BAB II TINJAUAN HUKUM PERSAINGAN USAHA
B. Sejarah dan Perkembangan Hukum Persaingan Usaha
Lahirnya Undang-Undang 5/1999 menjadi cikal bakal lahirnya Hukum Persaingan Usaha di Indonesia. Hadirnya cabang hukum ini dalam tatanan hukum perekonomian Indonesia merupakan langkah represif dari terjun bebasnya perekonomian negara-negara asia tenggara pada ahkir masa orde baru. Indonesia mau tidak mau menormakan pengaturan tentang persaingan usaha dalam hukum positifnya. Berbeda dengan Indonesia, beberapa negara lain telah memiliki visi akan urgensi hukum antimonopoli sehingga telah memiliki hukum antimonopoli di negaranya. Berikut ini akan dibahas sejarah dan perkembangan hukum antimonopoli di beberapa negara.
1. Amerika Serikat
Secara historis, selaku negara penganut common law Amerika Serikat telah memiliki preseden terhadap penegakan hukum persaingan usaha. Hukum persaingan usaha (Antitrust Law) di Amerika Serikat telah dikenal sejak lama, bahkan telah ada sebelum berlakunya Sherman Act pada tahun 1890, di mana pengadilan Amerika Serikat telah memberikan putusan-putusan mengenai larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat berdasarkan common law.43 Lahirnya undang-undang berkenaan dengan antitrust di Amerika Serikat pada dasarnya merupakan reaksi terhadap keluhan-keluhan
43 Hermansyah, Pokok-Pokok Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2008). hlm.137-138.
masyarakat atas atas praktik-praktik trust. Pada akhir abad ke-19-an di Amerika Serikat banyak praktik bisnis yang berwujud monopoli pada perusahaan-perusahaan yang mendominasi bidang manufakturing dan pertambangan ataupun perusahaan-perusahaan dalam bentuk holding company. Pengertian trust berasal dari peristilahan hukum yang berkaitan dengan penyatuan usaha (business incorporation) yang disebut trusteeship, yang melakukan aktivitas berupa kontrol atas usaha dan industri secara terkonsolidasi dengan melalui penguasaan atas saham-saham sebagai hasil pertukarannya dengan bentuk sertifikat trust (trust certificate).44
Sebagai wujud perlindungan terhadap kepentingan masyarakat atas praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di Amerika, pengadilan telah memutus beberapa perkara berkenaan dengan itu, dari bidang perdagangan gula sampai daging sapi, proses merger dan konsolidasi berlangsung dan membawa seluruh industri menjadi berada di bawah kontrol kekuasaan segelintir “orang kuat”. Minyak dan baja, yang menjadi tulang punggung industri berat Amerika Serikat berada di bawah penguasaan raksasa bisnis Jhon D. Rockfelfer dan J.P Morgan. Kesepakatan trust di antara mereka dapat menentukan harga pada setiap tingatan.45 Kasus lainnya yang menandai hadirnya antitrust law di Amerika Serikat adalah Kasus Mitchel v Reynold yang menjadi cikal bakal prinsip Rule of Reason lahir.
44 Ibid.,hlm.38.
45 Ibid.,hlm.39
Amerika Serikat dalam hukum positifnya mengenal undang-undang antitrust yang berkembang dalam kurun waktu 100 (seratus) tahun dimulai sejak tahun 1890 yakni sebagai berikut:
a. Act to Protect Trade and Commerce Againts Unlawful Restraints and Monopolies 1890 (Sherman Act)
Sherman Act merupakan produk undang-undang antitrust pertama di Amerika Serikat sebagai jawaban atas permasalahan persaingan usaha tidak sehat. Lahirnya undang-undang ini tentu bertubrukan dengan sistem hukum common law yang tunduk pada preseden bukan undang-undang. Oleh sebab itu, dalam penegakan undang-undang ini pengadilan diberikan kewenangan yang luas untuk melarang perilaku bisnis tertentu46, hal ini untuk tetap mengoptimalkan peranan peradilan dalam memberantas praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Antitrust Law dianalogikan sebagai Magna Charta47 dalam dunia perdagangan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat. Hak atas persaingan usaha yang sehat dalam dunia bisnis disetarakan dengan hak asasi manusia dalam kehidupan ketatanegaraan. Hal ini menunjukkan bagaimana persaingan usaha dijunjung tinggi dalam hukum negara ini.
