BAB III PERLINDUNGAN PENGGUNA JASA LAYANAN
A. E-commerce Sebagai Bagian Electronic Business
2. Sejarah dan Perkembangan E-commerce
Perkembangan dunia teknologi dan informasi tidak dapat diragukan lagi, bahwa teknologi informasi telah membuka mata dunia akan adanya sebuah dunia baru, market-place baru dan sebuah jaringan bisnis dunia yang tanpa dibatasi tempat dan waktu. Bagaimanapun juga, teknologi internet berhasil mengubah pola interaksi masyarakat, yaitu interaksi bisnis, ekonomi, sosial dan budaya.
Jika dilihat dari sudut pandang tersebut dapat diketahui betapa internet telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat, perusahaan/industri maupun pemerintah sekalipun. Adanya teknologi internet dapat menunjang kebutuhan sebuah usaha dan bentuk badan atau lembaga lainnya dalam hal efektivitas dan efisiensi operasional perusahaan terutama sebagai sumber informasi yang mana menyediakan begitu banyak informasi untuk dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Kepercayaan (Trust) adalah suatu konsep yang merupakan keinginan konsumen untuk melakukan transaksi perniagaan elektronik di Internet.
Konsumen dapat membeli apa saja, dimana saja dan kapan saja atas suatu produk dan jasa di internet.88 Manakala tidak ada perlindungan hukum bagi konsumen dalam suatu transaksi elektronik, maka segala upaya apapun untuk menarik konsumen untuk berbelanja di internet suatu perbuatan sia-sia.
87 Esther Dwi Magfirah, “Perlindungan Konsumen Dalam E-commerce”, diakses dari www. solusihukum.com. pada tanggal 10 September 2019 Pukul 20.00 WIB.
88 Novi Kristiadi, “E-Commerce, Manfaat dan Keuntungannya”, diakses dari https://www.kompasiana.com/novikristiadi/5992634e93be2508e06c5402/e-commerce-manfaat-dan-keuntungannya, pada tanggal 10 September 2019 Pukul 20.30 WIB.
Upaya untuk membangun kepercayaan konsumen untuk bertransaksi di internet mulai tampak dengan adanya beberapa upaya Pemerintah Indonesia.
Salah satunya adalah dengan diundangkannya UU ITE. Tujuannya adalah agar konsumen dan pelaku usaha mempunyai kepastian hukum dalam bertransaksi di dunia maya atau dunia siber.89
Menurut Masri Sunusi fenomena e-commerce di Indonesia sudah ada sejak lama yaitu sejak tahun 1996. Masri menegaskan bahwa munculnya situs http//www.sanur.com disinyalir sebagai toko online pertama. Meskipun belum populer, pada tahun 1996 tersebut bermunculan berbagai situs yang melakukan e-commerce. Sepanjang tahun 1997-1998 eksistensi e-commerce di Indonesia sedikit terabaikan karena adanya krisis ekonomi. Namun di tahun 1999 sampai sekarang kembali menjadi fenomena yang menarik perhatian meski tetap terbatas hanya pada masyarakat minoritas saja.90
Kehadiran internet, walaupun masih merupakan industri baru dan masih dalam fase pertumbuhan, telah memperkokoh keyakinan tentang pentingnya peranan teknologi dalam pencapaian tujuan finansial. Sebagai salah satu sarana guna melakukan transaksi perdagangan (penjualan, pembelian, promosi, dan lain-lain), internet dirasakan manfaatnya pada saat sejumlah situs yang menyajikan breaking news mulai menarik para pemasang iklan.
Di samping manfaat yang diperoleh atas penggunaan internet, ada kenyataan bahwa sejumlah entrepeneur baru mulai membuat net companies setelah terinspirasi dengan kesuksesan yang diraih oleh para digital enterpreneur
89 Iman Sjahputra, Perlindungan Konsumen Dalam Transaksi Elektronik, (Bandung:
PT.Alumni, 2010), hlm. 3.
90 Masri Sanusi, “Aspek Hukum Perlindungan Konsumen E-commerce”, Ad Daulah, 1, 2 (Juni, 2013), hlm.98.
di banyak negara maju. Kemudian pada awal tahun 2000, peluang internet sebagai media bisnis baru secara meluas menjadi sebuah inspirasi dan kesadaran para pelaku bisnis.91
Ilmu One Data sebagai konsultan analytics data dan digital merilis posisi dan pertumbuhan e-commerce selama triwulan satu dan dua pada tahun 2017.
