• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Sebaran menegak dan melintang salinitas

Profil menegak dan melintang salinitas yang digunakan untuk melihat pola pelapisan massa air berdasarkan salinitas serta menunjukkan adanya salinitas maksimum dan minimum disajikan pada Gambar 13 dan 14.

Sumber : Diolah dari data INSTANT bulan Januari 2004 dan Juni 2005

Gambar 13. Sebaran menegak salinitas pada Musim Barat dan Musim Timur di aliran masuk selat (transek 1) dan aliran keluar selat (transek 2)

Transek 1 Transek 2

Musim Barat (Aliran Masuk Selat) Musim Timur (Aliran Masuk Selat) Musim Barat (Aliran Keluar Selat)

Sumber : Diolah dari data INSTANT bulan Januari 2004 dan Juni 2005

Gambar 14. Sebaran melintang salinitas pada Musim Barat dan Musim Timur di aliran masuk selat (transek 1) dan aliran keluar selat (transek 2)

Melalui sebaran menegak salinitas (Gambar 13), terlihat pola pelapisan massa air dari permukaan sampai lapisan dalam yang dibagi dalam tiga lapisan, yaitu lapisan homogen, lapisan haloklin dan lapisan dalam. Lapisan homogen

Musim Barat Musim Timur 34.3

ditandai dengan terbentuknya garis menegak di lapisan permukaan. Hal ini menunjukkan nilai salinitas pada lapisan ini hampir seragam. Lapisan haloklin ditandai dengan terbentuknya garis miring. Hal ini menunjukkan salinitas pada lapisan ini mengalami perubahan yang cepat terhadap kedalaman. Lapisan dalam membentuk garis hampir tegak di bawah lapisan haloklin.

Pada gambar sebaran menegak salinitas (Gambar 13), terlihat bahwa hampir seluruh stasiun tidak terbentuk lapisan homogen. Lapisan ini hanya terbentuk tipis pada stasiun 8 dan 9, yaitu sampai kedalaman 20 dan 31 m. Kisaran salinitas pada lapisan ini adalah 33,35-33,36 psu dengan gradien salinitas mencapai 0,0009 psu/m.

Lapisan haloklin yang terbentuk pada masing- masing stasiun pengamatan memiliki ketebalan yang berbeda-beda. Lapisan ini terbentuk sampai kedalaman antara 78-146 m dengan kisaran salinitas mencapai 32,22-34,62 psu dan gradien salinitas sekitar 0,01-0,04 psu/m. Ketebalan lapisan haloklin dan lapisan dalam pada masing- masing stasiun serta kisaran nilai salinitas yang terdapat pada lapisan tersebut disajikan secara lebih jelas pada Tabel 4.

Tabel 4. Variasi salinitas pada lapisan haloklin dan lapisan dalam

Transek Stasiun Lapisan

Haloklin (m) Kisaran Salinitas (psu) Lapisan Dalam (m) Kisaran Salinitas (psu) 1 1 2 3 7 8 9 5 -93 5 -103 5 -114 5 -102 20 - 120 31 – 135 33,92 – 34,54 34,04 – 34,52 33,91 – 34,50 32,22 – 34,51 33,36 – 34,54 33,35 – 34,51 93 – 600 103 – 600 114 – 600 102 – 600 120 – 600 135 – 600 34,62 - 34,55 34,61 - 34,55 34,61 - 34,54 34,54 - 34,53 34,55 - 34,53 34,52 - 34,53 2 4 5 6 5 - 126 5 - 114 5 - 90 34,00 - 34,55 34,07 – 34,52 34,02 – 34,49 126 – 300 114 – 300 90 – 300 34,54 - 34,50 34,49 - 34,48 34,40 - 34,49

Gradien salinitas pada lapisan dalam berkisar 0,0001-0,00002 psu/m. Hal ini menunjukkan bahwa pada lapisan ini perubahan nilai salinitas sangat kecil bahkan hampir konstan.

