• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

Latar Belakang

Penerapan desentralisasi di Indonesia sejak tahun 1998 menuntut daerah untuk mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki secara arif dan bijaksana agar peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Desentralisasi bagai dua keping mata uang yang bisa berdampak baik maupun buruk bagi kelangsungan hidup setiap wilayah di segala bidang, yang oleh karenanya harus dikelola dengan baik agar dapat memberikan hasil yang diinginkan. Adanya otonomi daerah ternyata belum mampu dimanfaatkan oleh semua daerah untuk mengembangkan wilayahnya. Sebagian daerah masih terbuai dengan otonomi sehingga substansi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat semakin sulit direalisasikan dan bahkan malah mengakibatkan terjadinya disparitas wilayah.

Fenomena disparitas wilayah memang sudah menjadi hal yang biasa dalam perkembangan suatu wilayah karena berbagai alasan. Disparitas tersebut tidak hanya terjadi pada lingkup negara, bahkan sampai pada wilayah provinsi atau unit yang lebih rendah sekalipun. Sering kali disparitas menjadi permasalahan yang serius bagi setiap wilayah karena berpotensi menimbulkan konflik finansial, sosial, atau hubungan yang saling memperlemah antar wilayah. Wilayah hinterland akan menjadi lemah karena eksploitasi sumber daya yang berlebihan, sementara wilayah inti juga dapat menjadi lemah karena faktor urbanisasi yang tinggi.

Penyebab disparitas menurut Anwar (2005), terdiri dari beberapa hal yaitu 1) Perbedaan karakteristik limpahan sumberdaya alam (resource endowment); 2) Perbedaan demografi; 3) Perbedaan kemampuan sumberdaya manusia (human capital); 4) Perbedaan potensi lokasi; 5) Perbedaan dari aspek aksesibilitas dan kekuasaan dalam pengambilan keputusan; dan 6) Perbedaan aspek potensi pasar. Berdasarkan faktor tersebut maka dalam suatu wilayah akan terdapat beberapa macam karakteristik wilayah ditinjau dari aspek kemajuannya, yaitu: 1) Wilayah maju; 2) Wilayah sedang berkembang; 3) Wilayah belum berkembang; dan 4) Wilayah tidak berkembang.

Perbedaan perkembangan wilayah akan membentuk suatu struktur wilayah yang berhirarki, dimana wilayah yang telah maju cenderung akan cepat berkembang menjadi pusat aktifitas baik perekonomian maupun pemerintahan. Wilayah yang sumber daya alamnya kurang mendukung akan relatif kurang berkembang dan cenderung menjadi wilayah hinterland. Keadaan ini dapat menjadi faktor pendorong bagi sumber daya manusia untuk bekerja ke wilayah yang lebih berkembang dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya sehingga akan semakin sulit bagi wilayah ini untuk berkembang karena telah mengalami kekurangan sumberdaya manusia.

Perkembangan wilayah di Provinsi Sumatera Barat secara kasat mata mengindikasikan terdapat disparitas wilayah. Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terpisah dari kabupaten/kota lainnya merupakan wilayah yang sangat jauh tertinggal dibandingkan wilayah lainnya. Secara umum, wilayah yang berada di bagian Selatan dan Utara juga lebih tertinggal dibandingkan dengan wilayah yang berada di bagian Tengah. Perbedaan lain juga dapat dilihat dimana wilayah kota perkembangannya jauh lebih baik dari wilayah kabupaten. Indikator disparitas tersebut dapat dilihat dari infrastruktur jalan, fasilitas ekonomi, serta sarana dan prasarana sosial. Faktor fisik wilayah di Sumatera Barat yang beragam seperti topografi, tutupan lahan, dan kerentanan terhadap bencana turut mempengaruhi terjadinya disparitas tersebut.

Beranjak dari fenomena tersebut, bahwa karakteristik potensi wilayah Sumatera Barat baik yang bersifat alami maupun buatan, merupakan salah satu unsur yang menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan upaya pengurangan disparitas pembangunan antar wilayah kabupaten/kota yang ada. Strategi pengembangan wilayah yang mempertimbangkan keterkaitan antara kondisi sosial ekonomi, potensi sumberdaya alam, dan ketersediaan prasarana, serta kondisi fisik wilayah diharapkan mampu mengatasi permasalahan disparitas antar wilayah di Provinsi Sumatera Barat. Dengan demikian diharapkan akan tercipta pemerataan (equity), pertumbuhan (eficiency), dan keberlanjutan (sustainability) dalam pembangunan wilayah. Strategi yang tepat dalam pengembangan wilayah diharapkan mampu untuk mengurangi disparitas yang terjadi antar wilayah.

