• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Tafsir Ayat-Ayat

Al-Qur‟an tidak menentukan secara jelas dan rinci batas-batas aurat (bagian badan yang tidak boleh kelihatan karena rawan rangsangan). Dalam konteks ini perlu digarisbawahi bahwa dalam pandangan-pandangan yang berbeda itu ditemukan sekian pertimbangan logika, adat istiadat dan pertimbangan kerawanan terhadap rangsangan syahwat, di samping teks-teks keagamaan.21

E. Tafsir Ayat-Ayat

Ayat-ayat Al-Qur‟an yang dijadikan landasan untuk bercadar yaitu Q.S. Al-Nūr (24):31 dan Q.S. Al-Ahzāb (33):59. Dalam hal ini penulis menyertakan penafsiran ayat-ayat tersebut pada tafsir klasik, modern hingga kontemporer guna meninjau makna ayat dengan lebih komprehensif. 1. Teks Al-Qur’an a. Q.S. Al-Nūr (24):31

َّنُى َج ْو ُرف َن ْظُ ف ْحَ ي َو َّنِو ِراَ َصْةَا ْنِم َن ْض ُض ْغَي ِجٰنِم ْؤُملِْل لْ ق َوُ

َّنُىَخنْي ِز َنْي ِدْتُي اَ ل َوَ

ال ِا َّنُىَخَّ نْي ِز َنْي ِدْتُي اَ ل َو ََّّۖنِىِة ْيُيَ ُج ىٰلَع َّنِو ِرُمُخ ِب َنْة ِر ْضَيل َو ا َىْن ِم َر َى َظ ا َم اْ ل ِاَّ

ُعُة ِءۤاَنْبا ْوَ ا َّنِىِٕىۤاَ َنْبَا ْوَا َّنِىِخل ْي ُعُة ِءۤاَةَ ا ْوٰ ا َّنِىِٕىۤاَةَ ا ْوٰ ا َّنِىِخَ ل ْي ُعُتِلَ

َّنِىِنا َي ْخِا ْوَا َّنِىِخل ْيَ

َنْي ِعِتتلا ِوّٰ ا َّنُىُناَمْيَ ا ْجَ كَ ل َم ا َم ْوَ ا َّنِىِٕىۤا َسِن ْوَ ا َّنِىِح ٰيَ َخَا ْْٓي ِنَة ْوا َّنِىِنا َيَ ْخِا ْْٓي ِنَة ْواَ

20Zaitunah Subhan, Al-Qur‟an & Perempuan Menuju Kesetaraan Gender Dalam Penafsiran, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), 363.

ٰر ْي َع ىلَع ا ْو ُر َى ْظَي ْمٰ ل َنْي ِذَ َّلا ِلف ِ طلا ِوْ ا ِلاَ َج ِ رلا َنِم ِثَة ْر ِالا ى ِلوْ ا ِرْيُ غَ

ِت

ْي ِمَج ِ ّٰللّٰا ىَلِا آْْيُةْيُحَو ََّّۗنِىِخَنْيِز ْنِم َنْيِفْخ ُي اَم َمل ْعُيِل َّنِىِل ُج ْرَ اِة َنْة ِرَ ْضَي اَلَوَّۖ ِءۤا َسِ نلا

ا ًع

َ

ن ْي ُحِلفُح ْمْ كُ َّل َعل َ ن ْيُن ِم ْؤ ُمَ لا َهُّيْ اَ

٣١

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra-putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (Q.S. Al-Nūr (24):31)

Asbabun Nuzul ayat tersebut dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Asmā‟ binti Murṡid pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main di kebunnya tanpa berkain panjang sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya. Demikan juga dada dan sanggul-sanggul mereka kelihatan. Berkata Asma‟: “Alangkah buruknya pemandangan ini”. Berkenaan dengan peristiwa tersebut turun Q.S. Al-Nūr (24):31, yang memerintahkan kepada kaum Mukminat yntuk menutup aurat mereka.22

b. Q.S. Al-Ahzāb (33):59

22Shaleh, dkk, Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat al-Qur‟an, (Bandung: Diponegoro, 2007), 383.

