• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEBAB-SEBAB PENYERANGAN PALEMBANG (II)

Dalam dokumen Dari Pembendaharaan Lama : Prof.Dr. Hamka (Halaman 32-34)

USIA Pangeran Mas lebih tua daripada usia Maulana Muhammad. Maulana Muhammad yang masih muda itu ada sedikit gila kehormatan dan suka disanjung. Meskipun dia mempunyai Mangkubumi, Jayanegara (yang kemudian menjadi Mangkubumi juga dari puteranya Abu'1 Mafakhir, sebelum naik Ranamanggala), namun suara Mangkubumi dikalahkan oleh pengaruh Pangeran Mas.

Pangeran Mas membahasakan kepada Maulana Muhammad "Rayi”, artinya saudara muda. Dan Maulana Muhammad membahasakannya "Raka”, artinya saudara tua.

Di tahun 1596 kapal perniagaan Belanda berlabuh di Teluk Bantam di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Pada waktu itu telah mulai Pangeran Mas memasukkan pengaruhnya kepada Maulana Muhammad, supaya orang-orang Belanda itu diusir saja dari Bantam. Apatah lagi perangai orang- orang Belanda itu amat kasar, tidak tahu menenggang hati orang dan merasa dirinya lebih mulia daripada anak negeri.

Mula-mula orang besar-besar menurut saja apa kehendak Pangeran Mas itu. Tetapi ada satu hal yang orang heran, meskipun keheranan itu tidak mengurangi hormat orang kepada dirinya. Yaitu di dalam dia diserahi menjadi kepala perang menentang dan mengusir orang-orang Belanda yang mulai masuk ke Bantam itu, ternyata sekali bahwa dia hanya membenci Belanda dan tidak

membenci Portugis. Padahal orang Bantam melihat bahwasanya kedua bangsa kulit putih ini sama saja bahayanya bagi Bantam. Ada satu riwayat mengatakan bahwasanya Pangeran Mas itu adalah

putera Aria Pangiri dengan istrinya perempuan Portugis dari Malaka itu. (Tetapi hal ini belum habis diselidiki orang). Dia hanya seorang Pangeran yang menumpang dan diberi perlindungan dalam Bantam, dan orang mengakui hubungan kekeluargaannya yang rapat dengan sultan. Tetapi kian sehari dia kian mempengaruhi. Dia membenci Belanda, tetapi dia terlalu sangat mendekati Portugis. Memang, perjuangan di antara Bantam di bawah pimpinan Pangeran Mas, melawan orang Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman membawa hasil yang baik bagi Bantam, sehingga beberapa orang Belanda dapat ditawan. Mereka baru dapat dilepaskan dari tawanan, padahal hampir dihukum bunuh, ialah setelah de Houtman membayar uang tebusan banyaknya F 45.000. Dan Cornelis de Houtman berangkat meninggalkan Bantam dan pada angkatan kedua kali di bawah pimpinan Van Neck berdamailah Belanda dengan Bantam dan bolehlah mereka berniaga di sana. Portugis berusaha hendak memperbaiki kedudukannya di Bantam, sehingga datang utusan dari Malaka membawa barang-barang hadiah, di antaranya uang 10.000 rial dan barang-barang yang lain. Tetapi Bantam tidak dapat menerimanya lagi. Dalam hal ini tidak berfaedah pengaruh Pangeran Mas.

Setelah gagal percobaannya yang pertama, Pangeran Mas mulailah memasukkan jarum pengaruh yang kedua, yaitu membujuk rayu Maulana Muhammad supaya menyerang Palembang:

"Cobalah ingat Rayi! Nenek kita dahulu Almarhum Hasanuddin, berdaya menaklukkan Lampung. Ayahmu dahulu Penembahan Yusuf berhasil meruntuhkan Kerajaan Hindu Pajajaran. Rayi sendiri haruslah merebut Palembang. Palembang dahulu takluk ke Majapahit dan Majapahit telah diruntuhkan oleh Demak, dan Bantam adalah lanjutan dari Demak! Raja Palembang mesti takluk kepada kita. Siapa yang akan menyelenggarakan itu kalau bukan Rayi! Dan Raka bersedia bila ada titah memimpin peperangan ke Palembang itu.”

