BAB II LANDASAN TEORI
D. Sekolah Homogen dan Heterogen
gambaran mengenai sekolah mana yang memberikan perasaan yang lebih
aman bagi anak-anak muda homoseksual. Iklim sekolah yang aman dicirikan
dengan sikap terhadap perbedaan individu yang positif dan perasaan aman
murid ketika berada di sekolah (Cohen, McCabe, Michelli, & Pickeral, 2009).
Sekolah yang aman juga mendorong anak-anak muda homoseksual untuk
memiliki kelekatan dan keterikatan dengan sekolah (bandingkan Pearson et
al., 2007; Robinson & Espelage, 2011) yang menghasilkan performansi
akademik yang lebih baik.
Penelitian ini penting untuk dilaksanakan karena hingga penelitian ini
homoseksualitas pada murid sekolah homogen dan heterogen. Hingga saat ini,
penelitian yang telah dilakukan berkisar pada sikap terhadap homoseksualitas
pada remaja secara umum (bandingkan Bontempo & D’Augelli, 2002; D’Augelli et al., 2006; Diaz & Kosciw, 2009; Espelage et al., 2008; Goodenow, Szalacha, & Westheimer, 2006) dan belum menyelidiki lebih
lanjut kelompok remaja tertentu, seperti remaja dari etnik tertentu atau remaja
yang berasal dari jenis sekolah tertentu. Berdasarkan hal tersebut, penelitian
yang berfokus pada kelompok remaja tertentu menjadi penting untuk
dilakukan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai sikap terhadap
homoseksualitas. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi dasar untuk
melakukan langkah berikutnya dalam memastikan terciptanya iklim sekolah
yang aman dan sehat.
B. Rumusan Masalah
Adakah perbedaan sikap terhadap homoseksualitas pada murid
sekolah homogen dan heterogen?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan sikap
terhadap homoseksualitas pada siswa sekolah homogen dan heterogen. Selain
itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memeriksa perbedaan sikap terhadap
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat memberikan tambahan informasi pada ranah
studi orientasi seksual dan psikologi sosial, terutama sikap terhadap
anggota orientasi seksual minoritas.
2. Manfaat Praktis
a. Pada anggota orientasi seksual minoritas
Penelitian ini dapat memberikan tambahan informasi sebagai
bahan pertimbangan dalam memilih sekolah baginya atau orang lain
sesama anggota orientasi seksual minoritas.
b. Pada murid sekolah homogen dan heterogen
Penelitian ini dapat menjadi sarana murid sekolah homogen
dan heterogen untuk merefleksikan sikap mereka terhadap orang-orang
9
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Sikap
1. Definisi Sikap
Sikap adalah evaluasi seseorang terhadap berbagai aspek
kehidupan sosial (Baron, Byrne, & Branscombe, 2006), seperti
orang-orang, obyek, ataupun ide-ide (Aronson, Wilson, & Akert, 2005). Evaluasi
ini akan mempengaruhi seseorang dalam bertindak dan merasa pada
cara-cara tertentu (Lahey, 2012). Sikap seseorang terhadap suatu aspek
kehidupan sosial dapat positif maupun negatif. Sikap yang positif
dimaksudkan sebagai evaluasi menyenangkan dari seseorang terhadap
suatu aspek kehidupan sosial tertentu, sementara sikap yang negatif
merujuk pada evaluasi tidak menyenangkan. Seseorang juga dapat
memiliki sikap yang positif sekaligus negatif pada suatu aspek kehidupan
sosial tertentu (Baron et al., 2006).
2. Komponen Sikap
Berdasarkan definisi sikap menurut Lahey (2012), sikap memiliki
tiga komponen yaitu keyakinan, perasaan, dan kecenderungan untuk
bertindak. Hal ini selaras dengan komponen sikap menurut Aronson,
Wilkinson, dan Akert (2005) yang menyatakan bahwa sikap memiliki
komponen afektif, kognitif, dan perilaku. Komponen afektif terdiri dari
Komponen kognitif terdiri dari pemikiran dan keyakinan mengenai suatu
aspek kehidupan sosial. Sementara itu, komponen perilaku terdiri dari
tindakan atau perilaku tampak terhadap suatu aspek kehidupan sosial.
3. Pembentukan Sikap
Hampir semua psikolog sosial meyakini bahwa sikap terbentuk
karena proses belajar (Baron et al., 2006). Pengalaman sosial seseorang
berperan penting dalam membentuk sikapnya (Aronson et al., 2005).
