• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sektor Pertanian Diobral Murah ke Asing

Dalam dokumen Suara Pembaruan Agraria Edisi X Maret Me (Halaman 37-40)

D

i tengah kebutuhan mendesak akan kemandirian dan konsolidasi modal dalam negeri yang melibatkan tenaga dan modal produktif rakyat petani sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, rezim SBY justru melahirkan kebijakan liberalisasi sektor pertanian. Pada 23 April 2014 lalu, Perpres 39/2014 tentang “Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal” diberlakukan. Pepres tersebut semakin meyakinkan penyimpangan ke arah liberalisasi penuh sistem ekonomi Indonesia.

Diakhir periode kekuasaan, SBY justru meninggalkan kebijakan yang akan semakin menyingkirkan petani dan pertanian dari tangan rakyat. Padahal warisan buruknya sudah

demikian banyak. Sektor Pertanian dalam Perpres tersebut dijadikan salah satu bidang usaha yang diliberalisasi dengan kepemilik- an modal asing 30-95% (daftar terlampir). Perpres tersebut lahir dari pelakasnaan UU No 25/2007 Tentang Penanaman Modal yang sangat liberal. Kebijakan tersebut berdampak pada tersingkirnya tenaga produktif pertani- an, baik dalam bentuk tenaga produksi tani dan modal.

Dibukanya investasi pertanian pangan, industri bibit hingga GMO kepada investor asing, semakin menandakan bahwa rencana pembangunan pertanian nasional kita bukan mentransformasikan petani menjadi pemilik dan pelaku usaha modern yg disupport pe- merintah melalui tanah, modal dan teknologi dalam skema reforma agraria.

Dibukanya investasi ini akan semakin membawa perubahan aktor pertanian pa- ngan ke arah penguasaan korporasi, ini me- lanjutkan trend yg telah terjadi, dimana jum- lah petani menurun hingga 5,04 juta rumah tangga dan jumlah perusahaan pertanian pa- ngan yg menguasai pangan masyarakat se- makin meningkat hingga 5.486 perusahaan (Sensus Pertanian 2013).

Di saat kondisi petani Indonesia berada dalam kondisi miskin berat karena berbagai faktor akibat hilangnya peran perlindungan negara, pemerintah justru semakin aktif me- nyengsarakan petani dengan kebijakan libe- ralnya di sektor pertanian. Petani akan sema- kin cepat bertransformasi menjadi buruh tani yang secara modal (capital) tidak dilibatkan sebagai unsur pokok pembangunan nasional. Rezim SBY telah menggagalkan semangat kolektifisme dan sistem ekonomi kekeluar- gaan seperti yang diamanatkan UUD 1945 Pasal 33 dengan membelokan arah sektor pertanian kepada dominasi modal asing.

KPA menilai bahwa rezim SBY telah gagal total membangun industri pedesaan

berbasis ekonomi kerakyatan yang didam- bakan oleh UUD 1945 khususnya Pasal 33. Secara substansial KPA menilai bahwa te- lah terjadi penyimpangan sistematis cita-cita kemerdekaan 1945 oleh rezim SBY dengan mengundang dominasi modal asing dalam sektor-sektor ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak.

KPA menilai bahwa dengan mengeluar- kan Perpres 39/2014, Rezim SBY telah me- ngukuhkan diri sebagai perpanjangan tangan penjajahan model baru dengan menyediakan karpet merah bagi jalannya liberalisasi pe- nuh. Pelibatan modal asing yang dominan akan semakin merapuhkan struktur ekonomi nasional yang semakin timpang.

KPA menilai bahwa menyerahkan sektor pertanian kepada modal asing sama saja de- ngan menyerahkan leher kedaulatan dan na- sib bangsa ke pada pasar bebas yang liberal. Kami menilai bahwa kebijakan liberalisasi melalui perpres tersebut akan semakin me- lemahkan kedaulatan nasional, semakin me- minggirkan usaha pertanian rakyat, semakin menggagalkan industri pertanian pedesaan berbasis ekonomi kerakyatatan dan semakin menghilangkan modal kekuatan produktif rakyat dalam agenda pembangunan nasional. Akumulasi modal asing akan semakin men- jauhkan Indonesia dari kemandirian sebagai bangsa dan mendorong ancaman kerawanan di dalam negeri.

Atas uraian di atas, KPA mengecam ke- ras atas lahirnya Perpes 39/2014 dan menye- rukan kepada organisasi masyarakat sipil pro Reforma Agraria dan serikat tani di seluruh Indonesia untuk menggugat lahirnya Perpres tersebut. Kami mendesak dicabutnya Perpres tersebut karena akan mewariskan krisis eko- nomi dan hancurnya sektor pertanian karena labilnya struktur modal asing ala pasar bebas yang diundang Rezim SBY.

Lampiran 1. Daftar Peraturan Kepemilikan Modal Asing di Sektor Pertanian da- lam Perpres 39/2014 Tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal

1) Kepemilikan modal asing maksimal 49% dengan usaha budidaya tanaman pa- ngan pokok dengan luas lebih dari 25 Ha yaitu Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Tanaman Pangan lainnya (ubi kayu dan ubi jalar) melalui rekomendasi menteri pertanian.

