Kecamatan Cijeruk merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Bogor. Terdapat sembilan desa di Kecamatan Cijeruk, yaitu: desa Palasari, Sukaharja, Tajur halang, Tanjung sari, Cipicung, Cipelang, Cibalung, Cijeruk, dan Warung menteng.
Sarana kesehatan yang terdapat di Kecamatan Cijeruk antara lain rumah bersalin atau BKIA, puskesmas, puskesmas pembantu, praktek dokter, dukun khitan atau sunat, dukun bayi, dan pelayanan keluarga berencana serta posyandu. Sarana kesehatan yang paling berperan penting adalah posyandu. Posyandu dilakukan satu kali dalam satu bulan. Jumlah posyandu yang terdapat di setiap desa berbeda dan tergantung dari jumlah penduduk yang ada di desa tersebut. Semakin banyak jumlah penduduk, khususnya balita maka jumlah posyandu semakin banyak. Desa Cipicung adalah desa yang memiliki jumlah posyandu terbanyak dalam kecamatan Cijeruk. Desa Palasari memiliki sembilan posyandu. Kegiatan yang dilakukan di posyandu diantaranya penimbangan berat badan balita, pemberian imunisasi pada bayi usia 0-9 bulan, pemberian imunisasi bagi ibu hamil, serta pemberian vitamin A.
Desa Palasari merupakan desa yang terletak di kaki gunung salak dengan total luas wilayah 425 Ha. Desa Palasari berjarak 15 km dari pusat pemerintahan kecamatan, 24 km dari ibu kota kabupaten, 99 km dari ibu kota provinsi, dan dari ibu kota Negara berjarak 65 km. Desa Palasari dibatasi oleh beberapa desa, diantaranya sebelah utara dibatasi oleh desa Pamoyanan, sebelah selatan desa Tanjung sari, sebelah barat desa Cipicung, dan sebelah timur dibatasi oleh desa Mulyaharja.
SDN Palasari 02 adalah sebuah sekolah dasar yang beralamat di kampung Bantar Kambing Rt 03 Rw 07, Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. SDN Palasari 02 memiliki NSPN dengan nomor 20200441. Sekolah ini dibangun berdasar Inpres No. 3 tahun 1977 & No. 6 tahun 1978 dengan SK pengesahan tanggal 11 Juli 1980 No. 1287/ IVC/PK/80. Luas tanah dan bangunan dari sekolah ini adalah 1200 m2 dan 540 m2. Lokasi sebelah barat SDN Palasri 02 dibatasi oleh rumah penduduk, sebelah timur oleh kantor UPTK (Unit Pelaksana Teknis Kurikulum) XXVIII Cijeruk, sebelah selatan dibatasi oleh TPU (Tempat Pemakaman Umum), dan sebelah utara dibatasi oleh jalan desa.
SDN Palasari 02 adalah sekolah dengan akreditasi B. Jumlah pendidik dan tenaga kependidikan SDN Palasari 02 berjumlah delapan orang, terdiri dari satu kepala sekolah, enam guru yang masing-masing bertanggung jawab terhadap satu kelas atau disebut juga sebagai wali kelas, guru agama, dan satu orang guru olah raga yanag merangkap sekaligus sebagai wali kelas. Ijazah tertinggi dari pendidik dan tenaga kependidikan terdiri dari S1 sebanyak dua orang, DIII satu orang, DII satu orang, SMK dua orang, dan SMU berjumlah dua orang. Jumlah keseluruhan murid di sekolah ini adalah 225 murid yang terdiri dari 48 murid kelas 1, sebanyak 37 murid berada pada kelas 2, kelas 3 sebanyak 38 murid, 36 murid berada pada kelas 4, sebanyak 29 murid adalah kelas 5, dan sisanya sebanyak 37 murid merupakan kelas 6.
Sarana dan prasarana sekolah terdiri dari ruang kelas, ruang perpustakaan, laboratorium IPA, ruang pimpinan, ruang guru, ruang UKS, jamban, dan laboratorium bahasa. Ruang kelas berjumlah enam kelas dengan kapasitas maksimum 40 orang. Ruang perpustakaan terdiri dari buku teks pelajaran, buku panduan pendidik, buku pengayaan, buku referensi , dan sumber belajar lain. Ruang UKS terdiri dari peralatan P3K, termometer badan, dan timbangan badan. Jamban di sekolah ini berjumlah dua dengan luas 6.25 m2/jamban.
