• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Sejarah Cadar dalam Tradisi Agama-Agama

Sebagian umat Islam menganggap cadar berasal dari tradisi budaya arab asal-usul cadar semakin ditunjukkan ke bangsa arab sebagai budaya mereka. Padahal bisa jadi tradisi bercadar bukan berasal dari mereka.

6Hāzim Majdῑ Ibrāhῑm, Al-Haqῑqotu Al-Kāmilatu „An Hijāb Al-Mar‟ati Al-Muslimati, Kairo: 2011, 12.

7Zaitunah Subhan, Al-Qur‟an & Perempuan Menuju Kesetaraan Gender Dalam Penafsiran, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), 344-345.

18

Bahkan menurut ulama dan filosofi besar iran kontemporer, Murtaḍa Muṭahari pakaian penutup seluruh badan wanita termasuk cadar telah dikenal di kalangan bangsa kuno, jauh sebelum datangnya Islam, dan lebih melekat kepada bangsa Persia khususnya Iran, dibandingkan dengan di tempat-tempat lain.8

Di Persia, perempuan bangsawan dan terhormat diharuskan menggunakan cadar di tengah-tengah masyarakat selama dinasti Hakamanesh, yang berkuasa setelah penyatuan beberapa kekaisaran Persia sekitar 500 SM. Di India, perempuan memakai cadar ketika mereka keluar dari batas-batas “zenana” (apartemen priadi). Dalam Yunani Kuno di Tahunebes, perempuan menggunakan topeng yang dibuat dari selembar kain tembus pandang dengan 2 lubang. Di Cyprus, patung perempuan bercadar telah ditemukan pada 11 SM. Bangsa Yahudi juga bercadar, terutama perawan dan para perempuan yang telah menikah. Pada awal agama Kristen, para biarawati Kristen diisyaratkan untuk menggunakan kain yang sejenis dengan cadar. Dan pada bangsa Arab cadar diperkenalkan selama masa Abbasid (abad 11 M) dengan tujuan membedakan perempuan terhormat dengan budak.9

Pakaian tertutup muncul di pentas bumi ini jauh sebelum datangnya Islam. Bahwa orang arab juga meniru orang Persia yang mengikuti agama Zardasyt yang menilai wanita makhluk tidak suci karena itu mereka diharuskan menutup mulut dan hidungnya dengan sesuatu agar nafas mereka tidak mengotori api suci yang merupakan sesembahan agama Persia lama. Orang-orang arab juga meniru bangsa romawi yang mengkurung wanita di dalam rumah, ini bersumber dari masyarakat

8Muhammad Sudirman, Cadar Bagi Wanita Muslimah (Suatu Kajian Perspektif Sejarah), DIKTUM: Jurnah Syariah dan Hukum Volume 17 Nomor 1 Juli 2019, Universitas Negeri Makassar, 55.

Yunani kuno yang ketika itu membagi rumah-rumah mereka menjadi dua bagian satu untuk pria dan satunya untuk perempuan. Dan tradisi ini dicontoh oleh masyarakat Arab pada saat pemerintahan Dinasti Umawiyah pada pemerintahan al-Walid II (Ibn Yazid 125 H/747M) di mana penguasa menetapkan adanya bagian khusus buat wanita di rumah-rumah.10

Penggunaan pakaian ini sesungguhnya telah ada di antara bangsa-bangsa Assyria, Aramea, Persia, Yunani, Turki, India Timur, Yahudi, awal Kristen dan beberapa suku di Arab. Jenis pakaian ini sering dihubungkan dengan kelas sosial menengah dan atas. Lerner (1986) menjelaskan bagaimana pencadaran muncul di Babilonia sebagai sebuah institusi dengan mengacu pada ketetapan hukum Assyria Tengah, yang mengkhususkan semua anak perempuan, istri atau janda menutupi mereka jika ke luar jalanan. Di bagian lain, perempuan pekerja seks dan perempuan budak tidak diperbolehkan menggunakan cadar dan dihukum dengan kejam jika mereka terbukti memakainya.11