46Susanti Adi Nugroho, Op.Cit. hlm.29.
47Magna Carta, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Magna_Carta pada tanggal 06 Januari 2017 pukul 16.21 WIB. Magna Carta adalah piagam yang dikeluarkan di Inggris pada tanggal 15 Juni 1215 yang membatasi monarki Inggris, sejak masa Raja John, dari kekuasaan absolut.
b. Act to Supplement Existing Laws Againts Unlawful Restraints and Monopolies 1914 (Clayton Act)
Implementasi Sherman Act banyak mengalami tubrukan dengan lembaga peradilan. Clayton Act diundangan guna meluruskan dan melengkapi antitrust law di Amerika Serikat terutama terhadap praktik-praktik yang bersifat ofensif (offensive practices) termasuk price discrimination.48 Menurut Clayton Act, ada 4 (empat) tindakan yang dianggap merupakan praktik-praktik bisnis yang masuk ke dalam kategori praktik bisnis yang secara substansial mengurangi persaingan atau cenderung menciptakan monopoli diantaranya:49
1) Melakukan tindakan diskriminasi harga (Price Discrimination) (Pasal 2).
2) Pengikatan kontrak dan perjanjian eksklusif (tying and sales and exclusive dealings) (Pasal 3).
3) Melakukan merger, yakni penggabungan perusahaan yang menimbulkan monopoli (mergers with or acquisitions of competitors) (Pasal 7).
4) Interlocking directorates, yakni menduduki jabatan direksi yang merangkap pada satu atau lebih perusahaan yang saling bersaing (Pasal 8).
c. Act to Create a Federal Trade Commission, to Define Its Power and Duties, For Other Purposes 1914 (Federal Trade Commission Act)
Federal Trade Commission (FTC) adalah lembaga sejenis KPPU di Amerika Serikat. Eksistensi dan lahirnya lembaga ini dipelopori melalui melalui undang-undang ini. Menurut The Federal Trade Commission Act, FTC adalah suatu badan (agency)
48 Hermansyah, Op.Cit. hlm.31.
49 Susanti Adi Nugroho, Op.Cit. hlm.32
yang diberi wewenang baik untuk melakukan investigasi maupun untuk menangani kasus-kasus pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan antitrust laws.50 Produk hukum ini memberikan gambaran mengenai struktur FTC, tugas-tugas dan kewenangan FTC, serta mekanisme kerja lembaga ini dalam melaksanakan pengawasan terhadap jalannya Sherman Act dan Clayton Act.
d. Robinson Patman Act 1934
Robinson Patman Act hadir untuk memperkuat ketentuan price discrimination yang diatur dalam Clayton Act. Undang-undang ini menegaskan, “Prohibit special discount and other discriminatory concession to large purchase unless based on differences in cost or offered in good faith to meet an equally low proice of competitor” dimana segala bentuk dikriminasi harga dilarang untuk mempertahankan dan melindungi kegiatan usaha pelaku usaha kecil dan menengah dari tindakan anti persaingan yang dilakukan oleh pelaku usaha yang lebih besar.
e. Celler-Kefauver Antimerger Act 1950
Pada tahun 1950 kongres AS mengesahkan Celler-Kefauver Antimerger Act untuk membatasi kecenderungan pemusatan kekuatan pasar. Undang-undang ini melarang merger baik antara perusahaan-perusahaan yang bersaing (horizontal) maupun antara pemasok dan pengguna (vertikal).
