RUDY MASHUD
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2014
(tiga) kawasan prioritas, salah satunya Jalan Dewi Sartika yang harus ditata dengan target tahun 2007, hingga saat ini masih belum tertangani. Selain itu terdapat kebijakan Pemerintah pusat yang mendorong proses penataan dan pemberdayaan PKL melalui Perpres 125 tahun 2014 dan Permendagri nomor 41 tahun 2012.
2. Penguatan kelembagaan organisasi perangkat daerah yang menangani urusan PKL dari Kantor Koperasi dan UMKM menjadi Dinas Koperasi dan UMKM pada perubahan OPD 2015, perlu diiringi dengan konsep perencanaan yang terintegrasi antar beberapa aspek yang terkait dengan penataan dan pemberdayaan PKL. Hal ini agar program penataan PKL yang masuk dalam program prioritas pembangunan (RPJMD) 2014-2019 dapat berjalan secara efektif.
3. Perlu pembentukan forum PKL, agar aspirasi dan ide PKL dapat didengar dan menjadi bagian dari pengambil keputusan dalam penataan PKL.
4. Pemerintah perlu melibatkan PKL, masyarakat, dan akademisi dalam mempersiapkan konsep penataan kawasan Plaza Kapten Muslihat (Taman Topi dan Taman Ade Irma Suryani) yang akan diserahterimakan dari pihak swasta kepada Pemerintah Kota Bogor pada tahun 2018 dengan konsep integrasi penyediaan ruang publik dan ruang usaha untuk PKL di sekitar Jalan Dewi Sartika.
DAFTAR PUSTAKA
Agustinus.2010. Strategi Penanganan Pedagang Kaki Lima Di Kota Administrasi Jakarta Utara. Tesis, Universitas Indonesia. Depok.
Bappeda Kota Bogor. 2014. Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bogor 2015-2019.
Bappenas. 2009. Kajian Evaluasi Pembangunan Sektoral : Peran Sektor Informal Sebagai Katup Pengaman Masalah Ketenagakerjaan. Deputi Evaluasi Kinerja Pembangunan. Jakarta.
BPS Kota Bogor. 2014. Bogor Dalam Angka 2013. Kerjasama Bappeda Kota Bogor dengan BPS Kota Bogor.
David, R.2004. Manajemen Strategis Konsep. PT. INDEKS, Jakarta
Dimas, Harlan. 2008. Street Vendors : “Urban Problem and Economic Potential”. Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran. Bandung.
Dunn, N William. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik Edisi Kedua. Cetakan Kelima. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Falatehan. 2011. Teknik Pengambilan Keputusan Menggunakan Analityc Hierarcy Process (AHP). IPB. Bogor.
Firdaus M, Harmini, Farid. 2011. Aplikasi Metode Kuantitatif Untuk Manajemen dan Bisnis. PT. Penerbit IPB Press. Kota Bogor.
Gibson, Bill dan Bruce Kelley. 1994. A clasical theory of The Informal Sector. Journal The Manchaster School Vol LXII no 1, Hal 81 – 96. Cambridge. USA.
Hidayati, Tuti. 2007. Pekerja Sektor Informal Dan Pengembangan Wilayah Di Kota Binjai. WAHANA HIJAU Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah, Vol.3, No.1, Agustus 2007 halaman 19-28.
Iswanto, Danoe. 2007. Tinjauan Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL), Aspek Pedestrian Area Dan Parkir Di Kawasan Solo Grand Mall (SGM). Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman ENCLOSURE Volume 6 No. 2. Juni 2007.
Joaquim, Marselino. 2009. Strategi Penguatan Kapasitas Paguyuban Pedagang Jasa Tradisional Dago (PPJTD) Dalam Memperjuangkan Lokasi Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus Di Kelurahan Citarum Kecamatan Bandung Wetan Kota Bandung Propinsi Jawa Barat). Program Studi Pengembangan Masyarakat. Sekolah Pasca Sarjana IPB. Tesis. Bogor.
Kantor Koperasi dan UKM Kota Bogor. 2013. Masterplan Penataan PKL Kota Bogor. Laporan Akhir. Bogor
Loayza, Norman. 1997. Policy Research Working Paper 1727 : The Economics of The Informal Sector
.
