• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ENDE TAROMBO SONAK MALELA PADA UPACARA ADAT

3.4 Sejarah Ende Tarombo Sonak Malela

Ende Tarombo Sonak Malela adalah nyanyian yang berisi tentang silsilah suatu marga-marga turunan dari Raja Sonak Malela. Selain berisi silsilah ende tarombo juga mendeskripsikan penyebaran, asal-usul, kebaikan, keberhasilan, kesejahteraan dan semua aspek-aspek yang berhubungan dengan marga yang dijabarkan.65 Ende tarombo Sonak Malela adalah salah satu dari beberapa ende tarombo dalam suku Batak Toba. Latar belakang sejarah ende tarombo Sonak Malela juga sama seperti ende tarombo lainnya yang ada dalam kebudayaan musik Batak Toba. Latar belakang dimaksud mulai dari penciptaannya, fungsi dan kegunaannya. Akan tetapi terciptanya ende tarombo tidak lepas dari yang fungsi dasarnya untuk membicarakan marga-marga. Namun bisa jadi nyanyian tersebut adalah nyanyian pokok yang khusus untuk milik marga tersebut dan dijadikan sebagai identitas mereka.

Menurut Marsius Sitohang, awal terciptanya ende tarombo adalah untuk mempermudah mengingat tarombo seseorang. Artinya dengan hanya mendengarkan orang akan mengetahui tarombonya secara cepat tanpa mencari dan mempelajari dari sumber.66

3.4.1 Ende Tarombo Pada Lapo Tuak

Berdasarkan penjelasan Monang Butar-Butar67 yang didapatnya dari tua-tua dan tokoh masyarakat, ende tarombo pada awalnya diciptakan dan dinyanyikan di Lapo Tuak dikawasan Kota Medan.

65 Akan dibahas dalam bab selanjutnya.

66Wawancara dengan Marsius Sitohang pada Februari 2015

67Monang Butar-Butar adalah Pembina LK. Ria Agung Nusantara di Medan. Beliau juga alumni etnomusikologi.

Lapo Tuak secara harfiah berarti warung tuak. Tuak adalah nira yang berasal dari pohon Aren. Masyarakat Batak Toba khususnya bapak-bapak yang gemar minum tuak selalu pergi ke lapo tuak. Disana mereka berkumpul, berbicara, bernyanyi dan main game (berupa catur, domino, dan kartu) sambil minum tuak. Biasanya mereka datang ke lapo tuak pada waktu hari mau petang menuju malam.

Yang menarik dari lapo tuak adalah biasanya selalu ada alat musik misalnya gitar, sulim68 dan lainnya.

Dewasa ini, beberapa Lapo Tuak khususnya diwilayah Kota Medan sudah dilengkapi dengan alat musik modern. Contoh; Keyboard. Adapun penggunaan instrument keyboard sejalan dengan perkembangan musik dalam masyarakat Batak Toba yang tujuannya untuk menarik perhatian orang yang akan berdatangan untuk senantiasa tergiur dengan suasana gembira di lapo tuak.

Hal tersebut sudah merupakan kebiasaan yang bagi mereka yang datang ke lapo tuak untuk bernyanyi dan memainkan instrument yang tersedia secara bersama-sama. Penyajian musik dan lagu-lagu di lapo tuak bersifat bebas tergantung pada selera dan suasana yang dirasakan masyarakat disana. Nahum Situmorang, yang menciptakan ± 500 lagu kebanyakan lagunya diciptakan di lapo tuak. Lapo tuak salah satu wadah bagi Nahum Situmorang dalam menciptakan karyanya yang salah satunya adalah ende tarombo Sonak Malela. Menurut pengamatan penulis tentang ende tarombo dengan melihat kumpulan lagu- lagu ciptaan Nahum Situmorang, bahwa mayoritas ende tarombo diciptakan oleh musisi Nahum Situmorang.

