• Tidak ada hasil yang ditemukan

(SC)

Dalam dokumen Resume Teori Akuntansi dan id (Halaman 42-55)

Bussines Combination

Alasan perusahaan melakukan kombinasi:

1. Konsekuensi pajak

2. Pertumbuhan dan diversifikasi produk (produk baru dan pasar baru)

3. Pertimbangan keuangan

4. Tekanan kompetitif pasar

5. Laba dana pensiun

Dua cara untuk mendapat kepemilikan mayoritas:

1. Membeli dengan kas surat saham perusahaan yang

menyerahkan.

2. Menukarkan surat saham dengan surat saham dari perusahaan yang menyerahkan.

Dua metode akuntansi penggabungan usaha:

1. Metode pembelian

2. Metode pooling of interest

Konsolidasi

Kriteria penyusunan laporan keuangan konsolidasi:

1. Induk memiliki minimal 51% saham anak perusahaan.

2. Induk mengendalikan anak perusahaan.

3. Induk merencanakan tetap mengendalikan anak

selama jangka waktu mendekati masa yang akan datang.

4. Induk dan anak perusahaan harus beroperasi sebagai

satu kesatuan.

5. Tahun buku dan satuan-satuan tersebut harus dekat

satu sama lain.

Dalam penyusunan laporan konsolidasi terdapat dua prinsip penolakan:

1. Entitas tidak dapat memiliki atau berhutang pada dirinya sendiri.

2. Entitas tidak dapat menghasilkan laba dengan menjual kepada dirinya sendiri.

Teori-teori Konsolidasi

1. Teori Entitas---induk dan anak merupakan satu entitas dan terpisah dari pemiliknya. Tujuan pelaporan konsolidasi adalah menyediakan informasi kepada semua pemegang saham baik induk maupun anak.

2. Teori Perusahaan Induk---pemegang saham induk dianggap sebagai yang mempunyai hak dari aktiva bersih atas kelompok yang berkonsolidasi. Tujuan pelaporan konsolidasi adalah menyediakan informasi utamanya bagi perusahaan induk Kepentingan Minoritas

Jika sebagian saham perusahaan nak dimiliki oleh para investor bukan induk perusahaan, maka pemilikan ini dinamakan sebagai kepentingan minoritas. Dalam praktik kepentingan minoritas disajikan (1) sebagai hutang, (2) secara terpisah antara hutang dan modal pemegang saham, (3) sebagai bagian dari modal.

Konsolidasi Berimbang

Konsolidasi berimbang tidak mengenal kepentingan minoritas secara umum. Perusahaan induk hanya akan melaporkan bagian harta dan hutang dari entitas anak dan kepentingan minoritas tidak perlu dilaporkan.

Goodwill

Dicatat ketika sebuah kombinasi usaha dengan pembelian muncul. Berdasarkan teori perusahaan induk goodwill dicatat sebagai perbedaan antara biaya investasi untuk membeli perusahaan yang dibeli dan nilai pasar perusahaan tersebut. Menurut teori entitas goodwill akan dinilai pada total nilai pasar yang tercantum dengan harga pembelian yang dibayar atas investasi perusahaan induk.

Pelaporan Segmental

Adalah pelaporan informasi keuangan yang lebih sedikit daripada yang berdasarkan badan usaha total. Alasan pelaporan segmental adalah:

1. Berbagai jenis kegiatan dapat mempunyai prospek pertumbuhan, tingkat probabilitas dan derajat risiko yang berlainan.

2. Penilaian kemampuan manajemen memerlukan

informasi yang lebih sedikit daripada informsi mengenai badan usaha total.

3. Masalah utama yang berkaitan dengan

pengungkapan dalam pelaporan segmental adalah:

4. Penetapan segment yang dapat dilaporkan.

5. Aloksi biaya bersama.

Segmen yang Dapat Dilaporkan

SFAC No. 14 mengharuskan setiap segmen industri yang signifikan terhadap perusahaan induk secara keseluruhan diidentifikasikan sebagai segmen yang dapat dilaporkan.

