BOGOR
2009
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Analisis Keragaman dan Stabilitas
Genetik Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Indonesia adalah karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Januari 2009
Lukita Devy
NRP A151060191
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Under the direction of SOBIR and DODO RUSNANDA SASTRA.
This study consists of two experiments. The first was multilocations test in dryland and the second was multiseasons test under two sunlight intensities (45% and 100%). Fourteen temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) accessions were used in both experiments. The first experiment was conducted to determine genetic parameters in two locations (Serpong and Bogor) from December 2006 to August 2007. Direct and indirect effects of vegetative components to rhizome fresh weight through path analysis were also investigated. The observed traits in this experiment consist of vegetative, yield and secondary metabolite components. The second experiment was conducted to determine genetic parameters, genetic stability and path analysis under two sunlight intensities for three seasons (October 2004 to August 2007). Grouping of accessions tolerancy to different sunlight intensities was also investigated. The observed traits consist of vegetative and yield components.
There were no differences among tested accessions based on the analysis of variance in the multilocations experiment, except for tiller number and leaf length/width ratio. The heritability of these traits were high (h2bs=73.7% and h2bs=61.8%, respectively). However, their genetic variabilities were narrow (σ2
g < 2 σσ2
g). Differences among tested accessions in two sunlight intensities showed by 8 traits in the first season, 2 traits in the second season and 1 trait in the third season. High heritability and wide genetic variability showed by leaf length, plant height and leaf length/width ratio.
Full sunlight intensity tolerant accessions were T12 (Imogiri-Yogyakarta), T4 (Majenang-Central Java), T11 (Gunung Kidul-Yogyakarta) and T7 (Majalengka-West Java). Shading (sunlight intensity 45%) tolerant accessions were T11, T16 (Pasir Gaok 3-West Java), T4 and T12. Accessions T11 and T16 were stabil (bi= 1.0) in various conditions under 45% sunlight intensity while T4
and T12 were stabil under optimum condition (bi< 1.0) based on
Finlay-Wilkinson stability test. Those accessions showed high rhizome fresh weight (above their yield mean µ> 391.4 g/plant).
The correlation between vegetative traits and rhizome fresh weight were also analyzed. Tiller number could be used as selection criteria for rhizome fresh weight in dryland under full sunlight, while leaf width could be used in shaded area. These traits were chosen as selection criteria because of their high heritability (h2bs-tiller number= 73.7%, h2bs-leaf width = 54.2%), high direct effect (P tiller
number= 0.64, P leaf width = 2.27) and high significant correlation with rhizome fresh
weight (r tiller number = 0.89, r leaf width = 0.90).
Keywords: genetic parameters, indirect selection, genetic stability, yield
LUKITA DEVY. Analisis Keragaman dan Stabilitas Genetik Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Indonesia. Dibimbing oleh SOBIR dan DODO RUSNANDA SASTRA.
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman obat yang
potensial untuk dijadikan komoditas unggulan Indonesia karena secara tradisional telah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak lama. Saat ini berbagai manfaat farmakologis temulawak semakin terungkap dengan adanya kemajuan teknologi.
Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan temulawak adalah rendahnya tingkat produktivitas. Produktivitas temulawak masih berada di bawah potensinya (20 ton/ha). Upaya untuk mengatasi hal ini adalah melalui penggunaan varietas unggul dan intensifikasi, namun varietas unggul temulawak di Indonesia belum tersedia. Perakitan varietas unggul dapat dilakukan sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan produksi temulawak.
Temulawak merupakan tanaman yang toleran terhadap intensitas cahaya penuh sampai sedang sehingga cukup baik bila ditanam di bawah tegakan pohon yang jarak tanamnya cukup lebar. Kondisi tersebut mendukung perluasan area tanam temulawak ke lahan-lahan marjinal. Indonesia memiliki potensi lahan marjinal yang cukup tinggi untuk dijadikan sebagai daerah pengembangan temulawak. Lahan-lahan marjinal yang dapat dimanfaatkan mencakup lahan kering di bawah intensitas cahaya matahari penuh dan lahan kering ternaungi, oleh karena itu kegiatan pemuliaan untuk perakitan varietas unggul temulawak perlu dilakukan pada kedua kondisi lahan tersebut. Sebagai tujuan akhir diharapkan akan dihasilkan varietas unggul temulawak yang toleran terhadap kondisi lahan kering di bawah intensitas cahaya matahari penuh dan lahan kering ternaungi.
Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan pemuliaan yang diperlukan dalam perakitan varietas unggul temulawak pada lahan kering di bawah intensitas cahaya matahari penuh dan lahan kering ternaungi. Dua percobaan dilakukan untuk memenuhi hal tersebut. Percobaan pertama adalah pengujian antar lokasi pada lahan kering di bawah intensitas cahaya matahari penuh sedangkan percobaan kedua adalah pengujian antar musim pada lahan kering dengan intensitas cahaya matahari 45% dan intensitas cahaya matahari penuh (100%) selama tiga musim.
Pengujian antar lokasi lahan kering dilaksanakan di Kawasan Puspiptek Serpong, Kabupaten Tangerang (70 m dpl) dan Kawasan Agromedika Hambaro, Kabupaten Bogor (400 m dpl) dari bulan Desember 2006-Agustus 2007. Percobaan antar musim pada dua intensitas cahaya matahari dilaksanakan di Kawasan Puspiptek Serpong, Kabupaten Tangerang. Penanaman musim ke-1 dilakukan pada bulan Oktober 2004-Juli 2005, musim ke-2 pada bulan November 2005-Agustus 2006 dan musim ke-3 pada bulan Desember 2006-Agustus 2007. Pengamatan pada percobaan antar lokasi lahan kering di bawah intensitas cahaya matahari penuh dilakukan terhadap karakter morfologi, vegetatif, hasil, komponen hasil dan bahan aktif. Sedangkan pada percobaan antar musim di dua intensitas
kering, hanya karakter jumlah anakan/rumpun dan rasio panjang/lebar daun yang menunjukkan adanya perbedaan antar aksesi. Sedangkan pada percobaan antar intensitas cahaya matahari selama tiga musim, ditunjukkan oleh 8 karakter pada musim pertama, 2 karakter pada musim kedua dan 1 karakter pada musim ketiga. Karakter-karakter tersebut adalah jumlah anakan, panjang daun, tinggi tajuk, panjang tangkai daun, rasio panjang/lebar daun, panjang rimpang sekunder, jumlah rimpang tersier, bobot ubi akar, jumlah ubi akar, panjang ruas rimpang primer dan panjang ruas rimpang tersier. Pada pengujian gabungan tiga musim tidak ada karakter yang menunjukkan perbedaan antar aksesi maupun interaksi antara aksesi dan lingkungan.
Aksesi-aksesi yang menunjukkan perbedaan antar karakter cenderung memiliki nilai heritabilitas yang tinggi (hbs > 50%). Nilai heritabilitas yang tinggi tidak selalu diikuti oleh keragaman genetik yang luas (σ2
g > 2 σσ2
g). Hal ini ditunjukkan oleh karakter jumlah anakan/rumpun dan rasio panjang/lebar daun (h2bs-jumlah anakan/rumpun= 73.7% and h2bs-rasio panjang/lebar daun= 61.8%) pada pengujian antar lokasi lahan kering serta tujuh karakter pada pengujian antar intensitas cahaya matahri selama tiga musim (62.40 < hbs < 81.55).
Karakter yang memiliki nilai heritabilitas tinggi dengan keragaman genetik luas adalah panjang daun, tinggi tajuk dan rasio panjang/lebar daun. Karakter-karakter ini potensial untuk dijadikan kriteria seleksi.
Aksesi-aksesi yang memiliki stabilitas genetik (bi= 1.0) pada intensitas cahaya matahari 45% dengan hasil bobot basah rimpang di atas rata-rata (> 391.4 g/rumpun) adalah T11 (Gunung Kidul-Yogyakarta) dan T16 (Pasir Gaok 3-Jawa Barat). Aksesi-aksesi ini mampu beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan pada lahan dengan intensitas cahaya matahari 45%.
Aksesi-aksesi yang memiliki stabilitas genetik di atas rata-rata pada intensitas cahaya matahari 45% (bi> 1.0) dengan hasil di atas rata-rata adalah T4 (Majenang-Jawa Tengah), T5 (Cikijing-Jawa Barat), T6 (Ciporang-Jawa Barat), T7 (Majalengka-Jawa Barat), T12 (Imogiri-Yogyakarta) dan T14 (Pasir Gaok 1-Jawa Barat). Aksesi-aksesi ini cenderung mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang kurang optimum pada intensitas cahaya matahari 45%.
