• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sektor Pertambangan dan Penggalian

1.3 Perkembangan Ekonomi Sisi Penawaran

1.3.4 Sektor Pertambangan dan Penggalian

Sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan pertumbuhan yang signifikan seperti yang sudah diproyeksikan pada triwulan sebelumnya dimana pada triwulan ini tercatat pertumbuhan -15,8% (yoy) atau -16,9 (qtq). Penurunan ini merupakan dampak dari implementasi UUD Minerba oleh pemerintah pusat sehingga perusahaan tambang yang memproduksi biji nikel harus berhenti beroperasi karena larangan ekspor biji nikel. Perusahaan tambang harus menjual barang olahan dari biji nikel untuk dapat dijual sehingga mereka harus membangun pabrik pemurnian nikel atau smelter yang saat ini sedang dalam proses pembangunan. Namun karena biaya pembangunan yang besar sehingga hanya perusahaan dengan modal besar yang mampu bertahan dalam bisnis tambang biji nikel.

Subsektor penggalian tercatat masih mengalami pertumbuhan sebesar 7,1% (yoy) namun turun tipis -1,0% (qtq). Subsektor ini masih digerakkan oleh penambangan bahan galian tipe C seperti pasir. Hal ini terjadi seiring semakin maraknya pembangunan berbagai infrastruktur dan bangunan fungsional lainnya termasuk kegiatan reklamasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah maupun pihak swasta terkait perluasan area untuk mengembangkan usaha mereka. Saat ini pemerintah sedang melakukan review terhadap izin galian tipe C dikarenakan maraknya kasus rusaknya areal sekitar tambang karena proses penambangan yang kurang baik serta merugikan masyarakat sekitar bahkan sebagian berpotensi menyebabkan tanah longsor.

Sementara itu, sektor pertambangan nonmigas tercatat mengalami tumbuh negatif sebesar -19,2% (yoy) atau turun -19,5% (qtq). Andil terbesar dari subsektor ini diberikan oleh kegiatan penambangan nikel yang tersebar di kepulauan Halmahera. Oleh karena itu subsektor pertambangan non-migas tercatat mengalami penurunan yang signifikan karena sampai saat ini masih disumbang seluruhnya oleh produksi biji nikel. Kedepannya, Maluku Utara akan mampu memproduksi emas dari berdasarkan hasil liaison diketahui bahwa contact belum memasuki fase produksi melainkan sedang dalam tahap pembangunan dan persiapan produksi.

Perkembangan PDRB Riil Sektor Pertambangan dan Penggalian

Perkembangan Kredit

Sektor Pertambangan dan Penggalian

Berdasarkan hasil liaison Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, semakin dekatnya penerapan UUD Minerba pada tahun 2014 mendorong beberapa perusahaan yang bergerak di bidang penambangan biji nikel untuk membangun smelter di beberapa lokasi seperti halnya di Kabupaten Halmahera Timur dan di Pulau Obi – Halmahera Selatan. Disisi lain, perkembangan kredit yang disalurkan pada sektor ini tercatat mengalami kontraksi pada triwulan laporan sebesar -76,95% (yoy) atau sebesar -45,74% (qtq). Kredit yang disalurkan di sektor ini mulai terlihat mengalami kontraksi pertumbuhan sejak triwulan III 2013.

-20.0% -15.0% -10.0% -5.0% 0.0% 5.0% 10.0% -5,000.0 10,000.0 15,000.0 20,000.0 25,000.0 30,000.0 35,000.0 40,000.0

I II III IV I II III IV I II III IV I 2011 2012 2013 2014

Pertambangan g_yoy (aksis kanan)

-500.00% 0.00% 500.00% 1000.00% 1500.00% 2000.00% 2500.00% 3000.00% 0.00 1000.00 2000.00 3000.00 4000.00 5000.00 6000.00 7000.00 8000.00 9000.00

I II III IV I II III IV I II III IV I 2011 2012 2013 2014 Pertambangan & Penggalian g_yoy (aksis kanan) Sumber : BPS Provinsi Maluku Utara, diolah

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional memiliki peran yang penting dan strategis. Kondisi tersebut dapat dilihat dari berbagai data pendukung bahwa eksistensi UMKM cukup dominan dalam perekonomian Indonesia. Pertama, jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik dan Kementerian Koperasi dan UKM pada tahun 2010, jumlah UMKM tercatat 52,7 juta unit atau 99,9% dari total unit usaha. Kedua, potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga kerja. Setiap unit investasi pada sektor UMKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UMKM menyerap 99,4 juta tenaga kerja atau 97% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan yakni sebesar 56% dari total PDB. Melihat peran strategis UMKM dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, Bank Indonesia menyelenggarakan Penelitian Pengembangan Komoditi/Produk/Jenis Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Di Provinsi Maluku Utara Tahun 2013.

Sebagai surga tropis di Kawasan Indonesia Timur, Provinsi Maluku Utara memiliki sumberdaya alam yang sangat berlimpah. Kekayaan alam Maluku Utara menyimpan beragam potensi ekonomi mulai dari potensi berbasis pertanian dan kelautan hingga wisata. Letak Maluku Utara yang berada di bibir Samudera Pasifik memberi peluang besar untuk meraih beragam keuntungan ekonomi, khususnya dalam percaturan Pasar Pasifik.

