• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

3. Sejarah Singkat Bank Umum Swasta Nasional Devisa (Bank Devisa)

Bank swasta adalah bank di mana sebagian besar sahamnya dimiliki oleh swasta nasional serta akte pendiriannya pun didirikan oleh swasta, pembagian keuntungannya juga untuk swasta nasional. Bank swasta dibedakan menjadi dua jenis yaitu Bank Umum Swasta Nasional Devisa dan Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa.

Bank Umum Swasta Nasional Devisa (Bank Devisa) adalah Bank yang sebagian besar modalnya dimiliki oleh pihak swasta non asing dan dapat melakukan transaksi dengan luar negeri atau berkaitan dengan valas. Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa (Bank Non Devisa) adalah Bank yang sebagian besar modalnya dimiliki oleh pihak swasta non asing dan tidak melakukan transaksi dengan luar negeri atau berkaitan dengan valas (www.bi.go.id, diakses pada tanggal 4 Desember 2015).

Bank Umum Syariah di Indonesia yang telah memenuhi persyaratan tersebut untuk menjadi BUSN Devisa adalah PT. Bank Muamalat Indonesia, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank Syariah Mega Indonesia, dan PT. Bank BNI Syariah.

a. PT. Bank Muamalat Indonesia

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk didirikan pada 24 Rabius Tsani 1412 H atau 1 Nopember 1991, diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia, dan memulai kegiatan operasinya pada 27 Syawwal 1412 H atau 1 Mei 1992. Dengan dukungan nyata dari eksponen Ikatan Cendekiawan Muslim se-

88 Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha Muslim, pendirian Bank Muamalat juga menerima dukungan masyarakat.

Pada tanggal 27 Oktober 1994, hanya dua tahun setelah didirikan, Bank Muamalat berhasil menyandang predikat sebagai Bank Devisa. Pada akhir tahun 90an, Indonesia dilanda krisis moneter yang memporakporandakan sebagian besar perekonomian Asia Tenggara. Sektor perbankan nasional tergulung oleh kredit macet di segmen korporasi. Bank Muamalat pun terimbas dampak krisis. Dalam upaya memperkuat permodalannya, Bank Muamalat mencari pemodal yang potensial, dan ditanggapi secara positif oleh Islamic Development Bank

(IDB) yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tanggal 21 Juni 1999, IDB secara resmi menjadi salah satu pemegang saham Bank Muamalat. Oleh karenanya, kurun waktu antara tahun 1999 dan 2002 merupakan masa-masa yang penuh tantangan sekaligus keberhasilan bagi Bank Muamalat. Dalam kurun waktu tersebut, Bank Muamalat berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba berkat upaya dan dedikasi setiap Kru Muamalat, ditunjang oleh kepemimpinan yang kuat, strategi pengembangan usaha yang tepat, serta ketaatan terhadap pelaksanaan perbankan syariah secara murni (www.bankmuamalat.co.id, diakses pada tanggal 4 Desember 2015).

b. PT. Bank Syariah Mandiri

Kehadiran Bank Syariah Mandiri (BSM) sejak tahun 1999, sesungguhnya merupakan hikmah sekaligus berkah pasca krisis

89 ekonomi dan moneter 1997-1998. Salah satu bank konvensional, PT Bank Susila Bakti (BSB) yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT Mahkota Prestasi juga terkena dampak krisis. BSB berusaha keluar dari situasi tersebut dengan melakukan upaya merger dengan beberapa bank lain serta mengundang investor asing.

Pada saat bersamaan, pemerintah melakukan penggabungan

(merger) empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo) menjadi satu bank baru bernama PT Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999. Kebijakan penggabungan tersebut juga menempatkan dan menetapkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebagai pemilik mayoritas baru BSB. Sebagai tindak lanjut dari keputusan merger, Bank Mandiri melakukan konsolidasi serta membentuk Tim Pengembangan Perbankan Syariah. Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengembangkan layanan perbankan syariah di kelompok perusahaan Bank Mandiri, sebagai respon atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).

