• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.3. Proposal Turki ke Uni Eropa

3.3.1. Sejarah Proposal Keanggotaan Turki ke Uni Eropa

Turki merupakan negara Islam dengan sistem pemerintahan khalifah, Pada tahun 1923, sejak menjadi Republik, Turki melakukan revolusi dibawah pemerintahan Mustafa Kemal Attaturk (Aydinli & Waxman, 2001:381). Turki berubah menjadi negara sekuler dan lebih condong ke negara-negara barat. Attaturk bersama pengikutnya yang tergabung dalam partai Republik (Republican People’s Party) meyakini bahwa faktor utama yang harus dilakukan jika ingin menjadi negara yang maju seperti negara-negara barat adalah dengan memisahkan ajaran Islam (agama) dari kehidupan bernegara. Seiring dengan diberlakukannya prinsip ini, Turki akhirnya menginginkan untuk menjadi anggota Uni Eropa sebagai tujuan utama kebijakan luar negerinya.

Proses Turki untuk menjadi negara anggota Uni Eropa dimulai ketika negara itu mengajukan proposal keanggotaan untuk pertama kalinya pada tahun 1959 ketika Uni Eropa masih berbentuk European Economic Communities (Europa, 2012). Sebagai respon, ditandatanganilah perjanjian Ankara (Ankara Agreement) antara Uni Eropa dan Turki pada tahun 1963 yang bertujuan untuk mempersiapkan Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa.

Selanjutnya pada tahun 1987 Turki mengajukan proposal keanggotaan penuh saat di pimpin oleh Presiden Turgut Ozal. Presiden Ozal meyakini bahwa

keanggotaan Turki di Uni Eropa akan mampu mendorong pemodal asing untuk berinvestasi di Turki. Dua tahun kemudian, yaitu pada 1989, komisi Uni Eropa di Brussels memberi jawaban atas aplikasi keanggotaan yang diajukan Turki yang berisi dukungan atas usaha Turki untuk bisa berintegrasi dengan Eropa. Namun jawaban ini tidak menetapkan tanggal pasti kapan Turki akan diterima menjadi anggota Uni Eropa.

Dalam jawabannya komisi Eropa menyebutkan beberapa alasan mengapa belum bisa menerima Turki ke Uni Eropa, diantaranya adalah Uni Eropa belum siap untuk memperluas keanggotaannya dan menilai bahwa Turki belum siap menjadi anggota Uni Eropa. Penolakan ini berkaitan dengan permasalahan HAM yang terjadi di Turki dimana terjadi pembantaian terhadap etnis minoritas Kurdi dan kondisi ekonomi Turki yang masih dibawah standar Uni Eropa (Aydinli & Waxman, 2001:382).

Dengan adanya keputusan ini, maka Komisi Eropa meyarankan agar sebaiknya hubungan Turki dan Uni Eropa dikuatkan lagi dengan tetap menggunakan Ankara Association Agreement sebagai kerangka kerjasama untuk upaya integrasi Turki ke Uni Eropa di masa depan. Usul ini kemudian disetujui oleh Turki pada tahun 1990 di Dublin, Irlandia.

Pada KTT Luxemburg di tahun 1997, Turki dikejutkan dengan tidak dimasukannya Turki ke dalam daftar negara kandidat anggota oleh Uni Eropa. Padahal kerjasama pemenuhan Ankara Association Agreement antara kedua belah pihak telah berlangsung cukup lama sejak perjanjian terakhir di tahun 1990. Hal ini memunculkan protes dari pihak Turki karena menilai negara-negara lain yang

masuk kedalam daftar negara kandidat seperti Slovakia, Bulgaria dan Rumania yang baru berubah dari sistem Komunis ke Demokrasi memiliki kondisi politik dan ekonomi yang lebih lemah dibandingkan Turki (Aydinli & Waxman, 2001:383).

