BOGOR
2007
Judul Tesis : Analisis Prospek Pengembangan Tanaman Jeruk (Citrus nobilis var microcarpa) di Kabupaten Tapin
Nama : Anisah
NIM : A253050194
Program Studi : Perencanaan Wilayah
Disetujui Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Djunaedi A. Rachim, M.S. Ketua
Dr. Ir. Muhammad Ardiansyah Dr. Ir. Muhammad Nur Aidi, M.S. Anggota Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Perencanaan Wilayah,
Dr. Ir. Ernan Rustiadi M.Agr. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, M.S.
selesainya tesis yang berjudul “Analisis Prospek Pengembangan Tanaman Jeruk (Citrus nobilis var. microcarpa) di Kabupaten Tapin” ini.
Tesis ini dapat selesai dengan bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Dr. Ir. Djunaedi A. Rachim, M.S., bapak Dr. Ir. Muhammad Ardiansyah dan bapak Dr. Ir. Muhammad Nur Aidi, M.S. atas bimbingan dan arahannya, Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah Sekolah Pascasarjana IPB beserta semua staf pengajar khususnya bapak Dr.Ir. Setia Hadi, M.S. selaku penguji luar komisi dan semua staf administrasi atas bantuan dan kerjasamanya.
Terimakasih kepada Bapak Dr. Ir. Dedy S Priatna selaku kepala Pusbindiklatren-Bappenas beserta seluruh staf atas pengalokasian beasiswanya. Terimakasih kepada Bupati Tapin, atas pemberian ijin belajar dan sharing bantuan selama pendidikan, juga kepada segenap jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Tapin yang banyak membantu penulis.
Tak lupa terimakasih kepada Bapak Marwan Hendrisman, SP.I peneliti pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Bogor atas bantuan dan kerjasamanya. Kepada teman-teman satu kost yang selama ini telah berbagi banyak hal; Bu Kendah, Asri, 2 Niken, Yati, Diana, Fahriya dan semua teman PWL angkatan 2005 yang meski tak kusebut nama namun kuingat dalam kenangan.
Ucapan terimakasih secara khusus untuk bunda terkasih yang telah memberi begitu banyak dukungan dalam doa dan kasih sayang sehingga penulis bisa melewati semua tahap kehidupan baik susah maupun senang.
Akhirnya, sebagai sebuah karya manusia tentu saja tesis ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kritik serta saran sangat diperlukan agar tesis ini bisa lebih bermanfaat.
Bogor, Desember 2006
(alm) dan ibu Hj. Faridah Rais. Jenjang pendidikan dari SD sampai SMTA diselesaikan di Kota Banjarmasin dengan tahapan sebagai berikut : SDN Bina Banua Lulus tahun 1981, SMPN 3 Banjarmasin lulus tahun 1984, SMAN 4 Banjarmasin lulus tahun 1987. Kemudian melanjutkan ke Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Program Studi Budi Daya Pertanian dan lulus tahun 1993.
Diterima sebagai PNS di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Tapin pada tahun 1998 dan ditempatkan sebagai Staf Bina Program Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tapin. Tahun 2002-2003 sebagai Kasi Evaluasi dan Pelaporan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tapin. Selanjutnya pada tahun 2003-2005 sebagai Kasubag Program dan Keuangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tapin.
Tahun 2005 memperoleh kesempatan melanjutkan studi ke sekolah Pascasarjana IPB Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah dengan bantuan dana dari Pusbindiklatren Bappenas.
