Remaja putri adalah siswi kelas VIII SMP yang bersedia mengisi kuesioner. Uang saku adalah uang yang diberikan oleh orangtua contoh untuk digunakan
membeli makanan dan minuman oleh contoh.
Karakteristik responden adalah data-data yang meliputi usia, uang saku.
Karakteristik sosial ekonomi keluarga adalah karakteristik yang dimiliki sebuah rumah tangga (besar keluarga, pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan orang tua contoh).
Besar keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Besar keluarga dikategorikan sebagai keluarga besar, sedang, dan kecil. Pekerjaan adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan
mengharapkan upah atau imbalan.
Pendapatan adalah jumlah pendapatan per bulan yang dihasilkan dari pendapatan kepala keluarga dibagi dengan besar keluarga dinilai dalam satuan rupiah. Pendidikan merupakan perbedaan pendidikan yang ditempuh oleh masing
masing responden.
Status Gizi adalah keadaan gizi contoh yang dinilai dengan pengukuran indeks berdasarkan hasil perhitungan Z-score IMT/U dan TB/U pada kisaran usia 5-19 tahun
Komposisi tubuh terdiri dari lemak tubuh dan bukan lemak tubuh (Lean Body Mass). Dalam penelitian ini dibatasi hanya lemak tubuh contoh yang dinyatakan dalam bentuk persentase yang diukur menggunakan alat body fat monitoring (omron) dan skinfold caliper.
Usia menarche adalah menstruasi yang terjadi pertama kali pada contoh
Perkembangan seksual adalah tanda awal pubertas pada contoh yang meliputi usia menarche dan kondisi payudara yang disesuaikan dengan skema tingkat maturasi seksual menurut Tanner.
9
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Sekolah
SMPN 1 Jasinga
SMP Negeri 1 Jasinga berlokasi di Wilayah Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor, tepatnya di Jalan Pancamarga No. 1 Desa Pamagersari, Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor (Km. 47 Bogor). Sekolah ini berdiri sejak tahun 1964 dengan status saat itu kelas jauh (filial) dari SMP Negeri 2 Kota Bogor, sebelumnya sekolah ini sudah ada yang didirikan oleh swadaya murni masyarakat tahun 1963 dengan nama sekolah SMP Jasinga yang saat itu siswanya baru ada kurang lebih 20 siswa dengan gurunya yang berasal dari para pemuda masyarakat Jasinga.
Sekolah yang menyandang akreditasi A ini memiliki visi terwujudnya sekolah unggulan yang berwawasan lingkungan, kompetitif, didasari keimanan dan ketaqwaan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan menekankan pada kekhasan lingkungan. Saat ini SMPN 1 Jasinga dikepalai oleh Dadih Suhendi, S.Pd, MM. Jumlah guru dan staf pengajar yang dimiliki sekolah tersebut sebanyak 65 orang.
SMPN 1 Jasinga berdiri di atas lahan seluas 8220 m2 dan luas bangunan kurang lebih 2523 m2 yang terdiri dari ruang kantor, ruang belajar dan ruang lainnya. Ruang kantor terdiri dari kepala sekolah, ruang wakil/PKS, ruang guru, ruang kaur TU, ruang tata usaha dan ruang tamu. Ruang lainnya terdiri dari perpustakaan, laboratorium IPA, kesenian dan bahasa, ruang kesenian, ruang multimedia, ruang bimbingan dan konseling, sanggar OSIS, sanggar pramuka, sanggar PMR, gudang, mushola, dapur umum, toilet, kantin, koperasi dan rumah dinas.
SMP Giri Taruna
SMP Giri Taruna terletak di Jalan Raya Parung Sapi. SMP Giri Taruna terletak di pusat keramaian dan banyak kendaraan umum yang melaluinya. SMP Giri Taruna memiliki bangunan sekolah seluas 2195 m2 yang juga digunakan sebagai bangunan sekolah SMK Giri Taruna. Bangunan sekolah terdiri dari ruang kepala sekolah dan wakil, ruang guru, ruang kelas, ruang pelayanan administrasi, ruang unit produksi, ruang ibadah, ruang komputer, lapangan olahraga dan laboratorium.
