BAB XIV PENILAIAN ASET DAN MODEL PENENTUAN INCOME ALTERNATIF
BAB 11 (SC & C) AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN
AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN
Alasan pengakuan PPh sebagai beban: 1. Sesuai dengan GAAP.
2. Konsistensi dengan Teori Kepemilikan.
3. Konsistensi dengan definisi SFAC No.6 mengenai Comprehensive Income. Perkembangan sejarah akuntansi PPh:
1. Tahun 1940.
a. Internal Revenue Code (IRC) mengizinkan penyusutan biaya untuk fasilitas gawat darurat yang esensial dalam peperangan dalam jangka waktu 60 bulan.
b. Pelaku bisnis dapat mengurangi Laporan Kinerja Perusahaan dari yang seharusnya.
c. Total penyusutan yang dibebankan dalam masa hidup aktiva adalah sama, namun alokasi biaya yang dibebankan setiap periode untuk laba akuntansi sangat berbeda dengan menurut LKP.
d. IRS:
ö Para praktisi akuntansi membebankan PPh yang timbul berdasarkan laporan perpajakan setiap periode.
ö Beberapa akuntan berargumen bahwa ketika penyusutan dipercepat diperbolehkan, maka pembebanan hutang pajak ke dalam setiap periode menghasilkan penyimpangan material atas pendapatan per-periode.
2. Tahun 1944.
CAP menerbitkan ARB No.23 mengenai akuntansi PPh yang berisi: a. PPh harus dialokasikan ke laba dan perkiraannya.
b. Biaya secara wajar dialokasikan ke laba termasuk dalam laba tahun berjalan.
c. PPh harus dialokasikan dalam perioe-periode sehingga setiap item yang dilaporkan dalam laporan laba rugi sesuai dengan konsekuensi pajaknya.
d. Interperiod tax allocation adalah pengalokasian PPh ke dalam periode-periode akuntansi. Kekurangan ARB No.23 :
Tidak dapat diberlakukan dalam kasus di mana perbedaan laporan perpajakan dan laporan laba rugi secara berulang kali terjadi terus-menerus dalam jangka waktu yang sangat lama.
Menimbulkan perdebatan mengenai bagaimana caranya konsekuensi pajak untuk semua item yang dihasilkan harus dialokasikan karena perlakuan pajak berbeda dengan perlakuan akuntansi.
Tidak memberikan petunjuk yang jelas dan spesifik bagaiman cara mengukur konsekuensi pajak. Isu-isu pengalokasian PPh:
1. Kejadian ekonomi dan transaksi yang memiliki konsekuensi aliran keuangan pajak dilaporkan kepada IRC dan pada laporan keuangan.
2. IRC mengharuskan pendapatan dan biaya diakui dalam periode akuntansi yang berbeda dengan GAAP, berupa:
a.
Originating difference, yaitu Laba Kena Pajak (LKP) akan berbeda sementara waktu dengan Laba Akuntansi Sebelum Pajak.b. Reversing difference, yaitu kejadian yang menyebabkan originating difference akan membalik sendiri.
c. Income tax allocation issue, yaitu permasalahan yang timbul karena originating dan reversing difference.
3. Tujuan akuntansi PPh adalah:
a. Untuk mengakui jumlah pajak terutang atau yang dapat diterima kembali dalam tahun berjalan.
b. Untuk mengakui konsekuensi pajak di masa yang akan datang karena perbedaaan temporer, kerugian bersih operasi (net operating loss) dan kredit pajak yang tidak digunakan (unused tax credit).
Perbedaan Permanen 1. Timbul karena:
a. Ada syarat-syarat tertentu dari IRC yang membebaskan jenis penghasilan tertentu dari pengenaan pajak, atau pengurangan jenis biaya tertentu dan yang memperbolehkan pengurangan beban dari penghasilan menurut GAAP tidak dapat dibebankan.
b. Akibat kebijakan ekonomi pemerintah. 2. Jenis-jenis perbedaan permanen:
a. Pendapatan yang diakui untuk tujuan laporan akuntansi keuangan yang tidak pernah dikenakan pajak.
b. Beban yang diakui untuk tujuan laporan akuntansi keuangan yang tidak dapat dikurangkan untuk tujuan PPh.
c. Beban yang diakui dan dapat dikurangkan untuk tujuan PPh, tapi tidak diakui sebagai beban menurut GAAP.