Informasi yang Diungkapkan

SFAC No. 14 meminta informasi yang disajikan untuk setiap segmen yang dilaporkan:

1. Pendapatan

2. Profitabilitas

3. Aset yang dapat diidentifikasi

4. Pengungkapan lain: penyusutan/deplesi/amortisasi setiap segmen. Pengeluaran modal untuk setiap segmen, metode ekuitas untuk setiap investee yang secara vertikal berkaitan dan letak geografis investee tersebut, perubahan prinsip akuntansi yang berkaitan dengan segmen bidang usaha.

Metode Pengungkapan

Ada tiga metode penyajian informasi segmental yang diijinkan SFAC No.14:

1. Di dalam tubuh L/K disertai pengungkapan penjelasan

secara tepat.

2. Seluruhnya dalam catata kaki dari L/K.

3. Dalam daftar terpisah yang merupakan bagian integral dari L/K.

Push Down Accounting

Adalah teknik akuntansi kontroversial yang membutuhkan anak perusahaan untuk menerbitkan laporan keuangan yang terpisah untuk mengemukakan kembali nilai yang dilaporkan dari aset tersebut pada carrying amount yang dilaporkan oleh induk pada L/K konsolidasi.

Perlakuan push down accounting menggambarkan kontribusi modal dari pemilik yang baru dan hutang dipandang dari segi nilai yang lebih realistis dari nilai pasar property, plant, and equipment.

Transaksi Mata Uang Asing

Problem ini timbul dalam keadaan perusahaan cabang dan anak perusahaan diluar negeri melaksanakan transaksinya dalam mata uang asing, yang didalamnya termasuk perjanjian pinjaman jangka panjang dalam perolehan aset, pemberian penjualan kredit sebagai piutang. Hal yang perlu diperhatikan bahwa translasi mata uang asing tidak mengubah karakteristik ukuran aset dan hutang. Ada 4 metode yaitu current-noncurrent method, monetary method, current rate method, dan temporal method.

Current-noncurrent method

Didasarkan perbedaan antara aset dan hutang lancar dengan aset dan hutang jangka panjang. Metode mensyaratkan bahwa semua aktiva dan kewajiban lancar dinilai dengan tarif nilai tukar pada tanggal neraca. Sedangkan harta dan kewajiban jangka panjang dinilai dengan nilai tukar yang efektif pada saat perolehan atau pada saat terjadinya (historical rate).

Monetary-nonmonetary method

Bahwa pengelompokkan dilakukan antara item moneter dan item non-moneter. Item moneter dinilai dengan nilai tukar efektif pada tanggal neraca, sedangkan item non non moneter dinilai dengan nilai tukar historis.

Current Rate Method

Mengharuskan semua aset dan kewajiban dinilai dengan nilai tukar efektif pada tanggal neraca. Alasan pendukung bahwa dengan cara ini akan dapat menggambarkan keadaan ekonomi yang sebenarnya dan penghasilan sesungguhnya dari operasi perusahaan.

Temporal Method

Lorensen menyatakan bahwa uang, piutang-piutang,dan hutang-hutang yang diukur pada nilai yang dijanjikan ditranslasikan dengan menggunakan current rate. Sedangkan aktiva dan hutang-hutang yang diukur dengan harga uang (money price) ditranslasikan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada harga uang tersebut.

FASB dan Foreign Current Translation

Pertama-tama menerbitkan SFAC No.8. Namun bayak dikritik karena menyebabkan distorsi dalam laporan keuangan, yaitu:

Aplikasi SFAC No.8 secara ekonomis bertentangan dengan kenyataan. Penandingan biaya dan pendapatan tidak sesuai.

Berubah-ubahnya penghasilan. SFAC No.8 menghendaki agar seluruh keuntungan dan kerugian transaksi dimasukan dalam income.

FASB kemudian menerbitkan SFAC No.52 menyatakan tujuan translasi adalah:

Menyediakan informasi yang secara umum cocok dengan pengaruh ekonomis yang diharapkan dari tingkat perubahan cash flow dan ekuitas perusahaan.

Merefleksikan dalam laporan konsolidasi tentang hasil-hasil keuangan dan hubungan entitas konsolidasi individual dalam keseauaian dengan GAAP.

