• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sektor Transportas

Dalam dokumen Ekonomika Vol.1 No.1 Juni 2012 (Halaman 100-106)

Kota Yogyakarta

2. Sektor Transportas

a. Undang-undang Nomor 14 tahun 1992

kendaraan terhadap ketentuan ambang batas emisi gas buang.

b. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan: Berdasarkan PP ini maka pemeriksaan kendaraan di jalan dapat dilakukan untuk memeriksa kelengkapan administrative serta kelaikan jalan kendaraan. Hal yang berhubungan dengan pengendalian pencemaran udara adalah dimungkinkannya pemeriksaan di jalan untuk memeriksa emisi gas buang kendaraan sebagai upaya untuk melihat kepatuhan pemilik kendaraan terhadap ketentuan ambang batas emisi gas buang kendaraan.

c. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi: PP ini mengatur tentang persyaratan teknis yang harus dimiliki oleh kendaraan yang akan diproduksi di Indonesia. Hal yang terkait dengan pengendalian pencemaran udara adalah kewajiban untuk melaksanakan pengujian emisi sebagai bagian dari uji tipe maupun uji berkala kendaraan. Uji tipe dilakukan terhadap semua jenis kendaraan yang akan diproduksi/dirakit/diimpor di Indonesia, kecuali untuk kendaraan bermotor dengan jumlah produski/rakit/ impor maksimum 10 unit. Sedangkan uji berkala diwajibkan untuk kendaraan komersial sedikitnya sekali dalam 6 bulan. Khusus untuk sepeda motor dan mobil penumpang bukan umum,

Sulistya Rini Pratiwi

dalam UU23/1997 dan PP41/1999. c. Berbagai kebijakan yang diambil oleh

Kementerian Lingkungan Hidup pada dasarnya merupakan bagian dari pengendalian pencemaran udara secara komprehensif.

d. Penetapan EURO II sebagai standar emisi kendaraan tipe baru menunjukkan komitmen KLH terhadap upaya pengendalian pencemaran udara. e. Strategi KLH yang mengedepankan

kolaborasi dengan berbagai stakeholder telah berhasil mendorong penghapusan bensin bertimbal. Saat ini bensin tanpa timbal sudah tersedia di beberapa daerah, seperti Jabodetabek, Cirebon, Denpasar, Batam.

2. Weakness (Kelemahan)

a. Kementerian Lingkungan Hidup belum menyusun kebijakan teknis pengendalian pencemaran udara secara nasional, sebagaimana diamanatkan PP41/1999. b. Masih banyak pedoman teknis yang

harus disusun oleh Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka pengimplementasian UU23/1997 dan PP41/1999 secara efektif serta dalam rangka pembinaan daerah.

c. Emisi lintas batas serta pengendaliaannya belum diakomodasi dalam peraturan. d. Pendekatan insentif ekonomi tidak

banyak digunakan untuk menanggulangi pencemaran udara.

e. Penempatan KLH dibawah Menkokesra mengakibatkan koordinasi dengan sumber pencemar tidak dapat dilakukan secara langsung.

3. Opportunity (Peluang)

a. Upaya penghematan BBM yang digalakkan pemerintah saat ini memberikan timing yang tepat untuk mengangkat isu pencemaran udara, mengingat keterkaitan yang sangat erat antara penggunaan BBM dan pencemaran udara.

b. Harmonisasi tingkat regional dan

internasional dalam hal standar emisi kendaraan.

c. Insentif iskal dan kepabeanan untuk investasi dan pemanfaatan energi alternatif ramah lingkungan.

d. Adanya badan usaha lain yang dapat melaksanakan kegiatan pendistribusian bahan bakar minyak diyakini merupakan salah satu opsi untuk mempercepat pengadaan bensin dengan kualitas yang lebih baik, berdasarkan spesiikasi yang ditentukan oleh Ditjen Migas.

e. Kebijakan energi (energy mix): Departemen ESDM telah menetapkan energy mix Indonesia hingga 2020. Dengan adanya energy mix ini maka ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi nasional diharapkan dapat dikurangi secara signiikan.

4. Threat (Ancaman)

a. Pada saat pertumbuhan ekonomi masih merupakan prioritas utama pemerintah, pengendalian pencemaran udara dapat terlupakan.

b. Kebijakan subsidi BBM merupakan insentif untuk peningkatan pencemaran udara.

c. Positioning udara lemah dibanding isu lain, seperti isu air, sehingga permasalahan pencemaran udara terkendala untuk ”diarus-utamakan”.

d. Pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan secara efektif mengingat tingginya kandungan timbal dalam bensin serta belerang dalam solar. e. Pendanaan merupakan permasalahan

utama dari kegagalan penghapusan bensin bertimbal.

