• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

1.1.2. School of thought terdiri dari Analisis

2. Analisis Fundamental

Analisis fundamental merupakan analisis mengenai ekonomi, industri, dan perusahaan yang menentukan nilai saham perusahaan.Analisis fundamental mempfokuskan pada statistic laporan keuangan perusahaan untuk menentukan harga saham dinilai secara tepat. Sebenarnya, dalam mengenalisis nilai buku suatu saham akan lengkap jika menggunakan analisis fundamental dan analisis teknikal.

Analisis fundamental digunakan sebagai penunjuk arah/barometer jangka panjang (long term point of view).Analisis fundamental melihat perkembangan rasio-rasio keuangan dari sisi liquiditas, solvabilitas, profitabilitas, book to market value analysis, turnover dan kebijakan keuangan perushaam dalam melakukan investasi dan pendanaan.Selain itu, perkembangan kinerja dan kebijakan deviden dapat melengkapi analisis fundamental.

Kebanyakan informasi fundamental memfokuskan pada statistic ekonomi industry dan perusahaan.Ada empat konsep dasar dalam melakukan analisis. Pendekatan yang digunakan untuk megenalisis sebuah perusahaan dilakukan melalui empat tahap (top-down analysis):

1) Melihat konsisi ekonomi secara umum (economic aspect) 2) Melihat kondisi industry (industry aspects)

3) Melihat kondisi perushaan (company aspects) 4) Melihat nilai saham perusahaan (stock valuation) Keunggulan analisis fundamental

1) Analisis fundamental amat berguna dalam menentukan arah jangka panjang.

2) Lebih mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

3) Bias menjelaskan lebih tepat mengenai alas an mengapa harga naik atau turun.

4) Mampu memberikan dasar yang logis dalam pengambilan keputusan investasi.

Kelemahan analisis fundamental 1) Memekan banyak waktu

2) Sulit berfungsi pada dasar modal tidak efisien karena asums dasarnya adalah pasar efisien.

3) Asumsi pasar efisien sulit diterapkan karena informasi dapat sempurna berdasarkan atas kualitas dan waktu, tetapi tidak mungkin sama dalam persepsi. Fully efisientidak mungkin

terjadi, hanya economically effisien (weak-form, semi-strong, dan strong-form).

4) Tidak dapat meggambarkan psikologi pasar dan investor pada saat itu.

5) Tidak fleksibel untuk menentukan periode waktu yang ditentukan.

3. Analisis teknikal

Kunci sukses dalam investasi adalah pengetahuan dan action.Awalnya, analisis teknikal diaplikasikan di equity market tetapi kemudian secara bertahap kepopulerannya dikembangkan di pasar komoditi, instrument-instrumen hutang, mata uang, dan pasar-pasar internasional lainya. Tidak alas an mengapa seseorang tidak dapat memperoleh keuntungan di pasar keuangan. Analisis teknikal sangat berguna untuk memprediksi dan mengidentifikasikan emerging trends.

Analisis teknikal berdasarkan atas asumsi bahwa orang akan selalu melakuka kesalahan yang sama sperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Hubungan manusia sangat kompleks dan tidak pernah sama satu sama lainnya. Pasar yang merefleksikan keinginan orang tidak pernah identik dengan performance-nya tetapi kesamaan karakteristiknya dapat digunakan untuk menentukan major juncture points.Analisis teknikal membuat alat sebagai indikator dalam mengungkap dan mengisolasi titik-titik yang mencerminkan cylical market juncture.

Analisis teknikal dapat dibagi ke dalam 3area pokok, yaitu : 1) Sentiment

2) Flow-of-funds

3) Market structure indicators

Sentiment merupakan expectational indicators yang memonitor emosi para investor. Jadi indeks sentiment bergerak dari satu titik ekstream pada bear market bottom ke bull market top.

