BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
III.3 Gempa Bumi
III.3.1 Sejarah Bencana di Aceh Sejak Tahun 2004
Benchmark kebencanaan di Indonesia, terkhusus Aceh adalah gempa dengan skala 9,1 SR yang terjadi pada tahun 2004. Gempa tersebut tercatat sebagai salah satu yang terkuat sepanjang sejarah modern. Dalam buku Laporan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD Nias (2009) menyebutkan hanya dalam waktu kurang dari setengah jam setelah gempa, tsunami langsung menyusul, menghancurkan pesisir Aceh dan pulau-pulau sekitarnya hingga 6 kilometer ke arah daratan. Sebanyak 126.741 jiwa melayang di mana 93.285 orang dinyatakan hilang. Sekitar 500.000 orang kehilangan hunian, 139.195 rumah hancur atau rusak parah. Pada sektor publik, sedikitnya 669 unit gedung pemerintahan, 517 pusat kesehatan, serta ratusan sarana pendidikan hancur.
Tanah longsor yang terjadi selama kurun waktu 2007-2009 di Aceh sebanyak 26 kali. Dampak kerusakan harta benda yang ditimbulkan diperkirakan mencapai 50-100 Miliar rupiah, kerusakan sarana dan prasarana 20–40 persen, sedangkan cakupan wilayah yang terkena longsor sangat luas 20–40 persen, serta berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya mata pencarian) sebesar 5–10 persen. Bencana tanah longsor yang berdampak pada masyarakat secara langsung adalah pada jalur jalan lintas tengah, yaitu yang terdapat di Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Gayo Lues, sekitar Takengon di Kabupaten Aceh Tengah, dan di sekitar Tangse – Geumpang Kabupaten Pidie.
Aceh memiliki tingkat kompleksitas hidro-meteorologis yang cukup tinggi. Dimensi alam menyebabkan Aceh mengalami hampir semua jenis bencana hidro-meteorologis seperti puting beliung, banjir, abrasi dan sedimentasi, badai siklon tropis serta kekeringan. Puting beliung terjadi di Aceh hampir merata di berbagai daerah terutama terjadi di pesisir yang berhadapan dengan perairan laut yang mengalami angin badai. Berdasarkan kejadian yang pernah terjadi sebelumnya adalah di Aceh Timur, Aceh Utara di pesisir timur dan Aceh Barat di pesisir barat. Namun, dari data kejadian 3 tahun terakhir (2006-2009) terjadi 30 kali bencana puting beliung di 14 kabupaten/kota. Kabupaten Aceh Utara terdata mengalami kejadian tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya.
Sumber kerentanan bencana banjir ini berasal dari pembalakan liar (illegal logging) di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS), pendangkalan sungai, rusak atau tersumbatnya saluran drainase, dan terjadinya perubahan fungsi lahan tanpa sistem tatakelola yang baik yang memperhatikan kapasitas DAS dalam
menampung air. Kabupaten Aceh Utara mencatat kejadian tertinggi dibandingkan Kabupaten Kota lainnya.
Selain bencana yang disebabkan oleh fenomena alam, bencana juga dapat disebabkan oleh perilaku manusia antara lain karena kelalaian, ketidaktahuan, maupun sempitnya wawasan dari sekelompok masyarakat atau disebut bencana sosial. Bencana sosial dapat terjadi dalam bentuk , pencemaran lingkungan (polusi udara dan limbah industri) dan kerusuhan atau konflik sosial. Potensi rawan seperti hutan terjadi pada hutan-hutan yang dilalui jaringan jalan utama sebagai akibat perilaku manusia, terutama pada kawasan hutan pinus dan lahan gambut yang cenderung mudah mengalami pada musim kemarau. Indikasi potensi rawan hutan tersebut adalah di Aceh Besar, Pidie, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Subulussalam, Aceh Singkil, dan Aceh Tengah.
Bencana sosial dapat juga muncul sebagai akibat bencana alam, baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia dalam memandang dan memanfaatkan sumberdaya alam (faktor antropogenik). Kejadian bencana sosial yang menonjol di Aceh adalah konflik yang berlatar belakang ideologi dan ekonomi, serta Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti penyakit menular dan atau tidak menular yang dipicu oleh perilaku manusia itu sendiri.