26

ََّّۗنِىِتْيِةال َج ْن ِم َّنِىْيَ لَع َنْيِنَ ْدُي َنْيِنِم ْؤُملا ِءۤا َسِن َو ْ َكِخٰنَةَو َك ِجاَوْزَاِل لْق ُّي ِبُ َّنلا اَىُّيَآٰي

اًمْي ِح َّر ا ًر ْيفُغ َُ للّٰا ّٰ ناَ كَو ََّۗنْيَ َذ ْؤُي ا َلَف َنْف َر ْعُّي ْنَا ْٓىٰنْدَا َكِلٰذ

٥٩

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzāb (33):59)

Demikan pula Islam berpesan kepada wanita merdeka agar mengenakan jilbab dan menutupkannya ke tubuhnya pada waktu keluar rumah agar berbeda dari wanita budak. Allah SWT.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kaum perempuan hendaknya menjulurkan jilbabnya ke tubuhnya pada waktu keluar rumah. Yang demikian itu supaya mereka berbeda dari budak perempuan. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan pakaian yang sesuai dengan tuntunan syariat, seperti menutup aurat, tidak terawang, dan tidak ketat yang dapat menampakkan lekuk tubuh perempuan.23

Ada Sejumlah riwayat mengenai latar belakang turunnya ayat ini. Satu diantaranya disampaikan oleh Ibn Sa‟d dalam bukunya Al-Ṭabaqat dari Abu Malik. Bahwa istri-istri Rasulullah Saw. pernah keluar malam untuk buang hajat (buang air). Pada waktu itu kaum munafikin mengganggu dan menyakiti mereka. Hal ini diadukan kepada Rasulullah Saw. sehingga beliau pun menegur kaum munafikin. Mereka menjawab: “kami hanya

23Zaitunah Subhan, Al-Qur‟an & Perempuan Menuju Kesetaraan Gender Dalam Penafsiran, (Jakarta: Prenadamedia, 2015), 355.

mengganggu hamba sahaya”. Turunnya Q.S. Al-Ahzāb (33):59 sebagai perintah untuk berpakaian tertutup agar berbeda dari hamba sahaya.24

2. Tafsir Klasik

A. Penafsiran Al-Ṭabarῑ 1) Q.S. Al-Nūr (24):31

Al-Ṭabarῑ dalam tafsirnya menjelaskan firman Allah SWT. : “Dan

janganlah mereka menampakkan perhiasannya”

َّنُىَخنْي ِز َنْي ِدْتُي اَ ل َوَ

maksudnya adalah, janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kepada orang yang bukan mahramnya. Perhiasan ada dua: Pertama, perhiasan yang tidak nampak, seperti: Gelang kaki, kalung dan jenis perhiasan lainya. Kedua, perhiasan yang nampak. Terdapat perbedaan pendapat dalam memaknai ayat ini. Sebagian mengatakan bahwa maksudnya adalah perhiasan baju. Yang berpendapat demikian: Ibn Al- Muṡanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja‟far mencerikan kepada kami, ia berkata: Syu‟bah mencerikan kepada kami dari „Abdullah, tentang ayat,

ا َىْن ِم َر َى َظ ا َم ال ِا َّنُىَخَّ نْي ِز َنْي ِدْتُي اَ ل َوَ

“Dan

janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak darinya” ia berkata, maksudnya adalah baju/pakaian.25

2) Q.S. Al-Ahzāb (33):59

Menurut Al-Ṭabarῑ, Allah SWT. berfirman kepada Nabi Muhammad Saw. Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu, serta keluarga perempuan orang-orang mukmin, janganlah mereka meniru para budak perempuan dalam berpakaian saat keluar dari

24Shaleh, dkk, Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat al-Qur‟an, 443.

25Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir Al-Ṭabarῑ, Jami‟ Al-Bayan an Ta‟wil al-Qur‟an, terj. Ahsan Askan, dkk, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), 101-102.

28

rumah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi, hendaknya mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka. Sebagian berpendapat bahwa maksudnya adalah, menutup wajah dan kepala mereka, sehingga tidak ada yang tampak melainkan satu mata. Sebagaimana riwayat tersebut, dari Ibn „Abbās mengenai firman Allah SWT. “Hai Nabi

katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” berkata, maksudnya adalah Allah SWT. menyuruh

istri-istri Nabi Saw. saat keluar rumah guna suatu keperluan, untuk menutup wajah mereka dari atas kepala dengan jilbab, dan hanya memperlihatkan satu mata.26

B. Penafsiran Al-Qurṭubῑ 1) Q.S. Al-Nūr (24):31

Al-Qurṭubῑ dalam Tafsirnya menjelaskan Allah SWT. memerintahkan kaum perempuan tidak menampakkan perhiasannya terhadap orang-orang yang memandangnya kecuali terhadap orang-orang yang dikecualikan. Itu semua disebabkan kekhawatiran akan terjadinya fitnah. Selanjutnya Allah SWT. mengecualikan perhiasan yang biasa nampak. Menanggapi hal ini Sa‟ῑd bin Jubair berpendapat “perhiasan yang biasa nampak adalah wajah, kedua telapak tangan, dan pakaian”.27

2) Q.S. Al-Ahzāb (33):59

Menurut Al-Qurṭubῑ dijelaskan dalam tafsirnya kebiasaan pada waktu itu para wanita buang air besar di padang sahara yaitu sebelum mereka mempergunakan wc untuk buang air besar. Setelah Q.S. Al-Ahzāb (33):59 ini turun para wanita merdeka dapat dibedakan dengan

26Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir Al-Ṭabarῑ, Jami‟ Al-Bayan an Ta‟wil al-Qur‟an, terj. Ahsan Askan, dkk, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), 248-249.

27Syaikh Imam Al-Qurṭubῑ, Al-Jami‟ li Ahkam Al-Qur‟an, terj. Ahmad Khotib (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), 576-577.

menggunakan kain penutup di kepala mereka untuk membedakan dari wanita hamba sahaya. Firman Allah SWT. َّنِىِتْيِةال َج ْن ِم“Mengulurkan َ

jilbabnya” yakni kat a بْيِةالَجلا adalah bentuk jamak dari kata با َتَ ل ِجْ لا, yang ْ maknanya adalah pakaian yang lebih besar dari sekedar tudung kepala. Diriwayatkan dari Ibn „Abbas dan Ibn Mas‟ud, bahwa makna dari kata با َتل ِجْ لا adalah pakaian panjang atau pakaian kurung atau semacam jubah. ْ Ada yang meriwayatkan bahwa makna kata tersebut adalah penutup kepala yang juga menutup wajah. Pendapat lain juga dikatakan oleh Qatadah, yaitu wanita harus mengikat jilbabnya di atas kepalanya lalu dihubungkan lagi di hidungnya hingga matanya dapat terbuka, namun tetap menutupi sebagian besar wajahnya dan lehernya hingga ke bawah.28

C. Penafsiran Ibn Kaṡῑr 1) Q.S. Al-Nūr (24):31

Ibn Kaṡῑr dalam tafsirnya menjelaskan Sebab turunnya ayat ini seperti yang disebutkan oleh Muqatil bin Ḥayyan, bahwa ia berkata: “telah sampai kepada kami riwayat dari Jabir bin „Abdillah al-Anṣari, ia menceritakan bahwa Asma‟ binti Mursyidah berada di kampung Banῑ Hariṡah. Disitu para wanita masuk menemuinya tanpa mengenakan kain sehingga tampaklah gelang pada kaki-kaki mereka dan tampak juga dada dan rambut mereka. Asma‟ berkata : “sungguh jelek kebiasaan seperti ini.” Lalu turun Q.S. Al-Nūr (24):31 “katakanlah kepada wanita yang beriman,

