• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian

Pada penelitian mekanisme transmisi moneter ini, instrumen moneter yang digunakan diklasifikasikan menjadi dua, yaitu instrumen moneter konvensional dan syariah. Instrumen moneter konvensional dicerminkan melalui besarnya Sertifikat Bank Indonesia (SBI), sedangkan Instrumen moneter syariah dicerminkan melalui Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS). Kemudian melihat transmisi tersebut dengan jalur harga aset, dimana dalam transmisi moneter konvensional menggunakan nilai emisi obligasi sedangkan untuk transmisi moneter syariah menggunakan nilai emisi sukuk. Nilai emisi adalah jumlah nilai obligasi dan sukuk yang sudah beredar. sehingga pada akhirnya dapat pula mempengaruhi stabilitas harga (inflasi).

1. Perkembangan Inflasi

Inflasi menjadi perhatian yang serius dalam sebuah negara dan tidak dapat dibiarkan begitu saja. Inflasi mendapat perhatian yang serius dari pemerintah maupun Bank Indonesia selaku lembaga resmi yang bertugas untuk mengatur stabilitas nilai rupaiah. Dalam mengatur inflasi, pemerintah juga membuat target inflasi agar dapat terarah dalam menjaga stabilitas harga tersebut. Target atau sasaran

81

inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai oleh Bank Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat. (Bank Indonesia, 2015)

Setiap tahun kita dapat merasakan naiknya harga suatu barang yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidup terutama kebutuhan pokok. Hal tersebut dikarenakan adanya peningkatan tingkat inflasi di negara kita yang mengakibatkan harga barang-barang kebutuhan kita mengalami kenaikan. Dampak tersebut sangat dirasakan, dimana daya beli masyarakat menjadi terus berkurang namun kebutuhan tersebut harus tetap terpenuhi. Hal ini dapat dilihat dari indeks harga konsumen. Fenomena inflasi merupakan salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan yang dijumpai hampir semua negara di dunia. Inflasi juga merupakan indikator utama untuk mengukur tingkat kestabilan perekonomian di suatu negara. Tingkat inflasi yang cenderung stabil setiap periodenya juga dapat mencerminkan bahwa perekonomian di negara tersebut cenderung stabil juga.

82

Dari gambar 4.1 dapat dilihat pergerakan dari tahun 2008 sampai akhir 2014 kemampuan daya beli masyarakat akibat inflasi semakin menurun. Disajikan pada gambar berikut mengenai perkembangan inflasi di Indonesia dalam periode Januari 2011 sampai dengan Desember 2014 dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.1

Perkembangan inflasi (IHK) Periode Januari 2011 s.d Desember 2014 Di Indonesia

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS), diolah

2. Perkembangan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) dengan sistem diskonto atau bunga. SBI digunakan untuk menjaga kestabilan rupiah dimana dengan penjualan SBI Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan uang primer yang beredar. Sejak Juli 2005, Bank Indonesia melakukan perhitungan suku

83

bunga setifikat Bank Indonesia dengan cara mengumumkan target suku bunga SBI yang diinginkan Bank Indonesia untuk pelelangan pada masa periode tertentu. (Masyitha, 2012: 40)

Dari gambar 4.2, posisi SBI cenderung terus mengalami penurunan dari tahun 2011 sampai tahun 2014. Disajikan pada gambar berikut mengenai perkembangan SBI di Indonesia dalam periode Januari 2011 sampai dengan Desember 2014 dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.2

Perkembangan SBI Periode Januari 2011 s.d Desember 2014 Di Indonesia

sumber : Bank Indonesia, di olah

Pada tahun di berlakukan dua sistem moneter, yaitu moneter konvensional dan moneter syariah. Sehingga munculah berbagai instrumen moneter syariah, salah satunya SBIS. Dengan dikeluakannya peraturan Bank Indonesia Nomor 10/11/PBI/2008 mengenai Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) maka peraturan

84

mengenai SWBI resmi dicabut. SBIS diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai salah satu instrumen operasi pasar terbuka pengganti SWBI dalam rangka pengendalian moneter yang dilakukan berdasarkan Prinsip Syariah. SBIS yang diterbitkan menggunakan akad Ju’alah, yaitu janji atau komitmen (iltizam) untuk memberikan imbalan tertentu (’iwadhju’l) atas pencapaian hasil (natijah) yang ditentukan dari suatu pekerjaan.

