KARAKTERISTIK DAN SIFAT MEKANIK BATA INTERLOCK DENGAN SUBSTITUSI CRUMB RUBBER
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk memenuhi persyaratan mencapai gelar Sarjana S1 pada Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara
RICKY MARTIN 17 0404 117
BIDANG STUDI STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
i
KATA PENGANTAR
Salam Sejahtera
Puji dan syukur penulis kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul “Karakteristik Dan Sifat Mekanik Bata Interlock Dengan Substitusi Crumb Rubber ” tepat pada waktunya sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Program Strata Satu (S1) Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Departemen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara.
Dengan rendah hati penulis memohon maaf apabila dalam penulisan Tugas Akhir ini masih terdapat kekurangan dalam penulisan maupun perhitungan. Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini tidak terlepas dari dukungan, bantuan, serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beberapa pihak yang berperan penting yaitu:
1. Ibu Ir. Rahmi Karolina, S.T., M.T. selaku Dosen Pembimbing yang selalu memberikan kepercayaan serta kesempatan bagi penulis untuk mencoba hal- hal baru, dan yang telah banyak memberikan bimbingan yang sangat bernilai, masukan, dukungan serta meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam membantu penulis menyelesaikan Tugas Akhir ini.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. Renita Manurung, M.T. selaku Wakil Dekan I Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Ir. Medis Sejahtera Surbakti, M.T., Ph.D selaku Ketua Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Ir. M. Ridwan Anas, S.T., M.T. selaku Sekretaris Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Dr. Muhammad Aswin, S.T., M.T. selaku Koordinator KBK Struktur Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
6. Bapak Ir. Torang Sitorus, M.T. dan Bapak Dr. Muhammad Aswin, S.T., M.T. selaku Dosen Penguji, atas saran dan masukan yang diberikan kepada penulis terhadap Tugas Akhir ini.
ii 7. Bapak/Ibu seluruh staf pengajar Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara.
8. Seluruh pegawai administrasi Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan selama ini kepada penulis.
9. Bapak Ir. Torang Sitorus, M.T. selaku Kepala Laboratorium Beton Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan izin penggunaan fasilitas Laboratorium Beton Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara dalam kegiatan penelitian dan pengujian Tugas Akhir ini.
10. Ibu Rahmi Karolina, S.T., M.T. selaku dosen pengajar Departemen Teknik Sipil yang telah banyak memberikan dukungan, masukan, dan bantuan berupa alat dan tempat yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
11. Kepada orang tua yang saya sayangi dan hormati, Bapak Rusli dan Ibu Jap Lie Sian yang selalu memberikan doa, kasih sayang, motivasi, dukungan dan materi yang tiada henti kepada saya sehingga saya bisa menyelesaikan Tugas Akhir ini.
12. Keluarga besar Laboratorium Bahan dan Rekayasa, terutama Bapak Ir.
Torang Sitorus, M.T. selaku Kepala Laboratorium, Kak Sela dan Mas Bandi sebagai pegawai administrasi Laboratorium dan Reza, Sahrul, Ryan, dwi selaku Asisten yang telah memberikan izin pengunaan fasilitas laboratorium baik untuk penelitian Tugas Akhir.
13. Teman seperjuangan penulis Adam Farhan, Angga Suganda, Ari Tri Yanti Tambunan, Yosua Karsten P Sianipar, Martha Charonica Maharaja, dan Gennardy, yang telah menemani dan berjuang bersama dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.
14. Anggota bontot2 club, terimakasih untuk Ari Tri Yanti Tambunan, Anggreny Napitupulu, Martha Charonica Maharaja ,Chilwin, dan Gennardy yang telah banyak membantu menjalani kehidupan di sipil.
15. Untuk semua keluarga besar sipil stambuk 2017, terutama teman baik penulis Adam Farhan, Angga Suganda, Anggreny A. Napitupulu, Ari Tri Yanti Tambunan, Martha Charonica Maharaja, Chilwin, Gennardy yang selalu
iii memberikan bantuan, dukungan dan semangat yang tidak dapat disebut satu persatu.
16. Buat abang yang ada di workshop Handana yang sudah membantu saya dalam penelitian terkhusus bang Herlin , bang Boneng dan bang Dian yang bantu kami ngangkat beton ,Mengaduk beton dan yang sudah mau meluangkan waktu dan tenaga dalam proses pembuatan Tugas Akhir
17. Asisten Laboratorium Beton Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara
18. Seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung saya dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
Mengingat adanya keterbatasan yang dimiliki penulis, maka penulis menyadari bahwa laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca diharapkan untuk penyempurnaan laporan Tugas Akhir ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi bara pembaca.
Medan, Agustus 2021 Penulis,
Ricky Martin 17 0404 117
iv LEMBAR ASISTENSI TUGAS AKHIR
Nama : Ricky Martin
NIM : 17 0404 117
Judul TA : KARAKTERISTIK DAN SIFAT MEKANIK
BATA INTERLOCK DENGAN SUBSITUSI CRUMB RUBBER
Nama Pembimbing : Ir. Rahmi Karolina,S.T,M.T
No. Tanggal Keterangan Ttd / Paraf
1 18/12-2020 − Perbaiki naskah sesuai dengan berita acara seminar proposal
2 12/01-2021
− Lengkapi latar belakang
− Perbaiki rumusan masalah dan batasan masalah
− Lengkapi tinjauan pustaka pada Bab 2
3 1/02-2021
− Perhatikan penggunaan EYD pada penulisan
4 12/02-2021
− Lengkapi teori pada tinjauan pustaka
− Tambah penelitian-penelitian terkait pada tinjauan pustka
− Perhatikan cara penulisan table dan gambar
v 5 20/03-2021 − Sesuaikan deskripsi sub bab pada
BAB 3 sesuai dengan flowchart.