Hendaklah mereka menahan pandangan mereka”, yakni dari perkara yang

haram mereka lihat, di antaranya melihat kepada laki-laki selain suami mereka. “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali

28

30

yang biasa nampak dari mereka” yakni janganlah mereka menampakkan

perhiasan mereka kepada laki-laki bukan mahram, kecuali perhiasan yang tidak mungkin disembunyikan. „Abdullah bin Mas‟ud mengatakan contohnya kerudung, baju luar yang biasa dikenakan wanita Arab yakni baju kurung yang menutupi seluruh tubuhnya.29

Diriwayatkan juga dari Ṣafiyyah binti Syaibah bahwa „„‟Aisyah ra. pernah berkata, Di saat turun ayat, “Dan hendaklah mereka menutup kain

kerudung ke dadanya”, mereka mengambil kain penutup badan mereka,

kemudian mereka potong kain itu dari bagian ujungnya dan mereka menutupi wajah-wajah mereka dengannya.30

2) Q.S. Al-Ahzāb (33):59

Ibn Kaṡῑr menjelaskan dalam tafsirnya terkait Q.S. Al-Ahzāb (33):59 Allah SWT. berfirman memerintahkan Rasulullah Saw. agar menyuruh para wanita mukmin seluruhnya khusus istri-istri dan anak-anak beliau karena kemuliaan mereka untuk menjulurkan atau menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Tujuannya agar mereka mudah untuk untuk dikenali dari para hamba sahaya perempuan. Al-Jauhari berkata, “jilbab adalah kain yang menutupi seluruh tubuh”31

„Ali bin Abῑ Thalhah menuturkan dari Ibn „Abbās, ia berkata, Allah SWT. memerintahkan para wanita mukmin, bila mereka keluar dari rumah-rumah mereka untuk sebuah keperluan, hendaknya mereka menutupi wajah-wajah mereka dari atas kepala mereka dengan jilbab. Hingga yang tampak dari mereka adalah sebuah mata saja. Muhammad bin Sirin berkata, aku bertanya kepada „Ubaidah Al-Salmani tentang firman Allah SWT. “Hendaknya mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh

29Ibn Kaṡῑr, Lubābut Tafsir Min Ibn Kaṡῑr, terj. Abdulah Ghoffar (Pustaka Imam Al-Syafi‟i) 43-44.

30Ibn Kaṡῑr, Shahih Tafsir Ibn Kaṡῑr jilid 6, (Jakarta: Pustaka Ibn Kaṡῑr, 2017), 376. 31

tubuh mereka” maka „Ubaidah langsung menutup wajah dan kepalanya

serta menampakkan mata kirinya saja. Dijelaskan juga dalam tafsir Ibn Kaṡῑr firman Allah SWT. “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah

untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu” yakni, mereka

menutupkan jilbab ke seluruh tubuh, niscaya akan mudah dikenal bahwa mereka itu adalah wanita-wanita mukmin yang merdeka dan bukan hamba sahaya perempuan.32

3. Tafsir Modern

A. Penafsiran Sayyid Quṭb 1) Q.S. Al-Nūr (24):31

Sayyid Quṭb menerangkan dalam tafsir nya janganlah mereka melepaskan pandangan mereka yang lapar dan liar, atau yang merangsang dan menggoda, sehingga membangkitkan gairah laki-laki. Dan janganlah mereka membolehkan kemaluan mereka kecuali dalam hubungan yang halal dan baik, untuk memenuhi panggilan fitrah dalam suasana yang bersih, sehingga anak-anak yang lahir darinya tidak malu mengahadapi masyarakat dan kehidupan.

