Sumber data BPS (data diolah)
Sedangkan jika dibandingkan dengan capaian nasional dan provinsi lain di pulau Jawa, share kontribusi sektor industri dapat dilihat pada grafik berikut :
34,96
14,09 13,6
10,36
4,38
Industri pengolahan Pertanian, kehutanan dan perikanan Perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor Konstruksi Jasa pendidikan
RenstraDISPERINDAG
29
Prov.Jateng 2018-2023
Gambar 2.7.
Perbandingan Kontribusi Sektor Industri Jawa Tengah Terhadap PDB/PDRB dengan Nasional dan Provinsi Lain
Di Pulau Jawa
Sumber data BPS (data diolah)
Berdasarkan grafik tersebut diatas, dapat dilihat bahwa kontribusi sektor industri terhadap PDRB Jawa Tengah selama kurun waktu 5 tahun terakhir masih lebih tinggi dibandingkan dengan nasional dan 4 (empat) Provinsi lain di pulau Jawa, meskipun masih lebih rendah dari Provinsi Jawa Barat.
Lima sektor manufaktur yang diharapkan memperkuat fundamental struktur industri Jawa Tengah adalah industri makanan dan minuman, otomotif/ komponen, elektronik, kimia dan tekstil. Sektor ini memiliki dampak potensi terhadap industri lain, besaran investasi dan penetrasi pasar yang cukup signifikan. Ketersediaan bahan baku, harga energi yang kompetitif, sumber daya manusia (SDM) yang kompeten serta kemudahan akses pasar dan pembiayaan sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan kualitas mutu produk, efisiensi dan produktivitas.
Industri makanan dan minuman, termasuk dalam sektor andalan di industri pengolahan non migas. Ini dibuktikan dengan kinerja yang positif dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2017, kontribusi sektor makanan dan minuman mencapai 33,47 persen terhadap industri pengolahan non migas Jawa Tengah. Kontribusi dominan makanan dan minuman terhadap industri pengolahan menunjukan sektor ini
21,03 21,07 20,99 20,51 20,16
19,86 37,3
34,7 33,52 32,55 31,88 31,2 43,22 43,64 43,07 42,57 42,29 42,16
35,21
35,67 35,08 34,9 34,96 34,5
28,99 29,49 29,54 29,22 29,29 29,73
13,62 13,59 13,11 13,22 13,12
12,99
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
2013 2014 2015 2016 2017 2018
Nasional DKI Jakarta Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur DI Yogyakarta
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
RenstraDISPERINDAG
30
Prov.Jateng 2018-2023
sangat strategis bagi perekonomian, mengingat industri pengolahan sendiri berkontribusi terbesar terhadap PDRB Jawa Tengah. Potensi dan keunggulan industri agro, khususnya industri makanan dan minuman menyebar di seluruh Provinsi di Jawa Tengah dan masing-masing Kabupaten/Kota memiliki kekhasan produk. Untuk itu dibutuhkan perhatian yang serius dari berbagai tingkat pemerintah agar pelaku usaha industri makanan dan minuman baik yang berskala besar, menengah maupun kecil bisa berkembang dan menjadi raja di pasar dalam negeri, sehingga tidak hanya menjadi sasaran eksploitasi bagi produk-produk makanan dan minuman asing.
Pemerintah terus memfasillitasi industri makanan dan minuman Jawa Tengah melalui berbagai kebijakan untuk memperkenalkan produk, kualitas dan citra merek serta mendorong pelaku usaha dibidang makanan dan minuman memenuhi aspek utama dalam penyediaan produk pangan yang aman dan bermutu.
Langkah-langkah yang telah dilakukan antara lain : mendorong penerapan SNI, Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), Good Manufacturing Practices (GMP), keamanan pangan, dan sanitasi pangan, serta penyelenggaraan maupun partisipasi pameran. Selain itu juga melakukan pendampingan dan pemantauan untuk menjamin bahwa perusahaan menerapkan cara pengolahan dan sistem manajemen keamanan pangan yang baik, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan serta distribusi dan perdagangannya, serta mendorong industri makanan dan minuman agar mampu berproduksi dengan skala ekonomi yang layak, ditopang manajemen yang baik dan pemanfaatan teknologi. Namun demikian, kendala industri makanan dan minuman untuk berkembang bukan hanya masalah infrastruktur, ketrampilan SDM, manajemen dan permodalan saja, tapi juga sinkronisasi dan sinergi aturan dan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.