Seseorang memiliki sikap tertentu dari interaksinya dengan orang lain atau
semata-mata mengamati perilaku mereka (Baron et al., 2006). Berdasarkan
teori belajar, sikap terbentuk melalui pengkondisian klasik, pengkondisian
instrumental, pembelajaran melalui pengamatan, dan pengaruh dari
perbandingan sosial (Baron et al., 2006; lihat juga Aronson et al., 2005;
Lahey, 2012).
Teori pengkondisian klasik menyatakan bahwa sikap terbentuk
melalui proses asosiasi suatu aspek kehidupan sosial dengan pengalaman
tertentu. Sementara itu, teori pengkondisian instrumental menyatakan
bahwa sikap terbentuk karena adanya penguatan atau hukuman yang
didapat seseorang ketika merespon aspek kehidupan sosial tertentu. Teori
belajar melalui pengamatan menyatakan sikap terbentuk dari pengamatan
terhadap perilaku orang lain ketika orang tersebut merespon suatu aspek
kehidupan sosial. Selain itu, pengaruh perbandingan sosial mempengaruhi
tersebut dengan sikap orang-orang di sekitarnya untuk menentukan apakah
sikapnya benar atau tidak.
B. Homoseksualitas
1. Orientasi Seksual dan Homoseksualitas
Orientasi seksual merujuk pada pola ketertarikan emosional,
romantik, dan seksual yang menetap kepada anggota jenis kelamin yang
sama atau berbeda dari dirinya, maupun keduanya (APA, 2008; Rathus et
al., 2008). Orientasi seksual juga meliputi perasaan identitas seseorang
berdasarkan ketertarikan, perilaku terkait, dan keanggotaan pada
komunitas yang beranggotakan orang-orang dengan ketertarikan tersebut
(APA, 2008). Orientasi seksual biasanya dikelompokkan menjadi tiga
kategori, yaitu orientasi heteroseksual, homoseksual, dan biseksual.
Orientasi heteroseksual merujuk pada ketertarikan emosi, romantik,
dan erotik yang menetap serta kecenderungan untuk mengem-bangkan
hubungan romantik pada anggota jenis kelamin yang berbeda dengan
dirinya (APA, 2008; Rathus et al., 2008). Sebaliknya, orientasi
homoseksualitas merujuk pada ketertarikan emosi, romantik, dan erotik
yang menetap serta kecenderungan untuk mengembangkan hubungan
romantik pada anggota jenis kelamin yang sama dengan dirinya (APA,
2008; Rathus et al., 2008). Sementara itu, orientasi biseksualitas merujuk
kecenderungan untuk mengembangkan hubungan romantik pada anggota
kedua jenis kelamin.
2. Homoseksualitas dan Nonkonformitas Gender
Banyak orang mengira orang-orang homoseksual ingin menjadi
anggota lawan jenis kelaminnya karena mereka tertarik dengan anggota
sesama jenis kelaminnya (Rathus et al., 2008). Meskipun demikian,
homoseksualitas berbeda dari transgender. Transgender merupakan sebuah
istilah bagi orang-orang yang identitas dan ekspresi gendernya tidak
konform dengan jenis kelamin mereka saat lahir (APA, 2011).
Orang-orang transgender menjalani kehidupannya dengan mengikuti peran
gender lawan jenisnya (APA, 2011). Orang-orang homoseksual belum
tentu merupakan seorang transgender (lihat APA, 2011).
Beberapa orang homoseksual menunjukkan nonkonformitas
gender, tetapi hal ini tidak dapat digeneralisasikan kepada semua orang
homoseksual. Nonkonformitas gender adalah ekspresi perilaku yang tidak
konsisten dengan peran gender terkait anatomi seksual seseorang (Rathus,
et al., 2008). Beberapa laki-laki homoseksual melaporkan nonkonformitas
gender yang disadari sejak kecil, demikian juga beberapa perempuan
homoseksual melaporkan perilaku maskulin saat masih kanak-kanak
(Rathus et al., 2008). Hal ini terkait dengan faktor biologis terjadinya
homoseksualitas, dimana orang-orang homoseksual memiliki struktur
neurologis yang cenderung mirip dengan orang-orang yang berjenis
beberapa orang homoseksual lainnya tidak menunjukkan nonkonformitas
gender dan memiliki ekspresi gender sesuai dengan jenis kelaminnya.