Perubahan kegiatan usaha BSB menjadi bank umum syariah dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI No. 1/24/ KEP.BI/1999, 25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/ 1999, BI menyetujui perubahan nama menjadi PT Bank

90 Syariah Mandiri. Menyusul pengukuhan dan pengakuan legal tersebut, PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sejak Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999 (www.syariahmandiri.co.id, diakses pada tanggal 4 Desember 2015).

c. PT. Bank Mega Syariah

Berawal dari PT Bank Umum Tugu (Bank Tugu). Bank umum yang didirikan pada 14 Juli 1990 tersebut diakuisisi CT Corpora (d/h Para Group) melalui Mega Corpora (d/h PT Para Global Investindo) dan PT Para Rekan Investama pada 2001. Sejak awal, para pemegang saham memang ingin mengonversi bank umum konvensional itu menjadi bank umum syariah. Keinginan tersebut terlaksana ketika Bank Indonesia mengizinkan Bank Tugu dikonversi menjadi PT Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI) pada 27 Juli 2004. Pengonversian tersebut dicatat dalam sejarah perbankan Indonesia sebagai upaya pertama pengonversian bank umum konvensional menjadi bank umum syariah. Pada 25 Agustus 2004, BSMI resmi beroperasi (www.megasyariah.co.id, diakses pada tanggal 4 Desember 2015).

d. PT. Bank BNI Syariah

Dengan berlandaskan pada Undang-Undang No.10 Tahun 1998, pada tanggal 29 April 2000 didirikan Unit Usaha Syariah (UUS) BNI dengan 5 kantor cabang di Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara dan Banjarmasin. Selanjutnya UUS BNI terus berkembang menjadi 28 Kantor Cabang dan 31 Kantor Cabang Pembantu.

91 Berdasarkan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 12/41/KEP.GBI/2010 tanggal 21 Mei 2010 mengenai pemberian izin usaha kepada PT Bank BNI Syariah. Dan di dalam Corporate Plan

UUS BNI tahun 2000 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off tahun 2009. Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dengan beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (www.bnisyariah.co.id, diakses pada tanggal 4 Desember 2015).

B. Analisis dan Pembahasan 1. Uji Statistik

a. Analisis Statistik Deskriptif dengan Metode RGEC

Analisis statistik deskriptif tentang penilaian tingkat kesehatan bank dengan metode RGEC periode tahun 2011-2014 adalah sebagai berikut:

1) Bank Muamalat Indonesia

Tabel 4.1

Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Muamalat Indonesia Tingkat Kesehatan Bank Muamalat Indonesia

Tahun Profil

Risiko GCG BOPO CAR

Rata-Rata RGEC PK Keterangan 2011 2 1 1 2 1,5 2 Sehat 2012 2 1 1 2 1,5 2 Sehat 2013 2 1 1 2 1,5 2 Sehat 2014 3 3 2 1 2,25 2 Sehat

Sumber: Data diolah, 2015

Tabel 4.1 menjelaskan bahwa tingkat kesehatan Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2011 sampai tahun 2014

92 mendapatkan PK-2 atau bank dinyatakan SEHAT. Sehingga Bank Muamalat Indonesia dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Faktor eksternal tersebut tercermin dalam variabel RGEC yaitu Profil Risiko, GCG, BOPO dan CAR.

Peringkat komposit dari profil risiko tahun 2011-2013 sangat stabil, yaitu PK-2 atau bank dengan profil risiko yang baik. Dan pada tahun 2014 peringkat komposit profil risiko mengalami penurunan menjadi PK-3 atau bank dengan profil risiko yang cukup baik.

Peringkat komposit dari GCG tahun 2011-2013 sangat stabil, yaitu PK-1 atau bank dengan GCG yang sangat baik. Dan pada tahun 2014 peringkat komposit GCG mengalami penurunan menjadi PK-3 atau bank dengan GCG yang cukup baik.