Program kesehatan yang dilakukan setiap tahun oleh puskesmas Cijeruk terhadap siswa SDN Palasari 02 diantaranya adalah pemberian obat cacing, penjaringan kesehatan anak sekolah, bulan imunisasi anak sekolah (BIAS), dan kegiatan pengukuran tinggi badan anak baru masuk sekolah (TBABS). Pemberian obat cacing dilakukan terhadap siswa kelas satu dan enam. Jenis obat cacing yang diberikan terhadap siswa kelas satu dan enam adalah albendazole. Kegiatan penjaringan kesehatan anak sekolah dilakukan setiap bulan agustus dan november. Hasil penjaringan kesehatan anak sekolah tahun 2012 yang dilakukan oleh tenaga puskesmas terhadap 47 siswa menyatakan bahwa 11 siswa mengalami gizi kurang dan sisanya sebanyak 36 siswa memiliki status gizi normal. Hasil tes kesegaran jasmani menyatakan bahwa 3 siswa dikategorikan memiliki kesegaran jasmani baik, 37 siswa termasuk kategori sedang, dan 7 siswa dikategorikan memiliki kesegaran jasmani buruk. Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan sebanyak 45 siswa termasuk normal dan 2 siswa menjalani pengobatan. Keluhan penyakit yang dirasakan siswa adalah berupa keluhan penyakit gigi dan mulut sebanyak 46 siswa, penyakit
30
infeksi saluran pernafasan atas 10 siswa, penyakit kulit sebanyak 2 siswa, serta penyakit telinga, hidung, dan tenggorokan sebanyak 2 siswa. Kegiatan bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) dilakukan pada bulan agustus untuk imunisasi campak dan bulan november untuk imunisasi DT/TT. Kegiatan pengukuran tinggi badan anak baru masuk sekolah (TBABS) dilakukan setiap lima tahun sekali.
Karakteristik Contoh Penelitian Jenis Kelamin
Contoh dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah yang terdiri dari siswa dan siswi kelas 3, 4, dan 5 dengan proporsi yang berbeda pada setiap kelas. Secara keseluruhan, jumlah contoh dengan jenis kelamin laki-laki adalah sebanyak 37 siswa atau 45.1% dari total contoh keseluruhan. Sedangkan, contoh dengan jenis kelamin perempuan berjumlah 45 siswi atau 54.9% dari total contoh keseluruhan.
Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin n %
Laki-laki 37 45.1
Perempuan 45 54.9
Total 82 100
Usia
Kriteria inklusi pemillihan contoh dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah (7-12 tahun). Hal ini sesuai dengan pernyataan RSCM dan PERSAGI (1994), dalam bidang ilmu gizi dan kesehatan, yang menyatakan bahwa anak dikelompokkan menjadi usia prasekolah (1-6 tahun), anak usia sekolah (7-12 tahun), dan remaja (13-18 tahun). Contoh dalam penelitian ini terdiri dari usia 8-12 tahun dengan proporsi yang berbeda pada setiap kelas. Berikut ini adalah tabel sebaran contoh berdasarkan usia.
Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan usia
Usia n % 8 Tahun 12 14.6 9 Tahun 26 31.7 10 Tahun 20 24.4 11 Tahun 23 28.0 12 Tahun 1 1.2 Total 82 100
Menurut Syarief (1997) diacu dalam Thiana (2008) periode usia sekolah merupakan bagian dari tahapan dalam siklus hidup manusia yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pada periode ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara kognitif, motorik, dan emosional. Berdasarkan tabel di atas sebanyak 12 atau 14.6%
contoh berusia 8 tahun. Sebagian besar contoh berada pada usia 9 tahun dengan persentase sebanyak 31.7%. Sebanyak 20 contoh atau 24.4% berada pada usia 10 tahun. Persentase terendah usia contoh berada pada usia 12 tahun, yaitu sebesar 1.2% dan sebanyak 28.0% contoh berusia 11 tahun.
