BOGOR
2 0 0 7
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul “Analisis Pemanfaatan dan Potensi Sumberdaya Tumbuhan di Taman Wisata Alam Ruteng, Nusa Tenggara Timur” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Desember 2007
Elisa Iswandono NRP. E.051054055
Resources in Ruteng Recreation Park, East Nusa Tenggara Province. Under supervise AGUS HIKMAT and AGUS PRIYONO KARTONO
Local people in surrounding area of Ruteng Recreation Park needs many plant resources for their daily life. Therefore, objectives of this study were: a) to identify utilization systems, kind of species, harvesting and intensity economic value of plant resources by local people and also time budgeting during one year, b) to analyze the independency level of people to plant resources in the Ruteng Recreation Park and c) to analyze the potential utilization of plant resources by local people.
This research was carried in Ruteng Recreation Park. Respondens were local people arround the park. The analysis of species and community was approached by vegetation analysis, Index of Shanon, Index of Similarity, and Evennes Index.
The result indicated that 133 speciese in 67 famili were used by local people for medicine, food, pesticide, wood building, firewood, etc. People used plant resources throughout the year and the intencity become less in March-April and September–October due to farm activities. The economic value of fire wood was 21,78% contributed to total family income and from wood building was 50,36% contributed to total family income. The level of people independency to plant forest resource were high (68,22%). The equation for the independency was Y = 0,708 + 0,0261X3 + 0,0216 X4 – 0,162 X8; where Y was the independency level of people to the forest, X3 was number of family burden, X4 was the main occupation and X8 was the distance between home and forest. The potency of plant used for people is still high in the forest area.
ELISA ISWANDONO. Analisis Pemanfaatan dan Potensi Sumberdaya Tumbuhan di Taman Wisata Alam Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Dibimbing oleh AGUS HIKMAT dan AGUS P. KARTONO.
Masyarakat sekitar kawasan TWA Ruteng yang memiliki ketergantungan hidup pada sumberdaya tumbuhan hutan. Diperlukan penelitian mengenai tingkat ketergantungan dan spesies tumbuhan yang dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pemanfaatan sumberdaya tumbuhan oleh masyarakat sekitar TWA Ruteng yang ditinjau dari segi spesies tumbuhan yang dimanfaatkan, waktu, intensitas dan nilai ekonomi dari hasil hutan yang diambil, menentukan tingkat ketergantungan masyarakat sekitar TWA Ruteng terhadap kawasan dan menentukan potensi sumberdaya tumbuhan TWA Ruteng.
Metode penelitian secara garis besar terdiri dari 2 (dua) kegiatan utama, yaitu pengumpulan data primer berupa inventarisasi potensi sumberdaya tumbuhan dan wawancara, pengisian kuesioner dan pengumpulan data sekunder.
Masyarakat sekitar TWA Ruteng memanfaatkan 133 spesies dalam 67 famili tumbuhan yang ada di dalam hutan untuk kebutuhan tumbuhan obat 69 spesies (44 famili), pangan 38 spesies (17 famili), bahan bangunan 28 spesies (16 famili), pakan ternak 8 spesies (4 famili), pestisida nabati 4 spesies (4 famili), tumbuhan hias 4 spesies (4 famili), bahan tali dan kerajinan 3 spesies (3 famili), adat/budaya 3 spesies (3 famili), pewarna 2 spesies (2 famili), kayu bakar 2 spesies (2 famili), minuman 1 spesies dan lainnya 2 spesies (2 famili), serta 8 spesies tumbuhan potensial untuk kegunaan pewarna 6 spesies, pestisida nabati 1 spesies dan aromatik 1 spesies. Pemanfaatan sumberdaya tumbuhan hutan dilakukan sepanjang waktu selama satu tahun dengan intensitas kegiatan yang lebih rendah selama 4 bulan, yaitu: pada bulan Maret – April dan September – Oktober yang disebabkan oleh kegiatan menanam dan memanen padi pada lahan pertanian.
Kayu bakar memberikan rata-rata kontribusi terhadap total pendapatan keluarga sebesar 22,23% untuk kayu bakar dan kayu bangunan sebesar 50,4%. Frekuensi pengambilan hasil hutan sebagian besar adalah pengambilan kayu bakar, yaitu sebesar 58% dan kayu untuk bahan bangunan sebesar 12%, selebihnya sebesar 30% adalah untuk kebutuhan lainnya seperti pangan, pakan ternak, bahan tali dan kerajinan minuman dan kebutuhan lainnya. Sebagian besar masyarakat yang mendapatkan kontribusi pendapatan dari hasil hutan sebesar 10 – 20 juta dan lebih dari 20 juta per tahunnya berada di wilayah pegunungan. Sebagian besar masyarakat mendapatkan kontribusi dari hasil hutan sebesar 0-2 juta pertahun tinggal di dataran rendah.
