• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

RANCANG BANGUN PEMANENAN AIR HUJAN PADA KEBUN PALA DI KABUPATEN ACEH SELATAN

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

37 DAFTAR PUSTAKA

Akbar H. 2013. Optimalisasi Lahan Usaha Tani Berbasis Kakao Untuk Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Di DAS Krueng Seulimum Propinsi Aceh [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Arsyad S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Edisi Kedua Cetakan Kedua. Bogor

(ID) : IPB Pr.

Asdak, Chay. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 2010. Studi Kelayakan Potensi Pengembangan Komuditas Pala di Kabupaten Aceh Selatan Pasca Serangan Hama dan Penyakit. Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2005. Aceh Selatan Dalam Angka Tahun 2005. BPS Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2006. Aceh Selatan Dalam Angka Tahun 2006. BPS Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2007. Aceh Selatan Dalam Angka Tahun 2007. BPS Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2008. Aceh Selatan Dalam Angka Tahun 2008. BPS Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2009. Aceh Selatan Dalam Angka Tahun 2009. BPS Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Aceh Selatan Dalam Angka Tahun 2010. BPS Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Aceh Selatan Dalam Angka Tahun 2011. BPS Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Aceh Selatan Dalam Angka Tahun 2012. BPS Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Statistik Indonesia 2012. Jakarta.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013. Aceh Selatan Dalam Angka Tahun 2013. BPS Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh.

Chow VT. 1959. Open Channdel Hidraulics. New York (US): McCraw-Hill,Inc. Departemen Pertanian. 2007. Petunjuk Teknis Teknologi Konservasi Tanah dan

Air. Jakarta.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012. Peningkatan Produksi, Produktifitas dan Mutu Tanaman Rempah dan Penyegar. Pedoman Teknis Perluasan Tanaman Tahun 2012. Jakarta. Kementerian Pertanian.

Donahue RL. 1958. Soils An Introduction To Soils And Plant Crowth. Prentice- Hall, Inc. United State of America.

Feyen J. 1983. Drainage Of Irigated Land. Kathoelike Universiteit Leuven Center for Irigation Engineering.

Hardjowigeno S. 2010. Ilmu Tanah. Akademika Presindo. Jakarta.

Jasminarni. 2008. Pengaruh Jumlah Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Selada (Lactuca sativa L) DI POLYBAG. Jurnal Agronomi. 12 (1) : 30-33.

38

Kartasapoetra AG. 2008. Klimatologi: Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. edisi revisi cetakan keempat. Jakarta (ID) : Bumi Aksara.

Liu LH. 1989. Vegetational Types of the Arid Valleys in the Hengduan Mountainous Region. Mountain Research ( 7): 175–182.

Merrit WS. (2002). The Biophysical Toolbox: A Biophysical Modeling Tool Developed Within the IWARM-DSS. ICAM Working Paper 2001/01. Noeralam A. 2002. Teknik pemanenan air yang efektif dalam pengelolaan tanah

pada usaha tani lahan kering [Disertasi]. : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Pawitan H, Fagi AM, Prastowo, Maryanto WD. 2011. Srategi Penyediaan Sumber Daya Air Mendukung Ketahanan Pangan. Masalah Sumber Daya Air Dan Strategi Pengelolaan DAS. Bogor: Bogor (ID). IPB (Pr).

Prastowo, Pawitan. 2011. Masalah Sumber Daya Air Dan Strategi Pengelolaan DAS. Bogor: IPB (Pr).

[PUSLITKOKA] Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2010. Buku Pintar Budi Daya Kakao. Jakarta. Agro Media Pustaka.

Raes D, Geerts S, Kipkorirb E, Wellens J, Sahli A. 2006. Simulation of Yield Decline as a Result of Water Stress With a Robust Soil Water Balance Model. ELSEVIER. Agricultural Water Management (81) :335–357.

[RPJMK] Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Aceh Selatan 2013-2018. Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh. Subagyono K, Haryati U, ala’o u SH 5 Teknologi Konservasi Air pada

Pertanian di Lahan Kering. Diusulkan sebagai salah satu bab dalam buku konservasi tanah dan air.

Subroto PS, Setyaji P. 2004. Perbandingan Sistem Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kakao di Desa Banjarharjo, Kalibawang, Kolonprogo, DIY. Jurnal Tanah dan Air. 5(1) : 28-31.

