Industri kendaraan bermotor di Indonesia mulai dikembangkan pada tahun 1974 yaitu mulai didorongnya para agen tunggal kendaraan bermotor untuk melakukan perakitan di dalam negeri. Kebijakan yang dimaksud dilanjutkan dengan berbagai kebijakan pemerintah lainnya yang bertujuan agar negara kita memiliki industri kendaraan bermotor sendiri. Dalam hal ini perkembangan otomotif di Indonesia didorong oleh kebijakan pemerintah yang mengatur sektor tersebut, kemajuan teknologi dan situasi ekonomi yang terjadi.
Secara garis besar sejarah perkembangan industri kendaraan bermotor di Indonesia dapat dibagi dalam empat era, seperti diuraikan berikut ini :
1. Era 1969-1979
Tahun 1969, menteri perindustrian dan menteri perdagangan mengeluarkan surat keputusan bersama untuk mengatur impor kendaraan bermotor, baik dalam kondisi Complitely-Built-Up (CBU) dan Complitely– Knocked-Down (CKD), serta pendirian pabrik perakitan dan agen tunggal di dalam negeri. Pabrik perakitan dan pendukungnya, seperti industri yang memproduksi ban, cat, dan aki mulai bertumbuh. Perusahaan lokal mampu mendesain jigs, dan fixtures dan melaksanakan beberapa proses seperti mencat, melas, trimming, dan metal finishing.
Pada tahun 1971 PT. Kharma Yuda Motor, yang memasarkan mobil Mitshubishi, adalah perusahaan yang pertama mendapatkan izin untuk beroperasi sebagai agen tunggal. Penjualan domestik diperkirakan berjumlah
34
50.000 unit per tahun. Pada tahun 1974, untuk membangun Industri otomotif dalam negeri pemerintah melarang impor kendaraan CBU. Hanya agen tunggal yang berfungsi sebagai pabrik perakitan yang diizinkan untuk mengimpor kendaraan bentuk CKD.
Tahun 1976, pemerintah mengeluarkan serangkaian peraturan yang terkenal dengan sebutan Program Pena nggalan. Bagian pertama dari kebijakan ini menetapkan bea masuk yang tinggi untuk kendaraan yang masuk tidak menggunakan stamping parts yang diproduksi dalam negeri. Ada 35 merek yang saling bersaing untuk menarik konsumen. Daya beli masyarakat masih lemah karena kondisi perekonomian Indonesia yang baru mulai membaik.
Pemerintah memprioritaskan pengembangan minibus dengan menerapkan pajak yang lebih tinggi untuk sedan dan pajak yang lebih rendah untuk minibus, seperti kijang dan Colt T 120. Produsen umum mulai berkembang dan mulai menghasilkan radiator, knalpot, shock absorber, pelek, interior dan kursi, kabel, gasket, komponen plastik, chassis, stamping parts, dan komponen dari karet. Penjualan tahunan perlahan- lahan bergerak ke 72.000 unit pada tahun 1976 dan 103.000 unit pada tahun 1979.
2. Era 1980-1989
Tahun 1983, pemerintah mengeluarkan program penanggalan bagian ke dua untuk mendorong produsen komponen lokal. Bea masuk ditetapkan pada komponen-komponen utama. Industri pendukung mulai memproduksi komponen utama, seperti transmisi, kopling, power train (termasuk mesin), sistem rem, komponen yang ditempa dan di cor, serta window regulator. Pada
35
tahun 1983 ada dua puluh merek bersaing di pasar domestik. Penjualan mobil melonjak ke 208.000 unit pada tahun 1981 tetapi merosot ke 150.000 dan 170.000 unit pada tahun berikut nya.
3. Era 1990-1998
Pada tahun 1993, pemerintah mengganti program penanggalan dengan program insentif, yang dikenal dengan paket kebijakan otomotif 1993. Produsen mobil diperbolehkan untuk memilih sendiri komponen yang akan menggunakan produk lokal dan akan mendapatkan potongan bea masuk, atau bahkan dibebaskan dari bea masuk, jika berhasil mencapai tingkat kandungan lokal tertentu.
