• Tidak ada hasil yang ditemukan

SATUAN ACARA PENYULUHAN Hari : Rabu, 8 Oktober 2015

Dalam dokumen Makalah Siaga Bencana (Halaman 34-42)

Waktu : Pukul 15.30 – 16.00 WIB Tempat: Balai Dusun Prambanan

Sasaran : Warga Dusun Prambanan

Penyuluh : Mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

1. Topik Kekeringan 2. Pokok Bahasan

Pencegahan Kekeringan Untuk Kesejahteraan Bersama 3. Tujuan

a. Tujuan Umum

Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit diharapkan semua warga dapat memahami tentang pencegahan kekeringan.

b. Tujuan Khusus

Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, warga dapat: 1) Menjelaskan pengertian kekeringan

2) Menjelaskan penyebab kekeringan 3) Menjelaskan gejala kekeringan 4) Menjelaskan akibat kekeringan

5) Melakukan penanggulangan kekeringan 4. Metode a. Ceramah b. Tanya Jawab 5. Media/ Alat a. Leaflet b. LCD, laptop, Layar

c. Poster d. Power Point e. Video

6. Alokasi dan Analisis Waktu

No. Komunikator Komunikan Waktu

1. Pre interaksi Memberi salam, memperkenalkan diri,

menjelaskan tema dan tujuan penyuluhan

Menjawab salam dan mendengarkan

3 menit

2. Isi

Menyebarkan leaflet,

menjelaskan materi penyuluhan, pemutaran video

mendengarkan 15 menit

3. Memberikan kesempatan kepada komunikan untuk bertanya tentang materi penyuluhan

Mengajukan pertanyaan

5 menit

4. Penutup

Memberikan pertayaan akhir sebagai evaluasi

Menjawab pertanyaan

5 menit

5. Menutup penyuluhan dan mengucapkan salam

Menjawab salam 2 menit

7. Setting Tempat

Peserta penyuluhan duduk berhadapan dengan penceramah, membentuk huruf U.

8. Evaluasi

a. Evaluasi Proses

Evaluasi yang dapat ditunjukkan oleh para peserta selama penyuluhan: 1) Keikutsertaan/ partisipasi masyarakat

2) Perhatian yang diberikan oleh masyarakat 3) Keaktifan peserta untuk bertanya

b. Evaluasi Akhir

Menanyakan kepada sasaran:

1) Apa yang dimaksud dengan kekeringan? 2) Apa yang menjadi penyebab kekeringan? 3) Bagaimana dampak kekeringan?

4) Bagaimana cara menanggulangi kekeringan? 9. Lampiran Uraian Materi

a. Pengertian Kekeringan

Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana alam yang terjadi secara perlahan (slow-onset disaster), berlangsung lama sampai musim hujan tiba, berdampak sangat luas, dan bersifat lintas sektor (ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain). Kekeringan merupakan fenomena alam yang tidak dapat dielakkan dan merupakan variasi normal dari cuaca yang perlu dipahami. Variasi alam dapat terjadi dalam hitungan hari, minggu, bulan, tahun, bahkan abad.

b. Penyebab Kekeringan 1) Akibat Alamiah

a) Kekeringan Meteorologis; berkaitan dengan tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu musim. Pengukuran kekeringan meteorologis merupakan indikasi pertama adanya kekeringan.

b) Kekeringan Hidrologis; berkaitan dengan kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan ini diukur berdasarkan elevasi muka air sungai, waduk, danau, dan elevasi muka air tanah. Terdapat tenggang waktu mulai berkurangnya hujan sampai menurunnya elevasi muka air sungai, waduk, danau, dan elevasi muka air tanah. Kekeringan hidrologis bukan merupakan indikasi awal adanya kekeringan.

c) Kekeringan Pertanian; berhubungan dengan kekurangan lengas tanah (kandungan air dalam tanah), sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah gejala kekeringan meteorologi.