Surdianto Y, Setiawan BI, Prastowo dan Saptomo SK. 2012. Peningkatan Peresapan Air Tanah Dengan Saluran Peresapan Dan Rorak Untuk Meningkatkan Produktivitas Belimbing Manis (Studi Kasus Di Kota Depok). Jurnal Irigasi. 7 (1): 5.

Surdianto Y. 2012. Analisis Kecukupan Air di Kebun Belimbing Manis (Averrhoa Carambola L) [disertasi]. Bogor (ID) : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta (ID) : Andi. Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta (ID)

: Andi.

Triatmodjo B. 2010. Hidrologi Terapan.Yogyakarta (ID): Beta offset.

Troeh FR, Hobs JA, Donahue RL. 1991. Soil and Water Conservation. Prentice Hall, Inc.A Division of Simon & Schuster. Enggewood Cliffs, New Jersey. [UNEP] United Nations Enviroment Programme. International Enviromental

Technology Centre. 2001. Rainwater Harvesting. Murdoch University of Western Australia.

Wibowo M. 2003.Teknologi Konservasi Untuk Penanganan Kawasan Peresapan.

J.Tek.Ling.P3TL-BPPT. 4(1): 8-13.

Wijaya HK. 2014. Pengembangan Kriteria Rancangan Hidrolika Pada Pemanfaatan Air Limpasan Untuk Air Baku Di Kawasan Perumahan [tesis]. Bogor (ID): Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

39 Wirasembada YC. 2014. Analisis Efektivitas Zero Runoff System Pada Lahan Miring Di Das Cidanau, Banten [tesis]. Bogor (ID): Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Wirosoedarmo R. 2010. Drainase Pertanian. Malang : UB Press.

Wismarini TD, Ningsih DHU, Amin F, 2011. Metode Perkiraan Laju Aliran Puncak (Debit Air) sebagai Dasar Analisis Sistem Drainase di Daerah Aliran Sungai Wilayah Semarang Berbantuan SIG. Jurnal Teknologi Informasi Dinamik. 16 (2) : 124- 132. ISSN : 08549524.

Wu Y, Tang Y, Huang C. 2009. Harvesting of Rainwater And Brooklets Water To Increase Mountain Agricultural Productivity: A case Study From A Dry Valley of Southwestern China. Natural Resources Forum (33) : 46.

Yuswanto. 2008. Pemanenan air dalam perpektif hokum berdasarkan asas otonomi. Di dalam: Setiawan A, Yuwono SB, Manik KES, Banua IS, penyunting. Prosiding seminar konservasi tanah dan air dalam mitigasi banjir di Provinsi Lampung. 2008 April 8; Lampung, Indonesia. Forum DAS Provinsi Lampung. hlm 62-72.

RINGKASAN

FACHRUDDIN. Rancang bangun pemanenan air hujan pada kebun pala di Kabupaten Aceh Selatan dibawah bimbingan BUDI INDRA SETIAWAN, PRASTOWO dan MUSTAFRIL.

Tanaman pala merupakan komoditi unggulan Kabupaten Aceh Selatan dalam bidang pertanian. Kabupaten Aceh Selatan merupakan salah satu penghasil pala terbesar di Indonesia. Pada tahun 2012 luas lahan pala Kabupaten Aceh Selatan mencapai 14 091 ha dengan produksi 5 192 ton biji pala kering. Kabupaten Aceh Selatan memiliki topografi dengan tingkat kemiringan sangat curam/terjal mencapai 63.45 %, sedangkan dataran hanya sekitar 34.66 % dan 1.84 % berupa kondisi lainnya. Petani pala Kabupaten Aceh Selatan pada umumnya berkebun di lahan terjal dengan penerapan sistem konservasi mekanik 3.12 %.

Kabupaten Aceh Selatan memiliki rerata curah hujan bulanan yang sangat tinggi sebesar 281.4 mm/bulan, sehingga memiliki potensi aliran permukaan yang tinggi. Ketersediaan curah hujan yang melimpah pada musim hujan belum dimanfaatkan secara optimal pada musim kemarau. Air hujan sebagian akan menjadi aliran permukaan sehingga tidak bisa dimanfaatkan tanaman secara efektif. Dampak dari terjadinya aliran permukaan yang tinggi akan menyebabkan hilang humus tanah sehingga terjadinya penurunan kesuburan lahan.