Adalah suatu perjanjian untuk menukar mata uang pada suatu kurs tertentu pada tanggal tertentu di masa yang akan datang. Perjanjian tersebut sering digunakan untuk melindungi perusahaan dari mengalami keuntungan atau kerugian selisih kurs ketika suatu transaksi dengan perusahaan asing ditetapkan pada jumlah yang berbeda dengan jumlah ketika pertama kali dicatat.

AKUNTANSI DANA PENSIUN (PSAK NO. 18) Definisi

1. Dana Pensiun (DP)---badan hukum yang mengelola/menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun.

2. Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK)---dana pensiun yang dibentuk oleh orang/badan yang mempekerjakan karyawan, selaku pendiri, untuk menyelenggarakan PPMP/PPIP, bagi kepentingan sebagian/seluruh karyawannya, sebagai peristiwa, yang menimbulkan kewajiban bagi pemberi kerja.

3. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)---dana pensiun yang dibentuk bank/perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan PPIP bagi perorangan, baik karyawan maupun pekerja mandiri yang terpisah dari DPPK bagi karyawan bank/perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan.

4. Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP)---program pensiun yang iurannya ditetapkan dalam peraturan Dana Pensiun (PDP) dan seluruh iuran serta hasil pengembangannya dibukukan pada rekening masing-masing peserta sebagai manfaat pensiun.

5. Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP)---program pensiun yang manfaatnya ditetapkan dalam PDP atau program pensiun lain yang bukan merupakan PPIP.

6. Kewajiban Aktuaria---nilai sekarang pembayaran manfaat pensiun yang akan dilakukan dana pensiun kepada karyawan yang masih bekerja dan yang sudah pensiun, yang dihitung berdasarkan jasa yang telah diberikan.

Laporan Keuangan Dana Pensiun 1. Laporan Aktiva Bersih

a. Tujuan---memberikan informasi tentang jumlaj aktiva bersih yang tersedia untuk membayar kewajiban manfaat pensiun kepada peserta pada tanggal laporan.

b. Jumlah aktiva bersih pada tanggal laporan---total seluruh aktiva dana pensiun (non- past service) yang belum jatuh tempo dikurangi seluruh kewajiban (non kewajiban aktuaria). c. Harus diungkapkan:

ö Nilai aktiva pada akhir periode dengan klasifikasi yang tepat.

ö Dasar penilaian aktiva

ö Investasi sesuai dengan rincian jumlah investasi menurut jenis.

ö Kewajiban selain kewajiban aktuaria. 2. Laporan Perubahan Aktiva Bersih

a. Berisi informasi tentang perubahan jumlah aktiva bersih yang tersedia untuk manfaat pensiun.

b. Menguraikan penyebab perubahan tersebut (pertambahan/pengurangan yang terjadi selama periode tersebut).

c. Harus diungkapkan:

ö Biaya jasa kini/lalu yang jatuh tempo.

ö Hasil investasi—bunga dividen,sewa.

ö Pendapatan lain-lain

ö Beban administrasi, investasi, PPh dll

ö Keuntungan/kerugian dari pelepasan investasi dan penurunan/kenaikan nilai investasi.

ö Pengalihan dana ke/dari dana pensiun lain.

ö Manfaat yang sudah dibayarkan dan yang masih terhutang.

3. Neraca

a. Disusun berdasarkan KDPPLK yang berasas historical cost.

b. Selisih antara Nilai Kewajiban Aktuaria dan Aktiva Bersih disajikan sebagai “selisih kewajiban aktuaria”.

c. Piutang kepada pemberi kerja sehubungan jasa masa lalu karyawan diakui sebesar jumlah yang telah jatuh tempo pada tanggal laporan.

d. Harus diungkapkan:

ö Posisi keuangan dana pensiun.

ö Nilai historis, khusus investasi ditentukan juga nilai wajarnya 4. Perhitungan Hasil Usaha, harus diungkapkan:

a. Pendapatan/beban investasi

b. Beban administrasi dan pendapatan lain-lain. 5. Laporan Arus Kas

Disajikan sesuai dengan sifat kegiatan usaha DP selama periode pelaporan. 6. Catatan Atas Laporan Keuangan

a. Penjelasan mengenai program pensiun serta perubahan yang terjadi selama periode laporan:

ö Nama pendiri dan mitra pendiri

ö Kelompok karyawan sebagai peserta

ö Jumlah peserta dan pensiunan

ö Jenis program pensiun

ö Iuran yang berasal dari peserta

ö Untuk PPMP, penjelasan mengenai manfaat pensiun yang dijanjikan.

