• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Manular

HB 0 HR BCG

2. Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Manular

Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Manular terdiri dari P2 DBD, P2 Malaria, P2 Rabies, P2 Kecacingan, P2 TB Paru, P2 Diare, P2 ISPA, P2 Kusta, dan P2 Kelamin termasuk HIV / AIDS yang bertujuan mencegah timbulnya penyakit, menurunkan angka kesakitan dan angka kematian serta mencegah akibat lebih lanjut. Upaya tersebut dilaksanakan secara terpadu, terarah melalui kegiatan pengamatan / surveilans, dengan mengikut sertakan peran aktif lintas program, lintas sektor, LSM, masyarakat dll.

Tantangan yang dihadapi P2PM bukan hanya berbagai sasaran epidemiology dari seluruh penyakit yang tercakup P2PM yaitu: P2 DBD, P2 Malaria, P2 Rabies, P2 Kecacingan, TB Paru, ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut ), Kusta, Penyakit Diare, Penyakit kelamin termasuk HIV / AIDS tetapi juga tantangan yang dicanangkan WHO dan kesepakatan internasional lainnya. Juga adanya operasionalisasi dari berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit kepada kabupaten/ kota secara terpadu, terarah dan berdaya guna serta berhasil guna. Walaupun telah diantisipasi berbagai masalah / kendala yang bersifat tetap maupun muncul sewaktu- waktu atau tiba- tiba diluar dugaan.

a. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Program P2 DBD

Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah salah satu penyakit menular yang perlu untuk dicegah dan diberantas karena penyakit ini bisa mengakibatkan kematian dan berpotensi untuk menjadi wabah. Demam Berdarah dengue adalah penyakit fibris akut, seringkali disertai dengan sakit kepala, nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam, dan leukopenia sebagai gejalanya (WHO,1999). Di Kota Denpasar sendiri penyakit DBD masih merupakan masalah Kesehatan karena jumlah penderita yang selalu ada dari tahun ke tahun dan sangat berpotensi untuk menjadi wabah sehingga memerlukan penanganan secara cepat, tepat dan sistematis.

Tabel 3.12

Data kasus DBD selama lima tahun terakhir (2015s/d 2020) No Tahun Jumlah Kasus IR (Per 100.000

Penduduk)

Jumlah Kematian

CFR (%)

1 2015 1576 216,1 13 0,82

2 2016 2851 434,18 17 0,60

3 2017 928 101,5 4 0,43

4 2018 113 12,14 0 0

5 2019 1220 128,81 3 0,25

6 2020 1501 155.88 3 0.20

Grafik 3.13

Kasus DBD di Kota Denpasar Tahun 2015-2020

Sumber: Seksi P2PM Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Denpasar

Grafik 3.14

CFR Penyakit DBD selama Tahun 2015 - 2020

Sumber: Seksi P2PM Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Denpasar

Tabel 3.15

Perbandingan jumlah kasus Penyakit DBD berdasarkan Puskesmas di Kota Denpasar Bulan Januari s/d Desember 2020

No Puskesmas Jumlah kasus

1 Puskesmas I Denpasar Barat 245

2 Puskesmas II Denpasar Barat 141

3 Puskesmas I Denpasar Utara 73

4 Puskesmas II Denpasar Utara 109

5 Puskesmas III Denpasar Utara 114

6 Puskesmas I Denpasar Timur 141

7 Puskesmas II Denpasar Timur 66

8 Puskesmas I Denpasar Selatan 234

9. Puskesmas II Denpasar Selatan 320

10 Puskesmas III Denpasar Selatan 12

11 Puskesmas IV Denpasar Selatan 46

Total 1501

Sumber: Seksi P2PM Bidang P2P Dikes Kota Denpasar

Grafik 3.16

Distribusi Kasus DBD berdasarkan bulan di Kota Denpasar Tahun 2020

Sumber: Seksi P2PM Bidang P2P Dikes Kota Denpasar

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa kasus DBD di Kota Denpasar Tahun 2020 dari bulan januari terus mengalami peningkatan, puncak kasus pada bulan April, dan kasus terendah terjadi pada bulan Oktober dan November 2020. Sehubungan dengan data tersebut, pada saat terjadi kasus terendah ini atau bulan-bulan dengan kasus penyakit DBD yang rendah dilakukan bulan bakti PSN-DBD. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) penanggulangan penyakit DBD antara lain kegiatan penyuluhan yang lebih intensif, larvasidasi , gertak PSN, pemberdayaan masyarakat (Gema petik). Adanya Pandemi Covid-19 menyebabkan upaya kunjungan rumah untuk pembinaan ke masayarakat pada tahun 2020 sangat terbatas bisa dilakukan.