Perbedaan Temporer 1. Timbul karena:
a. Perbedaan periode akuntansi mengenai pengakuan penghasilan, beban, keuntungan, atau kerugian luar biasa.
b. Adanya syarat-syarat tertentu dari IRC yang membuat dasar yang berbeda untuk penyusutan, pengakuan kerugian atau keuntungan luar biasa.
c. Adanya taxable amount, yaitu: reversing dan originating difference menyebabkan laporan keuangan tahun berjalan < LASP tahun berjalan, sehingga LKP masa datang > LASP masa datang.
d. Adanya deductible amount, yaitu : reversing dan originating difference menyebabkan LKP tahun berjalan > LASP tahun berjalan, sehingga LKP masa datang < LASP masa datang. e. APB Opinion No.11 tentang Timing, Difference, yaitu : penghasilan kena pajak atau
keuntungan atau kerugian luar biasa atau beban yang dapat dikurangkan diakui dalam satu periode untuk tujuan laporan akuntansi keuangan, dan diakui dalam periode lainnya untuk tujuan laporan pelaporan perpajakan.
Perbedaan waktu meliputi:
a. LAK pada tahun berjalan > LKP tahun berjalan, disebabkan:
ö Penghasilan atau keuntungannya sudah termasuk dalam LAK tetapi belum waktunya termasuk dalam LKP.
ö Beban atau kerugian sudah dikurangkan dari LKP, tapi belum waktunya dikurangkan dari LASP.
b. LAK pada tahun berjalan < LKP tahun berjalan, disebabkan:
ö Penghasilan atau keuntungannya sudah termasuk dalam LKP, tapi belum waktunya termasuk dalam LAK.
ö Beban atau kerugian sudah dikurangkan dari LKP, tapi belum waktunya dikurangkan dari LAK.
2. SFAS No.96 an No.109 menjelaskan mengenai kejadian yang menciptakan perbedaan antara: dasar aktiva dan hutang Vs jumlah untuk laporan keuuangannya.
Perbedaan Temporer Lainnya:
a. Pengurangan terhadap DPP depreciable aset karena adanya kredit pajak. Misalnya IRC mengizinkan wajib pajak untuk mengurangi dasar depresiasi aset sebesar ½ dari jumlah kredit investasi pajak (ITC), sehingga LKP > LASP sebesar jumlah pengurangan DPP.
b. ITC diakuntansikan dengan metode penangguhan. Perlakuan istimewa akuntansi ITC adalah untuk mengurangi cost aset yang berhubungan sebesar jumlah ITC. Jika metode ini
digunakan, jumlah yang diterima atas pemulihan di masa depan atas cost aset yang telah dikurangi tersebut akan lebih kecil dari DPP atas aset tersebut. perbedaannya akan mengurangi pajak ketika aset telah dipulihkan.
c. LAP perusahaan asing yang menggunakan mata uang asing.
d. Penambahan DPP karena inflasi berdasarkan peraturan pajak. Jumlah yang diterima atas pemulihan aset di masa depan yang dicatat untuk tujuan akuntansi < DPP atas aset, dan perbeaannya akan mengurangi pajak.
e. Bisnis kombinasi yang dicatat dengan menggunakan metode pembelian. Kerugian bersih dari operasi (NOL)
a. Perusahaan yang mengalami kerugian
diperbolehkan mengkompensasikan kerugian periode sekarang kepada periode-periode yang lalu, biasanya selama 3 tahun (carry back). Kompensasi ke periode sebelumnya menghasilkan restitusi pajak dan dicatat alam laporan keungan sebagai pengurangan rugi tahun berjalan.
b. Diperbolehkan dikompensasi ke masa
depan (carry forward) selama 15 tahun. kompensasi ke masa depan tidak boleh diakui sebagai keuntungan potensial pajak.