50 Ibid., hlm.33
f. Hart-Scott-Rodino Antitrust Improvement Act 1976
Undang-undang ini mengakomodir ketentuan lebih lanjut berkenaan dengan pelaksanaan merger oleh pelaku usaha dalam lingkup usaha vertikal maupun horizontal. Ketentuan mengenai kewajiban notifikasi dapat ditemukan di dalam HartScott-Rodino Antitrust Improvement Act dimana ditentukan bahwa merger yang memenuhi threshold tertentu wajib melakukan pemberitahuan kepada otoritas yang berwenang sebelum proses merger dilaksanakan. Lembaga berwenang, dalam hal ini yakni Federal Trade Commission (FTC) dan Department of Justice (DOJ) melakukan penilaian berdasarkan ketentuan Horizontal Merger Guidelines (04/02/1992, revised 04/08/1997) dan Non-Horizontal Merger Guidelines (06/14/1984)47 sebagai pelaksana dari amanat Pasal 1 The Sherman Act 48 dan Pasal 7 Clayton Act.51
g. International Antitrust Enforcement Assistance Act 1994
Lahirnya undang-undang ini memberikan mandat kepada Departemen Kehakiman dan Badan Perdagangan Federal (FTC) AS untuk mengadakan kerja sama dengan para penegak hukum negara-negara lain yang berminat dalam usaha mengatasi persaingan usaha tidak sehat, dalam berbagai bentuknya. Undang-undang ini antara lain memungkinkan dibangunnya kerja sama
51 Sonya Monica, Implementasi Ketentuan Notifikasi Penggabungan, Peleburan, Dan Pengambilalihan Badan Usaha Dalam Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia, diakses dari
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20296497-T%2030220-Implementasi%20ketentuan-full%20text.pdf pada tanggal 07 Januari 2017 Pukul 01.39 WIB.
dengan negara lain guna memberikan data-data atau bukti-bukti yang dimiliki oleh Departemen Kehakiman dan FTC.
2. Jepang
Hukum persaingan usaha di Jepang dikenal dengan nama Dokusen Kinshiho atau Antimonopoly Law yang diundangkan melalui Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1947 Tentang Law Relating to Prohibition of Profit Monopoly and Methods of Preserving Fair Trade tanggal 14 April 1947 yang terakhir kali diamandemen pada 6 April 1991. Sama halnya dengan AS, Jepang juga memiliki lembaga khusus yang menangani berjalannya undang-undang ini yakni Fair Trade Commission (FTC). Pelaku usaha yang melakukan kegiatan usaha di Jepang yang melibatkan pihak asing dari negara lain wajib melakukan pemberitahuan atau notifikasi kepada FTC dalam kurun waktu 30 hari sejak tanggal perjanjian yang bersangkutan. Hal ini berlaku untuk kontrak internasional tertentu yang diatur dalam undang-undang antimonopoly law Jepang.
Beberapa ketentuan antimonopoly law Jepang antara lain:
1) Melarang private monopolization52
2) Melarang unreasonable restraint of trade53
52 Pasal 2 ayat (3) UU Antimonopoli Jepang, Private Monopolization is business activities, by which any entrepreneur, individually or by combination, conspiracy, or with any other manner with other entrepreneur excludes or controls the business activities of other entrepreneurs, thereby causing, contrary to the public interest, a substantial restraint of competition in any particular field of trade.
53 Pasal 2 ayat (6) UU Antimonopoli Jepang, unreasonable restraint of trade is business activities by which any entrepreneur, by contract, agreement, or any other form, in conjunction with other entrepreneur, mutually restrict their business activities to fix, mantain, or enhance prices, or to limit production, technology, products, facilities, or another party to trade ect., or executes such activities, thereby causing, contrary to the public interest, a substantial restraint of competition in any particular field of trade.