Uang Saku
Uang saku merupakan bagian dari pengalokasian pendapatan keluarga yang diberikan pada anak untuk jangka waktu tertentu, seperti keperluan harian, mingguan, dan bulanan. Perolehan uang saku sering menjadi suatu kebiasaan (Napitu 1994). Berdasarkan hasil penelitian Syafitri et al. (2009) mengenai kebiasaan jajan siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa lebih dari separuh siswa mengalokasikan uang sakunya untuk keperluan membeli makanan jajanan (68%). Terdapat hubungan yang positif dan signifikan (p<0.01) antara alokasi uang saku untuk membeli jajanan dengan jumlah jenis makanan yang dibeli.
Uang saku di dalam penelitian ini adalah uang yang benar-benar dipergunakan oleh contoh untuk jajan makanan dan minuman baik di sekolah maupun di rumah selama satu hari. Berikut ini merupakan tabel sebaran contoh berdasar uang saku. Berdasarkan sebaran uang saku contoh, maka uang saku dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga kategori, yaitu rendah (≤ 3000), sedang
(3001-5001), dan tinggi (≥ 5002) (Sugiyono 2011)
Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan uang saku
Uang Saku (Rp/hari) Kategori n % ≤ 3000 Rendah 75 91.5 3001-5001 Sedang 6 7.3 ≥ 5002 Tinggi 1 1.2 Total 82 100
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar uang saku contoh berada pada kategori rendah atau ≤3000 dengan persentase sebesar 91.5%. Sebanyak 6 contoh atau 7.3% memiliki uang saku sebesar 3001-5001 rupiah. Uang saku yang termasuk kategori tinggi atau ≥5002 hanya dimiliki oleh 1 orang atau 1.2% dari total contoh.
Pengetahuan Gizi dan Kesehatan
Pengetahuan gizi merupakan aspek kognitif yang menunjukkan pemahaman responden tentang ilmu gizi, jenis zat gizi, serta interaksinya terhadap status gizi dan kesehatan. Pengetahuan gizi merupakan landasan yang penting dalam menentukan konsumsi makanan (Khomsan 2000). Sebaran contoh berdasarkan skor pengetahuan gizi disajikan pada Tabel 8.
32
Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pengetahuan gizi
Tingkat pengetahuan gizi* n %
Baik 0 0
Sedang 11 13.4
Kurang 71 86.6
Total 82 100
*) Keterangan: Baik > 80%, Sedang =60-80%, Kurang < 60%
Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau responden dalam pengetahuan yang ingin diketahui (Notoatmodjo 2003). Penelitian ini menggunakan angket atau kuesioner yang diisi langsung oleh contoh. Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tidak ada contoh yang memiliki pengetahuan gizi baik, mayoritas contoh memiliki pengetahuan gizi kurang. dengan persentase sebesar 86.4% dan sisanya memilliki pengetahuan gizi sedang dengan persentase sebesar 13.4%. Rata-rata nilai pengetahuan gizi contoh adalah 45.4 ± 11.5. Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 72, sedangkan nilai terendah adalah 12. Rendahnya pengetahuan gizi contoh diduga dari masih sedikitnya materi mengenai gizi dan kesehatan yang disampaikan di sekolah. Tabel 9 Sebaran pertanyaan tentang pengetahuan gizi dan kesehatan yang
dijawab benar oleh contoh
No Pertanyaan n %
1 Makanan yang sehat 77 93.9
2 Zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh 43 52.4
3 Dampak makanan tidak bersih 66 80.5
4 Ciri-ciri anak yang kurang gizi 65 79.3
5 Istilah anak kegemukan 48 58.8
6 Istilah zat karbohidrat 42 51.2
7 Makanan yang banyak mengandung karbohidrat 34 41.5
8 Istilah zat protein 8 9.8
9 Jenis protein 11 13.4
10 Telur merupakan makanan sumber protein hewani 23 28.0
11 Makanan yang banyak mengandung vitamin 45 54.9
12 Istilah kekurangan vitamin 11 13.4
13 Akibat kekuranga vitamin C 35 42.7
14 Manfaat zat besi 15 18.3
15 Makanan yang banyak mengandung zat besi 11 13.4
16 Makanan yang banyak mengandung kalsium 63 76.8
17 Manfaat kalsium 41 50.0
