MULTIKULTURALISME
A. Sejarah Multikulturalisme
BAB II
Multikulturalisme muncul pertama kali di Amerika Serikat pada tahun 1850-an dan berkembang melalui tiga fase, 1) fase perjuangan mencapai kesamaan kedudukan dari ras-ras berbeda; 2) fase penolakan gerakan ras-rasisme dalam penegakan hak asasi manusia; dan 3) fase pengakuan terhadap pluralisme budaya. Di Amerika, multikulturalisme menjadi gerakan kultural masyarakat sipil, sedangkan di Kanada dan Australia menjadi sebuah bentuk pernyataan politik.40
Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan tentang ragam kehidupan di dunia, atau kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, dan berbagai macam budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat, baik menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, maupun politik yang dianut. Senada dengan pengertian tersebut, Parekh menyatakan bahwa istilah multikulturalisme pada umumnya digunakan untuk merujuk pada satu masyarakat yang menunjukkan keanekaragaman sub-kultural, keanekaragaman perspektif, dan keanekaragaman komunal.41
Dalam sejarahnya di bidang politik, istilah multikulturalisme muncul pada tahun 1971 saat pemerintah Kanada meneguhkan berdirinya Komisi Kerajaan tentang Bilingualism dan Biculturalism. Istilah multikulturalisme saat itu begitu populer di Kanada, Australia dan Amerika Serikat, tetapi belum banyak diminati oleh Jerman dan Prancis.
Multikulturalisme adalah varian teori perbedaan yang
40 H.A.R. Tilaar, Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional (Jakarta: Grasindo, 2004), hlm. 89-90.
41 Bikhu Parekh, Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan Teori Politik (Yogyakarta: Impulse dan Kanisius, 2008), hlm. 16-17.
mengambil ide dari postmodernisme bahwa perbedaan secara analisis lebih penting dibandingkan kebersamaan mereka. Dalam konteks ini, Agger menyatakan lebih jauh bahwa multikulturalisme merayakan perbedaan sebagai satu kerangka kerja yang ada di dalamnya untuk menghargai banyak kelompok dan narasi khas pengalaman mereka.
Lebih-lebih multikulturalisme postmodern yang menyangkal kemungkinan menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda ke dalam satu alasan bersama yang mulai mengubah struktur secara keseluruhan. Jika masyarakat dan budaya di Kanada diibaratkan sebagai cultural salad atau gado-gado, di mana setiap jenis sayur tetap mempertahankan aslinya, maka masyarakat Amerika Serikat lebih suka mengibaratkan kota besarnya sebagai metropolitan New York sebagai melting pot, yaitu kuali membara yang meleburkan unsur-unsur penyusunan budaya dan masyarakat menjadi satu rasa dan satu bangsa, Amerika.42
Di Indonesia, istilah multikulturalisme mulai mendominasi wacana publik pada awal tahun 2000-an, sebagai akibat dari krisis ekonomi yang berlarut-larut, merebaknya konflik kekerasan antar etnik, dan gerakan-gerakan separatisme. Sebelum istilah multikulturalisme populer dalam wacana publik dan wacana akademik di Indonesia, istilah yang banyak dipakai adalah pluralisme.
Esensi kedua istilah itu pada prinsipnya sama, yakni sama-sama mengandung makna kejamakan, kemajemukan, namun perbedaannya terletak pada wilayah kejamakan.
Multikulturalisme mengandaikan kejamakan antar etnik atau
42 Ben Agger, Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan dan Implikasinya (Yogyakarta:
Kreasi Wacana, 2005), hlm. 140.
bangsa atau entitas, sedangkan pluralisme mengandaikan kejamakan dalam satu etnik atau bangsa dalam satu entitas.43
Dalam konteks kebudayaan, multikulturalisme bisa berarti berlakunya lebih dari satu identitas budaya dalam sebuah tatanan masyarakat. Meski demikian, perlu ditegaskan bahwa pengertian lebih dari satu yang bersumber dari kata “multi” bukan berarti bahwa multikulturalisme bersifat kuantitatif. Multikulturalisme mengandung dua pengertian yang sangat kompleks, yaitu multi yang berarti plural, dan kulturalisme yang berarti kultur atau budaya.
Multikulturalisme lebih menekankan aspek kualitatif dalam hubungan antar etnik dan budaya. Studi terhadap multikulturalisme bukan menekankan bahwa satu kelompok berbeda dengan kelompok yang lain, bukan pula menekankan eksotika atau keunikan tiap-tiap tradisi, tetapi pada interaksi antar kelompok yang berbeda. Interaksi atau dialog budaya yang dinamis merupakan prasyarat multikulturalisme.44
Strategi multikulturalisme menginginkan citra positif tetapi tidak mengupayakan terwujudnya asimilasi. Dalam strategi ini, setiap suku bangsa atau kelompok etnis diyakini memiliki status yang setara dan hak yang sama untuk melestarikan budayanya masing-masing. Multikulturalisme bertujuan untuk merayakan perbedaan. Sebagai contoh, pengajaran pendidikan multi-agama.45
Lahirnya multikulturalisme berlatar belakang kebutuhan akan pengakuan (the need of recognition) terhadap
43 I Nyoman Darma Putra, Bali dalam Kuasa Politik (Denpasar: Arti Foundation, 2008), hlm. 120.
44 Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal (Yogyakarta:
Kanisius, 2003), hlm. 2.
45 Chris Barker, Cultural Studies: Teori dan Praktek (Yogyakarta: Bentang, 2005), hlm. 379.
kemajemukan budaya yang menjadi realitas sehari-hari di banyak bangsa, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, sejak semula multikulturalisme harus disadari sebagai sebuah ideologi yang menjadi wahana untuk meningkatkan penghargaan atas kesetaraan semua manusia. Dalam konteks ini, multikulturalisme adalah konsep yang melegitimasi keanekaragaman budaya. Prinsip kesetaraan (egality) dan prinsip pengakuan (recognition) adalah unsur paling utama dalam definisi multikulturalisme. Multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.46
Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik. Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai komunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, sistem nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan. Konsekuensi multikulturalisme adalah sikap menentang dan anti terhadap monokulturalisme. Monokulturalisme menghendaki adanya kesatuan budaya secara normatif, sebab yang dituju oleh monokulturalisme adalah homogenitas, sekalipun homogenitas itu masih pada tahap harapan atau wacana dan belum terwujud (pre-existing). Sementara itu, asimilasi adalah timbulnya keinginan bersatu antara dua atau lebih kebudayaan yang berbeda dengan cara mengurangi perbedaan-perbedaan untuk mewujud menjadi satu
46 Azyumardi Azra, “Identitas dan Krisis Budaya…”, hlm. 16.
kebudayaan baru. Pertentangan antara multikulturalisme dan monokulturalisme tampak nyata dari asumsi dasar yang saling berseberangan, yang satu melegitimasi perbedaan sementara yang lainnya meminimalisir perbedaan.47