Pergerakan harga dapat diklasifikasikan dalam :

1) Gerakan pokok atau primary/ cyclical yang merefleksikan sikap investor terhadap siklus bisnis denga periode 1 sampai 3 tahun 2) Intermediatedengan periode 3 minggu sampai beberapa bulan 3) Short term movement dengan periode 3 atau 4 minggu cenderung

bersifat random. 4. Efesiensi Pasar

Teori efesiensi pasar mengetakan bahwa harga sekuritas dinilai secara pas dan benar serta merefleksikan semua informasi dan ekspektasi investor.Teori ini menyatakan bahwa investor tidak mendapatka kentungan dari pasar saham secara konsisten karena pasar mengikuti IID (Identically Independen Distributed).Pasar bereaksi sesuai dan segera setelah informasi baru dating. Oleh karena itu diasumsikan bahwa pasar mempunyai harga yang pas/ tepat tidak terjadi undervalued atau overvalued untuk semua sekuritas dalam

jangka waktu lama sehingga dapat diperoleh keuntungan dari transaksi beli/ jual.

Menurut teori pasar efisien,harga mencerminkan semua informasi yang tersedia dan informasi dating secara random sehingga investor tidak akan mendapatkan keuntungan walau menggunakan semua tipe teori yang ada, baik fundamental maupun teknikal. Pasar efisien jika informasi sempurna dan simetris. Informasi dikatakan sempurna jika memenuhi tiga syarat, yaitu :

1) Secara kualitas (quality) 2) Waktu (time)

3) Persepsi (Perception)

Diterima sama oleh semua pihak. Informasi simetri jika diasumsikan bahwa setiap detail informasi telah dikumpulkan dan diproses oleh ribuan investor dan informasi tersebut (baik yang lama ataupun yang baru) sudah dinilai secara tepat yang tercermin pada harga yang terbentuk.

Keuntungan yang diharapkan investor berbeda-beda bergantung kebutuhan mereka. Investor dapat memilih mengambil keuntungan dengan dua cara, yaitu keuntungan dari dividend atau perubahan harga saham (capital gain) (Jones, 2007). Dividend adalah hak pemegang saham atas pendapatan perusahaan (Fabozzi, 2003).Dividen dibagikan berdasarkan kebijakan perusahaan.Kebijakan perusahaan menentukan besaran laba perusahaan yang dibagikan kepada investor berupa dividen atau menyimpannya sebagai laba ditahan.Yield adalah presentase

dividen dengan harga saham pada periode sebelumnya. Capital gain atau capital loss merupakan selisih dari harga sekarang relatif dengan harga yang sebelumnya. Adapun Return total dari portofolio saham sangat diperhitungkan investor untuk memaksimalkan keuntungan. Return total adalah saham yang berasal dari capital gain ditambah dividend yield (Jones, 2007).

Dividen merupakan return saham yang memiliki sedikit risiko dibandingkan capital gain. Hal ini disebabkan dividen sudah diketahui persentasenya sehingga mudah diprediksi jumlah return yang didapat nantinya meskipun tidak secara pasti jumlahnya. Dividen dihitung dari jumlah laba perusahaan yang dihasilkan pada periode tertentu dikalikan dengan dividend yield yang ditetapkan perusahaan. Dividen dianggap sebagai return yang didapat oleh investor yang menerapkan strategi portofolio pasif. Strategi portofolio pasif adalah strategi yang melibatkan harapan minimal terhadap keuntungan investasi.Strategi ini tidak bergantung pada diversifikasi untuk mencocokan kinerja dari beberapa indeks pasar.Strategi investasi ini mengasumsikan bahwa pasar mencerminkan semua informasi yang tersedia dalam harga yang dibayarkan untuk sekuritas (Fabozzi, 2003).

Bertolak belakang dengan return saham yang berasal dari dividen, capital gain sulit diprediksi karena berkaitan permintaan dan penawaran di pasar sekunder. Hal ini yang menyebabkan harga saham terapresiasi atau terdepresiasi. Untuk memperoleh capital gain, investor perlu mengetahui informasi yang beredar di pasar modal atau dengan kata lain menerapkan strategi portofolio aktif.

Strategi portofolio aktif adalah strategi yang menggunakan informasi dan teknik peramalan untuk mencari kinerja yang lebih baik dari suatu portofolio yang beredar.Keputusan investor untuk menerapkan strategi aktif harus didasarkan pada keyakinan memperoleh usaha yang lebih keras karena capital gain mungkin hanya diperoleh ketika terjadi inefisiensi pasar pada harga saham (Fabozzi, 2003).Investor perlu berusaha lebih keras karena strategi portofolio aktif berkaitan dengan risiko pasar.Risiko pasar berkaitan dengan segala perubahan pasar modal yang terjadi sewaktu-waktu. Investor yang menerapkan strategi aktif akan mencari informasi secara mikro dan makro perekonomian.