Dari gambar 4.3 dapat dilihat posisi SBIS sangat berbeda sekali dengan posisi dari SBI, SBIS cenderung mengalami kenaikan yang signifikan setiap tahunnya. Disajikan pada gambar berikut mengenai perkembangan SBIS di Indonesia dalam periode Januari 2011 sampai dengan Desember 2014 dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.3

Perkembangan SBIS Periode Januari 2011 s.d Desember 2014 Di Indonesia

sumber : Bank Indonesia, di olah 3. Perkembangan Uang Beredar M2

85

Uang Beredar adalah kewajiban sistem moneter (Bank Sentral, Bank Umum, dan Bank Perkreditan Rakyat/BPR) terhadap sektor swasta domestik (tidak termasuk pemerintah pusat dan bukan penduduk). Kewajiban yang menjadi komponen Uang Beredar terdiri dari uang kartal yang dipegang masyarakat (di luar Bank Umum dan BPR), uang giral, uang kuasi yang dimiliki oleh sektor swasta domestik, dan surat berharga selain saham yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun. Uang Beredar dapat didefinisikan dalam arti sempit (M1) dan dalam arti luas (M2). Uang Beredar disusun dengan mengacu pada Monetary and Financial

Statistics Manual (MFSM) 2000 dan Compilation Guide (2008).

Adapun cakupan uang beredar M2 adalah pada bank yang beroperasi di Indonesia yaitu pada Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. (Bank Indonesia, 2015)

Semakin banyak jumlah uang beredar maka nilai tukar rupiah cenderung akan melemah dan harga-harga akan meningkat. pertumbuhan jumlah uang beredar yang tinggi sering kali juga menjadi penyebab tingginya inflasi karena meningkatnya jumlah uang beredar akan menaikan permintaan yang pada akhirnya jika diikti oleh pertumbuhan di sektor riil akan menyebabkan naiknya harga. (Bank Indonesia, Indonesian Economic Review and Outlook: 2013)

86

Dari gambar 4.4 dapat dilihat dari tahun ke tahun jumlah uang beredar M2 selalu mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini pula bedasarkan penjabaran diatas bahwa semakin banyak jumlah uang beredar maka tingkat inflasi juga semakin tinggi. Jika jumlah uang beredar terus meningkat adalah berkaitan, disebabkan harga-harga mengalami kenaikan dengan volume transaksi yang sama dari tahun-tahun sebelumnya.

Peningkatan jumlah uang beredar M2 ini bisa disebabkan karena aktivitas perbankan atau intervensi Bank Indonesia. Pertumbuhan uang beredar yang mengalami peningkatan sejalan dengan kebutuhan liquiditas masyarakat yang juga mengalami peningkatan. Disajikan pada gambar berikut mengenai perkembangan M2 di Indonesia dalam periode Januari 2011 sampai dengan Desember 2014 dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 4.4

Perkembangan SBIS Periode Januari 2011 s.d Desember 2014 Di Indonesia

87 4. Perkembangan Obligasi dan Obligasi Syariah (Sukuk)

Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. (Bursa Efek Indonesia, 2015)

Meskipun pasar obligasi korporat relatif kecil dibanding total kredit perbankan, pasar ini tetap menjadi sumber pendanaan yang penting untuk beberapa Emiten. Manfaat utama adalah tersedianya sumber pendanaan jangka panjang dan ada insentif meningkatkan tata kelola perusahaan serta umumnya tidak diperlukan agunan khusus yang diikat. Karena itu di masa depan prospek pasar obligasi korporat tetap cerah, khususnya untuk Emitmen yang dapat memenuhi syarat, termasuk syarat pemeringkatan. (Kahlil Rowter, 2005: 1)

Asia Bond Monitor dalam Asian Development Bank (ADB), Pasar obligasi di kawasan berkembang Asia Timur tumbuh 12,1 persen (yoy) menjadi USD 6,7 triliun pada akhir Maret 2013. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan dua digit pada obligasi korporasi. Indonesia adalah pasar obligasi korporasi dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan tersebut, yang mencapai 26,9 persen (yoy) menjadi USD 20 miliar. Tingkat imbal hasil obligasi

88

pemerintah cenderung mengalami penurunan sejak akhir 2012 dan meningkat sejak awal 2013 akibat kekhawatiran inflasi.

