• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Singkat Perusahaan

1. Sejarah dan Perkembangan Perum Pegadaian

Pegadaian sebagai salah satu lembaga perkreditan yang memberikan pinjaman uang dengan jaminan barang bergerak, telah lama dikenal di Indonesia. Sejak jaman VOC yang dikenal dengan nama Bank of Leening

yang berpusat di Batavia. Sampai sekarang telah mengalami masa pemerintahan antara lain:

a. Pegadaian jaman VOC (1746 – 1811);

b. Pegadaian pada jaman penjajahan Inggris (1811 – 1916); c. Pegadaian pada jaman penjajahan Belanda (1916 – 1942); d. Pegadaian pada jaman penjajahan Jepang (1942 – 1945);

e. Pegadaian pada jaman sesudah Kemerdekaan (1945 – sekarang).

Selama periode tersebut Perum Pegadaian tetap melaksanakan fungsi penyaluran kredit dengan jaminan barang-barang bergerak yang memenuhi kriteria sebagai barang jaminan.

a). Pegadaian pada jaman VOC (1746 – 1811)

Pada awal permulaan penjajahan Belanda di Indonesia atau dikenal dengan jaman VOC, atas prakarsa Gubernur Jenderal Imhoff di Batavia didirikan sebuah Bank of Leening, yang fungsinya memberikan kredit gadai juga wesel bank. Lembaga ini merupakan campuran antara

pemerintah dan swasta dengan perbandingan modal 23 modal pemerintah dan13 modal swasta. Modal swasta pertama adalah Rp. 7.500.000,00. Kemudian sejak tahun 1774 badan usaha ini diusahakan sepenuhnya oleh pemerintah VOC. Modalnya adalah pinjaman pemerintah dengan bunga 6% per tahun. Sedangkan Bank of Leening memungut bunga 9% per tahun.

b). Pegadaian pada jaman penjajahan Inggris (1811 – 1816)

Pada tahun 1811 terjadi peralihan kekuasaan di Indonesia dari pemerintah Belanda ke pemerintah Inggris. Raffles selaku penguasa dan pimpinan tidak menyetujui berdirinya Bank of Leening yang diurus swasta. Kemudian pemerintah mengganti dengan Licentie Stelsel yang menetapkan bahwa setiap orang diperbolehkan menerima gadai dan mendirikan badan perkreditan ini asal mendapat ijin pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Selanjutnya pada tahun 1814 Licentie Stelsel

diganti denganPacht Stelsel.

c). Pegadaian pada jaman penjajahan Belanda (1816 - !942)

Tahun 1816 pihak Belanda kembali menguasai Indonesia. Pacht stelsel makin berkembang baik dalam arti perluasan wilayah maupun jumlahnya. Pada tahun 1943 di seluruh Indonesia dijalankanPacht Stelsel

kecuali di daerah Priyangan dan Yogyakarta. Tahun 1856 pemerintah Belanda mengadakan penelitian Pacht Stelsel dan diketahui adanya penyimpangan-penyimpangan antara lain :

2). Barang jaminan yang tidak ditebus pada waktunya tidak dilelang tetapi dimiliki sendiri.

3). Uang kelebihan yang menjadi hak pemberi gadai dan hasil penjualan lelang setelah dikurangi pelunasan tidak dibayar kepada yang berhak.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka mulai tahun 1870

Pacht Stelsel diganti dengan Licentie Stelsel, akan tetapi kemudian ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Jumlah penerimaan pemerintah menurun dari Rp. 375.000,00 menjadi Rp. 56.000,00 dengan demikian penggantian stelsel tersebut tidak menguntungkan pemerintah dan rakyat.

Sehubungan dengan hal itu maka Undang-Undang tanggal 22 Januari 1880 Pacht Stelsel dihidupkan kembali. Untuk mencegah kecurangan-kecurangan yang merugikan rakyat maka pemerintah mengadakan pengawasan. Akan tetapi hal ini menyebabkan orang enggan melakukan usaha ini secara legal, yang kemudian terjadi pemboikotan oleh orang-orang Cina yang kemudian dapat diselesaikan. Namun pada akhirnya orang Cina berkeinginan untuk menangani sendiri usaha di bidang pegadaian agar hal-hal yang merugikan rakyat banyak dapat diakhiri.