Conceptual Issues
1. Terjadi perbedaan dalam mencatat perbedaan antara LKP dengan LASP.
2. Terjadi perbedaan pendapat apakah alokasi pajak interperiod diterapkan secara keseluruhan atau sebagian saja untuk yang diharapkan akan pulih di masa datang.
Alokasi Vs Nonalokasi
Yang mendukung tidak perlu alokasi interperiod berpendapat bahwa beban pajak yang dilaporkan dalam laporan laba rugi untuk tujuan pajak dan tujuan pelaporan harus sama.
Yang berkata tidak perlu adanya alokasi berpendapat: 1. Pajak pengahsilannya hanya berasal dari LKP.
2. PPh berbeda dengan beban lainnya, sehingga tidak relevan jika diperlakukan sebagai beban lain-lain. Beban dihubungkan dengan usaha menghasilkan pendapatan sedangkan PPh tidak menghasilkan pendapatan (no future benefit).
3. PPh dihitung atas keseluruhan LKP, tidak secara individual atas item-item pendapatan dan beban.
4. Alokasi interperiod menyembunyikan perbedaan ekonomi antara perusahaan yang menggunakan strategi pajak untuk mengurangi pembayaran pajak Vs yang tidak menggunakan. 5. Pelaporan beban pajak atau hutang pajak periode berjalan memperbaiki prediksi arus kas
masa depan.
6. Alokasi PPh memerlukan ramalan tersembunyi profit masa depan.
7. Tidak terdapat kewajiban pada saat ini atas konsekuensi pajak potensial dari transaksi saat ini atau sebelumnya karena tidak ada kewajiban yang sah untuk membayar pajak sampai laporan pajak mendatang secara aktual disiapkan.
8. Pembukuan atau prosedur alokasi pajak antar periode terlalu mahal dibandingkan manfaatnya.
Pendukung yang menyatakan perlu adanya alokasi berpendapat:
1. PPh hanya didasarkan atas transaksi atau kejadian yang telah terjadi yang terdapat dalam laba akuntansi.
2. PPh merupakan biaya dalam menjalankan perusahaan, sehingga diperlakukan sama dengan biaya yang lain (konsep akrual).
3. Perbedaan waktu pengakuan pendapatan atau beban menghasilkan perbedaan sementara yang akan pulih dengan sendirinya.
4. Alokasi pajak antar period membuat net income perusahaan memberikan ukuran yang lebih bermanfaat atas kemampuan menghasilkan laba dan menghindarkan penyimpangan laba periodik akibat peraturan pajak.
5. Tidak adanya alokasi menyebabkan kesulitan dalam perkiraan kas masa datang. 6. PPh yang ditangguhkan nantinya akan tetap dibayar.
7. Perbedaan sementara menghasilkan konsekuensi pajak di masa depan. Alokasi menyeluruh Vs parsial
Alokasi menyeluruh:
Beban PPh yang dilaporkan alam periode akuntansi dipengaruhi oleh semua transaksi dan peristiwa dalam LASP pada perioe tersebut.
Transaksi dan peristiwa yang membuat perbedaan sementara mempengaruhi arus kas pada periode akuntansi ketika perbedaan original dibalik.
Alokasi parsial:
a. Beban PPh yang dilaporkan dalam periode akuntansi tidak dipengaruhi oleh perbedaan temporer yang tidak diharapkan dibalik, pada masa datang.
b. Perbedaan temporer yang seperti ini lebih bersifat permanen.
c. Hanya alokasi parsial saja yang diperlukan yaitu untuk perbedaan karena waktu yang tidak terjadi berulang-ulang.
1. Pendukung: perusahaan yang mengurangi pembayaran pajak akan lebih baik ari sisi ekonomi dan konsisten dengan prinsip akuntansi yang ada.
2. Penolak: diskon penangguhan pajak tidak dapat membandingkan transaksi yang dikenakan pajak dengan pengaruh-pengaruh pajak yang terkait, sehingga transaksi yang dikenakan pajak harus dilaporkan dalam satu periode dan pengaruh pajak yang terkait dilaporkan dalam beberapa periode.