3) Melarang unfair business practice54 3. Jerman
Sejak tahun 1869 Jerman telah mengalami industrialisasi dan liberalisasi ekonomi, hingga pada 1870 dirasakan bahwa kartel adalah suatu permasalahan yang sulit untuk ditumpaskan. Kartel yang berdasarkan berjanjian bernaung pada ketentuan kebebasan berkontrak sehingga tidak banyak yang dapat dijalankan dalam penerapan hukum persaingan (gewerbeordnung). Secara historis, pemberlakuan hukum persaingan usaha di Jerman terhalangi oleh yurisprudensi manakala pada tahun 1897 Reichgericht (Pengadilan tertinggi di Jerman pada waktu itu) memutuskan bahwa kartel tidak mengahalangi hak orang lain untuk berusaha. Akibatnya kartel menguasai Jerman bahkan sampai ketika perang dunia I.55 Hukum antimonopoli di Jerman diwarisi dari Undang-Undang Melawan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Gezetz gegen Wettbewerbsbeschrankungen/GWB) atau Act Againts Unfair Competition yang awalnya dianut oleh Jerman Barat dan diundangkan pada 1909 yang disahkan berlaku di seluruh Jerman pada tahun 1957. Saat ini dikenal dengan Undang-Undang Kartel (Kartel
54Pasal 2 ayat (9) UU Antimonopoli Jepang, Unfair business practices is business practicrs as designated by the Fair Trade Commission out of those endangering fair competition and coming under any one (1) of the following item:
(1) To unjustly discriminate the other entrepreneurs;
(2) To deal with under prices;
(3) To unreasonably induce or coerce costumers of a competitor to deal with one self;
(4) To undertake transaction with another party, the condition of which is to unjustly restrict the business activities of the said party;
(5) To trade with an0other party by unjustly making use of one’s position in the transaction; and (6) To unjustly interfere with the transaction between the otherentrepreneurs who compete in
Japan with one self or with the company in which he is a stockholder or an officer, and their party or parties, or to unduly induce, instigate, or coerce a stockholer or an officer of a company to act disadvantageously on the part of the said company in case where the said entrepreneur is a company.
55 Susanti Adi Nugrohi, Op.Cit. hlm.46
Act). Untuk melakukan pengawasan atas berjalannya undang-undang ini, Jerman membentuk lembaga independen di bawah Kementerian Ekonomi Federal, yang disebut dengan Bundeskartellamt atau Federal Cartel Office atau Badan Antikartel. Badan Antikartel adalah pengadilan tingkat pertama di Jerman yang keberatan atas putusannya dapat diajukan ke Pengadilan Tinggi, lalu kasasi ke Mahkamah Agung.
Selain Badan Anti kartel terdapat empat lembaga lagi yang memiliki kewenangan dalam proses penegakan hukum persaingan usaha. Badan Antikartel sendiri bertanggungjawab terhadap pengontrolan merger dan penyalahgunaan posisi dominan. Kemudian terdapat Kementerian Ekonomi Federal (The Federal Ministry of Economics), Kantor Kartel Daerah (Supreme Land Authorities), Komisi Monopoli (Monopoly Commission) dan Pengadilan.56 Lembaga-lembaga ini saling berkordinasi dalam penegakan hukum persaingan usaha di Jerman.