Peringkat komposit dari BOPO tahun 2011-2013 sangat stabil, yaitu PK-1 atau bank dengan BOPO yang sangat memadai. Dan pada tahun 2014 peringkat komposit BOPO mengalami penurunan menjadi PK-2 atau bank dengan BOPO yang memadai.

Peringkat komposit dari CAR tahun 2011-2013 sangat stabil, yaitu PK-2 atau bank dengan CAR yang memadai. Dan pada tahun 2014 peringkat komposit CAR mengalami peningkatan menjadi PK-1 atau bank dengan CAR yang sangat memadai.

93 Berikut adalah grafik mengenai rata-rata RGEC (peringkat komposit dasar) dari tingkat kesehatan Bank Muamalat Indonesia tahun 2011-2014.

Gambar 4.1

Perkembangan Tingkat Kesehatan Bank Muamalat Indonesia

Sumber: Data diolah, 2015

Gambar 4.1 menjelaskan bahwa perkembangan tingkat kesehatan Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2011 sampai tahun 2013 memiliki peringkat komposit dasar sebesar 1,5. Dan pada tahun 2014 tingkat kesehatan Bank Muamalat Indonesia memiliki peringkat komposit dasar sebesar 2,25. Tingkat kesehatan Bank Muamalat Indonesia pada tahun 2014 mengalami penurunan, tetapi Bank Muamalat Indonesia tetap dikatakan sebagai bank dengan kondisi kesehatan yang SEHAT karena peringkat komposit masih menunjukkan PK-2. Dari penjumlahan peringkat komposit dasar sebesar 6,75, Bank Muamalat Indonesia merupakan bank terbaik kedua yang memiliki tingkat kesehatan bank paling baik.

94

2) Bank Syariah Mandiri

Tabel 4.2

Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Syariah Mandiri Tingkat Kesehatan Bank Syariah Mandiri

Tahun Profil

Risiko GCG BOPO CAR

Rata-Rata RGEC PK Keterangan 2011 2 2 1 2 1.75 2 Sehat 2012 2 2 1 2 1.75 2 Sehat 2013 2 2 1 2 1.75 2 Sehat 2014 2 2 2 2 2 2 Sehat

Sumber: Data diolah, 2015

Tabel 4.2 menjelaskan bahwa tingkat kesehatan Bank Syariah Mandiri pada tahun 2011 sampai tahun 2014 mendapatkan PK-2 atau bank dinyatakan SEHAT. Sehingga Bank Syariah Mandiri dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Faktor eksternal tersebut tercermin dalam variabel RGEC yaitu Profil Risiko, GCG, BOPO dan CAR.

Peringkat komposit dari profil risiko dan GCG tahun 2011- 2014 sangat stabil, yaitu PK-2 atau bank dengan profil risiko dan GCG yang baik.

Peringkat komposit dari BOPO tahun 2011-2013 sangat stabil, yaitu PK-1 atau bank dengan BOPO yang sangat memadai. Dan pada tahun 2014 peringkat komposit BOPO mengalami penurunan menjadi PK-2 atau bank dengan BOPO yang memadai.

Peringkat komposit dari CAR tahun 2011-2014 sangat stabil, yaitu PK-2 atau bank dengan CAR yang memadai.

95 Berikut adalah grafik mengenai rata-rata RGEC (peringkat komposit dasar) dari tingkat kesehatan Bank Syariah Mandiri tahun 2011-2014.