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul Analisis Prospek Pengembangan Tanaman Jeruk (Citrus nobilis var. microcarpa) di Kabupaten Tapin adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Desember 2006
ANISAH NIM A253050194
DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR ... vi DAFTAR LAMPIRAN... vii PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 3 Tujuan Penelitian ... 4 Manfaat Penelitian ... 4 TINJAUAN PUSTAKA ... 5 Jeruk (Citrus nobilis LOUR var. microcarpa Hassk)... 5
Syarat Tumbuh Jeruk Siam ... 6 Evaluasi Kesesuaian Lahan... 8 Klasifikasi Kesesuaian Lahan ... 9 Sistem Informasi Geografis (SIG) ... 12 Automated Land Evaluation System (ALES) ... 13 Prospek Pasar Buah Jeruk ... 14 METODE PENELITIAN... 17 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 17 Pengumpulan Bahan dan Data ... 17 Alat... 18 Kerangka Pemikiran... 18 Kerangka Pendekatan... 19 Metode Penelitian ... 20 Keterbatasan Penelitian... 25 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... 27 Situasi Wilayah ... 27
Struktur Perekonomian Daerah Tahun 2004... 32 HASIL DAN PEMBAHASAN... 34 Evaluasi Kondisi Fisik Wilayah... 34 Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Jeruk ... 42 1. Kesesuaian Lahan secara Fisik... 42 2. Kelayakan Usaha Jeruk Secara Ekonomi di Kabupaten Tapin... 47 Prioritas dan Arah Pengembangan Jeruk ... 49 Masalah dan Faktor Pendukung Pengembangan Jeruk di
Kabupaten Tapin ... 54 SIMPULAN DAN SARAN ... 66 Simpulan ... 66 Saran... 67 DAFTAR PUSTAKA ... 68 LAMPIRAN... 71
DAFTAR TABEL
Halaman 1. Penentuan kelas kesesuaian lahan untuk jeruk... 11 2. Jenis data yang dipakai dalam penelitian ... 17 3. Penentuan prioritas arah pengembangan jeruk ... 23 4. Potensi lahan untuk tanaman pangan, luas pemanfaatan dan yang
belum dimanfaatkan di Kabupaten Tapin tahun 2004 ... 28 5. Tingkat pemanfaatan lahan usaha tani untuk tanaman pangan ... 29 6. Jumlah curah hujan dan hari hujan di Kabupaten Tapin tahun 2004 31 7. Banyaknya penduduk Kabupaten Tapin tahun 2004 ... 31 8. Distribusi persentase atas dasar harga berlaku... 32 9. PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku... 33 10. Perhitungan luasan kemiringan lereng ... 37 11. Hasil perhitungan digital bentuk lahan wilayah Tapin ... 41 12. Kelas kesesuaian lahan aktual Kabupaten Tapin untuk jeruk... 42 13. Kelas kesesuaian lahan potensial Kabupaten Tapin untuk jeruk ... 43 14. Luas lahan berdasarkan kelas kesesuaian untuk jeruk jeruk di
Kabupaten Tapin ... 44 15. Hasil perhitungan analisis kelayakan ekonomi usaha tani jeruk di
Kabupaten Tapin ... 47 16. Hasil analisis perhitungan kelayakan ekonomi beberapa sentra jeruk
di Indonesia ... 49 17. Hasil perhitungan luas arahan pengembangan jeruk di Kabupaten
Tapin ... 49 18. Jenis penggunaan lahan Kabupaten Tapin, luas dan kriteria
ketersediaan untuk jeruk ... 51 19. Luas lahan arahan dan luas lahan tersedia untuk jeruk ... 53 20. Jumlah tanaman jeruk yang terserang penyakit Diplodia tahun 2004
dan 2003 di Kabupaten Tapin ... 54 21. Keragaan luas pertanaman jeruk di Kabupaten Tapin sampai tahun
2004... 60 22. Keragaan Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM) yang
diberikan pada petani jeruk di Kabupaten Tapin ... 61 23. Data penangkar jeruk di Kabupaten Tapin tahun 2004... 62
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Bagan kerangka pemikiran... 19 2. Diagram alir tahap-tahap penelitian ... 25 3. Peta lokasi Penelitian Kabupaten Tapin Propinsi kalimantan Selatan 26 4. Grafik curah Hujan rata-rata per bulan di Kabupaten Tapin dari
