TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Bata Beton Berlubang
2.3.2 Semen Portland Komposit (PCC)
Semen PCC atau Portland Composite Cement atau Semen Portland komposit, adalah semen Portland yang masuk kedalam kategori blended cement atau semen campur. Semen ini dibuat atau didesain karena dibutuhkannya sifat-sifat tertentu yang mana sifat-sifat tersebut tidak dimiliki oleh semen Portland tipe I.
Untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu pada semen PCC maka pada proses pembuatannya ditambahkan bahan aditif seperti pozzolan, fly ash, silica fume dan lain lain. Menurut SNI 15-7064-2004 [7] maka defenisi Semen Portland Komposit adalah: bahan pengikat hidrolisis hasil penggilingan bersama-sama terak semen
Gambar 2.2 Crumb rubber
13 portland dan gyps dengan satu atau lebih bahan anorganik atau hasil pencampuran antara bubuk semen portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Bahan anorganik tersebut antara lain terak tanur tinggi (blast furnace slag), pozzolan, senyawa silicat, batu kapur dengan kadar total bahan anorganik 6% – 35 % dari massa semen Portland komposit. Sifat-sifat yang dimiliki semen PCC: 1.
Mempunyai panas hindrasi rendah sampai sedang 2. Tahan terhadap serangan sulfat 3. Kekuatan tekan awal kurang, namun kekuatan akhir lebih tinggi.
Ditinjau dari sifat yang dimiliki oleh semen PCC maka semen tersebut dapat digunakan sebagai alternatif atau pengganti semen Portland tipe II, IV atau V. Menurut SNI 15-2049-2004 [8], semen Portland adalah semen hidrolis dengan cara menggiling terak semen portland terutama yang terdiri atas kalsium silikat yang bersifat hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat dan boleh ditambahan dengan tambahan lain. Klinker semen Portland terdiri dari empat unsur oksida yang utama yaitu CaO (kapur) = C; SiO2 (silika) = S; Al2O3 (alumina) = A; dan Fe2O3 (oksida besi) = F serta sejumlah unsur kecil (minor constituent). Sifat kimia utama semen Portland dapat dilihat pada Tabel 1 dan sifat kimia tambahan semen Portland seperti C3A maksimum, C3A minimum, (C3S + 2 C3A), maksimum dan Alkali: (Na2O + 0,658 K2O, maksimum diperlihatkan pada Tabel 2, sifat fisika semen Portland berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 15-2049-2004 [8]). Diharapkan dengan semua kandungan-kandungan kimia yang terkandung dalam semen PCC mampu memiliki daya ikat yang baik apabila telah bercampur dengan material-material lain pembentuk beton. Biro penelitian teknik PT. Semen Tonasa (2012), semen Tipe Portland Composite Cement (PCC) merupakan jenis semen varian baru yang mempunyai karakteristik mirip dengan semen OPC pada umumnya, tetapi semen jenis ini mempunyai kualitas yang lebih baik, ramah lingkungan dan mempunyai harga yang lebih ekonomis. Komposisi bahan baku semen PCC adalah klinker, gypsum dan zat tambahan (additive).
14 Tabel 2.3 Sifat kimia utama semen Portland (SNI 15-2049-2004 [8]
Tabel 2.4 Sifat kimia tambahan semen Portland (SNI 15-2049-2004 [6])
Gambar 2.3 Semen Portland Komposit
15 2.3.3 Agregat Halus
Agregat halus merupakan bahan pengisi diantara agregat kasar sehingga menjadikan ikatan lebuh kuat yang mempunyai BJ 1400 kg/cm. Agregat halus yang baik tidak mengandung lumpur lebih besar 5 %, tidak mengandung bahan organis lebih banyak, terdiri dari butiran yang tajam dan keras serta bervariasi.
Berdasarkan SNI 03-6820-2002, agregat halus adalah agregat dengan besar butir maksimum 4,76 mm berasal dari alam atau hasil alam, sedangkan agregat halus olahan adalah agregat halus yang dihasilkan dari pecahan dan pemisahan butiran dengan cara penyaringan atau lainnya dari batuan atau terak tanur tinggi.
Adapun persyaratan agregat halus menurut SK SNI S-04-1989-F (Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A) adalah :
a. Butir-butirannya tajam dan keras dengan indeks kekerasan ≤ 2.2 b. Kekal, tidak pecah atau hancur oleh cuaca
c. Tidak mengandung lumpur > 5%
d. Tidak mengandung zat organis yang terlampau banyak
e. Modulus kehalusan antara 1.5 – 3.8 dengan variasi butir sesuai standar gradasi
f. Agregat halus dari pantai dapat dipakai asalkan dengan petunjuk dari Lembaga pemeriksaan bahan yang diakui.
Tabel 2.5 Batasan gradasi untuk agregat halus Ukiran saringan
ASTM
Persentase berat yang lolos pada setiap saringan
16
0,150 mm 2 – 10
(Sumber : ASTM C-33)
2.3.4 Air
Air diperlukan agar semen dapat bereaksi (proses pengikatan) serta sebagai bahan pelumas antara butir- butir agregat agar dapat mudah dikerjakan dan dipadatkan. Air yang dapat diminum umumnya dapat digunakan sebagai campuran beton. Air yang mengandung senyawa-senyawa berbahaya , yang tercemar garam, minyak, gula, atau bahan kimia lainnya, bila dipakai dalam campuran beton akan menurunkan kulitas beton, bahkan dapat mengubah sifat-sifat beton yang dihasilkan. Air yang digunakan dapat berupa air tawar (dari sungai, danau, telaga, kolam, situ, dan lainnya), air laut maupun air limbah, asalkan memenuhi syarat mutu yang telah ditetapkan (Mulyono, 2003).
Menurut SNI 2847:2013, air yang digunakan untuk campuran beton harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan.
Gambar 2.4 Agregat Halus
17 2. Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang di dalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan.
3. Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali ketentuan berikut terpenuhi:
a) Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama.
b) Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum.
Jumlah air yang digunakan sangat berpengaruh terhadap kelecakan beton.
Jumlah air yang diperlukan untuk kelecakan tertentu tergantung pada sifat material yang digunakan (Nugraha, Paul. dkk, 2007). Proses hidrasi dalam beton segar membutuhkan air kurang lebih 25% dari berat semen yang digunakan.
Kelebihan air dari proses hidrasi diperlukan untuk syarat kekentalan (consistency) adukan beton untuk mencapai suatu kelecakan yang baik (Dumyati and Manalu, 2015).