68

Lebih lagi, keberadaan ende tarombo dalam kebudayaan musik Batak Toba salah satu gagasan beliau. Ende tarombo sonak malela kemungkinan besar diciptakan Nahum Situmorang di Lapo Tuak69. Diketahui bahwasanya kebanyakan hari-hari Nahum Situmorang dihabiskan di lapo tuak. Hal tersebut merupakan gambaran hidup Nahum yang bersifat bebas karena beliau tidak memiliki isteri.70

Ende tarombo dalam lapo tuak condong kepada hiburan. Artinya, ende ini dinyanyikan oleh orang-orang yang berada di tempat tersebut sama halnya dengan lagu-lagu lain. Tidak ada hubungan dengan marga orang-orang disana yang terdapat dalam ende tarombo yang akan disajikan. Karya- karya Nahum pernah dilanjutkan dengan berdirinya Group musik Palambok Pusu- Pusu dan Parisma 71. Group ini pernah tenar di wilayah Kota Medan. Group ini sangat disenangi oleh masyarakat Medan khususnya bagi orang-orang yang senang dengan lagu Nahum. Dari segi penyajiannya, ende tarombo dinyanyikan dengan gaya akustik. Namun minimnya dokumen tentang group ini membuat penulis terbatas dalam mengetahuinya.

3.4.2 Ende Tarombo Pada Pertunjukan Opera Batak

Keberadaan ende tarombo sudah eksis pada zaman Opera Batak. Opera Batak diciptakan oleh Tilhang Gultom sekitar tahun 1920an dipertunjukkan dengan berbagai cerita mitologi, legenda dan berbagai pengalaman hidup dari masyarakat Batak Toba. Opera Batak merupakan sebuah kesenian teater yang didalamnya terdapat musik instrumentalia dan vokal. Kesenian ini dilakukan berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain.

69Wawancara dengan Drs. Monang Butar-Butar pada April 2015 70Baca Buku tentang musisi Nahum Situmorang

Sebagai suatu bagian dari Opera Batak, nyanyian merupakan sebuah unsure yang memegang peranan penting baik dalam konteks mitologi dan cerita yang dibawakan maupun sajian diluar mitologi dan cerita tersebut. Salah satu contoh nyanyian yang digunakan adalah ende tarombo. Pada pertunjukan Opera, tentunya ende tarombo disajikan dengan gaya Opera. Artinya ende tarombo ciptaan Nahum yang pada dasarnya diciptakan dan dinyanyikan di lapo tuak berbeda penyajiannya dalam Opera. Penyajian ende tarombo pada lapo tuak bisa saja hanya diiringi oleh satu instrument. Sedangkan penyajian ende tarombo dalam Opera diiringi oleh ensambel uning- uningan.

Tentang penyajian dan penggunaan ende tarombo dalam pertunjukan Opera sangat berhubungan dengan tempat. Akibat dari tempat pertunjukan yang berpindah-pindah maka ende tarombo juga dinyanyikan sesuai atau berhubungan dengan lokasi. Contoh; Jika pertunjukan opera batak di gelar di Desa Simbolon kec. Palipi, maka ende tarombo yang sajikan adalah nyanyian yang berhubungan dengan marga simbolon atau marga yang disana banyak penduduknya. Mereka menyanyikan Ende Parna. Ende Parna adalah nyanyian silsilah tentang Raja Nai Abaton yang merupakan asal mula sekitar 64 marga yang salah satunya adalah marga Simbolon. Hal tersebut dilakukan untuk menambah apresiasi dan memikat perhatian masyarakat setempat. Akan tetapi ende tarombo lain juga dapat disajikan jika ada permintaan dari pihak masyarakat dimana pertunjukan berlangsung. Berbeda dengan penggunaan ende tarombo dalam pertunjukan Opera yang ada hubungannya dengan tempat. Ende Tarombo dalam konteks adat disajikan berdasar pada marga pihak-pihak yang berpesta. Namun nyanyian lain

juga dapat dinyanyikan jika ada permintaan lain. Dalam hal ini, musisi diharapkan mengetahui beberapa ende tarombo supaya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat terkait, baik dalam konteks hiburan (lapo tuak), pertunjukan (opera) maupun dalam adat (perkawinan).

3.4.1.1 Sekilas Tentang Opera Batak

Biasanya Opera Batak menghabiskan waktu antara 1 minggu s/d 3 bulan dalam satu kali kunjungan. Mereka menampilkan pertunjukan tersebut setiap malamnya dan ditempat yang terbuka. Bahasa yang digunakan dalam Opera Batak pada awalnya adalah Bahasa Batak Toba. Namun dalam perkembangannya dengan masuknya unsur budaya dari luar Batak Toba sendiri misalnya dari unsur budaya Simalungun, Karo, Pakpak dan lainnya, tentu bahasa yang digunakan juga mengalami perubahan sesuai dengan peran dan tema yang akan dibawakan pada sebuah pertunjukan.