tahun1986-2005 ... 30 5. Peta satuan lahan Kabupaten Tapin ... 36 6. Peta kemiringan lereng Kabuupaten Tapin ... 38 7. Peta bentuk lahan Kabupaten Tapin... 40 8. Peta kesesuaian aktual untuk jeruk di Kabupaten Tapin... 43 9. Peta kesesuaian lahan potensial untuk jeruk di Kabupaten Tapin .... 45 10. Peta arahan pengembangan tanaman jeruk di Kabupaten Tapin ... 49 11. Peta penutupan/ penggunaan lahan Kabupaten Tapin ... 51 12. Peta ketersediaan lahan prioritas untuk jeruk di Kabupaten Tapin.. 52 13. Rantai tata niaga jeruk di DKI Jakarta (Pasar Jabotabek)... 57 14. Saluran pemasaran jeruk di Kalimantan Selatan... 58 15. Peta jaringan jalan di Kabupaten Tapin ... 64 16. Peta jaringan sungai di Kabupaten Tapin... 65
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. Legenda peta satuan lahan Kabupaten Tapin... 72 2. Input dan output usaha tani tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Candi Laras Utara ... 76 3. Hasil analisis ekonomik usaha tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Candi Laras Utara ... 76 4. Input dan output usaha tani tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Tapin Utara... 77 5. Hasil analisis ekonomik usaha tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Tapin Utara ... 77 6. Input dan output usaha tani tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Bakarangan... 78 7. Hasil analisis ekonomik usaha tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Bakarangan... 78 8. Input dan output usaha tani tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Candi Laras Selatan... 79 9. Hasil analisis ekonomik usaha tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Candi Laras Selatan ... 79 10. Input dan output usaha tani tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Tapin Selatan... 80 11. Hasil analisis ekonomik usaha tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Tapin Selatan ... 80 12. Input dan output usaha tani tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Bungur... 81 13. Hasil analisis ekonomik usaha tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Bungur ... 81 14. Input dan output usaha tani tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Lokpaikat... 82 15 Hasil analisis ekonomik usaha tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Lokpaikat ... 82 16. Input dan output usaha tani tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Piani... 83 17. Hasil analisis ekonomik usaha tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Piani ... 83 18. Input dan output usaha tani tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Binuang ... 84 19. Hasil analisis ekonomik usaha tanaman jeruk per hektar di Kecamatan
Binuang ... 84 20. Data curah hujan di Kabupaten Tapin dari tahun 1986 – 2005... 85 21. Data karakteristik lahan Kabupaten Tapin... 86
Dengan diberlakukannya UU Nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah maka proses perencanaan pembangunan telah mengalami perubahan. Menurut Nugraha & Dahuri (2004) pembangunan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh daerah diyakini mampu menyederhanakan kompleksitas pengelolaan sumberdaya dan memberikan pilihan sesuai keragaman karakteristik wilayah dan masyarakat setempat. Untuk itu daerah juga dituntut mampu menyediakan data dan informasi yang akurat tentang sumberdaya yang ada sesuai karakteristik wilayahnya untuk bisa digunakan dalam penyusunan perencanaan pembangunan wilayah tersebut.