ا َىْن ِم َر َى َظ ا َم ال ِا َّنُىَخَّ نْي ِز َنْي ِدْتُي اَ ل َوَ

“..Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya..” Q.S. Al-Nūr (24):31

Dijelaskan oleh Sayyid Quṭb maksudnya perhiasan dihalalkan bagi wanita, untuk memenuhi panggilan fitrahnya. Karena setiap wanita ingin terlihat cantik dan suka tampil cantik yakni keinginan untuk memperoleh kecantikan atau menyempurnakan dan menampakkannya kepada laki-laki, Islam tidak menentang keinginan fitrah ini, tetapi Islam hanya mengatur dan mengontrolnya dan menjadikannya khusus untuk satu laki-laki yaitu

32

32

pasangan hidupnya dimana ia bisa melihat dari wanita itu apa yang tidak bisa dilihat orang lain.33

Mengenai kecantikan yang tampak di wajah dan kedua tangan, hal itu boleh diperlihatkan, karena memperlihatkan wajah dan tangan itu hukumnya mubah berdasarkan sabda Rasulullah SAW kepada Asma‟ binti Abu Bakar:

“Wahai Asma‟, sesungguhnya wanita itu bila sudah mencapai usia haid maka ia tidak bolh terlihat kecuali yang ini-lalu beliau menunjuk kepada wajah dan kedua telapak tangan beliau”

ََّّۖنِىِة ْيُيُج ىٰلَع َّنِو ِرُمُخ ِب َنْة ِر ْضَيل َو ْ

“..Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya..”

Q.S. Al-Nūr (24):31.

Kata juyub adalah jamak dari kata jaib yang berarti lobang di leher pakaian. Kata khumur berarti penutup kepala, dan kata nahr berarti dada. Perintah ini untuk menutupi bagian-bagian yang mengundang fitnah, sehingga tidak terlihat oleh mata yang liar. Wanita-wanita mukminah yang menerima larangan ini dan hati terpancari cahaya Allah SWT tidak menunda sedikit pun dalam menaatinya, meskipun secara fitrah mereka ingin memperlihatkan perhiasan dan kecantikan. Ketika Allah SWT memerintahkan kaum wanita untuk menutupkan kerudung mereka ke dada dan tidak memperlihatkan perhiasan kecuali yang biasa tampak, maka mereka merobek jubbah mereka dan menjadikannya kerudung.

Islam mengangkat citarasa masyarakat Islam dan mensucikan rasa mereka terhadap keindahan, sehingga keindahan yang disukainya tidak berkarakter hewan melainkan karakter insani, karena keindahan telanjang

33Sayyid Quṭb, Tafsir Fi Ẓilalil Qur‟an, terj M. Misbah (Jakarta: Robbani Press), 2009, 924.

tubuh merupakan keindahan hewani. Sedangkan keindahan kerudung merupakan keindahan yang bersih, mengangkat estetika menjadikannya pantas bagi manusia dan meliputinya dengan kebersihan dan kesucian. Demikianlah yang dilakukan Islam pada saat ini kepada kaum wanita yang beriman menutup bagian tubuh mereka yang mengundang fitnah dengan taat, di tengah masyarakat yang membuka aurat. Kerudung merupakan salah satu sarana preventif bagi individu dan masyarakat, Al-Qur‟an membolehkan melepas kerudung ketika aman dari fitnah dengan mengecualikan seperti ayah, ibu, anak, mertua, suami, saudara laki-laki, anak dari saudara laki-laki dan perempuan.34

2) Q.S. Al-Ahzāb (33):59

Sayyid Quṭb menjelaskan terkait ayat tersebut dalam tafsirnya Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW agar menyuruh istri-istri beliau, putri-putri beliau dan istri-istri kaum mukminin secara umum untuk menutupi tubuh, kepala, dan jaib belahan baju bagian dada dengan jilbab yang rapat jika mereka keluar rumah. Sehingga model pakaian ini membuat mereka berbeda dengan orang lain dan menjadikan mereka aman dari keusilan orang-orang fasik.