Dalam berinvestasi, investor didasarkan pada perilaku atau suatu strategi investasi.Perilaku investor mengacu pada kemampuan investor dalam menerjemahkan informasi yang diperolehnya.Secara garis besar, perilaku investor dapat dibedakan menjadi 2, yakni kontrarian dan momentum. Perilaku kontrarian ditandai dengan perilaku investor yang mengambil posisi yang berlawanan dengan pasar, dimana investor membeli saham yang banyak dilepas atau dijual oleh investor lainnya, dan menjual saham yang banyak dibeli oleh investor lain. Perilaku ini pertama kali diungkapkan oleh DeBondt dan Thaler (1985) yang menemukan adanya efek pembalikan (reversal) pada saham-saham kinerja baik (winner) setelah tiga sampai lima tahun yang akan cenderung menjadi saham-saham dengan kinerja buruk (loser). Pembalikan ini disebabkan oleh adanya perilaku investor yang bereaksi secara berlebihan terhadap informasi (overreaction).Penerapan strategi kontrarian diinterpretasikan sebagai perilaku investor yang tidak rasional.

Penelitian (yuda: 2010) menyebutkan Untuk memperoleh pendapatan (earning) yang dinginkan, seorang investor perlu melakukan analisis penilaian terhadap kinerja perusahan sebelum membuat keputusan untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Analisis penilaian saham yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan untuk melakukan investasi meliputi analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis mengenai penilaian saham yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah analisis fundamental. Salah satu cara yang digunakan dalam analisis ini adalah analisis laporan keuangan dalam bentuk rasio-rasio keuangan. Banyak terdapat rasio keuangan yang dapat menunjukkan tingkat kinerja suatu perusahaan, diantaranya adalah Earning Per Share (EPS) atau laba per lembar saham.

Perhitungan laba per lembar saham (EPS) menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba untuk tiap lembar sahamnya atau merupakan suatu gambaran mengenai sejumlah rupiah yang akan didapat oleh investor dari setiap jumlah saham yang dimilikinya. Oleh karena itu, dengan mengetahui laba per lembar saham (EPS) suatu perusahaan maka investor dapat menilai potensi pendapatan yang akan diterimanya.

laba per lembar saham (EPS) merupakan suatu indikator yang berpengaruh terhadap harga saham, karena laba perusahaan merupakan faktor yang mempengaruhi penilaian investor akan keadaan perusahaan. Dimana apabila laba per lembar saham (EPS) meningkat, investor menganggap perusahaan mempunyai prospek yang cerah di masa yang akan datang, sehingga akan meningkatkan harga saham suatu perusahaan. Selain itu, semakin tinggi nilai laba per lembar saham

(EPS) tentu saja menggembirakan pemegang saham, karena semakin besar laba yang disediakan oleh perusahaan untuk pemegang saham.

Perilaku investor yang lain didasarkan pada momentum. Berbeda dengan kontrarian, investor momentum melakukan pembelian saham pada saat harga saham bergerak naik dengan harapan momentum gerak naik ini akan terus berlanjut. Kemudian saham akan dijual kembali apabila momentum pergerakan naik akan melemah atau telah berhenti dan berbalik arah. Perilaku ini didasarkan pada anggapan bahwa investor akan mencari momentum yang tepat manakala perubahan harga yang terjadi mampu memberikan keuntungan bagi investor melalui aktivitas jual (sell) dan beli (buy).