Pabrik produsen mesin, transmisi, dan propeller shafts bertumbuh menghasilkan produk tidak hanya saja untuk pasar domestik namun juga pasar internasional. Sekitar 24 merek bersaing untuk menarik pelanggan. Tingkat ekonomi yang membaik mendorong angka penjualan mobil dari 159.000 unit di tahun 1989 menjadi 214.000 unit pada tahun 1993 dan 397.000 unti pada tahun 1995.
Pada tahun 1996, pemerintah memutuskan untuk mempercepat Program Insentif dan memperkenalkan Program Mobil Nasional. Program ini menetapkan bahwa untuk mendapatkan pembebasan bea masuk, perusahaan harus mencapai tingkat kandungan lokal sebesar 20 persen, 40 persen, dan 60 persen di tahun pertama, ke dua dan ke tiga.
PT Timor Putra Nasional yang bermitra dengan KIA motors dari Korea Selatan, adalah perusahaan pertama yang mendapatkan pembebasan bea
36
masuk melalui program ini. Tetapi perusahaan-perusahaan lain tidak mendapatkan insentif yang sama, sehingga me nimbulkan protes dari anggota World Trade Center (WTC). Pembebasan pajak barang mewah, selain bea masuk untuk kendaraan yang memiliki kandungan lokal 60 persen mendorong produsen untuk menanamkan modal dalam pabrik-pabrik baru, seperti pabrik mesin dan casting yang menghasilkan produk setengah jadi. Tercatat dua puluh merek asing maupun nasional bersaing dalam pasar lokal. Tetapi pada tahun ini penjualan mobil turun ke 376.000 pada tahun 1996.
Krisis ekonomi yang melanda Asia termasuk Indonesia pada tahun 1997, mengalami tekanan yang sangat keras pada perindustrian mobil di Indonesia. Inflasi yang membubung tinggi, dan Rupiah yang terdepresiasi mencapai Rp 17.000 per Dollar Amerika yang sebelumnya hanya Rp 2.500 per USD dan situasi politik yang genting mengakibatkan banyak perusahaan bangkrut karena hutang luar negeri yang menumpuk hingga berlipat empat bahkan lebih. Setelah mencapai angka penjualan tertinggi pada tahun 1997 sebesar 392.000 unit jatuh menjadi 58.000 pada tahun 1998.
4. Era 1999- sekarang
Liberalisasi pasar masuk ke Indonesia setelah pemerintah mengeluarkan Kebijakan Paket Otomotif 1999, yang bertujuan untuk mendorong ekspor produk otomotif, menggerakkan pasar domestik pasca- krisis, dan memperkuat struktur sektor otomotif dengan mengembangkan industri pembuatan komponen. Program insentif ditinggalkan dan bea masuk, rata-rata diturunkan hingga setengahnya.
37
Kendaraan CBU masuk kembali ke pasar dalam negeri dan kendaraan- kendaraan mewah seperti Jaguar dan Lexus terlihat mulai meluncur di jalan. Importir mobil CBU mulai berkembang. Kompetisi semakin ketat karena produk lokal harus bersaing dengan produk impor yang berarti produsen lokal harus meningkatkan kualitas.
Penjualan melonjak tinggi dari 94.000 unit pada tahun 1999 menjadi 301.000 unit pada tahun 2000, setahun setelah pemerintah membuka pasar domestik. Angka tersebut terus menanjak menjadi 483.000 unit pada tahun 2004 dan mencapai 520.000 mobil pada tahun 2005.
Saat ini industri kendaraan bermotor Indonesia berada pada kondisi persaingan terbuka sejak diterbitkannya Kebijakan Otomotif Nasional tahun 1999 yang memberikan kesempatan pada importir umum untuk mengimpor produk dalam keadaan jadi, serta mengurangi tarif bea masuk menjadi maksimum 80 persen dari sebelumnya yang mencapai 200 persen.
Perubahan kebijakan tersebut mendorong industri kendaraan untuk meningkatkan kemampuannya dalam persaingan di pasar dalam negeri, regional bahkan dunia. Kenyataannya industri otomotif Indonesia dapat bertaha n bahkan semakin maju. Setelah melalui beberapa pasang surut pertumbuhan terutama dalam masa-masa sulit pada masa krisis, industri dalam negeri saat ini mampu pensuplai kendaraan roda empat ke pasar dunia. Hal tersebut memacu industri komponen untuk meningkatkan kemampuannya dalam memenuhi permintaan industri perakit yang semakin meningkat.