NIDA NURDIAN
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2013
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pola Kemitraan Usaha Garam Rakyat (Studi Kasus Kabupaten Sumenep, Madura – Jawa Timur) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Agustus 2013 Nida Nurdiani
RINGKASAN
NIDA NURDIANI. Pola Kemitraan Usaha Garam Rakyat (Studi Kasus
Kabupaten Sumenep, Madura-Jawa Timur). Dibawah bimbingan SUHARNO
sebagai ketua dan AMZUL RIFIN sebagai anggota.
Garam merupakan salah satu komoditi strategis dan penting, karena digunakan sebagai bahan baku industri dan bahan pangan yang dibutuhkan oleh hampir semua masyarakat. Secara geografis, Indonesia memiliki potensi alam yang mendukung dalam pemenuhan kebutuhan garam nasional. Indonesia termasuk negara maritim dengan luas lautan sebesar 70 persen (5.8 juta km2) dari total luas wilayahnya. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia sepanjang 95 181 km dan memiliki lahan potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan tambak garam seluas 34 000 hektar (Balitbang KKP, 2012) yang saat ini baru sebesar 20 000 hektar yang dimanfaatkan.
Masalah mendasar bagi sebagian besar petani garam di Kabupaten Sumenep adalah produksi dan kualitas garam yang masih rendah. Tentu saja hal ini mempengaruhi posisi petani dalam penetapan kualitas dan harga garam itu sendiri (Suherman et al, 2011). Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang antara lain adalah keterbatasan tehnologi yang digunakan, metode yang diterapkan, akses permodalan dan informasi pasar yang masih sangat minim. Posisi petani yang hanya sebagai produsen, menjadikan pedagang pengumpul sangat mendominasi dalam saluran pemasaran garam. Hubungan antara petani dan pedagang pengumpul tidak hanya sebatas dalam pemasaran saja, melainkan dalam permodalan juga. Untuk itu, petani sangat bergantung pada pedagang pengepul, ketergantungan ini mengakibatkan petani garam tidak memiliki posisi tawar yang baik. Ketidaksetaraan yang terjadi memberikan dampak satu pihak diuntungkan dan ada pihak lain yang dirugikan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tawar petani adalah dengan membangun kelembagaan kemitraan (Vermulen dan Cotula, 2011).
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis pola kerjasama yang telah dilakukan oleh petani garam dengan beberapa pihak terkait, (2) Merumuskan dan memberikan rekomendasi pola kemitraan yang sesuai guna meningkatkan posisi tawar dan kesejahteraan petani garam di Kabupaten Sumenep.
Metode pengambilan contoh yang dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Analisis data yang digunakan, yaitu Analisis deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan bagaimana karakteristik dari para pelaku, menggambarkan mekanisme dari pola kerjasama yang ada, dan biaya-biaya yang dikeluarkan agar terciptanya pola kemitraan. Untuk statistik deskripsi akan menggambarkan jumlah rata-rata produksi garam dan data rata-rata harga jual garam dengan menggunakan tabulasi. Analisis pendapatan dilakukan untuk mengukur keberhasilan dalam usahatani. Pendapatan total usahatani adalah selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran biaya total.Untuk mengetahui apakah model Kemitraan yang dibangun layak atau tidak layak dilakukan analisis Benefit-Cost Ratio (B/C). Untuk mengukur tingkat efisiensi digunakan analisis biaya transaksi. Biaya transaksi adalah biaya yang ditimbulkan dalam melakukan transaksi ekonomi.