Metode Alokasi Pajak Antar Periode 1. Deffered Method.
a. Memakai pendekatan laba rugi didasarkan pada konsep bahwa beban pajak dikaitkan dengan periode di mana penghasilan diakui.
b. Metode ini mengukur beban PPh seakan-akan laba finansial sebelum pajak perioe berjalan dilaporkan dalam laporan perpajakan tahun berjalan.
c. Jumlah pajak ditangguhkan yang dilaporkan sebesar akibat perbedaan temporer yang akan dihapus di masa datang dan yang diukur dengan tarif dan UU PPh bila pengaruhnya menimbulkan perbedaan.
d. Kritik: tidak ada beban pajak yang ditangguhkan atau kredit penangguhan pajak yang memiliki karakteristik sebagai aktiva atau hutang.
2. Metode Kewajiban atau Aset.
a. Metode ini memakai pendekatan neraca dengan sungguh-sungguh mengakui dan melaporkan total manfaat atau hutang pajak yang benar-benar terealisasi.
b. Menurut definisi GAAP, jumlah penagguhan pajak yang dilaporkan dalam neraca adalah pengaruh dari perbedaan temporer yang akan dibalik di masa datang dan akan berpengaruh saat perbedaan temporer mengalami pembalikan.
3. Metode Pajak Netto.
a. Lebih merupakan metode pengungkapan daripada metode lain yang menghitung pajak ditangguhkan.
b. Pengaruh PPh dari perbedaan temporer dihitung dengan menerapkan metode penangguhan atau metode kawajiban. Melalui metode ini beban ditangguhkan (aktiva pajak) atau kredit yang ditangguhkan (hutang pajak) diperlakukan sebagai penyesuaian pada perkiraan di mana perbedaan temporer terkait. Penyesuaian dibuat dengan menggunakan penyisihan niali tertentu.
c. Dua alternatif pengungkapan:
ö Pengaruh pajak dari beban temporer dimasukkan dalam total beban PPh.
ö Beban PPh dilaporkan dalam jumlah yang sama dengan hutan PPh berjalan dan pengaruh pajak dari perbedaan temporer disatukan bersama dengan pendapatan atau biaya yang terkait.
Kesimpulan FASB
FASB menerbitkan SFAS No.96 yang menetapkan:
1. Alokasi PPh antar periode untuk perbedaan temporer adalah tepat. 2. Pendekatan alokasi menyeluruh seharusnya diterapkan.
3. Metode aktiva atau hutang dalam alokasi PPh seharusnya digunakan. Argumentasi FASB tentang penerapan metode aktiva atau hutang:
1. Konsekuensi PPh antar periode untuk perbedaan temporer adalah tepat. 2. Pendekatan alokasi menyeluruh seharusnya diterapkan.
3. Metode aktiva atau hutang dalam alokasi PPh seharusnya digunakan. Deffered Tax Liability
Tiga karakter utama deffered tax sesuai dengan karakter liability: 1. Merupakan kewajiban pada pemerintah.
2. Pembayaran pajak melibatkan transfer aset di masa datang.
3. Hutang pajak timbul dari kejadian-kejadian yang memenuhi kriteria UU pajak. Deffered Tax Aset
1. FASB menyimpulkan bahwa aktiva pajak yang diatngguhkan dikurangi penyisihan nilai pajak memenuhi tiga kriteria:
a. Kemungkinan manfaat di masa datang ipenuhi dengan adanya cash flow hasil kompensasi pajak ke periode sebelumnya serta kriteria “kelihatannya lebih mungkin daripada tidak”. b. Memperoleh manfaat dan mengendalikan akses entitas lain atas manfaat dapat terpenuhi
dengan adanya hak ekslusive atas restitusi yang disetujui.
c. Transaksi atau peristiwa yang menyebabkan timbulnya hak atau pengendalian perusahaan atas manfaat telah terjadi dipenuhi dengan adanya kesimpulan dari FASB yang menyatakan bahwa penghasilan kena pajak di masa datang:
ö adalah kejadian yang memberikan konfirmasi akan adanya manfaat pajak yang dapat diakui pada akhir tahun berjalan.