Baru pada tahun 1999 dalam KTT Helsinski Uni Eropa secara formal menerima proposal keanggotaan Turki dan memberikan status “negara kandidat” kepada Turki. Dengan diberikannya status ini, maka proses negosiasi dan diplomasi antara Turki dan Uni Eropa dilanjutkan kembali meskipun masih tanpa kepastian kapankah Turki akan bergabung dan menjadi anggota penuh Uni Eropa. Dengan diberikannya status ini, Turki berusaha mereformasi pemerintahannya agar sesuai dengan Kriteria Kopenhagen yang telah disyaratkan oleh Uni Eropa (Aydinli & Waxman, 2001:382).

Pada tahun 2001, disetujuilah European Union Acession Partnership antara Turki dan Uni Eropa (Yavuz & Kahn, 2004:392). Dokumen ini berisi hasil penilaian atas proses pemenuhan Kriteria Kopenhagen yang telah dilakukan oleh Turki berdasarkan pada Ankara Agreement yang menjadi kerangka dasar penilaian atas kedua belah pihak. Dalam penilaian ini, Uni Eropa menegaskan mengenai pelaksanaan HAM dan demokratisasi yang dinilai belum memenuhi syarat untuk menjadi negara anggota Uni Eropa.

Pada November 2002, Turki menggelar pemilu demokratis pertamanya dan hasilnya adalah kemenangan partai oposisi yang didirikan oleh Racep Tayyip Erdogan, dan ini dimaksudkan pula untuk merubah keadaan yang terus menghambat keanggotaan Turki. Sedangkan partai Republik yang diisi oleh elit

Militer dan Kemalist berada di posisi kedua. Hal ini kemudian mengantarkan Erdogan menjadi Perdana Menteri Turki (Yavuz & Kahn, 2004:392).

Dalam menjalankan pemerintahannya, Erdogan melakukan reformasi politik dengan mengamandemen Undang-Undang terkait peran militer di pemerintahan dan membatasi campur tangan militer dalam Badan Keamanan Negara. Perdana Menteri Erdogan bahkan mengalihkan anggaran militer yang sebelumnya diatur oleh militer menjadi oleh sipil. Dalam hal etnis Kurdi, Erdogan juga membolehkan siaran radio dalam bahasa Turki yang sebelumnya dilarang.

Sebulan setelah pemilu, Uni Eropa yang mengadakan pertemuan Copenhagen Summit di Denmark mendeklarasikan bahwa negosiasi keanggotaan Turki bisa dimulai pada tahun 2004 jika Turki berhasil memenuhi persyaratan hukum yang diminta. Pada tahun 2004, Uni Eropa menepati janjinya dengan menyetujui rencana negosiasi keanggotaan Turki agar dibuka kembali dan akan dimulai pada tahun 2005. Hal ini menjadi babak baru bagi pemerintahan Turki yang telah begitu lama mengharapkan keanggotaan Uni Eropa.

Tabel III. 3

Turkey-EU Membership Timeline

Tahun Peristiwa

1959 Turki mengajukan proposal keanggotaan EU untuk pertama kalinya, saat itu EU masih bernama EEC

1963 Disetujuinya perjanjian Ankara “Ankara agreement” sebagai kerangka dasar bagi hubungan Turki-EU

1987 Turki mengajukan keanggotaan penuh di EEC 1995 Disetujuinya perjanjian custom union antara Turki dan Uni

Eropa

1997 UE menyatakan Turki memenuhi syarat untuk menjadi anggota Uni Eropa

1999 Turki mendapatkan status “countrycandidate” 2004 Uni Eropa setuju untuk membuka accession negotiations

dengan Turki

2005 Acession Negotiations antara Turki dan EU resmi dimulai Sumber:

http://ec.europa.eu/enlargement/countries/detailed\-countryinformation/turkey/index.en 3.3.2. Upaya Turki Untuk Masuk ke Uni Eropa

Sejak berubah menjadi negara sekuler Turki menjadikan keanggotaan Uni Eropa sebagai tujuan dari kebijakan luar negerinya. Sebagai dasar ideologi negara, Turki juga mengadopsi nilai-nilai dari Attaturkisme (Dinan, 2000:467) yang berisi prinsip-prinsip Republikanisme, Nasionalisme, Sekularisme, Demokrasi serta Reformasi. Namun sejak pengajuan proposal keanggotaan Turki ke Uni Eropa pada tahun 1959, Turki mengalami berbagai macam instabilitas politik (Turkey Timeline, 2012). Kondisi seperti ini tentu saja menghambat keanggotaan Turki di Uni Eropa.