Pada hakekatnya Opera Batak disajikan dengan menggunakan cerita dan disertakan dengan pertujukan musik dan tari yang lahir dari budaya musikal Batak Toba. Ada pendapat bahwa opera dibentuk dan diciptakan untuk mengangkat kembali nilai budaya Batak Toba yang hampir hilang akibat dari kristenisasi. Opera Batak memiliki sejarah yang cukup panjang. Opera Batak dimulai dari kelompok Tilhang Opera Batak yang dibentuk sekitar tahun 1928 dan dipimpin oleh Tilhang Gultom. Pada tahun 1931 Opera Batak yang disebut dengan Tilhang Opera Batak terhenti akibat dari situasi politik di Indonesia. Pencabutan surat izin operasional dari pihak colonial merupakan salah satu alasan terhentinya Opera tersebut. Kemudian mereka membuat perjanjian kepada pihak colonial

untuk mengganti nama Tilhang Opera Batak menjadi Tilhang Batak India Tonel dan akan mengganti semua lakon dari pemeran Opera tersebut yang dianggap ada hubungannya dengan penjajahan Belanda di Nusantara. Untuk selanjutnya pihak Belanda kemudian memberikan surat izin operasional untuk Tilhang Batak Indian Tonel kembali beroperasi. Dengan perkembangan Tilhang Batak Indian Tonel yang sangat pesat dan semakin popular maka kembali berganti nama menjadi Sandiwara Asia Timur Raya sekitar tahun 1943. Akantetapi pada tahun berikutnya Sandiwara Asia Timur sempat terhenti karena perang dunia ke dua antara tahun 1943-1945. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia Opera Batak kembali dibentuk dengan pengkajian yang lebih condong terhadap ekspresi local dan mengandung unsur-unsur budaya Indonesia. Antara tahun 1946−1947 Opera Batak berganti nama menjadi Tilhang Toneel Gezelschapf dan tidak lama kemudian berganti nama lagi menjadi Ria Top. Pada masa ini, Opera Batak mencoba mewakili lima sub-etnis Batak dan pada tahun 1951 Opera Batak memanfaatkan tradisi kebudayaan yang digunakan untuk mempengaruhi solidaritas kedaerahan di Nusantara. Setahun kemudian Opera Batak berubah menjadi Panca Ragam Tihang yang didalamnya sudah mencakup ke lima sub- etnis Batak. Pada tahun 1956, Opera Batak berubah menjadi SERINDO (Seni Ragam Indonesia). Dalam pertunjukan SERINDO mereka telah memasukkan sepenuhnya budaya dari berbagai sub-etnis Batak lainnya. Kemudian Opera Batak pecah dan terbagi kedalam ±35 Opera baru.71

71Lihat Gondang Sabangunan Batak Toba tulisan Ritaony dan Irwansyah dan

3.4.2 Ende Tarombo Sonak Malela Salah Satu Nyanyian Silsilah Yang Cukup Populer di Kota Medan

Ende tarombo Sonak Malela adalah nyanyian kebanggaan turunan Sonak Malela. Nyanyian ini sangat popular khususnya dalam pelaksanaan adat suku Batak Toba tetapi digunakan khususnya dalam acara turunan Raja Sonak Malela di Kota Medan. Hal tersebut dibenarkan oleh tiga orang pemain musik adat72 di Kota Medan. Mereka menyebutkan bahwa hampir semua pemain musik adat mengetahui nyanyian silsilah tersebut. Tommy Marpaung, SH, seorang pengusaha musik adat di Kota Medan juga mendukung hal itu. Beliau yang juga sebagai salah satu turunan Sonak Malela menyebutkan bahwa ende tarombo Sonak Malela popular dikalangan suku Batak Toba dan semua pemain musik adat mengetahuinya. Selanjutnya beliau mengutarakan setiap turunan Sonak Malela melaksanakan pesta adat ende tarombo Sonak Malela selalu disajikan.

Tentang kepopuleran ende tarombo Tommy menyebutkan bahwa hal tersebut sejalan dengan isi nyanyian ende tarombo Sonak Malela yang secara garis besar menceritakan kebesaran marga Simangunsong, Marpaung, Napitupulu dan Pardede.73

Dokumen terkait