Struktur perekonomian suatu daerah sangat ditentukan oleh besarnya
kontribusi sektor-sektor ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa. Di Kabupaten Tapin sampai saat ini sektor pertanian masih merupakan sektor
yang paling dominan dalam pembentukan modal. Pada tahun 2002 sektor ini mempunyai kontribusi sebesar 46,91% naik ditahun 2003 menjadi 47,29% namun pada tahun 2004 turun menjadi 44,60 %. Pada tahun 2004 distribusi persentase Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut lapangan usaha atas dasar harga yang berlaku untuk sektor pertanian sumbangannya sebesar 44,60% atau Rp.399.517.118.000,- dari total Kabupaten Tapin sebesar Rp 895.860.195.000,- dimana di dalamnya subsektor tanaman pangan sebesar 30,20 % atau sebesar Rp 270.591.537.000,-
Dalam Rencana Strategis Kabupaten Tapin tahun 2003-2008 disebutkan bahwa kebijakan pembangunan pertanian di Kabupaten Tapin diarahkan pada dua fokus kegiatan yaitu 1) Mengembangkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada kemampuan produksi, keragaman sumber daya bahan pangan, kelembagaan dan budaya lokal dan 2) Mengembangkan agribisnis yang beroerientasi global dengan membangun keunggulan komperatif dan kompetitif sumber daya alam dan sumber daya manusia di daerah.
Menyadari bahwa tujuan pembangunan pertanian tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan tetapi juga meningkatkan pendapatan petani maka Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tapin sejak tahun 1998 telah
mulai mengembangkan tanaman “jeruk siam banjar” sebagai salah satu komoditas andalan kabupaten. Tahun 2004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tapin mencatat bahwa tanaman jeruk di Kabupaten Tapin telah mencapai seluas 1.356 ha atau sebanyak 435.498 pohon dan tanaman yang telah menghasilkan seluas 718,38 ha atau baru sekitar 52% dari seluruh tanaman dengan produksi sebesar 5.610 ton dalam bentuk buah segar.
Tahun 2004 Indonesia mempunyai luas panen jeruk 70.000 ha dan total produksi 1.600.000 ton yang merupakan negara penghasil jeruk ke 13 di dunia. Tetapi Indonesia juga negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah Malaysia, dengan volume impor sebesar 94.696 ton; sedangkan ekspornya hanya sebesar 1.261 ton dengan tujuan ke Malaysia, Brunai Darusalam, dan Timur Tengah (Litbang Deptan 2006).
Meski termasuk penghasil jeruk dan juga pengimpor jeruk kenyataannya konsumsi jeruk per kapita per tahun untuk Indonesia saat ini baru 2,2 kg. Menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO), rata-rata konsumsi jeruk per kapita per tahun untuk negara berkembang sebanyak 6,9 kg, dan 32,9 kg per kapita per tahun untuk negara maju (Masyarakat Jeruk Indonesia 2002).
Berdasarkan hasil proyeksi, defisit akan komoditas ini akan terus berlangsung bahkan meningkat dari tahun ke tahun. Dari segi konsumsi gambaran di masa datang cukup prospektif karena diproyeksikan konsumsi jeruk masih akan bertumbuh. Hanya saja seringkali hal ini belum dapat respon secara bersamaan dari segi produksi. Untuk itu program pembinaan dan pengembangan untuk komoditas ini perlu difokuskan pada aspek peningkatan luas areal budidayanya (Syafa’at et al. 2005).
Di Kabupaten Tapin jeruk tersebar di 10 Kecamatan dengan sentra pengembangan pada lahan kering di 3 kecamatan yaitu Kecamatan Tapin Selatan, Binuang dan Bungur. Namun tanaman jeruk di lahan basah juga terus berkembang atas swadaya masyarakat terutama di dua kecamatan yaitu Candi Laras Utara dan Candi Laras Selatan. Karena ada dua pola pertanaman ini maka di Tapin panen raya jeruk terjadi dua kali yaitu Juni – Juli untuk lahan kering dan Juli-Agustus untuk lahan basah.
Melihat animo masyarakat yang cukup besar dalam bertanam jeruk, juga lahan kosong yang tersedia cukup luas ditambah bahwa Kabupaten Tapin adalah daerah yang dinyatakan bebas CVPD (Citrus Vein Phloem Degeration) oleh Balai Karantina dan Proteksi Tanaman Propinsi Kalimantan Selatan maka diperlukan data dan informasi yang akurat tentang potensi lahan yang ada berikut kondisi sosial ekonomi dari masyarakat sehingga pengembangan tanaman jeruk benar-benar bisa memberikan produksi yang optimal dan berkelanjutan sehingga mampu memberikan peningkatan pendapatan dan kesejateraan bagi petani.