ö Penjelasan mengenai rencana penggabungan, pemisahan, pemindahan kelompok peserta dan pembubaran DP.

b. Penjelasan singkat mengenai kebijakan akuntansi yang penting. c. Penjelasan mengenai kebijakan pendanaan.

d. Rincian portofolio investasi

e. Penghitungan kewajiban aktuaria, metode penilaian, asumsi aktuarial, nama dan tanggal laporan aktuaris terakhir dalam PPMP.

Program Iuran Pensiun

1. Tujuan---menyediakan informasi secara periodik mengenai penyelenggaraan program pensiun, posisi keuangan serta kinerja investasinya.

2. Tujuan tersebut lazimnya dipenuhi dengan menyusun laporan, yang tdd:

a. Penjelasan atas kegiatan penting DP selama satu periode pelaporan dan dampak setiap perubahan peraturan DP.

b. Laporan tentang transaksi dan kinerja investasi selama periode pelaporan dan posisi keuangan DP pada akhir periode pelaporan.

c. Penjelasan mengenai kebijakan investasi. Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP)

1. Tujuan---menyediakan informasi secara periodik mengenai penyelenggaraan program pensiun, posisi keuangan serta kinerja investasinya untuk menentukan besarnya kekayaan DP dihubungkan dengan besarnya kewajiban membayar manfaat pensiun kepada peserta pada saat tertentu.

2. Tujuan tersebut lazimnya dipenuhi dengan menyusun laporan, yang tdd:

a. Penjelasan atas kegiatan penting DP selama suatu periode pelaporan dan dampak setiap perubahan peraturan DP.

b. Laporan tentang transaksi dan kinerja investasi selama periode pelaporan dan posisi keuangan DP pada akhir periode pelaporan.

c. Penjelasan mengenai kebijakan akuntansi

d. Perhitungan kewajiban aktuaria berdasarkan laporan aktuaris yang terakhir. Penilaian Aktiva Dana Pensiun

1. Nilai nominal---uang tuani, rek giro, deposito bank.

2. Nilai tunai---sertifikat deposito, surat berharga BI, surat berharga pasar uang, surat pengakuan hutang lebih dari satu tahun

3. Nilai pasar wajar pada tanggal laporan---surat berharga (saham/obligasi) yang dijual dibursa efek dan investasi pada tanah dan bangunan.

4. Nilai buku---aktiva operasional (komputer dan peralatan).

5. Piutang dilaporkan berdasarkan jumlah yang dapat ditagih, setelah memperhitungkan penyisihan piutang tidak tertagih.

AKUNTANSI EKUITAS (PSAK NOMOR 21) Definisi

Ekuitas---bagian hak milik dalam perusahaan, yaitu selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada, dan dengan demikian merupakan ukuran nilai jual perusahaan tersebut.

Bentuk Hukum Perusahaan dan Ekuitas: 1. BUMN/D a. Perusahaan jawatan b. Perum c. PT d. Perusahaan negara

e.

Perusahaan daerah 2. Perusahaan swasta a. Perusahaan perorangan b. Persekutuan perdata c. Firma d. CV e. PT 3. Koperasi

Klasifikasi instrument keuangan Kewajiban

Ekuitas

Akuntansi Ekuitas

1. Untuk badan usaha bukan PT 2. Badan usaha berbentuk PT

a. Unsur penambahan modal disetor b. Pencatatan penambahan modal disetor c. Pencatatan pengurangan modal disetor d. Penebusan/penarikan kembali modal saham

ö Perolehan kembali---saham beredar dengan cost method

ö Perolehan kembali saham beredar dengan par value method

ö Perolehan kembali saham sumbangan e. Dividen

ö Bentuk pembagian dividen

ö Dividen saham

ö Konversi agio menjadi saham

f. Penyajian dan pengungkapan

ö Penyajian modal

ö Penyajian dan pengungkapan saldo laba

ö Pengungkapan peristiwa setelah tanggal neraca

ö Pengungkapan perjenis saham

ö Pengungkapan kerugian PT 50% dari modal

ö Pengungkapan kerugian PT 75% dari modal

ö Pengungkapan dividen

ö Pengungkapan saham beredar yang diperoleh kembali

ö Pengungkapan bagian lain ekuitas g. Reorganisasi

h. Selisih penilaian kembali.

