• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

SASARAN STRATEGIS 25

Akuntabilitas Kinerja 72 pendidikan yang berkelanjutan, dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya”

dan juga untuk mencapai tujuan : “Meningkatkan kualitas hidup manusia melalui peguatan atribusi layanan pendidikan dan kesehatan”.

Angka Partisipasi Murni (APM) SD Sederajat realisasi pada tahun 2019 mencapai 95.04%, naik dibandingkan Pada tahun 2018 mencapai 94.58%. Dari jumlah penduduk usia 7-12 Tahun sebanyak 123.374 jiwa tercatat Jumlah Siswa SD sederajat Usia 7-12 Tahun sebanyak 117.259 siswa.

Angka Partisipasi Murni (APM) SMP Sederajat pada tahun 2019 mencapai 72.10% atau naik dibandingkan tahun 2018 mencapai 66.94%. Dari Jumlah Jumlah Penduduk Usia 13-15 Tahun sebanyak 60.675 jiwa tercatat Siswa SMP sederajat Usia 13-15 Tahun sebanyak 43.744 siswa.

Angka Rata rata lama sekolah Pada Tahun 2019 realisasi mencapai 9,29 diperoleh dari Jumlah tahun belajar penduduk usia 15 tahun ke atas yang telah diselesaikan dalam pendidikan formal (tidak termasuk tahun yang mengulang) sebanyak 8.583.047 siswa dibagi Jumlah Penduduk Usia Lebih dari 15 Tahun sebanyaj 911.147 Siswa. Adapun Angka Harapan Lama Sekolah (EYS) Kabupaten Gresik pada Tahun 2019 mencapai 13,72 tahun meningkat sebesar 0,01 tahun dibandingkan dengan Tahun 2018 sebesar 13,71 tahun.

Grafik 3.6 Perbandingan Jumlah Penduduk dengan usia tertentu dengan Jumlah Penduduk Bersekolah pada usia tertentu

Akuntabilitas Kinerja 73 Angka Harapan lama sekolah Pada Tahun 2017, 2018 dan tahun 2019 realisasi mencapai 9,3% diperoleh dari Jumlah tahun belajar penduduk usia 15 tahun ke atas yang telah diselesaikan dalam pendidikan formal (tidak termasuk tahun yang mengulang). Dibagi Jumlah Penduduk Usia Lebih dari 15 Tahun.

Sehingga capaian indikator APM SD dan Sederajat dan Angka Harapan Lama Sekolah berada di kategori Sangat Tinggi, sedangkan capaian indikator APM SMP Sederajat memiliki kategori “Tinggi”.

Tabel 3.50. Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis 25 NO SASARAN

STRATEGIS

INDIKATOR

KINERJA TARGET REALISASI

2017 2018 2019 1 Menghadirkan

pelayanan pendidikan yang bekualitas

APM SD dan Sederajat

99.10% 98,76% 94,58% 95.04%

APM SMP Sederajat

86.99% 82,43% 66,94% 72.10%

Angka

Harapan Lama Sekolah

9.5 9,31 8,96 9.29

Gambar 3.21 Lomba LSSN Tahun 2019

Realisasi ketiga indikator Tahun 2019 jika dibandingkan dengan target akhir RPJMD, realisasi indikator tersebut hampir mendekati target akhir RPJMD. Hal ini dapat tercapai dikarenakan upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Dinas Pendidikan sebagai berikut :

1. Pembinaan Rumah Belajar 2. Pembinaan OSN

3. Program Kartu Gresik Pintar (KGP) / Beasiswa untuk SD SMP

Akuntabilitas Kinerja 74 4. Pemenuhan Bantuan Sarpras Kelembagaan

Tabel 3.51 Perbandingan Realisasi Kinerja Sasaran Strategis 25 s.d. Akhir Periode RPJMD

NO SASARAN 1 Menghadirkan

pelayanan pendidikan yang bekualitas

APM SD dan

Meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pelayanan kesehatan

Sasaran strategis ini merupakan salah satu upaya mencapai misi tiga sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2016-2021 yaitu ”Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemerataan layanan kesehatan, mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan, dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya” dan juga untuk mencapai tujuan : “Meningkatkan kualitas hidup manusia melalui peguatan atribusi layanan pendidikan dan kesehatan”.