4. Indonesia
Indonesia yang berada di bawah kepemimpinan Soeharto selama lebih dari tiga dekade sedikit banyak telah memberikan posisi dominan bagi pelaku usaha kroninya untuk memonopoli industri dan menjadi pioner dalam industri yang dikelolanya. Sejak tahun 1970-an gagasan untuk membentuk undang-undang antimonopoli di Indonesia telah muncul. Dominansi Pemerintah yang berlebihan tampak pasca naiknya harga minyak pada tahun 1970-an yang meningkatkan penerimaan Pemerintahan Indonesia secara substansial, sehingga
56 Ibid., hlm.50
memungkinkannya memainkan peranan yang besar dalam ekonomi melalui BUMN. Namun, dominansi ini justru menjadi kesalahan yang baru disadari kala turunnya harga minyak pada tahun 1980-an. BUMN tidak dapat bertahan sendiri menghalau hal ini, sehingga seluruh perekonomian di sektor perminyakan tidak akan stabil manakala hanya dikendalikan oleh satu atau dua pelaku usaha saja. Kesadaran akan pentingnya persaingan pun muncul, hingga pada tahun 1980-an Pemerintah melakukan reformasi/liberalisasi di bidang perbankan dan investasi luar negeri langsung. Reformasi dan liberalisasi ini diarahkan pada peningkatan mobilisasi dana dari masyarakat dan peningkatan arus masuk modal luar negeri.57 Pada awal tahun 1980, interpretasi liberalisme dan kompetisi selalu dikaitkan dengan etatisme atau persaingan bebas (free fight competition). Hal ini merupakan langkah awal perekonomian Indonesia menuju sistem ekonomi pasar.
Kemudian pada tahun 1992 Indonesia menandatangani Asean Free Trade Agreement (AFTA) yang menjadi cikal bakal keikutsertaan Indonesia dalam perdagangan bebas Internasional.
Sebuah undang-undang yang secara khusus mengatur tentang persaingan dan antimonopoli sudah sejak lama dipikirkan oleh para pakar, partai politik, lembaga swadaya masyarakat, serta instansi pemerintah. Pernah suatu ketika, Partai Demokrasi Indonesia di tahun 1995 membuat konsep Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang antmonopoli. Sebuah RUU tentang persaingan sehat di bidang
57 Pande Radja Silalahi, “Undang-Undang Antimonopoli dan Perdagangan Bebas”, Jurnal Hukum Bisnis, 19, (Jakarta Juni 2002), hlm.15.
perdagangan juga dibuat oleh Departemen Perdagangan berkerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Namun, tidak satupun yang sesuai dengan political will dari elit politik yang berkuasa pada masa itu.
Krisis moneter di Indonesia berimbas pada krisisnya nilai tukar rupiah dan membengkaknya hutang luar negeri Indonesia. Oleh sebab itu, sebagai syarat peminjaman dana talang dari IMF, disyaratkan bagi Indonesia agar melakukan kebijakan dan deregulasi moneter. Salah satunya adalah dengan menghadirkan undang-undang antimonopoli yang diundangkan dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat pada tanggal 5 Maret 1999. Undang-undang ini mengisyaratkan dibentuknya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) paling lama 1 (satu) tahun sejak undang-undang ini diundangkan. Transformasi yang besar terjadi dalam perekonomian di Indonesia. Hadirnya hukum persaingan usaha di Indonesia membuka babak baru dalam penegakan hukum di Indonesia. Namun, hal ini bukan menjadi jaminan bahwa praktek monopoli dapat musnah seketika dari bumi Indonesia. Hingga hari ini KPPU tercatat telah menerima 2.537 laporan sejak tahun 2000 dan hingga 2016 telah menangani 348 perkara dan akan terus bertambah seiring dengan perkembangan perekonomian di Indonesia.58 Peran aktif berbagai pihak dalam memerangi persaingan usaha tidak
58 Dinda Audriene, “KPPU: 73 Persen Kasus Persaingan Usaha Terkait Tender” diakses dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170530161137-92-218340/kppu-73-persen-kasus-persaingan-usaha-terkait-tender pada tanggal 19 januari 2017 Pukul 15.31 WIB.
sehat dan anti kompetisi sangat diperlukan guna menjamin tercapainya ekonomi kerakyatan sebagaimana diamanatkan konstitusi RI.