Secara umum, menurut North & Thomas dalam Anggraini (2005), komponen umum biaya transaksi yang akan diperhitungkan dalam usaha garam mencakup: (1) biaya untuk mencari informasi, seperti informasi mengenai harga, kualitas garam dan variasi dari garam berdasarkan kualitas; (2) biaya pembuatan kontrak, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk melegalkan kontak; (3) biaya pelaksanaan, biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan suatu kontrak/transaksi.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa bentuk kerjasama yang telah dilakukan adalah (1) Kerjasama antara PT Garam (Persero) dengan petani garam dalam penyewaan lahan tambak garam, (2) Kerjasama antara penyewa lahan dengan petani penggarap, pola yang diterapkan sistem bagi hasil sebesar 4 : 6, (3) Kerjasama antara petani garam dengan pemilik lahan perorangan dengan sistem bagi hasil 4 : 6 dan (4) Kerjasama antara petani dengan pedagang pengumpul. Berdasarkan kriteria pemilihan, yaitu pendapatan usahatani, analisis B/C ratio serta biaya transaksi menunjukkan bahwa pola kemitraan yang sesuai adalah kemitraan antara Petani dan Koperasi dengan model yang diajukan adalah Model Intermediary.
SUMMARY
NIDA NURDIANI. Contract Farming Pattern In Salt Farming (Case Study Sumenep, Madura-East Java). Supervised by SUHARNO and AMZUL RIFIN.
Salt is one of the strategically important commodity, because it is used as an industrial raw materials and foodstuffs needed by almost all people. Geographically, Indonesia has natural resources that support the needs of national salt. Indonesia is a maritime country with a vast ocean of 70 percent (5.8 million km2) of the total area. In addition, Indonesia is also a country with the second longest coastline in the world along 95 181 km and has the potential land that could be used as a salt pond area of 34 000 hectares (Balitbang KKP, 2012), is currently only 20 000 hetares are being used.
The fundamental problem for most salt farmers in Sumenep is salt production and the quality is still low. Of course this affects the position of farmers in determining the quality and price of the salt it self (Suherman et al, 2011). This was caused by several factors there are limitations of technology used, methods applied, access to capital and market information is still very minimal. Position of farmers that only as a producer, it caused the midlle men dominate in the salt marketing. Relationship between farmers and middle men are not only in marketing, but also in the capital. Therefore, farmers rely on merchants collectors, this reliance made salt farmers do not have a good bargaining position. The impacts of inequality occurs no one benefit and the other one gets lose. One of way that can be done to increase the bargaining power of farmers is through building institutional contract farming (Vermulen and Cotula, 2011).
This study aims to (1) To analyze the pattern of cooperation has been carried out by salt farmers with some related sides, (2) Formulate and recommend an appropriate model of contract farming institutions in order to increase the bargaining position dan the welfare of salt farmers.
Sampling methods are done intentionally (purposive sampling). The analysis of the data used, is descriptive analysis that aims to describe how the characteristics of the doers, described the mechanism of the existing pattern of cooperation, and the costs incurred for the creation of contract farming pattern. For describe statistical describe of the average amount of salt production and data of average price of sales price of salt by using tabulation. Revenue analysis is done to measure the success of farm. Total farm income is the difference between the total revenue expenditure total. To know whether the models contract farming are built worth or not worth doing analysis Benefit-Cost Ratio (B/C). To measure efficiency levels used transaction cost analysis. Transaction costs are the costs incurred in conducting economic transactions. Generally, according to the North & Thomas in Anggraini (2005), the general components of transaction costs that will be taken into account in the salt business includes: (1) the cost to get information, such as information about the price, salt quality and variance of salt that based on quality, (2) contracting costs, how much it cost to legalize the contract, (3) the cost of implementation, cost incurred to do a contract/transaction.