Pelaku pengguna desktop rumah dan kantor kebanyakan berumur 6 tahun ke atas, serta penggunaan gadget seperti smartphone dan tablet berumur 18 tahun ke atas, sedangkan data yang digunakan berjumlah 67 juta populasi digital.
Dihitung dari jumlah unique audience pada akhir triwulan dua, Lazada memimpin seluruh commerce dengan 21,2 juta unique audience. Penggunaan e-payment dan internet yang semakin tinggi ini yang membuat industri e-commerce Indonesia semakin berkembang.92
Akselerasi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia merupakan yang terdepan di Asia Tenggara. Dilansir dari laporan terbaru Google dan Temasek, ada perputaran uang sebesar US$ 27 miliar dari aktivitas ekonomi digital di negara ini sepanjang tahun 2018, yang mana pertumbuhan ini meningkat hingga 49% sejak tahun 2015. Sedikitnya, ada enam agenda festival belanja online digelar di Indonesia sepanjang tahun ini. Contohnya, Harbolnas yang mampu mencatatkan transaksi hingga Rp 6,8 triliun hanya dalam dua hari pada 11-12 Desember 2018.93
91 Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Op.cit., hlm. 147
92Berinovasi.com, “Perkembangan E-commerce di Indonesia”, diakses dari http://berinovasi.com/2017/12/11/perkembangan-e-commerce-di-indonesia/ (diakses 14 Februari 2019)
93 Desy Setyowati dan Pingit Aria, “Kilas Balik E-commerce 2018: Tokopedia dan Bukalapak Terus Mendominasi”, https://katadata.co.id/berita/2018/12/24/kilas-balik-e-commerce-2018-tokopedia-dan-bukalapak-terus-mendominasi, (diakses 5 Maret 2019)
Dengan begitu pesatnya perkembangan Teknologi Internet dan munculnya berbagai pesaing-pesaing baru di dalam persaingan ekonomi digital di Indonesia menandakan bahwa telah terjadi pertumbuhan yang begitu pesat terhadap ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, kemunculan berbagai pemain e-commerce lokal seperti halnya Bukalapak dan Tokopedia memberikan berbagai kesempatan kepada masyarakat untuk dapat menjalankan bisnisnya dengan memanfaatkan e-commerce ataupun menggunakan e-commerce sebagai pilihan alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup.
3. Pihak yang Terkait dalam Transaksi di E-commerce
Transaksi E-commerce melibatkan para pihak, baik pihak yang terlibat secara langsung maupun pihak yang tidak terlibat secara langsung. Untuk menentukan siapakah para pihak yang terlibat secara langsung dan para pihak yang tidak terlibat secara langsung dapat dilihat dari proses transaksi yang dilakukan, yaitu apakah semua proses transaksi dilakukan secara online atau hanya beberapa tahap saja yang dilakukan secara online. Berdasarkan hasil penelitian, apabila seluruh transaksi dilakukan secara online, maka pihak-pihak yang terlibat terdiri dari :
a. Penjual/merchant Penjual/merchant adalah perusahaan/produsen yang menawarkan produknya melalui internet. Untuk menjadi penjual/merchant, maka seseorang harus mendaftarkan diri dalam merchant account pada sebuah bank, tentunya ini dimaksudkan agar penjual/merchant dapat menerima pembayaran dari pembeli dalam bentuk credit card.
b. Konsumen/card holder Pembeli/card holder adalah orang-orang yang ingin memperoleh produk (barang/jasa) melalui pembelian secara online.
Pembeli/card holder yang akan berbelanja di internet dapat berstatus perorangan atau perusahaan. Pemegang kartu kredit (card Holder) adalah orang yang namanya tercetak pada kartu kredit yang dikeluarkan oleh penerbit berdasarkan perjanjian yang dibuat94.
c. Perantara penagihan/Acquirer Perantara penagihan/acquirer adalah pihak perantara penagihan (antara penjual dan penerbit) dan perantara pembayaran (antara pemegang dan penerbit). Pihak perantara pembayaran antara pemegang dan penerbit adalah bank dimana pembayaran kartu kredit dilakukan oleh pemilik kartu kredit/card holder, selanjutnya bank yang menerima pembayaran ini akan mengirimkan uang pembayaran tersebut kepada penerbit kartu kredit.