Jumlah guru dan staf pengajar yang dimiliki sekolah tersebut sebanyak 7 orang. Jumlah seluruh siswa/siswi di SMP Giri Taruna adalah 266 orang. Ekstrakurikuler akademis antara lain KIR (Karya Ilmiah Remaja), praktikum IPA, dan kelompok bahasa inggris. Ekstrakurikuler non akademis terdiri dari pencak silat, tari, OSIS, karate, PMR, olahraga dan musik.
SMPN 98 Jakarta
Sekolah Menengah Pertama Negeri 98 Jakarta atau sering disebut qp, adalah sebuah Sekolah Menengah Pertama yang terletak di Jalan Raya Lenteng Agung Jakarta Selatan, bersebelahan dengan SMA Negeri 38 Jakarta. SMP Negeri 98 Jakarta berdiri pada tahun 1968 dengan nama SMP 41 Filial (filial SMP Negeri
10
41 Jakarta) dengan Kepala Sekolah pertama H. Adung Supriadi (1968 - 1977). Pada tahun pelajaran 2007-2008, SMPN 98 Jakarta ini meningkat statusnya menjadi Sekolah Standar Nasional dan pada tahun pelajaran 2008-2009 SMP Negeri 98 Jakarta mempersiapkan diri untuk membuka kelas SBI (Sekolah Bertaraf Internasional).
SMP Negeri 98 Jakarta menerapkan kurikulum KTSP 2006 yang terintegrasi dengan iman dan taqwa serta pengembangan iptek, selain itu menerapkan metode pengajaran contextual teaching and learning (CTC), quantum learning dan colaborative learning, melayani dan menyalurkan bakat siswa/i melalui program pengayaan, kelas pemantaban siswa/i, kelas pembinaan, kelas remedial dan ekstrakurikuler.
SMPN 242 Jakarta
SMP Negeri 242 Jakarta adalah nama baru dari SMP Negeri 46 KJ Jakarta. Sejak tahun 1981 SMP Negeri 242 menempati gedung SDN 07 Lenteng Agung, kemudian tahun 1987 menempati gedung baru di Jalan Subur, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan sampai dengan sekarang. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 242 Jakarta, adalah lembaga pendidikan yang berada pada level SLTP dengan penekanan pendidikan dan pelatihan pada pemberian kompetensi dasar untuk melanjutkan ke satuan pendidikan yang lebih tinggi. Gedung SMP Negeri 242 dibangun 1 lantai dengan luas bangunan 1930 m2 yang berdiri diatas lahan seluas 4.500 m2.
Sekolah ini memiliki visi unggul dalam berprestasi berdasarkan akhlak mulia dengan misi unggul dalam prestasi akademik, unggul dalam prestasi non akademik, unggul dalam iman dan takwa serta unggul dalam pemberdayaan perpustakaan dan teknologi informatika. Saat ini SMPN 242 dikepalai oleh Sugianto, M.Pd. Jumlah guru dan staf pengajar yang dimiliki sekolah tersebut sebanyak 51
Karakteristik Contoh Penelitian
Contoh pada penelitian ini merupakan siswi kelas VIII di dua SMP desa dan dua SMP kota yang seluruhnya berjumlah 100 orang. Karakteristik contoh penelitian yang diamati meliputi usia dan uang saku. Karakteristik keluarga yang diamati meliputi besar keluarga, tingkat pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua dan pendapatan per kapita.
