• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH FASHION INDONESIA

Dalam dokumen Medan Prada House (Analogi Metafora) (Halaman 31-35)

BAB II DESKRIPSI PROYEK

II.2 TINJAUAN UMUM

II.2.3 SEJARAH FASHION INDONESIA

Gambar 2.8 Madonna Gambar 2.9 Elvis Presley

Pada era ini semua orang sudah mengenal fashion. Dengan terkenalnya Madonna pada tahun 1980-an, Elvis Presley pada tahun 1970-an, dan perkembangan televisi memulai perkembangan fashion secara global. Mulai ada pakaian bernuansa gothic. Pakaian berbahan denim mulai sangat populer seiring populernya musik disko.

Gambar 2.10 Gothic fashion Gambar 2.11 Denim fashion

 Era 1990 – sekarang

Hampir semua bangsa mempunyai andil dalam menciptakan tren fashion di masing-masing negaranya, di setiap negara biasanya memiliki tren tersendiri dan presepsi yang berbeda dalam berekspresi tentang fashion, sehingga

fashion yang tercipta hampir tidak ada batasannya pada era ini.

II.2.3 SEJARAH FASHION INDONESIA

Serupa dengan fashion dunia, fashion di Indonesia juga terbagi menjadi beberapa periode yaitu sebagai berikut :

ROSE MILLIA LESTARI 090406034

 Era abad ke 15

Gambar 2.12 Kebaya zaman dahulu Gambar 2.13 Kebaya modern

Pada era abad ini, pakaian yang paling banyak digunakan adalah Kebaya. Kebaya dapat diartikan sebagai jenis pakaian pertama yang dipakai wanita Indonesia pada kurun waktu abad ke 15 dan 16 Masehi. Banyak yang mengatakan kebaya ini berasal dari Arab. Namun terlepas dari asal usulnya dari Arab, dipastikan penyebaran kebaya ini memang dari arah utara kepulauan Indonesia yaitu dari Arab, Portugis, Cina, akhirnya Pulau Jawa di Indonesia.

Hingga pada pertengahan abad ke 18, ada dua jenis kebaya yang dipakai masyarakat yaitu kebaya Encim, busana yang dikenakan perempuan cina keturunan Indonesia, dan kebaya Putu Baru, busana bergaya tunik pendek berwarna warni dengan motif yang cantik. Pada abad ke 19, kebaya dikenakan oleh semua kelas sosial setiap hari baik perempuan Jawa maupun peranakan Belanda. Bahkan kebaya sempat menjadi busana wajib bagi perempuan Belanda yang hijrah ke Indonesia.

 Era tahun 1950

ROSE MILLIA LESTARI 090406034

Tahun 1950-an ditandai dengan gaya berbusana klasik yang elegan,

yang popular dengan sebutan gaya “New Look” yang diadaptasi dari trend

fashion dunia. Dahulu, model busana ini sering dianggap sebagai model rancangan Christian Dior, yang pada tahun 1947 memperkenalkan Corolle Line, namun kemudian lebih dikenal sebagai The New Look.

Pada tahun 1950-an -1970 ,Peter Sie adalah orang yang dianggap sebagai maestro dan pelopor perancangan busana Indonesia.Kehadiran desainer seperti Peter Sie mengundang desainer lain seperti Non Kawilarang dan Elsei Sunarya. Masyarakat juga mulai mengenal peragawati seperti Titi Qadarsih dan Rima Melati

 Era tahun 1970 – 1990

Gambar 2.16 Tren fashion 1970-an Gambar 2.17 Tren fashion 1980-an

Tahun 1970-an mode di Indonesia terlihat makin berwarna. Kehadiran perancang baru membuat nuansa yang sudah ada terlihat semakin kuat dan menarik. Tahun 70-an ini identik dengan gaya hippies serta gaya disco. Karena itulah gaya berbusana yang popular di era in didominasi oleh celana

bell bottom, kemeja pas badan dengan kerah super lebar, dsb. Siluet untuk busana wanita sendiri masih banyak mengolah gaya mini serta potongan longgar.