Mengenai ayat ini, Al-Sudi berkata, “beberapa orang fasik madinah keluar di malam hari ketika sudah gelap. Mereka keluar ke jalan-jalan di Madinah. Bila malam tiba, kaum wanita pergi ke jalan untuk menunaikan hajat mereka. Orang-orang fasik itu mengambil kesempatan untuk mengganggu mereka, apabila mereka melihat seorang wanita memakai jilbab, maka mereka berkata, „Ini wanita merdeka‟, sehingga mereka segan menggodanya. Dan apabila mereka melihat wanita yang tidak memakai jilbab, maka mereka berkata, „Ini adalah hamba sahaya‟. Dan mereka pun menggodanya”.

34

Mujahid berkata, “mereka memakai jilbab sehingga dikenali sebagai wanita merdeka. Karena itu, tidak seorang fasik pun yang berani mengganggu dan menggodanya”. Bisa dilihat usaha dalam membersihkan lingkungan arab untuk menghilangkan setiap faktor penyebab fitnah dan kekacauan. Dan firman Allah SWT, “Dan Allah SWT adalah maha

pengampun lagi maha penyayang” maksudnya Allah SWT mengampuni

dosa yang telah lalu di masa-masa Jahiliyah ketika mereka tidak mengetahuinya.35

4. Tafsir Kontemporer A. Penafsiran Buya Hamka 1) Q.S. Al-Nūr (24):31

Buya hamka menjelaskan ayat tersebut sebagai peringatan kepada perempuan, selain menjaga penglihatan mata dan memelihara kemaluan, di tambah janganlah diperlihatkan perhiasan mereka kecuali yang nyata saja. Cincin di jari, muka dan tangan, itulah perhiasan yang nyata. Artinya yang sederhana dan tidak menyolok dan menggiurkan. Kemudian dijelaskan pula bahwa hendaklah selendang (kudung) yang telah memang tersedia ada di kepala itu ditutupkan kepada dada. Buya Hamka menerangkan memang amatlah sulit menerima anjuran ini bagi orang yang lebih tenggelam kepada pergaulan modern. Kehidupan modern adalah pergaulan yang amat bebas diantara laki-laki dan perempuan pintu-pintu buat mengganggu syahwat dibuka selebar-lebarnya. Dalam ayat ini wanita beriman akan menutup/membawa ujung selendangnya ke dadanya supaya jangan terbuka, karena ini akan menimbulkan minat laki-laki dan menyebabkan kehilangan kendali mereka atas diri mereka.36

2) Q.S. Al-Ahzāb (33):59

35Sayyid Quṭb, Tafsir Fi Ẓilalil Qur‟an, 975-976. 36

Menurut Buya Hamka dalam tafsirnya masyarakat Islam itu ditentukan bentuknya agar berbeda dengan masyarakat jahiliyah terutama pakaian perempuan yang menunjukkan adab sopan santun yang tinggi. Sebelum Q.S. Al-Ahzāb (33):59 turun tidak berbeda pakaian perempuan Islam dengan perempuan musyrik, budak perempuan dan perempuan merdeka. Di dalam ayat ini Rasulullah Saw. diperintahkan oleh Tuhan supaya memerintahkan pula kepada istri-istrinya, anak-anaknya yang perempuan dan istri-istri orang yang beriman. Supaya kalau mereka keluar dari rumah hendaklah memakai jilbab. Buya Hamka menjelaskan bagaimana jilbab di Indonesia ketika beliau datang ke Tanjung Pura Langkat dan Pangkalan Berandan dalam tahun 1926 mendapati kaum perempuan di sana memakai jilbab yaitu kain sarung ditutupkan ke seluruh badan hanya separuh muka saja yang kelihatan. Ketika wanita-wanita keluar rumah hendak menemui keluarga di rumah yang lain, mereka tetap menutup seluruh tubuh dengan kain dan salah satu dari tangannya memegang kain di muka, sehingga hanya separuh yang terbuka, bahkan yang terlihat hanya mata saja. Seketika Buya Hamka datang ke Makassar pada tahun 1931 sampai 1934, perempuan-perempuan yang berasal dari Salayer berbondong-bondong pergi ke tempat mereka jadi buruh harian memilih kopi di gudang-gudang pelabuhan Makassar, semuanya memakai jilbab, persis seperti di Tanjung Pura Langkat dan ketika pergi ke Bhima pada tahun 1956 Buya Hamka masih mendapati perempuan di Bhima jika keluar dari rumah berselimutkan kain sarung seperti di Tanjung Pura Langkat 1927 dan di Makassar 1931.37