KESIMPulAn

Berdasarkan hasil identiikasi faktor internal dan eksternal dan hasil pembobotan dari masing-masing faktor, maka formulasi strategi kebijakan pemerintah pada peran sertanya dalam mengurangi pencemaran

Evaluasi Kebijakan Pemerintah dalam Peran Sertanya Mengatasi Polusi udara...

polusi udara berdasarkan Analisis SWOT yaitu:

1. Strategi SO:

- Pemerintah harus segera melengkapi berbagai peraturan yang terkait dengan upaya pengendalian pencemaran udara. Dalam kesempatan yang sama pemerintah perlu menyesuaikan berbagai peraturan perundangan terkait dengan pengendalian pencemaran udara dengan UU32/2004 tentang otonomi daerah; - Untuk mendorong pengendalian

emisi dari kendaraan yang sudah beroperasi telah banyak dilakukan oleh kementerian lingkungan hidup, terutama untuk kendaraan-kendaraan pribadi, diantaranya lomba emisi dan pengujian emisi di berbagai daerah, penyusunan pedoman pemeriksaan dan perawatan, penyusunan draft ambang batas emisi kendaraan tipe lama, dan lain-lain. 2. Strategi ST:

- Sesuai dengan amanat PP41/1999 perlu disusun dokumen kebijakan teknis pengendalian pencemaran udara yang akan digunakan sebagai dasar untuk mengarus-utamakan serta pengendalian pencemaran udara di perkotaan;

- Untuk penegakan hukum lingkungan perlu inisiatif dari pemerintah untuk menerapkan insentif ekonomi untuk memotivasi pelaku kegiatan menaati peraturan lingkungan

3. Strategi WO:

- Perlu dibentuk team yang bersifat

pencemaran udara yaitu dengan pemanfaatan gas sebagai bahan bakar untuk transportasi dan industri.

4. Strategi WT:

- Perlu ditinjau ulang untuk menempatkan KLH di bawah koordinasi Menko Perekonomian;

- Pemerintah perlu mengalokasikan dana yang memadai untuk pengendalian pencemaran udara di perkotaan, perlu dicari terobosan baru untuk pengadaan pendanaan tersebut, misalnya pengalokasian dari pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, dan lain-lain

SARAn

Dengan dialihkannya kewenangan pengandalian pencemaran udara dari tingkat pusat menjadi kewajiban daerah, pemerintah pusat seharusnya juga menyiapkan dana untuk pelimpahan wewenangan tersebut. Sehingga pemerintah daerah khususnya Pemerintah Kota Yogyakarta juga dapat lebih tegas dengan menetapkan kebijakan yang menyangkut pendanaan bagi pengendalian pencemaran udara. Selain itu, Pemerintah atau Lembaga serta organisasi yang khusus menangani masalah lingkungan baik di pusat maupun daerah terutama menentukan penyimpangan, denda, kepada siapa denda harus dibayar, dan lain-lain, serta yang membuat laporan tahunan lingkungan pertahunnya. Kita sebagai masyarakat yang merasakan dampak akan pencemaran

Sulistya Rini Pratiwi

REFEREnSI

Anonim, 1992, Undang-undang Nomor 14 tahun 1992 tentang Lalulintas dan angkutan Jalan Anonim, 1993, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan

di Jalan, Jakarta.

Anonim, 1993, Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaran dan Pengemudi, Jakarta.

Anonim, 1997, Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup

Anonim, 2000, ”Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara”, Jakarta.

Anonim, 2002, Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 153 tahun 2002 tentang Baku Mutu Udara Ambien Daerah Istimewa Yogyakarta.

Anonim, 2003, Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 167 tahun 2003 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Bergerak Kendaraan Bermotor di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Anonim, 2003, Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 169 tahun 2003 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Anonim, 2003, Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 182 tahun 2003 tentang

Program Langit Biru di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kementrian Dalam Negeri , 2007, Peraturan Menteri Dalam Negeri No.1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, Yogyakarta.

Campbell, B., 1993, Monetary Valuation of Tree-Based Resources in Zimbabwe: Experience and Outlook, University of Zimbabwe.

Cesar, H., 2000, Economic valuation of Improvement of Air Quality in the Metropolitan Area of Mexico City, Institute for Environmental Studies (IVM) W00/28 + W00/28 Appendices (http://www.vu.nl/ivm) , Vrije Universiteit, Amsterdam.

Rangkuti, Freddy, 1997, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Gramedia Pustaka Utama, Yogyakarta.

Samudro, Bhimo Rizki, 2004, “Analisis Ekonomi Dampak Gas Buang Kendaraan Bermotor terhadap Kesehatan Masyarakat, Studi Kasus Kabupaten Sleman”, Tesis, Ilmu Ekonomi- UGM, Yogyakarta

Tejo. S, Hario. A, 2003, Analisis Ekonomi Pengembangan Hutan Kota Studi Kasus: Pengembangan Hutan Kota dan Lingkungan Kampus UGM Yogyakarta, Skripsi, Ilmu Ekonomi-UGM, Yogyakarta.

Evaluasi Kebijakan Pemerintah dalam Peran Sertanya Mengatasi Polusi udara...

Tjasyono, Bayong, 2004, Klimatologi, ITB, Bandung.

Wardhana, Arya Wisnu, 2004, Dampak Pencemaran Lingkungan, Edisi Revisi, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Aceh utara J u R n A l E K O n O M I K A I n D O n E S I A

Volume 1, Nomor 1, Juni 2012 ISSN: 2338-4123

Hal. 101-119

Analisis Indeks Pembangunan Manusia

Dalam dokumen Ekonomika Vol.1 No.1 Juni 2012 (Halaman 100-106)

Dokumen terkait