Dunia mode nasional mulai mengadaptasi kegiatan mode dari Eropa. Salah satunya adalah koreografi dalam peragaan busana. Sejak diperkenalkan Norbert Schmitt pada tahun 1969 di Eropa, koreografi untuk peragaan busana mendarat di Jakarta tahun 1974. Perintis nasionalnya adalah Rudy Wowor yang merupakan murid Schmitt. Pada saat itu, istilah

ROSE MILLIA LESTARI 090406034

show director dalam peragaan busana belum dikenal sehingga beliau tak saja mengatur langkah dan ekspresi sang model, tetapi juga menata pencahayaan, dekorasi dan music pengiring. Profesi koreografer ini kemudian juga diikuti oleh Doddy Haykel, Denny Malik, dan Guruh Soekarno Putra.

Sedangkan dalam dunia jurnalisme mode, majalah wanita Femina hadir pada tahun 1972. Selain menghadirkan berita mode dari pusat mode seperti Pierre Cardin, Femina pun menunjukkan apresiasi terhadap mode nasional. Terutama pada saat Pia Alisjahbana dan Irma Hadisurya mengusulkan Femina mengadakan lomba perancang mode secara tahunan sejak tahun 1979. Dari ajang inilah hingga sekarang banyak desainer baru muncul seperti Chossy Latu, Samuel Wattimena, Carmanita, Edward Hutabarat, dan Stephanus Hamy.

Tahun 80-an adalah era “powerful women”. Sesuai dengan era

tersebut, di masa ini bermunculan busana dengan siluet besar seperti padding yang menonjol di bagian bahu, siluet busana yang besar dan cenderung longgar. Permainan detail dan aksen berukuran besar (contoh kancing), serta paduan warna kontras. Perancang di Indonesia di masa itu sangat terpengaruh dengan gaya ini, sehingga gaya berbusana yang ada pun cenderung berukuran besar.

 Era tahun 1990 - 2008

Era tahun 1990-an hingga sekarang adalah masa dimana gaya individual semakin berani bersuara. Tak heran jika di era ini, para perancang berbakat yang jumlahnya semakin banyak hadir dengan keunikan sendiri yang mencerminkan karakter mereka masing masing. Ada yang menampilkan gaya busana serba tumpuk beraura vintage, maskulin, bergaya cantik, terkesan mewah dan elegan hingga yang bergaya unik.

Tahun 1990-an ditandai dengan isu globalisasi dan internet. Artinya, kemudahan masyarakat mengakses informasi mode dari luar negeri menyebabkan kegandrungan akan budaya barat yang glamour. Glamoritas ini

ROSE MILLIA LESTARI 090406034

terasa pada karya desainer yang naik daun di tahun 1990-an, contohnya Sebastian Gunawan. Setelah menggelar koleksinya yang terdiri dari ballgown, manic dan Kristal, demam kemewahan ala selebritas Hollywood juga mewabah. Kemewahan ini juga terasa melalui gaun-gaun Biyan, Arantxa Adi, Adjie Notonegoro dan Eddy Betty.

Di tahun 2000-an mode Indonesia semakin kaya akan ide dan inspirasi. Setiap desainer sudah mempunyai citra sendiri. Adrian Gan, Obin, Kiata Kwanda, Sally Koeswanto, Tri Handoko dan Irsan selalu memukau dengan busana busana mereka yang sangat bernafaskan seni. Ada juga yang sukses mensosialisasikan busana tradisional sebagai busana modern seperti Edward Hutabarat dan Anne Avantie. Beberapa desainer meraih penghargaan melalui event seeprti Indonesian Mercedes Benz Fashion

Award dan Harper’s Bazaar Fashion Concerto. Ada pula yang ditampilkan melalui film seperti busana Tri Handoko, Sebastian Gunawan dan Didi Budiarjo yang dikenakan Aida Nurmala dalam film Arisan. Namun ada juga yang lebih sukses di luar negeri seperti Farah Angsana di Paris atau Mardiana Ika dan Ali Charisma di Hongkong.

II.2.4 SEJARAH MEREK FASHION PRADA

Dalam dokumen Medan Prada House (Analogi Metafora) (Halaman 31-35)

Dokumen terkait