• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. GAMBARAN PELAKSANAAN TANGGUNGJAWAB

A. Gambaran Situasi Umum Paroki Santo Petrus Pekalongan

2. Sejarah Singkat Paroki Santo Petrus Pekalongan

Penulisan sejarah singkat Paroki Santo Petrus Pekalongan mengacu pada buku Katolik Sakpore sebagai buku refleksi 80 tahun paroki Santo Petrus Pekalongan. Pada tahun 1927, “Gereja Misi Kristus Raja di Purwokerto” termasuk Vikariat Apostolik Batavia (Jakarta) berada di bawah pelayanan Tarekat Jesuit. Tahun 1927 Tarekat Jesuit menyerahkan kawasan ini kepada Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC). Dalam rangka serah terima penguasaan daerah karya misi dari Jesuit kepada MSC, Romo B. Thien MSC bersama dengan Romo BJJ. Visser MSC dan Romo De Lange MSC, mendapat tugas membuka paroki Tegal (Mardi Usmanto, 2011: 19). Namun, untuk tugas penggembalaan Romo De Lange MSC

menjangkau seluruh daerah karisidenan Pekalongan, termasuk wilayah Pekalongan itu sendiri. Sesekali para romo MSC tersebut melakukan kunjungan ke Pekalongan.

Pada tahun-tahun pertama dalam tugas penggembalaan tersebut, jumlah umat di Pekalongan masih sangat sedikit dan dirasa kurang menarik untuk pengembangan misi. Namun di Pekalongan sudah ada keluarga Katolik yang bernama P. Fischer. Beliau inilah yang memegang kas umat atau stasi Pekalongan. Pada tanggal 18 April 1928 dikeluarkan surat keputusan dari Gubernur Jendral tentang ijin perjalanan dinas pastor paroki setahun 12 kali dengan biaya ditanggung pemerintah. Dari sinilih, bisa diketahui bahwa Pekalongan pada waktu itu merupakan stasi dari Paroki Tegal (Mardi Usmanto, 2011: 21).

Bersamaan dengan dikeluarkannya surat keputusan itu, Romo B. Thien MSC pergi ke Purworejo untuk bertemu Superior, yaitu Romo BJJ. Visser MSC dan melaporkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengembangan Gereja Pekalongan. Berdasarkan informasi yang telah dihimpun oleh Romo B. Thien MSC, kemungkinan besar di Pekalongan akan mendapatkan tanah dari Kotapraja Pekalongan. Berdasarkan laporan ini, maka Romo BJJ. Visser MSC membuat surat permohonan kepada Kotapraja Pekalongan yang langsung dibawa sendiri oleh Romo B. Thien MSC (Mardi Usmanto, 2011: 22).

Pada tanggal 30 April 1928, Romo B. Thien MSC berangkat ke Purworejo dan memberitahukan kepada Romo BJJ. Visser MSC bahwa di Pekalongan ada sebuah kuburan lama yang menurut salah seorang Dewan Walikota Pekalongan

mungkin dapat diserahkan kepada Gereja Katolik untuk membangun sebuah gereja. Maka pada tanggal 28 Juni 1928 Romo B. Thien MSC membuat surat permohonan kepada Kotapraja Pekalongan untuk memperoleh tanah bekas kuburan lama tersebut yang letaknya di “Booweng” guna membangun gereja Katolik. Namun sayangnya surat permohonan ini ditolak oleh Kotapraja Pekalongan. Pihak Kotaparaja Pekalongan hanya bersedia memberikan sebidang tanah yang letaknya di “Bugisan” sebelah Tenggara penjara lama.

Dalam tugasnya Romo B. Thien MSC diganti oleh Romo W. J. Zeegers MSC dari Belanda yang tiba di daerah misi baru (Jawa) pada tanggal 12 Oktober 1929. Romo W. J. Zeegers MSC cukup banyak menaruh perhatian pada umatnya di Pekalongan yang sedang sibuk mengadakan persiapan akan terbentuknya paroki baru. Berdirinya paroki baru sudah disiapkan tenaga Misioner baru yaitu Romo Nico Van Oers MSC. Pada tanggal 27 September 1930, Romo Nico Van Oers MSC tiba dan masih bertempat tinggal di Tegal (Mardi Usmanto, 2011: 24).

Pada tanggal 1 November 1930, Romo Nico Van Oers MSC mulai menetap di Pekalongan dan menempati rumah di sebelah utara jalan raya depan Stasiun. Mulailah dicatat dalam buku baptis Pekalongan yaitu Leonardus Fredy Maramis sebagai yang pertama. Maria Kustilah Lebdati, sebagai yang kedua, dan seterusnya. Tanggal inilah yang dijadikan sebagai momen peresmian dan berdirinya paroki Pekalongan. Sejak saat itu paroki Pekalongan sudah tidak menjadi bagian dari wilayah paroki Tegal. Sementara itu pula datang juga Tarekat para Suster Notre Dame (SND) dan para suster Ursulin masuk ke Pekalongan dan terlibat dalam karya pendidikan dan kesehatan (Mardi Usmanto, 2011: 25).