Dari gambar 4.5 dapat dilihat Obligasi Korporasi memiliki kenaikna yang signifikan setiap tahunnya, bahkan dapat dilihat bahwa emisi obligasi korporasi dapat meningkat signifikan disetiap bulannya. Disajikan pada gambar berikut mengenai perkembangan Obligasi Korporasi di Indonesia dalam periode Januari 2011 sampai dengan Desember 2014 dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.5

Perkembangan Obligasi Korporasi Periode Januari 2011 s.d Desember 2014 Di Indonesia

Sumber : Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di olah

Dibidang pasar modal syariah terdapat yang disebut obligasi syariah (sukuk). Salah satu bentuk instrumen keuangan syariah yang telah banyak diterbitkan baik oleh korporasi maupun negara adalah sukuk. Di beberapa negara sukuk telah menjadi instrumen pembiayaan

89

anggaran negara yang penting. Di Indonesia, pasar keuangan syariah termasuk sukuk tumbuh dengan cepat, meskipun porsinya dibandingkan pasar konvensional masih relatif sangat kecil. Untuk keperluan pengembangan basis sumber pembiayaan anggaran negara dan dalam rangka pengembangan pasar keuangan syariah dalam negeri, pemerintah telah mengesahkan RUU tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). (Abdul Fatah, 2011: 2)

UU SBSN tersebut akan menjadi legal basis bagi penerbitan dan pengelolaan sukuk negara. tujuan diterbitkannya sukuk adalah untuk memperluas basis sumber pembiayaan anggaran negara atau perusahaan, mendorong pengembangan pasar keuangan syariah, menciptakan benchmark di pasar keuangan syariah, diversifikasi basis investor, mengembangkan alternatif instrumen investasi, mengoptimalkan pemanfaatan barang milik negara atau perusahaan, dan memanfaatkan dana-dana masyarakat yang belum terjaring oleh sistem obligasi dan perbankan konvensional. (Abdul Fatah, 2011: 2)

Fakta selama ini menunjukkan bahwa pasar sangat responsif terhadap penerbitan sukuk. Hampir semua sukuk yang diterbitkan, diserap habis oleh pasar, bahkan pada beberapa kasus menimbulkan kelebihan permintaan. Sukuk di Indonesia, pertama kali diterbitkan oleh PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) pada bulan September tahun 2002 dengan nilai Rp 175 miliar. Langkah Indosat tersebut diikuti perusahaan-perusahaan besar lainnya. Nilai penerbitan

90

sukuk korporasi hingga akhir 2008 mencapai 4,76 triliun. (Abdul Fatah, 2011: 7)

Selama tahun 2013, terdapat 10 penerbitan sukuk korporasi dan 16 sukuk negara dengan total nilai mencapai Rp51,4 triliun. Total penerbitan sukuk di Indonesia tersebut menyumbang lima persen penerbitan sukuk di seluruh dunia. Maraknya investasi sukuk juga tak lepas dari surat edaran beromor SE-13/BL/2012 pada 19 September 2012. Ini merupakan turunan dari Peraturan Bapepam-LK Nomor IX. A.1 tentang Ketentuan Umum Pengajuan Pernyataan Pendaftaran. Kehadiaran surat edaran tersebut telah memberi penegasan dan kepastian hukum diperbolehkannya emiten yang mengajukan pendaftaran obligasi dan sukuk dalam waktu bersamaan untuk menyampaikan informasi penawaran tertulis dalam satu prospektus.

Dari gambar 4.6 dapat dilihat perkembangan sukuk sama dengan obligasi, yaitu semakin meningkat signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, sukuk terlihat mengalami peningkatan tidak disetiap bulannya tetapi hanya pada setiap tahunnya sukuk mengalami peningkatan yang signifikan. Disajikan pada gambar berikut mengenai perkembangan Sukuk korporasi di Indonesia dalam periode Januari 2011 sampai dengan Desember 2014 dapat dilihat pada gambar berikut ini.

91 Gambar 4.6

Perkembangan Sukuk Periode Januari 2011 s.d Desember 2014 Di Indonesia

Sumber: Otoritas jasa Keuangan (OJK), di olah

Dokumen terkait