Insiden rate DBD tahun 2020 mengalami sedikit penurunana bila dibandingkan tahun 2019. Bila dibandingkan dengan target nasional (<49/100.000 penduduk), angka kejadian DBD di Kota Denpasar tahun 2020 tergolong tinggi yaitu 155.88/ 100.000 penduduk, tetapi jika dibandingkan dengan target IR Kota Denpasar tahun 2020 masih tergolong dibawah target IR DBD Kota Denpasar yang ditetapkan (≤ 195 per 100.000 penduduk). Mengingat masih tingginya Angka Insidens (IR) DBD di Kota Denpasar pada tahun 2020, maka segala upaya untuk mencegah dan menanggulangi penyakit DBD perlu terus untuk ditingkatkan. Berikut ini adalah grafik IR berdasarkan Kecamatan di Kota Denpasar Tahun 2020.

Grafik 3.17

Incidence Rate DBD per Kecamatan di Kota Denpasar Tahun 2020

Sumber: Seksi P2PM Bidang P2P Dikes Kota Denpasar

Grafik diatas menunjukkan bahwa angka kejadian DBD/ IR DBD selama tahun 2020 tertinggi di Kecamatan Denpasar Selatan yaitu sebesar 196,41/100.000 penduduk dan terendah di Kecamatan Denpasar Timur yaitu sebesar 127,60/100.000 penduduk.

Grafik 3.18

Incidence Rate DBD per Puskesmas di Kota Denpasar Tahun 2020

Sumber: Seksi P2PM Bidang P2P Dikes Kota Denpasar

Grafik diatas menunjukkan angka kejadian DBD tertinggi di Puskesmas II Denpasar Selatan dan terendah di Puskesmas III Denpasar Selatan.

Tingginya kasus DBD di Kota Denpasar disebabkan oleh lingkungan dengan tingkat sanitasi yang kurang memadai (masih banyak ada tempat-tempat penampungan air sebagai tempat bertelur nyamuk Aedes Aegypty), banyak rumah dan lahan kosong yang tidak terkelola dengan baik, tingkat kepadatan penduduk serta tingkat kepadatan populasi nyamuk Aedes Aegypty yang tinggi sehingga penularan lebih mudah terjadi, rendahnya peran serta masyarakat

dalam pemberantasan sarang jentik nyamuk (PSN) baik di dalam rumahnya sendiri maupun lingkungannya, ditambah dengan adanya mutasi alamiah virus dan cuaca yang tidak menentu, serta kinerja Jumantik yang masih belum maksimal.

Berbagai upaya telah diambil Pemerintah Kota Denpasar untuk menanggulangi penyakit Demam Berdarah di masyarakat, diantaranya adalah melalui penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melaksanakan kegiatan PSN dengan cara 3M-Plus serta peningkatan sanitasi lingkungan, Gertak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), penggerakan Jumantik, fogging fokus, dan ULV, Larvasidasi masal, , sosialisasi DBD dan program GEMA PETIK (Gerakan Mandiri Pemantau Jentik) yang diimplemetasikan melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik).

Upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut tidak akan berhasil menurunkan kasus DBD apabila tidak didukung oleh seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan PSN-DBD minimal setiap satu minggu sekali, termasuk juga peran para tokoh-tokoh masyarakat dan penguasa wilayah (Camat, Kepala Desa/Lurah, Kepala Lingkungan, dll) unutk memotivasi, menggerakkan masyarakat agar berpartisipasi dalam memberantas penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui peningkatan kebersihan lingkungan di masing-masing rumah tangga.

Beberapa upaya yang harus dilakukan oleh masyarakat dalam memberantas sarang jentik nyamuk adalah dengan melakukan PSN-DBD dengan cara 3M-Plus sebagai berikut:

- Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi/WC, drum dan lain-lain seminggu sekali.

- Menutup tempat-tempat tirta dan tempat penampungan air lainnya yang ada di Parahyangan.

- Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, seperti gentong air/tempayan. dan lain-lain.

- Mengubur barang-barang bekas yang dapat hancur scara alami di dalam tanah (seperti tempurung kelapa, potongan bambu, dll), sedangkan barang bekas yang tidak dapat hancur dalam tanah seperti kaleng bekas, botol bekas, botol plastik, ban bekas, dll agar dikumpulan dan bisa dijual untuk didaur ulang.

- PSN-DBD di rumah-rumah dan lahan kosong, lokasi bangunan proyek.