BAB 11 (SC & C)

AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN Alasan pengakuan PPh sebagai beban:

1. Sesuai dengan GAAP.

2. Konsistensi dengan Teori Kepemilikan.

3. Konsistensi dengan definisi SFAC No.6 mengenai Comprehensive Income. Perkembangan sejarah akuntansi PPh:

1. Tahun 1940.

a. Internal Revenue Code (IRC) mengizinkan penyusutan biaya untuk fasilitas gawat darurat yang esensial dalam peperangan dalam jangka waktu 60 bulan.

b.

Pelaku bisnis dapat mengurangi Laporan Kinerja Perusahaan dari yang seharusnya.

c. Total penyusutan yang dibebankan dalam masa hidup aktiva adalah sama, namun alokasi biaya yang dibebankan setiap periode untuk laba akuntansi sangat berbeda dengan menurut LKP.

d. IRS:

ö Para praktisi akuntansi membebankan PPh yang timbul berdasarkan laporan perpajakan setiap periode.

ö Beberapa akuntan berargumen bahwa ketika penyusutan dipercepat diperbolehkan, maka pembebanan hutang pajak ke dalam setiap periode menghasilkan penyimpangan material atas pendapatan per-periode.

2. Tahun 1944.

CAP menerbitkan ARB No.23 mengenai akuntansi PPh yang berisi: a. PPh harus dialokasikan ke laba dan perkiraannya.

b. Biaya secara wajar dialokasikan ke laba termasuk dalam laba tahun berjalan.

c. PPh harus dialokasikan dalam perioe-periode sehingga setiap item yang dilaporkan dalam laporan laba rugi sesuai dengan konsekuensi pajaknya.

d. Interperiod tax allocation adalah pengalokasian PPh ke dalam periode-periode akuntansi. Kekurangan ARB No.23 :

Tidak dapat diberlakukan dalam kasus di mana perbedaan laporan perpajakan dan laporan laba rugi secara berulang kali terjadi terus-menerus dalam jangka waktu yang sangat lama.

Menimbulkan perdebatan mengenai bagaimana caranya konsekuensi pajak untuk semua item yang dihasilkan harus dialokasikan karena perlakuan pajak berbeda dengan perlakuan akuntansi.

Tidak memberikan petunjuk yang jelas dan spesifik bagaiman cara mengukur konsekuensi pajak. Isu-isu pengalokasian PPh:

1. Kejadian ekonomi dan transaksi yang memiliki konsekuensi aliran keuangan pajak dilaporkan kepada IRC dan pada laporan keuangan.

2. IRC mengharuskan pendapatan dan biaya diakui dalam periode akuntansi yang berbeda dengan GAAP, berupa:

a.

Originating difference, yaitu Laba Kena Pajak (LKP) akan berbeda sementara waktu dengan Laba Akuntansi Sebelum Pajak.

b. Reversing difference, yaitu kejadian yang menyebabkan originating difference akan membalik sendiri.

c. Income tax allocation issue, yaitu permasalahan yang timbul karena originating dan reversing difference.

3. Tujuan akuntansi PPh adalah:

a. Untuk mengakui jumlah pajak terutang atau yang dapat diterima kembali dalam tahun berjalan.

b. Untuk mengakui konsekuensi pajak di masa yang akan datang karena perbedaaan temporer, kerugian bersih operasi (net operating loss) dan kredit pajak yang tidak digunakan (unused tax credit).

