• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Pustaka

2.2.3 Semiotika

2.2.3.1 Semiotika Komunikasi Visual

Semiotika sebagai sebuah cabang keilmuan memperlihatkan pengaruh pada bidang-bidang seni rupa, seni tari, seni film, desain produk, arsitektur, termasuk desain komunikasi visual. Menurut Tinarbuko (dalam Piliang, 2012:

339-340) semiotika komunikasi visual yaitu semiotika sebagai metode pembacaan karya komunikasi visual. Dilihat dari sudut pandang semiotika, desain komunikasi visual adalah sistem semiotika khusus, dengan perbendaharaan kata (vocabulary) dan sintaks (sintagm) yang khas, yang berbeda dengan sistem semiotika seni.

Fungsi signifikasi adalah fungsi dimana penanda yang bersifat konkritdimuati dengan konsep-konsep abstrak, atau makna, yang secara umum disebut petanda. Dapat dikatakan disini, bahwa meskipun semua muatan komunikasi dari bentuk-bentuk komunikasi visual ditiadakan, ia sebenarnya masih mempunyai muatan signfikasi, yaitu muatan makna.

Efektivitas pesan menjadi tujuan utama dari desain komunikasi visual.

Berbagai bentuk desain komunikasi visual yaitu iklan, fotografi jurnalistik, poster, kalender, brosur, film animasi, karikatur, acara televisi, video klip, web design, cd interaktif dan sebagainya. Di mana melalui pesan-pesan tertentu disampaikan dari pihak pengirim (desainer, produser, copywriter) kepada penerima (pengamat, penonton, pemirsa)

Semiotika komunikasi mengkaji tanda konteks komunikasi yang lebih luas, yang melibatkan berbagai elemen komunikasi, seperti saluran, sinyal, media, pesan, kode, bahkan juga noise. Semiotika komunikasi menekankan aspek produksi tanda di dalam berbagai rantai komunikasi, saluran dan media, dibandingkan sistem tanda. Di dalam semiotika komunikasi, tanda ditempatkan di dalam rantai komunikasi, sehingga mempunyai peran yang penting dalam penyampaian pesan.

2.2.3.2. Semiotika Roland Barthes

Kancah penelitian semiotika tidak bisa begitu saja melepaskan nama Roland Barthes (1915-1980), ahli semiotika yang mengembangkan kajian yang

sebelumnya punya warna kental strukturalisme kepada semiotika teks (Wibowo, 2013: 21). Roland Barthes melontarkan konsep denotasi dan konotasi sebagai kunci dari analisisnya. Dalam studinya, Barthes menekankan pentingnya peran pembaca tanda (the readers). Konotasi yang walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi (Sobur, 2004b: 63).

Fokus perhatian Barthes tertuju kepada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two order of significations). Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified (makna denotasi). Pada tatanan ini menggambarkan relasi antara penanda (objek) dan petanda (makna) di dalam tanda, dan antara tanda dan dengan referannya dalam realitasnya eksternal. Hal ini mengacu pada makna sebenarnya (riil) dari penanda (objek). Kemudian signifikasi tahap kedua adalah interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu (makna konotasi).

Mitos terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos. Selain itu, Barthes juga melihat makna yang lebih dalam tingkatnya, akan tetapi lebih bersifat konvensional, yaitu makna yang berkaitan dengan mitos. Mitos dalam pemahaman semiotika Barthes adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (yang sebetulnya arbitrer atau konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah.

1. Signifier (Penanda)

2. Signified (Petanda) 3. Denotative Sign (Tanda Denotatif) 4. Connotative

Signifier

5. Connotative Signified (Petanda Konotatif) 6. Connotative Sign (Tanda Konotatif)

Gambar 2. Peta Tanda Roland Barthes (Sobur, 2004:69)

Dari peta tanda Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri dari penanda (1) dan petanda (2), namun bersamaan pula dengan tanda denotatif menjadi penanda konotatif (4). Tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan tapi mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya.

Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebut sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Budiman, 2003: 28). Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Barthes menempatkan ideologi dengan mitos karena baik di dalam mitos maupun ideologi, hubungan antara penanda konotatif antara penanda konotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman, 2003: 28).

Adapun lima kode yang ditinjau Barthes (Lechte dalam Sobur, 2004b: 65-66) adalah:

1. Kode hermeneutik, yaitu kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan ‘kebenaran’ bagi pertanyaan yang muncul dalam teks.

2. Kode semik atau kode konotatif, yaitu kode yang banyak menawarkan banyak sisi. Dalam dikatakan bahwa jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tertentu, kita dapat mengenali suatu tokoh dengan atribut tertentu.

3. Kode simbolik, yaitu aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural.

4. Kode proaretik atau kode tindakan, yaitu sebagai pelengkapan utama teks yang dibaca orang, dan semua teks tersebut bersifat naratif.

5. Kode gnomic atau kode kultural, yaitu acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya.

Di samping penanda teks (leksia) dan lima kode pembacaan yang telah dijabarkan di atas, beberapa konsep penting dalam analisis semiotika Roland Barthes adalah:

1. Penanda dan Petanda

Menurut Saussure, bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah ‘bunyi yang bermakna’ atau ‘coretan yang bermakna’. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.

Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Menurut Saussure, penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti seperti dua sisi dari sehelai kertas. Sausurre menggambarkan tanda yang terdiri signifier dan signified itu sebagai berikut:

Gambar 3 .Elemen-elemen Makna Sausurre

Sumber: Sobur, Alex. (2004). Analisis Teks Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Pada dasarnya apa yang disebut signifier dan signified tersebut adalah produk kultural. Setiap tanda kebahasaan, menurut Sausurre, pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image), bukan menyatakan sesuatu dengan sebuah nama. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier) sedangkan konsepnya adalah pertanda (signified). Dua unsur ini tidak bisa dipisahkan sama sekali. Pemisahan hanya akan menghancurkan ‘kata’ tersebut.

2. Denotasi dan Konotasi

Denotasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah, makna yang

‘sesungguhnya’, bahkan kadang kala juga dirancukan dengan referensi atau acuan.

Proses signifikasi yang secara tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti sesuai dengan apa yang terucap (Sobur, 2004: 70)

Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran.

Denotasi bersifat langsung, dapat dikatakan sebagai makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, sehingga sering disebut sebagai gambaran sebuah petanda.

Sedangkan menurut Kridalaksana, denotasi adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu.

Makna denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan dalam kamus. Makna konotatif ialah makna denotatif ditambah dengan segala gambaran, ingatan, dan perasaan yang ditimbulkan oleh kata itu. Kata konotasi itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu connotare, yang berarti ‘menjadi tanda’ dan mengarah kepada makna-makna kultural yang terpisah atau berbeda dengan kata (dan bentuk-bentuk lain dari komunikasi)

Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama dalam sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran.

Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda (Berger, 2000: 55).

Sedangkan konotasi (connotation, evertone, evocatory) diartikan sebagai aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Dengan kata lain, makna konotatif merupakan makna leksikal + X (Sobur, 2004: 263).

Di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua.Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketetutupan makna dan, dengan demikian, sensor atau represi politis. Sebagai reaksi yang paling ekstrem adalah melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya, yang ada hanyalah konotasi semata-mata. Penolakan ini mungkin terasa berlebihan, namun ia tetap berguna sebagai sebuah koreksi atas kepercayaan bahwa makna ‘harfiah’

merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman dalam Sobur, 2004: 71).

3. Paradigmatik dan Sintagmatik

Di dalam konteks strukturalisme bahasa, tanda tidak dapat dilihat hanya secara individu, akan tetapi dalam relasi dan kombinasinya dengan tanda-tanda lainnya di dalam sebuah sistem. Analisis tanda berdasarkan sistem atau kombinasi yang lebih besar ini (kalimat, buku, kitab) melibatkan apa yang disebut aturan pengkombinasian yang terdiri dari dua aksis, yaitu aksis paradigmatik, yaitu cara pemilihan dan pengkombinasian tanda-tanda, berdasarkan aturan atau kode tertentu, sehingga dapat menghasilkan sebuah ekspresi bermakna.