Wanita Arab sebelum Islam datang biasa mengenakan pakaian dengan model dan bentuk tertentu, seperti kerudung untuk menutup kepala, baju panjang untuk menutup tubuh, jilbab yang dipakai di atas baju panjang bersama kerudung, dan cadar yang dipakai oleh sebagian wanita untuk menutup wajahnya. Ketika Islam datang, Islam mengakui bentuk dan model pakaian seperti ini, lalu berpesan kepada kaum wanita dengan beberapa hal yang harus diperhatikan ketika wanita mengenakan pakaian itu sehingga sempurna dalam menutup tubuhnya. Apabila memakai

10M. Quraish Shihab, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah (Tangerang: Lentera Hati, 2010), 41.

11

20

kerudung hendaklah menutupnya dari depan hingga ujungnya menutup lehernya dan belahan baju didadanya.12

Terdapat syair-syair menjelaskan cadar sebelum Islam datang ke bangsa Arab, seorang penyair berkata, Al-Huthai‟ah, “Umamah berkeliling naik kendaraan alangkah baik tubuh dan cadarnya”. Juga penyair Al-Nabighah Al-Ja‟di berkata, “Pipi bersinar bagaikan cadar perawan dan dua tanduk berlari sebelum dikuliti”. Semua bait syair ini mengukuhkan bahwa niqab/cadar (kain yang diikatkan di atas hidung hingga leher) sudah dikenal oleh sebagian bangsa Arab sebelum Islam dan merupakan salah satu model pakaian dan perhiasan wanita. Setelah Islam datang tidak memerintahkan dan tidak melarangnya, melainkan membiarkannya menjadi tradisi manusia. Sudah dimaklumi, bahwa model pakaian pada umumnya untuk memilih sesuai dengan kondisi kehidupan secara geografis dan sosial.13

Cadar hanya semata-mata salah satu model pakaian yang dibiasakan oleh sebagian wanita sebelum datangnya Islam dan tidak terdapat perintah syara‟ yang mewajibkannya atau menganjurkannya, maka penetapan akan kebolehannya dari hadits yang menetapkan pelarangan cadar pada waktu ihram, yaitu sabda Rasulullah SAW “Dan janganlah wanita yang sedang ihram memakai cadar dan jangan pula memakai kaos tangan” (HR.Bukhari). ini menunjukkan bahwa larangan dari bermewahan dan berhias diri serta ajakan untuk kesederhanaan, karenannya memakai cadar termasuk berhias yang dibiasakan oleh sebagian wanita pada waktu itu. Dalam sejarah kaum muslim pemakaian cadar dilakukan oleh Ummul Mukminin, Abdullah bin Umar berkata, “ketika Nabi SAW, mencampuri Shafiyah, beliau melihat Aisyah memakai cadar di tengah-tengah orang

12Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, terj. As‟ad Yasin (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), 36-37.

banyak, maka beliau mengenalinya”. (HR Ibnu Sa‟ad dalam Al-Ṭabaqat). Ummu Sinan Al-Aslamiyyah berkata, “ketika kami sampai di madinah, kami tidak masuk ke rumah kami, sehingga kami masuk bersama Shafiyah ke rumahnya. Hal ini didengar oleh istri-istri kaum Muhajirin dan kaum Anshar, lalu mereka menemuinya dengan sembunyi-sembunyi. Maka aku melihat empat orang istri Nabi SAW mengenakan cadar, yaitu Zainab binti Jahsy, Hafshah, Aisyah, dan Juwariyah”, (HR Ibnu Sa‟ad dalam Al-Thabaqat).

Bahwa memakai cadar jarang terjadi di dalam masyarakat muslim di Mekah dan Madinah pada zaman Nabi SAW. Ini berarti bahwa Ummul Mukminin menutup wajah mereka dalam umumnya keadaan mereka selain cadar seperti jilbab, tetapi apabila mereka hendak keluar dengan sembunyi-sembunyi, mereka memakai pakaian yang tidak biasa, dan memakai cadar itulah yang menyebabkan mereka sembunyi-sembunyi, karena biasa dipakai oleh sebagian wanita Arab pendatang dari luar Mekah dan Madinah.14

Dokumen terkait