BAB IV PENYAJIAN DATA
Metode kualitatif adalah metode yang lazim digunakan dalam penelitian ilmu sosial. Penelitian kualitatif menggunakan observasi terstruktur maupun tidak terstruktur dan interaktif komunikatif sebagai alat pengumpulan data, terutama wawancara mendalam dan peneliti menjadi instrumen utamanya.
Data yang diperoleh tersebut berbentuk kata-kata dan dianalisis dalam terminologi respon-respon individual, kesimpulan deskriptif atau bisa keduanya. Tujuan analisis adalah untuk mengorganisasikan data ke dalam makna, interpretasi individual atau kerangka kerja yang menjelaskan fenomena-fenomena yang dikaji. Kesimpulan yang dirumuskan tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasikannya ke dalam populasi yang lebih besar.
Penelitian ini dilaksanakan untuk membangun pengetahuan melalui pemahaman dan penemuan. Pada konteks ini, statement-statement relasional digunakan dalam kerangka pengembangan teori.
Setelah dilakukan penelitian dan melakukan pengumpulan data maka telah dikumpulkan sejumlah data, baik data primer yang diperoleh dari hasil wawancara berbagai informan dan data sekunder yang diperoleh dari hasil observasi serta dokumen-dokumen di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan tinjauan sumber pustaka lainnya. Data-data yang dikumpulkan tersebut merupakan data yang diperlukan untuk mengetahui bagaimana Pelaksanaan
Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana di Kabupaten Aceh Tengah
IV. 1 Identitas Informan
Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah pihak-pihak yang berperan dalam fungsi pemerintahan dan para korban penerima bantuan akibat bencana di Kabupaten Aceh Tengah
Tabel 4.1
Nama Informan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
No. Nama Jabatan
1 Djauhari, S.T Kepala BPBD 2 Gusti Martarosa, S.T Kabid RR 3 Mahlansyah, S.T Kasi Rehabilitasi
Tabel 4.2
Nama Informan Masyarakat Korban Bencana No. Nama Jabatan
Pokmas
Jumlah
Anggota Nama Pokmas Lokasi
Jenis Kerusakan 1 Sugianto Ketua 19 Tapak Moge III Tapak Moge Berat 2 Subandi Sekretaris Tapak Moge III Tapak Moge Berat 3 Siswo Anggota 11 Jerata II Jerata Berat
4 Misdianto Ketua 13 Bersatu Bies Berat
5 Budi Ketua 16 Negara Blang Gele Sedang
IV.2 Hasil Wawancara
Dalam penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan wawancara sebagai alat pengumpulan data, maka peneliti telah mewawancarai tiga (3) orang yang memiliki peranan dan pemahaman sebagai eksekutor kebijakan yaitu pelaksana Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang bekerja di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Aceh Tengah. Serta enam (6) orang masyarakat sebagai penerima bantuan dana dari Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang digunakan untuk membangun dan memperbaiki rumahnya yang rusak akibat bencana. Adapun tahapan dalam proses wawancara adalah sebagai berikut:
a. Menyusun daftar pertanyaan yang diharapkan dapat menjawab permasalahan yang diteliti dan mempersiapkan alat dokumentasi atau alat perekam.
b. Melakukan wawancara dengan informan-informan yang berperan langsung dan memiliki pemahaman menyangkut permasalahan yang sedang diteliti. Dalam hal ini yang menjadi informan informan kunci adalah Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Kepala Seksi Rehabilitasi, dan Kepala Seksi Rekonstruksi. Sementara yang menjadi informan utama adalah enam (6) masyarakat yang menjadi korban bencana sekaligus sebagai pihak yang terlibat langsung dalam proses pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi.
Tipe wawancara yang digunakan peneliti adalah terstruktur dimana sebelum melakukan wawancara terlebih dahulu menyusun daftar pertanyaan yang
berhubungan dengan judul atau masalah yang akan diteliti. Namun dalam prosesnya sendiri, peneliti tidak menutup kemungkinan akan munculnya pertanyaan baru sehingga dapat menggali lebih dalam. Berikut ini adalah hasil wawancara dengan beberapa informan.