RenstraDISPERINDAG
31
Prov.Jateng 2018-2023
Sementara itu Pasar otomotif nasional yang terus berkembang, menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pasar, tetapi sudah berkembang menjadi basis produksi dan ekspor yang diperhitungkan. Ada tiga faktor utama yang membuat potensi pasar otomotif semakin besar. Pertama, jumlah penduduk Indonesia terbesar di ASEAN dan masuk dalam empat besar negara berpenduduk terbanyak di dunia. Kedua, pertumbuhan ekonomi relatif stabil sehingga daya beli masyarakat meningkat. Ketiga, pembangunan infrastruktur jalan yang semakin gencar.
Perkembangan otomotif yang berimplikasi pada mobilitas produk transportasi nasional menuntut kualitas komponen dengan presisi yang tinggi. Tuntutan ini harus dijawab oleh IKM industri komponen dengan mampu memberikan produk komponen yang siap pakai untuk industri otomotif. Oleh karena itu diperlukan peran pemerintah sebagai motivator dan fasilitator.
Untuk itu langkah strategis yang telah dilakukan dalam mewujudkan kemandirian dan mendorong kapasitas produksi industri otomotif antara lain :
a. Kemudahan akses bahan baku industri alat transportasi dan komponen otomotif antara lain baja, besi dan alumunium dengan harga yang memadai sehingga hasil akhir produk dapat bersaing di pasar;
b. Peningkatan kemampuan SDM industri alat transportasi dan komponen otomotif, manajemen industri, infrastruktur industri dan penelitian dan pengembangan (RnD)
c. Pemberdayaan pasar industri komponen otomotif dengan menggandeng industri perakitan kendaraan bermotor serta mendorong peningkatan nilai tambah industri otomotif nasional melalui penggunaan produk dalam negeri (P3DN) serta penggunaan komponen lokal.
d. Kemitraan antara industri inti dengan industri pendukung komponen otomotif di Jawa Tengah.
Ditengah gempuran produk-produk dari China, produk karoseri Jawa Tengah mampu menembus pasar luar negeri.
Kreativitas dan inovasi membuat sejumlah pengusaha karoseri
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
RenstraDISPERINDAG
32
Prov.Jateng 2018-2023
yakin dapat bertahan ditengah persaingan yang semakin ketat.
Industri khusus karoseri Jawa Tengah telah mampu menembus pasar ekspor ke Kenya, Nigeria, Bangladesh dan Suriname dimana produk yang paling diminati umumnya adalah ambulance dan minibus.
Industri karoseri Jawa Tengah menjadi bagian dalam penyediaan Bus Rapid Trans (BRT) oleh Kementerian Perhubungan RI sebanyak 3.000 unit yang diselesaikan sejak tahun 2014 hingga 2019 yang dilaksanakan oleh 7 (tujuh) perusahaan karoseri di Indonesia dimana 3 (tiga) diantaranya berasal dari Jawa Tengah, yaitu karoseri LAKSANA Ungaran, NEW ARMADA dan TRI SAKTI Magelang. Selain itu, karoseri LAKSANA menjadi penyedia tunggal bus Trans Jakarta, khususnya bus gandeng.
Bahkan, baru-baru ini perusahaan karoseri yang berbasis di Ungaran, Jawa Tengah, LAKSANA akan mengekspor bus buatannya ke Bangladesh sebanyak 1.034 unit, setelah sebelumnya mengekspor bus ke Fiji sebanyak 200 unit.
