C. ISLAM MASA DINASTIK
2. SEBAB-SEBAB KEMUNDURAN ISLAM PADA ERA DINASTIK
a. Faktor Politik
1) Pemberontakan dan Gerakan yang memisahkan diri dari Kekuasaan Pusat
Ketidakpuasan dengan kebijakan pemerintahan pusat, sering kali menimbulkan ketidaktaatan dan ketidakpatuhan pemerintahan propinsi. Pemerintahan propinsi kemudian melakukan gerakan militer dan berusaha memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Gerakan-gerakan militer dan pemberontakan yang dilakukan oleh pemerintahan propinsi akan berakibat pada melemahnya
kekuasaan politik dan semakin menyempitnya wilayah
pemerintahan pusat.
2) Konflik Internal Keluarga Kerajaan dalam Perebutan Kekuasaan Perebutan kekuasaan dalam keluarga kerajaan, sering kali memicu konflik yang berkepanjangan dan bahkan melibatkan militer dan perang terbuka. Peralihan kekuasaan yang tidak berjalan mulus semacam ini, tentu akan memperlemah kekuasaan politik dinastik bahkan menghancurkannya.
3) Serangan Militer dari Kekaisaran/Kerajaan lain a) Serangan Kerajaan Kristen Eropa
Salah satu faktor yang menjadi pemicu dari kemunduran Dunia Islam adalah serangan-serangan militer yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Kristen Eropa. Kerajaan- kerajaan Kristen Eropa yang tergabung dalam satu front,
kemudian dikenal tengan tentara salib, melakukan
perlawanan terhadap dinasti-dinasti Islam selama berabad- abad (perang Salib/Crusade). Kekalahan dan kemenangan silih berganti dialami oleh dunia kristen dan juga Islam. Serangan militer yang dilakukan oleh dunia Kristen secara berturut-turut telah benyak menghancurkan infrastruktur dinasti-dinasti Islam mulai dari militer, wilayah, ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya. Kehancuran infrastruktur ini yang diiringi dengan melemahnya kekuasaan dinasti, yang akhirnya menyebabkan keruntuhan sama sekali.
b) Serangan Mongol
Pada tahun 1256, cucu Jengis Khan, Hulago Khan melakukan serangan ke pusat pemerintahan Islam di Baghdad. Meskipun Hulago Khan menganut agama tradisi Mongol, tetapi
permaisurinya adalah penganut Kristen Nestorian yang mungkin mempengaruhi Hulago Khan untuk membenci Islam. Demikian juga, klaim khalifah Abbasiyah sebagai pemimpin seluruh umat Islam tentu telah menyinggung kewibawaan Hulagu Khan.
Balatentara mongol menyeberangi pegunungan
Zagros dan memasuki negeri Irak. Tentara khalifah berusaha bertahan dengan sekuat tenaga, tetapi tentara Mongol berhasi menghancurkansebuahbendungandankemudianmemorak- porandakan kamp pertahanan tentara Islam. Khalifah dan para pengikutnya menyerah kalah pada pebruari 1258. Setelah itu, tentara Mongol menghancurkan kota, membakar sekolah dan perpustakaan, merubuhkan masjid dan Istana, dan membunuh lebih satu juta orang Islam. Adapun orang Kristen dan Yahudi dibiarkan. Seluruh keluarga khalifah digulung dalam karpet dan dibiarkan diinjak-injak kuda para tentara. Air sungai berubah warna akibat darah manusia dan tinta buku. Mayat bergelimpangan di seluruh penjuru kota. Bau tersebar ke seluruh pelosok hingga menjadi salah satu alasan, balatentara Mongol pergi meninggalkan Baghdad. Baghdad hancur luluh lantak dan pasukan Mongol pergi dengan membawa banyak harta rampasan perang. Ini adalah tragedi peradaban dan kemanusiaan Dinasti Abbasiyah, sebuah dinasti yang pernah mencapai zaman keemasan. c) Serangan Kerajaan Hindu India
Dinasti-dinasti Islam yang berkuasa di India, juga tidak kalah sengitnya mempertahankan wilayahnya dari serangan- serangan militer dari kerajaan-kerajaan hindu di sekitarnya. Kesultanan Mughal dan Delhi senantiasa menghadapi tekanan-tekanan militer, yang berakibat memperlemah kekuasaan politik dan akhirnya tumbang sama sekali. 4) Perang-Perang yang berkepanjangan
Perang berkepanjangan yang senantiasa dihadapi oleh dinasti-dinasti Islam dan tidak segera terselesaikan, telah banyak menyita tenaga, fikiran, dan dana tanpa batas, tentu memperlemah sektor-sektor lain dalam negara yang bersangkutan. Yang kemudian, berakibat pada kelumpuhan secara total dinasti-dinasti Islam dan pada akhirnya mengakibatkan kehancuran pemerintahan sama sekali.
b. Faktor Keilmuan
1) Banyak khalifah yang kurang berpihak pada pengembangan keilmuan
Banyak di antara para khalifah era dinastik yang kurang perhatian bagi pengembangan keilmuan. Mereka lebih menekankan membangun infrastruktur pertahanan dan militer, dibandingkan membangun pusat-pusat keilmuan.