6 20/07-2021
− Susun BAB 4 mengacu kepada metode penelitian yang telah dijelaskan pada BAB 3
− Hindari penggunaan bahasa tidak baku dan yang tidak sesuai EYD
7 27/07-2021 − Periksa dan analisis hasil pengujian benda uji
8
06/082021 − Buat rekapitulasi hasil pengujian dengan baik
− Perbaiki dan perhatikan cara pengepltoan grafik yang benar
9 09/08-2021
− Kesimpulan berisi hasil dari analisis
− Susun daftar pustaka dengan benar
− Perhatikan dan perbaiki abstrak
vi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
LEMBAR ASISTENSI TUGAS AKHIR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
ABSTRAK ... xv
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Batasan Masalah ... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 5
1.6 Jadwal Penelitian ... 6
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Bata Interlock ... 7
2.2 Bata Beton Berlubang ... 7
2.2.1 Syarat Mutu...8
2.2.2 Pandangan Luar...8
2.3 Bahan Penyusun Bata Interlock... 9
2.3.1 Limbah Crumb rubber...9
2.3.2 Semen Portland Komposit (PCC) ...12
vii
2.3.3 Agregat Halus...15
2.3.4 Air...16
2.4 Pengujian Benda Uji ... 17
2.4.1 Pemeriksaan Ukuran dan Tampak Luar...17
2.4.2 Pengujian Kuat Tekan...18
2.4.3 Pengujian Absorbsi ...19
2.4.4 Pengujian Kuat Lentur...19
2.4.5 Pengujian Mikrostruktur SEM (Scanning Electron Microscope)...20
2.5 Penelitian Terdahulu ... 21
2.5.1 Penelitian Al-Fakih et. (2019). Experimental study on axial compressive behavior of rubberized interlocking masonry walls. Journal of Building Engineering...21
2.5.2 Pengujian Tengku Muhammad Fahri (2017) ...21
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ... 23
3.1 Umum ... 23
3.2 Bagan Alir Penelitian ... 23
3.3 Flow Chart Penelitian ... 25
3.4 Desain Penelitian ... 26
3.5 Lokasi Penelitian ... 26
3.6 Bahan-bahan yang digunakan ... 26
3.6.1 Semen Portland...26
3.6.2 Pasir...26
3.6.3 Cacahan crumb rubber...26
3.6.4 Air...26
3.7 Pemeriksaan Material ... 27
3.7.1 Analisa Ayakan Agregat Halus (SNI 03-1968-1990)...27
viii
3.7.2 Berat Isi Agregat Halus (ASTM C-29 /29M-90 )...28
3.7.3 Berat Jenis dan Absorbsi Pasir (SNI 1970-2008)...29
3.7.4 Pengujian Kadar Organik Pasir/Colorimetric Test (SNI 03-2816- 1992) ...31
3.7.5 Pemeriksaan Kadar Lumpur (SNI.03-4428-1997)...32
3.8 Pembuatan Benda Uji ... 33
3.8.1 Pembuatan Benda Uji Bata Beton Interlock...34
3.8.2 Pembuatan Benda Uji Balok...37
3.9 Perawatan Benda Uji ... 38
3.9.1 Perawatan Benda Uji Bata Interlock...38
3.9.2 Perawatan Benda Uji Balok...38
3.10 Pengujian Benda Uji ... 38
3.10.1 Pengujian Sifat Tampak...38
3.10.2 Pengujian Ukuran...39
3.10.3 Pengujian Kuat Tekan...40
3.10.4 Pengujian Kuat Lentur...41
3.10.5 Penyerapan Air...43
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44
4.1 Pemeriksaan Bata Beton Interlock ... 44
4.1.1 Pemeriksaan Tampak Luar ...44
4.1.1 Pemeriksaan Ukuran...46
4.2 Pengujian Berat Isi ... 49
4.3 Pengujian Absorbsi ... 52
4.4 Pengujian Kuat Tekan Bata Beton Interlock ... 56
4.5 Pengujian Kuat Lentur ... 59
4.6 Pengujian Mikrostruktur SEM (Scanning Electron Microscope) ... 61
ix
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 64
5.1 Kesimpulan ... 64
5.2 Saran ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 66
LAMPIRAN I PEMERIKSAAN BAHAN ... xvi
LAMPIRAN II HASIL PENGUJIAN SEM (SCANNING ELECTRON MICROSCOPE) BATA BETON INTERLOCK CRUMB RUBBER ... xxi
LAMPIRAN III DOKUMENTASI ... xxvii
x
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Syarat mutu beton berlubang. ... 3
Tabel 1.2 Variasi penggunaan crumb rubber untuk benda uji. ... 5
Tabel 2.1 Syarat mutu beton bertulang ... 8
Tabel 2.2 Sifat-sifat Crumb rubber ... 12
Tabel 2.3 Sifat kimia utama semen Portland (SNI 15-2049-2004) ... 14
Tabel 2.4 Sifat kimia tambahan semen Portland (SNI 15-2049-2004) ... 14
Tabel 2.5 Batasan gradasi untuk agregat halus ... 15
Tabel 3.1 Detail benda uji bata beton interlock ... 24
Tabel 3.2 Perencanaan mix design bata interlock ... 33
Tabel 3.3 Total Kebutuhan Material ... 34
Tabel 3.4 Perencanaan mix design balok ... 34
Tabel 3.5 Total kebutuhan material ... 34
Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Visual ... 44
Tabel 4.2 Perbandingan Penyimpangan Ukuran Rata-rata Benda Uji Bata Beton Interlock Terhadap Syarat Mutu Peluang Terjadi Risiko ... 46
Tabel 4.3 Perbandingan Berat Isi Rata-rata Benda Uji Bata Beton Interlock ... 49
Tabel 4.4 Hasil Pengujian Absorbsi Bata Interlock dengan Substitusi 0% umur 28 hari ... 52
Tabel 4.5 Hasil Pengujian Absorbsi Bata Interlock dengan Substitusi 5% umur 28 hari ... 53
Tabel 4.6 Hasil Pengujian Absorbsi Bata Interlock dengan Substitusi 10% umur 28 hari ... 53
xi Tabel 4.7 Hasil Pengujian Absorbsi Bata Interlock dengan Substitusi 15%
umur 28 hari ... 53 Tabel 4.8 Hasil Pengujian Absorbsi Bata Interlock dengan Substitusi 20%