Melalui sebaran melintang yang disajikan pada Gambar 14 dapat diketahui kondisi profil salinitas serta karakteristik massa air di Selat Lombok pada Musim Barat dan Musim Timur. Lapisan permukaan pada Musim Timur mendapat pasokan massa air bersalinitas rendah lebih banyak dari pada Musim Barat. Hal ini dapat dilihat dari gradien perubahan warna pada sebaran melintang serta letak garis isohalin 34,3 psu. Pada Musim Timur, garis isohalin ini terdesak sampai kedalaman sekitar 54-80 m sedangkan pada Musim Barat (transek 1) isohalin 34,3 psu ditemukan pada kedalaman 29-35 m dan pada musim barat (transek 2) isohalin ini ditemukan pada kedalaman sekitar 42-78 m. Menurut Arief (1997), hal ini mengindikasikan masuknya massa air bersalinitas rendah yang berasal dari pantai utara Bali pada Musim Timur. Hal ini sekaligus menunjukkan peran Selat Lombok dalam mengalirkan air laut bersalinitas rendah dari bagian barat perairan Indonesia ke Samudera Hindia.

Pada Musim Barat ditemukan salinitas maksimum yang memiliki nilai 34,60-34,62 psu (Gambar 13). Pada daerah aliran masuk (transek 1) salinitas maksimum ini ditemukan pada kedalaman 135-164 m yang ditunjukkan oleh garis isohalin dari bagian barat sampai timur selat, namun selama perjalanannya menuju daerah ambang ambang (transek 2) massa air bersalinitas maksimum ini

mengalami proses percampuran yang intensif sehingga pada daerah aliran keluar selat (transek 2) massa air bersalinitas maksimum ini hanya berbentuk kurva tertutup dengan cakupan wilayah lebih kecil yang berada disekitar daerah

115.72°-115.73° BT. Menurut Arief (1997), massa air bersalinitas maksimum ini masuk ke Selat Lombok melalui jalur bagian timur Selat.

Nilai salinitas pada Musim Timur lebih rendah daripada Musim Barat, yaitu hanya mencapai sekitar 34,53-34,54 psu. Pada Musim Timur banyak ditemukan massa air dengan salinitas kurang dari 34,5 psu. Ketebalan massa air ini mencapai 303 m sedangkan ketebalan massa air ini pada musim barat hanya 253 m. Menurut Arief (1997) penurunan nilai salinitas pada Musim Timur ini disebabkan karena terjadinya percampuran massa air yang intensif antara massa air bersalinitas tinggi yang lemah dengan massa air bersalinitas rendah yang dominan pada kedalaman antara 150-462 m.

4.3. Diagram T-S

Diagram T-S perairan Selat Lombok disajikan pada Gambar 14. Penggunaan parameter suhu potensial bertujuan untuk mengurangi pengaruh tekanan air laut.

Melalui Gambar 15 dapat diketahui lebih jelas perbedaan karakteristik massa air yang melalui Selat Lombok pada Musim Barat dan Musim Timur, selain itu juga dapat mempermudah dalam melakukan identifikasi jenis massa air. Terlihat bahwa massa air di lapisan permukaan perairan Selat Lombok memiliki karakteristik suhu 25 – 29 °C dan salinitas 32,5-33,7 psu.

Pada Gambar 15 terlihat adanya massa air bersalinitas maksimum yang memiliki karakteristik salinitas mencapai 34,6-34,62 psu, suhu 16-18 °C dan sigma-t (s t) 24,8-25,4 (kotak hitam). Menurut Arief (1997), massa air ini merupakan sisa-sisa massa air NSLW. Massa air bersalinitas maksimum ini terbentuk di daerah 25 °LU antara 165 °BT dan 195 °BT (Samudera Pasifik

bagian barat) dengan perubahan nilai musiman sebesar 0,2 psu. Kisaran

perubahan tersebut sama dengan kisaran di Selat Lombok. Pada daerah asalnya massa air ini memiliki salinitas mencapai 34,8-35,2‰ dan terdapat pada sigma-t 24,0 kg/m3 kemudian tenggelam pada sigma-t 25 kg/m3 di Selat lombok (Wyrtki, 1961).