Beberapa orang homoseksual berusaha untuk menunjukkan
konformitas gender untuk menyembunyikan identitasnya sebagai
homoseksual. Hal ini terkait dengan anggapan masyarakat bahwa
orang-orang homoseksual cenderung memiliki nonkonformitas gender (Whitley
& Kite, 2010). Dengan menunjukkan konformitas gender, orang-orang
homoseksual yang menyembunyikan identitasnya akan merasa lebih
terlindungi dari diskriminasi, prasangka, dan stereotip sehingga mereka
merasa lebih aman (bandingkan D’Augelli et al., 2006; Whitley & Kite, 2010). Sementara itu, beberapa orang homoseksual lainnya memiliki
kecenderungan alami untuk menunjukkan konformitas gender. Hal ini
semata-mata dikarenakan karakteristik individu bawaan yang dimiliki oleh
orang tersebut (lihat LeVay, 2012).
C. Sikap terhadap Homoseksualitas
1. Definisi Sikap terhadap Homoseksualitas
Sikap adalah evaluasi seseorang terhadap aspek-aspek kehidupan
sosial (Baron et al., 2006). Evaluasi tersebut diantaranya adalah evaluasi
terhadap orang-orang (Aronson et al., 2005). Berdasarkan definisi tersebut,
sikap terhadap homoseksualitas adalah evaluasi seseorang terhadap
homo-seksualitas.
Sikap seseorang terhadap homoseksualitas dapat positif maupun
menyenangkan atau menerima terhadap orang-orang homoseksual maupun
homoseksualitas secara umum. Sebaliknya, sikap yang negatif terhadap
homoseksualitas merujuk pada reaksi tidak menyenangkan atau menolak
terhadap orang-orang homoseksual maupun homoseksualitas secara
umum.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap terhadap Homoseksualitas
Sikap terhadap homoseksualitas dipengaruhi oleh ajaran agama
(lihat Moon, 2002: Olson et al., 2006) dan keyakinan terhadap peran
gender tradisional (Herek, 1988; Horn, 2012; Whitley & Kite, 2010).
Masing-masing faktor yang mempengaruhi sikap terhadap
homoseksualitas tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Pengaruh agama pada sikap terhadap homoseksualitas
Beberapa agama tertentu memiliki sikap yang negatif terhadap
homoseksualitas. Agama-agama tersebut diantaranya Kristianitas,
Islam, dan Yahudi (Moon, 2002; lihat juga Olson et al., 2006).
Meskipun sama-sama memiliki sikap yang negatif terhadap
homoseksualitas, beberapa pemeluk agama tertentu memiliki sikap
yang lebih negatif terhadap homoseksualitas dibandingkan pemeluk
agama lainnya. Orang-orang yang memeluk agama Islam memiliki
sikap yang lebih negatif dan tidak menerima homoseksualitas
dibandingkan dengan orang-orang beragama lain atau tidak menganut
kepercayaan tertentu (Adamczyk & Pitt, 2009). Orang-orang yang
dan orang-orang yang tidak menganut sistem kepercayaan tertentu
memiliki sikap yang lebih positif terhadap homoseksualitas
dibandingkan orang-orang yang memeluk agama Islam (Adamczyk &
Pitt, 2009). Di sisi lain, Adamczyk dan Pitt (2009) juga menemukan
bahwa sikap pemeluk agama Kristen Protestan terhadap
homoseksualitas juga tidak lebih positif daripada pemeluk agama
Islam. Dengan demikian, dalam konteks sosial Indonesia, orang-orang
yang memeluk agama Islam dan Kristen Protestan akan memiliki sikap
yang lebih negatif terhadap homoseksualitas dibandingkan dengan
orang-orang yang memeluk agama Katolik, Hindu, maupun Buddha.
b. Pengaruh keyakinan terhadap peran gender tradisional pada sikap
terhadap homoseksualitas
Orang-orang yang memiliki keyakinan terhadap peran gender
tradisional yang kuat memiliki sikap yang negatif terhadap
homoseksualitas (Herek, 1988; Horn, 2012; Whitley & Kite, 2010).