umur 28 hari ... 54 Tabel 4.9 Hasil Pengujian Kuat Tekan Bata Interlock 0% umur 28 hari .... 56 Tabel 4.10 Hasil Pengujian Kuat Tekan Bata Interlock 5% umur 28 hari .. 56 Tabel 4.11 Hasil Pengujian Kuat Tekan Bata Interlock 10% umur 28 hari 57 Tabel 4.12 Hasil Pengujian Kuat Tekan Bata Interlock 15% umur 28 hari 57 Tabel 4.13 Hasil Pengujian Kuat Tekan Bata Interlock 20% umur 28 hari 58 Tabel 4.14 Hasil Pengujian Kuat Lentur ... 59
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Bentuk benda uji bata interlock ... 5
Gambar 2.1 Bata Beton berlubang ... 7
Gambar 2.2 Crumb rubber ... 12
Gambar 2.3 Semen Portland ... 14
Gambar 2.4 Agregat Halus... 16
Gambar 2.5 Pengujian sifat tampak bata Interlock ... 18
Gambar 2.6 Sketsa Pengujian Kuat Lentur Beban Terpusat di Tengah Bentang ... 20
Gambar 3.1 Benda uji bata beton interlock ... 24
Gambar 3.2 Diagram Alir Proses Penelitian ... 25
Gambar 3.3 Proses pencampuran bahan ... 35
Gambar 3.4 Proses pembuatan sampel dari cetakan ... 36
Gambar 3.5 Proses curing benda uji selama 28 hari ... 37
Gambar 3.6 Tahap penyimpanan benda uji selama 28 hari ... 38
Gambar 3.7 Pengujian sifat tampak bata Interlock ... 39
Gambar 3.8 Pengukuran benda uji bata Interlock ... 39
Gambar 3.9 Hasil permukaan benda uji yang telah diratakan ... 40
Gambar 3.10 Pengujian Kuat Tekan Bata Beton berlubang umur 28 hari .. 40
Gambar 3.11 Pembebanan benda uji bata Interlock dengan compression test ... 41
Gambar 3.9 Pembebanan benda uji balok beton dengan Universal Testing Machine (UTM) ... 42
Gambar 4.1 Grafik berat isi benda uji bata beton interlock terhadap variasi campuran crumb rubber. ... 51
xiii Gambar 4.2 Grafik Absorbsi benda uji bata beton interlock terhadap variasi
campuran crumb rubber ... 55
Gambar 4.3 Grafik Kuat Tekan benda uji bata beton Interlock terhadap variasi campuran crymb rubber ... 59
Gambar 4.4 Grafik Kuat Lentur balok terhadap variasi campuran crumb rubber. ... 61
Gambar 4.5 Uji SEM beton dengan variasi crumb rubber (x1000) ... 62
Gambar 4.6 Uji SEM beton dengan variasi crumb rubber (x1000) ... 62
Gambar 4.7 Uji SEM beton dengan variasi crumb rubber (x5000) ... 63
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN I PEMERIKSAAN BAHAN ... 66
Analisa Ayakan Agregat Halus untuk Material Penyususn Beton ... 67
Berat Jenis dan Absorbsi Agregat Halus untuk Material Penyususn Beton . 68 Kadar Lumpur Agregat Halus untuk Material Penyusun Beton ... 69
Berat Isi Agregat Halus untuk Material Penyususn Beton ... 70
LAMPIRAN II DOKUMENTASI ... 71
A. Persiapan Alat dan Bahan ... 72
B. Proses Pembuatan Benda Uji Bata Interlock ... 73
C. Pemeriksaan Ukuran Bata Beton Interlock ... 74
D. Pengujian Kuat Tekan Bata Beton Interlock ... 74
E. Pengujian Absorbsi Bata Beton Interlock ... 75
F. Proses Pengujian Kuat Lentur ... 76
LAMPIRAN III HASIL PENGUJIAN SEM (Scanning Electron Mikroscope ... 77
xv ABSTRAK
Bata beton berlubang (Bata Interlock) adalah bata yang memiliki luas penampang lobang lebih dari 25% luas penampang batanya dan volume lubang lebih dari 25%
dari volume batas seluruhnya. Penelitian ini merupakan pengembangan bata beton interlock dengan variasi campuran crumb rubber 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%.
Bata beton interlock berukuran 25 cm x 12,5 cm x 10 cm dengan dua buah lubang masing-masing berdiameter 5 cm. Variasi penggunaan crumb rubber terdiri dari 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian bentuk (visual), pengujian kuat tekan, pengujian daya serap (absorbsi), pengujian kuat lentur dan pengamatan mirkostruktur komponen bata interlock. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka diperoleh nilai kuat tekan optimum pada substitusi crumb rubber sebesar 5.709 MPa di variasi 5%, nilai absorbsi diperoleh sebesar 6.121% pada substitusi variasi crumb rubber 20%, dan nilai kuat lentur optimum pada bata beton interlock sebesar 9.454 Mpa pada variasi crumb rubber 20%.
Kata kunci : bata interlock, crumb rubber, kuat tekan, absorbsi,kuat lentur.
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan beton dalam berbagai aplikasi teknologi konstruksi modern meningkat dengan cepat. Pembangunan di berbagai bidang struktur dewasa ini mengalami kemajuan yang cukup pesat, misalnya gedung, jembatan, tower, jalan dan sebagainya. Bata Interlock merupakan salah satu pilihan sebagai bahan struktur dalam dunia konstruksi. Bata interlock diminati karena banyak memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan lainnya, antara lain harganya yang relatif murah, mempunyai kekuatan yang baik, bahan penyusun mudah didapat, tahan lama, tahan terhadap api, dan tidak mengalami pembusukan.
Hal lain yang mendasari pemilihan dan penggunaan bata interlock sebagai bahan konstruksi adalah faktor efektifitas dan tingkat efisiensinya. Secara umum bahan tambahan (additive) terbuat dari bahan-bahan yang mudah diperoleh, mudah diolah (workability) dan mempunyai keawetan (durability) serta kekuatan (strength) yang sangat diperlukan dalam suatu konstruksi. Dari sifat yang dimiliki bata interlock itulah menjadikan bata interlock bahan alternatif untuk diteliti baik bentuk fisik maupun metode pelaksanaannya.