Usia
Usia remaja adalah suatu periode transisi dalam rentang kehidupan manusia yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Menurut Widyastuti (2009), masa (rentang waktu) remaja ada tiga tahap yaitu masa remaja awal (10-12 tahun), masa remaja tengah (13-15 tahun) dan masa remaja akhir (16-19 tahun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia contoh berada pada kisaran 13-15 tahun dengan median 14 tahun untuk SMP desa dan 13 tahun untuk SMP kota. Berdasarkan hal tersebut maka contoh tergolong dalam kategori remaja tengah. Hasil uji beda menggunakan Mann-Whitney U menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara usia contoh di SMP desa dan SMP kota. Berikut sebaran contoh berdasarkan usia
11 Tabel 3 Sebaran remaja putri berdasarkan usia di kota dan desa
Usia SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n % 13 tahun 23 46 30 60 53 53 P = 0,110 14 tahun 21 42 19 38 40 40 15 tahun 6 12 1 2 7 7 Total 50 100 50 100 100 100 Uang Saku
Uang saku merupakan bagian dari pengalokasian pendapatan keluarga yang diberikan pada anak untuk jangka waktu tertentu seperti keperluan harian, mingguan atau bulanan (Engel 1994). Setiap anak yang bersekolah dibekali uang saku oleh orang tuanya sebagai uang untuk pegangan anak selama di sekolah. (Muasyaroh 2006). Berikut sebaran contoh berdasarkan uang saku.
Tabel 4 Sebaran remaja putri berdasarkan uang saku di kota dan desa
Uang Jajan SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n % p=0.000 < Rp 3 500 14 28 1 2 15 15 Rp 3 500 - Rp Rp 10 500 35 70 37 74 72 72 > 10 500 1 2 12 24 13 13 Total 50 100 50 100 100 100
Kisaran uang saku contoh di SMP kota yaitu Rp 2 000-Rp 16 000 dengan median Rp 8 000. Kisaran uang jajan contoh di SMP desa yaitu Rp 2 000-Rp 12 000 dengan median Rp 5 000. Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri baik di kota maupun di desa mempunyai uang saku yang berkisar antara Rp 3 500 - Rp 10 500. Hasil uji beda menggunakan Mann-Whitney U menunjukkan terdapat perbedaan dalam hal uang saku dimana uang saku contoh di SMP kota lebih tinggi dibandingkan contoh di SMP desa.
Karakteristik Keluarga Remaja Besar Keluarga
Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (1998), besar keluarga adalah keseluruhan jumlah anggota keluarga yang terdiri dari suami, isteri, anak dan anggota keluarga lainnya yang tinggal bersama. Sebuah keluarga dapat dikatakan tergolong keluarga kecil jika anggota keluarganya ≤ 4 orang, keluarga sedang jika anggota keluaraganya berjumlah 5-7 orang dan sebuah tergolong keluarga besar jika anggota keluarganya > 7 orang. Berikut sebaran contoh berdasarkan besar keluarga.
12
Tabel 5 Sebaran remaja putri berdasarkan besar keluarga di kota dan desa
Besar keluarga SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n % Kecil (< 4 orang) 15 30 21 42 36 36 P = 0,015 Sedang (5-7 orang) 18 36 25 50 43 43 Besar (>7 orang) 17 34 4 8 21 21 Total 50 100 50 100 100 100
Kisaran besar keluarga contoh di SMP kota yaitu 3-8 orang dengan median 5 orang dalam satu keluarga. Kisaran besar keluarga contoh di SMP desa yaitu 2-14 orang dengan median 6 orang dalam satu keluarga. Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar sunjek baik di kota maupun di desa mempunyai besar keluarga yang berkisar antara 5-7 orang atau tergolong dalam keluarga sedang. Hasil uji beda menggunakan Mann-Whitney U menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam hal besar keluarga dimana contoh di SMP desa memiliki keluarga yang lebih besar dibandingkan contoh di SMP kota.
Pendidikan Orangtua
Pendidikan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat seseorang. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang untuk menyerap informasi dan mengimplikasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi (Atmarita & Tatang 2004). Semakin baik pendidikan dan pengetahuan gizi orang tua maka keadaan gizi anak akan baik pula (Riyadi 2006).