Perumusan Masalah

Provinsi Sumatera Barat yang berada di sebelah barat Pulau Sumatera memiliki luas 42.297,30 km2 atau setara dengan 2,17 persen luas Indonesia, memiliki topografi yang sangat bervariasi mulai dari dataran rendah di pantai hingga dataran tinggi di pegunungan. Secara administratif, wilayah Sumatera Barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara di sebelah Utara, sebelah Selatan dengan Provinsi Jambi dan Provinsi Bengkulu, sebelah Barat dengan Samudera Indonesia, dan sebelah Timur dengan Provinsi Riau. Jumlah daerah tingkat II di Sumatera Barat sampai tahun 2010 adalah sembilan belas kabupaten/kota dengan dua belas kabupaten dan tujuh kota dimana Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Pariaman, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, dan Kabupaten Pasaman Barat merupakan wilayah hasil pemekaran pasca otonomi daerah.

Letak Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat yang relatif di tengah dan dikelilingi kabupaten/kota yang lain seyogyanya akan memudahkan untuk melakukan pembangunan secara lebih merata dengan menggunakan sistem hirarki antara inti dan hinterland. Seperti yang termuat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera Barat 2009 – 2029, Kota Padang merupakan satu – satunya Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang akan dikembangkan menjadi kawasan Metropolitan di Sumatera Barat atau wilayah lain yang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), belum mampu secara maksimal meningkatkan daerah

hinterland-nya untuk berkembang menjadi lebih baik.

Gambaran makro perekonomian antara wilayah di Provinsi Sumatera Barat berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) memperlihatkan distribusi yang tidak merata. Daerah yang memiliki PDRB paling dominan adalah Kota Padang (31,05 persen) sementara daerah lain yang memiliki PDRB di atas rata- rata provinsi adalah Kabupaten Limo Puluh Koto (7,07 persen), Kabupaten Pasaman Barat (6,67 persen), Kabupaten Solok (5,46 persen), Kabupaten Tanah Datar (6,61 persen), Kabupaten Padang Pariaman (6,44 persen) dan Kabupaten Agam (7,74 persen) sementara untuk daerah lain berada di bawah rata-rata provinsi (5,26 persen) (BPS Sumatera Barat, 2009).

Data lain seperti sarana dan prasarana wilayah, juga menunjukkan terjadi ketimpangan antar wilayah di Provinsi Sumatera Barat. Kondisi jaringan jalan tidak terdistribusi secara proporsional, dimana wilayah perkotaan memiliki rasio yang jauh lebih tinggi dibandingkan daerah kabupaten. Rasio panjang jalan per luas wilayah di Kota Bukittinggi mencapai 712,797 persen, sementara di Kabupaten Kepulauan Mentawai hanya 11,360 persen (RTRW Sumatera Barat 2009 – 2024). Beberapa wilayah masih ada yang belum dilalui jalan negara, bahkan Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak memiliki jalan provinsi.

Sarana perekonomian dan fasilitas sosial lainnya juga tidak tersebar secara merata karena hanya berada pada wilayah perkotaan. Sarana perekonomian seperti bank, hanya terkonsentrasi pada beberapa kota utama seperti Kota Padang dan Kota Bukittingi. Fasilitas sosial seperti sekolah, di Kota Padang terdapat 82 jumlah SMA sederajat, sementara di Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Lima Puluh Kota, dan Kabupaten Pasaman yang lebih luas wilayahnya hanya terdapat sekitar belasan SMA sederajat dan di Kabupaten Kepulauan Mentawai hanya ada lima SMA sederajat (BPS Sumatera Barat, 2009). Perbedaan faktor alam juga ikut meningkatkan terjadinya ketidakmerataan di Provinsi Sumatera Barat, seperti luas wilayah yang memiliki hutan lindung, dimana Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pesisir Selatan hampir setengah wilayahnya memiliki kawasan lindung, sementara Kota Pariaman dan Kota Padang Panjang hampir tidak ditemui kawasan yang berfungsi sebagai hutan lindung (BPS Sumatera Barat, 2009). Potensi bencana yang besar di Sumatera Barat menjadi suatu permasalahan yang serius dalam kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan.