B. Penafsiran M. Quraish Shihab 1) Q.S. Al-Nūr (24):31

36

Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan perintah ini ditujukan untuk disampaikan keapada wanita-wanita mukminah. Ayat ini menyatakan: katakanlah kepada wanita-wanita

mukminah: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka sebagaimana perintah kepada kaum pria

mukmin untuk menahannya, dan di samping itu janganlah mereka

menampakan hiasan yakni bagian tubuh mereka yang dapat merangsang

lelaki kecuali yang biasa nampak darinya atau yang biasa terlihat, seperti wajah dan telapak tangan.38

Menjadi salah satu perhatian adalah larangan menampakkan zinah (hiasan) َّنُىَخنْي ِز َنْي ِدْتُي اَ ل َو yang dikecualikan oleh ayat di atas dengan َ menggunakan redaksi ا َىْن ِم َر َى َظ ا َم ال ِاَّ illā mā zhahara minhā (kecuali yang biasa nampak darinya) bahwa zinah disini berarti hiasan bukan zina yang artinya hubungan seks yang tidak sah. Sedangkan hiasan adalah segalah sesuatu yang digunakan untuk memperelok memakai emas dan perhiasan lainnya.39

M. Quraish Shihab dalam bukunya jilbab, pakaian wanita muslimah menerangkan jika merujuk kepada teks ayat tersebut, kita menemukan bahwa Q.S. Al-Nūr (24):31 di atas hanya memerintahkan menutup dada dengan penutup kepala (kerudung) yang selama ini mereka pakai, dan yang ketika itu mereka belum lagi menggunakannya menutup dada. Sementara orang berpendapat bahwa sebenarnya rambut wanita tidaklah wajib ditutup, karena ayat tersebut tidak menerangkannya. Ayat tersebut

38M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an), (Jakarta: Lentera Hati, 2010), 526.

39M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan Pustaka, 2013), 230.

hanya menekankan perlunya menutup dada. Apapun yang digunakan menutup dada, apakah kerudung atau tanpa kerudung, selama dada telah tertutup, maka itu sudah benar.40

2) Q.S. Al-Ahzāb (33):59

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan Sebelum turunnya ayat ini, cara berpakaian wanita merdeka atau budak, yang baik-baik atau yang kurang sopan, hampir dapat dikatakan sama. Karena itu, lelaki usil sering sekali mengganggu wanita-wanita. Khususnya yang mereka ketahui atau duga sebagai hamba sahaya. Untuk menghindarkan gangguan tersebut serta menampakkan keterhormatan bagi wanita muslimah.41

Dijelaskan oleh Muhammad Ṭahir bin „Asyur sebagaimana dinukil M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur‟an Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, Seorang ulama besar dari Tunis, menulis dalam

Māqaṣid Al-Syarῑ‟ah. di dalam Al-Qur‟an dinyatakan Q.S. Al-Ahzāb

(33):59 ini adalah ajaran yang mempertimbangkan adat orang-orang Arab, sehingga bangsa-bangsa lain yang tidak menggunakan jilbab, tidak memperoleh bagian (tidak berlaku bagi mereka) ketentuan ini. Cara memakai jilbab berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan wanita dan adat mereka. Tetapi tujuan perintah ini adalah seperti bunyi ayat yakni

“agar mereka dapat dikenal (sebagai wanita Muslim yang baik) sehingga

tidak diganggu.42

40M. Quraish Shihab, Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah, (Tangerang: Lentera Hati, 2010), 242-243.

41M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an), 533.

42M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan Pustaka, 20113), 236-237.

38

Dokumen terkait