Pendidikan orangtua contoh meliputi pendidikan ayah dan pendidikan ibu. Pendidikan orangtua dikategorikan menjadi lima kategori yaitu tidak sekolah, SD, SMP, SMA dan Universitas. Berikut sebaran contoh berdasarkan pendidikan ayah. Tabel 6 Sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pendidikan ayah di kota dan
desa
Pendidikan ibu SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n % Tidak sekolah 2 4 0 0 2 2 p=0.000 SD 21 42 4 8 25 25 SMP 17 34 5 10 22 22 SMA 9 18 28 56 37 37 Universitas 1 2 13 26 14 14 Total 50 100 50 100 100 100
Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar (56%) ayah contoh di SMP kota berpendidikan SMA sedangkan ayah contoh di SMP desa sebagian besar (42%) berpendidikan SD. Selain itu, masih ditemukan ayah contoh yang tidak bersekolah pada SMP di desa. Hasil uji beda menggunakan Mann-Whitney U menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata dalam tingkat pendidikan ayah dimana tingkat pendidikan ayah contoh di SMP kota lebih tinggi dibandingkan contoh di SMP desa. Berikut sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan ibu.
13 Tabel 7 Sebaran remaja putri berdasarkan tingkat pendidikan ibu di kota dan desa
Pendidikan ibu SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n % p=0.000 Tidak sekolah 4 8 0 0 4 4 SD 25 50 9 18 34 34 SMP 11 22 6 12 17 17 SMA 9 18 25 50 34 34 Universitas 1 2 10 20 11 11 Total 50 100 50 100 100 100
Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar (25%) ibu contoh di SMP kota berpendidikan SMA sedangkan ibu contoh di SMP desa sebagian besar (50%) berpendidikan SD. Selain itu, masih ditemukan ibu contoh yang tidak bersekolah pada SMP di desa. Hasil uji beda menggunakan Mann-Whitney U menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata dalam tingkat pendidikan ibu dimana tingkat pendidikan ibu contoh di SMP kota lebih tinggi dibandingkan contoh di SMP desa. Pekerjaan Orangtua
Menurut Suhardjo (1989), semakin tinggi tingkat pendidikan yang diperoleh maka kesempatan untuk memperoleh pekerjaan akan lebih baik. Pekerjaan orangtua dikategorikan menjadi tujuh macam yaitu tidak bekerja juga dapat diartikan sebagai ibu rumah tangga untuk kategori pekerjaan ibu, PNS/Polisi/ABRI, karyawan swasta, buruh, wiraswasta/pedagang, jasa (supir, ojeg, reparasi, penjahit, salon) dan lainnya. Berikut sebaran contoh berdasarkan pekerjaan ayah.
Tabel 8 Sebaran remaja putri berdasarkan pekerjaan ayah di kota dan desa Pekerjaan ayah SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n % Tidak bekerja 8 16 0 0 8 8 P = 0,205 PNS/Polisi/ABRI 1 2 4 8 5 5 Karyawan swasta 6 12 22 44 28 28 Buruh 18 36 10 20 28 28 Wiraswasta 5 10 10 20 15 15 Jasa 10 20 3 6 13 13 Lainnya 2 4 1 2 3 3 Total 50 100 50 100 100 100
Berdasarkan sebaran contoh penelitian menurut pekerjaan ayah, sebagian besar ayah dari contoh penelitian di SMP desa bekerja sebagai buruh dengan persentase sebesar 36% sedangkan sebagian besar ayah dari contoh penelitian di SMP kota bekerja sebagai karyawan swasta dengan persentase sebesar 44%. Berdasarkan sebaran contoh penelitian menurut pekerjaan ibu, ibu dari contoh penelitian baik di SMP desa maupun SMP kota tidak bekerja atau berperan sebagai ibu rumah tangga dengan persentase masing-masing sebesar 84% dan 78%. Hasil uji beda menggunakan Mann-Whitney U menunjukkan bahwa tidak
14
terdapat perbedaan yang nyata antara pekerjaan ayah dan pekerjaan ibu di SMP kota dan SMP desa. Berikut sebaran contoh berdasarkan pekerjaan ibu .
