Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 25/Permen-Kp/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian
10. Sasaran Terpenuhinya Sarana dan Prasarana Dasar Masyarakat
Kondisi infrastruktur
merupakan faktor utama/penggerak dalam pertumbuhan ekonomi.Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Periode 2015-2019 disebutkan bahwa pembangunan bidang infrastruktur telah ditingkatkan, akan tetapi kesenjangan infrastruktur masih terasa, baik di tingkat nasional maupun antardaerah. Karena itu, pembangunan infrastruktur dasar harus menjadi prioritas pembangunan.
Di Kabupaten Bantul, pembangunan infrastruktur diorientasikan untuk pemenuhan infrastruktur dasar yang berkualitas guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan kelancaran aktivitas masyarakat untuk meningkatkan daya saing daerah. Tujuan dari pembangunan infrastruktur ini adalah agar seluruh wilayah kabupaten dapat terakses secara baik sehingga sumber-sumber ekonomi dan modal sosial lainnya dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hasil pembangunan insfrastruktur harus dirasakan oleh seluruh masyarakat. Untuk melakukan pengukuran atas kepuasan masyarakat terhadap layanan infrastruktur, dilakukan survey kepuasan masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur.
Terpenuhinya Sarana dan Prasarana Dasar Masyarakat yang diukur melalui IKU Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap Layanan Infrastruktur (IKLI) menunjukkan angka yang baik, di mana pada tahun 2019 capaian kinerjanya sebesar 101,01% dari target yang telah ditetapkan atau masuk dalam kriteria Sangat Tinggi. Dari target 76, realisasi tahun 2019 menunjukkan bahwa IKLI telah mencapai 76,77. Dibandingkan dengan capaian tahun 2018, terjadi kenaikan sebesar 2,41% yaitu naik dari 74,36% pada tahun 2018 menjadi 76,77% pada tahun 2019. Kemudian pencapaian ini menyumbangkan sebesar 95,96% dibandingkan dengan target capaian pada akhir RPJMD tahun 2021, yang dapat diartikan sebagai indikasi pencapaian target pada akhir RPJMD.
Penentuan IKLI didasarkan pada kepuasan pelayanan infrastruktur sesuai 4 (empat) IKU OPD dalam Perubahan RPJMD Kabupaten Bantul 2016-2021, yaitu : kondisi jalan kabupaten; kondisi gedung pemerintah; kondisi infrastruktur kawasan kumuh perkotaan; dan infrastruktur irigasi. Dari 4 (empat) Iku OPD tersebut diholongkan dalam kriteria sebagai berikut :
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa mutu pelayanan infrastruktur jalan kabupaten, gedung pemerintah, kawasan kumuh perkotaan, dan irigasi berada pada kategori ‘B’ dengan kinerja pelayanan
‘Baik’. Mutu pelayanan infrastruktur gabungan di Kabupaten Bantul secara umum berada pada kategori ‘B’ dengan kinerja pelayanan ‘Baik”.
1. Kondisi Jalan Kabupaten
Hasil penilaian kepuasan layanan infrastruktur jalan kabupaten menunjukkan bahwa nilai indeks pelayanan unsur fasilitas penunjang jalan kabupaten mempunyai nilai pelayanan 3,58. Data kondisi jalan kabupaten beraspal pada tahun 2019 sepanjang 468,97 km atau 75,10% berada dalam kondisi mantap, sedangkan 156,64 km atau 25,08% dalam kondisi belum mantap dari panjang total panjang jalan kabupaten sepanjang 624,47km. Sedangkan kondisi jalan perdesaan sebagai salah satu sarana dan prasarana dasar belum sepenuhnya dalam kondisi mantap.
Mutu yang baik pada hasil penilaian kepuasan layanan infrastruktur jalan merupakan hasil dari kegiatan baik rehabilitasi/pemeliharaan dan peningkatan jalan, jembatan, talud jalan, gorong-gorong maupun drainase jalan. Sedangkan pengukuran penilaian kepuasan layanan insfrastruktur jalan kabupaten ditentukan oleh 5 (lima) unsur yaitu :
(1) ketercukupan jumlah jalan kabupaten, (2) kenyamanan jalan kabupaten, (3) kondisi (perkerasan) jalan kabupaten, (4) kondisi fasilitas penunjang jalan kabupaten (trotoar, drainase jalan), dan (5) kondisi jembatan kabupaten.