Perjalanan selanjutnya diwarnai dengan perjuangan untuk mendapatkan tanah guna mendirikan bangunan gereja. Dibidik sebidang tanah yang berbatasan dengan klinik gula (sekarang untuk Kodim 0710) di Jalan Imam Bonjol (sekarang jadi ruko) tetapi pihak masyarakat keberatan. Mgr. BJJ. Visser MSC yang menjadi prefektur Apostolik melobi Bupati Pekalongan (11 Januari 1933) dan mendapat kebebasan untuk memilih tanah. Akhirnya dipilih sebidang tanah yang terletak di sebelah Barat Daya Kaliloji dengan harga fl 1.788,25 yang dibayarkan ke Kotapraja Pekalongan.

Pada tanggal 6 Juni 1936 kontraktor Fermon-Kuypers percaya untuk membangun gedung gereja dengan biaya fl 25.800,- dan Gereja tersebut dapat menampung 250 umat. Peletakan batu pertama oleh Romo J. Van Rooyen MSC pada tanggal 4 Agustus 1935. Sedangkan pemberkatan gedung gereja oleh Mgr. BJJ. Visser MSC pada tanggal 15 Desember 1935 dengan ditandai pemindahan sakramen Mahakudus dari kapel susteran ke gereja (Mardi Usmanto, 2011: 38).

Memasuki tahun 1942, bulan April ditandai dengan masuknya tentara Dai Nippon ke kota Pekalongan dan menguasai keadaan kota. Dalam masa penjajahan Jepang, pelayanan kepada umat Katolik terganggu karena hanya mengandalkan Romo Padmowidjojo MSC, Romo Lengkong Pr, dan Romo Danoewijojo Pr. Pelayanan ini tidak tentu dan tergantung waktu kunjungan karena imam-imam inilah yang bebas dari interniran dan melayani seluruh Vikariat Apostolik Purwokerto (Mardi Usmanto, 2011: 74).

Setelah kemerdekaan RI, pada bulan Februari 1949 ada serahterima pimpinan Gereja yaitu Mgr. BJJ. Visser MSC ke Romo W. Schomakers MSC.

Kepemimpinan beliau menekankan pentingnya partisipasi aktif dari umat dalam pembangunan Gereja. Pada masa itu terbentuk berbagai organisasi seperti WKRI, Pemuda Katolik dan Partai Katolik. Umat Katolik pun semakin berkembang, terutama peningkatan jumlah umat dari golongan pribumi dan Tionghoa. Sementara golongan Eropa menurun seperti pada tahun 1950 sejumlah 102 menjadi 45 pada tahun 1960 (Mardi Usmanto, 2011: 93).

Pada bulan Agustus 1961, Romo JH. Van de Pas MSC datang ke Pekalongan menggantikan Romo Tangelder MSC. Pelayanan yang selanjutnya tidak dikhususkan pada golongan Eropa, China maupun pribumi, melainkan ditujukan kepada seluruh umat beriman. Apalagi pada masa pasca G 30 September, banyak golongan ingin dipermandikan. Sejak April 1965 paroki Pekalongan digembalakan oleh pastor Welling MSC (Mardi Usmanto, 2011: 94).

Sebagai tindak lanjut Konsili Vatikan II di paroki dibentuk Dewan Paroki yang bertugas menampung dan menciptakan partisipasi umat dalam kehidupan menggereja. Akibat gerakan G 30 S PKI kerukunan umat juga makin bertambah. Muncul pula kerukunan antar agama. Kegiatan yang dilakukan seperti Natalan bersama. Muncul pula pengelompokan umat berdasarkan kring dan stasi. Paroki makin berkembang berkat pelayanan para imam dan kedewasaan umat. Bahkan ada yayasan pangkruktilaya yang berdiri dengan akta tertanggal 1 April 1973. Tanggal 6 Maret 1974 terjadi pergantian Uskup dari Mgr. W. Schoemaker MSC ke Mgr. PS. Hardjosoemarto MSC. Pada periode ini juga berkembang karya pendidikan yaitu sekolah SMU Bernardus, pengelolaan radio Bernardus maupun ARO (Alas Roban) (Mardi Usmanto, 2011: 113).

Selanjutnya peristiwa penting yang terjadi adalah renovasi pastoran dan aula yang dimulai dengan pembentukan panitia pada bulan Oktober 1992. Pastoran dengan 2 lantai dan aula seluas 218 m² yang digunakan untuk kantor paroki, rapat dan pertemuan umat. Gedung ini diberkati oleh Mgr. PS. Hardjosoemarto MSC pada tanggal 27 Februari 1994 (Mardi Usmanto, 2011: 114). Sampai tahun 2002 dalam masa penggembalaan Mgr. Julianus Kema Sunarka, SJ, di paroki Pekalongan semakin melebarkan sayapnya menjangkau wilayah kabupaten Batang, seperti Limpung, Subah, Kedawung, Bawang, Plelen, Kuripan, Bandar, dan sebagainya. Juga munculnya pemekaran wilayah kring dan stasi seperti kring Kristiana dari Thomas, kring Agustinus dan Emanuel dari kring Magdalena, kring Fransiskus dari Andreas, stasi Kajen dari bagian Karanganyar.

Sekarang memasuki tahun 2015 paroki Pekalongan telah berusia 85 tahun. Banyak hal telah terjadi di paroki ini khususnya perkembangan iman umat dan tentu perkembangan ini semakin mendewasakan dan semakin menampakkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam setiap karya dan pelayanan umat. Begitu juga dengan wilayah penggembalaan makin meluas. Banyak kring telah berubah menjadi lingkungan-lingkungan, stasi-stasi berubah menjadi paroki sendiri, dan sebagainya.

Dokumen terkait