Tabel 9 Sebaran remaja putri berdasarkan pekerjaan ibu di kota dan desa
Pekerjaan ibu SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n % Tidak bekerja 42 84 39 78 81 81 P = 0,480 PNS/Polisi/ABRI 1 2 1 2 2 2 Karyawan swasta 0 0 3 6 3 3 Buruh 0 0 0 0 0 0 Wiraswasta 6 12 5 10 11 11 Jasa 1 2 1 2 2 2 Lainnya 0 0 1 2 1 1 Total 50 100 50 100 100 100
Pendapatan Per Kapita
Menurut Suhardjo (1989), semakin tinggi tingkat pendidikan yang diperoleh maka kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik juga semakin besar sehingga akan mempengaruhi tingkat pendapatan. Hal tersebut juga akan mempengaruhi dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga demi tercapainya taraf hidup yang lebih baik. Menurut Aprilian (2010), tingkat pendapatan seseorang akan berpengaruh terhadap jenis dan jumlah bahan pangan yang dikonsumsinya. Menurut BPS DKI Jakarta dan BPS Jawa Barat, keluarga dengan pendapatan/kapita/bulan <Rp 392 571 dan <Rp 252 496 tergolong dalam kategori miskin. Berikut sebaran contoh berdasarkan pendapatan per kapita.
Tabel 10 Sebaran remaja putri berdasarkan pendapatan per kapita di kota dan desa Pendapatan per
kapita
SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n %
p=0.000
Miskin 34 68 19 38 53 53
Tidak miskin 16 32 31 62 47 47
Total 50 100 50 100 100 100
Kisaran pendapatan per kapita contoh di SMP kota berkisar Rp 80 000- Rp 4 750 000 dengan median Rp 541 667. Kisaran pendapatan per kapita contoh di SMP desa berkisar Rp 28 571- Rp 1 000 000 dengan median Rp 150 000. Hasil uji beda menggunakan Mann-Whitney U menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam hal pendapatan per kapita dimana pendapatan per kapita contoh di SMP kota lebih tinggi dibandingkan contoh di SMP desa. Menurut Madanijah (2004), perubahan pendapatan secara langsung akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan. Peningkatan pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik. Sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal kuantitas dan kualitas pangan yang dibeli. Pendapatan keluarga akan mempengaruhi daya beli keluarga untuk pangan dalam pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.
15 Status Gizi
Status gizi merupakan keadaan kesehatan yang diakibatkan interaksi antara makanan, tubuh manusia dan lingkungan hidup manusia. Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Diantara beberapa penilaian status gizi, salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan antropometri. Status gizi contoh dihitung menurut IMT/U dan TB/U.
Indeks Masa Tubuh Menurut Umur
Menurut WHO (2007), pengukuran status gizi anak usia 5-19 tahun menggunakan Z-score dengan indikator IMT/U. IMT/U direkomendasikan sebagai indikator terbaik yang dapat digunakan untuk remaja. Berikut sebaran contoh berdasarkan klasifikasi status gizi (IMT/U).
Tabel 11 Sebaran remaja putri berdasarkan status gizi IMT/U di kota dan desa
IMT/U SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n % Sangat Kurus 0 0 0 0 0 0 P = 0,083 Kurus 3 6 0 0 3 3 Normal 46 92 38 76 84 84 Overweight 1 2 12 24 13 13 Obes 0 0 0 0 0 0 Total 50 100 50 100 100 100
Berdasarkan hasil pengukuran status gizi contoh dengan menggunakan indikator IMT/U diperoleh bahwa sebagian besar contoh di SMP kota (76%) termasuk dalam kategori normal dengan rata-rata nilai Z-score 0,01±1,04, sedangkan yang lainnya (24%) tergolong overweight. Contoh di SMP desa sebagian besar (92%) tergolong dalam kategori normal dengan rata-rata nilai Z-score -0,31±0,87 , sedangkan 6% contoh kurus dan 2% lainnya tergolong dalam kategori overweight. Hasil uji beda menggunakan independent sample t-test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata antara status gizi (IMT/U) contoh di SMP kota dan SMP desa. Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 11 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi baik. Status gizi yang baik akan membuat pertumbuhan seorang remaja menjadi sesuai dengan yang seharusnya karena untuk pertumbuhan yang normal tubuh memerlukan gizi yang memadai (Soetjiningsih 2007).