Macroeconomics and Growth Division, World Bank. Washington DC.Mubarok, Ahmad. 2012. Karakteristik Dan Permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) Serta Strategi Penataan Dan Pemberdayaannya Dalam Kaitan Dengan Pembangunan Ekonomi Wilayah Kota Bogor. Disertasi IPB. Bogor.
Mulyana, Mumuh. 2012. Faktor-Faktor Yang Membentuk Intensi Berwirausaha Serta Pengaruhnya Terhadap Perilaku Dan Kinerja Pedagang Kaki Lima Di Kota Bogor. Sekolah Pasca sarjana IPB. Tesis. Bogor.
Nugroho, Radika Pinto. 2003. Studi Kesesuaian Ruang Aktivitas Pedagang Kaki Lima di Kawasan Kampung Kali Semarang (Karakteristik PKL, Kebijakan Pemerintah, dan Dukungan Masyarakat. Tugas Akhir. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro. Semarang.
Pemerintah Kota Bogor. 2013. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Walikota Bogor Tahun 2013. Bogor.
Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor nomor 13 tahun 2005 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 41 Tahun 2012 tentang Pedoman Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima.
Rakhmawati. 2007. Penataan Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus Pengawasan dan Pengendalian Pedagang Kaki Lima Pasca Penataan di Jl. M.A Salmun – Jl. Dewi Sartika dan Jl. Nyi Raja Permas Kota Bogor). Pasca Sarjana Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Konsentrasi Pembangunan Sosial, FISIP Unversitas Indonesia. Depok.
Rachbini, Didik. 2011. Evaluasi Ekonomi Tengah Tahun 2011: Beberapa Catatan Penting. Jurnal Politika Vol 7 No.2 hal 32-39.
Ramli MS, Rusli.1992. Sektor Informal Perkotaan Pedagang Kaki Lima, Ind-Hil.co,. Jakarta.
Rangkuti, F. 2004. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Ruhiyana, Dadang. 2010. Strategi Penataan Pedagang Kaki Lima di Kota Bogor. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Tesis. Bogor. Rustiandi, Ernan dkk. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Edisi kedua.
Yayasan Pustaka Obor dan Crestpent Press IPB. Jakarta.
Setia M, Resmi. 2008. Ekonomi Informal Perkotaan : Sebuah Kasus Tentang Pedagang Kaki Lima di Kota Bandung. Akatiga. Bandung.
Siahaan, Febe Riyanti. 2000. Penataan Ruang Publik Untuk Menampung Pedagang Kaki Lima (Studi Kasus: Daerah Komersil Blok M, Jakarta Selatan). Tesis. SAPPK ITB. Bandung.
Soekartawi. 1990. Prinsip Dasar Perencanaan Pembangunan Dengan Pokok Bahasan Khusus Perencanaan Pembangunan Daerah. Rajawali Press. Jakarta.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuntitatif dan Kualitatif. CV. Alfabeta. Bandung Suradi. 2011. Jurnal Informasi. Peranan Sektor Informal dalam Penanggulangan
Kemiskinan. Vol 16 no 3 halaman 221 - 234. Puslitbang Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial. Jakarta.
Susilo, Agus. 2011. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pedagang Kaki Lima (PKL) Menempati Bahu Jalan di Kota Bogor (Studi Kasus Pedagang Sembako di Jalan Dewi Sartika Utara). Tesis. Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik. Universitas Indonesia. Depok.
Sutrisno, Budi dkk. 2007. Pola Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) Di Kota Surakarta Berdasar Paduan Kepentingan PKL, Warga Masyarakat, dan Pemerintah Kota. Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 8, No. 2, 2007: 166-175. Surakarta.
Syiddatul Akliyah, Leli. 2008. Kajian Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Tasikmalaya secara Partisipatif. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Winarso, Haryo. 2008. Sektor Informal yang Teroganisasi : Menata Kota untuk Sektor Informal. Buletin Tata Ruang Edisi November-Desember 2008 Kategori Wacana. Kementerian PU. Jakarta.