Bahasa adalah struktur yang dikendalikan oleh aturan main tertentu, semacam mesin untuk memproduksi makna. Dalam bahasa, kita harus mematuhi aturan main bahasa (grammar, sintaks) jika kita ingin menghasilkan ekspresi yang bermakna. Aturan main pertama dalam bahasa, menurut Sausurre adalah bahwa di dalam bahasa hanya ada prinsip perbedaan. Kata-kata mempunyai makna yang menyebabkan mereka berada di dalam relasi perbedaan. Jadi, yang pertama-tama dilihat di dalam strukturalisme bahasa adalah relasi, bukan hakikat tanda itu sendiri.

Perbedaan dalam bahasa, menurut Sausurre, hanya dimungkinkan lewat beroperasinya dua aksis bahasa yang disebutnya aksis paradigma dan aksis sintagma. Paradigma adalah satu perangkat tanda yang melaluinya pilihan-pilihan dibuat, dan hanya satu unit dari pilihan tersebut dapat dipilih, Sintagma adalah kombinasi tanda dengan tanda lainnya dari perangkat yang ada berdasarkan aturan tertentu, sehingga menghasilkan ungkapan bermakna (Piliang, 2012: 302-303).

Menurut semiotika Sausurren, apa pun bentuk pertukaran tanda, ia harus mengikuti model kaitan struktural antara penanda dan petanda yang bersifat stabil dan pasti (Sobur, 2004b: 278).

Sintagma

Paradigma

Gambar 4. Poros Paradigma dan Sintagma (Piliang, 2012: 303)

4. Mitos

Pada umumnya mitos adalah suatu sikap lari dari kenyataan dan mencari

‘perlindungan dalam dunia khayal’. Sebaliknya dalam dunia politik, mitos kerap dijadikan alat untuk menyembunyikan maksud-maksud yang sebenarnya, yaitu membuka jalan, mengadakan taktik untuk mendapat kekuasaan dalam masyarakat yang bersangkutan dengan ‘melegalisasikan’ sikap dan jalan anti-sosial. Tujuan dari suatu mitos politik adalah selalu kekuasaan dalam negara, karena dianggap bahwa tanpa kekuasaan keadaan tidak dapat diubahnya. Demikianlah mitos mudah menjadi ‘alat kekuasaan’ yang sukar dibuktikan kebenarannya selama tujuan mitos belum menjadi kenyataan, maka apa yang dijanjikan oleh mitos

masih saja dapat diproyeksikan ke masa ‘lebih ke depan’ lagi (Sobur, 2004b: 223-224).

Mitos (mythes) adalah suatu jenis tuturan (a type of speech), sesuatu yang hampir mirip dengan sesuatu yang hampir mirip dengan ‘representasi kolektif’ di dalam sosiologi Durkheim. Mitos adalah sistem komunikasi, sebab ia membawakan pesan. Maka, mitos bukanlah objek. Mitos bukan pula konsep atau suatu gagasan, melainkan suatu cara signfikasi suatu bentuk. Lebih jauhnya lagi, mitos tidak ditentukan oleh objek ataupun suatu gagasan, melainkan cara mitos disampaikan. Mitos tidak hanya berupa pesan yang disampaikan dengan bentuk verbal (kata-kata lisan ataupun tulisan), namun juga dalam berbagai bentuk lain atau campuran antara bentuk verbal dan nonverbal. (Sobur, 2004: 224).

2.2.4 Gaya Hidup

Gaya hidup secara luas didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana seseorang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia disekitarnya (pendapat). Gaya hidup suatu masyarakat akan berbeda dengan masyarakat yang lainnya. Bahkan dari masa ke masa gaya hidup suatu individu dan kelompok masyarakat tertentu akan bergerak dinamis.