Mutu dasarnya dipengaruhi oleh mutu dan proporsi bahan penyusun, yaitu:
mutu agregat (yang meliputi modulus kehalusan, porositas, dan berat jenis), mutu semen, air yang digunakan, proporsi campuran, faktor air semen, proses pengadukan maupun cara pengerjaan selama penuangan adukan beton, proses pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan (Tjokrodimuljo, 1996).
Secara struktural bata mempunyai kekuatan yang cukup besar dalam menahan gaya tekan. Kelemahan bata adalah rendahnya kemampuan menahan beban tarik, oleh karena beton merupakan bahan yang getas (brittle). Sifat bata yang getas menyebabkan bata akan segera retak jika mendapat gaya tarik yang tidak terlalu besar, sehinggga perlu bahan substitusi yang dimana dapat menggantikan material bata baik itu agregat halus, agregat kasar maupun semen
2 dengan bahan material lain, seperti semen Portland dengan terak baja, batu pecah (agregat kasar) dengan batu apung dan lain-lain.
Salah satu manfaat dari metode substitusi material bata yaitu dapat menggunakan limbah anorganik. Limbah anorganik dapat berupa hasil sisa produksi maupun pemakaian, salah satunya adalah limbah ban karet yang merupakan sisa dari pemakaian ban kendaraan. Seiring dengan itu, maka limbah ban yang tidak terpakai di lingkungan semakin meningkat, sehingga ban karet ini dapat dijadikan alternatif dari segi kuantitas karena tingkat kelangkaannya rendah.
Pemanfaatan ban karet di Indonesia masih sangat terbatas, antara lain hanya untuk pelindung dermaga (fender), tali, sandal,tempat sampah, dan kerajinan kursi. Ban karet akan memberikan sifat kelenturan dan akan mencegah keretakan beton. Selain itu dengan penambahan limbah karet roda ban dapat memperbaiki mutu beton. Perbaikan mutu tersebut antara lain berupa: ketahanan impact yang lebih baik, kemampuan bata untuk meredam gelombang getaran, menurunkan sifat penghantar panas/ suara, dan menambah ketahan terhadap bahan agresif. (Frankowski, 1994 dalam Huynh, 1997).
Penelitian ini merupakan pengembangan bata beton Interlock dengan variasi campuran 0%, 5%, 10%, 15%, hingga 20%. Beton beton interlock dengan ukuran 25 x 12,5 x 10 cm dengan dua buah lubang masing-masing berdiameter 5 Universitas Sumatera Utara 3 cm. Variasi penggunaan crumb rubber terdiri dari 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%.
1.2 Rumusan Masalah
Menurut SNI 03-0349-1989, bata beton pejal maupun berlobang dibedakan menurut tingkat mutunya, yaitu :
a. Tingkat mutu I b. Tingkat mutu II c. Tingkat mutu III d. Tingkat mutu IV
3 5Tabel 1.1 Syarat mutu beton berlubang.
Syarat fisis Satuan
Tingkat mutu bata beton berlobang
I II III IV
1. Kuat tekan bruto*
rata-rata min.
2. Kuat tekan bruto masing-masing benda uji 3. Penyerapan air
rata-rata, maksimum.
Kg/cm2
kg/cm2
%
70
65
25
50
45
35
35
30
-
20
17
- (Sumber : SNI 03-0349-1989)
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh pencampuran crumb rubber terhadap kekuatan tekan bata beton berlobang. Apakah kekuatan tekannya memenuhi persyaratan kuat tekan minimum bata beton, dan penyerapan air rata-rata sesuai dengan penerapan air rata-rata maksimum (SNI 03-0349-1989).
2. Apakah bata beton Interlock dengan menggunakan crumb rubber setelah mengalami pembebanan memenuhi persyaratan kuat tekan minimum bata beton (SNI 03-0349-1989).
3. Bagaimana perbandingan hasil pengujian bata beton interlock dengan dan tanpa menggunakan crumb rubber?
4 1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pengaruh pemasangan bata beton Interlock dengan menggunakan crumb rubber sesuai persyaratan kuat tekan minimum bata beton. (SNI 03-0349-1989).
2. Mengetahui persentasi absorbsi bata beton Interlock dengan campuran crumb rubber (SNI 03-0349-1989)
3. Menganalisis perilaku bata beton Interlock yang menggunakan crumb rubber sebagai bahan tambah dengan variasi 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%
4. Mengetahui perbandingan hasil pengujian bata beton Interlock dengan dan tanpa menggunakan crumb rubber setelah mengalami pembebanan.
1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Komposisi campuran batako terdiri dari semen, pasir, air, dan crumb rubber,
2. Benda uji menggunakan agregat halus yang berupa pasir lolos ayakan 4,76 mm dan semen Portland tipe pcc
3. Variasi penggunaan crumb rubber dengan mengurangi jumlah agregat halus mulai dari 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%, dari berat agregat halus dengan benda uji masing-masing 5 buah untuk setiap komposisi benda uji.
4. Pengujian ukuran, tampak luar, pengujian daya serap, dan pengujian kuat tekan bata beton interlock dilakukan pada umur 28 hari untuk semua variasi. Pengujian menggunakan benda uji batako ukuran 25 x 12.5 x 10 cm
5. Butiran/crumb rubber dari karet ban bekas yang digunakan adalah yang berukuran ˂ 1 mm.
6. Air yang digunakan berasal dari sumber air bersih
5 Tabel 1.2 Variasi penggunaan crumb rubber untuk benda uji.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Sumber informasi mengenai perilaku mekanik bata interlock crumb rubber sebagai pengganti sebagian pasir.