Usul yang seperti itu rupanya telah membangkitkan semangat ingin kebesaran dan nama harum Maulana Muhammad yang masih muda itu. Maka dimusyawaratkannyalah dengan Mangkubumi dan orang besar-besar kerajaan yang lain. Padahal syak wasangka bangsawan Bantam kepada Pangeran Mas sudah lama tumbuh. Seketika diminta pertimbangan mereka, mereka pun menyatakan persetujuan atas kehendak Maulana sultan itu. Tetapi hendaklah peperangan itu dipimpin sendiri oleh sultan, dan tak usah diserahkan pertanggungan jawab kepada Pangeran Mas. Mereka bayangkanlah kepada sultan, apa kiranya maksud yang terselip dalam hati Pangeran Mas. Dia memimpin tentara ke Palembang, sebab Palembang hendaknya bertakluk ke Demak. Artinya dia hendaknya menjadi raja di sana. Maka mengertilah Sultan ke mana tujuan usul Pangeran Mas itu.

Maka tatkala Pangeran Mas datang kembali ke istana, ditanyakannyalah dari hal maksud menyerang Palembang itu. Maulana Muhammad menjawab; "Usul Raka sangat berkenan di hatiku!".

Mukanya berseri-Seri mendengar jawab sultan.

"Dan yang akan memimin angkatan itu ialah Rayi sendiri!" Wajah Pangeran Mas pucat mendengar sambungan jawab itu.

Maka penyerangan ke Palembang dilangsungkan di bawah pimpinan Maulana Muhammad. Rupanya terjadilah apa yang tidak diinginkan sama sekali, Maulana Muhammad meninggal dalam perjuangan, dan rakyat Bantam dan orang besar-besar Bantam, sangatlah bersedih hati atas

kehilangan Sultannya, yang masih muda dan sangat dicintai itu. Seluruh Bantam pun berkabung. Berpuluh-puluh santri membacakan Al Qur'an dan do'a-do'a wirid di makam Sultan. Dengan kematian Sultan dan kesedihan rakyat dan orang besar-besar, cemburu, marah, kecewa dan iba hati tertumpahlah kepada Pangeran Mas. Meskipun dicobanya masuk istana, tidaklah ada orang yang menegur sapanya lagi. Berjalan di jalanan raya tidak ada lagi orang yang menghormati. Sehinga sempitlah rasanya bumi Bantam buat dia. Kalau dia bertemu dengan puteri-puteri, ada puteri itu yang tidak dapat menahan hati, lalu berkata: "Rama! Mengapa Rama bunuh ayahku!

Lantaran itu tidaklah tahan dia tinggal di Bantam lagi. Dengan diam-diam dan tidak diketahui orang, dia pun keluarlah dari Bantam menuju Jakarta. Pangeran Ancol di Jakarta pun tidak lagi mempedulikan dia. Maka berdiamlah dia pada sebuah rumah terpencil di Jakarta bersama anak- anaknya.

Satu di antara anak itu pun sangatlah sakit hatinya kepada ayahnya atas nasib yang menimpa diri mereka, dari mulia menjadi orang petualang, tidak tentu tempat hinggap. Pada suatu malam,

kedengaranlah ribut-ribut di rumah beliau. Pagi-pagi dilihat orang Pangeran Mas telah mati terbunuh. Dibunuh oleh puteranya sendiri!

Demikianlah nasib keturunan Raja Demak yang paling akhir, penuh dengan mimpi hendak merebut kembali kebesaran yang hilang. Tiap dicobanya tiap tak menjadi. Akhirnya mati jauh dari kerajaan yang telah direbut orang lain, mati karena tikaman puteranya sendiri! Dunia . . . !

V.