Hasil perhitungan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap hutan diperoleh nilai antara 20% sampai dengan 87% dengan nilai rata-rata 68,22%. Masyarakat yang tingkat ketergantungannya terhadap sumberdaya hutan sangat tinggi (81-100%) yang terbanyak adalah yang tinggal di wilayah pegunungan, sedangkan tingkat ketergantungan sangat rendah (0-20%) adalah yang berada di wilayah dataran rendah. Hasil analisis regresi diperoleh persamaan: Y= 0,708 + 0,0261 X3 + 0,0216 X4 – 0,162 X8. Hasil analisis korelasi Pearson diketahui bahwa nilai korelasi (r) untuk X8, yaituantara tingkat ketergantungan dengan jarak
20,97%.
Di wilayah TWA Ruteng ditemukan sebanyak 219 spesies yang termasuk kedalam 160 genera dan 80 famili yang tercatat pada 13 transek pada berbagai ketinggian. Jumlah spesies tertinggi ditemukan pada ketinggian 1600 sebanyak 109 spesies. Jumlah spesies terendah pada ketinggian 2100 sebanyak 44 spesies. Pada ketinggian 600 m dpl ditemukan jumlah spesies yang rendah yaitu sejumlah 69 spesies yang disebabkan lokasi kawasan yang relatif lebih mudah dijangkau oleh masyarakat. Pada wilayah hutan sub pegunungan yaitu pada ketinggian 900 sampai dengan 1.300 m dpl, jumlah spesies tertinggi ditemukan pada ketinggian 900 m dpl yaitu sejumlah 98 spesies. Jumlah spesies ini terus menurun seiring dengan penambahan ketinggian dan jumlah spesies terendah ditemukan pada ketinggian 1.300 m dpl yaitu sejumlah 74 spesies. Pada wilayah hutan pegunungan ketinggian 1.500 sampai dengan 2.100 m dpl, wilayah yang terdekat dengan pemukiman penduduk adalah pada ketinggian 1.500 m dpl dan di wilayah ini ditemukan jumlah spesies yang rendah, yaitu hanya sebanyak 80 spesies.
Sebagian besar tumbuhan dominan di wilayah TWA Ruteng adalah yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kegunaan. Nilai indeks keanekaragaman spesies (H’) tergolong tinggi yaitu antara 3 sampai 4 pada berbagai ketinggian kecuali pada ketinggian 2.100 m dpl sebesar 2,477 atau katagori sedang. Nilai keanekaragaman spesies tertinggi pada ketinggian 1000 m dpl yaitu nilai rata-rata 3,620, nilai tertinggi untuk pohon 3,480 dan pancang 3,805 serta pada ketinggian 900 m dpl yaitu rata-rata 3,476, nilai tertinggi untuk tiang 3,575 dan pada tingkat anakan dan tumbuhan bawah sebesar 3,678. Nilai Tingkat keanekaragaman tumbuhan tertinggi untuk keseluruhan tingkat pertumbuhan adalah yang berada pada wilayah ketinggian 1.000 m dpl, yaitu sebesar 3,620 dan yang terendah adalah yang berada pada ketinggian 2.100 m dpl yang hanya sebesar 2,477.
Kawasan TWA Ruteng yang memiliki nilai indeks kemerataan terendah adalah yang berada pada ketinggian 1.500 m dpl sebesar 0,899. Nilai kemerataan yang rendah menandakan keseimbangan komunitas yang paling rendah dibandingkan wilayah ketinggian yang lain. Nilai indeks kemerataan yang tertinggi adalah yang berada pada ketinggian 2.000 m dpl sebesar 0,947, cukup banyak spesies dengan nilai domina nsi yang hampir sama.
Dilihat dari kesamaan komunitasnya, kelompok hutan di TWA Ruteng dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok hutan dengan kesamaan komunitasnya yaitu: ketinggian antara 600 sampai dengan 900 m dpl, ketinggian antara 1.000 sampai 1.700 m dpl dan yang terakhir adalah ketinggian lebih dari 1.800 m dpl.
Pengelolaan kawasan TWA Ruteng selama sepuluh tahun terakhir sebagian besar (57%) untuk memotivasi masyarakat melakukan konservasi tanpa aspek pemanfaatan. Program kegiatan sejumlah 35% diarahkan untuk mengetahui dan memperbaiki potensi kawasan dan yang sudah mulai terbuka terhadap pemanfaatan sebanyak 8%.
© Hak cipta milik IPB, tahun 2007 Hak cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebut sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
DAN POTENSI SUMBERDAYA TUMBUHAN
DI TAMAN WISATA ALAM RUTENG,
NUSA TENGGARA TIMUR
ELISA ISWANDONO