Penentuan isu-isu strategis mutlak menjadi bagian dalam suatu proses perencanaan. Keberhasilan mengidentifikasi isu-isu strategis dengan tepat pada gilirannya akan membuat perencanaan disusun menjadi tepat sasaran, efektif, dapat diterima oleh pihak-pihak terkait, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud isu-isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas (daerah/masyarakat) di masa datang. Hal-hal yang menjadi isu strategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi, akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya, apabila tidak dimanfaatkan, akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Di samping itu suatu isu strategis merupakan hal-hal yang bersifat mendasar, jangka panjang, mendesak, serta menentukan tujuan di masa yang akan datang.
3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran
Analisis lingkungan baik internal maupun eksternal organisasi merupakan hal yang penting dalam menentukan faktor-faktor penentu keberhasilan bagi suatu organisasi. Dengan mengetahui kondisi internal maupun eksternal organisasi dengan memperhatikan kebutuhan
stakeholders, akan dapat diketahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang
menghadang organisasi.
Analisis lingkungan sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan organisasi dalam merespon setiap perkembangan zaman. Lingkungan internal mencakup struktur organisasi, komunikasi antar bagian dalam organisasi, sumber daya yang semuanya akan mendukung kelangsungan hidup organisasi. Pemahaman terhadap lingkungan internal akan memberikan pemahaman kepada organisasi akan kondisi dan kemampuan organisasi. Sedangkan lingkungan eksternal meliputi situasi dan kondisi di sekeliling organisasi yang berpengaruh pada kehidupan organisasi.
Untuk mewujudkan keberhasilan tujuan dan sasaran, Satuan Polisi Pamong Praja memerlukan strategi dengan faktor-faktor pendukung serta memperhatikan potensi peluang dan kendala yang mungkin timbul, dapat dilakukan salah satu metode yang dipergunakan untuk melakukan analisis lingkungan internal dan eksternal adalah metode SWOT (Strengths,Weaknesses, Opportunities, dan Threats) sebagai berikut:
1. Isu-isu internal dilingkungan Satuan Polisi Pamong Prajaa ntara lain: a. SDM aparaturmasih rendah dan kurang profesional;
b. Keterbatasan anggaran, sarana dan prasarana yang tersedia belum lengkap; c. Sistem kerja yang belum berjalan optimal;
d. Administrasi yang belum tertib. 2. Isu-isu strategis eksternal antara lain:
a. Masih rendahnya pemberdayaan Satlinmas dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagai penjaga ketentraman, ketertiban umumdilingkungan masyarakat.
b. Belum optimalnya sosialisasi penindakan dan penegakan Peraturan Daerah serta Peraturan maupun Keputusan Bupati.
c. Kurangnya pengawasan penegakan peraturan daerah.
d. Belum optimalnya kerjasama dan koordinasi antara Satuan Polisi Pamong Praja dengan aparat keamanan dalam pencegahan kejahatan
e. Kurangnya frekuensi kerjasama pengembangan kemampuan aparat Polisi Pamong Praja dengan TNI/POLRI dan Kejaksaan.
f. Solidaritas antar sesama korp Satpol PP masih belum optimal.
g. Kurangnya pelatihan keterampilan, keahlian,kemampuan, ketangguhan serta jumlah aparat Polisi Pamong Praja.
h. Kurangnya pelatihan keterampilan, keahlian, kemampuan, ketangguhan serta jumlah personil pemadam kebakaran.
i. Belum optimalnya pemeliharaan sarana dan prasarana pencegahan kebakaran. j. Kurangnya frekuensi penyuluhan tentang pencegahan bahaya kebakaran. k. Semakin banyaknya pengaduan masyarakat tentang penyakit masyarakat.
l. Kurangnya frekeunsi pencegahan dan pemberantasan penyakit masyarakat (Pekat).
m. Masih banyaknya penyimpangan pelanggaran Peraturan Daerah.
n. Meningkatnya kriminalitas dan gangguan ketentraman dan ketertiban umum. o. Maraknya tempat hiburan malam.
p. Sering terjadinya unjuk rasa dan persengketaan.
q. Bencana alam yang sering terjadi dan tidak bisa diprediksikan.
r. Kurangnya penyiapan tenaga pengendalian keamanan dan kenyamanan lingkungan.
s. Kurangnya pembangunan pos jaga/ronda.
t. Kurangnya terlatihnya tenaga keamanan dan kenyaman.
v. Kurangnya melakukan orientasi manajemen Linmas bagi Kepala Desa/Lurah. w. Kurangnya pelatihan penanggulangan bencana (SAR) bagi Satlinmas.
3.2. Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih
Visi adalah cara pandang jauh kedepan kemana dan bagaimana Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Rokan Hulu harus dibawa dan berkarya agar tetap konsisten, eksis, antisipatif, inovatif, dan produktif, atau dapat juga dikatakan visi adalah suatu gambaran keadaan masa depan yang diinginkan Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Rokan Hulu dalam jangka panjang.