2. Memberikan wacana dalam aplikasi ilmu pengetahuan khususnya ilmu rek yasa material dan bahan bangunan.
Benda Uji Pengujian
Persentase Crumb Rubber
0% 5% 10% 15% 20%
Bata beton interlock
Daya Serap Air 5 5 5 5 5
Kuat Tekan 5 5 5 5 5
Kuat Lentur 3 3 3 3 3
Jumlah Benda Uji 13 13 13 13 13
Total ( buah ) 65
Gambar 1.1 Bentuk benda uji bata interlock 25cm
12,5cm 10cm
6 3. Meminimal pemakaian material alam yang akan digunakan untuk
pembelian agregat halus.
6 1.6. Jadwal Penelitian
NO URAIAN KEGIATAN
2020 2021
NOVEMBER DESEMBER JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS
MINGGU MINGGU MINGGU MINGGU MINGGU MINGGU MINGGU MINGGU MINGGU MINGGU
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 STUDI LITERATUR
2 PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
3 PENGUJIAN MATERIAL DAN BAHAN
4 PEMBUATAN BENDA UJI
5 PERAWATAN BENDA UJI
6 PENGUJIAN BENDA UJI
7 PENGOLAHAN DATA HASIL PENGUJIAN
8 ANALISIS DATA DAN KESIMPULAN
9 PENULISAN TUGAS AKHIR (BAB 4-5,
SELESAI)
7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bata Interlock
Bata Interlock atau Interlocking brick adalah sebuah konsep inovasi bata sebagai material penyusun dinding yang pemasangannya nyaris tidak menggunakan semen sebagai perekat antar bata (Huda, 2016). Bata Interlock ini memiliki kemampuan Interlocking dengan menunjukkan elemen positif dan negatif dari permukaan bata, batu bata dapat dipasangkan dan secara otomatis menjadi rata setelah diisi mortar. (Ibrahim, 2013)
Keuntungan penggunaan batako sistem Interlock diantaranya adalah lebih cepat pengerjaan sehingga lebih ekonomis karena tidak menggunakan adukan spesi (mortar) sebagai perekat, selain itu hasil pemasangan lebih rapi, penggunaan acian lebih sedikit serta lebih tahan gempa. Namun demikian, batako sistem interlock yang berukuran standar masih perlu ditingkatkan dan dikembangkan misalnya dengan merekayasa komposisi dan susunan bahannya serta sistem pengunci saat digunakan sebagai partisi/dinding. Dengan berbagai kelebihannya maka produk batako interlock yang ringan mempunyai prospek yang bagus untuk digunakan di masyarakat. (Bastari, 2011).
2.2. Bata Beton Berlubang
Bata beton berlubang adalah bata yang memiliki luas penampang lobang lebih dari 25% luas penampang batanya dan volume lubang lebih dari 25% dari volume batas seluruhnya.
Gambar 2.1 Bata Beton berlubang
8 2.2.1 Syarat Mutu
Tabel 2.1 Syarat mutu beton berlubang.
Syarat fisis Satuan Tingkat mutu bata beton berlobang
I II III IV
1. Kuat tekan bruto* rata-
rata min. kg/cm2 70 50 35 20
2. Kuat tekan bruto masing-masing benda uji
kg/cm2 65 45 30 17
- 3. Penyerapan air rata-rata,
maksimum. % 25 35 -
Berdasarkan tingkat mutunya, bata beton dibedakan dikelompokkan menjadi 4 (empat ) tingkatan mutu (SNI 03-0349-1989) yaitu:
1. Tingkat mutu I 2. Tingkat mutu II 3. Tingkat mutu III 4. Tingkat mutu IV
2.2.2 Pandangan Luar
Bidang permukaannya harus tidak cacat, bentuk permukaan lain yang didesain, diperbolehkan. Rusuk-rusuknya siku atau terhadap yang lain, dan sudut rusuknya tidak mudah dirapihkan dengan kekuatan jari tangan.
9 2.3 Bahan Penyusun Bata Interlock
2.3.1 Limbah Crumb rubber
Crumb rubber merupakan karet alam yang dibuat khusus sehingga terjamin mutu teknisnya.Crumb rubber berasal dari limbah ban bekas. Penetapan mutu berdasarkan pada sifat-sifat teknis dimana warna atau penilaian visual yang menjadi dasar penentuan golongan mutu pada jenis karet sheet, crepe maupun lateks pekat tidak berlaku untuk jenis yang ini (Muthoo, 2013). Crumb rubber dibuat agar dapat bersaing dengan karet sintetis yang biasanya menyertakan sifat teknis serta keistimewaan untuk jaminan mutu tiap bandelanya.
Crumb rubber dipak dalam bongkah-bongkah kecil, berat dan ukuran seragam, dan ada sertifikat uji laboratorium (Hariyadi, 2009). Setiap pengolahan 100 kg lateks yang akan dibuat crumb rubber umumnya akan menghasilkan lebih kurang 85% karet bersih, 10% air dan 3%-5% tatal. Dari hasil uji laboratorium didapatkan bahwa tatal mempunyai kalori yang besar yaitu sekitar 3600 cal/gr.
Limbah pabrik crumb rubber saat ini belum dimanfaatkan dengan optimal bahkan cenderung memberikan efek negatif ke lingkungan yaitu bau busuk yang menyengat dikarenakan proses pembusukan pada kandungan nitrogen.
Kandungan isoprennya cukup potensial untuk dimanfaatkan dalam menjawab tantangan masalah energi, bahan bakar cair yang selama ini dikeluhkan oleh masyarakat . Limbah padat crumb rubber yang kami gunakan pada penelitian ini berasal dari proses penggilingan remahan. Penggilingan remahan adalah proses yang bertujuan untuk mendapatkan keseragaman bahan baku dengan proses mikro dan menjadikannya dalam bentuk lembaran. Makro Blending dan Mikro Blending sama-sama bertujuan untuk mendapatkan keseragaman/homogenitas bahan baku.
Pada proses Makro Blending proses pencampuran dilakukan dengan cara mengaduk/mixering remahan/bahan baku. Proses ini mirip dengan proses membuat adonan campuran beton, yakni dengan mengaduk semen, pasir, kerikil sehingga didapatkan campuran yang homogen. Sedangkan pada proses Mikro Blending kegiatan menghomogenkan terjadi dengan cara menggiling remahan yang diatur sedemikian rupa sehingga remahan saling tindih satu sama lain didalam penggilingan.
