4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Sebaran menegak dan melintang salinitas
Profil menegak (Gambar 12) dan melintang (Gambar 13 dan 14) digunakan untuk melihat pola pelapisan massa air berdasarkan salinitas serta menunjukkan adanya salinitas maksimum dan minimum. Nilai salinitas meningkat seiring bertambahnya kedalaman.
4.2.1. Musim Barat
Sebaran menegak salinitas menunjukkan pola sebaran salinitas terhadap kedalaman. Sebaran menegak salinitas pada Musim Barat memperlihatkan nilai salinitas relatif seragam dari permukaan sampai kedalaman rata-rata 40 m.
Kemudian salinitas mengalami penurunan nilai sampai kedalaman rata-rata 70 m. Setelah itu salinitas mengalami peningkatan sampai kedalaman rata-rata 150 m. Kemudian salinitas mengalami penurunan nilai yang relatif konstan terhadap kedalaman.
Sumber : Diolah dari data INSTANT bulan Januari 2004 dan Juni 2005
Gambar 12. Sebaran menegak salinitas pada Musim Barat dan Musim Timur
Sumber : Diolah dari data INSTANT bulan Januari 2004
Sumber : Diolah dari data INSTANT bulan Juni 2005
Tabel 3. Variasi salinitas kisaran kedalaman di lapisan homogen, lapisan haloklin, dan lapisan dalam pada Musim Timur dan Musim Barat
Waktu
pengamatan Stasiun
Posisi Lapisan Homogen Lapisan Haloklin Lapisan Dalam
Lintang (LU) Bujur (BT) Kisaran kedalaman (m) Kisaran salinitas (psu) Kisaran kedalaman (m) Kisaran salinitas (psu) Kisaran kedalaman (m) Kisaran salinitas (psu) Januari 2004 1 11.57 122.99 0-37 32.66-34.28 38-160 34.27-34.54 161-603 34.55-34.57 2 11.42 122.94 0-40 32.45-34.39 41-133 34.38-34.54 134-1029 34.54-34.60 3 11.32 122.89 0-58 33.07-34.41 59-141 34.40-34.53 142-1662 34.54-34.72 4 11.20 122.83 0-37 33.50-34.33 38-158 34.34-34.54 159-1105 34.54-34.61 5 11.11 122.79 0-22 34.14-34.28 23-149 34.29-34.51 150-310 34.51-34.56 Juni 2005 1 11.50 122.92 0-36 33.58-33.91 37-177 33.91-34.57 178-567 34.56-34.57 2 11.44 122.88 0-23 33.57-33.63 24-160 33.64-34.55 161-1000 34.55-34.60 3 11.35 122.83 0-22 33.33-33.61 23-147 33.61-34.55 148-1257 34.57-34.67 4 11.28 122.79 0-24 33.62-33.65 25-177 33.68-34.55 178-1611 34.57-34.72 5 11.20 122.75 0-23 33.71-33.73 24-229 33.74-34.57 230-1788 34.54-34.61 6 11.63 123.00 0-26 33.74-33.81 27-177 33.81-34.56 178-1067 34.51-34.56
Pada gambar sebaran menegak salinitas Musim Barat terlihat bahwa hampir seluruh stasiun terbentuk lapisan permukaan tercampur. Lapisan permukaan tercampur terbentuk mulai dari permukaan sampai kedalaman yang berbeda untuk masing-masing stasiun. Kedalaman terdangkal untuk lapisan permukaan tercampur pada pengamatan Januari 2004 (Musim Barat) sebesar 22 m (stasiun 5) dan terdalam sebesar 58 m (stasiun 3). Kisaran salinitas pada
pengamatan Musim Barat yaitu 32.45−34.41 psu dengan gradien salinitas mencapai 0.01 psu/m.
Di sekitar lapisan permukaan tercampur ditemukan massa air dengan salinitas minimum kurang dari 34.25 psu mencapai kedalaman 4 m. Massa air lainnya yang juga ditemukan pada pengamatan Musim Barat adalah massa air bersalinitas minimum 34.5 psu tepatnya di lapisan termoklin yaitu stasiun 2−5 di kedalaman sekitar 153−215 m.
Lapisan haloklin, dimana salinitas mengalami perubahan salinitas secara cepat terhadap kedalaman, terbentuk pada masing-masing stasiun pengamatan memiliki ketebalan yang berbeda-beda. Lapisan haloklin terbentuk sampai kedalaman terdangkal yaitu pada stasiun 2 sebesar 133 m dan terdalam pada stasiun 1 sebesar 160 m. Kisaran salinitas pada lapisan ini 34.27−34.54 psu dengan gradien salinitas mencapai 0.007 psu/m.
Lapisan dalam pada Musim Barat (Januari 2004) memiliki kisaran salinitas antara 34.51−34.72 psu dengan gradien salinitas mencapai 0.0006 psu/m.
Ketebalan lapisan kedalaman berdasarkan salinitas disajikan lebih jelas pada Tabel 3.
4.2.2. Musim Timur
Pada gambar sebaran menegak salinitas Musim Timur terlihat bahwa terbentuk lapisan permukaan tercampur pada seluruh stasiun. Lapisan permukaan tercampur pada Musim Timur (pengamatan Juni 2005) terbentuk sampai batas bawah terdangkal yaitu 22 m (stasiun 3) dan terdalam 36 m (stasiun 1), dengan kisaran salinitas antara 33.33−33.91 psu dengan gradien salinitas yaitu sekitar 0.0007−0.001 psu/m.