IV.3 Tahapan Pelaksanaan Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Sektor Perumahan dan Permukiman oleh BPBD
Sesuai dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden RI, yang menjadi sasaran prioritas pemulihan adalah perbaikan di sektor perumahan dan permukiman masyarakat. Pemerintah juga telah menetapkan bantuan dana stimulan pemulihan perumahan, dengan berbagai opsi untuk membangun: a) rumah inti atau b) struktur rumah ramah gempa; sesuai dengan mekanisme pemberian bantuan perumahan bagi masyarakat.
Untuk itu, ditetapkan strategi pelaksanaan rehabilitasi dan rekosntruksi sektor perumahan dan permukiman sebagai berikut:
1. Bantuan stimulan untuk rumah rusak berat maksimal sebesar Rp. 40.000.000,-, untuk rumah rusak sedang maksimal sebesar Rp. 20.000.000,-, dan untuk rumah rusak ringan maksimal sebesar Rp. 10.000.000,-. Bantuan perumahan diberikan kepada pemilik rumah sebanyak satu unit. Hal ini berarti, bila pemilik rumah memiliki rumah lebih dari satu, maka hanya diberikan bantuan stimulan 1 unit rumah dan bila dalam satu rumah terdiri dari lebih dari 1 KK maka yang berhak
menerima bantuan stimulan adalah pemilik rumah yang sah/ legal sesuai dengan KK nya.
2. Pemberian bantuan berdasarkan hasil verifikasi penerima bantuan perumahan, status kepemilikan lahan dan bangunan berdasarkan by name by address yang terdaftar dalam POKMAS yang sudah dibentuk.
3. Strategi pembangunan perumahan berbasis komunitas dirancang dengan strategi pengorganisasian masyarakat (Kelompok Masyarakat disingkat POKMAS) dan bertumpu pada inisiatif dan prakarsa masyarakat dengan tidak meninggalkan kearifan lokal;
4. Dibangun dengan standar konstruksi bangunan rumah sehat ramah gempa dan berwawasan lingkungan hidup. Untuk relokasi, perlu melakukan penataan ulang tata letak bangunan melalui participatory planning yang berpedoman pada rencana tata ruang wilayah yang berbasis pengurangan risiko bencana.
5. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi sektor perumahan di wilayah yang terkena dampak bencana gempa bumi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dilaksanakan dengan menggunakan skema Program Rekompak Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat, dimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam rehabilitasi dan rekonstruksi.
6. Menetapkan mekanisme dan prosedur penyaluran Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dan percepatan penyaluran bantuan bagi pembangunan kembali dan perbaikan perumahan masyarakat;
7. Menyusun pedoman dan rencana teknis yang memenuhi ketentuan persyaratan keselamatan, penggunaan bahan bangunan dan standar teknis bangunan tahan gempa;
8. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal baik dari segi tenaga kerja, keterampilan, mengoptimumkan pemanfaatan bahan bangunan bekas dari rumah yang rusak dan mengembangkan bengkel konstruksi yang mencakup perencanaan dan teknik pembangunan serta bengkel bahan bangunan mencakup pengadaan bahan dan komponen pembangunan yang dikelola masyarakat;
9. Membuka lapangan kerja melalui cash for work sebesar Rp.50.000,-per KK untuk kegiatan pembersihan puing rumah, lingkungan rumah dan mengumpulan sisa bahan bangunan yang masih digunakan. Penerima
Cash for Work adalah masyarakat terdampak bencana baik pemilik rumah maupun penyewa rumah dan penghuni rumah dinas, namun tidak boleh ada penerima ganda;