Plusnya adalah tindakan memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk dengan cara:

- Membunuh jentik nyamuk Demam Berdarah di tempat air yang sulit dikuras dengan menaburkan bubuk Abate. Abate ditaburkan 2-3 bulan sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 10 liter air. Abate dapat diperoleh di Puskesmas.

- Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk (ikan cupang, palem timah, dll) pada pot bunga, kolam, dan tempat penampungan air lainnya.

- Mengusir nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk.

- Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.

- Memasang kelambu pada saat tidur, terutama siang hari.

- Tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar (merupakan tempat istirahat nyamuk)

- Mengalirkan got-got yang tergenang, koordinasi dengan lintas sektor terkait (Dinas Pekerjaan Umum, DKP) untuk mengatasi masalah fisik yang tidak bisa dituntaskan oleh masyarakat.

- Menanam /membuat pot tanaman liligundi, sereh, lavender di halaman rumah untuk mengusir nyamuk oleh karena tanaman tersebut tidak disukai oleh nyamuk Aedes Aegypty.

b. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Program P2 Malaria

Kegiatan pemberantasan penyakit Malaria di kota Denpasar tahun 2020 meliputi kegiatan Surveylance Malaria yang terdiri dari:

1. Active Case Detektion ( ACD )

Dinas Kesehatan Kota Denpasar mulai tahun 1999 / 2020 tidak mempunyai juru Malaria Desa ( JMD ). Kegiatan ACD dilakukan dengan cara kunjungan rumah, kelompok atau masyarakat sesuai dengan informasi tentang adanya penderita Malaria atau adanya pendatang dari luar daerah endemis malaria. Kegiatan ini dilakukan oleh petugas Puskesmas, Pustu, Dinas Kesehatan Kota Denpasar

2. Pasive Case Detektion ( PCD )

PCD dilakukan oleh semua unit pelayanan kesehatan meliputi 11 Puskesmas dan 25 Puskesmas Pembantu serta RS (Negeri dan swasta yang ada di kota Denpasar. Ditemukan 7 Kasus Malaria import , 4 kasus positif malaria falcifarum 3 kasus positif malaria vivax semuanya berasal dari luar Kota Denpasar yaitu dari daerah NTT dan Papua.

3. Mass Fever Survey ( MFS ) : biasanya dilakukan 2 kali setahun di desa / kelurahan yang potensial terhadap penularan malaria.

4. Penyelidikan Epidemiologi (PE) dilakukan dengan cara mengambil dan memeriksa sediaan darah dari masing – masing orang disekitar penderita. Untuk tahun 2020 dengan hasil tidak diketemukan penderita panas disekitar rumah penderita sehingga tidak dilakukan pengambilan sediaan darah (ACD)

Slide Positif rate = 0 dan Anuel parasit insiden = 0 permil

c. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Program P2 Rabies

Tim Rabies Pemda Kota Denpasar secara berkala mengadakan razia terhadap anjing ras. Disamping itu semua unit pelayanan kesehatan juga melaksanakan pemantauan rabies dengan cara mencatat / melaporkan adanya kasus gigitan binatang seperti anjing, kucing maupun kera.

Tabel 3.16

Sumber : Seksi P2PM Bidang P2P Dikes Kota Denpasar

PROVINSI : Bali

BULAN : januari s/d Desember

TAHUN : 2020

Rekap

(1 dosis) (1 dosis) (1 dosis) (1 dosis)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 23 24 25 26 27 28 29 30 31

1 Januari 29 35 24 28 100 59 9 14 37 9 17 78 56 12 501 501 280 280 0 0 0 0 489 9 0 0 0 0

2 Pebruari 21 29 25 6 67 45 10 17 12 12 12 69 41 12 378 378 203 203 98 38 0 0 364 14 1 0 0 0

3 Maret 11 24 15 14 42 57 11 5 18 10 10 71 49 13 344 344 192 192 115 59 0 0 324 16 0 0 0 0

4 April 8 17 11 5 47 32 10 9 5 4 8 59 42 13 270 270 133 133 77 29 0 0 264 6 0 0 0 0

5 Mei 14 21 22 5 46 21 10 2 23 9 6 49 34 7 269 269 151 78 32 0 0 0 260 7 1 1 0 0

6 Juni 14 31 17 12 54 27 9 3 21 8 3 45 31 11 286 286 150 150 100 50 0 0 276 10 0 0 0 0

7 Juli 17 49 20 11 66 37 7 8 18 12 5 36 47 12 345 345 195 195 123 77 0 0 337 8 0 0 0 0

8 Agustus 10 37 19 4 40 19 10 5 17 8 9 53 31 6 268 268 157 157 98 57 0 0 254 14 0 0 7 0

9 September 12 25 16 12 42 23 5 4 17 7 8 42 36 10 250 250 170 170 103 51 1 0 235 15 0 0 0 0

10 0ktober 12 27 2 5 38 20 5 8 13 9 5 35 29 10 218 218 145 145 91 36 0 0 210 8 0 0 0 0