Dalam rangka mendorong daya saing industri alat transportasi dan komponen otomotif ini, Pemerintah melakukan fasilitasi sertifikasi ISO 9001 terhadap 15 perusahaan industri komponen dan karoseri, peningkatan kompetensi SDM pengelasan dan gambar teknis bagi industri alat transportasi, fasilitasi gelar/akses produk dan bahan baku, pelatihan animasi digital dan permesinan serta assessor bagi IKM karoseri. Kota Semarang, Kab. Tegal, Batang, Pati, Magelang, Klaten, Karanganyar, Purbalingga dan Banyumas menjadi wilayah terdepan dalam pengembagan industri transportasi dan komponen otomotif. Industri komponen Kab. Tegal telah membuktikan adanya peningkatan kualitas terhadap produknya dengan mensuplai pabrikan besar, untuk industri alat berat seperti Komatsu, Catterpilar dan Sanwa. Untuk industri otomotif Astra Honda Motor, Astra Daihatsu Motor dan lain-lain. Bahkan produk komponen otomotif telah merambah pasar ekspor ke Filipina dan Malaysia, yaitu komponen otomotif yang diproduksi oleh PT. Sinar Agung Selalu Sukses, Karanganyar.
RenstraDISPERINDAG
33
Prov.Jateng 2018-2023
Beberapa waktu lalu Toyota Manufacturing Motor Indonesia (TMMIN) juga telah melakukan pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah untuk pengembangan supplyer industri komponen bagi produk-produk Toyota. Sebagai langkah awal PT. Herkulon sudah berhasil memasok nonwofen part bagi produk Toyota. Selanjutnya 3 (tiga) industri dari Kab. Klaten yaitu Baja Kurnia, Atma Jaya dan Koperasi Batur Kurnia juga dalam tahap pengembangan oleh pihak TMMIN. Disamping juga kerjasama dengan PT. INKA sebagai pemasok komponen kereta api.
Adapun target yang akan dicapai adalah persentase kontribusi sektor industri terhadap PDRB Jawa Tengah sebesar 35,00%
belum dapat terpenuhi, yaitu hanya sebesar 34,16% atau 97,60%. Ini disebabkan karena adanya kontraksi pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 24,81%. Selain itu, juga didorong oleh efek musim beberapa komoditi pertanian, kehutanan dan perikanan yang memasuki musim tanam dan beberapa komoditi perkebunan yang telah melewati musim panen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah melaporkan bahwa industri manufaktur besar dan sedang tahun 2017 tumbuh sebesar 4,74%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan produksi industri makanan, industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furniture) dan barang anyaman dari bambu.
Meskipun secara umum terjadi kenaikan pertumbuhan produksi industri pengolahan/manufaktur, namun terdapat penurunan besar pada produksi furniture yaitu dari 6,45%
menjadi 2,43%. Hal ini antara lain dimungkinkan karena adaya pelambatan ekonomi global dan krisis Eropa yang cukup berat, sedangkan pangsa pasar produk furniture Jawa Tengah pada umumnya ke Amerika dan Eropa, yang menyebabkan penurunan ekspor furniture Jawa Tengah sebesar 16 %.
Disamping itu, industri mebel di Jawa Tengah yang sebagian industri kecil dan menengah tergerus oleh industri besar, seperti industri garmen, tekstil dan elektronika. Hal ini terjadi di Kabupaten Kudus dan Jepara.
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN P R O V I N S I J A W A T E N G A H 2018-2023
RenstraDISPERINDAG
34
Prov.Jateng 2018-2023 34,96
14,09 13,6
10,36
4,38
Industri pengolahan Pertanian, kehutanan dan perikanan Perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor Konstruksi Jasa pendidikan
Persentase Kontribusi Sektor Terhadap PDRB Jateng
Penurunan terbesar berikutnya adalah industri hasil tembakau yang disebabkan karena tekanan regulasi dan masyarakat anti rokok. Industri kimia farmasi dan obat tradisional belum dapat stabil karena permintaan masyarakat terhadap obat-obatan mengikuti BPJS/asuransi wajib dimana tidak semua produk farmasi digunakan sebagai obat BPJS, khusus obat tradisional industri besar saat ini sedang mencari pasar luar negeri yang stabil.
2.3.2 Perdagangan
Perdagangan sebagai salah satu sektor tersier pendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah justru menjadi salah satu sektor penopang utama perekonomian Jawa Tengah dengan share kontribusi pada tahun 2017 mencapai 13,6% dari total PDRB.
Berdasarkan klasifikasi Badan Pusat Statistik, sektor perdagangan meliputi kegiatan ekonomi/lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. Kinerja sektor perdagangan Jawa Tengah dalam berkontribusi terhadap PDRB dibandingkan dengan 5 (lima) sektor utama lainnya dapat dilihat pada grafik berikut :
Gambar 2.8.