BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
3. Sekolah
Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat pembelajaran yang sengaja didesain (by design) sesuai dengan spesifikasi masing-masing berdasarkan tingkatan dan orientasi bidang yang dipelajari. Di dalanya terdapat dua komponen utama, yaitu guru sebagai pendidik dan peserta didik sebagai pihak yang terdidik (Arifin, 2012: 16). Sekolah adalah suatu lembaga pendidikan, tempat guru mengajar dan tempat murid belajar, maka terjadilah proses belajar mengajar, dimana para murid meningkatkan serta memperkembangkan:
a. Ilmu pengetahuan dan teknologi
c. Tata pergaulan/hubungan (manusia dengan manusia, manusia dengan masyarakat, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa)
d. Hasil karya (teknologi, keterampilan, kesenian dll).
Sekolah sebagai masyarakat belajar adalah sekolah yang merupakan pusat nilai-nilai yang disepakati sebagai terpuji, dikehendaki, berguna serta perlu ditaruhkan bagi kehidupan warga, masyarakat dan negara, dan karenanya dianggap perlu dibiasakan kepada anak didik sedini mungkin mengenal, memahami, manggali, menyadari, menguasai, menghayati, dan belajar mengamalkannya melalui proses belajar mengajar di sekolah (Depdikbud, 1984: 3). Sekolah merupakan bagian dari masyarakat, ia diciptakan oleh masyarakat untuk masyarakat itu sendiri, guru-gurunya adalah warganegara anggota masyarakat biasa, murid-muridnya juga datang dari keluarga biasa, yang lebih banyak menggunakan waktunya di luar sekolah daripada di dalam sekolah, dan sedikit kekecualian mereka mencoba menempatkan diri mereka sendiri di dalam tata-susuan yang sudah ada (Beeby, 1981: 293).
Nawawi (1982: 25), sekolah adalah organisasi kerja sebagai wadah kerjasama sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan. Dengan kata lain sekolah adalah salah satu bentuk ikatan kerjasama sekelompok orang, yang bermaksud mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang
dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia, baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat.
a. Tujuan dan Fungsi Sekolah
Arifin (2012: 56) mengatakan bahwa tujuan diturunkan dari misi. Tujuan adalah keinginan yang hendak dicapai di masa yang akan datang dan digambarkan secara umum serta bersifat relatif tidak mengenal batas waktu. Tujuan sekolah harus dirumuskan dalam kerangka visi dan misi sekolah. Dalam merumuskan tujuan sekolah hendaknya Permendiknas No. 19 Tahun 2007 dalam Arifin (2012: 56):
1) Menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka menengah (empat tahun)
2) Mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta relevan dengan kebutuhan masyarakat
3) Mengacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan oleh sekolah dan pemerintah
4) Mengakomodasi masukan dari berbagai pihak yang berkepentingan termasuk komite sekolah dan diputuskan oleh rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah
5) Disosialisasikan kepada warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan
Rawita (2011: 60) menyatakan sekolah berfungsi menyiapkan generasi muda yang kelak mampu mempertahankan eksistensi bangsa yang memiliki kebudayaan berbeda dengan bangsa lain. Bahkan dengan lebih terperinci Nasution (1983) dalam Rawita (2011: 60), menyatakan sekolah di Indonesia berfungsi untuk mempertahankan norma-norma sosial, seperti struktur keluarga, agama, filosofi bangsa untuk mencegahterjadinya perubahan yang dapat mengancam kesatuan bangsa.
b. SMA Negeri dan SMA Swasta
Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai sekolah umum menyelenggarakan program yang berhubungan dengan kebutuhan memasuki Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan lanjutannya. Isi kurikulum lebih dititik beratkan pada pengetahuan yang bersifat akademik, berbeda dengan sekolah kejuruan yang lebih menekankan pada keterampilan yang bersifat praktis dan fungsional. Pembidangan atau penjurusan yang dilakukan di SMA lebih bersifat akademik dengan orientasi pada kelompok ilmu pengetahuan, yang terdiri dari: jurusan ilmu pengetahuan sosial termasuk budaya dan bahasa, jurusan ilmu pengetahuan alam dan jurusan matematika. Dalam perkembangan SMA di Indonesia penjurusan ini telah mengalami beberapa kali perubahan, namun orientasinya tetap pada pengelompokan ilmu pengetahuan yang bersifat akademik (Nawawi, 1982: 64).
Berdasarkan penyelenggaraannya, sekolah di Indonesia dibagi menjadi dua yaitu sekolah negeri dan sekolah swasta. Perbedaan lain antara sekolah negeri dan swasta terletak pada biaya pendidikan. Sekolah negeri dikatakan lebih murah dibandingkan sekolah swasta. Biaya pendidikan di sekolah negeri dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat pada umunya. Hal ini tentulah dikarenakan adanya dana subsidi dari pemerintah, sedangkan sekolah swasta seluruh dana operasional sekolah sebagian besar dibebankan kepada para peserta didik.