2. Kondisi Gedung Pemerintah
Secara umum kondisi infrastruktur gedung pemerintah di Kabupaten Bantul dalam kondisi baik. Dari hasil survei IKLI infrastruktur gedung kantor mendapatkan nilai 81,1 dengan kinerja pelayanan “baik”. Namun demikian perlu adanya peningkatan infrastruktur gedung pemerintah terutama rehabilitasi beberapa gedung yang kondisinya masih kurang memadai. Gedung yang dimaksud adalah gedung kantor seluruh OPD di Kabupaten Bantul, tidak termasuk gedung sekolah maupun puskesmas.
Indeks kepuasan layanan infrastruktur gedung pemerintah ditentukan berdasarkan 6 (enam) unsur, yaitu: (1) kecukupan jumlah gedung pemerintah, (2) kondisi dan kualitas bangunan gedung pemerintah, (3) kenyamanan bangunan gedung pemerintah, (4) kemudahan akses jalan masuk/keluar bangunan gedung pemerintah, (5) fasilitas parkir gedung pemerintah, serta 6) fasilitas difabel di gedung pemerintah.
3. Kawasan Kumuh
Indeks kepuasan layanan infrastruktur kawasan kumuh perkotaan ditentukan berdasarkan pada 6 (enam) unsur, yaitu: (1) ketersediaan saluran air hujan/drainase/
biopori, (2) ketersediaan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah (MCK), (3) kondisi pelayanan air bersih (PDAM, SPAM, SIPAS), (4) kondisi prasarana dan sarana layanan persampahan (TPS, TPS-3R), (5) kondisi jalan lingkungan, dan (6) ketersediaan ruang terbuka hijau (taman, makam, ruang publik).
Kondisi infrastruktur kawasan kumuh perkotaan mendapatkan nilai IKLI sebesar 76,5 dengan kinerja pelayanan “baik”. Data kawasan kumuh perkotaan tertangani pada tahun 2019 adalah 92,49 % dari target akhir RPJMD yaitu 90% atau tercapai 102,77%.
Atau sekitar 73,63 Ha dari keseluruhan kawasan kumuh yang ada di Kabupaten Bantul yaitu 79,61 Ha pada tahun 2017 (berdasarkan pada Surat Keputusan Bupati No. 220 tahun 2014).
Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap Layanan Infrastruk tur
TARGET REALISASI
Sumber : Bappeda Kab. Bantul; 2020 3.B.16
Dalam rangka mengurangi dan mengatasi kawasan permukaaan kumuh di wilayah perkotaan telah dibangun rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) yang berasal anggaran APBN. Sampai dengan tahun 2019 terdapat 4 Rusunawa yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Bantul yaitu Rusunawa Panggungharjo, Rusunawa Ngestiharjo, Rusunawa Banguntapan (Pringgolayan) dan Rusunawa Tamanan.
Sedangkan untuk memenuhi layanan rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) dilaksanakan bantuan stimulan pembangunan swadaya yang selama ini mendapat anggaran dari pemerintah pusat/
provinsi. Pada tahun 2019, rumah tidak layak huni dapat tertangani 2.074 unit dengan rincian 1.515 unit dengan sumber dana BSPS Kementerian PUPR, 305 unit dari APBD Daerah istimewa Yogyakarta, 83 unit dari APBD Kabupaten Bantul dan 171 unit dari dana DAK bidang Perumahan dan Pemukiman Rakyat.
4. Jaringan Irigasi
Kondisi infrastruktur irigasi mendapat nilai 77,9 dengan kinerja pelayanan “baik”. Kondisi infrastruktur irigasi dibagi dalam beberapa unsur yaitu ketersediaan jaringan/saluran dan bangunan irigasi, kecukupan kebutuhan air irigasi, pemerataan/
distribusi air irigasi, keandalan/kontinuitas air irigasi, serta partisipasi petani pengguna air (P3A) dalam pemeliharaan jaringan/saluran dan bangunan irigasi.
Kinerja pelayanan yang baik pada infrastruktur jaringan irigasi merupakan hasil dari kegiatan peningkatan dan rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi, rehabilitasi/pemeliharaan prasarana air baku, pemeliharaan dan rehabilitasi embung, dan bangunan penampung air lainnya serta pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya air.