Pada tahun 1987, Komisi Eropa menyatakan bahwa Acession talks antara Turki dan Uni Eropa belum bisa dimulai karena ketidakstabilan kondisi ekonomi dan politik Turki serta hubungan buruk Turki dengan Yunani dan konflik dengan Cyprus (Turkey 2007 Progress Report, 2007:6). Sikap ini ditegaskan kembali dalam accession talks yang dibuka oleh Dewan Uni Eropa pada tahun 1997 yang hanya melibatkan Cyprus tetapi belum melibatkan Turki.

Di tahun 2001, pengadilan HAM Uni Eropa menyatakan Turki bersalah karena telah melanggar HAM penduduk Cyprus-Yunani selama masa pendudukan Turki di Cyprus. Di tahun yang sama Uni Eropa juga menangguhkan penerimaan Turki karena Uni Eropa menilai Turki telah melanggar HAM atas suku minoritas

Kurdi (Turkey 2007 Progress Report, 2007:12)

Seiring dengan masih belum diterimanya proposal keanggotaan Turki, Pemerintahan Turki yang baru dibawah pimpinan Presiden Abdullah Gul dan Perdana menteri Racep Tayyip Erdogan dari partai Justice and Development party (AKP) kemudian menyadari bahwa meskipun sekularisme budaya penting, namun nilai-nilai dasar demokratisasi seperti pemerintahan yang tidak otoriter dan penghargaan terhadap HAM juga merupakan aspek penting yang harus dipenuhi jika Turki ingin menjadi anggota Uni Eropa (Khan & Yavuz, 2003:122).

Faktor tersebut yang belum mampu dipenuhi oleh pemerintahan Kemalist yang militeristik dan otoriter. Karenanya, partai AKP yang dipimpin oleh Abdullah Gul dan Recep Tayyip Erdogan yang berhasil menduduki pemerintahan lewat pemilu pada tahun 2002 memiliki visi yang lebih demokratis, toleran dan civilian-ruled demi memenuhi persyaratan demokrasi yang diberlakukan oleh Uni Eropa. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk memenuhi kriteria dalam Acession Partnership yang disetujui dengan Uni Eropa, namun juga untuk mendapatkan keanggotaan penuh yang juga menjadi tujuan kebijakan luar negeri pemerintahan Erdogan (Khan & Yavuz, 2003:122).

Dalam upaya mereformasi pemerintahan baru dibawah Perdana Menteri Erdogan, dimulai dengan mengamandemen Undang-Undang yang membatasi peran militer di pemerintahan dan mengalihkan urusan keuangan yang sebelumnya diatur oleh militer menjadi diatur oleh sipil (Khan & Yavuz, 2004:392). Dalam hal suku Kurdi, Parlemen Turki juga mencabut larangan penggunaan bahasa Kurdi sejak tahun 2003 dan terus mengurangi personil militer

yang ditempatkan di wilayah Kurdi, yaitu di Turki selatan.

Untuk membantu integrasi suku Kurdi dengan bangsa Turki, pemerintah juga meluncurkan program “Kurdish Initiative” yang memberikan hak bahasa dan kebudayaan kepada suku Kurdi (Turkey Profile, 2013). Pada tahun 2004 untuk pertama kalinya Turki membolehkan siaran televisi berbahasa Kurdi di Turki dan di tahun yang sama juga Turki mencabut praktek hukuman mati dimana hal ini kemudian mendapatkan sambutan positif dari Uni Eropa.