Penerapan teknik sistem pemanenan air hujan diharapkan akan menjadi teknologi yang efektif dan terjangkau untuk konservasi tanah dan air tanah di lahan pala serta mampu memenuhi kebutuhan air tanaman pala. Desain pemanenan air hujan menyesuaikan dengan kontur lokasi penelitian serta pengamatan aliran permukaan pada saat hujan. Desain sistem pemanenan air hujan pada penelitian ini menggunakan rorak yang dilengkapi saluran peresapan. Penelitian ini bertujuan mendapatkan desain teknis sistem pemanenan air hujan yang efektif untuk konservasi air tanah dan memenuhi kebutuhan air tanaman pala.

Penelitian dilaksanakan pada lahan kebun pala milik pengurus Forum Pala Aceh di Kecamatan Tapak Tuan, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, Indonesia. Penelitian ini dimulai dari Bulan Februari sampai dengan Mei 2014. Tahapan penelitian meliputi mengukur intensitas hujan dari curah hujan harian tertinggi selama 10 tahun terakhir mengunakan persamaan mononobe. Pendugaan laju aliran permukaan menggunakan persamaan matematik metode rasional. Analisis koefisien drainase yang terjadi di lahan berdasarkan data laju aliran permukaan. Pengumpulan data tanaman berupa umur tanaman, jarak tanam, pengamatan zona perakaran tanaman. Pembuatan gambar kontur lokasi penelitian mengunakan Software surfer. Desain teknis pemanenan hujan yang efektif untuk kebun tanaman pala. Pengukuran debit di rorak menggunakan Automatic Water Level Recorder (AWLR). Pengamatan sedimen di rorak di ukur mengunakan mistar. Pengukuran nilai ketinggian muka air tanah di ukur pada sumur masyarakat menggunakan AWLR.

Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan rorak yang dilengkapi saluran peresapan sangat efektif untuk konservasi tanah dan air yang menampung aliran permukaan ketika hujan serta mengurangi dampak erosi dan menampung sedimentasi sehingga tidak terbawa ke sungai. Pengamatan aliran permukaan di

rorak ketika hujan mampu menampung sebagian besar aliran permukaan sebesar 0.03-1.63 liter/detik. Pengamatan sedimen di rorak selama penelitian, rorak tanpa menggunakan mulsa menampung sedimen setinggi 65 mm, sedangkan pada rorak yang menggunakan mulsa menampung sedimen setinggi 35 mm.

Desain teknis sistem pemanenan air hujan yang efektif untuk konservasi air tanah dan memenuhi kebutuhan air tanaman pala telah dapat dibuat dengan rincian sebagai berikut: Sistem pemanenan air hujan pada penelitian ini menggunakan rorak yang dilengkapi saluran peresapan. Tata letak rorak dan saluran peresapan menyesuaikan dengan kontur lahan. Dimensi rorak ditentukan sesuai dengan debit aliran permukaan, yaitu kedalaman maksimal 30 cm dengan lebar 40 cm dan panjang 100 cm. Setiap rorak disertai saluran peresapan dari sisi kiri dan kanan dengan panjang 100 cm, dalam 10 cm dan lebar 20 cm.

Analisis aliran permukaan teoritis menggunakan persamaan metode rasional yang hanya tepat digunakan untuk luasan DAS kurang 800 ha. Oleh karena itu disarankan untuk menganalisis aliran permukaan dengan menggunakan alat Automatic Water Level Recorder pada setiap rorak. Pendekatan analisis koefisien drainase perlu di hitung disetiap lahan pala yang akan dibangun rorak dan saluran peresapan. Desain rorak dan saluran peresapan perlu diaplikasikan pada seluruh kebun pala di Kabupaten Aceh Selatan mengingat kebun pala masyarakat berada di daerah berlereng yang termasuk daerah aliran sungai bagian hulu.

Kata kunci : aliran permukaan, pemanenan hujan, koefisien drainase, tanaman pala, sistem zero runoff.