10 Proses saling tindih ini memaksa remahan-remahan karet untuk menjadi satu bagian yang akhirnya akan menjadi bentuk lembaran. Penggilingan dilakukan dengan menggunakan mesin giling Crepper Roll .Gilingan Crepper dibuat berulir/motif bunga agar efek pemerasan terjadi pada bahan baku. Agar didapatkan jaminan bahwa setiap remahan karet sudah menjadi sebuah kesatuan maka perlu dilakukan penggilingan berulang-ulang.
Ban bekas merupakan salah satu bahan buangan dan bekas pakai yang dapat dengan mudah dicari dan ditemukan di setiap daerah di Indonesia dan jumlahnya relative cukup tinggi. Hancuran ban bekas ini terkadang diistilahkan dengan “Crumb rubber” adalah produk yang ramah lingkungan karena diperoleh dari ban bekas, dan tidak larut dalam tanah ataupun air tanah. Limbah ban bekas terbuat dari karet sintetis dan karet alam dicampur dengan karbon black dan unsur-unsur kimia lain seperti silica, resin, anti oksida, sulfur, paraffin, cobalt, salt, cure accelerator, aktifators, dan ditambah dengan benang dan gabungan kawat baja dimana benang berfungsi sebagai rangka atau tulangan ban.
Ada Tiga metode yang saat ini digunakan untuk mengolah ban bekas menjadi crumb rubber yaitu ambient process, cryogenic process, dan Fine grind proses. ambient grinding dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan granulasi atau cracker mills, karet ban atau bahan baku lainnya tetap pada suhu kamar saat memasuki cracker mills atau granulator.
Ambient grinding adalah teknologi pengolahan multi langkah yang menggunakan beberapa mesin untuk memisahkan komponen karet, logam, dan kain ban, baik menggunakan peralatan granulasi atau cracker mills, langkah pengolahan pertama biasanya mengurangi bahan baku asli untuk chip kecil, mesin kedua akan menggiling chip untuk memisahkan karet dari logam dan kain, kemudian mills akan menggiling bahan dengan ukuran produk yang dibutuhkan. Setiap langkah pengolahan, bahan akan diseleksi oleh sebuah filter yang mengembalikan potongan besar ke granulator untuk diproses kembali, magnet digunakan di seluruh tahap pengolahan untuk menghilangkan kawat dan kontaminasi dari logam lainnya, pada tahap akhir kain dikeluarkan oleh pemisah udara.
11 Crumb rubber yang dihasilkan dalam proses granulasi umumnya memiliki bentuk potongan dan tekstur kasar, dengan dimensi yang sama pada potongan pinggirnya, sedangkan cryogenic process adalah merupakan proses pengecilan ukuran ban bekas dengan menambahkan cairan nitrogen atau material lain untuk membekukan ban atau tire chips, ban menjadi getas pada temperatur di bawah -80
oC. Proses ini menghasilkan crumb rubber dengan ukuran 0,25 inch hingga 30 mesh, dengan kecepatan pemecahan sekitar 4.000-6.000 pounds per jam.
Cryogenic process menghindari degradasi karet akibat panas dan menghasilkan crumb rubber dengan kualitas tinggi, bebas serat ataupun baja. Baja dipisahkan dengan menggunakan magnet dan serat disaring.
Fine grind-ambient method atau penggilingan mikro adalah merupakan teknologi pengolahan yang digunakan untuk menghasilkan crumb rubber dengan ukuran 40 mesh atau lebih kecil lagi. Pada proses ini crumb rubber dicampur dengan air hingga terbentuk seperti bubur, campuran tersebut kemudian dialirkan melalui peralatan pengecil ukuran dan pemisah. Bila ukuran yang diinginkan sudah tercapai, maka bubur crumb rubber dialirkan ke peralatan penghilang air dan kemudian dikeringkan. Keuntungan utama Fine grind-ambient Method adalah dapat membentuk crumb rubber ke ukuran hingga tertahan saringan nomor 200.
Crumb rubber yang dihasilkan cukup bersih dan ukuran yang konsisten seperti terlihat di Tabel 2.10 tentang sifat dan ukuran crumb rubber dan Gambar 2.1.
(Teknik Pencampuran yang optimal antara crumb rubber dan Aspal Pen 60/70, Mulyani, Hamdani, 2013)
Serbuk ban bekas diukur dalam mesh atau inci dan umumnya karet ukurannya 3/8 inci atau lebih kecil. Ukuran serbuk dapat klasifikasikan dalam empat kelompok yaitu:
1. Besar atau kasar (3/8 dan ¼ inci)
2. Sedang (10-30 mesh atau 0,079-0,023 inci) 3. Baik (40-80 mesh atau 0,016-0,007 inci)
4. Sangat baik (100-200 mesh atau 0,06-0,003 inci)
Berdasarkan Fadiel et al., (2013) di Departemen Teknik Sipil, North Carolina A&T State University, Greensboro, USA diperoleh sifat dan nilai dari
12 crumb rubber sebagai berikut:
Tabel 2.2 Sifat-sifat Crumb rubber
Property Ukuran Crumb rubber ≠ 30
Specific Gravity 0,51
Fineness Modulus 2,42
Desensity (kg/m³) 445
Pada Tabel 2.10 telah diketahui nilai specific gravity sebesar 0,51, finess modulus sebesar 2,42 dan desensity sebesar 445 kg/m³ didapat dari tiap-tiap crumb rubber seperti pada gambar 2.1:
2.3.2 Semen Portland Komposit (PCC)
Semen PCC atau Portland Composite Cement atau Semen Portland komposit, adalah semen Portland yang masuk kedalam kategori blended cement atau semen campur. Semen ini dibuat atau didesain karena dibutuhkannya sifat- sifat tertentu yang mana sifat tersebut tidak dimiliki oleh semen Portland tipe I.
Untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu pada semen PCC maka pada proses pembuatannya ditambahkan bahan aditif seperti pozzolan, fly ash, silica fume dan lain lain. Menurut SNI 15-7064-2004 [7] maka defenisi Semen Portland Komposit adalah: bahan pengikat hidrolisis hasil penggilingan bersama-sama terak semen
Gambar 2.2 Crumb rubber
13 portland dan gyps dengan satu atau lebih bahan anorganik atau hasil pencampuran antara bubuk semen portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Bahan anorganik tersebut antara lain terak tanur tinggi (blast furnace slag), pozzolan, senyawa silicat, batu kapur dengan kadar total bahan anorganik 6% – 35 % dari massa semen Portland komposit. Sifat-sifat yang dimiliki semen PCC: 1.
Mempunyai panas hindrasi rendah sampai sedang 2. Tahan terhadap serangan sulfat 3. Kekuatan tekan awal kurang, namun kekuatan akhir lebih tinggi.
Ditinjau dari sifat yang dimiliki oleh semen PCC maka semen tersebut dapat digunakan sebagai alternatif atau pengganti semen Portland tipe II, IV atau V. Menurut SNI 15-2049-2004 [8], semen Portland adalah semen hidrolis dengan cara menggiling terak semen portland terutama yang terdiri atas kalsium silikat yang bersifat hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat dan boleh ditambahan dengan tambahan lain. Klinker semen Portland terdiri dari empat unsur oksida yang utama yaitu CaO (kapur) = C; SiO2 (silika) = S; Al2O3 (alumina) = A; dan Fe2O3 (oksida besi) = F serta sejumlah unsur kecil (minor constituent). Sifat kimia utama semen Portland dapat dilihat pada Tabel 1 dan sifat kimia tambahan semen Portland seperti C3A maksimum, C3A minimum, (C3S + 2 C3A), maksimum dan Alkali: (Na2O + 0,658 K2O, maksimum diperlihatkan pada Tabel 2, sifat fisika semen Portland berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 15- 2049-2004 [8]). Diharapkan dengan semua kandungan-kandungan kimia yang terkandung dalam semen PCC mampu memiliki daya ikat yang baik apabila telah bercampur dengan material-material lain pembentuk beton. Biro penelitian teknik PT. Semen Tonasa (2012), semen Tipe Portland Composite Cement (PCC) merupakan jenis semen varian baru yang mempunyai karakteristik mirip dengan semen OPC pada umumnya, tetapi semen jenis ini mempunyai kualitas yang lebih baik, ramah lingkungan dan mempunyai harga yang lebih ekonomis. Komposisi bahan baku semen PCC adalah klinker, gypsum dan zat tambahan (additive).
14 Tabel 2.3 Sifat kimia utama semen Portland (SNI 15-2049-2004 [8]
Tabel 2.4 Sifat kimia tambahan semen Portland (SNI 15-2049-2004 [6])
Gambar 2.3 Semen Portland Komposit
15 2.3.3 Agregat Halus
Agregat halus merupakan bahan pengisi diantara agregat kasar sehingga menjadikan ikatan lebuh kuat yang mempunyai BJ 1400 kg/cm. Agregat halus yang baik tidak mengandung lumpur lebih besar 5 %, tidak mengandung bahan organis lebih banyak, terdiri dari butiran yang tajam dan keras serta bervariasi.
Berdasarkan SNI 03-6820-2002, agregat halus adalah agregat dengan besar butir maksimum 4,76 mm berasal dari alam atau hasil alam, sedangkan agregat halus olahan adalah agregat halus yang dihasilkan dari pecahan dan pemisahan butiran dengan cara penyaringan atau lainnya dari batuan atau terak tanur tinggi.
Adapun persyaratan agregat halus menurut SK SNI S-04-1989-F (Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A) adalah :
a. Butir-butirannya tajam dan keras dengan indeks kekerasan ≤ 2.2 b. Kekal, tidak pecah atau hancur oleh cuaca
c. Tidak mengandung lumpur > 5%
d. Tidak mengandung zat organis yang terlampau banyak
e. Modulus kehalusan antara 1.5 – 3.8 dengan variasi butir sesuai standar gradasi
f. Agregat halus dari pantai dapat dipakai asalkan dengan petunjuk dari Lembaga pemeriksaan bahan yang diakui.
Tabel 2.5 Batasan gradasi untuk agregat halus Ukiran saringan
ASTM
Persentase berat yang lolos pada setiap saringan
9,5 mm 100
4,76 mm 95 – 100
2,36 mm 80 – 100
1,19 mm 50 – 85
0,595 mm 25 – 60
0,300 mm 10 – 30
16
0,150 mm 2 – 10
(Sumber : ASTM C-33)
2.3.4 Air
Air diperlukan agar semen dapat bereaksi (proses pengikatan) serta sebagai bahan pelumas antara butir- butir agregat agar dapat mudah dikerjakan dan dipadatkan. Air yang dapat diminum umumnya dapat digunakan sebagai campuran beton. Air yang mengandung senyawa-senyawa berbahaya , yang tercemar garam, minyak, gula, atau bahan kimia lainnya, bila dipakai dalam campuran beton akan menurunkan kulitas beton, bahkan dapat mengubah sifat- sifat beton yang dihasilkan. Air yang digunakan dapat berupa air tawar (dari sungai, danau, telaga, kolam, situ, dan lainnya), air laut maupun air limbah, asalkan memenuhi syarat mutu yang telah ditetapkan (Mulyono, 2003).
Menurut SNI 2847:2013, air yang digunakan untuk campuran beton harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan.
Gambar 2.4 Agregat Halus
17 2. Air pencampur yang digunakan pada beton prategang atau pada beton yang di dalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan.
3. Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali ketentuan berikut terpenuhi:
a) Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran beton yang menggunakan air dari sumber yang sama.
b) Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji mortar yang dibuat dari adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang dibuat dengan air yang dapat diminum.
Jumlah air yang digunakan sangat berpengaruh terhadap kelecakan beton.