Untuk mengukur tingkat pencapaian sasaran ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.52. Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis 26

NO SASARAN STRATEGIS

INDIKATOR KINERJA

TARGET REALISASI 2017 2018 2019 1 Meningkatkan

kualitas dan aksesibilitas pelayanan kesehatan

Angka Usia Harapan Hidup

72.6 72,36 72,36 72.46 SASARAN

STRATEGIS 26

Akuntabilitas Kinerja 75 Angka Usia Harapan Hidup

merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan

Gambar 3.22 Pembinaan Puskesmas PONED dalam penanganan komplikasi

maternal oleh dr. Zainul,Sp.OG

lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan. Upaya yang telah dilakukan dalam rangka menurunkan jumlah dan angka kematian Ibu, yaitu :

1. Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral dalam pemberian KIE (Konsultasi, Informasi dan Edukasi) pada ibu-ibu yang berisiko tinggi agar bisa direncanakan kehamilan yang sehat dan selamat

2. Pengoptimalan peran nakes dalam skrining pre eklampsia dan peningkatan kompetensi nakes dalam penatalaksanaan pre eklampsia pra rujukan melalui bimbingan dari dokter spesialis

3. Mengembangkan kegiatan kelas bumil sebagai wadah untuk meningkatkan kesadaran masyarkat akan pentingnya ANC Terpadu dengan melibatkan pemberdayaan masyarakat.

4. Pembinaan Puskesmas PONED oleh PONEK

Angka Usia Harapan Hidup Kabupaten Gresik pada Tahun 2019 mencapai 72,46 Tahun lebih lama 0,10 tahun dari Tahun 2018 sebesar 72,36 tahun. Angka Usia Harapan Hidup dirumuskan berdasarkan Angka Kematian menurut umur (Age Spesific Date Rate/ASDR) diperoleh dari catatan registrasi mortalitas secara time series atau secara tidak langsung dengan Program Mortpak Lite sebagaimana berikut:

Akuntabilitas Kinerja 76 Tabel 3.53 Angka Kematian Menurut Umur Tahun 2019

No Indikator Angka Kematian Jumlah Penduduk

1 Jumlah kelahiran hidup 20.388

2 Jumlah kematian ibu 17

3 Jumlah kematian bayi 78

4 Jumlah balita Gizi Buruk 108

5 Jumlah Balita 94.032

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Tahun 2020

Mengendalika laju pertumbuhan penduduk didukung optimalisasi program keluarga berencana.

Sasaran strategis ini merupakan salah satu upaya mencapai misi tiga sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2016-2021 yaitu ”Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemerataan layanan kesehatan, mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan, dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya” dan juga untuk mencapai tujuan : “Menghadirkan keadilan dan kesetaraan Gender dalam pembangunan.”.

metode kontrasepsi yang memiliki peserta paling rendah adalah MOP, Dalam pelaksanaan Program Keluarga Berencana selama Tahun 2019, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya partisipasi kaum pria untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB) yaitu :

1. Faktor Budaya Gambar 3.23 Pelayanan KB MOP di Lapangan

2. Minimnya pengetahuan tentang MOP SASARAN

STRATEGIS 27

Akuntabilitas Kinerja 77 3. Takut/ khawatir menjadi mandul secara permanen, walaupun sudah

menghentikan penggunakan metode MOP

4. Faktor biaya masyarakat khawatir jika menggunakan metode MOP membutuhkan biaya yang tinggi.

5. Kombinasi umur : masyarakat merasa sudah tua dan sudah jarang melakukan hubungan intim dengan istrinya. Oleh karena itu masyarakat merasa tidak perlu menggunakan metode kontrasepsi MOP.

Tabel 3.54. Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis 27 NO SASARAN

STRATEGIS

INDIKATOR

KINERJA TARGET REALISASI

2017 2018 2019

Dokumen terkait