Wahyuni, Daru. 2005. Jurnal Economia, Kajian ilmiah ekonomi dan bisnis, volume 1 nomor 1. Program Studi Pendidikan Ekonomi Koperasi, Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Yeti, Sarjono. 2005. Pergulatan Pedagang Kaki Lima di Perkotaan (pendekatan kualitatif), MUP-UNS. Solo.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuisioner untuk PKL
KUISIONER
DATA UMUM PKL DI KOTA BOGOR A. IDENTIFIKASI RESPONDEN
A.1. Nama Responden : ……… A.2. Alamat : ………
A.3. Jenis Kelamin :
1 Laki-laki 2 Perempuan
A.4. Umur Bapak/Ibu : ………….Tahun A.5. Status Perkawinan
1 Belum menikah 2 Sudah menikah A.6. Pendidikan terakhir Bapak/Ibu :
1 SD atau sederajat 2 SMP atau sederajat 3 SMA atau sederajat 4 Akademi atau sederajat 5 Sarjana 6 Pascasarjana
A.7. Tempat asal :
1 Kota Bogor 2 Luar Kota Bogor
A.8. Suku Bangsa :
1 Jawa 2 Sunda 3 Batak 4 Padang
5 Lainnya : ……. A.9. Status dalam Keluarga
1 Kepala Keluarga 2 Anggota keluarga A.10. Apa usaha/pekerjaan anda sebelum menjadi PKL ?
1 Tidak Punya usaha 2 Karyawan swasta 3 Pedagang kios pasar
4 Usaha dirumah 5 Lainnya, sebutkan ...
A.11 Apakah penyebab atau dorongan ( motivasi) terhadap anda untuk menjadi PKL?
1 Karena menganggur 2 Karena PHK 3 Karena Usaha yang lebih menguntungkan 4 merintis usaha lebih besar 5 Modal usaha ringan atau kecil 5 Lainnya, sebutkan ...
A.12 Berapa lama sudah menjadi PKL ?...tahun B. KARAKTERISTIK USAHA
B.1. Sudah berapa lama anda berdagang ditempati ini ? ...tahun
B.2. Apakah sebelum ditempat ini anda sudah berusaha/ berjualan ditempat lain? 1 Ya 2 Tidak
B.3. Apakah alasan Anda untuk memilih lokasi ini sebagai tempat berdagang ? 1 Ramai / sering dikunjungi pembeli 2 Pendapatan memuaskan
3 Biaya transportasi murah/dekat rumah 4 Berkumpul dengan usaha sejenis 5 Tidak mampu beli kios 6 Kios resmi Penuh 7 Lainnya,
sebutkan : ……….
B.4. Apa jenis barang dagangan anda ?
1 Sayur- mayur 2 Sepatu/Sandal 3 Pakaian 4 Makanan/ Minuman jadi 5 Acessories 6 Lain-lain : ...
B.5. Jenis sarana usaha yang anda gunakan :
1 Warung Tenda 2 Gerobak/kereta dorong 3 Pikulan/keranjang 4 Gelaran/hamparan 5 Kios 7 Lainnya, sebutkan :
………
B.6. Waktu berjualan mulai pukul : ... s.d. pukul ... B.7. Tempat usaha :
1 Trotoar 2 Lahan Parkir 3 Badan Jalan 4 Lainnya, sebutkan :
………
B.8. Berapa luas tempat yang Anda gunakan untuk berdagang? ………..……m2
B.9. Berapa Modal yang digunakan untuk usaha PKL sekarang?
1. Lebih kecil dari 500ribu rupiah 2. 500 ribu – 1 juta 3. 1 juta-2 juta
4. diatas 2 juta
B.10 dari mana modal usaha anda?
1. modal sendiri 2. Pinjaman Orang Lain 3. Pinjaman Koperasi 4. Pinjaman Paguyuban PKL 5. Lainnya... C. KELEMBAGAAN PKL
C.1 Apa anda bergabung dalam Paguyuban PKL di lokasi saat ini? 1. Ya 2. Tidak
C.2 Jika Ya, apa manfaat bergabung dengan Paguyuban PKL di lokasi saat ini ? 1. saling membantu 2. Keamanan berdagang 3.
Lainnya...
---terima kasih---
Lampiran 2 Kuisioner Masyarakat
KUISIONER
PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP PKL Nama Responden : ...
Tempat Tinggal : ...
A,1. Seberapa sering bapak/ibu berbelanja di PKL dalam sebulan ? ...kali A.2. Apa alasan Bapak/Ibu memilih berbelanja di lokasi PKL :
1 Harganya lebih murah 2 Mudah dijangkau lokasinya 3 Suasana lebih santai 4 Produk/jasa beragam 6. Lokasinya dekat pasar/Stasiun 7 Harga dapat ditawar 8 Lainnya, sebutkan : ……….