d. Penerbit kartu kredit/Issuer Penerbit kartu kredit/issuer adalah perusahaan credit card yang menerbitkan kartu atau perusahan pembayaran internet yang memiliki kewenangan untuk menerbitkan kredit.
e. Certification Authorities
Certification Authorities adalah pihak ketiga yang netral yang memegang hak untuk mengeluarkan sertifikasi kepada penjual/merchant, kepada penerbit kartu kredit/issuer, perantara penagihan/acquirer, penyedia layanan payment gateway dan dalam beberapa hal diberikan kepada card holder.95
4. Ruang lingkup E-commerce
Seiring dengan perkembangan teknologi dan internet, e-commerce juga berkembang dan memiliki berbagai macam model-model usaha e-commerce,
94 Dianne Eka Rusmawati, “Perlindungan Hukum bagi Konsumen dalam Transaksi E-commerce”, Fiat Justisia Jurnal Ilmu Hukum, 7, 2, (Mei-Agustus , 2013), hlm.195-196.
95 Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2012), hlm.408-409.
mulai dari fungsi sampai jenis-jenis e-commerce yang berbagai macam.
Setidaknya ada tujuh jenis dasar e-commerce atau bentuk bisnis e-commerce dengan karakteristik berbeda antara lain sebagai berikut: 96
a. Business-to-Business (B2B)
B2B e-commerce meliputi semua transaksi elektronik barang atau jasa yang dilakukan antar perusahaan. Produsen dan pedagang tradisional biasanya menggunakan jenis e-commerce ini. Umumnya e-commerce dengan jenis ini dilakukan dengan menggunakan EDI (Electronic Data Interchange) dan e-mail dalam proses pembelian barang dan jasa, informasi dan konsultasi, atau pengiriman dan permintaan proposal bisnis.
EDI (Electronic Data Interchange) adalah proses transfer data yang terstruktur, dalam format standar yang disetujui, dari satu sistem komputer ke sistem komputer lainnya, dalam bentuk elektronik. Contoh website e-commerce B2B adalah Bizzy dan Ralali. Bizzy merupakan e-commerce pertama yang memiliki konsep B2B atau Business To Business di Indonesia.
Bizzy menyediakan solusi bagi perusahaan yang memiliki masalah dalam hal pengadaan suplai dan jasa kebutuhan bisnis. Produk yang disediakan oleh Bizzy antara lain, Office Supplies (ATK), Elektronik, Pantry dan lain-lain.
Ralali adalah salah satu perusahaan B2B e-commerce Indonesia yang menjual produk-produk MRO (Maintenance, Repair, and Operational).
Dengan perusahaan PT. Raksasa Laju Lintang yang telah aktif sejak 2013, Ralali menyedian berbagai macam kebutuhan otomotif, alat ukur, GPS, dan peralatan listrik lainnya.
96 Tri Andry, “Mengenal 7 Model Bisnis Website E-Commerce dan Contohnya”, diakses dari http://entrepreneurcamp.id/website-e-commerce/ pada tanggal 6 Maret 2019 pukul 13.00 WIB.
b. Business-to-Consumer (B2C)
B2C adalah jenis e-commerce antara perusahaan dan konsumen akhir. Hal ini sesuai dengan bagian ritel dari e-commerce yang biasa dioperasikan oleh perdagangan ritel tradisional. Jenis ini bisa lebih mudah dan dinamis, namun juga lebih menyebar secara tak merata atau bahkan bisa terhenti. Jenis e-commerce ini berkembang dengan sangat cepat karena adanya dukungan munculnya website serta banyaknya toko virtual bahkan mal di internet yang menjual beragam kebutuhan masyarakat.
Sementara di negara maju seperti Amerika sudah banyak kisah sukses e-commerce yang berhasil dIbidang ritel online. Jika dibandingkan dengan transaksi ritel tradisional, konsumen biasanya memiliki lebih banyak informasi dan harga yang lebih murah serta memastikan proses jual beli hingga pengiriman yang cepat.
Beberapa website di Indonesia yang menerapkan e-commerce tipe ini adalah Bhinneka, Berrybenka dan Tiket.com. Jenis e-commerce ini biasa digunakan oleh penjual atau produsen yang serius menjalankan bisnis dan mengalokasikan sumber daya untuk mengelola situs sendiri.
c. Consumer-to-Consumer (C2C)
C2C merupakan jenis e-commerce yang meliputi semua transaksi elektronik barang atau jasa antar konsumen. Umumnya transaksi ini dilakukan melalui pihak ketiga yang menyediakan platform online untuk melakukan transaksi tersebut. Beberapa contoh penerapan C2C dalam website di Indonesia adalah Tokopedia, Bukalapak dan Lamido.