Perbedaan Permanen 1. Timbul karena:

a. Ada syarat-syarat tertentu dari IRC yang membebaskan jenis penghasilan tertentu dari pengenaan pajak, atau pengurangan jenis biaya tertentu dan yang memperbolehkan pengurangan beban dari penghasilan menurut GAAP tidak dapat dibebankan.

b. Akibat kebijakan ekonomi pemerintah. 2. Jenis-jenis perbedaan permanen:

a. Pendapatan yang diakui untuk tujuan laporan akuntansi keuangan yang tidak pernah dikenakan pajak.

b. Beban yang diakui untuk tujuan laporan akuntansi keuangan yang tidak dapat dikurangkan untuk tujuan PPh.

c. Beban yang diakui dan dapat dikurangkan untuk tujuan PPh, tapi tidak diakui sebagai beban menurut GAAP.

Perbedaan Temporer 1. Timbul karena:

a. Perbedaan periode akuntansi mengenai pengakuan penghasilan, beban, keuntungan, atau kerugian luar biasa.

b. Adanya syarat-syarat tertentu dari IRC yang membuat dasar yang berbeda untuk penyusutan, pengakuan kerugian atau keuntungan luar biasa.

c. Adanya taxable amount, yaitu: reversing dan originating difference menyebabkan laporan keuangan tahun berjalan < LASP tahun berjalan, sehingga LKP masa datang > LASP masa datang.

d. Adanya deductible amount, yaitu : reversing dan originating difference menyebabkan LKP tahun berjalan > LASP tahun berjalan, sehingga LKP masa datang < LASP masa datang. e. APB Opinion No.11 tentang Timing, Difference, yaitu : penghasilan kena pajak atau

keuntungan atau kerugian luar biasa atau beban yang dapat dikurangkan diakui dalam satu periode untuk tujuan laporan akuntansi keuangan, dan diakui dalam periode lainnya untuk tujuan laporan pelaporan perpajakan.

Perbedaan waktu meliputi:

a. LAK pada tahun berjalan > LKP tahun berjalan, disebabkan:

ö Penghasilan atau keuntungannya sudah termasuk dalam LAK tetapi belum waktunya termasuk dalam LKP.

ö Beban atau kerugian sudah dikurangkan dari LKP, tapi belum waktunya dikurangkan dari LASP.

b. LAK pada tahun berjalan < LKP tahun berjalan, disebabkan:

ö Penghasilan atau keuntungannya sudah termasuk dalam LKP, tapi belum waktunya termasuk dalam LAK.

ö Beban atau kerugian sudah dikurangkan dari LKP, tapi belum waktunya dikurangkan dari LAK.

2. SFAS No.96 an No.109 menjelaskan mengenai kejadian yang menciptakan perbedaan antara: dasar aktiva dan hutang Vs jumlah untuk laporan keuuangannya.

Perbedaan Temporer Lainnya:

a.

Pengurangan terhadap DPP depreciable aset karena adanya kredit pajak. Misalnya IRC mengizinkan wajib pajak untuk mengurangi dasar depresiasi aset sebesar ½ dari jumlah kredit investasi pajak (ITC), sehingga LKP > LASP sebesar jumlah pengurangan DPP.

b. ITC diakuntansikan dengan metode penangguhan. Perlakuan istimewa akuntansi ITC adalah untuk mengurangi cost aset yang berhubungan sebesar jumlah ITC. Jika metode ini digunakan, jumlah yang diterima atas pemulihan di masa depan atas cost aset yang telah dikurangi tersebut akan lebih kecil dari DPP atas aset tersebut. perbedaannya akan mengurangi pajak ketika aset telah dipulihkan.

c. LAP perusahaan asing yang menggunakan mata uang asing.

d. Penambahan DPP karena inflasi berdasarkan peraturan pajak. Jumlah yang diterima atas pemulihan aset di masa depan yang dicatat untuk tujuan akuntansi < DPP atas aset, dan perbeaannya akan mengurangi pajak.

e. Bisnis kombinasi yang dicatat dengan menggunakan metode pembelian. Kerugian bersih dari operasi (NOL)

a. Perusahaan yang mengalami kerugian

diperbolehkan mengkompensasikan kerugian periode sekarang kepada periode-periode yang lalu, biasanya selama 3 tahun (carry back). Kompensasi ke periode sebelumnya menghasilkan restitusi pajak dan dicatat alam laporan keungan sebagai pengurangan rugi tahun berjalan.

b. Diperbolehkan dikompensasi ke masa

depan (carry forward) selama 15 tahun. kompensasi ke masa depan tidak boleh diakui sebagai keuntungan potensial pajak.