Gambar 4.2

Perkembangan Tingkat Kesehatan Bank Syariah Mandiri

Sumber: Data diolah, 2015

Gambar 4.2 menjelaskan bahwa perkembangan tingkat kesehatan Bank Syariah Mandiri pada tahun 2011 sampai tahun 2013 memiliki peringkat komposit dasar sebesar 1,75. Dan pada tahun 2014 tingkat kesehatan Bank Syariah Mandiri memiliki peringkat komposit dasar sebesar 2. Tingkat kesehatan Bank Syariah Mandiri pada tahun 2014 mengalami penurunan, tetapi Bank Syariah Mandiri tetap dikatakan sebagai bank dengan kondisi kesehatan yang SEHAT karena peringkat komposit masih menunjukkan PK-2. Dari penjumlahan peringkat komposit dasar sebesar 7,25, Bank Syariah Mandiri merupakan bank terbaik ketiga yang memiliki tingkat kesehatan bank paling baik.

96

3) Bank Mega Syariah

Tabel 4.3

Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Mega Syariah Tingkat Kesehatan Bank Mega Syariah

Tahun Profil

Risiko GCG BOPO CAR

Rata-Rata RGEC PK Keterangan 2011 3 2 2 2 2.25 2 Sehat 2012 3 2 1 2 2 2 Sehat 2013 2 2 1 2 1.75 2 Sehat 2014 2 2 3 1 2 2 Sehat

Sumber: Data diolah, 2015

Tabel 4.3 menjelaskan bahwa tingkat kesehatan Bank Mega Syariah pada tahun 2011 sampai tahun 2014 mendapatkan PK-2 atau bank dinyatakan SEHAT. Sehingga Bank Mega Syariah dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Faktor eksternal tersebut tercermin dalam variabel RGEC yaitu Profil Risiko, GCG, BOPO dan CAR.

Peringkat komposit dari profil risiko tahun 2011-2012 sangat stabil, yaitu PK-3 atau bank dengan profil risiko yang kurang baik. Dan pada tahun 2013-2014 peringkat komposit profil risiko mengalami peningkatan menjadi PK-2 atau bank dengan profil risiko yang baik.

Peringkat komposit dari GCG tahun 2011-2014 sangat stabil, yaitu PK-2 atau bank dengan GCG yang baik.

Peringkat komposit dari BOPO tahun 2011 mendapatkan PK-2 atau bank dengan BOPO yang memadai. Pada tahun 2012- 2013 peringkat komposit BOPO mengalami peningkatan menjadi

97 PK-1 atau bank dengan BOPO yang sangat memadai. Dan pada tahun 2014 peringkat komposit BOPO mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi PK-3 atau bank dengan BOPO yang kurang memadai.

Peringkat komposit dari CAR tahun 2011-2013 sangat stabil, yaitu PK-2 atau bank dengan CAR yang memadai. Dan pada tahun 2014 peringkat komposit CAR mengalami peningkatan menjadi PK-1 atau bank dengan CAR yang sangat memadai.

Berikut adalah grafik mengenai rata-rata RGEC (peringkat komposit dasar) dari tingkat kesehatan Bank Mega Syariah tahun 2011-2014.

Gambar 4.3

Perkembangan Tingkat Kesehatan Bank Mega Syariah

Sumber: Data diolah, 2015

Gambar 4.3 menjelaskan bahwa perkembangan tingkat kesehatan Bank Mega Syariah pada tahun 2012 dan tahun 2014 memiliki peringkat komposit dasar sebesar 2. Pada tahun 2011 tingkat kesehatan Bank Mega Syariah memiliki peringkat komposit dasar sebesar 2,25 dan pada tahun 2013 peringkat komposit dasar

98 sebesar 2,75. Tingkat kesehatan Bank Mega Syariah selama tahun 2011-2014 cukup fluktuatif, hal ini menyatakan bahwa Bank Mega Syariah tetap dikatakan sebagai bank dengan kondisi kesehatan yang SEHAT karena peringkat komposit masih menunjukkan PK- 2. Dari penjumlahan peringkat komposit dasar sebesar 8, Bank Mega Syariah merupakan bank terbaik keempat yang memiliki tingkat kesehatan bank paling baik.

