Menurut Mardiasmo (2019), self assessment system adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberikan kewenangan kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya jumlah pajak yang harus dibayar. Sebelum ditetapkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983, fiskus melakukan perhitungan pajak. Sistem pemungutan tersebut dikenal sebagai official assessment system. Perpindahan dari official assessment ke self assessment ditandai sebagai reformasi perpajakan. Ciri-ciri pemungutan pajak self assessment system antara lain (Mardiasmo, 2019):
1. “Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada Wajib Pajak sendiri”.
2. “Wajib Pajak aktif untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang”.
3. “Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi”.
Dalam sistem ini, Wajib Pajak memahami peraturan perpajakan yang sedang berlaku, mampu menghitung pajak, serta memiliki kesadaran akan pentingnya membayar pajak. (Migang & Wahyuni, 2020). Pelaksanaan self assessment system merupakan beban yang berat bagi Wajib Pajak, karena segala kegiatan untuk memenuhi kewajiban perpajakan dilakukan oleh Wajib Pajak sendiri. Bagi Pengusaha Kena Pajak, fungsi Surat Pemberitahuan (SPT) adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sebenarnya terutang (Mispa, 2019).
Pengaruh Self Assessment System, Jumlah Pengusaha Kena Pajak, dan Penagihan Pajak Terhadap 41
Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai, Achmad Alfarizi, Universitas Multimedia Nusantara
Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang, “Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan”.
Menurut Mardiasmo (2019), fungsi Surat Pemberitahuan (SPT) adalah sebagai berikut:
1. “Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, sebagai sarana pelaporan dan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang”:
a. “Pembayaran pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak”.
b. “Penghasilan yang merupakan objek pajak dan/atau bukan objek pajak”.
c. “Harta Wajib Pajak”.
d. “Pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotong atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan”.
2. “Bagi Pengusaha Kena Pajak, sebagai sarana pelaporan dan pembukuan besarnya jumlah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang terutang dan pelaporan tentang”:
a. “Kredit Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran”; dan
Pengaruh Self Assessment System, Jumlah Pengusaha Kena Pajak, dan Penagihan Pajak Terhadap 42
Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai, Achmad Alfarizi, Universitas Multimedia Nusantara
b. “Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau melalui pihak ketiga dalam satu Masa Pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan”.
3. “Bagi pemotong atau pemungut pajak, sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut atau disetorkannya”.
Menurut Mardiasmo (2019), Surat Pemberitahuan (SPT) secara garis besar dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. “Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak, yang terdiri dari”:
a. “SPT Masa Pajak Penghasilan”.
b. “SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai”.
c. “SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai bagi Pemungut Pajak Pertambahan Nilai”.
2. “Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak”.
Menurut PER-29/PJ/2015 Pasal 2 Ayat (1), “SPT Masa PPN terdiri dari”:
1. “Induk SPT Masa PPN 1111”; dan
2. “Lampiran SPT Masa PPN 1111”, meliputi:
a. “Formulir 1111 AB untuk rekapitulasi penyerahan dan perolehan”;
b. “Formulir 1111 A1 untuk daftar ekspor BKP Berwujud, ekspor BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP”;
Pengaruh Self Assessment System, Jumlah Pengusaha Kena Pajak, dan Penagihan Pajak Terhadap 43
Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai, Achmad Alfarizi, Universitas Multimedia Nusantara
c. “Formulir 1111 A2 untuk daftar Pajak Keluaran atas penyerahan Dalam Negeri dengan Faktur Pajak”;
d. “Formulir 1111 B1 untuk daftar Pajak Masukan yang dapat dikreditkan atas Impor BKP dan Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud/JKP dari luar Daerah Pabean”;
e. “Formulir 1111 B2 untuk daftar Pajak Masukan yang dapat dikreditkan atas Perolehan BKP/JKP Dalam Negeri”; dan
f. “Formulir 1111 B3 untuk daftar Pajak Masukan yang tidak dikreditkan atau mendapatkan fasilitas”.
Menurut Waluyo (2017), isi dari Surat Pemberitahuan Masa PPN memuat sebagai berikut:
1. “Jumlah penyerahan”;
2. “Jumlah Dasar Pengenaan Pajak”;
3. “Jumlah Pajak Keluaran”;
4. “Jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan”;
5. “Jumlah kekurangan atau kelebihan pajak”;
6. “Tanggal penyetoran”; dan
7. “Data lainnya yang terkait dengan kegiatan usaha Wajib Pajak”.