Aksesi-aksesi yang toleran terhadap intensitas cahaya matahari 45% adalah T11, T16, T4 dan T12. Aksesi-aksesi ini potensial untuk dikembangkan secara polikultur di lahan bernaungan seperti di bawah tegakan pohon buah-buahan atau perkebunan.
Aksesi-aksesi yang toleran terhadap intensitas cahaya matahari 100% adalah T12, T4, T11 dan T7. Aksesi-aksesi ini potensial untuk dikembangkan secara monokultur pada intensitas cahaya penuh.
Aksesi-aksesi yang toleran pada kondisi ternaungi maupun tanpa naungan adalah T4 dan T12. Aksesi-aksesi ini mampu berproduksi baik pada dua lingkungan tersebut.
Karakter-karakter yang terpengaruh dengan adanya perbedaan intensitas cahaya matahari adalah panjang daun, tinggi tajuk, rasio panjang lebar/daun dan panjang rimpang primer. Hal ini ditunjukkan dengan adanya interaksi antara aksesi dengan intensitas cahaya matahari. Penurunan intensitas cahaya matahari iv
basah rimpang, maka karakter yang dapat digunakan sebagai kriteria seleksi di lahan kering di bawah intensitas cahaya matahari penuh adalah jumlah anakan/rumpun. Kriteria seleksi pada lahan kering bernaungan (intensitas cahaya matahari 45%) adalah lebar daun. Kedua karakter ini terpilih karena memiliki nilai heritabilitas tinggi (h2bs-jumlah anakan/rumpun= 73.7%, h2bs-lebar daun= 54.2%), pengaruh langsung yang tinggi (P jumlah anakan/rumpun = 0.64, P lebar daun = 2.27) dan korelasi yang sangat tinggi dengan bobot basah rimpang (r jumlah anakan/rumpun =0.89, r lebar daun = 0.90).
Kata kunci: parameter genetik, seleksi tidak langsung, stabilitas genetik, hasil
Tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a.Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar
IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
xanthorrhiza Roxb.) INDONESIA
LUKITA DEVY
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Departemen Agronomi dan Hortikultura
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
vii
2009
NRP : A151060191
Disetujui Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Sobir, MSi. Dr. Ir. Dodo Rusnanda Sastra, MSi.
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Agronomi Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, MS Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS
Tanggal Ujian: 20 Januari 2009 Tanggal Lulus:
Segala puji bagi Allah Yang Maha Suci dan Maha Agung atas rahmah dan ridho-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat berhasil diselesaikan. Karya ilmiah ini mengulas tentang temulawak dengan judul Analisis Keragaman dan Stabilitas
Genetik Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Indonesia. Penelitian yang
dilaksanakan merupakan bagian dari kegiatan “Penerapan Teknologi Budidaya
Tanaman Temulawak Melalui Kaidah Good Agricultural Practices” Bidang
Teknologi Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dr. Ir. Sobir, MSi dan Dr. Ir. Dodo Rusnanda Sastra MSi selaku komisi pembimbing serta Dr. Desta Wirnas, SP, MSi. selaku dosen penguji. Penghargaan disampaikan kepada Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT beserta jajarannya, rekan-rekan di Kebun Percobaan Puspiptek Serpong dan Kawasan Agromedika Hambaro atas bantuannya selama penelitian berlangsung serta kepada Pusbindiklat BPPT yang telah mendanai studi penulis.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada rekan-rekan di Program Studi Agronomi Angkatan 2006 atas kebersamaannya. Tak lupa penghargaan pun penulis sampaikan kepada keluarga Gunadi dan keluarga Subagio atas do’a dan dukungannya. Ungkapan terimakasih tak terhingga penulis sampaikan kepada suami dan ananda tersayang atas do’a, dukungan, pengorbanan dan pengertiannya selama penulis menjalani studi.
Akhir kata, penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat dan dapat menjadi amal ibadah bagi penulis di sisi Allah SWT.
Bogor, Januari 2009
Lukita Devy
dan ibu Suhaeni. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Penulis menikah dengan Andy Rahady dan dikaruniai satu orang putra bernama Muhammad Fauzan.
