuliah di 3 (tiga) UIN (UIN Jakarta, UIN Surabaya, UIN Mataram) 5. Kemen LHK :
Mengintegrasikan gender dalam COP26, Perhutanan Sosial dan Perubahan Iklim (Climate Change)
6. Kemen KP :
Anggaran Stunting yang Responsif Gender 7. Kemendes :
Mengintegrasikan gender dalam Pedoman Pemberdayaan Masyarakat Desa 8. BPOM :
Anggaran Stunting yang Responsif Gender 9. Kemenko PMK :
Anggaran Stunting yang Responsif Gender 10. Kemendikbud :
Panduan Penulisan Buku Ajar Inklusif Gender di SD, SLTP dan SLTA 11. BPIP :
Pengembangan Sistem Nasional Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila dalam Pendidikan Informal Berorientasi Gender bagi Penyelenggaran Diklat BPIP
12. KPPI :
Sosialisasi Grand Design Peningkatan keterwakilan Perempuan di Politik dan Pengambilan Keputusan bagi anggota KPPI
13. Prov Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sumatera Selatan dan Riau :
Program dan Kegiatan Peningkatan Keterwakilan Perempuan di Politik dan Pengambilan Keputusan
PUG sejatinya merupakan sebuah strategi untuk menjadikan pemahaman yang komprehensif akan gender sebagai bagian yang integral di dalam menjalankan pembangunan negara, yang dimulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan program dan kegiatan pembangunan negara.
Pembangunan negara yang dianggap masih kurang memperhatikan kesejahteraan hidup perempuan menjadi refleksi bahwa strategi PUG perlu dilakukan di setiap lembaga pengambil keputusan, agar muncul kebijakan-kebijakan yang memberikan perlindungan dan pemberdayaan bagi kehidupan perempuan Indonesia. Oleh karena itu, lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif berkewajiban untuk melakukan berbagai upaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan kesetaraan gender.
Indikator Kinerja 2: Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)
Diskriminasi gender dalam berbagai hal di kehidupan bermasyarakat menimbulkan perbedaan capaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan. Indonesia telah menetapkan pendekatan pembangunan yang berorientasi pada kesetaraan dan keadilan gender. Kesetaraan gender merupakan salah satu tujuan dalam pembangunan berkelanjutan yang harus diwujudkan pada tahun 2030. Kemen PPPA telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan kesetaraan gender baik dari sisi regulasi, program maupun kebijakan.
Tingkat keberhasilan pembangunan untuk mengukur capaian kesetaraan gender saat ini diukur dengan IPG dan IDG. Meski sama-sama digunakan untuk mengukur capaian kesetaraan gender, IDG berbeda dengan IPG. IPG mengukur capaian kualitas pembangunan manusia terpilah gender dari dimensi kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Sementara itu, IDG mengukur keberhasilan peran perempuan di berbagai bidang pembangunan, yaitu di bidang politik, pengambilan keputusan, dan ekonomi. Bidang politik diukur melalui keterlibatan perempuan dalam parlemen. Pengambilan keputusan dilihat dari kedudukan dan jabatan sebagai tenaga professional. Bidang ekonomi diukur melalui sumbangan pendapatan perempuan.
Gambar 13 Perkembangan Indeks Pemberdayaan Gender Tahun 2010-2020 Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
68,15 69,14
70,07 70,46 70,68 70,83 71,39 71,74 72,1
75,24 75,57
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Capaian IDG Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang terus meningkat. Dalam 10 tahun terakhir, IDG Indonesia menunjukkan peningkatan dari angka 68,15 pada tahun 2010 telah meningkat menjadi 75,57 pada tahun 2020 (Gambar 13). Nilai IDG yang dicapai pada tahun 2019 melesat secara signifikan dibandingkan tahun 2018 dengan peningkatan sebanyak 3,14 poin atau sebesar 4,35 persen. Tingginya pertumbuhan IDG ini disebabkan adanya peningkatan yang terlihat pada semua indikator pembentuk IDG, terutama pada keterlibatan perempuan di parlemen yang meningkat signifikan. Pada tahun 2020, capaian IDG sebesar 75,57 meningkat 0,33 poin dari tahun 2019. Capaian IDG tahun 2020 (75,57) telah melampaui 102,82% target IKU Kemen PPPA tahun 2020 yaitu 73,5. Adanya peningkatan pertumbuhan pembangunan gender di Indonesia menunjukkan tingkat partisipasi dan kesadaran perempuan untuk berkiprah di ruang publik, seiring dengan keterbukaan akses bagi perempuan.