Jumlah air yang diperlukan untuk kelecakan tertentu tergantung pada sifat material yang digunakan (Nugraha, Paul. dkk, 2007). Proses hidrasi dalam beton segar membutuhkan air kurang lebih 25% dari berat semen yang digunakan.
Kelebihan air dari proses hidrasi diperlukan untuk syarat kekentalan (consistency) adukan beton untuk mencapai suatu kelecakan yang baik (Dumyati and Manalu, 2015).
2.4 Pengujian Benda Uji
2.4.1 Pemeriksaan Ukuran dan Tampak Luar
Bata beton harus mempunyai permukaan yang rata, tidak terdapat retak- retak dan cacat, bagian sudut dan rusuknya tidak mudah dirapihkan dengan kekuatan jari tangan. Semua hal itu diperiksa dengan pengamatan yang teliti yaitu dengan cara bata disusun diatas permukaan yang rata sebagaimana pada pemasangan yang sebenarnya.
18 2.4.2 Pengujian Kuat Tekan
Pengujian kuat tekan dipakai benda uji bata interlock:
a. Meratakan bidang tekan
Bahan penekanan terbuat dari adukan 1 (satu) bagian semen Portland ditambah 1 atau 2 bgian pasir halus tembus ayakan 0,3 mm.
pemakaian bahan penerap lain, diperbolehkan asalkan kekuatannya sama atau lebih tinggi dari kuat tekan batanya. Bidang tekan benda uji (2 bagian) diterap dengan adukan semen sedemikian rupa sehingga terdapat bidang yang rata dan sejajar satu dengan yang lainnya. Tebal lapisan perata/penerap kurang lebih 3 mm. Benda uji ditentukan kuat tekannya apabila pengerasan lapisan penerap sedikitnya telah berumur 3 hari.
b. Penentuan Kuat Tekan
Arah tekanan pada bidang tekan benda uji disesuaikan dengan arah tekanan beban didalam pemakaian. Benda uji yang telah siap, ditentukan kuat tekannya dengan mesin tekan yang dapat diatur kecepatan penekanannya. Kecepatan penekanan dari mulai pemberian beban sampai benda uji hancur diatur sehingga tidak kurang dari satu menit dan tidak lebih dari 2 menit. Kuat tekan benda uji dihitung dengan membagi kuat tekan maksimum dengan luas bidang tekan benda uji, dinyatakan dalam kg/cm2.
Kuat Tekan = 𝐏
𝑨 (2.1)
Dimana:
P = Beban Tekan (N)
A = Luas Bidang Tekan (m2) 2.4.3 Pengujian Absorbsi
Daya serap air atau biasa disebut dengan absorbsi merupakan persentase berat air yang mampu diserap oleh agregat di dalam air, sedangkan banyaknya air yang terkandung dalam agregat disebut dengan kadar air. Penyerapan air
a. Tampak Atas, b. Tampak Depan, c. Tampak Bawah, d. Tampak Samping
Gambar 2.5 Pengujian sifat tampak bata Interlock
19 dipengaruhi oleh pori atau rongga yang terdapat pada benda uji. Semakin banyak pori yang terkandung dalam beton maka akan semakin besar pula penyerapan air sehingga ketahanannya akan berkurang. Pori yang terdapat pada beton terjadi karena kurang tepatnya kualitas dan komposisi material penyusunannya. Pengaruh rasio yang terlalu besar dapat menyebabkan pori, karena terdapat air yang tidak bereaksi dan kemudian menguap dan meninggalkan pori. Berdasarkan SNI 03- 0349-1989 tentang bata beton (batako), persyaratan nilai penyerapan air maksimum adalah 35%.
Untuk pengukuran penyerapan air batako, mengacu pada standar SNI 03- 0349-1989 dapat dihitung dengan persamaan berikut:
Wa = 𝐀−𝐁
𝑩 𝒙 𝟏𝟎𝟎% (2.2)
Dimana:
Wa = Water Absorbtion (%)
A = Massa benda dalam kondisi jenuh (gr) B = Massa benda kering (gr)
2.4.4 Pengujian Kuat Lentur
Kuat lentur beton adalah kemampuan balok beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya pada arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya sampai benda uji patah. Momen lentur yang dipikul pada penampang diakibatkan adanya tegangan-tegangan lentur (tarik pada salah satusisi di daerah sumbu netral dan tekan pada sisi penampang lainnya). Kuat lentur beton dinyatakan dengan Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan luas. (SNI 4154:2014).
20 Gambar 2.6 Sketsa Pengujian Kuat Lentur Beban Terpusat di Tengah Bentang Persamaan yang digunakan untuk menghitung besarnya kuat lentur dari suatu benda uji adalah sebagai berikut :
R = 𝟑𝑷𝑳
𝟐𝒃𝒅𝟐 (2.3)
Keterangan :
R = kuat lentur (Mpa )
P = beban maksimum total (N) L = Panjang bentang (mm) b = Lebar benda uji (mm) d = Tebal benda uji (mm)
a = jarak rata-rata dari garis keruntuhan dan titik perletakan terdekat diukur pada bagian tarik spesimen.
Kuat lentur bata ringan berpori yang dikeringkan secara alami yaitu lebih besar dari 0.59 MPa (Yothin Ungkoon, 2007).
2.4.5 Pengujian Mikrostruktur SEM (Scanning Electron Microscope)
Setelah pengujian dilakukan, selanjutnya akan dilakukan SEM (Scanning electron microscope). Scanning electron microscope (SEM) adalah salah satu jenis mikroskop elektron yang menggunakan berkas elektron untuk menggambarkan bentuk permukaan dari material yang dianalisis. Dengan SEM kita dapat melihat objek dengan perbesaran mulai dari 10x hingga 5000x. Tujuan dilakukannya SEM adalah untuk melihat dan menyelidiki permukaan object secara langsung.
Pemeriksaan SEM dapat menghasilkan informasi topografi (permukaan fitur objek), morfologi (bentuk dan ukuran partikel objek), komposisi,(unsur dan senyawa pada objek), dan informasi kristalografi (bagaimana atom diatur di dalam objek). Akan diambil 1 sampel untuk variasi 15%.