Massa air bersalinitas minimum yang memiliki karakteristik salinitas 34,50-34,52 psu, suhu 7,5-12,9 °C dan sigma-t (s t) 26,0-26,9 (kotak merah) merupakan NPIW. Massa air ini ditemukan pada Musim Barat dan Musim Timur (Gambar 15). Penentuan kedua jenis massa air pada penelitian ini, tidak dapat dilakukan secara tegas karena tidak disertai dengan analisis kandungan oksigen.

Pada Gambar 15 terlihat bahwa NSLW ditemukan pada saat bertiup angin muson barat laut (Musim Barat), sedangkan pada Musim Timur merupakan kondisi minimum masuknya NSLW. Hal ini disebabkan karena terjadi

percampuran yang intensif akibat arus. Kecepatan arus pada sigma-t (st) 24,8-25,4 pada Musim Timur lebih cepat daripada Musim Barat. Selisih kecepatan arus mencapai 0,61 m/det lebih cepat pada Musim Timur. Pada Musim Timur (transek 1) kecepatan arus mencapai mencapai 1,06 m/det, pada Musim Barat (transek1) mencapai 0,45 m/det dan pada Musim Barat (transek 2) mencapai 0,86 m/det.

Melalui nilai rekaman data (tidak ditampilkan), diketahui bahwa NSLW ditemukan disekitar isohalin 34,6 psu. Pada Musim barat di daerah aliran masuk selat massa ir ini ditemukan pada kedalama n sekitar 133-156 m dan pada daerah aliran keluar massa air ini ditemukan pada kedalaman 156-182 m.

Sumber : Diolah dari data INSTANT bulan Januari 2004 dan Juni 2005

Gambar 15. Diagram T-S pada Musim Barat dan Musim Timur di aliran masuk selat (transek 1) dan aliran keluar selat (transek 2)

Pada Gambar 13, NPIW tidak terlihat jelas, tapi diperkirakan berada di sekitar isohalin 34,50 psu yang menyebar di kedalaman 150-462 m pada Musim timur (transek 1), 219-472 m pada Mus im Barat (transek 1) dan 269-404 m pada Musim Barat (transek 2). Dengan demikian dapat diperkirakan, bahwa pada Musim Timur saat bertiup angin muson tenggara NPIW mengisi kolom air yang lebih tebal dibanding Musim Barat.

Musim Timur (Aliran Masuk Selat) Musim Barat (Aliran Masuk Selat)

Musim Barat (Aliran Keluar Selat)

Transek 1 Transek 2

NSLW NSLW

Berdasarkan nilai rekaman data (tidak ditampilkan), pada Musim Timur (transek 1) NPIW ditemukan pada kedalaman 151-540 m, pada Musim Barat (transek 1) massa air ini ditemukan pada kedalaman 218 - 486 m dan pada Musim Barat (transek 2) NPIW ditemukan pada kedalaman 174-300 m.

Massa air bersalinitas maksimum (NSLW) dan massa air bersalinitas minimum (NPIW) yang masuk ke perairan Selat Lombok mengalami perubahan nilai salinitas pada Musim Barat dan Musim Timur. Menurut Illahude dan

Gordon (1996), perubahan musiman nilai salinitas NSLW di Selat Lombok adalah sebesar 0,2 psu. Pada Bulan Juni nilai salinitas NSLW lebih rendah dibanding pada Bulan Januari. Kondisi tersebut mengikuti kondisi sebaran salintas maksimum di perairan Laut Flores (Arief, 1997).

Dokumen terkait