Tinggi Badan menurut Umur
Menurut WHO (2007), selain menggunakan indikator IMT/U, pengukuran status gizi anak usia 5-19 tahun juga dapat menggunakan Z-score dengan indikator TB/U. Berikut sebaran contoh berdasarkan klasifikasi status gizi (TB/U).
16
Tabel 12 Sebaran remaja putri berdasarkan status gizi TB/U di kota dan desa
TB/U SMP Desa SMP Kota Total Uji beda
n % n % n % Sangat Pendek 2 4 0 0 2 2 P = 0,000 Pendek 15 30 7 14 22 22 Normal 33 66 43 86 76 76 Total 50 100 50 100 100 100
Berdasarkan hasil pengukuran status gizi contoh dengan menggunakan indikator TB/U diperoleh bahwa sebagian besar contoh di SMP kota (86%) termasuk dalam kategori normal dengan rata-rata nilai Z-score -1,06±0,8, sedangkan yang lainnya (14%) tergolong pendek. Contoh di SMP desa sebagian besar (66%) tergolong dalam kategori normal dengan rata-rata nilai Zscore -1,68±0,78 , sedangkan 30% contoh tergolong pendek dan masih terdapat 4% lainnya yang tergolong dalam kategori sangat pendek, hampir tiga kali lebih besar dibandingkan contoh di kota. Hasil uji beda menggunakan independent sample t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara status gizi (TB/U) contoh di SMP kota dan SMP desa. Pemenuhan gizi yang baik pada anak akan berdampak pada perkembangan pubertal di masa remaja.
Persen Lemak Tubuh
Dua jenis lemak dalam tubuh adalah lemak esensial dan lemak non esensial atau simpanan lemak. Simpanan lemak sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan, salah satunya untuk kematangan seksual (Smith 1999). Frisch dan Revelle (1970) menyatakan bahwa dibutuhkan berat badan sekitar 48 kg untuk timbulnya menarche, sedangkan pada penelitian selanjutnya dinyatakan bahwa dibutuhkan perbandingan lemak dan lean body mass tertentu untuk timbulnya pubertas dan untuk mempertahankan kapasitas reproduksi.
Total persen lemak tubuh terdiri atas lemak esensial dan simpanan lemak. Metode pengukuran lemak tubuh yang digunakan pada penelitian ini menggunakan alat ukur BIA (Bioelectrical Impedance Analysis) dengan alat Body fat analizer (Omron- BHF 306). Berikut sebaran contoh berdasarkan persen lemak tubuh (omron).
Tabel 13 Sebaran remaja putri berdasarkan persen lemak tubuh (Omron) di kota dan desa
% lemak tubuh
SMP Desa SMP Kota Total
Uji beda n % n % n % Underfat 2 4 1 2 3 3 P = 0,394 Normal 22 44 23 46 45 45 Low Risk 16 32 9 18 25 25 Overfat 10 20 15 30 25 25 Obese 0 0 2 4 2 2 Total 50 100 50 100 100 100
Berdasarkan hasil pengukuran menunjukkan hasil bahwa sebagian besar persen lemak tubuh contoh termasuk dalam kategori normal namun baik di SMP
17 desa maupun kota sudah menunjukkan risiko persen lemak yang melebihi normal yang ditandai dengan cukup tingginya persen lemak dalam kategori low risk pada contoh di SMP desa yaitu sebesar 32% dan cukup tingginya persen lemak dalam kategori overfat pada contoh di SMP kota yaitu sebesar 30%.