4) Bank BNI Syariah

Tabel 4.4

Penilaian Tingkat Kesehatan BNI Syariah Tingkat Kesehatan BNI Syariah

Tahun Profil

Risiko GCG BOPO CAR

Rata-Rata RGEC PK Keterangan 2011 2 2 1 1 1.5 2 Sehat 2012 2 1 1 1 1.25 1 Sangat Sehat 2013 2 1 1 1 1.25 1 Sangat Sehat 2014 2 2 1 1 1.5 2 Sehat

Sumber: Data diolah, 2015

Tabel 4.4 menjelaskan bahwa tingkat kesehatan BNI Syariah pada tahun 2011 sampai tahun 2014 mendapatkan PK-2 atau bank dinyatakan SEHAT. Sehingga BNI Syariah dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Faktor eksternal tersebut tercermin dalam variabel RGEC yaitu Profil Risiko, GCG, BOPO dan CAR.

Peringkat komposit dari profil risiko tahun 2011-2014 sangat stabil, yaitu PK-2 atau bank dengan profil risiko yang baik.

99 Peringkat komposit dari GCG tahun 2011 mendapatkan PK-2 atau bank dengan GCG yang baik. Pada tahun 2012-2013 peringkat komposit GCG mengalami peningkatan menjadi PK-1 atau bank dengan GCG yang sangat baik. Dan pada tahun 2014 peringkat komposit GCG mengalami penurunan kembali menjadi PK-2 atau bank dengan GCG yang baik.

Peringkat komposit dari BOPO dan CAR tahun 2011-2014 sangat stabil, yaitu PK-1 atau bank dengan BOPO dan CAR yang sangat memadai.

Berikut adalah grafik mengenai rata-rata RGEC (peringkat komposit dasar) dari tingkat kesehatan BNI Syariah tahun 2011- 2014.

Gambar 4.4

Perkembangan Tingkat Kesehatan BNI Syariah

Sumber: Data diolah, 2015

Gambar 4.4 menjelaskan bahwa perkembangan tingkat kesehatan BNI Syariah pada tahun 2011 dan tahun 2014 memiliki peringkat komposit dasar sebesar 1,5. Pada tahun 2012 dan tahun 2013 tingkat kesehatan BNI Syariah memiliki peringkat komposit

100 dasar sebesar 1,25. Tingkat kesehatan BNI Syariah selama tahun 2011-2014 cukup fluktuatif, hal ini menyatakan bahwa BNI Syariah tetap dikatakan sebagai bank dengan kondisi kesehatan yang SEHAT karena peringkat komposit masih menunjukkan PK- 2. Dari penjumlahan peringkat komposit dasar sebesar 5,5, Bank Muamalat Indonesia merupakan bank terbaik pertama yang memiliki tingkat kesehatan bank paling baik.

5) Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah

Berdasarkan hasil analisis yang telah dipaparkan di atas, maka tingkat kesehatan Bank Umum Syariah dapat dirangkum dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.5

Tingkat Kesehatan Bank Umum Syariah Tahun 2011-2014

Peringkat Komposit

Tahun BMI BSM BMS BNIS

2011 PK-2 PK-2 PK-2 PK-2

2012 PK-2 PK-2 PK-2 PK-1

2013 PK-2 PK-2 PK-2 PK-1

2014 PK-2 PK-2 PK-2 PK-2

Sumber: Data diolah, 2015

Dari hasil analisis masing-masing bank yang termasuk Bank Umum Syariah, Tabel 4.5 menunjukkan keseluruhan peringkat komposit yang telah dicapai selama tahun 2011 sampai tahun 2014.

Peringkat komposit Bank Muamalat Indonesia (BMI), Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Mega Syariah (BMS) selama

101 tahun 2011-2014 mendapatkan PK-2. Artinya kondisi bank yang secara umum SEHAT sehingga dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Hal ini menyatakan bahwa ketiga bank tersebut telah menjaga dan terus mempertahankan kesehatannya selama tahun 2011-2014 dengan baik.