10.Untuk menjamin kestabilan harga dan pemenuhan/ ketersedian bahan bangunan supaya di koordinasikan dengan Kementerian Perindustrian. 11.Untuk perizinan lahan relokasi dan kebutuhan kayu bila diperlukan
Berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan.42
Sesuai dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden di atas, BPBD melalui Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi menambahkan pernyataan yang didapat dari wawancara sebagai berikut: Pemerintah melalui DIPA-BNPB
42
melaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang difokuskan terlebih dahulu pada sektor perbaikan perumahan dan permukiman, memberikan bantuan dana kepada masyarakat untuk memperbaiki dan membangun rumahnya yang rusak akibat gempa dengan cara memberdayakan mereka secara mandiri (swakelola), sesuai dengan prinsip partisipatif yaitu masyarakat langsung sebagai pelaksana, tujuannya agar mereka mengerti tata cara pembukuan, dan cara membangun rumah yang lebih baik dan ramah gempa (build back better). Untuk menjalankan rangkaian program itu dibentuklah Tim Pendamping Masyarakat (TPM), karena merekalah yang paling dekat dengan masyarakat. Mereka terdiri dari Reje (Kepala Desa), Camat, Tokoh Masyarakat, Kapolsek, dan Danramil.43
a. Perekrutan dan Pembentukan Fasilitator
Proses pembentukan dan perekrutan fasilitator mengacu pada petunjuk teknis dari BNPB, yaitu tenaga fasilitator direkrut secara terbuka, diseleksi, jika ternyata lulus lalu dikeluarkan Surat Keputusannya oleh Bupati, kemudian dibuat schedule dan rencana kerjanya. Fasilitator juga diberikan pelatihan agar memahami rangkaian tugas dan aksi yang akan mereka lakukan di lapangan untuk menjalankan program rehabilitasi dan rekonstruksi di sektor perumahan. Total awal perekrutan fasilitator sekitar 100 lebih, namun sekarang sudah berkurang dikarenakan fasilitator adalah pegawai yang sistem kerjanya dikontrak oleh Pemerintah.44
43
Wawancara dengan Kabid RR, Bapak Gusti Martarosa, S.T (27/8/2014) 44
Wawancara dengan Kasi Rehabilitasi, Bapak Mahlansyah (20/9/2014)
Tugas dan fungsi fasilitator sebagai penanggungjawab, pembimbing, dan memfasilitasi pokmas agar tetap berjalan sesuai kadiah teknis
yang telah ditetapkan,45 dengan harapan, manakala fasilitator telah habis masa tugasnya, masyarakat di masa depan mampu untuk lebih mandiri.46
Garis koordinasi kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi untuk perumahan dan permukiman yaitu Masyarakat > Fasilitator > Penanggungjawab Operasional Kegiatan (PJOK) > Pejabat Pembuat Keputusan (PPK). PPK harus memastikan bahwa program ini dapat berjalan lancar.47
1. Fasilitator Ekonomi yang bertugas khusus untuk mempertanggungjawabkan keuangan masyarakat;
Fasilitator terbagi dalam 3 kriteria yang berbeda-beda, yaitu:
2. Fasilitator Sosial yang berfungsi mengarahkan masyarakat bagaimana sistem gotong royong dan sebagainya; dan
3. Fasilitator Teknis yaitu memfasilitasi bagaimana tata cara pembangunan rumah yang ramah terhadap lingkungan maupun ramah terhadap gempa. Di Kabupaten Aceh Tengah berdasarkan data sekunder yang diperoleh peneliti dari BPBD Aceh Tengah secara rinci melampirkan bahwa Fasilitator dan
Building Control yang bekerja terbagi dalam 20 tim, jumlah anggota dalam tiap tim bervariasi, yaitu antara 7-8 orang. Dengan cakupan wilayah kerja juga bervariasi di tiap kecamatan dan kampung. Jika dilihat dari data sekunder yang peneliti dapatkan, sumber daya fasilitator BPBD di Kabupaten Aceh Tengah berjumlah 151 orang.