Disana penjual diperbolehkan langsung berjualan barang melalui website yang telah ada. Namun ada juga website yang menerapkan jenis C2C dan mengharuskan penjual terlebih dulu menyelesaikan proses verifikasi, seperti Blanja dan Elevenia.
d. Consumer-to-Business (C2B)
C2B adalah jenis e-commerce dengan pembalikan utuh dari transaksi pertukaran atau jual beli barang secara tradisional. Jenis e-commerce ini sangat umum dalam proyek dengan dasar multi sumber daya. Sekelompok besar individu menyediakan layanan jasa atau produk mereka bagi perusahaan yang mencari jasa atau produk tersebut.
Contohnya adalah sebuah website dimana desainer website menyediakan beberapa pilihan logo yang nantinya hanya akan dipilih salah satu yang dianggap paling efektif. Platform lain yang umumnya menggunakan jenis e-commerce ini adalah pasar yang menjual foto bebas royalti, gambar, media dan elemen desain seperti www.istockphoto.com.
Contoh lainnya adalah www.mybloggerthemes.com, sebuah website yang menjual ragam template’ blog dari berbagai pengembang template. Pembuat template dapat mengupload template yang dibuatnya pada link yang telah disediakan oleh MBT, kemudian MBT akan menjual template yang telah di upload dan berbagi keuntungan dengan pembuat template.
e. Business-to-Administration (B2A)
B2A adalah jenis e-commerce yang mencakup semua transaksi yang dilakukan secara online antara perusahaan dan administrasi publik. Jenis e-commerce ini melibatkan banyak layanan, khususnya di bidang-bidang seperti fiskal, jaminan
sosial, ketenagakerjaan, dokumen hukum dan register, dan lainnya. Jenis e-commerce ini telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dengan investasi yang dibuat melalui e-government atau pihak pemerintah.
Beberapa contoh website administrasi publik yang menerapkan B2A adalah www.pajak.go.id, www.allianz.com dan www.bpjs-online.com. Disana perusahaan dapat melakukan proses transaksi atas jasa yang mereka dapatkan langsung kepada pihak administrasi publik. Perusahaan diharuskan untuk mengisi sejumlah persyaratan terlebih dahulu sebelum mendapatkan layanan dan baru diteruskan dengan proses transaksi.
f. Consumer-to-Administration (C2A)
Jenis C2A meliputi semua transaksi elektronik yang dilakukan antara individu dan administrasi publik. Contoh area yang menggunakan jenis e-commerce ini adalah :
1. Pendidikan – penyebaran informasi, proses pembelajaran jarak jauh, dan lainnya.
2. Jamsostek – penyebaran informasi, pembayaran, dan lainnya.
3. Pajak – pengajuan pajak, pembayaran pajak, dan lainnya.
4. Kesehatan – janji pertemuan, informasi mengenai penyakit, pembayaran layanan kesehatan dan lainnya.
Contoh penerapan C2A sama dengan B2A, hanya saja pembedanya ada pada pihak individu-administrasi publik dan perusahaan-administrasi publik. Model B2A dan C2A sama-sama terkait dengan gagasan efisiensi dan kemudahan penggunaan layanan yang diberikan untuk masyarakat oleh pemerintah, juga dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi.
g. Online-to-Offline (O2O)
O2O adalah jenis e-commerce yang menarik pelanggan dari saluran online untuk toko fisik. O2O mengidentifiaksikan pelanggan di bidang online seperti e-mail dan iklan internet, kemudian menggunakan berbagai alat dan pendekatan untuk menarik pelanggan agar meninggalkan lingkup online.
Walaupun sudah banyak kegiatan ritel tradisional dapat digantikan oleh e-commerce, ada unsur-unsur dalam pembelanjaan fisik yang direplikasi secara digital.
Namun ada potensi integrasi antara e-commerce dan belanja ritel fisik yang merupakan inti dari jenis O2O. Hanya karena ada bisnis tertentu yang tidak memiliki produk untuk dipesan secara online, bukan berarti internet tak dapat memainkan perannya dalam hampir semua bisnis. Contohnya, sebuah pusat kebugaran tidak akan bisa didirikan di ruang tamu rumah Anda, namun dengan menggunakan layanan O2O yang disediakan perusahaan seperti Groupon Inc, pusat kebugaran tersebut bisa menyalurkan bisnis offline nya menjadi online.