Dan dapat diketahui bahwa BNI Syariah (BNIS) merupakan bank yang mampu mendapatkan PK-1 pada tahun 2012 dan tahun 2013. PK-1 diartikan bahwa kondisi bank yang secara umum SANGAT SEHAT sehingga dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Walau di tahun 2014 peringkat komposit BNI Syariah mengalami penurunan menjadi PK-2, BNI Syariah tetap menjadi bank yang paling baik peringkatnya bila dilihat dari tingkat kesehatan keseluruhan Bank Umum Syariah yang masuk dalam kriteria penelitian selama tahun 2011-2014.

2. Uji Asumsi Klasik

Variabel dependen yang digunakan yaitu Return on Asset (ROA). Variabel independen yang digunakan yaitu Risk Profile (Profil Risiko),

Good Corporate Governance (GCG), Earnings (Rentabilitas), dan Capital

102

a. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah pengujian mengenai kenormalan distribusi data. Uji ini bertujuan untuk menguji apakah variabel pengganggu atau residual dalam model regresi memiliki distribusi normal. Model regresi yang baik adalah jika data berdistribusi normal atau mendekati normal. Cara yang digunakan untuk mengetahui data yang berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan menggunakan grafik histogram dan grafik Normal Probability Plot. Dasar pengambilan keputusan dalam analisis grafik Normal P-Plot dan grafik histogram yaitu:

1) Jika pada grafik P-Plot data mendekati atau menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau pada grafik Histogram data menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

2) Jika pada grafik P-Plot data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal atau pada grafik Histogram data tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji normalitas dengan analisis grafik histogram dan grafik normal P-Plot. Berikut ini adalah hasil dari uji normalitas.

103 1) Analisis Grafik Histogram

Gambar 4.5 Grafik Histogram

Sumber: Data diolah, 2015

Berdasarkan Gambar 4.5 di atas, sebaran residual secara umum berbentuk lonceng, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai residual normal atau data berdistribusi normal.

2) Analisis Grafik Normal Probability Plot (Grafik P-Plot)

Gambar 4.6 Grafik Normal P-Plot

Sumber: Data diolah, 2015

Berdasarkan Gambar 4.6, terlihat bahwa penyebaran data (titik) menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis

104 diagonal yang berarti bahwa data berdistribusi normal atau model regresi memenuhi asumsi normalitas.

b. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi masing-masing variabel bebas (independen) saling berhubungan secara linier (korelasi). Dalam model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas atau independen (Ghozali, 2012). Uji ini dapat dideteksi dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factors (VIF) dari hasil analisis SPSS. Jika nilai Tolerance lebih besar daripada 0,1 dan nilai VIF lebih kecil daripada 10, maka dapat disimpulkan bahwa data bagus dan tidak terjadi masalah multikolinieritas. Berikut adalah hasil dari uji multikolinieritas.

Tabel 4.6

Uji Multikolinieritas dengan Tolerance dan VIF

Sumber: Data diolah, 2015

Berdasarkan output pada tabel 4.6, dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi multikolinieritas karena nilai

105

Tolerance lebih besar daripada 0,1 (Tolerance > 0,1) dan nilai VIF lebih kecil daripada 10 (VIF < 10).

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas adalah terjadinya ketidaksamaan varians dalam fungsi regresi dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Data yang baik adalah data yang memiliki kesamaan varians dalam fungsi regresi yang disebut sebagai homoskedastisitas. Berikut adalah hasil dari uji heteroskedastisitas.

1) Analisis Grafik Scatter Plot

Gambar 4.7 Grafik Scatter Plot

Sumber: Data diolah, 2015

Berdasarkan pada grafik Scatter Plot di atas, terlihat bahwa titik-titik dari data menyebar secara acak serta tersebar baik di atas

106 angka nol maupun di bawah angka nol pada sumbu Regression Studentized Residual dan tidak membentuk suatu pola tertentu.