1 Tidak Ada 2 Lokasi menjadi lebih ramai 3 Mudah mendapatkan kebutuhan 4 Meningkatkan perekonomian masyarakat kecil 5 Mengurangi pengangguran
6 Lainnya, sebutkan : ………
A.4. Keberadaan PKL sering dianggap mengganggu kepentingan umum. Permasalahan apa yang bapak/ibu rasakan dengan adanya aktivitas PKL ?
1 Tidak Ada 2 Mengganggu aktivitas pejalan kaki
3 Parkir menjadi sulit 4 Lingkungan menjadi kotor dan kurang rapi 5 Jalanan menjadi sesak 6 Merasa kurang aman dan macet
7 Lainnya, sebutkan : ………
A.5 Menurut bapak/ibu, apakah perlu dilakukan pengaturan khusus untuk aktivitas PKL ?.
1 Ya 2 Tidak
A.6. Jika “Ya”, hal-hal apa saja yang menurut bapak/ibu perlu diatur untuk aktivitas PKL ? .
1 Pengelompokan Usaha 2 Sarana dan Prasarana Usaha 3 Waktu usaha 4 Relokasi usaha 5 Registrasi usaha
6 Lainnya, sebutkan : ………
B.7. Menurut bapak/ibu, apakah pemda perlu melakukan tindakan penataan pada lokasi PKL Jl. Dewi Sartika (sekitar Taman Topi) yang peruntukannya memang bukan untuk aktivitas PKL ?
1 Ya 2 Tidak
B.8. Jika “Ya” bagaimana mekanisme yang seharusnya ?
1 Tanpa sosialisasi dan tanpa kompensasi 2 Dengan sosialiasi tapi tanpa kompensasi 3 Dengan sosialiasi, dengan kompensasi, tanpa relokasi 4 Dengan sosialisasi, dengan kompensasi dan relokasi 5
Lainnya : ……….
Lampiran 3
KUISIONER 3
PENENTUAN BOBOT DAN RATING FAKTOR STRATEGIS INTERNAL DAN EKSTERNAL YANG MEMPENGARUHI
PENATAAN PKL DI KOTA BOGOR
Nama Responden :
Pekerjaan/Jabatan Responden : Petunjuk Umum :
1. Pengisian kuisioner dilakukan secara tertulis oleh responden pada tabel yang telah disediakan
2. Jawaban merupakan pendapat pribadi
3. Dalam pengisian kuisioner, responden diharapkan melakukannya secara sekaligus atau tidak menunda untuk menghindari inkonsistensi jawaban
4. Untuk factor kekuatan dan kelemahan, responden mengisi dengan memberi tanda
√ (cek) pada kolom yang telah disediakan dengan keterangan sebagai berikut : Nilai 1 = Tidak penting
Nilai 2 = Kurang penting Nilai 3 = Penting
Nilai 4 = Sangat penting Pertanyaan :
1. Menurut Bapak/Ibu bagaimana peringkat faktor strategis internal dalam Penataan PKL di Kota Bogor, khususnya Panataan PKL di Jalan Dewi Sartika :
No Faktor Strategis Internal Peringkat
Kekuatan : 1 (tidak penting) 2 (kurang penting) 3 (penting) 4 (sangat penting) 1. Penataan PKL menjadi Prioritas
Pembangunan Kota (RPJMD) 2. Terdapat Peraturan Daerah
tentang PKL
3. Alokasi Anggaran Untuk Penataan PKL
4. Terdapat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Menangani PKL 5. Memiliki Lokasi Pasar dan Aset
Lahan di tengah Kota Kelemahan : 1 (tidak penting) 2 (kurang penting) 3 (penting) 4 (sangat penting) 6. Lemahnya Penegakan Hukum
7. Koordinatasi lintas OPD masih belum maksimal
8. Efektivitas Penggunaan Anggaran
9. Data Dasar PKL dan Perencanaan Penataan PKL 10.
Kurangnya kerjasama dengan swasta, akademisi dan masyarakat
2. menurut Bapak/Ibu bagaimana peringkat faktor strategis eksternal dalam penataan PKL di Kota Bogor, khususnya di Jalan Dewi Sartika :
No Faktor Strategis Eksternal Peringkat
Peluang : 1 (tidak penting) 2 (kurang penting) 3 (penting) 4 (sangat penting) 1.