Beberapa perusahaan besar dengan pertumbuhan yang cepat seperti Uber dan Airbnb juga menjalankan bisnis mereka dengan jenis O2O. Beberapa website di Indonesia yang menerapkan jenis O2O adalah Kudo dan MatahariMall.
Seperti yang dilakukan oleh perusahaan ritel besar di Amerika, Walmart. Kini melalui website seperti tersebut Anda bisa masuk ke dalam toko, mengambil dan membayar barang yang dibeli, bahkan mengembalikan barang ketika terjadi kesalahan.
Di dalam prakteknya E-commerce sebagai bisnis yang menggunakan media internet sebagai jalur transaksinya memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan didalamnya, kelebihan e-commerce antara lain sebagai berikut:97 a. Produk dan layanan bervariasi
Batas dari tipe perdagangan ini tidak didefinisikan secara geografis sehingga memungkinkan Anda untuk membuat pilihan secara luas, memperoleh informasi yang dibutuhkan dan membandingkan penawaran dari semua pemasok atau pihak penyedia barang/jasa terlepas dari lokasi mereka.
b. Mempersingkat rantai distribusi
Dengan memungkinkan jalannya interaksi dengan konsumen akhir, e-commerce memperpendek rantai distribusi produk atau bahkan justru menghilangkannya. Dengan cara ini, saluran langsung antara produsen atau penyedia layanan dan pengguna akhir memungkinkan mereka untuk menawarkan produk atau jasa yang sesuai dengan target pasar.
c. Pembayaran lebih mudah
Selain itu, dengan berkembangnya sistem pembayaran yang ada saat ini sangat memudahkan transaksi e-commerce.
d. Brand lebih dekat dengan konsumen
E-commerce memungkinkan brand untuk lebih dekat dengan pelanggan mereka, sehingga meningkatkan produktivitas dan daya saing bagi perusahaan.
e. Peningkatan kualitas layanan
97 Fahmi Maisam Cahyo, “Kelebihan dan Kekurangan E-commerce”, diakses dari https://www.nurulfikri.ac.id/index.php/id/artikel/item/667-kelebihan-dan-kekurangan-e-commerce tanggal 20 Juni 2019.
Dengan demikian, konsumen diuntungkan dengan peningkatan kualitas layanan, kedekatan yang lebih „intim‟, serta dukungan pra dan pasca penjualan yang lebih efisien.
f. Belanja kapan saja
Dengan banyaknya bentuk aktifitas perdagangan elektronik baru, Anda dapat berbelanja melalui toko virtual kapanpun yang anda mau.
g. Efisiensi biaya
Pengurangan biaya adalah keuntungan penting lainnya yang terkait dalam dunia e-commerce. Semakin umum proses bisnis tertentu, maka semakin besar tingkat keberhasilannya. Hal itu menghasilkan pengurangan biaya administrasi yang signifikan.
B. Regulasi Perlindungan Konsumen E-commerce yang Melaksanakan Transaksi Jual Beli
Jual beli produk (barang/jasa) yang dilakukan melalui media internet dimungkinkan untuk dilakukan karena memang sampai saat ini tidak ada larangan akan hal tersebut di Indonesia. Pada prinsipnya (dengan beberapa pengecualian seperti pada Pasal 5 ayat (4) UU ITE, penggunaan media instagram atau suatu media elektronik lainnya untuk transaksi jual beli produk diserahkan kepada kebebasan para pihak untuk menentukannya (tergantung dari kesepakatan antara penjual dan pembeli).
Pasal 19 UU ITE menyebutkan bahwa: “Para pihak yang melakukan Transaksi Elektronik harus menggunakan Sistem Elektronik yang disepakati.”