18 Jumlah air putih yang harus diminum dalam sehari 24 29.3
19 Jenis garam yang baik 19 23.2
20 Waktu untuk cuci tangan 66 80.5
21 Frekuensi mandi dalam sehari yang baik 35 42.7
22 Frekuensi mencuci rambut dalam seminggu 24 29.3
23 Pengertian makanan bersih 40 48.8
24 Pengertian makanan jajanan 42 51.2
Tabel 9 menjelaskan mengenai persentase jawaban dari setiap pertanyaan yang dijawab benar oleh contoh. Pertanyaan pengetahuan gizi dan kesehatan terdiri dari 25 pertanyaan pilihan berganda meliputi pengetahuan tentang zat-zat gizi secara umum, fungsi zat gizi, akibat defisiensi dan kelebihan zat gizi dan perilaku sehat. Mayoritas contoh atau sebanyak 93.9% dari jumlah contoh yang ada menjawab benar pertanyaan pertama yaitu pertanyaan mengenai pengertian makanan sehat. Pertanyaan yang paling sedikit dijawab dengan benar adalah pertanyaan mengenai protein disebut sebagai zat pembangun. Pertanyaan pada soal ini hanya dijawab benar oleh delapan contoh atau hanya 9.8% dari keseluruhan contoh yang ada. Sebanyak 15 contoh atau 18.3% dari total contoh yang menjawab benar pertanyaan mengenai manfaat zat besi dan hanya 11 contoh atau 13.4% dari keseluruhan contoh yang menjawab benar pertanyaan mengenai makanan sumber zat besi, jenis protein, dan istilah kekurangan vitamin. Masih sedikitnya contoh yang menjawab benar pertanyaan yang diberikan dikarenakan tidak semua pertanyaan yang ada pernah disampaikan di dalam mata pelajaran di sekolah. Sebanyak 80.5% contoh dapat menjawab benar pertanyaan mengenai waktu cuci tangan. Separuh contoh dalam penelitian ini mampu menjawab benar pertanyaan mengenai pengertian makanan bersih, pengertian makanan jajanan, dan kriteria makanan jajanan yang baik.
Karakteristik Orang Tua Pendidikan Orang Tua
Tingkat pendidikan orang tua yang diukur pada penelitian ini adalah tingkat pendidikan ayah dan ibu contoh yang diperoleh dari arsip data siswa yang ada di sekolah. Sebaran contoh menurut tingkat pendidikan orang tua dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini.
Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan orang tua
Tingkat Pendidikan
Ayah Ibu Total
n % n % n % Tidak Sekolah 5 6.1 5 6.1 10 6.1 Putus SD 13 15.9 18 22.0 31 18.9 SD/Sederajat 42 51.2 44 53.7 86 52.4 SMP/Sederajat 15 18.3 12 14.6 27 16.5 SMA/Sederajat 7 8.5 2 2.4 9 5.5 D1 0 0 1 1.2 1 0.6 Total 82 100 82 100 164 100
Tingkat pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak termasuk pemberian makan, pola
34
konsumsi pangan, dan status gizi. Orang yang berpendidikan tinggi cenderung memilih makanan yang murah tetapi kandungan gizinya tinggi, sesuai dengan jenis pangan yang tersedia dan kebiasaan makan sejak kecil sehingga kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi dengan baik (Suhardjo 1989).
Berdasarkan Tabel 10 di atas terlihat bahwa masih adanya orang tua contoh yang tidak sekolah, baik itu ayah maupun ibu. Sebanyak 15.9% dari keseluruhan ayah contoh mengalami putus sekolah pada jenjang sekolah dasar. Sebagian besar ayah contoh tamat sekolah dasar dengan persentase sebesar 51.2%. Sebanyak 18.3% ayah contoh dalam penelitian ini memiliki tingkat pendidikan SMP sederajat. Tingkat pendidikan tertinggi ayah dalam penelitian ini yaitu SMA sederajat dengan persentase sebesar 8.5%.
Sebanyak 6.1% dari keseluruhan ibu contoh dalam penelitian ini tidak bersekolah dan 22% putus sekolah di jenjang sekolah dasar. Mayoritas tingkat pendidikan ibu contoh adalah SD sederajat, yaitu sebesar 53.7% dari keseluruhan ibu contoh. Sebanyak 14.6% memiliki tingkat pendidikan SMP sederajat dan sebanyak 2.4% memiliki tingkat pendidikan SMA sederajat. Tingkat pendidikan tertinggi ibu contoh dalam penelitian ini adalah D1 yaitu sebanyak satu orang.