Kebijakan Pusat yang mendorong penataan dan pemberdayaan PKL
2. Perkembangan Wisata Kota Bogor
3.
Masih terdapat potensi lokasi milik swasta untuk di beli sebagai alternatif relokasi bagi PKL di dalam Kota Bogor 4. Kondisi keamanan yang
terjamin
5. Keterlibatan Swasta, Akademisi, dan Masyarakat
Ancaman : 1 (tidak penting) 2 (kurang penting) 3 (penting) 4 (sangat penting) 6. Meningkatnya Pertumbuhan Angka Pengangguran
7. Menurunnya Estetika Tata Ruang Kota (Kekumuhan) 8. Menambah titik Kemacetan
Lalu Lintas
9. Munculnya oknum/premanisme dalam Sistem PKL
10. Hilangnya Potensi Pendapatan Daerah
Lampiran 4
Kuisioner 4
Kuesioner Analytical Hierarchy Process (AHP)
(Diisi oleh pejabat Asisten Tata Praja Kota Bogor, Anggota DPRD, Bappeda Kota Bogor, Kantor UMKM, Satpol PP, dan Koordinator PKL Dewi Sartika) Identitas Responden
1. Nama : ... 2. Jabatan : ... 3. Alamat Kantor : ...
4. No.Telp : ...
5. Jenis Kelamin : A. Laki-laki B. Perempuan
6. Latar belakang Pendidikan : [ ] SMU/SMK [ ] D3/D4
[ ] Sarjana [ ] Pasca Sarjana (S2/S3)
Pengantar
Sejak periode tahun 2004 hingga tahun 2014, bahkan dilanjutkan pada periode 2014-2019, Pemerintah Kota Bogor telah menjadikan penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) menjadi prioritas pembangunan Kota. Dalam rentang kurun waktu tersebut, sumber daya dan sumber dana telah disalurkan untuk proses pemberdayaan dan penataan PKL, dengan harapan akan menumbuhkan perekonomian kota dan menjaga estetika ruang kota.
Kebijakan pemerintah tersebut didukung oleh penetapan Peraturan Daerah nomor 13 tahun 2005 tentang penataan Pedagang Kaki Lima, yang didalamnya terdapat penetapan daerah prioritas penanganan PKL seperti di Jalan MA Salmun, Nyi Raja Permas, dan Jalan Dewi Sartika. Berbagai upaya telah dilakukan untuk proses penataan, namun masih belum menunjukkan hasil yang maksimal. Keberadaan PKL diarahkan untuk dapat ditata dan dibina, agar dapat memaksimalkan potensi ekonomi dan sisi lain meminimalkan dampak negatif keberadaannya seperti kesemrawutan kota, kemacetan, ketertiban, dan okupasi ruang publik (jalan, trotoar, dan RTH).
Saat ini, dari 3 lokasi prioritas telah terlihat progress penataan pada ruas Jalan MA Salmun dan Nyi Raja Permas, namun masih menyisakan pekerjaan rumah pada ruas Jalan Dewi Sartika. Begitu strategisnya lokasi ini karena berada di sekitar kawasan strategis ekonomi yang terhubung antara Pasar Kebon Kembang, Plaza Taman Topi, dan Stasiun Kereta Api. Sejarah panjang keberadaan PKL di lokasi tersebut memerlukan penerapan pengelolaan yang baik untuk penataannya.
Petunjuk Pengisian:
1. Dibawah ini tersedia beberapa pilihan untuk diberikan tanda silang (X) pada jawaban yang paling sesuai berdasarkan peringkat pembobotan yang ditentukan oleh responden.