Selain biaya, fasilitas sekolah negeri terbilang kurang memadai, misalnya saja alat-alat olahraga, laboratorium, dan lain-lain. Karena alat-alat tersebut di dapatkan dari negara dan sekolah harus memiliki data-data yang valid untuk memperolehnya. Berbeda dengan sekolah swasta yang dikendalikan oleh sebuah yayasan dan yang sangat memperhatikan kualitas eksternalnya. Jadi, setiap kurangnya alat-alat kurikulum tersebut, yayasan yang mengelola sekolah swasta tersebut segera cepat memenuhinya. Sehingga siswa sekolah swasta tentu akan lebih semangat karena tersedianya sarana dan prasarana yang lengkap. Ada fasilitas, tentunya ada juga biaya yang dikeluarkan. Karena kesediaan fasilitas sekolah swasta yang lengkap, sekolah swasta membutuhkan banyak sekali biaya. Sedangkan sekolah negeri, mulai dari SD, SMP hingga SMA sudah tidak ada pungutan biaya alias gratis. Jadi, tidak heran jika fasilitas yang di sediakan oleh sekolah negeri kurang memadai.
Bicara mengenai perbedaan dilihat dari segi perencanaan kurikulumnya. Untuk sekolah negeri, sekolah ini memiliki perencanaan yang teratur dan sangat terjadwal, dan pelaksanaannya juga serentak dengan sekolah-sekolah negeri lainnya. Tapi sekolah swasta memiliki perencanaan kurikulum yang berbeda dan tidak teratur, kemudian pelaksanaannya pun tidak serentak dengan sesama sekolah swasta. Hal-hal seperti ini biasanya bisa membuat siswa malas jika jadwalnya tidak teratur. Meski kurikulumnya tidak teratur, sekolah swasta memiliki strategi pembelajaran yang baik, yaitu tidak terkesan biasa-biasa saja dan membosankan. Terkadang kegiatan pembelajaran dilakukan di luar kelas. Selain itu sekolah swasta ini pembelajarannya menonjolkan ke sistem diskusi (guru ke murid, murid ke guru). Hal ini dapat menumbuhkan suatu interaksi yang baik antara guru dan murid. Sedangkan di sekolah negeri, lebih menonjolkan kemampuan setiap individu. Biasanya di dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah
negeri, menggunakan sistem “siapa maju dapat nilai”. Tentu hal ini akan
menjadi suatu motivasi untuk tiap murid untuk berani tampil sendiri.
c. Iklim SMA Negeri dan SMA Swasta
R. Tagiuri dan G. Litwin 1968 dalam wirawan, 2007: 121 mengatakan bahwa iklim organisasi merupakan kualitas lingkungan internal organisasi yang secara relatif terus berlangsung, dialami oleh anggota organisasi, memengaruhi perilaku mereka dan dapat dilukiskan dalam pengertian satu set karakteristik atau sifat organisasi.
Rawita (2011:61) Iklim sekolah dapat didefinisikan sebagai kondisi dan berbagai persepsi dari variabel organisasi yang diperkirakan mempengaruhi fungsi organisasi, seperti semangat guru dan gaya kepemimpinan utama. Guru memegang peranan penting karena guru merupakan tenaga pendidik dan pengajar yang berhubungan langsung dengan peserta didik. Guru sebagai pengajar dan pendidik tidak hanya berperan mentransformasi ilmu pengetahuan melalui proses belajar mengajar, tetapi juga menyangkut pembinaan perkembangan kesadaran dan mental peserta didik terhadap segala hal yang mungkin akan terjadi. Agar fungsi tersebut bisa dijalankan dengan baik dan sempurna diperlukan beberapa aspek iklim sekolah yaitu:
1. Interaksi, yakni interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan guru, peserta didik dengan karyawan, dan peserta didik dengan peserta didik lain.
2. Aktivitas
3. Kondisi sekolah, maksudnya kondisi sarana dan prasarana sekolah untuk menjalankan kegiatan keagamaan, meliputi sarana ibadah, tempat diskusi, ceramah, seminar dan dialog, serta sarana lain yang mendukung.
Iklim sekolah adalah keadaan kehidupan yang berlangsung di sekolah dengan unsur-unsur yang berada di dalamnya yaitu interaksi, proses belajar mengajar dan lingkungan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa
SMA negeri dan SMA swasta memiliki iklim yang berbeda dimana perbedaan yang ada di dalamnya dapat mempengaruhi perkembangan karakter siswanya.