2) Metode Spearman’s Rho

Tabel 4.7

Uji Heteroskedastisitas (Metode Spearman’s Rho)

Sumber: Data diolah, 2015

Berdasarkan output pada Tabel 4.7, dapat diketahui bahwa semua variabel independen mempunyai signifikansi korelasi lebih dari 0,05 dengan Unstandardized Residual. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak terjadi masalah heteroskedastisitas.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada

107 model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi dalam model regresi. Uji Durbin-Watson (Uji D-W) merupakan uji yang sangat popular untuk menguji ada-tidaknya masalah autokorelasi dari model empiris yang diestimasi. Berikut adalah hasil dari uji autokorelasi.

Tabel 4.8 Uji Durbin-Watson

Sumber: Data diolah, 2015

Berdasarkan Tabel 4.8, nilai Durbin-Watson sebesar 0,231. Jika dibandingkan dengan tabel Durbin Watson dengan (n) = 64 dan jumlah variabel independen (k = 4), diperoleh nilai tabel dL (lower) = 1,4659 dan du (upper) = 1,7303, sehingga nilai 4-du sebesar 4-1,7303 = 2,2697 sedangkan nilai 4-dL sebesar 4-1,4659 = 2,5341. Oleh karena nilai D- W = 0,231 berada di bawah dL = 1,4659 maka dapat disimpulkan terjadi autokorelasi positif.

Oleh karena adanya autokorelasi maka nilai standard error

(SE) dan nilai t-statistik tidak dapat dipercaya sehingga diperlukan pengobatan. Pengobatan autokorelasi tergantung dari nilai ρ yang dapat diestimasi dengan beberapa cara seperti di bawah ini (Ghozali, 2012:130):

108 1) Nilai ρ diestimasi dengan Durbin-Watson d

2) Nilai ρ diestimasi dengan Theil-Nagar d

3) Cochrane-Orcutt Step 1 Langkah Analisis:

(a) Dapatkan nilai lag satu residual (Ut_1) dengan perintah

Transform dan Compute. Isikan pada target variabel Ut_1 dan isikan pada kotak Numeric Expression Lag(Res_1).

(b) Dari menu utama SPSS, pilih Analyze, kemudian submenu

Regression, lalu pilih Linear. Pada kotak dependent isikan variabel Res_1 (Ut) dan pada kotak independent isikan variabel Ut_1 (Lag satu dari Ut). Abaikan yang lain dan pilih OK.

Tabel 4.9

Unstandardized Coefficients

Sumber: Data diolah, 2015

Berdasarkan output pada Tabel 4.9, diperoleh nilai ρ sebesar 0,865 (yaitu nilai koefisien variabel Ut_1). Dan

109 berdasarkan pada perhitungan di atas diperoleh nilai ρ menurut berbagai metode seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.10 Nilai ρ (Rho) Metode Nilai ρ Durbin-Watson d 0,8845 Theil-Nagar d 0,89189 Cochrane-Orcutt Step 1 0,865 Sumber: Data diolah, 2015

Ketiga metode ternyata menghasilkan nilai yang hampir sama. Untuk itu peneliti memilih metode Theil-Nagar d untuk mentransformasikan persamaan regresi. Langkah Analisis:

1) Membentuk variabel ROAt@, Profil_Risikot@, GCGt@, BOPOt@ dan CARt@ dengan perintah Transform dan Compute. Pada kotak Target Variable diisikan ROAt@, dan pada kotak

Numeric Expression diisikan ROA-0,88*Lag(ROA). Lakukan hal yang sama untuk semua variabel X.

2) Dari menu utama SPSS pilih Analyze, kemudian Regression, lalu pilih Linear. Pada kotak dependent isikan variabel ROAt@, serta pada kotak independent isikan variabel Profil_Risikot@, GCGt@, BOPOt@ dan CARt@.

3) Pilih Statistik dan aktifkan Durbin-Watson (untuk menguji apakah

Dokumen terkait