2. Pilihan berupa pasangan yang saling dibandingkan pada tingkat yang sama (sesuai gambar pohon AHP)
3. Sistem pembobotan dengan cara merangking terhadap pasangan pilihan yang dibandingkan
4. Pilihan nilai rangking untuk isian berdasarkan intensitas kepentingan sebagai berikut:
Contoh pengisian:
a. Struktur dan manajemen organisasi lebih penting daripada sistem operasional manajemen
Lebih Penting Lebih Penting
Struktur dan manajemen organisasi 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sistem operasional manajemen
atau sebaliknya (nilai inverse)
b. Struktur dan manajemen organisasi kurang penting daripada Sistem operasional manajemen
Lebih Penting Lebih Penting
Struktur dan manajemen organisasi 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sistem operasional manajemen Intensitas
Kepentingan Definisi Penjelasan
1 Equal Importance Kedua elemen sama pentingnya 2 Nilai kompromi Nilai kedua elemen di antara 1 dan 3 3 Moderate Importance Elemen yang satu sedikit lebih penting
daripada elemen yang lain
4 Nilai kompromi Nilai kedua elemen di antara 3 dan 5 5 Strong Importance Elemen yang satu sangat penting
daripada elemen yang lain
6 Nilai kompromi Nilai kedua elemen di antara 5 dan 7 7 Very Strong Importance Satu elemen jelas (significant) lebih
penting daripada elemen lain
8 Nilai kompromi Nilai kedua elemen di antara 7 dan 9 9 Extreme Importance Satu elemen mutlak lebih penting
Struktur Hirarki Strategi Pemberdayaan PKL di Kota Bogor
1. Perbandingan antara elemen Faktor terhadap Fokus
Tujuan utama dalam pengisian proses hirarki ini adalah menentukan bobot prioritas antar-Faktor (F) yang berpengaruh terhadap fokus Strategi Penataan PKL di Kota Bogor. Faktor yang berkepentingan/berpengaruh terhadap pencapaian strategi tersebut terdiri dari:
Strategi Penataan PKL di Kota Bogor Pemerintah PKL Masyarakat Kebijakan Pemerintah Estetika Kota Sosial Ekonomi Peningkatan Penegakan Peraturan Peningkatan Kesempatan Berusaha & Kesejahteraan
Pengendalian Tata Ruang Kota Review Kebijakan tentang PKL Meningkatkan Kemitraan Pemerintah dengan PKL Memfasilitasi Ruang Usaha dan Rasa Aman Berusaha Mengoptimalkan Sarana Prasarana Kota Fokus Aktor Faktor Tujuan Alternatif Strategi Ketertiban Umum
Strategi Penataan PKL di Kota Bogor Kebijakan Pemerintah Estetika Kota Sosial Ekonomi Fokus Faktor Ketertiban Umum
1. Kebijakan Pemerintah (F1). 2. Sosial Ekonomi (F2). 3. Estetika Kota (F3). 4. Ketertiban Umum (F4).
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu faktor dengan faktor lainnya (besarnya pengaruh faktor) terhadap fokus, yaitu Strategi Penataan PKL.
Lebih Penting Lebih Penting
F1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 F2 F1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 F3 F1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 F4 F2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 F3 F2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 F4 F3 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 F4 F4 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 F5 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai- nilai di antaranya.
2. Perbandingan Aktor terhadap Faktor
Tujuan utama dalam pengisian proses hirarki ini adalah menentukan bobot prioritas antar-Aktor (A) yang berpengaruh terhadap Faktor. Aktor yang berkepentingan/berpengaruh terhadap Faktor, yaitu:
a. Pemerintah (A1).
b. Pedagang Kaki Lima (A2). c. Masyarakat (A3).
d.
a. Perbandingan antar aktor terhadap faktor Kebijakan pemerintah
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu aktor dengan aktor lainnya (besarnya pengaruh aktor) terhadap faktor Kebijakan Pemerintah. Pemerintah PKL Masyarakat Kebijakan Pemerintah Estetika Kota Sosial Ekonomi Ketertiban Umum Aktor Faktor
Lebih Penting Lebih Penting
A1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A2 A1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A3 A2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A3 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai-nilai di antaranya.
b. Perbandingan antara aktor terhadap faktor sosial ekonomi
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu aktor dengan aktor lainnya (besarnya pengaruh aktor) terhadap faktor Sosial Ekonomi.
Lebih Penting Lebih Penting
A1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A2 A1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A3 A2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A3 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai-nilai di antaranya.
c. Perbandingan antara aktor terhadap faktor Estetika Kota
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu aktor dengan aktor lainnya (besarnya pengaruh aktor) terhadap faktor Estetika Kota.
Pemerintah PKL Masyarakat Kebijakan Pemerintah Estetika Kota Sosial Ekonomi Ketertiban Umum Aktor Faktor Pemerintah PKL Masyarakat Kebijakan Pemerintah Estetika Kota Sosial Ekonomi Ketertiban Umum Aktor Faktor
Lebih Penting Lebih Penting
A1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A2 A1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A3 A2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A3 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai-nilai di antaranya.
d. Perbandingan antar aktor terhadap faktor ketertiban umum
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu aktor dengan aktor lainnya (besarnya pengaruh aktor) terhadap faktor Ketertiban Umum.