Peran gender tradisional adalah stereotip mengenai sekelompok
karakteristik yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan, yang
membedakan kedua gender tersebut (lihat Baron et al., 2006). Dengan
kata lain, peran gender tradisional adalah pandangan masyarakat
mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan harus berperilaku dan
karakteristik kepribadian apa saja yang harus mereka miliki sesuai
Penyimpangan dari peran gender tradisional dapat memicu
sikap yang negatif dan penolakan dari orang lain (bandingkan Whitley
& Kite, 2010). Masyarakat secara umum menganggap bahwa
orang-orang homoseksual menyimpang dari peran gender tradisional (Rathus
et al., 2008; Whitley & Kite, 2010). Masyarakat cenderung meyakini
bahwa laki-laki yang feminin dan perempuan yang maskulin adalah
homoseksual (Whitley & Kite, 2010). Dengan demikian, masyarakat
akan cenderung memiliki sikap yang negatif dan menolak orang-orang
homoseksual karena orang-orang homoseksual menyimpang dari peran
gender tradisional.
3. Komponen Sikap terhadap Homoseksualitas
LaMar dan Kite (1998) meneliti sikap terhadap homoseksualitas
pada laki-laki dan perempuan. Mereka membagi sikap terhadap
homo-seksualitas dalam empat komponen. Komponen-komponen tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Moralitas homoseksual
Moralitas homoseksual merupakan komponen sikap terhadap
homoseksualitas dengan cara melihat evaluasi seseorang mengenai
keselarasan homoseksualitas dengan nilai-nilai moral.
b. Toleransi/generalisasi hukuman kepada orang-orang homoseksual
Toleransi/generalisasi hukuman kepada orang-orang
yang berusaha melihat evaluasi seseorang mengenai harus/tidaknya
seorang homoseksual dihukum/diterima.
c. Kontak dengan orang-orang homoseksual
Kontak dengan orang-orang homoseksual adalah komponen
sikap terhadap homoseksualitas yang berusaha melihat evaluasi
seseorang mengenai kenyamanan dirinya ketika harus menjalin kontak
dengan orang-orang homoseksual.
d. Stereotip terhadap orang-orang homoseksual
Stereotip terhadap orang-orang homoseksual merupakan
komponen sikap terhadap homoseksualitas yang berusaha melihat
stereotip yang dimiliki seseorang terhadap orang-orang homoseksual.
Pada penelitian ini, komponen kognitif, afektif, dan konatif sikap
(Aronson, Wilson, & Akert, 2005) digabungkan dengan komponen sikap
terhadap homoseksualitas menurut LaMar & Kite (1998). Masing-masing
komponen kognitif, afektif, dan konatif sikap mencakup komponen sikap
terhadap homoseksualitas menurut LaMar & Kite (1998).
D. Sekolah Homogen dan Heterogen
1. Definisi Sekolah Homogen dan Heterogen
Sekolah homogen secara umum merujuk pada pendidikan di
tingkat dasar, menengah, dan lanjut yang mana laki-laki dan perempuan
mengenyam masa sekolah dengan anggota sesama jenis kelaminnya (U.S.
Department of Education, 2005). Berdasarkan definisi tersebut, sekolah
seluruhnya berjenis kelamin laki-laki. Sementara itu, sekolah homogen
perempuan adalah sebuah sekolah yang terdiri dari murid yang seluruhnya
berjenis kelamin perempuan. Sejalan dengan penjelasan sekolah homogen
oleh U.S. Department of Education (2005) tersebut, sekolah heterogen
merupakan sebuah sistem pendidikan dimana laki-laki dan perempuan
mengenyam masa sekolah dengan anggota sesama maupun berbeda dari
jenis kelaminnya. Dengan kata lain, sekolah heterogen merupakan sebuah
sekolah yang terdiri dari murid laki-laki dan perempuan.
2. Promosi Peran Gender Tradisional pada Murid Sekolah Homogen
Martino dan Frank (2006) melakukan penelitian pada sebuah
sekolah homogen laki-laki dan menemukan sistem pendidikan untuk
mempromosikan maskulinitas. Guru-guru pada sekolah khusus laki-laki
tersebut mengajarkan dan membina hubungan dengan para siswanya untuk
menumbuhkan maskulinitas (Martino & Frank, 2006). Selain itu,
guru-guru juga dituntut untuk menjadi contoh maskulinitas (Martino & Frank,
2006). Guru-guru di sekolah khusus laki-laki tersebut harus menunjukkan
maskulinitasnya, seperti menjadi pelatih tim olahraga sepakbola (Martino
& Frank, 2006). Selain itu, ketidaksetaraan gender juga dipromosikan pada
sekolah khusus laki-laki (Lee et al., 1994). Hal ini tampak dari sistem
pengajaran yang mensosialisasikan kontrol dan kekuasaan atas perempuan
dan penempatan perempuan sebagai objek seksual (Lee et al., 1994).