Visi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Kabupaten Rokan Hulu periode Tahun 2016-2021, yaitu:
“Bertekad Mewujudkan Kabupaten Rokan Hulu Sejahtera melalui Peningkatan Pembangunan Ekonomi Kerakyatan, Pendidikan, Infrastruktur, Kesehatan dan Kehidupan Agamis yang Harmonis dan Berbudaya”
Mengacu pada visi jangka menengah Kabupaten Rokan Hulu di atas dan visi Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu, maka Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Rokan Hulu mempunyai keinginan untuk mendukung upaya pencapaian visi Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu melalui misi keempat yaitu:
Misi Keempat
“Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa melalui penyelenggaraan pemerintahan yang aspiratif, partisipatif dan transparan”
Perwujudan misi yang telah diuraikan diatas, akan ditempuh melalui pelaksanaan urusan pemerintahan daerah yang terdiri dari kualitas penyelenggara pemerintah, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan. Rencana strategis Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Rokan Hulu berisi program yang mendukung kesuksesan pelaksanaan misi Bupati Rokan Hulu yang keempat antara lain: 1) pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban dan 2) meningkatkan kulitas dan profesionalisme aparatur Polisi Pamong Praja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan penegakan kebijakan pimpinan.
Dalam menjalankan misi keempat pada Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Rokan Hulu tidak terlepas dari faktor-faktor penghambat dan pendorong pelayanan Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran yang dapat mempengaruhi pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah.
3.3. Telaahan Renstra K/L dan Provinsi
Dalam penyusunan renstra Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Rokan Hulu tahun 2017-2021, Satpol pp. dan damkar kabupaten Rokan Hulu berkewajiban untuk mensingkronisasikan usulan SKPD terhadap sasaran jangka menengah renstra Kementerian Dalam Negeri tepatnya pada Dirjen Pemerintahan Umum dan khususnya renstra Satpol PP. Provinsi , yang merupakan jalur Konsultasi dan koordinasi bagi Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran kabupaten Rokan Hulu. Hal ini dilakukan supaya sesuai dengan kaedah dan tujuan yang diinginkan baik renstra Kementerian Dalam Negeri yaitu Dirjen Pemerintahan Umun maupun Renstra Satpol PP. provinsi.
Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Rokan Hulu terhadap sasaran Renstra Kementerian/Lembaga maupun renstra Provinsi, Satpol PP dan damkar Kabupten Rokan Hulu dalam penyusunan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan pada periode mendatang akan disesuaikan, guna mendukung tercapainya sasaran Renstra Kementerian/Lembaga (Dirjen Pemerintahan Umum Kemendagri) dan Renstra Provinsi (Satpol. PP. Provinsi Riau)
3.4. Penentuan Isu-Isu Strategis
Setelah dilakukan kajian-kajiaan diatas, dapat disimpulkan beberapa isu strategis yang akan dihadapi oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Rokan Hulu dalam rentang waktu 2016-2021 sebagai berikut:
1. SDM aparaturmasih rendah dan kurang profesional;
2. Keterbatasan anggaran, sarana dan prasarana yang tersedia belum lengkap;
3. Masih rendahnya pemberdayaan Satlinmas dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagai penjaga ketentraman, ketertiban umumdilingkungan masyarakat;
4. Belum optimalnya sosialisasi penindakan dan penegakan Peraturan Daerah serta Peraturan maupun Keputusan Bupati;
5. Kurangnya pengawasan penegakan peraturan daerah;
6. Belum optimalnya kerjasama dan koordinasi antara Satuan Polisi Pamong Praja dengan aparat keamanan dalam pencegahan kejahatan;
7. Kurangnya frekuensi kerjasama pengembangan kemampuan aparat Polisi Pamong Praja dengan TNI/POLRI dan Kejaksaan;
8. Solidaritas antar sesama korp Satpol PP masih belum optimal;
9. Kurangnya pelatihan keterampilan, keahlian,kemampuan, ketangguhan serta jumlah aparat Polisi Pamong Praja;
10. Kurangnya pelatihan keterampilan, keahlian, kemampuan, ketangguhan serta jumlah personil pemadam kebakaran;
11. Belum optimalnya pemeliharaan sarana dan prasarana pencegahan kebakaran; 12. Kurangnya frekuensi penyuluhan tentang pencegahan bahaya kebakaran; 13. Semakin banyaknya pengaduan masyarakat tentang penyakit masyarakat;
14. Kurangnya frekeunsipencegahan dan pemberantasan penyakit masyarakat (pekat); 15. Masih banyaknya penyimpangan pelanggaran Peraturan Daerah;
16. Meningkatnya kriminalitas dan gangguan ketentraman dan ketertiban umum; 17. Maraknya tempat hiburan malam;
18. Sering terjadinya unjuk rasa dan persengketaan yang berujung anarkis.Bencana alam yang sering terjadi dan tidak bisa diprediksikan;
19. Kurangnya pembangunan pos jaga/ronda;
20. Kurangnya terlatihnya tenaga keamanan dan kenyaman;
21. perlunya peningkatan kapasitas koordinator Linmas kecamatan;
22. Kurangnya melakukan orientasi manajemen Linmas bagi Kepala Desa/Lurah; 23. Kurangnya pelatihan penanggulangan bencana (SAR) bagi Satlinmas.