Tahun 1995 penulis lulus dari SMA Negeri 5 Bogor dan pada tahun yang sama lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) di Institut Pertanian Bogor (IPB). Penulis diterima di Program Studi Hortikultura, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian dan lulus pada tahun 2000. Selama menempuh pendidikan S1, penulis mendapatkan beasiswa dari Yayasan Beasiswa Supersemar dan “The International Community Activity Center”. Penulis diterima di Program Studi Agronomi, Sekolah Pascasarjana IPB pada tahun 2006. Kesempatan untuk melanjutkan studi ke program magister tersebut didapatkan setelah memperoleh Beasiswa Program Peningkatan Keterampilan dan Pendidikan dari tempat bekerja penulis di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Penulis sejak tahun 2002 bekerja di Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT dan ditempatkan di Jakarta. Bidang penelitian yang menjadi tanggungjawab penulis adalah budidaya dan pemuliaan tanaman. Sebelumnya pada tahun 2000-2002 penulis bekerja di FORDA-Komatsu Project, Bogor.
Selama mengikuti program S2, penulis telah menyajikan karya ilmiah berjudul “Correlation and path analysis among growth and yield components to essential oil yield of temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)” pada “The First
International Symposium on Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)” di Bogor
pada bulan Mei 2008. Karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari program S2 penulis.
Halaman
DAFTAR TABEL... xii DAFTAR GAMBAR ... xiv DAFTAR LAMPIRAN... xv PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 3 Tujuan Penelitian ... 4 TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Temulawak ... 5 Syarat Tumbuh Temulawak ... 7 Kandungan Zat Kimia Temulawak ... 8 Pemuliaan Temulawak ... 9 Keragaman Genetik dan Heritabilitas ... 10 Stabilitas Genetik ... 11 Fisiologi Naungan ... 12 BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat ... 17 Bahan dan Alat... 17 Metode ... 17 Pelaksanaan ... 20 Pengamatan ... 22 Analisis Data ... 26 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum ... 33 Karakter Kualitatif ... 36
Pengujian Antar Lokasi di Lahan Kering pada Intensitas Cahaya Matahari 100% ... 41 Pengujian Antar Musim pada Intensitas Cahaya Matahari 45% dan
100% ... 47 Toleransi Aksesi terhadap Intensitas Cahaya Matahari 45% dan 100%.... 59 Pembahasan... 61 KESIMPULAN DAN SARAN... 71 DAFTAR PUSTAKA ... 73 LAMPIRAN... 79
1. Analisis ragam percobaan antar lokasi di Hambaro dan Serpong... 28 2. Analisis ragam percobaan dua naungan selama tiga musim di Serpong ... 29 3. Analisis ragam percobaan antar naungan per musim di Serpong ... 30
4. Tekstur, pH, kandungan bahan organik, nitrogen, fosfor dan kalium
tanah di Serpong dan Hambaro tahun 2007 ... 35 5. Kation tanah di Serpong dan Hambaro tahun 2007 ... 36
6. Keragaan karakter morfologi batang semu dan warna daun temulawak
di Hambaro... 37
7. Keragaan karakter morfologi batang semu dan warna daun temulawak
pada intensitas cahaya matahari 45% di Serpong ... 38
8. Keragaan karakter morfologi batang semu dan warna daun temulawak
pada intensitas cahaya matahari 100% di Serpong ... 39 9. Keragaan karakter rimpang temulawak di Hambaro ... 40
10.Rekapitulasi analisis ragam karakter pertumbuhan vegetatif beberapa
aksesi temulawak di dua lokasi ... 42
11.Rekapitulasi analisis ragam karakter kandungan dan produksi bahan
aktif beberapa aksesi temulawak di dua lokasi ... 42 12.Rekapitulasi analisis ragam karakter hasil dan komponen hasil beberapa
aksesi temulawak di dua lokasi ... 42 13.Parameter genetik rasio panjang/lebar daun serta jumlah anakan/rumpun
pada percobaan antar lokasi ... 44 14.Nilai koefisien korelasi antar karakter vegetatif terhadap bobot basah
rimpang temulawak di Hambaro dan Serpong... 45 15.Pengaruh langsung dan tidak langsung karakter vegetatif terhadap bobot
basah rimpang temulawak pada dua lahan kering... 46
16.Rekapitulasi analisis ragam jumlah anakan/rumpun dan bobot basah
rimpang total selama tiga musim di Serpong... 47 17.Rekapitulasi analisis ragam pada musim ke-1 di Serpong... 48 18.Rekapitulasi analisis ragam pada musim ke-2 di Serpong... 49 19.Rekapitulasi analisis ragam pada musim ke-3 di Serpong... 49 20.Pengaruh perbedaan intensitas cahaya matahari terhadap tinggi tajuk,
panjang daun dan rasio panjang/lebar daun ... 50
21.Pengaruh perbedaan intensitas cahaya matahari terhadap panjang
rimpang primer temulawak ... 51
22.Parameter genetik karakter vegetatif dan hasil pada percobaan antar