ö Yang bukan merupakan persyaratan mutlak bahwa kejadian tersebut harus terjadi sebelum manfaat pajak diakui seperti yang dicantumkan dalam SFAS No.96.
2. Konsekuensi pajak yang ditangguhkan dari perbedaan temporer yang berupa jumlah bersih yang dapat dikurangkan ke tahun sebelumnya memenuhi tiga kriteria aset. Tetapi jumlah bersih yang dapat dikurangkan dan kerugian bersih operasi (NOL) yang dikompensasikan ke masa datang tidak memenuhi tiga kriteria aset.
SFAS No.109
1. Diterbitkan atas kritik pada SFAS No.96, SFAS No.109 mengizinkan pengakuan dan pengukuran aktiva atau hutang pajak yang ditangguhkan tanpa melihat atau terpisah dari laba yang akan datang.
2. Aktiva pajak yang ditangguhkan akan dikurangi oleh penyisihan nilai pajak jika terdapat bukti yang mengindikasikan bahwa “kelihatannya lebih mungkin daripada tidak (more likely than not)” bahwa sebagian atau semua aktiva pajak yang ditangguhkan tidak terealisasi.
Penyisihan Nilai
1. Aktiva pajak yang ditangguhkan tidak diakui jika kemungkinan relisasinya kurang.
2. Sumber-sumber LKP yang memungkinkan realisasi aktiva pajak yang ditangguhkan (SFAS No.109):
a. Pembalikan di masa datang atas perbedaan temporer kena pajak yang ada sekarang. b. LKP di masa datang di luar perbedaan temporer kena pajak yang aa sekarang.
c. LKP di tahun berjalan atau di tahun sebelumnya di mana jumlah yang deductible dari perbedaan temporer dapat dikompensasi ke periode sebelumnya.
d. Untuk mencegah kadaluarsanya kredit pajak dan kerugian bersih operasi, strategi perencanaan pajak yang hati-hati dan tepat harus diterapkan, kecuali pada:
ö Jumlah pajak yang dipercepat dibandingkan jumlah kena pajak yang dicarry forward. ö Mengubah karakteristik jumlah kena pajak dan jumlah yang dapat dikurangkan ari rugi
atau laba biasa menjadi kerugian atau keuntungan modal. ö Mengalihkan pembebasan pajak menjadi investasi pajak. Pengungkapan dalam Laporan Keuangan
1. Beban PPh diungkapkan untuk: a. laba dari operasi berjalan
b. kerugian atau keuntungan dari penjualan segmen bisnis
c. item-item luar biasa dan efek kumulatif dari perubahanprinsip akuntansi d. setiap penyesuaian periode sebelumnya dalam saldo laba.
2. Harus juga diungkapkan bagian-bagian penting dari operasi berjalan yang terkait dengan PPh, yaitu:
a. bagian PPh tahun berjalan b. PPh yang ditangguhkan c. kredit pajak investasi
d. subsidi pemerintah (mengurangi pajak) e. kerugian operasi yang dicarry forward
f. beban pajak yang dihasilkan dari alokasi pajak ke neraca dalam rangka kombinasi bisnis (business combination)
g. penyesuaian hutang atau aktiva pajak yang ditangguhkan karena perubahan UU pajak h. penyesuaian saldo awal penyisihan nilai pajak
Penyajian dalam neraca dan pengungkapan yang terkait
1. Saldo pajak yang ditangguhkan dilaporkan sebagai hutang atau aktiva. Saldo tersebut diikhtisarkan berdasarkan:
Jumlah bersih lancar (Net current amount).
Jumlah bersih tidak lancar (Net noncurrent amount).
2. Jumlah bersih tidak lancar aktiva pajak yang ditangguhkan diklasifikasikan sebagai aktiva lain-lain. 3. Jumlah bersih tiak lancar hutang pajak diklasifikasikan sebagai hutang jangka panjang.
Pengungkapan yang dipersyaratkan SEC:
1. Rekonsiliasi perbeaan antara beban PPh dari jumlah biaya pajak yang dilaporkan dalam laporan penghasilan perusahaan.
BAB 13(SC & C)