Upaya perubahan ini memberikan hasil positif bagi Turki dimana dalam laporan accession pertamanya sejak proses acession dimulai pada tahun 2004, disebutkan bahwa Turki telah mengalami perubahan yang fundamental terutama dalam bidang HAM, hak-hak wanita, hak minoritas dan hak penduduk non-Muslim. Hubungan Turki dengan Yunani juga membaik, ditandai dengan semakin banyaknya perjanjian bilateral yang dibuat oleh kedua negara. Sedangkan dalam hal permasalahan dengan Cyprus, Turki juga telah menunjukkan kemajuan positif dengan ikut mendukung upaya PBB dalam mengakhiri konflik Cyprus (EU commission progress report on Turkey, 2005). Akhirnya pada 3 Oktober 2005 proses negosiasi (acession process) antara Turki dan Uni Eropa secara resmi dimulai.

Pada tahun 2006, negosiasi antara Uni Eropa dan Turki menemui jalan buntu ketika Turki menolak mengakui kemerdekaan Cyprus (europa.eu, 2012). Akhirnya, negosiasi baru dimulai lagi pada tahun 2010 serta membahas mengenai keamanan pangan, veternitarian dan kebijakan kesehatan. Negosiasi-negosiasi lain mengenai seluruh persyaratan yang tercantum dalam accession partnership

document ini akan terus berlanjut dalam proses yang tidak terbatas pada waktu dan dapat berubah kapan saja (open-ended process).

Dalam bidang politik, komisi Uni Eropa menilai Turki terus berupaya memenuhi kriteria politik Uni Eropa dengan terus melakukan perubahan. Perubahan ini diantaranya adalah pada September 2010, Turki mengamandemen undang-undangnya yang berhubungan dengan hak dasar dan yang berkaitan dengan administrasi publik. Undang-Undang ini juga merubah sistem militer Turki dengan membatasi campur tangan militer di pemerintahan dan merubah kembali struktur sistem pengadilan. Selain itu, Undang-Undang ini juga menjamin perlindungan hukum bagi anak-anak dan wanita, perlindungan data penduduk dan pendirian Ombudsman atau Advokat publik yang ditunjuk oleh pemerintah (EU Commission Progress Report on Turkey, 2010).

Dalam bidang ekonomi, hasil evaluasi komisi Uni Eropa yang dilaporkan pada tahun 2010 itu menyebutkan bahwa Uni Eropa memiliki sistem pasar yang berfungsi (functioning market economy) dan pertumbuhan ekonomi terus meningkat setiap tahunnya. Turki juga memberikan kemudahan investasi hingga perkembangan ekonomi baik di sektor publik maupun swasta mengalami pertumbuhan. Laporan ini juga menyebutkan bahwa Turki telah berhasil membuat perubahan yang substansial dalam pemerintahannya dalam rangka finalisasi negosiasi antara Turki dan Uni Eropa (EU Commission Progress Report on Turkey, 2010).

Sejak dibukanya negosiasi masuknya Turki ke Uni Eropa yang dimulai pada tahun 2005 hingga tahun 2012, Turki dan Uni Eropa sudah membuka 13 sesi

negosiasi dari 35 sesi yang harus dipenuhi Turki sebelum akhirnya keputusan akhir diambil. Dari ke-13 sesi itu, hanya satu yang sudah selesai pembahasannya yaitu dalam hal ilmu pengetahuan dan penelitian. Setelah pembahasan itu selesai pada tahun 2010, pembicaraan terkait accession Turki belum dilanjutkan kembali dan belum ada sesi baru yang dibuka. Sedangkan ada sekitar 18 sesi yang dibekukan oleh Uni Eropa karena sikap Turki yang menolak kapal laut dari Cyprus mendarat dipelabuhannya dan 10 sesi lainnya di-veto oleh pemerintah Perancis dan Cyprus (Head, 2012).

51

Dokumen terkait