SUMMARY

FACHRUDDIN. Designing Rain Harvesting Model For Nutmeg Plant Field In South Aceh District. Under supervision of BUDI INDRA SETIAWAN, PRASTOWO dan MUSTAFRIL

Nutmeg is a featured agriculture commodity in South Aceh district. South Aceh district is one of the largest producers of nutmeg in Indonesia. In 2012, plantation area for nutmeg in South Aceh was 14 091 ha with a production of 5 192 tons of dried nutmeg seed. South Aceh district has a very steep topography of 63.45 %, while the plateau is only about 34.66 % and the rest 1.84 % is in other conditions. Most nutmeg farmers in South Aceh district cultivate in steep land with percentage application of mechanical conservation system is 3.12 %.

South Aceh district has a very high average monthly rainfall of 281.4 mm/month, so it has a high potential of runoff. The availability of abundant rainfall during the rainy season has not been used optimally in dry season. A part of rainfall would become surface flow so that the plant cannot use it effectively. The impact of high surface flow will cause in loss of soil humus which leads to the decline of soil fertility.

The application of rainwater harvesting systems engineering is expected to be an effective and affordable technologies for soil and groundwater conservation in nutmeg plantation area and to be able to meet the water needs of nutmeg plantation. Rainwater harvesting design was adjusted to the contours of the research site and observation of runoff during the rain. Design of rainwater harvesting systems in this study was by using rorak equipped with infiltration channels. This study aimed to get the technical design of rainwater harvesting systems which was effective for groundwater conservation and for fulfil water needs of nutmeg crops.

This study was conducted on a nutmeg plantation area belonging to Forum Pala Aceh in Tapak Tuan, South Aceh district, Aceh, Indonesia. This study was started from February to May 2014. The procedures of research included; measuring rainfall intensity of the highest daily rainfall during the last 10 years using the Mononobe equation, predicting surface flow rate measured by using mathematical equations rational method, analyzing drainage coefficient in the area which was based on the data of surface flow, collecting crops data such as plant age, spacing and observation of the root zones, preparing contour images by using

Surfer software, designing effective rainfall harvesting system for nutmeg plantation area, measuring discharge in rorak by using Automatic Water Level Recorder (AWLR), observing sediment in rorak by using a ruler, measuring ground water level in wells by using AWLR device.

The results showed that the utilization of the channel with a rorak was very effective for soil and groundwater conservation which holds runoff when rain and decreases the effects of erosion and catches sediments so they are not carried over into the river. It was observed in rainy season, that rorak was able to accommodate most of the surface flow of 0.03-1.63 liters/sec. For sediments, it was observed during this study that rorak without mulch could catch the sediment for 65 mm thick, while for rorak with mulch could catch sediment for 35 mm thick.

Technical design of rainwater harvesting systems which is effective for soil and groundwater conservation and for fulfil water needs from nutmeg crops could be constructed as: rainwater harvesting systems by using rorak equipped with infiltration channels. Rorak layout and channel infiltration should be adjusted to the contour of the land. Rorak dimensions are determined by the discharge of surface flow, which has the maximum depth of 30 cm, width of 40 cm and length of 100 cm. Each rorak is built with infiltration channels on the left and right side with length and depth of 10 cm and width of 20 cm.

Theoretical surface flow analysis was measured by using the rational method which is only appropriate for catchment area with less than 800 ha wide. Therefore, it was suggested to analyze runoff by using AWLR device on each

rorak. Drainage coefficient analysis approach should be calculated in each nutmeg plantation area where it was proposed to be build rorak and infiltration channel. Design rorak and channel infiltration should be applied to the whole nutmeg plantations in South Aceh district, considering nutmeg plantation community in steep areas which included the upstream watershed.

Keywords: drainage coefficient, nutmeg plant, rain harvesting, runoff, zero runoff system.