11 Nopember 5 20 14 6 20 27 7 8 4 5 9 35 29 4 193 193 141 141 93 27 0 0 191 10 0 0 0 0

12 Desember 7 22 10 7 30 23 11 5 4 5 37 21 8 199 199 129 129 93 35 0 0 180 7 0 0 0 0

JUMLAH 160 337 195 115 592 390 104 88 185 97 97 609 446 118 3521 3521 2046 1973 1023 397 1 0 3384 115 2 1 7 0

20 - 45 46 - 64 > 64 46 - 64 > 64 <5 5-9 10 - 14 15 - 19

CUCI KET LUKA

VAR I

ANJING KUCING MONYET/

KERA LAIN-LAIN VAR III

SAR PENGOBATAN

LYSSA/R ABIES POSITIF

SITUASI KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES (GHPR)

No Kota Denpasar Bulan

JUMLAH KASUS GHPR

JENIS HEAN PENGIGIT SPESIME

N HEWAN YANG DIPERIKS

A SPESIME

N POSITIF

<5

LAKI - LAKI PEREMPUAN

VAR II 5-9 10 - 14 15 - 19 20 - 45

JENIS KELAMIN / UMUR

Pada tahun 2016 telah dibentuk surveilans terpadu/ Tim Tata laksana gigitan hewan penular rabies di wilayah Kota Denpasar, antara Dinas Peternakan dengan Dinas Kesehatan Kota Denpasar sehingga kalau ada kasus gigitan maka tim akan saling info untuk ditindaklanjuti mengenai kasus gigitan hewan penular rabies di wilayah Kota Denpasar.

c.Hasil Pelaksanaan Kegiatan Program P2 Taeniasis

Pemberantasan penyakit taeniasis dilakukan dengan pengamatan penderita dan pengobatan penderita oleh unit pelayanan kesehatan : Puskesmas, Pustu RS ( Negeri dan Swasta ) serta penyuluhan bahaya kecacingan.

Tabel 3.17

Kasus Taeniasis di Kota Denpasar Tahun 2020

Bulan PUSKESMAS

I DB II DB I DU II DU III DU

I DT II DT I DS II DS III DS

IV DS

Januari 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Pebruari 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Maret 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

April 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Mei 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Juni 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Juli 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Agustus 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

September 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Oktober 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Nopember 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Desember 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Total 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Sumber : Seksi P2PM Bidang P2P Dikes Kota Denpasar

Kasus taeniasis di Kota Denpasar tahun 2020 adalah 2 kasus, pasien sudah diperiksa oleh dokter dan diberikan obat sesuai dosisnya.

Kendala program kecacingan, untuk pemeriksaan lab bagi pasien yang kecacingan belum semua dilaksanakan dikarenakan kendala dalam reagennya, sehingga untuk melihat pasien itu benar kecacingan atau tidaknya dengan cara foto tinja dari pasien untuk menunjukan jenis cacing dari cirri-ciri di dalam foto tersebut.

d. Hasil Pelaksanaan program P2TB a) Penemuan Penderita

Ditahun 2020 Unit Pelayanan Kesehatan yang telah mengikuti pedoman Nasional dalam penanggulangan penyakit TBC adalah 11 Puskesmas, 5 Rumah Sakit Pemerintah, 11 Rumah Sakit Swasta, 10 laboratorium swasta serta 94 Praktisi Swasta. Untuk praktisi Swasta mereka ikut berpartisipasi dalam penanggulangan TB DOTS hanya dalam penjaringan suspek yg dilaporkan setiap bulan melalui puskesmas diwilayah masing-masing. Dimana dalam penjaringan suspek akan diberikan SKP kepada dokter praktek swasta sesuai jumlah suspek yang dikirim. Sedangkan Rumah Sakit Pemerintah maupun Swasta dalam penanggulangan penyakit ini ikut mulai dari penjaringan suspek sampai dengan pengobatan.