C. Pendekatan Teoritis dalam Hukum Persaingan Usaha
Sejarah hukum antimonopoli mencatat terdapat berbagai macam teori hukum antimonopoli, seperti teori keseimbangan (balancing), teori output analysis, teori market power analysis, teori ancillary restraint, teori per se, serta teori rule of reason.59 Teori-teori ini dipergunakan dalam mengenali hambatan (restraint) dalam suatu proses persaingan. Hambatan yang terjadi ada yang mutlak bersifat menghambat persaingan dan ada yang mempunyai pertimbangan dan alasan ekonomi.60 Sehingga dengan pertimbangan ataupun rasionalisasi ekonomi, maka hambatan tersebut dapat dinyatakan menciptakan hambatan dalam proses persaingan. Namun, dalam perkembangannya terdapat 2 (dua) teori yang cenderung menjadi perdebatan dalam penegakan hukum persaingan usaha, yakni teori Per se Illegal dan Rule of Reason. Konsep ini pula yang dipergunakan dalam hukum persaingan usaha di Indonesia.
1. Per se Illegal
Larangan-larangan yang bersifat Per Se adalah larangan yang bersifat jelas, tegas dan mutlak dalam rangka memberi kepastian bagi para pelaku usaha.61 Larangan ini bersifat tegas dan mutlak disebabkan perilaku yang sangat mungkin merusak persaingan
59 Munir Fuady, Hukum Anti Monopoli: Menyingsong Era Persaingan Sehat, (Bandung:
Citra Aditya Bakti, 2000), hlm.35.
60 Ningrum Natasya Sirait A, Op.Cit. hlm.72.
61 Mustafa Kamal, Hukum Persaingan Usaha: Teori dan Prakteknya di Indonesia.
(Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2015), hlm.72.
sehingga tidak perlu lagi melakukan pembuktian akibat dari perbuatan tersebut. Dalam ukuran Per Se Illegal maka pihak yang menuduh melakukan pelanggaran hanya harus membuktikan bahwa tindakan itu benar dilakukan tanpa harus membuktikan efek atau akibatnya.62 Hambatan mutlak tujuan ekonominya adalah untuk membatasi atau menghambat kebebasan ekonomi pihak lain. Contohnya adalah penetapan harga, dimana tidak terdapat alasan pembenaran kecuali persetujuan bertujuan menghambat persaingan. Pada saat para pihak setuju untuk membatasi kebebasan mereka dalam berusaha dan mengelakkan persaingan, maka dapat dikategorikan sebagai hambatan mutlak.63
Berdasarkan pendekatan Per Se Illegal, maka suatu perbuatan atau kegiatan yang dilakukan pelaku usaha dikatakan sebagai perbuatan atau kegiatan yang dilarang dalam hukum persaingan usaha, dikarenakan dari awal secara yuridis perbuatan atau kegiatan tersebut dikatakan oleh hukum sebagai perbuatan atau kegiatan yang melawan hukum (unlawful).64 Ketentuan yang bersifat Per Se Illegal, apabila ditinjau dari perspektif pelaku usaha cenderung memberikan kepastian hukum dalam penegakan hukum persaingan usaha. Secara umum, hukum anti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di beberapa
62 Ningrum Natasya Sirait B, Asosiasi & Persaingan Usaha Tidak Sehat, (Medan:
Pustaka Bangsa Press, 2003), hlm.103.
63 Ningrum Natasya Sirait A, Op.Cit. hlm.74.
64 Rachmadi Usman, Op.Cit. hlm.97.
negara menetapkan perbuatan yang termasuk dalam per se dalam dua hal yakni:65
a. Penetapan harga secara horizontal (horizontal price fixing)
Penetapan harga secara horizontal adalah penerapan harga yang dilakukan pelaku usaha yang memproduksi atau menjual produk atau jasa yang sama baik dalam menaikkan harga, mengatur, mematok harga dari barang-barang atau jasa. Penetapan harga yang dilarang termasuk pula menetapkan harga minimum atau maksimum atau menetapkan jumlah produksi barang atau jasa yang boleh diproduksi.
b. Perjanjian yang bersifat Eksklusif atau Memboikot Pihak Ketiga (Group Boycotts or Exclusionary Crovisions)
Pemboikotan terjadi jika dua atau lebih pelaku usaha dari suatu bagian atau penyalur tertentu mengadakan perjanjian dengan pelaku saha pesaingnya untuk tidak menyediakan barang atau jasanya kepada pelaku usaha tertentu.
