DESA CIMANDE DAN KEKAYAAN BUDAYANYA
B. Pencak Silat Cimande
1. Sejarah Pencak Silat Cimande
Aliran Pencak Silat Cimande merupakan salah satu kekayaan budaya turun-temurun masyarakat Bogor yang masih dilestarikan sampai sekarang. Menurut salah satu cerita legenda yang berkembang tentang asal-usul cimande adalah bahwa pencipta aliran Cimande sekaligus guru jurus Cimande adalah istri Abah Kahir sendiri.
Diceritakan, suatu hari istri Abah Kahir sedang mencuci beras di sungai. Lalu ia mendengar suara berisik dari pepohonan rimbun didekatnya, dan melihat ada monyet sedang melompat-lompat dan menjerit-jerit liar diantara dahan pepohonan. Penyebab monyet itu panik ternyata karena ada seekor harimau yang sedang mendekati pohon tempat monyet tersebut bertengger. Dalam kehebohan tersebut salah satu monyet itu jatuh dari pohon. Sang harimau segera melompat untuk menerkam monyet tersebut, namun monyet itu berhasil menghindari serangannya dan menggigit perut harimau tersebut.
Harimau itu terus berusaha menyerang monyet, namun sang monyet selalu berhasil menghindarinya. Ibu Kahir tertegun menyaksikan pertarungan tersebut, sehingga ia sampai lupa waktu. Tatkala ia pulang
39 https://bogor.tribunnews.com/2018/03/08/begini-filosofi-cimande-kampung-di-bogor-yang-menjadi-lahirnya-aliran-pencak-silat-tersohor pada 16 Februari 2021 diakses pada 20 Februari 2021.
terlalu siang, ia pulang disambut oleh suaminya dengat amat marah karena makan siangnya belum disiapkan. Dalam kemaraannya tersebut sang suami mencoba memukul istrinya dengan sapu. Namun sang istri yang telah mengingat gerakan-gerkan monyet di sungai sebelumnya berhasil mengelak dari serangan tersebut. Sang suami terus berusaha memukul istrinya, namun selalu berhasil dihindari oleh sang istri dengan tangkas. Abah Kahir akhirnya kelelahan dan bertanya pada istrinya dimana ia mempelajari gerakan-gerakan tersebut. Sang istri menceritakan tentang pertarungan antara monyet dan harimau yang ia saksikan di sungai. Abah Kahir akhirnya belajar teknik-teknik tersebut dari istrinya, dan mengembangkannya menajadi suatu sistem bela diri yang kemudian dikenal dengan nama Cimande.40
Kisah sejenis dapat ditemukan pada berbagai aliran pencak silat lain yang tidak terkait dengan Cimnde, seperti silat dari pulau Bawean, yang menunjukan adanya kerangka berpikir yang sama. Di dalam setiap kisah tersebut terdapat perempuan yang menggunakan hasil pengamatan dan pengalamannya di alam untuk mempertahankan dirinya dari kekerasan rumah tangga. Suami yang dikalahkannya kemudian menyusun teknik-teknik tersebut menjadi sebuah sistem, kemudian menjadi aliran pencak silat, dan dikenal sebagai guru aliran tersebut.
Maryono menulis bahwa perempuan seringkali memainkan peran kreatif penting dalam mitos-mitos asal-usul pencak silat, meskipun
40 Ian Douglas Wilson, Politik Tenaga Dalam (Praktik Pencak Silat di Jawa Barat) (Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2020), h.45.
pencak silat secara tradisional adalah praktik yang didominasi oleh laki-laki, dan sepanjang sejarahnya hanya terdapat sedikit guru-guru besar perempuan. Elemen feminisme tersebut tercermin dalam bentuk kedekatan perempuan dengan alam, sementara laki-laki lebih dikaitkan dengan ranah ‘budaya’ dan ‘peradaban’.