Kalau kita lihat perbandingan Penemuan penderita BTA positif di tahun 2016, 2017, 2018, 2019 dan 2020 adalah sebagai berikut :

Tabel.3.18

Penemuan Penderita BTA Positif di Kota Denpasar Tahun 2016, 2017, 2018, 2019 dan 2020

Kasus 2016 2017 2018 2019 2020

- BTA Positif baru

- BTA Negative Ro” Positif - Extra Paru

- Penderita kambuh / gagal - Penderita Anak

512 354 206 56 45

540 412 228 47 61

610 340 294 69 71

680 552 300 68 97

455 402 168 36 40 Sumber : Seksi P2PM Sub Din Bina P2P Dikes Kota Denpasar

Tahun 2019 jumlah suspek yang terjaring sebanyak 6.552 orang dan ditemukan penderita BTA Positif baru 680 penderita ( 10,3% ). Sedangkan kasus K/G/L berjumlah 68 orang, BTA negatif Ro” positif + Extra Paru = 552 orang dan anak 97 orang. Dari Praktisi Swasta ditemukan suspek 15 suspek dimana semuanya dikirim ke Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan dahak, karena peran dari dokter praktek swasta hanya menjaring suspek.

Apabila ditemukan BTA Positif maka pengobatan dan pemantauannya dilakukan oleh petugas puskesmas.

Sedangkan Tahun 2020 jumlah suspek yang berhasil diperiksa dahaknya sebanyak 4818 dan ditemukan BTA Positif baru sebanyak 455 (9,5% ). Sedangkan kasus K/G/L sebanyak 36 orang, BTA negatif Ro” positif sebanyak 402 orang, Extra Paru 168 orang dan anak 40 orang.

Untuk suspek di dokter praktek swasta suspek 1 orang dan yang positif TBC sebanyak 1 orang, dimana untuk pengobatannya diobati dipuskesmas.

Untuk CDR (Case Detection Rate) Kota Denpasar th 2020 yaitu : Jumlah semua kasus TBC yg diobati dan dilaporkan x 100%

Perkiraan jumlah semua kasus TBC (target estimasi 2020) 1061 x 100 % = 29,1% dari target 55 %

3645

Tabel 3.19

Penemuan Kasus TB Tahun 2020

No UPK SUSPEK BTA (+) K/G/L BTA Neg

Ro” pos

EXT-PARU

ANAK 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Puskesmas I Denbar Puskesmas II Denbar Puskesmas I Dentim Puskesmas II Dentim Puskesmas I Denut Puskesmas II Denut Puskesmas III Denut Puskesmas I Densel Puskesmas II Densel Puskesmas III Densel Puskesmas IV Densel

83 216

74 73 175 131 83 86 72 69 23

29 32 20 9 13 16 15 30 13 8 7

6 3 1 2 3 1 2 1 0 1 1

11 6 1 6 6 11

3 6 4 1 3

3 3 1 1 0 3 0 5 0 1 0

1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0

PUSKESMAS 1085 192 21 58 17 2

12 13

Praktisi Swasta

RS Pemerintah &

Swasta, Lab swasta

1 3733

1 263

0 15

0 344

0 151

0 38

KOTA DENPASAR 4818 455 36 402 168 40

Grafik 3.19

PENJARINGAN SUSPEK,JUMLAH KASUS TB TOTAL, BTA (+) DI KOTA DENPASAR TH 2016 - 2020

6793

6288

6668 6552

4818

1173 1288 1384 1600

1061

512 540 610 680

455 0

1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

Th 2016 Th 2017 Th 2018 Th 2019 Th 2020

Suspek TB Total BTA (+)

Tabel diatas menunjukkan kasus penyakit TBC di Kota Denpasar tahun 2020 mengalami penurunan. Terjadinya penurunan penemuan kasus ini disebabkan karena adanya pandemi covid 19 pada tahun 2020, dimana jumlah kunjungan kefaskes dibatasi, masyarakat takut datang kefaskes dengan alasan takut tertular covid, pasien yang berkunjung ke faskes dengan keluhan batuk batuk tetapi tidak di cek dahaknya tetapi langsung di swab, kewajiban memakai masker kemungkinan bisa mengurangi dampak penularan penyakit khususnya TBC.

Kontak serumah juga tidak bisa dilaksanakan secara maksimal dikarenakan pembatasan kunjungan kelapangan atau kerumah pasien. Penemuan suspek didokter praktek swasta juga menurun. Sehingga secara keseluruhan sangat mempengaruhi jumlah penemuan kasus TBC.

Penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan petugas puskesmas dilapangan, penyebaran leaflet, pemasangan bener, poster yang seharusnya bisa membuat masyarakat semakin mengetahui apa itu penyakit TBC sehingga mereka akan segera memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan terdekat apabila menemukan gejala penyakit yang mengarah ke penyakit TBC.