Dalam suatu usaha pertanian lahan merupakan salah satu dimensi fisik yang penting bagi keberhasilan usaha tersebut. Setiap lahan memiliki karakteristik tertentu yang berbeda pada setiap lokasi. Begitu pula setiap tanaman memerlukan suatu persyaratan tumbuh yang spesifik pada kondisi lahan tertentu. Dengan demikian maka dipandang perlu melakukan suatu analisis kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk di Kabupaten Tapin. Meski analisis dilakukan secara fisik namun juga tidak mengesampingkan aspek sosial ekonomi yang turut menentukan prospek dari pengembangan tanaman jeruk itu sendiri.
Perumusan Masalah
Dalam pengembangan tanaman jeruk di Kabupaten Tapin agar lebih terarah dan memberikan hasil yang optimal perlu adanya informasi potensi sumberdaya wilayah yang akurat sebagai dasar penyusunan perencanaan pengembangan wilayah. Dalam hal ini beberapa masalah yang perlu dipikirkan solusinya adalah :
1. Belum tersedianya peta kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk di Kabupaten Tapin
2. Apakah pengembangan tanaman jeruk yang ada di Kabupaten Tapin telah sesuai dengan karakteristik fisik lahan dan potensi sosial ekonomi wilayah yang sebenarnya?
3. Lahan-lahan manakah di Kabupaten Tapin yang merupakan prioritas untuk pengembangan tanaman jeruk sesuai dengan kemampuan fisik dan kelayakan finansialnya ?
Tujuan Penelitian
Sehubungan uraian diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Melakukan analisis kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk di Kabupaten Tapin 2. Menentukan arahan spasial yang sesuai untuk pengembangan tanaman jeruk di
Kabupaten Tapin.
3. Menginventarisasi hambatan yang ada dalam pengembangan tanaman jeruk khususnya dalam aspek finansial.
Manfaat Penelitian
Dengan dilakukan analisis kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk dapat diketahui di mana saja wilayah yang sesuai untuk pengembangan jeruk di Kabupaten Tapin dan dapat dimanfaatkan oleh para perencana atau investor dalam menyusun rencana keruangan untuk pengembangan tanaman jeruk di Kabupaten Tapin.
Disamping itu juga dengan menganalisis aspek sosial dan ekonomi yang ada maka akan dapat diketahui faktor penghambat dan pendukung yang ada dan dapat dipertimbangkan dalam penyusunan perencanaan keruangan. Tersedianya data dan informasi yang akurat tentang lahan yang sesuai untuk tanaman jeruk tidak hanya mempunyai nilai strategis di bidang perencanaan tapi juga pada kegiatan penanaman modal di bidang agribisnis di Kabupaten Tapin.
Jeruk siam merupakan anggota jeruk keprok dari keluarga Rutaceae yang di negara asalnya Siam (Muangthai) dikenal dengan nama “som kin wan”. Sampai saat ini sebenarnya belum ada data resmi tentang kapan dan dimana tepatnya jeruk siam pertama kali didatangkan ke Indonesia (Tim PS 1995).
Spesies jeruk dan varietasnya yang telah dikenal dan dibudidayakan di Indonesia antara lain jeruk keprok (Citrus nobilis Lour) dan jeruk manis (Citrus sinensis Lour osbeek) dengan nama ilmiah yang lain Citrus aurantium L.Var. Sinews L. Jeruk manis dan jeruk keprok merupakan jeruk yang paling penting dalam perdagangan dunia dan menempati 7% dari semua jeruk yang dihasilkan dunia ( Tawali et al. 2004).