Menurut PER-11/PJ/2013, “SPT Masa PPN dapat disampaikan oleh PKP dengan cara”:
1. “Manual, yaitu”:
a. “Disampaikan langsung ke KPP, KP2KP, atau tempat lain yang ditetapkan dengan Peraturan Direktur Jendral Pajak”; atau
Pengaruh Self Assessment System, Jumlah Pengusaha Kena Pajak, dan Penagihan Pajak Terhadap 44
Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai, Achmad Alfarizi, Universitas Multimedia Nusantara
b. “Disampaikan melalui pos, perusahaan jasa ekspedisi atau perusahaan jasa kurir, dengan bukti pengiriman surat”.
2. “Elektronik (e-Filing), yaitu sistem online yang real time melalui satu atau beberapa perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) yang ditunjuk oleh Direktur Jendral Pajak”.
Menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Pasal 1 Ayat (23), “Faktur Pajak adalah bukti pemungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) karena penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau pemberian Jasa Kena Pajak (JKP)”. Faktur Pajak dapat digunakan sebagai bukti pungutan pajak atau sebagai sarana untuk mengkreditkan Pajak Masukan (Waluyo, 2019). Menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Pasal 13 Ayat (1A), Faktur Pajak dibuat pada:
1. “Saat penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak”.
2. “Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak”.
3. “Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan”.
4. “Saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan”.
Menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Pasal 13 Ayat (2A), “untuk faktur pajak gabungan harus dibuat paling lama pada akhir bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak”.
Pengaruh Self Assessment System, Jumlah Pengusaha Kena Pajak, dan Penagihan Pajak Terhadap 45
Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai, Achmad Alfarizi, Universitas Multimedia Nusantara
Menurut Waluyo (2019), Faktur Pajak harus mencantumkan keterangan-keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajakyang paling sedikit memuat keterangan dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-Undang PPN dan PPnBM yang meliputi:
1. “Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP)”;
2. “Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pembeli Barang Kena Pajak”;
3. “Jenis Barang atau Jasa, Jumlah Harga Jual, atau penggantian, dan potongan harga”;
4. “Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dipungut”;
5. “Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang dipungut”;
6. “Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak”; dan
7. “Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak”.
Indikator variabel self assessment system dalam penelitian ini menggunakan dasar pemikiran menurut Migang dan Wahyuni (2020). Indikator variabel tersebut diukur dengan melihat pertumbuhan jumlah Surat Pemberitahuan Masa PPN setiap bulan. Self assessment system menuntut adanya peran aktif dari masyarakat dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya. Kesadaran dan kepatuhan yang tinggi dari Wajib Pajak merupakan faktor terpenting dari pelaksanaan self assessment system, karena dengan sistem ini memungkinkan adanya potensi Wajib Pajak tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya secara baik akibat kelalaian, kesengajaan, atau ketidaktahuan Wajib Pajak atas kewajiban perpajakannya yang akan
Pengaruh Self Assessment System, Jumlah Pengusaha Kena Pajak, dan Penagihan Pajak Terhadap 46
Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai, Achmad Alfarizi, Universitas Multimedia Nusantara
berdampak pada penerimaan pajak (Migang & Wahyuni, 2020). Dengan diterapkannya self assessment system, maka dapat membuat pengusaha kena pajak agar lebih percaya terhadap sistem perpajakan yang diterapkan di DJP. Kewajiban perpajakan untuk memperhitungkan, menyetorkan, melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang terutang seluruhnya ada pada Surat Pemberitahuan (SPT). Peningkatan pemenuhan kewajiban perpajakan akan meningkatkan penerimaan PPN (Junianto et al., 2020).
Menurut Migang dan Wahyuni (2020), Desmon dan Hairudin (2020), dan Mispa (2019), self assessment system berpengaruh positif terhadap penerimaan PPN. Sedangkan menurut Maulida dan Adnan (2017), self assessment system tidak berpengaruh terhadap penerimaan PPN. Berdasarkan penjelasan teori dan hasil dari penelitian sebelumnya, maka dirumuskan hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
Ha1: Self assessment system berpengaruh positif terhadap penerimaan