KPJU unggulan UMKM di Provinsi Maluku Utara dalam penelitian ini didefinisikan secara operasional oleh multistakeholder sebagai KPJU UMKM yang secara eksisting (saat ini) telah unggul dalam sejumlah kriteria tertentu dalam mencapai tujuan penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing, pertumbuhan ekonomi di masa datang. Tujuan penetapan KPJU unggulan yang paling dominan adalah Penciptaan Lapangan Kerja berikutnya menyusul Peningkatan Daya Saing Produk dan Pertumbuhan Ekonomi.

Kriteria seleksi yang digunakan dalam penentuan KPJU unggulan dari yang paling penting berturut-turut adalah Penyerapan tenaga kerja (0,174); Manajemen usaha (0,129); Ketersediaan pasar (0,124); Sumbangan terhadap perekonomian (0,121); Sarana produksi/usaha (0,099); Harga (0,084); Sosial budaya (0,81); Tenaga kerja terampil (0,069); Modal (0,049); Teknologi (0,041); dan Ketersediaan bahan baku (0,030).

Kpju Unggulan Kabupaten/Kota, Provinsi Dan Pendekatan Penanganannya

Di setiap kabupaten/kota yang diteliti, melalui konfirmasi dan analisis lanjutan dengan pendekatan metode AHP, Borda dan Bayes diperoleh 5 KPJU unggulan lintas sektoral. Lima KPJU Unggulan lintas sektoral tersebut adalah :

 Kabupaten Halmahera Utara : Cabai Merah (skor terbobot 0,049), Ikan Cakalang (tangkap)

(0,048), Ikan Kerapu (tangkap) (0,047), Toko Sembako (0,035), dan Ikan Kakap (tangkap) (0,034).

 Kabupaten Halmahera Timur : Padi Sawah (skor terbobot 0,087), Pala (0,041), Batu Gunung

(0,034), Semangka (0,034) dan Pasir Sungai (0,033).

 Kabupaten Halmahera Barat : Ikan Cakalang (tangkap) (skor terbobot 0,051), Kelapa (0,046),

Pisang (0,044), Ubi kayu (0,034) dan Ayam Buras (0,029).

 Kabupaten Halmahera Selatan : Gula Merah (0,044), Ikan Asin (0,044), Ikan Cakalang (tangkap)

(0,043), Kerupuk Ikan (0,039), Kopra (0,036).

Kabupaten Halmahera Tengah: Ikan Cakalang (tangkap) (0,043), Speedboat (0,039), Pala

(0,037) , Mobil Lintas Malut (0,035), Meubel Kayu (0,031)

 Kabupaten Kepulauan Sula : Ikan Kakap Merah (0,039), Ikan Cakalang (tangkap) (0,038), Hasil

Laut (0,034), Ikan Kerapu (keramba) (0,033), dan Ikan Tuna Tangkap (0,032).

 Kabupaten Pulau Morotai : Rumah Makan (umum) (0,042), Kayu (0,039), Meubel Kayu

(0,037), Truk Barang (0,036), dan Speedboat (0,031).

Kota Ternate : Truk Barang (0,041), Photo Copy (0,037), Speedboat (0,028), Hotel (melati)

(0,027), dan Penyewaan Tenda Kursi (0,027).

 Kota Tidore Kepualauan : Ikan Cakalang (tangkap) (0,048), Cengkeh (0,038), Kelapa Dalam

(0,032), Pala (0,031), dan Ubi Kayu (0,029)

Selain itu, terdapat 10 KPJU Unggulan di Tingkat Provinsi Maluku Utara yang dihasilkan dari penilaian kembali terhadap KPJU Unggulan di tingkat kota/kabupaten dengan metode Borda dan metode Bayes adalah Ikan Cakalang (tangkap) (0,090), Cengkeh (0,035), Padi Sawah (0,035), Pala (0,035), Speedboat (0,033), Kelapa (0,032), Angkutan Barang Truk (0,031), Wisata Alam (0,030) , Meubel Kayu (0,030) dan Rumah Makan (umum) (0,029).

Penanganan dan pengembangan KPJU Unggulan Lintas Sektor di Provinsi Maluku Utara, khususnya di 9 (sembilan) kabupaten/kota dan di tingkat provinsi yang diteliti perlu menggunakan

titik kekuatan (yang selanjutnya dikembangkan menjadi competitive advantages dan nilai jual) dan mengeliminasi titik kritisnya (kelemahan), serta memanfaatkan peluang yang tersedia.

a. Titik kekuatan yang dimaksud secara umum adalah KPJU yang terpilih umumnya memang KPJU yang sudah unggul di sektornya, baik dalam aspek kapasitas produksinya, luas lahan, serapan tenaga kerja dan kontribusinya bagi perekonomian daerah.

b. Titik kritis yang dimaksud secara umum adalah lebih kepada persoalan biaya produksi/proses yang masih tinggi, tingkat produktivitas yang belum optimal, teknologi pengembangan yang belum ada/minim, teknologi pasca panen untuk peningkatan nilai tambah, dan perluasan akses pasar.

Rekomendasi 1. Rekomendasi Penetapan KPJU Unggulan

a. Direkomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota yang diteliti untuk menetapkan 5 KPJU Unggulan dan Potensial hasil penelitian ini (sebagaimana telah disebutkan sebelumnya) sebagai KPJU Unggulan dan Potensial daerah.

b. Direkomendasikan kepada Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk menetapkan 10 KPJU Unggulan hasil penelitian ini (sebagaimana telah disebutkan sebelumnya) sebagai KPJU Unggulan Provinsi.

Dokumen terkait