Lapisan haloklin pada Musim Timur di daerah pengamatan hingga kedalaman antara 147−229 m dengan kisaran salinitas antara 33.61−34.57 psu. Gradien salinitas pada lapisan ini sekitar 0.003−0.007 psu/m. Di bawah lapisan haloklin (lapisan dalam) salinitas mengalami penurunan nilai yang relatif konstan. Kedalaman lapisan ini berakhir hingga kedalaman pengukuran. Kisaran salinitas di lapisan ini pada Musim Timur antara 34.51−34.72 psu dengan gradien salinitas 0.0004-0.0006 psu/m.
Nilai salinitas di lapisan permukaan (sampai kedalaman 100 m) pada Musim Barat (Januari 2004) lebih tinggi dibandingkan Musim Timur (Juni 2005). Hal tersebut mengindikasikan beberapa hal. Indikasi pertama adalah pada Musim Timur, massa air dari Laut Flores sudah mulai masuk ke Laut Banda menuju Pintasan Timor. Akan tetapi massa air tersebut diperkirakan masih merupakan sisa massa air dari Laut Jawa yang pada Musim Barat sebelumnya bergerak ke timur memasuki Laut Flores. Massa air Laut Jawa pada Musim Barat mempunyai salinitas yang rendah akibat presipitasi dan masukan air tawar dari sungai di Indonesia bagian barat (Wyrtki, 1961). Indikasi kedua adalah pada Musim Barat massa air dari Indonesia bagian barat (umumnya mempunyai salinitas rendah)
belum sepenuhnya sampai di Pintasan Timor, sehingga salinitas permukaannya lebih tinggi. Selain itu, Arus Bawah Pantai Papua yang menguat saat Musim Timur menyebabkan banyak massa air bersalinitas tinggi dari Samudera Pasifik Selatan yang mengalir ke perairan tersebut.
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan kisaran nilai salinitas selama dua periode pengamatan. Lapisan permukaan tercampur Januari 2004 memiliki ketebalan lebih tinggi dibandingkan pada Juni 2005. Lapisan haloklin pada Musim Timur (Juni 2005) lebih dalam dibandingkan dengan Musim Barat (Januari 2004).
4.3. Diagram T-S
Diagram T-S perairan Pintasan Timor disajikan pada Gambar 15. Analisis karakter massa air yang dilakukan pada penelitian ini hanya berdasarkan pada parameter suhu potensial (untuk mengurangi pengaruh tekanan air laut) dan salinitas. Gambar 15 dapat digunakan untuk mengetahui lebih jelas perbedaan karakteristik massa air melalui Pintasan Timor pada Musim Barat dan Musim Timur. Selain itu, hal ini juga dapat mempermudah dalam melakukan identifikasi jenis massa air.
4.3.1. Musim Barat
Pada diagram T-S pengamatan Musim Barat (Januari 2004), terlihat suhu dan salinitas permukaan Musim Barat lebih tinggi dibandingkan pada Musim Timur. Pada pengamatan Musim Barat tidak ditemukan massa air berkarakteristik salinitas maksimum baik yang berasal dari massa air Pasifik Utara maupun Pasifik Selatan. Massa air yang ditemukan pada daerah pengamatan adalah jenis massa
air berkarakteristik salinitas minimum yaitu, SPIW (South Pacific Intermediate Water) dengan kisaran salinitas yaitu 34.57−34.58 psu dan suhu 5.82−6.54 oC di kedalaman 648−855 m. Selain itu juga ditemukan massa air bersalinitas
minimum pada kedalaman 919−1066 m. Nilai salinitas massa air ini adalah antara 34.59-34.61 psu dengan kisaran suhu 4.57−5.19 oC. Massa air merupakan massa air AAIW (Antarctic Intermediate Water) yang ditemukan pada kisaran sigma-t 27.2.
4.3.2. Musim Timur
Pengamatan Musim Timur (Juni 2005) juga tidak ditemukan jenis massa air berkarakteristik salinitas maksimum baik yang bersumber dari Pasifik Utara maupun Pasifik Selatan. Gambar 15 mengenai pengamatan Musim Timur
memperlihatkan adanya massa air SPIW (South Pacific Intermediate Water) yang ditemukan pada kisaran kedalaman 682−901 m. Massa air ini memiliki nilai kisaran salinitas yaitu 34.58−34.59 psu dan nilai kisaran suhu 5.54-6.61 oC. Pada kedalaman 1037−1229 m, ditemukan massa air AAIW(Antarctic Intermediate Water). Jenis massa air ini pada Musim Timur memiliki karakteristik salinitas 34.60−34.61 psu dan suhu 4.25−4.88 oC.
Percampuran massa air dengan massa air bersalinitas relatif rendah di Pintasan Timor menyebabkan nilai salinitas maksimum massa air pada Musim Timur lebih rendah dibandingkan pada Musim Barat. Selain itu, hal tersebut menyebabkan sukar sekali atau tidak ditemukannya jenis massa air yang memiliki karakteristik maksimum di lokasi pengamatan. Massa air dengan salinitas
minimum ini diperkirakan merupakan sisa dari NPIW (North Pacific Intermediate Water) (Wyrtki, 1961).
Sumber : Diolah dari data INSTANT bulan Januari 2004 dan Juni 2005 Gambar 15. Diagram T-S pada Musim Barat dan Musim Timur
Salinitas akan mengalami peningkatan kembali mulai σt = 27.5 sampai σt = 28 (pada kedalaman akhir pengukuran). Salinitas meningkat dari 34.63 psu mencapai 34.72 psu. Salinitas tinggi ini merupakan ciri massa air dalam. Wyrtki (1961) menyatakan bahwa pada kedalaman di bawah 1000 m salinitas mengalami
Musim Barat Musim Timur
SPIW