Secara umum perbedaan PDRB dan data sarana prasarana wilayah di atas memperlihatkan bahwa terdapat ketimpangan antar wilayah di Provinsi Sumatera Barat. Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Dharmasraya sebagai kabupaten yang baru dimekarkan pasca tahun 1999 mempunyai nilai PDRB 1.066 miliar rupiah jauh di bawah rata-rata provinsi 3.612 miliar rupiah (BPS Sumatera Barat, 2009). Hal ini mengindikasikan bahwa potensi yang dimiliki belum mampu dieksploitasi secara maksimal atau memang wilayah tersebut tidak memiliki sumber daya yang cukup

untuk mengembangkan wilayahnya. Sementara Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung, dan Kabupaten Pasaman yang berada pada wilayah perbatasan juga memiliki nilai PDRB di bawah rata-rata provinsi.

Dengan melihat kondisi di atas, serta dalam upaya mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah dan menciptakan pemerataan di Provinsi Sumatera Barat, maka perlu dilakukan analisis dan identifikasi tingkat disparitas pembangunan antar wilayah dan faktor-faktor penyebab terjadinya disparitas tersebut, terutama dari aspek ekonomi, kondisi biofisik wilayah, ketersediaan sarana dan prasarana (sumberdaya buatan), dan indikator lainnya (Gambar 1).

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menentukan besarnya tingkat disparitas perekonomian antar wilayah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat.

2. Mengetahui tingkat perkembangan dan karakteristik dari wilayah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat.

3. Mengidentifikasi sektor unggulan yang dimiliki oleh setiap kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat.

4. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat perkembangan antar wilayah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat.

5. Merumuskan strategi pengembangan wilayah untuk mengatasi masalah disparitas yang dapat diterapkan.

Adapun manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan dalam perumusan atau penyusunan kebijakan perencanaan pembangunan wilayah untuk mengurangi tingkat disparitas pembangunan wilayah di Provinsi Sumatera Barat.

Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Otonomi Daerah Strategi Pengembangan Wilayah Prov. Sumbar

Kondisi Prov. Sumbar saat ini

PDRB tidak Merata

Sarana dan Prasarana Sosial Ekonomi tidak merata

Biofisik Wilayah Beragam

Terjadinya Disparitas Wilayah

Implikasi

Kebijakan sosial politik

Hubungan antar wilayah saling memperlemah Inefesiensi

Terjadinya konflik Pemekaran Wilayah

Menarik diteliti dan perlu pemecahan

Tipologi Wilayah

Faktor Penyebab Disparitas Wilayah Mempelajari karakteristik Biofisik

Identifikasi tingkat disparitas antar wilayah

Identifikasi tingkat hirarki dan perkembangan wilayah

TINJAUAN PUSTAKA Konsep Wilayah

Wilayah menurut UU No. 26 tahun 2007 adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. Sementara menurut Rustiadi et al. (2009), wilayah didefinisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas yang spesifik (tertentu) dimana bagian-bagian dari wilayah tersebut (sub wilayah) satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. Dari definisi tersebut, terlihat bahwa tidak ada batasan yang spesifik dari luasan suatu wilayah. Batasan yang ada lebih bersifat “meaningful’, baik untuk perencanaan, pelaksanaan,

monitoring, pengendalian, maupun evaluasi. Dengan demikian, batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis.

Konsep wilayah yang paling klasik (Hagget et al. 1977) mengenai tipologi wilayah, membagi wilayah dalam tiga kategori, yaitu: (1) wilayah homogen (uniform/homogenous region); (2) wilayah nodal (nodal region); dan (3) wilayah perencanaan (planning region atau programming region). Wilayah homogen adalah wilayah yang dibatasi berdasarkan pada kenyataan bahwa faktor-faktor dominan pada wilayah tersebut bersifat homogen, sedangkan faktor-faktor yang tidak dominan dapat beragam (heterogen).

Pada dasarnya terdapat beberapa faktor penyebab homogenitas wilayah. Secara umum terdiri atas penyebab alamiah dan penyebab non alamiah. Faktor alamiah yang dapat menyebabkan homogenitas wilayah adalah kelas kemampuan lahan, iklim, dan berbagai faktor lainnya. Sedangkan homogenitas yang bersifat non alamiah didasarkan pada pengklasifikasian berdasarkan aspek tertentu yang dibuat oleh manusia. Contoh wilayah homogen non alamiah adalah wilayah homogen atas dasar kemiskinan (peta kemiskinan).