Pekerjaan Orang Tua
Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan orang tua (ayah dan ibu). Pekerjaan orang tua dibedakan menjadi tidak bekerja, nelayan, petani, peternak, PNS/TNI/POLRI, karyawan swasta, pedagang kecil, pedagang besar, wiraswasta, wirausaha, buruh, pensiunan, dan lainnya. Tingkat pendidikan akan berhubungan dengan jenis pekerjaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak semakin besar (Engel et al 1994 diacu dalam Lusiana 2008).
Pekerjaan kepala keluarga berpengaruh terhadap status kesehatan keluarga (Sukarni 1994). Berdasarkan arsip data sekolah mengenai karakteristik keluarga siswa menyatakan bahwa sebagian besar ayah contoh dalam penelitian ini bekerja sebagai buruh dengan persentase sebesar 26.8% kemudian diikuti dengan pekerjaan sebagai pedagang kecil sebesar 20.7% dari total keseluruhan contoh. Tidak ada ayah contoh yang termasuk ke dalam kategori pekerjaan sebagai PNS/TNI/POLRI dan pensiunan. Terdapat 4.9% ayah contoh yang tidak bekerja. Sebanyak 1.2% ayah contoh bekerja sebagai nelayan dan peternak serta sebanyak 9.8% ayah contoh bekerja sebagai petani.
Mayoritas ibu contoh tidak bekerja yaitu sebesar 84.1% dari total keseluruhan contoh yang ada. Terdapat 1.2% ibu contoh yang memiliki pekerjaan sebagai peternak, wiraswasta, buruh, dan pensiunan. Sebanyak 7.3% ibu contoh memiliki pekerjaan sebagai pedagang kecil dan sisanya sebanyak 3.7% termasuk dalam kategori lainnya. Berikut ini merupakan tabel sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orang tua.
Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan pekarjaan orang tua
Pekerjaan Ayah Ibu Total
n % n % n % Tidak bekerja 4 4.9 69 84.1 73 44.5 Nelayan 1 1.2 0 0.0 1 0.6 Petani 8 9.8 0 0.0 8 4.9 Peternak 1 1.2 1 1.2 2 1.2 PNS/TNI/POLRI 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Karyawan swasta 9 11.0 0 0.0 9 5.5 Pedagang kecil 17 20.7 6 7.3 23 14.0 Pedagang besar 1 1.2 0 0.0 1 0.6 Wiraswasta 14 17.1 1 1.2 15 9.1 Wirausaha 2 2.4 0 0.0 2 1.2 Buruh 22 26.8 1 1.2 23 14.0 Pensiunan 0 0.0 1 1.2 1 0.6 Lainnya 3 3.7 3 3.7 6 3.7 Total 82 100.0 82 100.0 164 100.0
Pendapatan Orang Tua
Pendapatan orang tua adalah pendapatan dari ayah dan ibu setiap bulan. Pendapatan orang tua dikategorikan menjadi empat, yaitu 1) Rp. 0, 2) kurang dari Rp.1000.000, 3) Rp. 1000.000 - Rp. 2000.000, 4) lebih dari Rp. 2000.000. Sebaran contoh menurut pendapatan orang tua disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Sebaran contoh berdasarkan pendapatan orang tua
Pendapatan Ayah Ibu Total
n % n % n % Rp. 0 4 4.9 68 82.9 72 43.9 <Rp. 1.000.000 47 57.3 12 14.6 59 36.0 Rp. 1.000.000-Rp.2.000.000 27 32.9 2 2.4 29 17.7 >Rp. 2.000.000 4 4.9 0 0.0 4 2.4 Total 82 100.0 82 100.0 164 100.0
Berdasarkan Tabel 12 di atas terlihat bahwa masih terdapat ayah contoh yang tidak memiliki pendapatan, yaitu sebanyak empat orang atau 4.9%. Mayoritas pendapatan yang dimiliki oleh ayah contoh dalam penelitian ini adalah berada pada kategori <Rp.1.000.000 dengan persentase sebesar 57.3%. Sebanyak 32.9% ayah contoh memiliki pendapatan anatara Rp. 1.000.0000-Rp. 2.000.000 dan sisanya sebanyak 4.9% memiliki pendapatan >Rp.2.000.000. Mayoritas ibu contoh tidak memiliki pendapatan, hal ini dikarenakan sebagian
36
besar ibu contoh tidak bekerja. Sebanyak 14.6% ibu memiliki pendapatan <Rp.1.000.000 dan sisanya sebanyak 2.4% memiliki pendapatan antara Rp.1000.000-Rp.2.000.0000.