intensitas cahaya matahari selama tiga musim... 53
23.Stabilitas bobot basah rimpang temulawak pada intensitas cahaya
matahari 45% selama tiga musim di Serpong ... 55 24.Koefisien korelasi antara karakter vegetatif dan bobot basah rimpang 14
aksesi temulawak pada intensitas cahaya matahari 45% di Serpong musim ke-3... 58 25.Pengaruh langsung dan tidak langsung karakter vegetatif terhadap bobot
basah rimpang temulawak pada intensitas cahaya matahari 45% di Serpong musim ke-3 ... 58
26.Bobot basah rimpang temulawak pada intensitas cahaya matahari 45% di Serpong ... 59
27.Jumlah anakan dan bobot basah rimpang temulawak pada intensitas
cahaya matahari 100 % di Hambaro dan Serpong ... 61
Halaman
1. Tanaman temulawak dan bunga temulawak ... 6 2. Struktur kimia kurkumin I (diferuloyl methane)... 8 3. Diagram alur percobaan ... 18
4. Suhu maksimum dan minimum di Serpong selama tiga musim dan di
Hambaro pada musim ke-3 ... 33
5. Curah hujan di Serpong selama tiga musim dan di Hambaro pada
musim ke-3... 34
6. Intensitas cahaya di Serpong pada perlakuan intensitas cahaya
matahari 45%, 100% dan di Hambaro ... 34
7. Warna daun temulawak pada kondisi intensitas cahaya matahari
100% dan intensitas cahaya matahari 45% di Serpong... 37 8. Warna pita ungu ibu tulang daun temulawak... 38 9. Bentuk rimpang primer temulawak... 40
10. Hubungan antara bobot basah rimpang dengan curah hujan pada
intensitas cahaya 45% selama tiga tahun ... 55
11. Hubungan antara rata-rata bobot basah rimpang aksesi temulawak
pada intensitas cahaya matahari 45% selama tiga musim dengan koefisien regresi dari tiap aksesi ... 56
1. Tabel hasil uji kehomogenan ragam karakter vegetatif antar lokasi... 80 2. Tabel hasil uji kehomogenan ragam karakter bahan aktif antar lokasi ... 80 3. Tabel hasil uji kehomogenan ragam karakter hasil dan komponen hasil
antar lokasi ... 81
4. Tabel hasil uji kehomogenan ragam karakter vegetatif selama tiga
musim pada dua intensitas cahaya matahari di Serpong... 83
5. Tabel hasil uji kehomogenan ragam karakter panen selama tiga musim
pada dua intensitas cahaya matahari di Serpong... 84 6. Tabel hasil uji kehomogenan ragam karakter vegetatif dan panen pada
dua intensitas cahaya matahari musim ke-1 di Serpong ... 85 7. Tabel hasil uji kehomogenan ragam karakter vegetatif dan panen pada
dua intensitas cahaya matahari musim ke-2 di Serpong ... 86 8. Tabel hasil uji kehomogenan ragam karakter vegetatif dan panen pada
dua intensitas cahaya matahari musim ke-3 di Serpong ... 87
9. Tabel koefisien korelasi antara karakter vegetatif dan bobot basah
rimpang pada 14 aksesi temulawak di Serpong musim ke-1 ... 88
10.Tabel koefisien korelasi antara karakter vegetatif dan bobot basah
rimpang pada 14 aksesi temulawak di Serpong musim ke-2 ... 88
11.Tabel koefisien korelasi antara karakter vegetatif dan bobot basah
rimpang pada 14 aksesi temulawak di Serpong musim ke-3 ... 88
12.Tabel rekapitulasi sidik ragam karakter vegetatif dan bobot basah
rimpang temulawak pada intensitas cahaya matahari 100% musim ke-3
di Serpong ... 89
13.Tabel rekapitulasi sidik ragam karakter vegetatif dan bobot basah
rimpang temulawak pada intensitas cahaya matahari 45% musim ke-3
di Serpong ... 89
14.Tabel hasil uji kehomogenan ragam bobot basah rimpang temulawak
selama tiga musim pada masing-masing intensitas cahaya matahari... 89 15.Tabel rekapitulasi sidik ragam bobot basah rimpang temulawak selama
tiga musim pada masing-masing intensitas cahaya matahari... 90
Latar Belakang
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu tanaman obat
berkhasiat yang secara tradisional telah lama digunakan di Indonesia. Tanaman ini tersebar di Jawa, Bali dan Maluku (Wardini & Prakoso 1999). Manfaat temulawak bagi kesehatan berhubungan dengan kandungan bahan aktifnya, yang terdiri dari kurkuminoid, minyak atsiri dan pati. Kurkuminoid berfungsi sebagai anti inflamasi, anti kanker, anti bakteri, anti fungi, anti parasit, anti imunodefisiensi, anti virus (virus flu burung) dan anti oksidan (Priosoeryanto et al. 2008; Chattopadhyay et al. 2004; Lin & Lin-Shiau 2001; Araújo & Leon 2001). Komponen minyak atsiri temulawak terdiri dari 5 senyawa mayor dan 8 senyawa minor (Agusta & Chairul 1996). Salah satu senyawa mayor tersebut adalah xanthorrhizol. Xanthorrhizol memiliki fungsi sebagai obat anti fungi spektrum luas, anti bakteri, anti metastasis sel tumor dan pencegah efek samping kemoterapi (Kim et al. 2008; Rukayadi et al. 2008; Choi et al. 2004; Kim et al. 2005; Rukayadi et al. 2006).