Jagadessh dan Titman (1993) mendeskripsikan strategi momentum yakni perilaku investor yang melakukan pembelian saham dengan kinerja baik di masa lalu (winners) dan melakukan penjualan saham dengan kinerja buruk di masa lalu (losers). Mereka menemukan bahwa selama 3 sampai 12 bulan periode kepemilikan saham (holding period) perusahaan yang memiliki return yang tinggi dimasa lalu secara terus menerus mengungguli perusahaan yang memiliki return yang rendah dimasa lalu selama periode waktu yang sama, hal ini dinamakan dengan momentum harga saham (momentum of stock prices). Dalam konteks investasi saham, strategi investasi momentum lebih sesuai dengan horison investasi investor. Kebanyakan investor memiliki horizon investasi yang lebih pendek daripada yang diperlukan bagi penerapan strategi investasi kontrarian untuk menghasilkan return yang dapat diterima (Wiksuana, 2009). Investor akan membeli saham yang memiliki kecenderungan harga yang tinggi, yakni saham

yang sebelumnya memiliki kinerja baik (winner stock) dan menjual saham yang sebelumnya memiliki kinerja buruk (loser stock).

Semua perilaku yang ditunjukkan oleh investor tersebut berakibat secara langsung pada pergerakan supply dan demand di pasar modal. Besarnya aktivitas supply (jual) dan demand (beli) yang dinyatakan melalui besarnya jumlah saham yang ditransaksikan, digambarkan oleh volume perdagangan (trading volume). Volume perdagangan merupakan suatu penjumlahan dari tiap transaksi yang terjadi pada bursa saham pada suatu waktu tertentu dan saham tertentu.Naiknya volume perdagangan merupakan kenaikan aktivitas jual beli para investor di bursa.Volume perdagangan mencerminkan kekuatan antara penawaran dan permintaan yang merupakan manifestasi tingkah laku investor.

Fabozzi (2003) berpendapat bahwa Investor mungkin dapat mengeksploitasi overreaction untuk mendapatkan Abnormal return jika mereka dapat mengidentifikasi peristiwa ekstrim dan menentukan kapan pengaruh overreaction menghilang dalam pasar. Abnormal return adalah selisih tingkat keuntungan sebenarnya dengan tingkat keuntungan yang diharapkan. Investor yang mampu melakukan hal ini akan mengejar strategi berikut. Ketika good news diidentifikasi investor akan membeli saham dan menjualnya sebelum menurunnya overreaction. Dalam kasus bad news, investor akan menjual saham dan kemudian membelinya kembali untuk menutupi harga jual sebelum menurunnya overreaction.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi saham pada suatu perusahaan, sering kali para investor juga memperhatikan perbandingan nilai buku terhadap

nilai pasar perusahaan (book value to market ratio). Perbandingan nilai buku terhadap nilai pasar perusahaan (Book value to market ratio) adalah perbandingan antara nilai buku per lembar saham dengan nilai pasar saham. Nilai buku per lembar saham sangat mencerminkan nilai perusahaan, dan nilai perusahaan tercermin pada nilai kekayaan bersih ekonomis yang dimilikinya.Nilai buku per lembar saham adalah nilai kekayaan bersih ekonomis dibagi dengan jumlah lembar saham yang beredar. Kekayaan bersih ekonomis adalah selisih total aktiva dengan total kewajiban. Sedangkan harga pasar adalah harga yang terbentuk di pasar jual beli saham. Analisis perbandingan nilai buku terhadap nilai pasar perusahaan (book value to market ratio) diperlukan bagi investor karena perbandingan nilai buku terhadap nilai pasar perusahaan (book value to market ratio) yang tinggi dapat dijadikan indikator bahwa perusahaan tersebut masih undervalue. Ketika suatu perusahaan dinilai undervalue maka dapat dikatakan perusahaan tersebut sedang dalam kondisi kurang bagus sehingga kurang mampu memberikan keuntungan bagi para investor yang telah menanamkan modalnya.

perbandingan nilai buku terhadap nilai pasar perusahaan (Book value to market ratio) merupakan rasio yang mencerminkan nilai pasar suatu saham. Rasio ini sangat popular dikalangan investor karena secara sederhana dapat menjelaskan apakah perusahaan dinilai undervalue. Rasio ini pun menggambarkan nilai perusahaan di mata investor.perbandingan nilai buku terhadap nilai pasar perusahaan (Book value to market ratio) diukur dari total ekuitas yang dimiliki perusahaan. Perusahaan yang memiliki ekuitas fisik bernilai besar tidak berarti memiliki nilai yang baik dalam bisnis.