Kecuali untuk surat yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam bentuk
tertulis, dan surat beserta dokumennya yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta maka transaksinya tidak sah jika dilakukan secara elektronik (Pasal 5 ayat [4] UU ITE). Contohnya, transaksi jual beli tanah yang perjanjiannya harus dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).98
Transaksi jual beli yang terjadi melalui Internet itu sah dan mengikat para pihak sepanjang kontrak elektroniknya (perjanjian jual beli yang dibuat/dilakukan dengan cara komunikasi melalui internet) memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPerdata”), yang berbunyi:
“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”
Adapun syarat sahnya kontrak elektronik berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata jo. Pasal 47 Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (“PP PSTE”) yaitu:99
1. Syarat Subjektif yang mana jika tidak terpenuhi maka perjanjian dapat dibatalkan oleh salah satu pihak (selama belum ada pembatalan maka perjanjian tetap sah), yaitu:
a. Adanya kesepakatan para pihak mengenai harga dan produk, tanpa ada paksaan, kekhilafan maupun penipuan;
b. Kecakapan para pihak yang membuat perjanjian. Pada dasarnya orang yang sudah dewasa, sehat akal pikiran dan tidak dilarang oleh undang-undang (seperti tidak dinyatakan pailit oleh pengadilan) adalah cakap menurut
98 Muhammad Khadafi. Op.cit., Hlm 46.
99 Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE).
hukum. Sedangkan, “Dewasa” berdasarkan Pasal 330 KUHPerdata adalah berusia sudah 21 tahun atau sudah/pernah menikah.
2. Syarat objektif yang mana jika tidak terpenuhi maka perjanjian batal demi hukum, dianggap tidak pernah ada perjanjian sehingga tidak memiliki kekuatan mengikat secara hukum, yaitu:
a. Produk yang merupakan objek perjanjian harus tertentu (definite) dan dapat dilaksanakan (possible).
b. Sebab yang halal (lawful), isi dan tujuan dari perjanjian jual beli tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, kesusilaan dan ketertiban umum. Sebagai contoh: jual beli dilakukan bukan untuk barang yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan (contohnya bukan barang illegal).
Informasi elektronik berupa isi percakapan/komunikasi melalui instagram antara penjual dengan pembeli dapat dijadikan salah satu alat untuk membuktikan dan menerangkan perjanjian yang terjadi antar para pihak. Pasal 5 ayat (1) UU ITE menyebutkan bahwa: “Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.” Jadi, suatu transaksi jual beli tidak akan disangkal keabsahannya hanya karena bukti transaksi jual belinya semata-mata dalam bentuk elektronik.100
Mengingat pertumbuhan commerce yang pesat, aturan terkait e-commerce telah banyak diatur dalam UU ITE sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
100 Indonesia (Informasi dan Transaksi Elektronik), Undang-Undang Nomor 11 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 5 ayat 1.
Nomor 11 Tahun 2008 tentang Internet dan Transaksi Elektronik merupakan dasar hukum bagi konsumen dalam melakukan transaksi e-commerce.
Perdagangan melalui sistem elektronik kemudian diatur pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE). Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen , terdapat hak-hak dasar konsumen yang harus dilindungi berlaku pula bagi konsumen pengguna transaksi e-commerce, salah satunya adalah kepastian hukum.
Faktanya, walaupun sudah ada undang-undang yang mengatur masalah perdagangan secara e-commerce. Namun, dalam penjelasan umum UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen faktor yang sering terjadi dalam eksploitasi konsumen e-commerce adalah minimnya pengetahuan konsumen akan kesadaran hukum atas hak konsumen, selain itu persepsi masyarakat bahwa urusan hukum akan sangat membuat bertambahnya rumit urusan, tidak ada jaminan bahwa jika diklaimkan urusan konsumen akan selesai sesuai dengan harapan. 101
C. Berbagai Pelanggaran Terhadap Hak Konsumen
Seperti diketahui bahwa UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menetapkan tujuan perlindungan konsumen antara lain adalah untuk mengangkat harkat kehidupan konsumen, maka untuk maksud tersebut berbagai
101 Indonesia, (Perlindungan Konsumen), Op.cit., Penjelasan Bagian I “Umum” .
hal yang membawa akibat negatif dari pemakaian barang dan atau jasa harus dihindarkan dari aktivitas perdagangan pelaku usaha. Sebagai upaya untuk menghindarkan akibat negatif pemakaian barang dan atau jasa tersebut, UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menentukan berbagai larangan bagi pelaku usaha yang terdiri dari 10 pasal, dimulai dari Pasal 8 sampai dengan Pasal 17. Dalam Pasal 8 yang termasuk perbuatan-perbuatan yang dilarang dilakukan pelaku usaha yaitu:
1. Pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau memperdagangkan barang dan
1. Pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau memperdagangkan barang dan