Kebiasaan Makan dan Jajan Kebiasaan Makan
Kebiasaan makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologik, psikologik, sosial dan budaya (Suhardjo 1989). Kebiasaan makan pada anak usia sekolah tergantung pada kehidupan sosial di sekolah. Data kebiasaan makan contoh akan disajikan pada Tabel 13 berikut ini.
Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan makan
Kebiasan makan Sebaran
n % Kebiasaan Sarapan Selalu 27 32.9 Kadang-kadang 37 45.1 Jarang 18 22.0 Tidak pernah 0 0.0 Total 82 100.0 Menu sarapan Nasi+lauk pauk 50 61.0 Mie 10 12.2 Roti 3 3.7 Lainnya 19 23.2 Total 82 100.0
Kebiasaan makan siang
Selalu 24 29.3
Kadang-kadang 26 31.7
Jarang 30 36.6
Tidak pernah 2 2.4
Total 82 100.0
Susunan menu siang hari
Nasi, lauk hewani, lauk nabati, sayur, buah 31 37.8
Nasi, lauk hewani atau nabati, sayur 16 19.5
Nasi, lauk hewani 25 30.5
Lainnya 10 12.2 Kebiasaan Ngemil Selalu 22 26.8 Kadang-kadang 38 46.3 Jarang 17 20.7 Tidak pernah 5 6.1 Total 82 100.0
Kebiasaan membawa makan bekal
Selalu 8 9.8
Kadang-kadang 31 37.8
Jarang 6 7.3
Tidak pernah 37 45.1
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebanyak 32.9% contoh menyatakan selalu sarapan, 45.1% menyatakan kadang-kadang sarapan, dan sisanya sebanyak 22% menyatakan jarang sarapan. Pada penelitian ini tidak ada contoh yang menyatakan tidak pernah sarapan. Masih banyaknya contoh yang menyatakan kadang-kadang dan jarang sarapan kemungkinan dikarenakan contoh bangun kesiangan, sehingga tidak sempat untuk sarapan dan harus segera berangkat ke sekolah yang lokasinya lumayan jauh dari tempat tinggal contoh. Kebanyakan contoh berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, hal ini dikarenakan terbatasnya uang saku yang diberikan orang tua contoh. Selain itu disebabkan karena ada beberapa contoh yang tidak memiliki ayah dan yang bekerja adalah ibu contoh dan ketidaktahuan ibu akan manfaat sarapan bagi anak, sehingga ibu contoh tidak sempat dan enggan untuk menyiapkan sarapan untuk anak mereka. Bagi anak sekolah, makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan memudahkan menyerap pelajaran, sehingga prestasi belajar menjadi lebih baik. Seseorang yang tidak makan pagi memiliki gangguan kesehatan berupa menurunnya kadar gula darah dengan tanda-tanda antara lain: lemah, keluar keringat dingin, kesadaran menurun bahkan pingsan. Para orang tua hendaknya memberi contoh yang baik, yaitu membiasakan makan pagi bagi anaknya (Depkes 1996).
Menu sarapan contoh mayoritas adalah nasi+lauk pauk dengan persentase sebesar 61%. Sebanyak 12.2% contoh menu sarapannya berupa mie dan sebanyak 3.7% berupa roti. Pernyataan lainnya dinyatakan oleh 23.2% contoh. Pernyataan lainnya yang diisi oleh contoh berupa menu nasi uduk dan nasi goreng.