Gaya hidup pada dasarnya merupakan suatu perilaku yang mencerminkan masalah apa yang sebenarnya ada di dalam alam pikir pelanggan yang cenderung berbaur dengan berbagai hal yang terkait dengan masalah emosi dan psikologis konsumen.( Nugroho,2010:70-79)

Gaya hidup adalah konsep yang lebih kontemporer, lebih komprehensif, dan lebih berguna daripada kepribadian. Karena alasan ini, perhatian yang besar harus dicurahkan pada upaya memahami konsepsi atau kata yang disebut Gaya hidup, bagaimana gaya hidup diukur, dan bagaimana gaya hidup digunakan. Gaya

hidup didefinisikan sebagai pola di mana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang. Gaya hidup adalah fungsi motivasi konsumen dan pembelajaran sebelumnya, kelas sosial, demografi, dan variabel lain. Gaya hidup adalah konsepsi ringkasan yang mencerminkan nilai konsumen. (James,1994:383)

Gaya hidup hanyalah salah satu cara untuk mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup (Life style) pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama kawankawannya, ada yang senang menyendiri, ada yang bepergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan aktivitas yang dinamis, dan ada pula yang memiliki dan waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial-keagamaan.

Gaya hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang. Memahami kepribadian tidaklah lengkap jika tidak memahami konsep gaya hidup. Gaya hidup adalah konsep yang lebih baru dan lebih mudah terukur dibandingkan kepribadian. Gaya hidup mencerminkan pola konsumsi yang menggambarkan pilihan seseorang bagaimana ia menggunakan waktu dan uangnya.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gaya hidup lebih menggambarkan perilaku seseorang, yaitu bagaimana ia hidup, menggunakan uangnya dan memanfaatkan waktu yang dimilikinya. Gaya hidup berbeda dengan kepribadian. Kepribadian lebih menggambarkan karakteristik terdalam yang ada pada diri manusia. Sering disebut juga sebagai cara seseorang berfikir, merasa dan berpersepsi. Walaupun kedua konsep tersebut berbeda, namun gaya hidup dan kepribadian saling berhubungan. Kepribadian merefleksi karakteristik internal dari konsumen, gaya hidup menggambarkan manifestasi eksternal dari karakteristik tersebut, yaitu perilaku seseorang. (Ekawati, 2010: 64-66)

2.3 Model Teoritik

Gambar 5. Model Teoritik

Video #JKWVLOG “Bermain Bersama Cucu”, “Mampir di Toko Tuku, Brand Lokal Citarasa Internasional” dan “Satwa Istana Bogor” dalam

Official Account YouTube Jokowi

Analisis Semiotika

Gaya hidup Presiden dalam Vlog Jokowi di Youtube

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah analisis teori atau ilmu yang membahas tentang metode dalam melakukan penelitian. Metode penelitian komunikasi adalah prosedur atau cara ilmiah dalam melakukan penelitian komunikasi untuk menemukan hal-hal baru, membuktikan atau menguji temuan penelitian sebelumnya atau untuk pengembangan ilmu komunikasi (Pujileksono, 2015: 4)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dan bersifat dekskriptif. Menurut Kirk dan Miller, penelitian kualitatif dipergunakan untuk menemukan atau mengembangkan teori yang sudah ada.

Penelitian kualitatif berusaha menjelaskan realitas dengan menggunakan penjelasan deskriptif dalam bentuk kalimat (Pujileksono, 2015: 35). Dalam penelitian kualitatif ada dua hal yang ingin dicapai, yaitu:

1. Menganalisis proses berlangsungnya suatu fenomena sosial dan memperoleh suatu gambaran yang tuntas terhadap proses tersebut.