The result showed that the forms of cooperation that has been done is (1) Cooperation between PT Garam (Persero) with the salt farmers in salt ponds land, (2) Cooperation between tenants with tenant farmers, the pattern is applied the
system of 4 : 6, (3) Cooperation between salt farmers and private land owners by the sharing system 4 : 6, and (4) Cooperation between farmers and midlle men. Based on the selection criteria, is farm income, analysis of B/C ratio and transaction costs or economic aspect show that the model is a suitable contract farming between Farmers and Cooperation proposed model is Model Intermediary.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
POLA KEMITRAAN USAHA GARAM RAKYAT
(Studi Kasus Kabupaten Sumenep, Madura – Jawa Timur)
NIDA NURDIANI
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Agribisnis
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
Penguji Luar Komisi Pada Ujian Tesis : Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS Penguji Program Studi : Dr. Ir. Netti Tinaprilla, MM
Judul : Pola Kemitraan Usaha Garam Rakyat
(Studi Kasus Kabupaten Sumenep, Madura-Jawa Timur)
Nama : Nida Nurdiani
NIM : H451110461
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Suharno, M.Adev Dr. Amzul Rifin, SP. MA Ketua Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Agribisnis
Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr. Ir. Dahrul Syah, MScAgr
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang memberikan rahmat dan karuni-Nya, sehingga Tesis yang berjudul “Pola Kemitraan Usaha Garam Rakyat (Studi Kasus Kabupaten Sumenep, Madura-Jawa Timur)” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Agibisnis, Sekolah Pascasarjana (SPs), Institut Pertanian Bogor (IPB) dapat diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini tidak akan tersusun tanpa bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Ir. Suharno, M.Adev selaku ketua Komisi Pembimbing atas waktu dan pikirannya dalam memberikan bimbingan, perhatian dan pengertiannya dalam penyusunan tesis.
2. Dr. Amzul Rifin, SP, MA selaku anggota Komisi pembimbing yang telah memberikan arahan, bimbingan dan dorongan dalam penyusunan dan penyelesaian tesis.
3. Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS selaku penguji luar komisi yang telah memberikan masukkan dan saran dalam penyusunan tesis.
4. Dr. Ir. Netti Tinaprilla, MM selaku penguji dari program studi Agribisnis 5. Ketua Program Studi Magister Sains Agribisnis Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina
MS beserta staf yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran akademik selama pendidikan penulis.
6. BU BPKLN yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mendapatkan beasiswa selama pendidikan berlangsung.
7. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan dan Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Sumenep beserta staf yang telah membantu penulis.
8. Kepala Biro Umum PT Garam (Persero), M Farid Zahid beserta seluruh staf yang telah memberikan waktu dan informasinya kepada penulis.
9. Para petani garam dan tokoh masyarakat Kabupaten Sumenep yang telah menyediakan waktunya untuk bekerjasama dengan penulis dalam memberikan informasi.
10. Suami (Risa Arisman) dan anak (M. Attar Putrasyahrisa) tercinta, serta kedua orangtua dan seluruh keluarga yang selalu memberikan doa restu, dukungan dan semangat yang tak henti-hentinya.
11. Sahabat satu bimbingan (Dara, Dini, dan Nita) dan sahabat MSA angkatan 2 yang telah membantu dan memberi semangat yang besar untuk penulis. 12. Kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan
laporan ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, namun penulis juga berharap laporan ini akan memberikan kontribusi bagi semua pihak yang berkepentingan.
Bogor, Agustus 2013
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan Penelitian 5
Manfaat Penelitian 5
Ruang Lingkup Penelitian 5
2 TINJAUAN PUSTAKA 6
Usaha Garam Rakyat 6
Kelembagaan Kemitraan 8
Manfaat Kemitraan 9
3 KERANGKA PEMIKIRAN 11
Landasan Teori Terkait Kemitraan Garam Rakyat 11
Kerangka Pemikiran Operasional 19
4 METODOLOGI PENELITIAN 21
Lokasi dan Waktu Penelitian 21
Jenis dan Sumber Data 21
Metode Pengambilan Contoh 22
Metode Analisis Data 22
Perumusan Model Kemitraan 24
5 GAMBARAN UMUM INDUSTRI GARAM 25
Kondisi dan Potensi Wilayah 25
Pelaku Industri Garam 26
Analisis Kondisi Usaha Garam 29
Pola dan Aturan Kerjasama Yang Ada Dalam Usaha Garam 36
6 POLA KEMITRAAN USAHA GARAM RAKYAT 42
Pola Kemitraan Petani Garam dan Pedagang Pengumpul 43 Pola Kemitraan Petani Garam dan Koperasi 45 Pola Kemitraan Petani dan PT Garam (Persero) 47
Analisis Biaya Transaksi 50
Komparasi Pola Kemitraan Usaha Garam 51
7 SIMPULAN DAN SARAN 54
Simpulan 54
Saran 54
DAFTAR PUSTAKA 55
LAMPIRAN 58