MANGKUBUMI RANAMANGGALA

Setelah kita baca sejarah perjuangan Pangeran Aria Ranamanggala, kian lama kian terasalah kebesaran pribadi ini dalam sejarah bangsa Indonesia umumnya dan Bantam khususnya. Peninjauan kepada sejarah beliau dan sejarah orang-orang besar pada zaman lampau di Indonesia, haruslah ditinjau kembali oleh bangsa Indonesia sendiri. Karena selama kita masih berpedoman kepada sejarah-sejarah yang dibuat oleh orang Belanda, kita hanya akan mendapati tinjauan yang berat sebelah. Segala sesuatu ditilik dari kacamata orang Belanda.

Sulit sekali kedudukan Bantam pada permulaan masuknya Kompeni Belanda ke tanah air kita ini. Bantamlah negeri yang lebih dahulu dimasuki oleh orang Belanda. Sejak Cornelis de Houtman, Van Neck, sampai kepada datangnya gubernur jenderal yang pertama Pieter Both dan sampai kepada Yan Pieterzon Coen.

Dan Maulana Muhammad mangkat dalam perjuangan hendak merebut Palembang, puteranya yang naik menggantikannya, Abu'l Mafakhir masih berusia lima bulan. Maka terserahlah negeri kepada pimpinan Mangkubumi.

Mulanya Mangkubumi Jayanegara, yang menjadi Mangkubumi juga pada zaman Maulana Muhammad. Beliau ini telah tua dan sikapnya terlalu lemah menghadapi bangsa asing yang telah berduyun datang ke Bantam mencari rempah. Tidaklah sepadan kelemahan Mangkubumi ini dengan besarnya bahaya yang dihadapi. Bukan saja Belanda, bahkan Portugis, Spanyol dan Inggris telah berebut-rebut hendak menanamkan pengaruh di Bantam. Dan setelah Jayanegara wafat, dinaikkan orang adiknya menjadi gantinya. Tetapi tiada berapa lama dia menjabat pangkat itu, terpaksa dima'zulkan oleh bangsawan-bangsawan Bantam, karena kelakuannya tidak baik. Maka naiklah bunda raja sendiri, Nyi Ageng Wanagiri.

Di mana-mana kita berjumpa dalam sejarah di zaman feodal bilamana kaum wanita diberi kekuasaan yang sebesar itu, akan timbullah beberapa hal yang mendukakan hati. Seorang

bangsawan dari keluarga kerajaan menjadi suami kepada Nyi Ageng Wanagiri, sehingga sultan cilik itu berayah tiri. Dan dengan halus politik wanita ini, suaminya pula diangkat menjadi anggota majelis Mangkubumi.

Kekayaan negeri ditumpukkan ke dalam istana, untuk kemegahan hidup "orang dalam". Rakyat menderita, raja tidak tahu apa-apa, dan bahaya bangsa asing telah meliputi seluruh Bantam.

Tidaklah heran kalau timbul pemberontakan, karena rasa tidak puas rakyat kian lama kian tak dapat dikendalikan lagi. Sehingga dalam tahun 1608 terjadilah pemberontakan besar, dan ayah tiri raja itu pun dibunuh orang.

Pangeran Aria Ranamanggala tampil ke muka! Dia dapat memadamkan kekacauan dan oleh sebab itu, seketika timbul suara memintanya menjadi Mangkubumi, diterimalah permintaan itu dan memang itu yang diingininya.

Naiknya pahlawan besar yang ternama ini, amat tepatlah pada waktunya. Dia melihat bagaimana kemunduran politik dalam negeri Bantam. Dan dia melihat pula bahwa di Mataram beberapa tahun kemudian, telah timbul seorang raja besar, yaitu Sultan Agung, (1613), sedang haus kekuasaan dan melebarkan daerah. Sudah diketahui oleh umum, bahwa Sultan Agung pun ingin hendak merebut Bantam dan memasukkannya dalam satu "Kerajaan Jawa yang Besar". Bahkan Cirebon telah jatuh

Dalam dokumen Dari Pembendaharaan Lama : Prof.Dr. Hamka (Halaman 32-34)