Femininitas juga dipromosikan pada sekolah khusus perempuan
sekolah homogen khusus perempuan juga mendorong murid-muridnya
untuk menjadi dependen dan kekanak-kanakan, suatu perilaku yang
merupakan stereotip peran gender perempuan. Dengan demikian,
murid-murid sekolah homogen akan memiliki keyakinan yang kuat terhadap
peran gender tradisional karena sistem sekolah yang mempromosikan
maskulinitas (pada sekolah homogen laki-laki) dan femininitas (pada
sekolah homogen perempuan).
3. Promosi Peran Gender Tradisional pada Sekolah Heterogen
Sekolah heterogen membuka kesempatan bagi para
murid-muridnya untuk saling berinteraksi dengan lawan jenisnya sehingga
anggota kedua jenis kelamin dapat saling mengerti satu sama lain (Ogden,
2011). Murid-murid sekolah heterogen dapat belajar bagaimana lawan
jenisnya berpikir, merasa, merespon, dan bereaksi (Ogden, 2011). Hal ini
dapat membuat murid-murid sekolah heterogen cenderung memiliki
persepsi peran gender tradisional yang rendah karena adanya proses saling
memahami antara satu gender dengan yang lainnya. Selain itu, sekolah
heterogen cenderung tidak mempromosikan pembentukan stereotip
berdasarkan peran gender (Lee et al., 1994). Dengan kata lain, sekolah
heterogen cenderung tidak mempromosikan peran gender tradisional. Lee,
Marks, dan Byrd (1994) juga menemukan tingkat seksisme (diskriminasi
berdasarkan jenis kelamin yang didasarkan pada pemahaman bahwa
laki-laki lebih superior dari perempuan) yang lebih rendah dan kesetaraan antar
murid-murid sekolah heterogen akan cenderung menerima kehadiran
orang-orang yang tidak mengikuti peran gender tradisional, sehingga
murid-murid sekolah heterogen akan cenderung lebih menerima
homoseksualitas.
4. Gambaran Sikap terhadap Homoseksualitas pada Murid Sekolah Homogen
dan Heterogen
Sekolah homogen memiliki sistem pendidikan untuk
mempromosikan maskulinitas (pada sekolah homogen laki-laki) dan
femininitas (pada sekolah homogen perempuan). Hal ini disebabkan tidak
hanya melalui proses di kelas (lihat Lee et al., 1994) tetapi juga melalui
proses meniru dari para guru (Lee et al., 1994; Martino & Frank, 2006).
Pada sekolah homogen, peran gender tradisional juga dikuatkan melalui
penyampaian materi pelajaran (Lee et al., 1994). Sebagai contoh, pada
sekolah khusus perempuan, rumus kimia dianalogikan dengan resep
masakan (Lee et al., 1994). Sementara itu, di sekolah khusus laki-laki,
kelas bahasa Inggris menggunakan literatur yang menempatkan
perempuan sebagai objek seksual (Lee et al., 1994). Dengan demikian,
murid-murid sekolah homogen akan memiliki keyakinan akan peran
gender tradisional yang kuat. Oleh karena keyakinan terhadap peran
gender tradisional yang kuat dapat membentuk sikap yang negatif terhadap
homoseksualitas, murid-murid sekolah homogen akan memiliki sikap yang
Sekolah heterogen memiliki sistem pengajaran untuk
mempromosikan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan (Lee et al.,
1994) melalui interaksi yang terbuka antara kedua jenis kelamin (Ogden,
2011). Hal ini dapat membuat murid-murid sekolah heterogen dapat saling
memahami kedua jenis kelamin (Ogden, 2011) yang berdampak pada
meningkatnya pemahaman para murid akan kesetaraan gender. Selain itu,
karena ketidaksetaraan gender tidak diperkuat di sekolah heterogen,
murid-murid sekolah heterogen akan saling menganggap bahwa murid
lainnya juga merasa pembedaan gender bukanlah suatu hal yang positif.
Berdasarkan teori pembentukan sikap berdasarkan perbandingan sosial,
murid-murid sekolah heterogen akan memiliki sikap yang cenderung
negatif terhadap ketidaksetaraan gender. Dengan demikian, murid-murid
sekolah heterogen akan memiliki keyakinan terhadap peran gender
tradisional yang cenderung rendah, sehingga sikap murid-murid sekolah
heterogen terhadap homoseksualitas akan cenderung lebih positif.