2) Banyak karya ilmuan muslim yang dihancurkan ketika ada aksi penyerangan ke wilayah kaum Muslimin
Ketika terjadi penyarangan ke Kota Baghdad oleh tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan, seluruh sekolahan dan perpustakaan yang ada di Baghdad dihanurkan dan dibakar. Sehingga karya-karya besar dari ilmuan-ilmuan muslim banyak yang tidak terselamatkan.
c. Faktor Keagamaan
1) Munculnya Konflik keagamaan dari Beragam Mazhab
Fanatisme mazhab telah yang berlebih-lebihan telah memicu konflik keagamaan akut, dan menyebabkan keretakan sosial sesama orang-orang Islam. Bahkan dalam banyak kasus, orang sering menduh kafir orang lain karena perbedaan pemikiran keagamaan. Yang kemudian berakibat kepada fitnah, yang seharusnya tidak perlu terjadi, seperti hukuman mati, penjara, bahkan perang kepada orang-orang yang dianggap berbeda faham/aliran/mazhab. Konflik mazhab yang semacam ini telah mengekang dan mengkerdilkan perkembangan intelektual dan spiritual umat. Umat digiring pada pola fikir taklidisme kepada para pendahulu tanpa kritik, yang pada akhirnya nalar kreatif umat menjadi beku.
2) Kebijakan pemerintahan yang mendukung salah satu mazhab Kebijakan pemerintah yang mendukung salah satu mazhab, dan tidak yang lainya juga turut menghancurkan kebebasan berekspresi, dan berkeyakinan bagi umat. Dan dalam banyak kasus, dukungan pemerintah yang hanya pada salah satu mazhab telah menjadi pemicu konflik, ketegangan publik, serta semakin berkurangnya pamor pemerintah di mata umat.
3) Spirit keagamaan para khlaifah dan pejabat kerajaan lemah, bahkan jauh dari tradisi Islam.
Kelemahan spirit Islam dalam diri para khalifah menyebabkan mereka banyak meninggalkan tradisi pemerintahan yang pernah diletakan dan dibangun oleh Rasulullah dan juga para Khulafa’ ar-rasyidun yang empat, diantaranya adalah:
a. Perubahan cara Hidup para Khalifah
Perubahan yang paling jelas, para raja telah memilih cara hidup kaisar dan kisra semenjak permulaan masa dinastik(kerajaan) dan meninggalkan cara hidup Nabi SAW dan Khulafa’ ar-Rasyidun yang empat. Mereka hidup dengan bergelimang kemawahan, dan jauh dari kesederhanaan yang diajarkan nabi SAW. Bahkan diantara mereka, ada yang hidup berlebih-lebihan dan melakukan pelanggaraan terhadap syariat Islam, seperti mabuk-mabukan, dan sebaginya. b. Hilangnya kemerdekaan Berfikir kaum Muslimin
Pada era dinastik, perubahan yang paling mencolok dialami kaum muslimin adalah pencabutan kebebasan kaum muslimin untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Syariat Islam tidak hanya menjadikan hal itu sebagai hak bagi mereka, tetapi bahkan telah mewajibkan itu dilakukan oleh kaum Muslimin.
c. Hilangnya Kebebasan Peradilan
Ketika sistem khilafah berubah menjadi kerajaan, prinsip kebebasan peradilan tidak agi berjalan mulus, bahkan sedikit demi sedikit makin menghilang. Perkara-perkara yang para penguasa dan raja terlibat di dalamnya, dengan alasan-alasan politis atau pribadi, tidak lagi memberi kebebasan kepada mahkamah-mahkamah untuk mengeluarkan keputusan- keputusan yang adil dan tepat, sehingga keadilan menjadi sulit sekali dicapai dalam perkara-perkara yang diajukan melawan pera amir, gubernur, para komandan, bahkan antek-antek penguasa dan para kroni dekat istana-istana kerajaan. Hal inilah sebab utama para ulama yang baik-baik untuk menerima jabatan dalam peradilan.
d. Berakhirnya Pemerintahan beradasarkan Musyawarah
Pada era sistem dinastik ini, pemerintahan berdasarkan musyawarah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan Khulafa’ar-Rasyidun diganti dengan kediktatoran pribadi, dan para raja menjauhkan diri dari para ahli ilmu yang berani menyatakan segala yang haq (kebenaran). Asas musyawarah yang menjadi ciri bagi pemerintahan masa Rasulullah dan Khulafa’ur Rsyidin, di- tinggalkan oleh penguasa-penguasa baru era dinastik. Sehingga pemerinta- han era ini sangat despotik, lebih mementingkan kerajaan dari pada kepentin- gan rakyat, lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan dari pada kepentingan umat. semua urusan diletakan pada kepentingan raja, dan rakyat tidak boleh bertanya dan bersikap kritis.