d) Kekeringan Sosial Ekonomi; berkaitan dengan kekeringan yang memberi dampak terhadap kehidupan sosial ekonomi, seperti: rusaknya tanaman, peternakan, perikanan, berkurangnya tenaga listrik

dari tenaga air, terganggunya kelancaran transportasi air, dan menurunnya pasokan air baku untuk industri domestik dan perkotaan. e) Kekeringan Hidrotopografi; berkaitan dengan perubahan tinggi muka

air sungai antara musim hujan dan musim kering dan topografi lahan. 2) Akibat Ulah Manusia

Kekeringan tidak taat aturan terjadi karena:

a) Kebutuhan air lebih besar daripada pasokan yang direncanakan akibat ketidak taatan penguna terhadap pola tanam atau pola penggunaan air. b) Kerusakan kawasan tangkapan air dan sumber-sumber air akibat

perbuatan manusia. c. Gejala Kekeringan

1) Kekeringan berkaitan dengan menurunnya tingkat curah hujan dibawah normal dalam satu musim. Pengukuran kekeringan Meteorologis merupakan indikasi pertama adanya bencana kekeringan.

2) Tahap kekeringan selanjutnya adalah terjadinya kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan ini diukur berdasarkan elevasi muka air sungai, waduk, danau dan air tanah. Kekeringan Hidrologis bukan merupakan indikasi awal adanya kekeringan.

3) Kekeringan pada lahan pertanian ditandai dengan kekurangan lengas tanah (kandungan air di dalam tanah) sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas yang menyebabkan tanaman menjadi kering dan mengering. d. Dampak Kekeringan

1) Fisik

a) Kerusakan terhadap habitat spesies ikan dan binatang. b) Erosi-erosi angin dan air terhadap tanah.

c) Kerusakan spesies tanaman.

d) Pengaruh-pengaruh terhadap kualitas air (salinisasi).

e) Pengaruh-pengaruh terhadap kualitas udara (debu, polutan, berkurangnya daya pandang).

f) Kekeringan juga menjadikan tanah menjadi mengeras dan retak-retak, sehingga sulit untuk dijadikan lahan pertanian.

g) Keadaan suhu siang hari pada saat kekeringan akibat musim kemarau menjadikan suhu udara sangat tinggi dan sebaliknya pada malam hari suhu udara sangat dingin. Perbedaan suhu udara yang berganti secara cepat antara siang dan malam menyebabkan terjadinya pelapukan batuan lebih cepat.

2) Non fisik a) Ekonomi

 Kerugian-kerugian produksi tanaman pangan, susu, ternak, kayu, dan perikanan.

 Kerugian pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.  Kerugian pendapatan petani dan lain-lain yang terkena secara

langsung.

 Kerugian-kerugian dari bisnis turisme dan rekreasi.

 Kerugian pembangkit listrik tenaga air dan meningkatkan biaya-biaya energy.

 Kerugian-kerugian yang terkait dengan produksi pertanian.

 Menurunya produksi pangan dan meningkatnya harga-harga pangan.

 Pengangguran sebagai akibat menurunnya produksi yang terkait dengan kekeringan.

 Kerugian-kerugian pendapatan pemerintah dan meningkatnya kejenuhan pada lembaga-lembaga keuangan.

b) Sosial Budaya

 Saat terjadi kekeringan, tanah menjadi kering dan pasir lembut atau debu mudah terbawa angin. Hal ini menyebabkan debu ada dimana, sehingga menimbulkan banyak gejala penyakit yang berhubungan dengan pernafasan. Banyak orang yang akan sakit flu dan batuk.

 Pengaruh-pengaruh kekurangan pangan ( kekurangan gizi, kelaparan).

 Hilangnya nyawa manusia karena kekurangan pangan atau kondisi-kondisi yang terkait dengan kekeringan.

 Masalah kesehatan karena menurunnya pasokan air.

 Ketidakadilan dalam distribusi akibat dampak-dampak kekeringan dan bantuan pemulihan.

 Menurunnya kondisi-kondisi kehidupan di daerah pedesaan.  Meningkatnya kemiskinan, berkurangnya kualitas hidup.  Kekacauan social, perselisihan sipil.

 Pengangguran meningkat, karena yang tadinya bertani kehilangan mata pencaharian.