Lebih Penting Lebih Penting
A1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A2 A1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A3 A2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A3 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai-nilai di antaranya.
3. Perbandingan Tujuan terhadap Aktor dalam Faktor Kebijakan Pemerintah Tujuan utama dalam pengisian proses hirarki ini adalah menentukan bobot prioritas antar-Tujuan (T) yang berpengaruh terhadap faktor.Elemen tujuan terdiri dari:
a. Peningkatan Penegakan Peraturan (T1).
b. Peningkatan Kesempatan Berusaha dan Kesejahteraan (T2). c. Pengendalian Tata Ruang Kota (T3).
Pemerintah PKL Masyarakat Kebijakan Pemerintah Estetika Kota Sosial Ekonomi Ketertiban Umum Aktor Faktor
a. Perbandingan antar tujuan terhadap aktor Pemerintah
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu tujuan dengan tujuan lainnya (besarnya pengaruh tujuan) terhadap aktor Pemerintah.
Lebih Penting Lebih Penting
T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T2 T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 T2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai-nilai di antaranya.
b. Perbandingan antar tujuan terhadap aktor PKL
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu tujuan dengan tujuan lainnya (besarnya pengaruh tujuan) terhadap aktor PKL.
Lebih Penting Lebih Penting
T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T2 T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 T2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai-nilai di antaranya.
Pemerintah PKL Masyarakat
Peningkatan Penegakan Peraturan
Peningkatan Kesempatan Berusaha & Kesejahteraan
Pengendalian Tata Ruang Kota Aktor Tujuan Pemerintah PKL Masyarakat Peningkatan Penegakan Peraturan Peningkatan Kesempatan Berusaha & Kesejahteraan
Pengendalian Tata Ruang Kota Aktor
c. Perbandingan antar tujuan terhadap aktor Masyarakat
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu tujuan dengan tujuan lainnya (besarnya pengaruh tujuan) terhadap aktor Masyarakat.
Lebih Penting Lebih Penting
T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T2 T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 T2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai-nilai di antaranya.
4. Perbandingan Tujuan terhadap Aktor dalam Faktor Sosial Ekonomi
Tujuan utama dalam pengisian proses hirarki ini adalah menentukan bobot prioritas antar-Tujuan (T) yang berpengaruh terhadap faktor.Elemen tujuan terdiri dari:
a. Peningkatan Penegakan Peraturan (T1).
b. Peningkatan Kesempatan Berusaha dan Kesejahteraan (T2). c. Pengendalian Tata Ruang Kota (T3).
a. Perbandingan antar tujuan terhadap aktor Pemerintah
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu tujuan dengan tujuan lainnya (besarnya pengaruh tujuan) terhadap aktor Pemerintah.
Pemerintah PKL Masyarakat
Peningkatan Penegakan Peraturan
Peningkatan Kesempatan Berusaha & Kesejahteraan
Pengendalian Tata Ruang Kota Aktor Tujuan Pemerintah PKL Masyarakat Peningkatan Penegakan Peraturan Peningkatan Kesempatan Berusaha & Kesejahteraan
Pengendalian Tata Ruang Kota Aktor
Lebih Penting Lebih Penting
T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T2 T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 T2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai-nilai di antaranya.
b. Perbandingan antar tujuan terhadap aktor PKL
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu tujuan dengan tujuan lainnya (besarnya pengaruh tujuan) terhadap aktor PKL.
Lebih Penting Lebih Penting
T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T2 T1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 T2 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 T3 Keterangan:
Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas lebih penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2, 4, 6, 8 adalah nilai-nilai di antaranya.
c. Perbandingan antar tujuan terhadap aktor Masyarakat
Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu tujuan dengan tujuan lainnya (besarnya pengaruh tujuan) terhadap aktor Masyarakat.
Pemerintah PKL Masyarakat
Peningkatan Penegakan Peraturan
Peningkatan Kesempatan Berusaha & Kesejahteraan
Pengendalian Tata Ruang Kota Aktor Tujuan Pemerintah PKL Masyarakat Peningkatan Penegakan Peraturan Peningkatan Kesempatan Berusaha & Kesejahteraan