40

41 Lampiran 1. Tata letak saluran peresapan rorak dimensi panjang 2.5 m, lebar 0.4

m dan dalam 0.5 m

Desain rorak 2 dengan saluran peresapan tanpa menggunakan mulsa

42

43 Lampiran 3. Pengukuran Infiltrasi

pengukuran 1 waktu (t) Volume (ml) infiltrasi (cm) 0 0 90 0 180 13.42 86.00 0.25 360 18.97 85.00 0.31 540 23.24 84.00 0.38 720 26.83 83.50 0.41 900 30.00 82.80 0.45 1080 32.86 82.00 0.50 1260 35.50 81.50 0.53 1440 37.95 81.00 0.57 1620 40.25 80.50 0.60 1800 42.43 80.00 0.63 1980 44.50 79.60 0.65 2160 46.48 79.20 0.68 2340 48.37 78.80 0.70 2520 50.20 78.50 0.72 2700 51.96 77.90 0.76 2880 53.67 77.50 0.79 3060 55.32 77.20 0.81 3240 56.92 76.90 0.82 3420 58.48 76.00 0.88 3600 60.00 75.70 0.90 3780 61.48 75.40 0.92 3960 62.93 75.00 0.94 4140 64.34 74.80 0.96 4320 65.73 74.60 0.97 4500 67.08 74.40 0.98 4680 68.41 74.20 0.99 4860 69.71 74.00 1.01 5040 70.99 73.00 1.07 t

44 Lampiran 3 (lanjutan) pengukuran 2 pengukuran 3 waktu (t) Volume (ml) infiltrasi (cm) waktu (t) Volume (ml) infiltrasi (cm) 0 0 90 0 0 0 90 0 180 13.42 85.00 0.31 180 13.42 78.00 0.75 360 18.97 83.50 0.41 360 18.97 73.00 1.07 540 23.24 82.80 0.45 540 23.24 68.50 1.35 720 26.83 81.00 0.57 720 26.83 65.00 1.57 900 30.00 80.00 0.63 900 30.00 61.50 1.79 1080 32.86 79.00 0.69 1080 32.86 58.00 2.01 1260 35.50 78.00 0.75 1260 35.50 56.00 2.14 1440 37.95 77.00 0.82 1440 37.95 54.00 2.26 1620 40.25 76.00 0.88 1620 40.25 52.00 2.39 1800 42.43 75.00 0.94 1800 42.43 50.00 2.52 1980 44.50 74.00 1.01 1980 44.50 49.00 2.58 2160 46.48 73.00 1.07 2160 46.48 48.00 2.64 2340 48.37 72.00 1.13 2340 48.37 47.00 2.70 2520 50.20 71.00 1.19 2520 50.20 46.00 2.77 2700 51.96 70.20 1.25 2700 51.96 45.00 2.83 2880 53.67 69.20 1.31 2880 53.67 44.50 2.86 3060 55.32 68.30 1.36 3060 55.32 44.00 2.89 3240 56.92 67.50 1.42 3240 56.92 43.50 2.92 3420 58.48 66.80 1.46 3420 58.48 42.80 2.97 3600 60.00 66.00 1.51 3600 60.00 42.50 2.99 3780 61.48 65.20 1.56 3780 61.48 42.00 3.02 3960 62.93 64.20 1.62 3960 62.93 64.20 1.62 4140 64.34 63.50 1.67 4140 64.34 63.50 1.67 4320 65.73 62.80 1.71 4320 65.73 62.80 1.71 4500 67.08 62.20 1.75 4500 67.08 62.20 1.75 4680 68.41 61.60 1.79 4680 68.41 61.60 1.79 4860 69.71 61.00 1.82 4860 69.71 61.00 1.82 5040 70.99 59.40 1.92 5040 70.99 59.40 1.92 5220 72.25 58.50 1.98 5220 72.25 58.50 1.98 5400 73.48 57.80 2.03 5400 73.48 57.80 2.03 t t

45 Lampiran 4. Nilai variabel A infiltrasi mini disk infiltrometer

Jenis tanah Jari-jari = 2.25 cm A  n h0 = -0.5 h0 = -1 h0 = -2 h0 = -3 h0 = -4 h0= -5 h0= - 6 h0 = -7 sand 0.15 2.68 2.84 2.40 1.73 1.24 0.89 0.64 0.46 0.33 loamy sand 0.12 2.28 2.99 2.79 2.43 2.12 1.84 1.61 1.40 1.22 sandy loam 0.08 1.89 3.88 3.89 3.91 3.93 3.95 3.98 4.00 4.02 loam 0.04 1.56 5.46 5.72 6.27 6.87 7.53 8.25 9.05 9.92 silt 0.02 1.37 7.92 8.18 8.71 9.29 9.90 10.55 11.24 11.98 silt loam 0.02 1.41 7.10 7.37 7.93 8.53 9.19 9.89 10.64 11.45