Pada tanggal 18 Maret 1901 pemerintah membuka pegadaian negara di Sukabumi dan berhasil. Kemudian disusul dengan berdirinya pegadaian di Bogor, Tasikmalaya, Cianjur, Sikakak, dan Cimahi. Tahun 1902 monopoli yang ditetapkan Belanda berlaku di Yogyakarta dan pada

tahun 1917 monopoli pemerintah berlaku di Surakarta. Tahun 1921 ditetapkan bahwa penyelenggaraan pegadaian di luar Jawa dan Madura dilakukan oleh pemerintah, yang berarti pegadaian diseluruh Indonesia dimonopoli oleh pemerintah Belanda.

Tahun 1928 diatur tempat kedudukan pegadaian sebagai suatu Jawatan dalam lingkungan Departemen Keuangan dan mempunyai wewenang Directorat Van Vinancial mengenai administrasi dan lelang kantor negara. Setelah tahun 1930 Jawatan pegadaian dinyatakan sebagai perusahaan negara dalam arti bahwa kekayaan negara di administrasikan terpisah dari kekayaan negara yang lain.

d). Pegadaian pada jaman penjajahan Jepang (1942 – 1945)

Pegadaian pada masa ini terjadi kurang koordinasi antara pusat dan daerah yang pada penjajahan Jepang ini disebut sebagai Gunseikanbu Zaimubuatau juga Museibu.Pada tahun 1943 pegadaian negeri di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta dan Surakarta diserahkan kepengurusannya kepada daerah swapraja setempat.

Pada masa penjajahan Jepang pegadaian banyak mengalami kemunduran yang disebabkan oleh :

1). Barang-barang emas dan permata harus dijual kepada tentara Jepang. 2). Lelang barang-barang emas dan permata dihapuskan, begitu juga

dengan barang-barang logam lainnya. 3). Rakyat makin melarat.

4). Pegadaian hampir tidak berfungsi dimana rakyat tidak mempunyai barang-barang.

Kebanyakan pula pada masa ini barang-barang yang tidak bisa ditebus menjadi milik pemerintah Jepang untuk keperluan perang. Alat-alat produksi pertanianpun yang terbuat dari logam boleh dilelang dan tidak dijadikan besi seperti sebelumnya.

e). Pegadaian dimasa Kemerdekaan (1945 – sekarang)

Aturan dasar Pegadaian diatas ada dalam UU No. 1 tahun 1928 dan berdasarkan PP tahun 1969 maka Jawatan Pegadaian mulai tanggal 1 Januari 1961 diubah menjadi Perusahaan Negara berdasarkan UU No. 19 tahun 1960. Dengan kedudukan tersebut diatas, maka pegadaian tetap berada dalam lingkungan Menteri Keuangan. Dalam masa Kabinet Dwikora Pegadaian didelegasikan kepada Departemen UP 3 (Urusan Pendapatan, Pembiayaan, dan Pengawasan). Karena penghijauan kembali susunan kompatemen keuangan dalam rangka reorganisasi Kabinet Dwikora maka berdasarkan keputusan Presiden No.180 Tahun 1965 yang mengubah susunan kompatemen terdiri dari:

1). Departemen urusan Bank Sentral 2). Departemen urusan Anggaran Negara 3). Departemen urusan Iuran Negara 4). Departemen urusan Asuransi

Dengan terjadinya Hiperinflasi pada akhir tahun 1965 yang kemudian diikuti dengan kebijaksanaan moneter pemerintah, maka

Pegadaian yang sumber dananya hanya tergantung dari pemerintah, modalnya menjadi susut. Sehingga praktis tidak bisa menjalankan fungsinya lagi dengan baik.

Tahun 1967 keluar KEPPRES No. 76 yang mengukuhkan kedudukan Perusahaan Jawatan (PERJAN) Pegadaian menjadi berada di lingkungan Departemen Keuangan. Kemudian dengan keluarnya Peraturan Pemerintah No,10 tahun 1990 maka status perusahaan jawatan dialihkan menjadi PERUM PEGADAIAN, sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 2 UU No. 9 Tahun 1989. Kedudukan dari Perum Pegadaian ini berpusat di Jl. Kramat Raya 182 Jakarta – 10430 P.O. Box 1090 dan mempunyai perwakilan cabang-cabang di seluruh Indonesia.

Setiap tahun diharapkan dapat dibuka cabang baru sebanyak 15 cabang. Pembukaan cabang tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan ekonomis, tetapi juga berdasarkan permintaan masyarakat atau pemerintah daerah setempat.

B. Lokasi Perusahaan

Dokumen terkait