Menurut Rustiadi et al. (2009), pemahaman tentang wilayah dapat dilihat pada Gambar 2, dimana wilayah dibagi menjadi tiga yaitu wilayah homogen, wilayah sistem/fungsional, dan wilayah perencanaan/pengolahan. Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa wilayah merupakan suatu sistem yang mempunyai keterkaitan fungsional yang berbeda. Pendekatan perencanaan pengembangan wilayah di Indonesia sering kali lebih didasarkan pada aspek administrasi – politik dibandingkan aspek keterkaitan wilayah sebagai sebuah sistem.

Gambar 2. Kerangka Klasifikasi Konsep Wilayah

Sistem Sosial – Politik : cagar budaya, wilayah

etnik Sistem ekonomi : Agropolitan, kawasan produksi, kawasan industri

Sistem ekologi : DAS, hutan, pesisir Nodal (pusat - hinterland )

Desa - Kota Budidaya - Lindung Umumnya disusun/dikembangkan berdasarkan:

Konsep homogen/fungsional: KSP, KATING, dan sebagainya

Administrasi-politik: propinsi, Kabupaten, Kota Sistem Sederhana Sistem Komplek Wilayah Homogen Sistem/ Fungsional Perencanaan/ Pengelolaan

Disparitas Pembangunan

Definisi pembangunan oleh para ahli dapat bermacam-macam, namun secara umum bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan. Secara sederhana menurut Riyadi dan Bratakusumah (2004), pembangunan diartikan sebagai suatu upaya untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik, sedangkan menurut Saefulhakim (2008) pembangunan merupakan perubahan terencana (planned changes). Artinya bahwa suatu perubahan dapat dikatakan pembangunan manakala proses perencanaan memberikan kontribusi penting terhadap perubahan tersebut, sehingga perubahan tanpa perencanaan tidak dapat dikatakan sebagai pembangunan.

Rustiadi et al. (2009) berpendapat bahwa secara filosofis suatu proses pembangunan dapat diartikan sebagai upaya yang sistematik dan berkesinambungan, untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humanistik. Selanjutnya Todaro (2003) dalam Rustiadi et al. (2009) menyatakan bahwa pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi- institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan.

Pembangunan berbasis pengembangan wilayah memandang pentingnya keterpaduan antar sektoral, spasial, serta pelaku pembangunan di dalam maupun antar daerah. Keterpaduan sektoral menuntut adanya keterkaitan fungsional dan sinergis antar sektor pembangunan sehingga setiap program pembangunan sektoral selalu dilaksanakan dalam kerangka pembangunan wilayah (Rustiadi et al. 2009). Namun demikian seringkali pembangunan wilayah yang dilaksanakan tidak merata, baik antar sektor maupun antar wilayah sehingga mengakibatkan terjadinya kesenjangan atau disparitas pembangunan antar wilayah.

Secara makro dapat dilihat terjadinya ketimpangan pembangunan yang nyata misalnya antara desa-kota, antara wilayah Indonesia Timur dan Indonesia Barat, wilayah Jawa dan luar Jawa, dan sebagainya. Menurut Rustiadi et al. (2009) faktor- faktor utama yang menyebabkan terjadinya disparitas tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Faktor utama penyebab ketimpangan

Faktor Indikator

Geografi Topografi, Iklim, Curah Hujan, Sumber Daya Mineral, dll. Sejarah Bentuk kelembagaan atau kebudayaan masa lalu

Politik Stabil atau tidak stabilnya Kebijakan Sentralistik atau desentralistik

Administratif Administrasi yang baik (efisien, jujur, terpelajar, terlatih ) atau bukan Sosial Masyarakat tertinggal atau maju

Ekonomi Kuantitas dan kualitas faktor produks (contoh ; lahan, infrastruktur, tenaga kerja), akumulasi berbagai faktor (contoh; lingkaran kemiskinan, standar hidup rendah), pasar bebas (contoh; speread effect dan backwash effect), distorsi pasar (contoh; immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi)

Sumber : Rustiadi et al. (2009)

1. Faktor geografis

Suatu wilayah atau daerah yang sangat luas akan terjadi variasi pada keadaan fisik alam berupa topografi, iklim, curah hujan, sumberdaya mineral dan variasi spasial lainnya. Apabila faktor-faktor lainnya baik dan ditunjang dengan kondisi geografis yang baik, maka wilayah tersebut akan berkembang dengan lebih baik. 2. Faktor historis

Perkembangan masyarakat dalam suatu wilayah tergantung dari kegiatan atau budaya hidup yang telah dilakukan masa lalu. Bentuk kelembagaan atau budaya dan kehidupan perekonomian pada masa lalu merupakan penyebab yang cukup penting terutama yang terkait dengan sistem insentif terhadap kapasitas kerja.