Kasus TB dengan BTA(+) diprioritaskan dibandingkan dengan type yang lain, karena type ini yang paling cepat penularannya ke orang lain. Maka dari itu sangat penting bagi petugas kesehatan memberikan penyuluhan sebelum memulai pengobatan agar pasien tahu akan bahaya penyakit tersebut dan apa akibatnya kalau sampai lalai / berhenti minum obat. Karena dalam pengobatan penyakit TBC dibutuhkan jangka waktu yang cukup panjang yaitu berkisar 6 bulan – satu tahun. Tetapi karena adanya pandemic covid 19 sangat berpengaruh dalam penemuan kasus TBC.

SPM : Jml orang terduga TBC yang dilakukan

Pemeriksaan penunjang dlm kurun wkt 1 th x 100%

Jml orang yg terduga TBC dlm kurun wkt 1 th yg sama 5,4 x 2238 = 12.085

4818 x 100% = 40%

12.085

Apabila pasien tidak teratur minum obat dampaknya pasien tersebut tidak akan sembuh dan apabila datang lagi dengan kasus yang sama maka diberikan obat dengan katagori yang lain.

Apabila tidak teratur lagi minum obat, maka pasien tersebut akan kebal terhadap obat TBC.

Maka hal itulah yang akan menyebabkan kasus TB MDR ( Multi Drug Resisten ). Maka dari itu peranan pengawas minum obat ( PMO ) sangat penting untuk mengawasi pasien agar teratur minum obat sampai sembuh.

Untuk saat ini baru tiga rumah sakit yang menggunakan mesin TCM (Tes Cepat Molekuler) yaitu RSUD Wangaya, RSUP Sanglah dan RS Bali Mandara, adapun kegunaan dari mesin tersebut adalah untuk pemeriksaan dahak terduga TBC agar mempercepat keluarnya hasil pemeriksaan dahak sehingga diagnose lebih cepat ditegakkan, sehingga pengobatan lebih cepat dilakukan dan kegunaannya juga untuk memeriksa dahak suspek TB MDR yang dirujuk oleh puskesmas atau rumah sakit pemerintah dan swasta lainnya. Apabila positif TB Resisten Obat / MDR maka pengobatan pertama dilakukan di RSUP Sanglah dan RSUD Wangaya dengan Tim TAK (Tim Ahli Klinis), kemudian bisa dirujuk/melanjutkan pengobatannya ke puskesmas terdekat dengan tempat tinggal pasien. Untuk tahun 2020 hasil pemeriksaan dahak dengan mesin TCM sebagai berikut :

Tabel 3.20

Hasil pemeriksaan dahak dengan mesin TCM tahun 2020

NO FASKES SUSPEK

TB MDR

SUSPEK YG DIPERIKSA

TCM

RR

KASUS YANG DIOBATI

1 RSUP 30 30 11 11

2 RSUDW 6 6 3 3

3 RSBM 0 0 0 0

JUMLAH 36 36 14 14

Apabila pasien TB MDR tidak segera diobati maka penularannya ke oranglain akan sama dengan pasien TB BTA (+).

Untuk meningkatkan penemuan kasus HIV/AIDS maka dalam penanggulangan program TB berkolaborasi dengan program HIV (PITC/VCT) Pusk I Denpasar Barat, Pusk II Denpasar barat, Pusk I Denpasar Timur, Pusk II Denpasar Timur, Pusk I Denpasar Utara, Pusk II Denpasar Utara, Pusk III Denpasar Utara, Pusk I Denpasar Selatan, Pusk II Denpasar Selatan, Pusk III Denpasar Selatan, Pusk IV Denpasar Selatan. Sedangkan Rumah Sakit yang terlibat dan melaporkan hasil

Kegiatannnya yaitu RSUP Sanglah, RSUD Wangaya, RS Trijata Polda dan Rumkit Tk II Udayana ( RSAD ), Bidokes, RS Kasih Ibu, RS Dharma Yadnya, RS Bros, RS Bhakti Rahayu, RS Balimed dan RS Surya Husadha Ubung. Dengan kolaborasi tersebut maka didapatkan hasil sebagai berikut :

- Pasien TBC yg di tes HIV - Pasien TBC dengan HIV positif - Pasien TBC dengan HIV+ dapat ART - Pasien TBC dengan HIV+ dapat PPK

636 127 14 8

b) Angka Keberhasilan Pengobatan ( Succes Rate )

Target Angka Keberhasilan Pengobatan penderita TBC tingkat nasional adalah 90%. Hasil evaluasi Pengobatan penderita TBC yang dapat dilihat di tahun 2020 adalah penderita yang diobati tahun 2019 dengan hasil sebagai berikut:

Angka Keberhasilan Pengobatan mencapai 90,2 %. Angka Keberhasilan Pengobatan dihitung dari jumlah pasien sembuh ditambah jumlah pasien pengobatan lengkap. Adapun penyebab tidak dilakukan pemeriksaan dahak dirumah sakit swasta karena pasien harus membayar setiap kali periksa dahak dilaboratorium. Berbeda dengan puskesmas dimana semua pengobatan TB gratis. Ada juga disebabkan oleh factor dropout, gagal, meninggal dan pindah keluar wilayah Kota Denpasar atau keluar Bali dimana feedback hasil pengobatannya tidak ada. Untuk Angka Keberhasilan Pengobatan (Succes Rate) th 2019 di Kota Denpasar yaitu :

Jumlah semua kasus TBC yang sembuh & pengobatan lengkap x 100%

Jumlah semua kasus TBC yg diobati dan dilaporkan 1444 x 100% = 90,2%.

SR % MENINGGAL % DO % GAGAL %

1444 90,2 139 8,7 0 0 10 0,6

Mobilisasi penderita TBC di Kota Denpasar baik rujukan diagnosa maupun rujukan therapie baik itu dari Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah maupun swasta di Denpasar maupun kiriman dari luar Denpasar bahkan ada rujukan diagnosa dari luar Bali sehingga jumlah yang dievaluasi di Puskesmas dan Rumah Sakit se – Kota Denpasar sangat tinggi.

Banyak faktor yang mempengaruhi pasien TBC meninggal, baik karena faktor umur, komplikasi maupun oleh sebab lain, akan tetap dinyatakan sebagai pasien TBC semasih dalam pengobatan TBC. Pasien DO (putus berobat) kemungkinan pasien karena tidak tahan dengan efek samping obat, alergi maupun tidak ada pemberitahuan kalau pasien pindah keluar daerah. Untuk pasien Gagal kemungkinan pasien sudah kebal obat.

Sedangkan untuk penderita TBC di Praktisi Swasta dikirim dan diobati di Puskesmas karena peran dari dokter praktek swasta hanya menjaring suspek selanjutnya untuk pemeriksaan laboratorium dan pengobatannya dilakukan di puskesmas untuk mempermudah dalam pemantauannya oleh petugas puskesmas bersama dengan PPTI yang juga berperan sebagai Pengawas Minum Obat (PMO) selain keluarga pasien sendiri.

Cross Check ( Pemeriksaan Uji Silang )

Sejak Tahun 2006 pengambilan dan penilaian sample menggunakan metode LQAS. Di tahun 2017 Fasyankes yang di Cross Chek yaitu PPM I Denbar, PPM II Denbar, PPM I Dentim, PPM II Dentim, PPM I Denut, PPM II Denut, PPM III Denut, PPM I Densel, PPM II Densel, PPM III Densel, PPM IV Densel, RSUP Sanglah, RSUD Wangaya, RSAD, RSU Bhayangkara, RSU Surya Husadha, RSU Surya Husadha Ubung, RSU Bhakti Rahayu, RSU Dharma Yadnya, RSU Bali Med, Lab Klinik Quantum dan Lab Klinik Prodia. Tahun 2019 jumlah slide yang di Cross Chek 1087 slide yaitu dengan hasil baik 1065 (98%), Kesalahan Besar 3 slide (0,2%), Kesalahan Kecil 9 slide (0,8%).

Sedangkan untuk tahun 2020 pengambilan slide dilakukan dimana slide positif diambil semua, slide negatif diambil 10% karena specimen diperiksa memakai Tes Cepat Molekuler (TCM). Jadi jumlah slide yang di Cross Chek th 2020 sebanyak 776 slide, tetapi yang sudah keluar hasil cros cheknya baru tiga triwulan (Januari s/d September)

dengan jumlah slide 601 yaitu dengan hasil baik 580 slide (96,5%), Kesalahan Besar 8 slide (1,3% ), Kesalahan Kecil 13 slide (2,1%).