Conceptual Issues

1. Terjadi perbedaan dalam mencatat perbedaan antara LKP dengan LASP.

2. Terjadi perbedaan pendapat apakah alokasi pajak interperiod diterapkan secara keseluruhan atau sebagian saja untuk yang diharapkan akan pulih di masa datang.

Alokasi Vs Nonalokasi

Yang mendukung tidak perlu alokasi interperiod berpendapat bahwa beban pajak yang dilaporkan dalam laporan laba rugi untuk tujuan pajak dan tujuan pelaporan harus sama.

Yang berkata tidak perlu adanya alokasi berpendapat: 1. Pajak pengahsilannya hanya berasal dari LKP.

2. PPh berbeda dengan beban lainnya, sehingga tidak relevan jika diperlakukan sebagai beban lain-lain. Beban dihubungkan dengan usaha menghasilkan pendapatan sedangkan PPh tidak menghasilkan pendapatan (no future benefit).

3. PPh dihitung atas keseluruhan LKP, tidak secara individual atas item-item pendapatan dan beban.

4. Alokasi interperiod menyembunyikan perbedaan ekonomi antara perusahaan yang menggunakan strategi pajak untuk mengurangi pembayaran pajak Vs yang tidak menggunakan. 5. Pelaporan beban pajak atau hutang pajak periode berjalan memperbaiki prediksi arus kas masa depan.

6. Alokasi PPh memerlukan ramalan tersembunyi profit masa depan.

7. Tidak terdapat kewajiban pada saat ini atas konsekuensi pajak potensial dari transaksi saat ini atau sebelumnya karena tidak ada kewajiban yang sah untuk membayar pajak sampai laporan pajak mendatang secara aktual disiapkan.

8. Pembukuan atau prosedur alokasi pajak antar periode terlalu mahal dibandingkan manfaatnya.

Pendukung yang menyatakan perlu adanya alokasi berpendapat:

1. PPh hanya didasarkan atas transaksi atau kejadian yang telah terjadi yang terdapat dalam laba akuntansi.

2. PPh merupakan biaya dalam menjalankan perusahaan, sehingga diperlakukan sama dengan biaya yang lain (konsep akrual).

3. Perbedaan waktu pengakuan pendapatan atau beban menghasilkan perbedaan sementara yang akan pulih dengan sendirinya.

4. Alokasi pajak antar period membuat net income perusahaan memberikan ukuran yang lebih bermanfaat atas kemampuan menghasilkan laba dan menghindarkan penyimpangan laba periodik akibat peraturan pajak.

5. Tidak adanya alokasi menyebabkan kesulitan dalam perkiraan kas masa datang. 6. PPh yang ditangguhkan nantinya akan tetap dibayar.

7. Perbedaan sementara menghasilkan konsekuensi pajak di masa depan. Alokasi menyeluruh Vs parsial

Beban PPh yang dilaporkan alam periode akuntansi dipengaruhi oleh semua transaksi dan peristiwa dalam LASP pada perioe tersebut.

Transaksi dan peristiwa yang membuat perbedaan sementara mempengaruhi arus kas pada periode akuntansi ketika perbedaan original dibalik.

Alokasi parsial:

a. Beban PPh yang dilaporkan dalam periode akuntansi tidak dipengaruhi oleh perbedaan temporer yang tidak diharapkan dibalik, pada masa datang.

b. Perbedaan temporer yang seperti ini lebih bersifat permanen.

c.

Hanya alokasi parsial saja yang diperlukan yaitu untuk perbedaan karena waktu yang tidak terjadi berulang-ulang.

Diskonto Penangguhan Pajak

1. Pendukung: perusahaan yang mengurangi pembayaran pajak akan lebih baik ari sisi ekonomi

Dalam dokumen Resume Teori Akuntansi dan id (Halaman 42-55)

Dokumen terkait