Secara sederhana, klasifikasi norma yang mengandung konsep Per se Illegal dalam Undang-Undang Nomor 5/1999 dapat dilihat dengan ditemuinya klausul “dilarang....” dan tanpa anak kalimat “yang mengakibatkan...”. Adapun beberapa ketentuan yang mengandung konsep Per Se Illegal dalam Undang-Undang Nomor 5/1999 adalah sebagai berikut:
a. Penetapan Harga (Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 6) b. Pemboikotan (Pasal 10)
c. Perjanjian Tertutup (Pasal 15) d. Persekongkolan (Pasal 24) e. Posisi Dominan (Pasal 25) f. Pemilikan Saham (Pasal 27)
65 Mustafa Kamal, Op.Cit. hlm.75.
2. Rule of Reason
Rule of Reason adalah suatu pendekatan yang dipergunakan oleh KPPU untuk membuat evaluasi mengenai akibat suatu perjanjian atau kegiatan tertentu, apakah perbuatan atau kegiatan tersebut telah menimbulkan akibat yang disebutkan oleh Undang-Undang Nomor 5/1999.66 Pendekatan Rule of Reason adalah kebalikan dari Per Se Illegal.67 Jika berdasarkan pendekatan Per Se Illegal suatu perjanjian atau kegiatan yang dilarang karena undang-undang tidak memerlukan pembuktian akibat dari perjanjian atau kegiatan yang dilakukan pelaku usaha itu. Sebaliknya, berdasarkan pendekatan Rule of Reason, maka suatu perjanjian atau kegiatan dilarang hanya apabila perjanjian atau kegiatan yang dilakukan pelaku usaha mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.68 Perjanjian atau kegiatan tertentu dinyatakan Illegal, setelah melakukan evaluasi ekonomis mengenai akibat terhadap persaingan. Misal kata patut diduga atau yang dapat “mengakibatkan....”.69 Mengenai karakteristik Rule of Reason, keunggulan yang pertama adalah memberiikan kesempatan kesempatan untuk dilakukannya interpretasi. Pendekatan ini juga dijamin akurasinya karena memang ada beberapa prosedur yang harus dilewati antara lain membuktikan pangsa pasar, membuktikan apa itu pasar terkait dan membuktikan apakah kegiatan
66 Ningrum Natasya Sirait dkk, Ikhtisar Ketentuan Persaingan Usaha (Jakarta: The Indonesia Netherlands National Legal Reform Program, 2010), hlm.172.
67 Mustafa Kamal Rokan, Op.Cit. hlm.78.
68 Rachmadi Usman, Op.Cit. hlm.94.
69 Mahka
mah Agung RI dan Pusat Pengkajian Hukum. Prosiding Rangkaian Lokakarya Terbatas Masalah-Masalah Kepailitan dan Wawasan Bisnis Lainnya: Undang-Undang No.5/1999 dan KPPU, (Jakarta: Pusat Pengkajian Hukum, 2004), hlm.89.
tertentu menghambat/mendorong persaingan. Namun, demikian Rule of Reason juga mengandung beberapa kelemahan yakni proses pembuktian yang lama dan biaya yang besar.70 Dalam Undang-Undang Nomor 5/1999 terdapat 18 (delapan belas) Pasal yang menggunakan metode pendekatan Rule of Reason.71 Penerapan Per Se
tertentu menghambat/mendorong persaingan. Namun, demikian Rule of Reason juga mengandung beberapa kelemahan yakni proses pembuktian yang lama dan biaya yang besar.70 Dalam Undang-Undang Nomor 5/1999 terdapat 18 (delapan belas) Pasal yang menggunakan metode pendekatan Rule of Reason.71 Penerapan Per Se