45
Wawancara dengan Kabid RR, Bapak Gusti Martarosa, S.T (27/8/2014) 46
Wawancara dengan Kepala BPBD, Bapak Djauhari, S.T (22/09/2014) 47
b. Pelaksanakan Uji Publik
Program rehabilitasi dan rekonstruksi dimulai pada pertengahan bulan Oktober 2013, ditandai dengan melaksanakan kegiatan uji publik atau pendataan ulang korban bencana yang telah didata sebelumnya oleh Dinas Pekerjaan Umum, BPBD, dan dinas terkait lainnya. Data uji publik tersebut ditempelkan ke setiap desa dan kampung, tujuannya adalah untuk menyanggah jika ada data palsu, kesalahan pendataan, ataupun ada sejumlah masyarakat yang belum terdata.48
Uji publik adalah rangkuman data awal yang dipublikasikan ke desa, tujuannya agar masyarakat bisa menilai sendiri apakah data kerusakan yang mereka dan warga masyarakat lainnya terima telah sesuai dengan data yang dipublikasikan di desa, jika ada yang fiktif dan tidak sesuai, masyarakat berhak melaporkannya ke Reje.49
c. Pembentukan Kelompok Masyarakat
Strategi pembangunan dengan pendekatan kelompok masyarakat (POKMAS) menjadi pilihan dengan pelibatan masyarakat terdampak secara penuh pada saat pelaksanaan pembangunan rumah.
Pembentukan kelompok masyarakat (pokmas) diarahkan oleh fasilitator, terutama bagi masyarakat yang tidak menyanggah atau mengikuti proses uji publik. Pokmas terdiri dari minimal 6 KK dan maksimal 20 KK, dan dalam setiap pokmas memiliki struktur kepengurusan yaitu Ketua Pokmas, Sekretaris, dan Bendahara. Jadi jika dari pemerintahan (BPBD) ada pemanggilan, bisa diwakili
48
Wawancara dengan Kasi Rehabilitasi, Bapak Mahlansyah, S.T (20/09/2014)
49
oleh salah satu kepengurusan dari pokmas terkait, sehingga tidak harus semua masyarakat/KK dipanggil. Pokmas di Kabupaten Aceh Tengah secara keseluruhan untuk rusak berat dan rusak sedang berjumlah 483 pokmas yang terdiri dari 6.956 KK. Dengan klasifikasi untuk rusak berat sejumlah 3.867 KK dan rusak sedang 3.089 KK. Pokmas juga memiliki legalitas hukum yang kuat, karena telah ditetapkan Surat Keputusannya oleh Bupati (terlampir). Tujuan dibentuk pokmas adalah agar masyarakat korban bencana dapat saling membantu antara satu dengan yang lainnya, dan juga agar penyelesaian pembangunan rumah masyarakat serentak, serta mempermudah sistem controlling dan pertanggungjawabannya.50
No Jumlah Pokmas (tidak termasuk rusak ringan) Kecamatan Keterangan (KK) Total Jumlah KK Rusak RUSAK BERAT RUSAK SEDANG 1 2 3 4 5 6 I ERWIN DESRI, ST 1 23 BIES 101 180 281 2 8 CELALA 30 74 104 3 96 KETOL 1,005 488 1,493 4 3 RUSIP ANTARA 34 17 51 5 41 SILIH NARA 221 280 501 171 1,391 1,039 2,430 II ABDAN SYAKURA, ST 6 87 BEBESEN 412 756 1,168 7 93 KEBAYAKAN 592 703 1,295 50
8 6 PEGASING 25 49 74 9 2 BINTANG 4 15 19 10 23 LUT TAWAR 99 175 274 11 101 KUTE PANANG 1,344 352 1,696 312 2,476 2,050 4,526 483 3,867 3,089 6,956
Data Sekunder Penelitian
Setelah pokmas terbentuk, pengurus pokmas kemudian membuat rekening kelompok ke Bank BRI dengan membawa beberapa syarat yaitu: Surat Tanah, KTP, Kartu Keluarga (KK), dan surat pernyataan perjanjian bahwa akan mengikuti prosedur pembangunan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Setelah selesai tahapan tersebut, kemudian data nama, data kelompok, jumlah KK, dan jumlah bantuan yang akan diterima pokmas, dibawa ke Jakarta untuk diproses agar dana bantuan bisa dicairkan ke dalam rekening mereka.51