Gambar 14 menunjukkan IDG berdasarkan sebaran provinsi. Sebanyak 5 provinsi memiliki nilai IDG diatas angka nasional, 11 provinsi memiliki capaian IDG lebih dari target Kemen PPPA (73,5), dan 16 provinsi memiliki nilai IDG dibawah 70. Lima provinsi yang mempunyai nilai IDG di atas angka nasional, yaitu Kalimantan Tengah (82,41), Sulawesi Utara (78,98), Maluku Utara (77,28), Sulawesi Selatan (76,32) dan Sulawesi Tengah (75,78).
Terdapat tiga provinsi yang nilai IDG masih kurang dari 60, yaitu Sumatera Barat (58,28), Kepulauan Bangka Belitung (53,03) dan Nusa Tenggara Barat (51,96). Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pemberdayaan gender di Indonesia sudah meningkat secara signifikan, namun masih belum merata di seluruh provinsi, atau masih terdapat kesenjangan IDG yang signifikan di antara provinsi di Indonesia.
Gambar 14 Indeks Pemberdayaan Gender Menurut Provinsi Tahun 2020 Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
Berdasarkan indikator penyusun IDG, ketiga indikator mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir (Gambar 15). Kesetaraan dan pemberdayaan gender di bidang politik dilihat melalui keterlibatan perempuan dalam parlemen, pengambilan keputusan dilihat dari kedudukan dan jabatan sebagai tenaga professional dan ekonomi diukur melalui sumbangan pendapatan perempuan. Adanya peningkatan IDG di Indonesia menunjukkan tingkat partisipasi dan kesadaran perempuan untuk berkiprah di ruang publik yang semakin tinggi, seiring dengan keterbukaan akses bagi perempuan.
Gambar 15 Persentase Perempuan Berdasarkan Keterlibatan dalam Parlemen, Perempuan Sebagai Tenaga Profesional, dan Sumbangan Pendapatan Perempuan Tahun 2010-2020
Sumber: Badan Pusat Statistik (2021)
Keterlibatan perempuan di parlemen dalam 10 tahun terakhir meningkat 3,6 persen dari 17,49% pada tahun 2010 menjadi 21,09% pada tahun 2020. Partisipasi aktif perempuan di bidang politik memiliki peningkatan yang lebih tajam pada tahun 2019 dibandingkan dengan di bidang ekonomi. Keterwakilan perempuan di parlemen merupakan salah satu Indikator SDG’s pada indikator 5.5.1, yaitu proporsi kursi yang diduduki perempuan di parlemen tingkat pusat, parlemen daerah, dan pemerintah daerah. Data BPS
Keterlibatan perempuan di parlemen dalam 10 tahun terakhir meningkat 3,6 persen dari 17,49% pada tahun 2010 menjadi 21,09% pada tahun 2020. Partisipasi aktif perempuan di bidang politik memiliki peningkatan yang lebih tajam pada tahun 2019 dibandingkan dengan di bidang ekonomi. Keterwakilan perempuan di parlemen merupakan salah satu Indikator SDG’s pada indikator 5.5.1, yaitu proporsi kursi yang diduduki perempuan di parlemen tingkat pusat, parlemen daerah, dan pemerintah daerah. Data BPS