2) Kepemilikan modal asing maksimal 95% dan perizinan khusus Usaha industri perbenihan perkebunan dengan luas 25 Ha atau lebih melalui rekomendasi menteri per- tanian. Jenis tanaman antara lain, jarak pagar, tanaman pemanis lainnya, tebu, tembakau, bahan baku tekstil dan kapas, jambu mete, kelapa, kelapa sawit, tanaman untuk bahan mi- numan (teh, kopi, kakao), lada, cengkeh, minyak atsiri, tanaman obat/bahan farmasi (di luar holtikultura), tanaman rempah lainnya, tanaman karet dan penghasil getah lainnya, tanaman lainnya yang tidak diklasifikasikan di tempat lain.

3) Kepemilikan modal asing hingga 95% dan perizinan khusus Usaha perkebunan dengan luas 25 Ha atau lebih sampai dengan luasan tertentu tanpa unit pengolahan dengan rekomendasi menteri pertanian. Jenis tanaman, antara lain tanaman jarak pagar, tanaman pemanis lainnya, tebu, tembakau, bahan baku tekstil dan kapas, jambu mete, kelapa, kelapa sawit, tanaman untuk bahan minuman (teh, kopi, kakao), lada, dengkeh, minyak atsiri, ta- naman obat/bahan farmasi (di luar holtikultura), tanaman rempah lainnya, tanaman karet dan penghasil getah lainnya.

4) Kepemilikan modal asing hingga 95% dan perizinan khusus Usaha perkebun- an dengan luas 25 Ha atau lebih yang terintegrasi dengan unit pengolahan dengan ka- pasitas tertentu. Jenis usaha antara lain: perkebunan jambu mete dan industri biji mete kering dan Cashew Nut Shell Liquid (CNSL); Perkebunan lada dan industri biji lada pu- tih kering dan biji lada hitam kering; Perkebunan jarak dan industri minyak jarak pagar; Perkebunan tebu, industri gula pasir, pucuk tebu dan Bagas; Perkebunan tembakau dan industri daun tembakau kering; perkebunan kapas dan industri serat kapas; perkebunan kelapa dan industri minyak kelapa; perkebunan kelapa dan industri kopra, serat (fiber), Arang Tempurung, debu (dust), Nata de Coco, Perkebunan kelapa sawit dan industri mi- nyak kelapa sawit (CPO), Perkebunan kopi dan industri pengupasan, pembersiahan serta sortasi kopi; perkebunan kakao dan industri pengupasan, pembersihan dan pengeringan kakao; perkebunan teh dan industri teh hitam/teh hijau; perkebunan cengkeh dan indus- tri bunga cengkeh kering; perkebunan tanaman minyak atsiri dan industri minyak atsiri; perkebunan karet dan industri sheet, lateks pekat; perkebunan biji-bijian selain kopi, kakao dan industri pengupasan dan pembersihan biji-bijian selain kopi dan kakao.

5) Modal asing juga bisa masuk sampai maksimal 95% atas rekomendasi Menteri Pertanian untuk usaha industri pengolahan hasil perkebunan, yaitu: Industri Minyak Mentah dari Nabati dan Hewani; Industri Kopra, Serat, Arang Tempurung, Debu, Nata de Coco; Industri Minyak Kelapa; Industri Minyak Kelapa Sawit; Industri Gula Pasir, Pucuk Tebu, dan Bagas; Industri Teh Hitam/Teh Hijau; Industri Tembakau Kering; Industri Jambu mete menjadi biji mete kering; dan Industri Bunga Cengkeh Kereng.

6) Kepemilikan modal asing maksimal 30% di bidang usaha perbenihan holtikultu- ra, melupiti: perbenihan tanaman buah semusi, perbenihan anggur, perbenihan buah tro- pis, perbenihan jeruk, perbenihan apel dan buah batu, perbenihan buah beri, perbenihan tanaman sayuran semusim, perbenihan tanaman sayuran tahunan, perbenihan tanaman obat, perbenihan jamur, perbenihan tanaman florikultura.

7) Kepemilikan modal asing 30% di bidang usaha holtikultura yaitu budidaya tanam- an buah semusim, anngurm buah tropis, jeruk, apel dan buah batu, beri, sayuran daun (an- tara lain: kubis, sawit, bawang daun, seledri).

8) Kepemilikan modal asing 30% untuk bidang usaha industri pengolahan holtikul- tura dan usaha labolatorium uji mutu holtikultura serta pegusahaan wisata agro holtikul- tura dan Usaha jasa holtikultura lainnya seperti usaha jasa pascapanen, usaha perangkaian bunga/Florist/dekorator, konsultan pengembangan holtikultura, landscaping, jasa kur- sus holtikultura.

9) Kepemilikan modal asing hingga 49% dalam bidang usaha penelitian dan pe- ngembangan ilmu teknologi dan rekayasa: sumber daya genetik pertanian dan produk GMO (rekayasa genetika) melalui rekomendasi dari menteri pertanian.

Pemerintah Harus Menghentikan Laju Ahli Fungsi

Dalam dokumen Suara Pembaruan Agraria Edisi X Maret Me (Halaman 37-40)

Dokumen terkait