 Migrasi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan atau bantuan pemulihan, banyaknya TKI (tenaga kerja indonesia) yang memilih keluar negeri.

c) Politik

Pemerintah harus bekerja keras untuk membuat kebijakan penanggulangan bencana kekeringan. Badan khusus penanggulangan bencana juga harus dibentuk, seperti yang sudah dibentuk di Indonesia yanitu BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

e. Pencegahan Kekeringan 1) Pra Bencana

a) Memanfaatkan sumber air yang ada secara lebih efisien dan efektif. b) Memprioritaskan pemanfaatan sumber air yang masih tersedia sebagai

air baku untuk air bersih.

c) Menanam pohon dan perdu sebanyak-banyaknya pada setiap jengkal lahan yang ada di lingkungan tinggal kita.

d) Membuat waduk (embung) disesuaikan dengan keadaan lingkungan. e) Memperbanyak resapan air dengan tidak menutup semua permukaan

dengan plester semen atau ubin keramik.

f) Kampanye hemat air, gerakan hemat air, perlindungan sumber air g) Perlindungan sumber-sumber air pengembangannya.

h) Panen dan konservasi air 2) Saat Bencana

Sasaran penanggulangan kekeringan ditujukan kepada ketersediaan air dan dampak yang ditimbulkan akibat kekeringan. Untuk penanggulangan kekurangan air dapat dilakukan melalui:

 Pembuatan sumur pantek atau sumur bor untuk memperoleh air.  Penyediaan air minum dengan mobil tangki.

 Penyediaan pompa air.

 Pengaturan pemberian air bagi pertanian secara darurat (seperti gilir giring).

Untuk penanganan dampak, perlu dilakukan secara terpadu oleh sektor terkait antara lain dengan upaya:

 Dampak Sosial:

 Penyelesaian konflik antar pengguna air.

 Pengalokasian program padat karya di daerah-daerah yang mengalami kekeringan.

 Dampak Ekonomi:

 Peningkatan cadangan air melalui pembangunan waduk-waduk baru, optimalisasi fungsi embung, situ, penghijauan daerah tangkapan air, penghentian perusakan hutan, dll.

 Peningkatan efisiensi penggunaan air melalui gerakan hemat air, daur ulang pemakaian air.

 Mempertahankan produksi pertanian, peternakan, perikanan, dan kayu/ hutan melalui diversifikasi usaha.

 Meningkatkan pendapatan petani, dan perdagangan hasil pertanian melalui perbaikan sistem pemasaran.

 Mengatasi masalah transportasi air a.l dengan menggunakan alternatif moda transportasi lain atau melakukan stok bahan pokok.  Dampak Keamanan:

 Mengurangi kriminalitas melalui penciptaan lapangan pekerjaan.  Mencegah kebakaran dengan meningkatkan kehati-hatian dalam

penggunaan api.  Dampak Lingkungan:

 Mengurangi erosi tanah melalui penutupan tanah (land covering).  Mengurangi beban limbah sebelum dibuang kesumber air.

 Meningkatkan daya dukung sumber air dalam menerima beban pencemaran dengan cara pemeliharaan debit sungai.

 Membangun waduk-waduk baru untuk menambah cadangan air pada musim kemarau.

 Mempertahankan kualitas udara (debu, asap, dll) melalui pencegahan pencemaran udara dengan tidak melakukan kegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran yang menimbulkan terjadinya pencemaran udara.

 Mencegah atau mengurangi kebakaran hutan dengan pengolahan lahan dengan cara tanpa pembakaran.

3) Pasca Bencana

Kegiatan pemulihan mencakup kegiatan jangka pendek maupun jangka panjang akibat bencana kekeringan antara lain:

a) Bantuan sarana produksi pertanian. b) Bantuan modal kerja.

c) Bantuan pangan dan pelayanan medis.

d) Pembangunan prasarana pengairan, seperti waduk, bendung karet, saluran pembawa, dll.

e) Pelaksanaan konservasi air dan sumber air di daerah tangkapan hujan. f) Penggunaan air secara hemat dan berefisiensi tinggi.

g) Penciptaan alat-alat sanitasi yang hemat air. h) Penertiban penggunaan air.

Dalam dokumen Makalah Siaga Bencana (Halaman 34-42)

Dokumen terkait