sandy clay loam 0.06 1.48 3.21 3.52 4.24 5.11 6.15 7.41 8.92 10.75

clay loam 0.02 1.31 5.86 6.11 6.64 7.23 7.86 8.55 9.30 10.12

silty clay loam 0.01 1.23 7.89 8.09 8.51 8.95 9.41 9.90 10.41 10.94

sandy clay 0.03 1.23 3.34 3.57 4.09 4.68 5.36 6.14 7.04 8.06

silty clay 0.01 1.09 6.08 6.17 6.36 6.56 6.76 6.97 7.18 7.40

clay 0.01 1.09 4.00 4.10 4.30 4.51 4.74 4.98 5.22 5.48

46

Lampiran 5. Posisi rorak yang sudah diaplikasikan di lahan Pala

Keterangan:

47 Lampiran 6. Uji kecocokan jenis distribusi

No. Jenis Distribusi Jenis Uji Kecocokan Rerata % Error Deviasi

1 Normal 6.86 3.70

2 Log Normal 6.82 9.67

3 Gumbel 3.50 1.77

4 Pearson III 9.71 4.39

5 Log Pearson III 11.79 5.31

Maksimum 11.79 9.67

Minimum 3.50 1.77

Lampiran 7. Hasil pengukuran tinggi muka air tanah Tanggal maksimum (m) minimum (m)

4/22/14 2.03 1.34 4/23/14 2.21 1.57 4/24/14 2.67 2.12 4/25/14 2.40 1.78 4/26/14 2.27 1.24 4/27/14 4.80 2.34 4/28/14 2.73 1.89

48

Lampiran 8. Pengukuran sedimen rorak 4 dan 11

Pengukuran sedimen untuk bagian atas, tengah dan bawah rorak 4 Curah

Hujan (mm)

Tanggal Pukul

Tinggi Sedimen di Rorak 4 bagian atas (mm) bagian tengah (mm) bagian bawah (mm) rata- rata (mm) 63.8 22/04/14 7:30 5 4 2 3.7 211.9 27/04/14 10:00 11 7 5 7.7 3 28/04/14 7:30 11 7 5 7.7 z4.5 02/05/14 7:30 11.5 7 5 7.8 1 03/05/14 17:00 11.5 7 5 7.8

Pengukuran sedimen untuk bagian atas, tengah dan bawah rorak 11

Curah hujan (mm/hari)

Tanggal Pukul

Tinggi Sedimen di Rorak 11 bagian atas (mm) bagian tengah (mm) bagian bawah (mm) rata-rata (mm) 63.8 22/4/2014 7:30 9 7 4 6.7 211.9 27/04/14 10:00 28 15 13 18.7 3 28/04/14 7:30 28 15 13 18.7 4.5 02/05/14 7:30 28 15 13 18.7 1 03/05/14 17:00 28 15 13 18.7

49 Lampiran 9. Pengukuran sedimen rorak 12

Pengukuran sedimen untuk bagian atas, tengah dan bawah rorak 12

Curah hujan (mm)

Tanggal Pukul

Tinggi Sedimen di Rorak 12 bagian atas (mm) bagian tengah (mm) bagian bawah (mm) rata-rata (mm) 63.8 22/4/2014 7:30 7 6 3 5.3 211.9 27/4/2014 10:00 13 8 6 9.0 3 28/4/2014 7:30 13 8 6 9.0 4.5 2/5/2014 7:30 13 8 6 9.0 1 3/5/2014 17:00 13 8 6.5 9.2

50

Lampiran 10. Nilai variabel p evapotranspirasi Blaney-Criddle

Garis Lintang

(°)