Ekstrak temulawak potensial untuk dijadikan sebagai produk industri perawatan gigi, jerawat dan ketombe (Hwang et al. 2008). Pengembangan temulawak dapat le-bih diperluas ke berbagai kategori industri, seperti pangan fungsional maupun kos-metika. Mengingat banyaknya manfaat yang dimiliki temulawak dan secara turun temurun telah menjadi budaya bangsa Indonesia maka tanaman ini cocok ditetapkan sebagai tanaman obat unggulan khas Indonesia seperti halnya ginseng dari Korea.
Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan temulawak adalah masih ren-dahnya tingkat produktivitas. Produktivitas tanaman temulawak pada tahun 2005 di Indonesia adalah 13.62 ton/ha (Deptan 2006) sedangkan potensinya dapat mencapai 20 ton/ha (Wardini & Prakoso 1999). Umumnya nilai produktivitas yang rendah disebabkan oleh belum tersedianya varietas unggul, belum adanya standardisasi bibit bermutu dan belum dilakukannya teknik budidaya anjuran meskipun temulawak telah tersebar di berbagai daerah (Syukur et al. 2006).
Usaha peningkatan produksi temulawak dapat dilakukan melalui dua pendekat-an yaitu peningkatpendekat-an produktivitas dpendekat-an perluaspendekat-an areal penpendekat-anampendekat-an. Produksi temu-lawak pada tahun 2005 adalah 22 582 ton (Deptan 2006). Nilai produksi ini masih dapat ditingkatkan melalui penggunaan varietas unggul temulawak dan teknik budi-daya berdasarkan kaidah good agricultural practices (GAP).
Luas panen temulawak Indonesia pada tahun 2005 adalah 1 657.4 ha (Deptan 2006). Pengembangan areal penanaman dapat dilakukan dengan memanfaatkan la-han-lahan marjinal. Lahan tersebut banyak tersedia di Indonesia, seperti lahan lahan kering di bawah intensitas cahaya matahari penuh atau lahan kering ternaungi. Lahan ternaungi yang potensial untuk pengembangan temulawak di Indonesia adalah lahan perkebunan sekitar 19.6 juta ha (BPS 2005/2006). Selain itu terdapat juga lahan kering berupa tegal/kebun/ladang/huma seluas 14.9 juta ha serta lahan yang semen-tara tidak diusahakan seluas 1.2 juta ha (BPS 2005/2006). Pemanfaatan lahan-lahan tersebut akan sangat mendukung peningkatan produksi temulawak Indonesia.
Perakitan varietas unggul temulawak yang toleran terhadap lahan kering ter-naungi dan lahan kering di bawah intensitas cahaya matahari penuh menjadi hal yang penting untuk dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan produksi temulawak In-donesia. Perakitan varietas unggul ini dilakukan melalui kegiatan pemuliaan tana-man. Kegiatan pemuliaan dapat terlaksana jika tersedia keragaman genetik dalam suatu populasi yang akan diseleksi. Ketersediaan materi genetik yang beragam dan kemampuan mengidentifikasikannya merupakan kunci keberhasilan dalam pemuliaan tanaman (Welsh 1981).
Aspek penting lain yang perlu mendapat perhatian dalam pemuliaan tanaman