Billings dan Morton (1999) meneliti tentang Book-to-Market Components, Future Security Returns, and Errors in Expected Future Earnings menemukan bahwa variasi dari book to market pada perubahan harga saham terdahulu mencerminkan irrasional market expected return dalam jangka panjang.

perbandingan nilai buku terhadap nilai pasar perusahaan (Book value to market ratio) yang tinggi berarti adanya kewajiban perusahaan yang masih belum dibayarkan. Hal ini membuat risiko memiliki saham perusahaan tersebut tinggi sehingga nilai perusahaan dianggap rendah oleh investor.Sebaliknya, Perusahaan dengan perbandingan nilai buku terhadap nilai pasar perusahaan (book value to market ratio) rendah menunjukan bahwa perusahaan dalam keadaaan baik sehingga masih dapat melanjutkan bisnisnya dengan menciptakan penjualan.Penjualan yang terjadi merupakan aspek produktifitas yang menyebabkan laba perusahaan bertambah. Laba perusahaan yang meningkat akan meningkat pula dividen yang akan dibagikan melalui kebijakan dividen yang disepakati dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Dividen yang meningkat pun menyebabkan return saham investor meningkat.

Menurut Robert Ang (1997), book value to market ratio merupakan rasio yang digunakan sebagai indikator untuk mengukur kinerja perusahaan melalui harga pasarnya. Perusahaan dengan book value to market ratio tinggi mengindikasikan bahwa pasar menghargai perusahaan relatif lebih rendah daripada nilai buku perusahaan. Secara teoritis rasio book to market memiliki pengaruh negatif terhadap return saham dengan kata lain semakin tinggi rasio book to market suatu perusahaan maka semakin rendah return saham yang

dihasilkan, begitu pula sebaliknya dimana perusahaan dengan rasio book to market rendah memiliki tingkat return saham yang relatif lebih tinggi.

Kinerja suatu perusahaan dapat dinilai dengan menganalisis laporan keuangan perusahaan tersebut.Pada prinsipnya, dalam analisis laporan keuangan terdapat empat macam rasio yaitu rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas dan aktivitas.Beberapa peneliti menemukan metode analisis lebih lanjut untuk menilai kinerja keuangan dan tingkat kesehatan suatu perusahaan.Salah satunya adalah metode yang diperkenalkan oleh Altman dimana analisis ini mengacu pada rasio-rasio keuangan perusahaan. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada analisis tentang baik buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio itu dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standart sedang yang digunakan dalam analisis yaitu laporan neraca dan laporan rugi laba.

Fama dan French (1992) membagi perusahaan berdasarkan ukurannya (firm size) yaitu besar (big) dan kecil (small) serta berdasarkan perbandingan nilai buku terhadap nilai pasar perusahaan (book to market rasio) yaitu tinggi (high) dan rendah (low). Ukuran suatu perusahaan dapat dinilai dari beberapa aspek seperti total aset dan kapitalisasi pasar (market capitalization). Market capitalization mencerminkan nilai kekayaan perusahaan saat ini.Market capitalization merupakan suatu pengukuran terhadap ukuran perusahaanyang didasarkan atas jumlah saham yang beredar dan harga per lembar saham

tersebut.Fama dan French (1992) menempatkan saham-saham ke salah satu dari sepuluh portofolio setelah memeringkat mereka di akhir bulan Juni berdasarkan ukuran perusahaan kemudian mereka mengikuti return bulanan portofolio tersebut dari Juli 1963 – Desember 1990, ternyata hasilnya adalah terdapat hubungan terbalik antara ukuran perusahaan dengan return rata-rata (average return). Perusahaan dengan ukuran perusahaankecil cenderung mempunyai return yang lebih tinggi dibanding dengan perusahaan dengan ukuran perusahaanyang lebih besar, fenomena ini biasa disebut dengan size effect. Di dalam penelitian Banz (1981) dinyatakan bahwa saham dengan nilai kapitalisasi pasar yang rendah atau memiliki ukuran perusahaankecil dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dibanding saham dengan ukuran perusahaanyang lebih besar.Jadi secara umum, dapat dinyatakan adanya suatu hubungan negatif antara tingkat pengembalian saham dengan ukuran perusahaan.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui hubungan antara earning per share, firm size, book value to market ratio, momentum dan return saham. Zaretzky dan Zumwalt (2007) melakukan penelitian mengenai hubungan, book value to market ratio dan return premium. Objek dalam penelitian tersebut adalah perusahaan-perusahaan non keuangan yang terdaftar dalam NYSE-AMEX stock dan NASDAQ stock pada periode tahun 1984 sampai dengan 1995. Hasil yang ditemukan adalah terdapat hubungan negatif signifikan antara distress risk dan return premium.