Data terbaru Pemerintah tentang kerusakan perumahan dan permukiman melebihi angka 7000 KK. Dimana masih terdapat 79 pokmas susulan yang mencangkup sekitar 900 KK yang belum mendapatkan bantuan. Namun untuk alokasi pendanaan pokmas susulan tersebut telah disampaikan ke BNPB. BNPB juga sudah mengalokasikan anggaran tambahan, hanya saja masih membutuhkan persetujuan dari DPR RI yang akan disahkan dalam waktu dekat. Jika alokasi anggaran tambahan tersebut sudah disetujui, maka Insha Allah Program Pokmas Susulan
51
Rehabilitasi dan Rekonstuksi sektor perumahan untuk rusak berat dan sedang di Aceh Tengah bisa segera diselesaikan. Secara teknis kemudian BPBD akan bergerak menuju pembangunan perumahan yang mengalami rusak ringan.52
a. Sumber Pendanaan dalam Perbaikan Perumahan dan Permukiman Masyarakat
IV.3.1 Sumber Pendanaan dan Mekanisme Penyaluran Dana Bantuan Kepada Masyarakat Korban Bencana
Alokasi dana bantuan bencana untuk sektor perumahan dan permukiman yang disediakan Pemerintah terbagi dalam dua jenis, yaitu yang berasal dari APBN dan Anggaran Pengeluaran Belanja Aceh (APBA). Rincian dana oleh APBN berjumlah 216.640 Milyar yang telah disalurkan ke 483 rekening bank pokmas yang berisi 6.956 KK. Dengan klasifikasi untuk rusak berat sejumlah 3.867 KK dan rusak sedang 3.089 KK. Dalam Undang-Undang kebencanaan, tanggungjawab penyelenggaraan penanggulangan bencana terdiri dari pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Pemerintah terdiri dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.53
Kepala BDBD, Djauhari juga menyebutkan hal yang serupa mengenai sumber pendanaan dalam perbaikan perumahan dan permukiman di Aceh Tengah, yaitu bersumber dari dana APBN, APBA, dan APBK. Namun mengenai dana bantuan asing hanya berupa bantuan logistik dan bantuan sosial, seperti bantuan
52
Wawancara dengan Kabid RR, Bapak Gusti Martarosa, S.T (27/08/2014)
53
40,000,000
Rp Rp 20,000,000 RUSAK
BERAT RUSAK
SEDANG RUSAK BERAT RUSAK SEDANG
1 2 3 4 5 6 7 8 9 I ERWIN DESRI, ST 1 23 BIES 101 180 281 Rp 4,040,000,000 Rp 3,600,000,000 Rp 7,640,000,000 2 8 CELALA 30 74 104 Rp 1,200,000,000 Rp 1,480,000,000 Rp 2,680,000,000 3 96 KETOL 1,005 488 1,493 Rp 40,200,000,000 Rp 9,760,000,000 Rp 49,960,000,000 4 3 RUSIP ANTARA 34 17 51 Rp 1,360,000,000 Rp 340,000,000 Rp 1,700,000,000 5 41 SILIH NARA 221 280 501 Rp 8,840,000,000 Rp 5,600,000,000 Rp 14,440,000,000 171 1,391 1,039 2,430 Rp 55,640,000,000 Rp 20,780,000,000 Rp 76,420,000,000 II ABDAN SYAKURA, ST 6 87 BEBESEN 412 756 1,168 Rp 16,480,000,000 Rp 15,120,000,000 Rp 31,600,000,000 7 93 KEBAYAKAN 592 703 1,295 Rp 23,680,000,000 Rp 14,060,000,000 Rp 37,740,000,000 8 6 PEGASING 25 49 74 Rp 1,000,000,000 Rp 980,000,000 Rp 1,980,000,000 9 2 BINTANG 4 15 19 Rp 160,000,000 Rp 300,000,000 Rp 460,000,000 10 23 LUT TAWAR 99 175 274 Rp 3,960,000,000 Rp 3,500,000,000 Rp 7,460,000,000 11 101 KUTE PANANG 1,344 352 1,696 Rp 53,760,000,000 Rp 7,040,000,000 Rp 60,800,000,000 312 2,476 2,050 4,526 Rp 99,040,000,000 Rp 41,000,000,000 Rp 140,040,000,000 483 3,867 3,089 6,956 Rp 154,680,000,000 Rp 61,780,000,000 Rp 216,460,000,000
Total Nilai KK Rusak (Rp.) No Jumlah Pokmas (tidak termasuk rusak ringan) Kecamatan Keterangan (KK) Total Jumlah KK Rusak
Nilai Kerusakan / Unit rumah (Rp.)