Terdapat dua contoh yang menyatakan tidak pernah makan siang. Hal ini diduga anak tersebut sudah merasa kenyang dengan makanan jajanan yang mereka beli di sekolah, kondisi ini sesuai dengan pernyataan Khomsan (2002) yang menyatakan jajan yang terlalu sering dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah. Selain itu kemungkinan anak tersebut tidak ada teman sebaya untuk makan bersama, hal ini sesuai dengan pernyataan Hidayat dan Alimul (2004) yang menyatakan bahwa anak usia sekolah cenderung lebih menyukai makan secara bersamaan dengan teman sekolahnya. Sebanyak 29.3% contoh menyatakan selalu makan siang, 31.7% menyatakan kadang-kadang, dan sebanyak 36.6% menyatakan jarang makan siang. Masih banyaknya contoh yang menyatakan tidak selalu makan siang diduga dikarenakan kebiasaan
38
mengemil contoh. Sebanyak 26.8% contoh menyatakan selalu mengemil. Selain itu terdapat contoh yang biasa membawa makan bekal dimana makanan bekal yang dibawa dimakan saat istirahat tiba dan hampir mendekati dengan waktu makan siang, sehingga contoh merasa masih kenyang saat tiba waktu makan siang.
Frekuensi Makan
Frekuensi makan dinyatakan dalam sebuah kuesioner atau pertanyaan yang terdiri dari empat pilihan, yaitu 1 kali, 2 kali, 3 kali, dan > 3 kali. Tabel 14 menunjukkan frekuensi makan contoh.
Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan frekuensi makan
Frekuensi makan (kali/hari) Sebaran
n % 1 4 4.9 2 26 31.7 3 41 50.0 >3 11 13.4 Total 82 100.0
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebanyak 4.9% contoh memiliki frekuensi makan dalam sehari adalah satu kali. Aspek negatif dari jajan yang terlalu sering yaitu dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah (Khomsan 2002). Mayoritas frekuensi makan contoh dalam sehari adalah tiga kali, yaitu sebesar 50%. Sisanya sebanyak 31.7% contoh memiliki frekuensi makan dua kali dan sebanyak 13.4% memiliki frekuensi makan lebih dari tiga kali dalam sehari.
Kebiasaan Jajan
Kebiasaan jajan adalah salah satu bentuk kebiasaan makan. Kebiasaan untuk jajan dapat ditemukan pada semua lapisan masyarakat pada berbagai tingkat sosial ekonomi (Kusharto 1984 diacu dalam Rizki 2010). Berikut ini akan disajikan tabel yang menyatakan kebiasaan jajan contoh.
Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan jajan
Kebiasan Jajan Sebaran
n % Selalu 41 50.0 Kadang-kadang 10 12.2 Jarang 31 37.8 Tidak pernah 0 0.0 Total 82 100.0
Berdasarkan Tabel 15 di atas menyatakan bahwa separuh contoh dari total keseluruhan yang ada menyatakan selalu jajan di sekolah. Tidak ada contoh
yang memilih pernyataan tidak pernah, hal ini berarti bahwa semua contoh dalam penelitian ini pernah jajan. Terdapat beberapa alasan yang dikemukakan oleh contoh mengapa contoh suka jajan, diantaranya adalah jajanan tersebut rasanya enak, untuk mengisi perut yang lapar, karena melihat teman jajan, jajan membuat kenyang, dan karena tidak sarapan di rumah. Jenis jajanan yang biasa dibeli oleh contoh adalah roti bakar, siomay, cilung, gorengan, es, permen, nugget goreng, kacang sukro, makaroni, bakso, kuwaci, dan cireng.
Kebiasaan Minum
Konsumsi cairan sangat diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan mempertahankan keseimbangan cairan tubuh. Selain itu konsumsi cairan yang memadai juga bertujuan untuk mencegah cedera akibat panas tubuh yang berlebihan. Berikut adalah tabel sebaran contoh berdasarkan kebiasaan minum.
Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan minum
Kebiasaan minum Sebaran
n %
Konsumsi air putih
8 gelas 18 22.0
5 gelas 25 30.5
3 gelas 24 29.3
< 3 gelas 15 18.3
Total 82 100.0
Minuman yang biasa diminum
Susu 22 26.8
Teh manis 8 9.8
Air putih 49 59.8
Lainnya 3 3.7
Total 82 100.0
Berdasarakan Tabel 16 menyatakan bahwa sebanyak 22% contoh mengkonsumsi delapan gelas air putih dalam sehari. Sebanyak 30.5% contoh menyatakan mengkonsumsi lima gelas air putih dalam sehari. Contoh yang menyatakan minum air putih tiga gelas dalam sehari memiliki persentase sebanyak 29.3% dan sisanya sebanyak 18.3% mengkonsumsi air putih kurang