Sedangkan Fama dan French (1992) menyatakan nilai book value to market ratio yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja buruk

dan cenderung mengalami kesulitan keuangan (financial distress) atau mempunyai prospek yang kurang baik. Fama dan French (1992) berkesimpulan bahwa book value to market ratio mempunyai hubungan negatif terhadap return. Artinya, semakin besar nilai book value to market ratio maka semakin kecil return saham suatu perusahaan. Dalam penelitian lain, Fama dan French (1993) menyatakan bahwa firm size dan book value to market ratio memiliki sensitivitas terhadap faktor risiko yang juga merupakan faktor penentu pada variasi stock return dan membantu menjelaskan cross sections of average return. Bukti-bukti pada penelitian mereka menunjukkan bahwa firm size dan book value to market ratio berhubungan dengan keuntungan yang diperoleh. Selanjutnya, Fama dan French (1995) menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara faktor market dan size terhadap return, tetapi tidak ditemukan link antara book to market equity terhadap return.

Hasil lain ditemukan oleh Harowitz Loughran, Savin (2000) yang melakukan pengujian hubungan ukuran perusahaan (firm size) dengan return. Dengan menggunakan metode analisis Sp line regression, cross sectional regression dan annual compound return, diketahui bahwa dari 3 metode pengukuran tersebut tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara ukuran perusahaan dengan return.

Penelitian pada objek lain juga dilakukan oleh Andreas Charitou dan Eleni Constantinidis (2004) yang melakukan penelitian terhadap Japanese Stock Market periode 1992 – 2001 untuk menguji perilaku laba, dalam hubungannya dengan size dan book to market equity. Dari hasil penelitian tersebut, mereka menyatakan

bahwa terdapat hubungan signifikan antara market, size, book to market equity dan expected stock return pada Japanese Market.

Perusahaan yang memiliki kinerja yang baik akan memperoleh laba yang tinggi baik itu dari penjualan produk maupun aktifitas bisnis yang produktif. Produktifitas perusahaan merupakan tolak ukur dari kelangsungan bisnis.Keuntungan perusahaan dibagikan pada periode tertentu berupa dividen atau disimpan untuk kepentingan internal berupa laba ditahan untuk kelangsungan bisnis. Hal ini membuat investor bergairah untuk membeli sahamnya dengan mengharapkan return yang didapat dimasa mendatang.

Di Indonesia investor dapat melakukan investasi saham dengan cara membeli saham-saham perusahaan (emiten) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dikelompokkan berdasarkan sektor usaha yang dilakukan, salah satunya adalah sektor manufaktur. Sektor manufaktur merupakan kelompok emiten yang terbesar dibandingkan sektor lain. Perusahaan-perusahaan pada sektor manufaktur juga merupakan emiten yang sahamnya paling aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.Sebelum memutuskan membeli atau menjual saham, para investor tentunya sangat memerlukan tersedianya informasi. Informasi-informasi tersebut diperlukan untuk dapat memprediksi besarnya return saham yang akan diterima dari investasi yang dilakukan. Informasi yang dimaksudkan terkait dengan faktor-faktor yang berhubungan dan memiliki pengaruh terhadap return saham. Sebagaimana yang telah diuraikan di atas,earning per share, firm size dan book

value to market ratio dan momentum adalah beberapa faktor yang diduga memiliki hubungan dengan return saham yang dihasilkan.

1.1.3. Info Terkini Dalam Bursa Saham

Topsaham - PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mencatatkan laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 34,97% menjadi Rp196,51 miliar pada 2012 dari periode sama tahun sebelumnya

Dokumen terkait