pelatihan kepada masyarakat mengenai pembuatan konstruksi bangunan yang ramah gempa seperti yang dilakukan oleh Build Change Indonesia.54
Sumber: Data Sekunder Penelitian
b. Syarat dan Mekanisme Pencairan Dana Bantuan RR
Pencairan tahap pertama ada 18 syarat (terlampir) yang harus dipenuhi kelompok masyarakat (pokmas) dalam Dokumen Teknis Pembangunan Permukiman (DTPP), syarat yang termasuk di dalamnya seperti: sketch rumah dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).55
Mengenai mekanisme pencairannya, pemerintah terlebih dahulu membentuk pokmas yang terdiri dari 6-20KK, masyarakat membentuk pengurus kelompok secara struktural sesuai dengan Peraturan Kepala BNPB No. 4 Tahun 2011. Lalu membuat rekening kelompok atau rekening koran ke BRI, karena akses Bank BRI di wilayah Kabupaten Aceh Tengah menyentuh hingga pelosok.
54
Wawancara dengan Kepala BPBD, Bapak Djauhari, S.T (22/09/2014)
55
Kemudian dana ditransfer oleh Pemerintah Pusat/APBN dan Propinsi/APBA ke rekening kelompok yang berjumlah Rp. 60.000.000,- untuk rusak berat dan Rp. 25.000.000,- untuk rusak sedang. Menurut juknis yang telah ditetapkan oleh BNPB, alokasi dana APBN untuk rusak berat adalah Rp. 40.000.000,- dan rusak sedang Rp. 20.000.000,- dan itu adalah angka maksimal, dengan harapan jika pembangunan perumahan yang dilakukan masyarakat tidak mencapai dana tersebut, maka masyarakat berkewajiban mengembalikan dana tersebut, namun sampai saat ini kenyataannya tidak ada masyarakat yang melakukan tindakan tersebut.56
Pendanaan yang bersumber dari APBN, mekanisme pencairan uang dalam rekening dilakukan dalam 3 tahapan, tahap pertama sebesar 40%, tahap kedua 30%, dan tahap ketiga menyusul 30%. Baik rusak sedang dan rusak berat mekanismenya serupa guna meminimalisir tindakan penyelewengan. Pokmas bisa berkonsultasi dan berkomunikasi dengan fasilitator untuk membuat permintaan pencairan dana tahap pertama dengan meminta persetujuan/pengesahan PJOK dan TPM, lalu menyerahkannya ke BPBD agar dibuatkan rekomendasi pencairan dananya ke Bank BRI, setelah itu masyarakat bisa langsung mencairkan dana tersebut untuk dipergunakan membangun rumahnya. Salah satu tugas fasilitator menjamin bahwa uang dipergunakan sesuai dengan kebutuhan agar tidak terjadi penyelewengan.57
56
Wawancara dengan Kabid RR, Bapak Gusti Martarosa, S.T (27/08/2014)
57
Wawancara dengan Kabid RR, Bapak Gusti Martarosa, S.T (27/08/2014)
IV.3.2 Kinerja BPBD dalam Pelaksanaan Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi
a. Koordinasi BPBD
Koordinasi yang dilakukan oleh BPBD sampai saat ini tetap berlangsung, dan serupa seperti pada saat tahap tanggap darurat. BPBD tetap berkoordinasi dengan Dinas PU, dan dinas terkait lainnya pada proses pembangunan perumahan masyarakat. Dalam pengadaan tanah untuk relokasi permukiman di 2 Kecamatan, BPBD berkoordinasi dengan menyertakan Dinas Kehutanan, Beppeda, Dinas Lingkungan Hidup, dan dinas lainnya.58
b. Prinsip Build Back Better
Dalam proses berjalannya program ini, BPBD memberikan bantuan pelayanan teknis yaitu fasilitator untuk mengarahkan masyarakat mengenai tata cara membangun rumah yang ramah gempa, bagaimana takaran material, dan sistem pembesian. Sehingga ke depan diharapkan bisa tercapainya pembangunan yang lebih baik di masyarakat (build back better).59
c. Proyeksi dan Target BPBD