Rata-rata persen lemak tubuh contoh di SMP desa 23,14±4,74. Rata-rata persen lemak tubuh contoh di SMP kota 24,00±5,28. Penelitian Labayen et al. (2009) menunjukkan bahwa kematangan seksual yang lebih awal dihubungkan dengan meningkatnya IMT dan lemak tubuh. Hasil uji beda menggunakan independent sample t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara persen lemak tubuh yang diukur dengan menggunakan Omron pada contoh di SMP kota dan SMP desa.
Selain pengukuran dengan menggunakan alat Body fat analizer (Omron- BHF 306) juga digunakan pengukuran skinfold-thickness dengan menggunakan alat skinfold caliper dengan satuan milimeter pada beberapa lokasi pengukuran spesifik seperti pada bagian biceps, triceps, subscapula dan suprailiac yang merupakan daerah yang paling merefleksikan lemak tubuh (body fatness). Berikut sebaran contoh berdasarkan persen lemak tubuh (skinfold).
Tabel 14 Sebaran remaja putri berdasarkan persen lemak tubuh (Skinfold) di kota dan desa
% lemak tubuh
SMP Desa SMP Kota Total
Uji beda n % n % n % Underfat 0 0 0 0 0 0 P = 0,000 Normal 1 2 11 22 12 12 Low Risk 12 24 17 34 29 29 Overfat 22 44 16 32 38 38 Obese 15 30 6 12 21 21 Total 50 100 50 100 100 100
Berdasarkan hasil pengukuran dengan skinfold calliper menunjukkan hasil bahwa sebagian besar persen lemak tubuh contoh termasuk dalam kategori normal di SMP kota dengan persentase sebesar 34% sedangkan sebagian besar persen lemak tubuh contoh di SMP desa termasuk dalam kategori overfat dengan persentase sebesar 44%. Rata-rata persen lemak tubuh contoh di SMP desa 30,00±3,56. Rata-rata persen lemak tubuh contoh di SMP kota 26,90±4,41.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Mulyadi (2013) yang melakukan penelitian terhadap persen lemak tubuh dengan menggunakan skinfold caliper didapat data rata-rata persentase lemak pada perempuan adalah 33,7% dan nilai tersebut masih berada dalam rentang normal rekomendasi lemak untuk remaja berusia 14-18 tahun yaitu 25-35%. Butte et al. (2000) menyimpulkan bahwa rekomendasi asupan lemak sebanyak 30% cukup untuk mempertahankan pertumbuhan ideal pada remaja.
Teknik skinfold merupakan salah satu alternatif yang sering digunakan untuk memprediksi persentase lemak badan karena relatif murah dan mudah pelaksanaannya serta tidak berdampak negatif terhdap contoh yang diperiksanya. Namun demikian teknik ini mempunyai kelemahan karena bersifat etnicaly dependent dan berbeda antar ras dan seks (Sudibjo 2000). Hasil uji beda
18
menggunakan independent sample t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara persen lemak tubuh yang diukur dengan menggunakan skinfold caliper pada contoh di SMP kota dan SMP desa. Perbedaan hasil persen lemak tubuh yang diukur dengan omron maupun skinfold caliper ini diduga karena kurangnya keterampilan pengukur sehingga berpengaruh terhadap data yang dihasilkan.
Perkembangan seksual
Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak-anak berubah dari mahluk aseksual menjadi mahluk seksual (Hurlock 1980). Pubertas merupakan proses kematangan, hormonal dan pertumbuhan yang terjadi ketika organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan karakteristik seks sekunder muncul. Saat terjadinya pubertas bervariasi menurut jenis kelamin kelompok populasi dan tiap-tiap individu (Heffner & Schust 2005). Remaja perempuan mengalami