Tabel 3.B.20. Skala Kriteria IKLI
Nilia Persepsi
Nilai Interval IKLI Nilai interval Konversi IKLI Waktu Pelayanan Kinerja Unit Pelayanan
1. 1,00 – 1,75 25 - 43,75 D Tidak Baik
2. 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik
3. 2,51 – 3, 25 62,51 - 81,25 B Baik
4. 3,26 – 4,00 81,26 – 100,00 A Sangat baik
Sumber : Keputusan Menteri Pendayagunaan aparatur negara nomor Kep/25/M.PAN/2004
Tabel 3.B.21. Nilai Indeks Pelayanan Infrastruktur Gabungan
No IKU OPD
1 Kondisi jalan kabupaten 3,58 71,6 B Baik
2 Kondisi gedung pemerintah 4,87 81,1 B Baik
3 Kondisi infrastruktur kawasan kumuh perkotaan
4,59 76,5 B Baik
4 Kondisi infrastruktur irigasi 4,68 77,9 B Baik
Indeks Gabungan 4,43 76,77 B Baik
Sumber : Dinas PUPKP Kab. Bantul, 2020
Permasalahan :
1. Terbatasnya pilihan alternatif pendanaan infrastruktur 2. semakin besarnya potensi kerusakan jalan kabupaten, akibat
banyaknya kendaraan tonase besar yang melewati jalan kabupaten
3. belum optimalnya pemanfaatan potensi daerah (seperti : material dan tenaga kerja ) dalam pemenuhan infrastruktur dasar
4. belum optimalnya pencapaian target master plan pembangunan dan pemeliharaan jaringan jalan, dan jaringan irigasi untuk pengurangan ketimpangan wilayah.
5. Belum optimalnya pemanfaatan sistem informasi pengelolaan jaringan jalan untuk penetapan prioritas dan pengurangan potensi overlapping pembangunan dan pemeliharaannya 6. Belum optimalnya pengelolaan cadangan air irigasi
7. Belum optimalnya pemanfaatan sistem informasi pengelolaan jaringan irigasi untuk penetapan prioritas dan pengurangan potensi overlapping pembangunan dan pemeliharaannya.
8. Masih rendahnya kualitas jasa konstruksi khususnya di bidang pengembangan permukiman
Solusi :
1. Prioritas pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas lokus-lokus ekonomi masyarakat.
2. Optimalisasi pemanfaatan sistem informasi sebagai dasar perencanaan pembangunan infrastruktur
3. Perlunya pembinaan dan peningkatan sumber daya pelaku jasa konstruksi serta pengawasan yang intensif terhadap pelaksanaan pekerjaan.
4. Koordinasi dengan instansi/ pemerintah pusat untuk mendapatkan anggaran pembangunan infrastruktur
5. Optimalisasi sumberdaya lokal dalam pembangunan infrastuktur.
Strategi kedepan guna meningkatkan capaian indikator di atas, diupayakan dengan beberapa hal antara lain :
1. Meningkatkan ketercukupan jumlah jalan kabupaten, meningkatkan kenyamanan jalan kabupaten, peningkatan kondisi dan kualitas jalan kabupaten, dan terutama pada fasilitas penunjang jalan kabupaten (PJU, trotoar, marka, drainase jalan).
2. Meningkatkan ketersediaan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah (IPAL, MCK), pelayanan air bersih (PDAM, SPAM, SIPAS), prasarana dan sarana layanan persampahan (TPS, TPS-3R, bank sampah), dan peningkatan jalan lingkungan. Ketersediaan saluran air hujan/drainase/biopori dan ketersediaan ruang terbuka hijau (taman, makam, ruang publik) akan ditingkatkan.
3. Meningkatkan ketersediaan jaringan/saluran dan bangunan irigasi, kecukupan kebutuhan air irigasi, pemerataan/distribusi air irigasi, keandalan/kontinuitas air irigasi; partisipasi petani pengguna air (P3A) dalam pemeliharaan jaringan/saluran dan bangunan irigasi.
Capaian kinerja di atas merupakan hasil dari program yang dilakukan terkait pemenuhan sarana prasarana dasar masyarakat. program dilaksanakan untuk sasaran strategis tersebut, antara lain :
1. Program Pembangunan dan Rehabilitasi/ Pemeliharaan Jalan dan Jembatan 2. Program pembangunan rehabilitasi/ pemeliharaan infrastruktur perdesaan 3. Program Pengendalian Banjir
4. Program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan 5. Program pengembangan jasa konstruksi
6. Program Pembangunan Gedung 7. Program Pengembangan Perumahan 8. Program Lingkungan Sehat Perumahan 9. Program Pengelolaan Area Pemakaman 10. Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku
80 Laporan Kinerja2019 81
Kabupaten
Kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jalan Bantul (Taman Klodran);
merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan luas tutupan lahan
11. Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Daya Air Lainnya 12. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah
13. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan lainnya 14. Program Pembangunan dan Rehabilitasi/Pemelihar aan Drainase/Gorong-gorong
15. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan
16. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ 17. Program Pengendalian Dan Pengamanan Lalu Lintas
18. Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan 19. Program peningkatan kelaikan pengoperasian kendaraan bermotor