Jeruk keprok merupakan jenis jeruk yang paling populer di Indonesia. Jenis ini banyak varietasnya di antaranya adalah jeruk mandarin (Citrus nobilis Lour.var.Chrisocarpa) dan jeruk siam (Citrus nobilis Lour.var.Microcarpa). .(Anonim,1990). Di Indonesia 60% pasaran jeruk dikuasai jeruk siam dan sekali bikin ulah (kasus tata niaga jeruk siam pontianak) bisa jadi isu nasional (Tim PS 1995).
Di Tebas, Pontianak pada tahun 1952-1953 luas penanaman jeruk telah mencapai 1.000 ha. Lima tahun berikutnya jeruk Pontianak dihadang jeruk garut, akibat persaingan yang tidak teratasi banyak petani membongkar tanaman jeruknya sehingga pada tahun 1972-1973 tanaman jeruk tercatat tinggal 350 ha dan dalam kondisi tidak terawat. Tetapi kemudian jeruk garut dihantam CVPD (Citrus Vein Phloem Degeration) dan menimbulkan bangkitnya kembali penanaman jeruk siam di daerah lain seperti Pontianak, Pemangkat dan daerah lainnya (Tim PS 1995).
Kabupaten Tapin mulai mengembangkan jeruk sejak tahun 1998 seluas 500 ha dan pada tahun 2004 tercatat luas tanaman jeruk 1.356 ha dan tanaman yang menghasilkan seluas 718.38 ha dengan produksi mencapai 5.610 ton dalam bentuk buah segar (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tapin, 2005)
Secara sistimatis klasifikasi jeruk siam adalah sebagai berikut : Famili : Rutaceae Subfamili : Aurantioidae Tribe : Citriae Subtribe : Citriae Genus : Citrus
Subgenus : Eucitrus, Papeda Species : Citrus nobilis
Varietas : Citrus nobilis LOUR var. Microcarpa Hassk
Sekarang kita mengenal jeruk siam garut, siam pontianak, siam palembang, siam klaten , siam banjar dan siam lainnya. Munculnya nama tersebut mungkin untuk memudahkan orang mengetahui daerah tumbuhnya. Yang jelas keanekaragaman nama tersebut menggambarkan luasnya penyebaran jeruk siam. Perbedaannya sendiri tidak terlalu jelas, kalaupun ada merupakan akibat proses adaptasi terhadap tempat tumbuhnya (Tim PS 1995).
Pemerintah akan mengembangkan jeruk dari Aceh sampai Irian Jaya. Restu pemerintah ini sepertinya menjadi suatu jaminan masa depan jeruk karena pemerintah juga terlibat membantu penanganan jeruk dari masalah penyakit sampai tata niaganya. Di sisi lain industri pengolahan jeruk tampak mulai dilirik orang. Keadaan ini merupakan peluang dalam mengembangkan tanaman jeruk (Tim PS 1995)
Selain peluang, dunia usaha jeruk juga punya memiliki masalah. Awal tahun 1992 masalah tata niaga jeruk di Pontianak menjadi isu nasional, masalahnya bukan pada mencari pasar tapi pada teknik pelaksanaan tata niaganya. Selain itu jeruk siam juga harus waspada terhadap vonis mematikan dari penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeration). Begitupun masalah kualitas jeruk siam masih perlu dibenahi untuk mempertahankan dan memperluas pasar (Tim PS 1995).
Syarat Tumbuh Jeruk Siam
Pemilihan lokasi yang tepat akan menentukan keberlanjutan produksi dan mutu buah varietas jeruk yang ditanam. (Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika 2005). Untuk pertumbuhan yang baik jeruk siam memerlukan
syarat tumbuh tertentu meliputi ketinggian tempat, jenis tanah, pH dan iklim yang terdiri dari suhu, kelembaban, curah hujan dan lain-lain. Memang jeruk siam bisa tumbuh di mana saja tetapi hasilnya tidak akan memuaskan seperti jika ditanam di lokasi yang sesuai dengan syarat tumbuhnya. Karena itu pemilihan lokasi tanam merupakan tahap yang sangat penting sebelum dilakukan penanaman. (Tim PS 1995).