3. Faktor politis

Tidak stabilnya suhu politik sangat mempengaruhi perkembangan dan pembangunan di suatu wilayah. Instabilitas politik akan menyebabkan orang ragu untuk berusaha atau melakukan investasi sehingga kegiatan ekonomi di suatu wilayah tidak akan berkembang. Bahkan terjadi pelarian modal ke luar wilayah, untuk diinvestasikan ke wilayah yang lebih stabil.

4. Faktor kebijakan

Terjadinya kesenjangan antar wilayah bisa diakibatkan oleh kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah yang sentralistik hampir di semua sektor, dan lebih menekan pertumbuhan dan membangun pusat-pusat pembangunan di wilayah tertentu menyebabkan kesenjangan yang luar biasa antar daerah.

5. Faktor administratif

Kesenjangan wilayah dapat terjadi karena kemampuan pengelola administrasi. Wilayah yang dikelola dengan administrasi yang baik cenderung lebih maju. Wilayah yang ingin maju harus mempunyai administrator yang jujur, terpelajar, terlatih, dengan sistem administrasi yang efisien.

6. Faktor sosial

Masyarakat dengan kepercayaan-kepercayaan yang primitif, kepercayaan tradisional dan nilai-nilai sosial yang cenderung konservatif dan menghambat perkembangan ekonomi. Sebaliknya masyarakat yang relatif maju umumnya memiliki institusi dan perilaku yang kondusif untuk berkembang. Perbedaan ini merupakan salah satu penyebab kesenjangan wilayah.

7. Faktor Ekonomi.

Faktor ekonomi yang menyebabkan kesenjangan antar wilayah yaitu:

a) Perbedaan kuantitas dan kualitas dari faktor produksi yang dimiliki seperti: lahan, infrastruktur, tenaga kerja, modal, organisasi dan perusahaan;

b) Terkait akumulasi dari berbagai faktor. Salah satunya lingkaran kemiskinan, kemudian kondisi masyarakat yang tertinggal, standar hidup rendah, efisiensi rendah, konsumsi rendah, tabungan rendah, investasi rendah, dan pengangguran meningkat. Sebaliknya diwilayah yang maju, masyarakat

maju, standar hidup tinggi, pendapatan semakin tinggi, tabungan semakin banyak yang pada akhirnya masyarakat semakin maju;

c) Kekuatan pasar bebas telah mengakibatkan faktor-faktor ekonomi seperti tenaga kerja, modal, perusahaan dan aktifitas ekonomi seperti industri, perdagangan, perbankan, dan asuransi yang dalam ekonomi maju memberikan hasil yang lebih besar, cenderung terkosentrasi di wilayah maju;

d) Terkait dengan distorsi pasar, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi, keterbatasan ketrampilan tenaga kerja dan sebagainya.

Di Indonesia faktor-faktor penyebab terjadinya ketimpangan ekonomi antar provinsi atau wilayah menurut Tambunan (2003) diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Konsentrasi Kegiatan Ekonomi Wilayah

2. Alokasi Investasi

3. Tingkat Mobilitas Faktor Produksi yang Rendah Antar Daerah 4. Perbedaan Sumberdaya Alam Antar Provinsi

5. Perbedaan Kondisi Demografis Antar Wilayah 6. Kurang Lancarnya Perdagangan Antar Provinsi

Pendapatan Regional

Pendapatan regional sering didefinisikan sebagai nilai produksi barang-barang dan jasa-jasa yang diciptakan dalam suatu perekonomian di dalam suatu wilayah selama satu tahun atau tingkat pendapatan masyarakat pada suatu wilayah analisis (Tarigan, 2007). Tingkat pendapatan regional dapat diukur dari total pendapatan wilayah ataupun pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut. Beberapa istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan pendapatan regional, diantaranya adalah :

1) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), jumlah nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah atau propinsi. Pengertian nilai tambah bruto adalah nilai produksi (output) dikurangi

dengan biaya antara (intermediate cost). Komponen-komponen nilai tambah bruto mencakup komponen-komponen faktor pendapatan (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung neto. Jadi dengan menghitung nilai tambah bruto dari dari masing-masing sektor dan kemudian menjumlahkannya akan menghasilkan produk domestik regional bruto (PDRB). 2) Produk Domestitk Regional Neto (PDRN), PDRN dapat diperoleh dengan cara

mengurangi PDRB dengan penyusutan. Penyusutan yang dimaksud disini adalah nilai susut (aus) atau pengurangan nilai barang-barang modal (mesin-mesin, peralatan, kendaraan dan yang lain-lainnya) karena barang modal tersebut dipakai dalam proses produksi. Jika nilai susut barang-barang modal dari seluruh sektor ekonomi dijumlahkan, hasilnya merupakan penyusutan keseluruhan. Tetapi bila PDRN di atas dikurangi dengan pajak tidak langsung neto, maka akan diperoleh PDRN atas dasar biaya faktor.

Ada tiga pendekatan untuk menghitung pendapatan regional dengan menggunakan metode langsung (Tarigan, 2007), yaitu:

1. Pendekatan Pengeluaran; cara penentuan pendapatan regional dengan cara menjumlahkan seluruh nilai penggunaan akhir dari barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri. Kalau dilihat dari segi penggunaan maka total penyediaan atau produksi barang dan jasa itu digunakan untuk : konsumsi rumah tangga; konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung; konsumsi pemerintah; pembentukan modal tetap bruto (investasi); perubahan stok, dan ekspor neto (total ekspor dikurangi dengan total impor).

2. Pendekatan Produksi; perhitungan pendapatan regional berdasarkan pendekatan produksi dilakukan dengan cara menjumlahkan nilai produksi yang diciptakan oleh tiap-tiap sektor produksi yang ada dalam perekonomian. Maka itu, untuk menghitung pendapatan regional berdasarkan pendekatan produksi, maka pertama-tama yang harus dilakukan ialah menentukan nilai produksi yang diciptakan oleh tiap-tiap sektor di atas. Pendapatan regional diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai produksi yang tercipta dari tiap-tiap sektor.

3. Pendekatan Penerimaan; pendapatan regional dihitung dengan cara menjumlahkan pendapatan faktor-faktor produksi yang digunakan dalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Jadi yang dijumlahkan adalah: upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, dan pajak tidak langsung neto.

Analisis Spasial

Perencanaan pembangunan wilayah adalah konsep yang utuh dan menyatu dengan pembangunan wilayah. Secara luas, perencanaan pembangunan wilayah diartikan sebagai suatu upaya merumuskan dan mengaplikasikan kerangka teori ke dalam kebijakan ekonomi dan program pembangunan yang didalamnya mempertimbangkan aspek wilayah dengan mengintegrasikan aspek sosial dan lingkungan menuju tercapainya kesejahteraan yang optimal dan berkelanjutan (Nugroho dan Dahuri, 2004). Sedangkan proses perencanaan pembangunan wilayah selalu berhadapan dengan objek-objek perencanaan yang memiliki sifat keruangan (spasial). Oleh karena itu dalam analisis perencanaan wilayah, analisis yang menyangkut objek-objek dalam sistem keruangan (analisis spasial) menjadi sangat penting Rustiadi et al. (2009).

Selanjutnya Rustiadi et al. (2009) menyatakan bahwa analisis spasial dipahami secara berbeda antara ilmuan berlatar belakang geografi dengan ilmuwan berlatar belakang sosial (termasuk ekonomi). Perbedaan keduanya bersumber dari perbedaan dalam dua hal, pertama perbedaan pengertian kata spasial atau ruang itu sendiri dan kedua fokus kajiannya. Pandangan geografi, pengertian spasial adalah pengertian yang bersifat rigid (kaku), yakni segala hal yang menyangkut lokasi atau tempat.

Anasisis spasial berkembang seiring dengan perkembangan geografi kuantitatif dan ilmu wilayah (regional science) pada awal 1960-an. Perkembangannya diawali dengan digunakannya prosedur-prosedur dan teknikteknik kuantitatif (terutama statistik) untuk menganalisis pola-pola sebaran titik, garis, dan

area pada peta atau data yang disertai koordinat ruang dua atau tiga dimensi. Pada perkembangannya, penekanan dilakukan pada indigenous features dari ruang geografis pada proses-proses pilihan spasial (spasial choices) dan implikasinya secara

spatio-temporal.

Di samping perkembangan metode-metode analisis spasial, peranan sistem

Dokumen terkait