Sifat khas lain dari tradisi lisan pencak silat adalah sebagaimana dinyatakan oleh Yus Rusyana dalam penelitiannya tentang tradisi lisan dalam pencak silat Sunda sebagai ‘peristiwa pertarungan’. Kisah-kisah pertarungan menjadi unsur inti dari cerita-cerita lisan dari para guru besar di masa lalu. Disamping menggambarkan unsur-unsur teknis dari sebuah aliran, kisah-kisah tersebut juga berisi pedoman , dan menjelaskan etika dan pelajaran moral dari suatu pertarungan. Di setiap bela diri, keberhasilan dalam pertarungan adalah hal yang menjadi dasar dianggap bernilainya suatu aliran atau teknik . Itulah sebabnya terdapat banyak cerita pertarungan yang seakan memvalidasi suatu aliran dengan menjelaskan efektifitasnya.41
Menurut Tubagus Jamhari, guru besar perguruan Cimande Pajajaran, Abah Kahir menciptakan jurus Cimande setelah beliau menunaikan shalat tahajud dan istikharah. Beliau menerima ilham untuk mengembangkan sejumlah gerakan pencak silat berdasarkan huruf Alif dan Lam yang ada di dalam Al-Qur’an. Mendasarkan gerakan-gerakan jurus fisik pada huruf-huruf Arab juga umum ditemukan pada budaya pencak silat, Al-qaur’an sering dikaitkan secara
41 Ian Douglas Wilson, Politik Tenaga Dalam (Praktik Pencak Silat di Jawa Barat), h.46.
langsung dengan tubuh manusia. Dari persfektif sufisme, Al-Qur’an mengungkapkan segala hubungan yang ada antara mikrokosmos dengan mikrokosmos. Analogi ini dibuat menjadi sitematis di beberapa aliran, misalnya dalam bentuk pembatasan jumlah jurus hanya hingga 24, yang merupakan jumlah huruf di dalam kalimat syahadat. Gerakan-gerakan tersebut berfungsi sebagai mantra. Dengan bergerak dengan cara-cara yang melambangkan kalimatullah ( kalimat ketuhanan), pesilat menjadi seperti “pena di tangan Tuhan, dan bergerak sesuai dengan ‘KehendakNya’ ". Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah peribahasa di Cimande, “Usik malik anging Allah nu marengkeun”
(pada akhirnya, Allah lah yang menggerakan kita).42
Di kampung Babakan Tarikolot, Desa Cimande, para keturunan Abah Kahir hari ini terus menjaga erat tradisi ini. Di tempat ini, Cimande masih diajarkan dengan cara yang sama sejak kelahirannya, tanpa dipengaruhi oleh aliran lain atau inovasi modern dalam praktik pencak silat. Menurut para informan disini, Abah Kahir bukan pencipta pencak silat Cimande. Beliau “hanyalah” guru pertama dari aliaran ini.
Silsilah karomah (silsilah keramat) yang dipegang oleh Ace Sutisna ketua Keluarga Besar Pencak Silat Cimande saat ini, dan seorang keturuna di Kampung Tarikolot, di Desa Cimande dimulai dari Embah Buyut, yang juga dalam bahasa Sunada secara umum merujuk kepada leluhur pendiri. Masih belum jelas apakah Embah buyut ini berarti satu sosok tertentu atau dimaknai secara umum sebagai para leluhur pendiri.
42 Ian Douglas Wilson, Politik Tenaga Dalam (Praktik Pencak Silat di Jawa Barat), h.47.
Menurut Pak Ace, “Sejak dahulu kala para keturuna Cimande sudah menggunakan nama ini”. Silsilah ini berisi tujuh generasi, yang dalam perkiraan Pak Ace berlangsung sekitar 350 tahun. Jika Embah buyut adalah sosok nyata, ini berarti beliau hidup di pertengahan abad ke-17 hingga ke-18. Hipotesis ini sesuai dengan masa ketika abah Kahir dikatakan mulai mengajar, yaitu sekitar tahun 1760, sehingga membuat beliau sebagai praktisi Cimande generasi kedua dan guru generasi pertama. Di setiap generasi terdapat lebih dari satui guru, namun
“wakil” resmi dari setiap generasi adalah sebagai berikut :43 1. Embah Kahir
2. Embah Rangga