Dalam pelaksanaan cross check apabila terjadi kesalahan >5% perlu dilakukan evaluasi yang cermat dalam pelaksanaan laboratorium dan dicari penyebab spesifik sehingga kesalahan dapat cepat diperbaiki.

c) Pemantauan

Setiap kegiatan dalam penanggulangan TBC perlu dipantau secara berkesinambungan paling sedikit 4 kali dalam setahun di tiap-tiap Unit Pelayanan Kesehatan sehingga mendapatkan data yang valid, melalui rapat program dan lintas program baik dengan puskesmas, rumah sakit dan lab swasta.

d) Kemitraan

Kemitraan dilakukan dengan lintas program , lintas sektor, praktisi swasta , maupun LSM, tidak kalah pentingnya keikutsertaan masyarakat itu sendiri. Kerjasamanya dengan LSM seperti PPTI Cabang Denpasar membentuk suatu tim terpadu dalam pembinaan bagi penderita yang sedang berobat serta penyuluhan tentang penyakit TBC dengan melakukan Home Visite Seminggu 2 kali, dimana tim terpadu terdiri dari Dinas Kesehatan, PKK, Puskesmas. Bagi Penderita yang mangkir berobat harus segera dilacak oleh petugas lapangan PPTI agar dapat tuntas berobat.

Tidak kalah pentingnya berusaha untuk menemukan penderita baru untuk segera diobati dengan melakukan kontak serumah dimana saat ini kita melibatkan kader desa pekraman yang bertugas meningkatkan pengetahuan dan kepedulian krama desa/banjar dari komunitas terhadap penanggulangan TB, membantu memberikan penyuluhan tentang TB, melakukan penjaringan suspek TB dan membantu melacak suspek / pasien TB mangkir dipalemahan desa pekraman masing-masing.

Mulai bulan Nopember Th 2018 s/d Th 2020 bekerjasama dengan LKNU telah dilaksanakan kegiatan ketuk pintu dengan tujuan untuk menjaring suspek TBC yg belum terlacak sehingga bisa meningkatkan jumlah penemuan kasus TB.

e.Hasil Pelaksanaan program P2 Diare

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Pemberantasan Penyakit Diare di Kota Denpasar tahun 2018 yaitu :

a. Penemuan Penderita

Aktif : Penemuan dilakukan oleh petugas kesehatan dilapangan bekerjasama dengan kader kesehatan dan masyarakat.

Pasif : Bagi penderita yang datang langsung ke Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Rumah Sakit.

Di Tahun 2018 ditemukan penderita diare pada Sarana Kesehatan sebanyak 9.818 penderita (5.397 laki-laki dan 4.421 perempuan). Klasifikasi penderita balita sebanyak 3.081 penderita dan diatas umur 5 tahun sebanyak 6.278 penderita. Sedangkan penemuan penderita oleh kader sebanyak 7.416 penderita (3.836 laki-laki dan 3.580 perempuan).

b. Pengobatan Penderita

Sebagai tindakan pertama dalam penanggulangan diare yaitu dengan pemberian oralit.

Untuk tahun 2018 sama dengan tahun 2017 bahwa kwalitas pengelolaan program 100%.

Sedangkan masalah pengelolaan program 0%. Tetrasiklin diberikan kepada penderita dengan indikasi kuman penderita suspect kolera dan kontak – kontak penderita dengan dapur dan sumber air yang sama. Infus diberikan kepada penderita yang dehidrasi untuk mengembalikan cairan tubuh penderita dengan cepat. Untuk tahun 2018 penderita diberikan oralit sebanyak 45.725 orang dengan pemakaian oralit sebanyak 53.232 buah. Tablet / sirup zink digunakan untuk memperbaiki pencernaan penderita. Tablet / sirup zink diberikan kepada 2.885 orang dengan jumlah pemakaian tablet zink 28.261 tablet.

c. Tindakan Pencegahan

Tindakan pencegahan yang dilakukan adalah kaporitisasi, penyuluhan dan pengambilan serta pemeriksaan sampel air minum. Kaporitisasi dilaksanakan pada daerah-daerah yang berpotensi kasus diare. Sebagai sasaran yaitu pada sumur gali, pedagang kaki lima, perkampungan kumuh atau Kaporitisasi Massal yang dilaksanakan oleh seluruh puskesmas yang ada diwilayah Dinas Kesehatan Kota Denpasar pada bulan Desember.

Karena pada musim hujan sangat berpotensi terjadinya wabah Diare yang bisa menyebabkan kematian pada bayi maupun balita.Tujuannya untuk memutus matarantai penularan penyakit melalui air. Pengambilan dan pemeriksaan sampel dilaksanakan bersama-sama dengan petugas surveylance, dan pemegang program diare melaksanakan penyuluhan ke rumah penderita Pengambilan sample air minum dilaksanakan secara insidentil pada kejadian-kejadian letusan diare yang diprioritaskan pada sumber air minum.

a. Penanggulangan Luar Biasa. Dalam hal ini perlu adanya tindakan – tindakan khusus : Laporan 24 jam, mengaktifkan tim gerak cepat (pemegang prog.Diare,