Utara Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Selatan Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun 60 0.15 0.2 0.26 0.32 0.32 0.38 0.41 0.4 0.34 0.28 0.22 0.17 0.13 55 0.18 0.22 0.26 0.31 0.31 0.36 0.38 0.37 0.33 0.28 0.23 0.19 0.17 50 0.19 0.23 0.27 0.31 0.31 0.34 0.36 0.35 0.32 0.28 0.24 0.2 0.18 45 0.21 0.24 0.27 0.3 0.3 0.33 0.35 0.34 0.31 0.28 0.25 0.22 0.2 40 0.22 0.24 0.27 0.3 0.3 0.32 0.34 0.33 0.31 0.28 0.25 0.22 0.21 35 0.23 0.25 0.27 0.29 0.29 0.31 0.32 0.32 0.3 0.28 0.25 0.23 0.22 30 0.24 0.25 0.27 0.29 0.29 0.31 0.32 0.31 0.3 0.28 0.26 0.24 0.23 25 0.24 0.26 0.27 0.29 0.29 0.3 0.31 0.31 0.29 0.28 0.26 0.25 0.24 20 0.25 0.26 0.27 0.28 0.28 0.29 0.3 0.3 0.29 0.28 0.26 0.25 0.25 15 0.26 0.26 0.27 0.28 0.28 0.29 0.29 0.29 0.28 0.28 0.27 0.26 0.26 10 0.26 0.27 0.27 0.28 0.28 0.28 0.29 0.29 0.28 0.28 0.27 0.26 0.27 5 0.27 0.27 0.27 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.28 0.27 0.27 0.27 0 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 0.27 Sumber : (Triatmodjo 2010)

51 Lampiran 11. Rorak pada pengamatan 27 April 2014 curah hujan tertinggi 211.9

mm/hari

Rorak panjang 100 cm, lebar 40 cm, dalam 30 cm sesudah terjadinya hujan

52

53 Lampiran 13. Data tinggi curah hujan harian di lokasi penelitian

Tanggal Tinggi curah hujan

(mm/hari) 27/02/14 40.00 01/03/14 1.50 04/03/14 28.50 15/03/14 5.40 20/03/14 9.60 21/03/14 14.90 22/03/14 17.25 27/03/14 1.00 28/03/14 45.50 29/03/14 11.00 02/04/14 49.00 04/04/14 88.00 05/04/14 36.50 06/04/14 2.20 10/04/14 79.50 13/04/14 60.00 14/04/14 27.50 16/04/14 3.00 17/04/14 58.50 20/04/14 2.00 21/04/14 13.50 22/04/14 63.80 27/04/14 211.90 28/04/14 3.00 01/05/14 4.50 03/05/14 1.00

54

Lampiran 14. Data tinggi curah hujan harian tiap bulan selama tahun 2003-2013

Curah hujan harian (mm/hari) tiap bulan di Kecamatan Tapak Tuan

Bln/thn 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Januari 21.7 30.0 29.2 16.7 15.7 8.4 34.2 39.5 23.7 37.1 48.2 Februari 36.0 32.6 26.4 19.5 22.7 21.9 9.5 19.2 34.5 40.3 25.8 Maret 30.3 34.9 26.8 29.6 21.4 24.8 18.3 20.6 56.4 12.1 21.4 April 29.9 23.0 19.6 19.1 22.4 30.3 20.2 32.8 31.6 28.4 30.3 Mei 19.0 29.9 37.1 23.8 18.6 24.8 16.6 13.0 19.5 17.7 40.6 Juni 32.6 37.3 24.2 20.9 22.6 36.9 27.8 19.6 51.2 14.8 14.2 Juli 10.5 24.7 23.5 31.8 22.1 19.2 32.1 7.4 39.9 36.0 25.3 Agustus 30.1 31.0 27.9 18.5 12.2 35.1 48.0 46.8 34.8 32.8 28.7 September 29.5 24.2 24.4 17.3 20.5 32.6 19.1 29.3 38.6 18.0 12.7 Oktober 15.0 21.2 29.7 13.5 30.5 19.7 16.6 29.9 35.7 23.8 27.0 November 31.9 23.0 30.0 18.6 27.8 24.8 38.1 39.6 24.4 25.8 23.3 Desember 22.2 18.7 23.1 16.6 19.8 23.6 23.7 24.4 38.0 36.4 26.9 Min 10.5 18.7 19.6 13.5 12.2 8.4 9.5 7.4 19.5 12.1 12.7 Max 36.0 37.3 37.1 31.8 30.5 36.9 48.0 46.8 56.4 40.3 48.2 Peringkat 9 6 7 10 11 8 3 4 1 5 2 Rata-rata 25.7 27.5 26.8 20.5 21.4 25.2 25.3 26.8 35.7 26.9 27.0

Dokumen terkait