Jeruk siam memerlukan ketinggian tempat yang hampir sama dengan daerah asalnya. Di Muangthai jeruk ini ditanam di dataran rendah. Hal ini berlaku juga di Indonesia, untuk mendapatkan hasil terbaik jeruk sebaiknya ditanam pada ketinggian kurang dari 700 m dpl (diatas permukaan laut). Ketinggian tempat berpengaruh jelas pada rasa, pada penanaman di atas 900 m dpl menyebabkan rasa jeruk siam menjadi sedikit asam (Tim PS 1995)
Tanah yang disukai jeruk siam adalah tanah yang gembur (banyak mengandung pasir) dan subur (banyak mengandung oksigen dan bahan organik). Selain itu jeruk siam juga menyukai air tanah yang tidak terlalu dalam (tidak lebih dari 150 m). Kedalaman air tanah paling baik sekitar 50 cm pada musim hujan dan 150 cm pada musim kemarau. Jeruk siam tidak tahan terhadap air yang tergenang karena akan mudah terserang penyakit akar. Walaupun demikian jeruk siam memerlukan air yang cukup untuk pertumbuhan dan pembentukan bunga dan buah. Apabila kekurangan air maka pertumbuhannya mudah sekali terganggu karena perakarannya sangat halus. Jeruk siam juga dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur asal pemupukan lebih diperhatikan (Tim PS 1995)
Jeruk siam memerlukan pH tanah antara 5 – 7,5, hasil maksimum pada pH 6. Iklim yang cocok untuk penanaman jeruk siam adalah iklim tipe B dan C berdasarkan penggolongan Smith dan Ferguson. Idealnya pada iklim ini curah hujan optimal sekitar 1.500 mm/tahun. Disamping itu jeruk siam juga memerlukan banyak sinar matahari. Jenis jeruk ini memberikan hasil optimum di daerah kering dengan pengaturan pengairan yang baik. Masalah kelembaban juga cukup berpengaruh karena udara yang lembab menimbulkan banyak serangan hama terutama scale insect (kutu perisai) dan kutu-kutu pengisap lainnnya. Daerah sentra jeruk di Indonesia rata-rata mempunyai kelembaban antara 50 - 85%. (Tim PS 1995).
Evaluasi Kesesuaian Lahan
Meningkatnya kebutuhan dan persaingan dalam penggunaan lahan baik untuk keperluan produksi pertanian maupun untuk keperluan lainnya memerlukan pemikiran yang seksama dalam mengambil keputusan pemanfaatan yang paling menguntungkan dari sumberdaya lahan yang terbatas, dan sementara itu juga melakukan tindakan konservasinya untuk penggunaan masa mendatang. Kecenderungan seperti itu mendorong pemikiran para ahli akan perlunya suatu perencanaan atau penataan kembali penggunaan lahan agar dapat dimanfaatkan secara lebih efisien (Sitorus 2004)
Untuk dapat melakukan perencanaan secara menyeluruh salah satu hal pokok yang diperlukan adalah tersedianya informasi faktor fisik lingkungan yang meliputi sifat dan potensi lahan. Keterangan ini dapat diperoleh antara lain dengan melalui kegiatan survei tanah yang diikuti pengevaluasian lahan. Pada dasarnya evaluasi sumberdaya lahan membutuhkan keterangan-keterangan yang menyangkut tiga aspek utama yaitu Lahan, Penggunaan Lahan dan aspek ekonomis (Sitorus 2004).
Lahan merupakan lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi dan vegetasi di mana faktor-faktor tersebut mempengaruhi potensi penggunaannya. Termasuk di dalamnya adalah akibat-akibat kegiatan manusia