2. Menganalisis makna yang ada di balik informasi, data dan proses suatu fenomena sosial tersebut.

Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan model teorisasi induktif. Pada model teorisasi induktif, peneliti tidak perlu tahu tentang suatu teori, namun datalah yang paling penting. Fokus seorang peneliti kualitatif harus terletak pada data di lapangan sehingga teori yang berhubungan dengan penelitian tak lagi penting. Data menjadi sangat penting, sedangkan teori dapat dibangun berdasarkan data di lapangan. Teorisasi induktif menggunakan data sebagai pijakan awal melakukan penelitian. Maka data adalah segala-galanya dalam memulai penelitian.

Pada penelitian kualitatif, peneliti harus dapat berpikir secara kritis, di mana peneliti mampu menangkap fenomena-fenomena sosial di masyarakat dan melakukan pengamatan mendalam terhadap fenomena tersebut. Semiotika

merupakan salah satu bagian dari bentuk penelitian kualitatif. Analisis semiotika digunakan di dalam penelitian ini untuk mengkaji lebih dalam tentang makna yang terkandung di dalam tanda. Analisis semiotika tidak hanya sekedar menganalisis realitas media massa tetapi juga konteks realitas pada umumnya.

Melalui analisis semiotika, sejumlah besar sistem tanda yang terdapat pada kajian media mampu dianalisis dalam mencari makna di balik tanda yang ada.

Metode di dalam penelitian kualitatif bersifat interpretif, di mana dalam metode semiotika peneliti menganalisis dan mengungkapkan serta menguraikan makna ke dalam bentuk teks. Penelitian ini bersifat subjektif yang artinya setiap pemaknaan yang ada di balik tanda melibatkan daya pikir, pengalaman, budaya serta emosi setiap manusia. Penelitian ini akan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes sebagai teori utama. Semiotika Roland Barthes dipilih karena teknik ini dapat dipakai untuk membongkar makna di balik tanda-tanda yang ada.

Semiotika Roland Barthes menggunakan signifikasi dua tahap di mana tahap yang pertama merupakan uraian makna denotasi yaitu arti yang tampak pada tanda, dan yang kedua merupakan uraian konotasi, sehingga melalui konotasi tersebut melahirkan temuan-temuan dan mitos pada makna tersebut.

3.2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah masalah yang akan diteliti atau masalah yang akan dijadikan objek penelitian, yaitu suatu problem yang harus dipecahkan atau dibatasi melalui penelitian. Di dalam penelitian ini yang akan menjadi objek penelitian adalah video #JKWVlog “Bermain Bersama Cucu” “Mampir di Toko Tuku, Brand Lokal Citarasa Internasional” dan “Kelahiran Dua Ekor Anak Kambing di Istana Bogor” yang diupload pada akun Youtube Jokowi

3.3. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah sumber data dari penelitian di mana data itu diperoleh, atau tempat menemukan data. Dalam penelitian ini, yang menjadi subjek adalah gaya hidup presiden dalam video yang diupload pada akun YouTube Jokowi.

3.4 Kerangka Analisis

Penelitian ini akan menganalisis gaya hidup presiden dalam video

#JKWVlog “Bermain Bersama Cucu” “Mampir di Toko Tuku, Brand Lokal Citarasa Internasional” dan “Kelahiran Dua Ekor Anak Kambing di Istana Bogor”

yang diupload pada akun Jokowi di YouTube.. Peneliti juga akan menganalisis makna dari bahasa verbal dan non verbal muncul dalam vlog tersebut. Peneliti menggunakan analisis semiotika.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang ditempuh peneliti untuk memperoleh data. Adapun teknik pengumpulan data dalam melakukan penelitian ini adalah:

1. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data berupa Vlog

“Bermain Bersama Cucu” “Mampir di Toko Tuku, Brand Lokal Citarasa Internasional” dan “Kelahiran Dua Ekor Anak Kambing di Istana Bogor” pada account youtube Jokowi yang diunduh berupa video.

2. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data melalui literatur, buku dan sumber bacaan lainnya yang relevan dan mendukung penelitian serta membantu peneliti untuk memperoleh informasi.

3.6 Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses menyusun data agar dapat ditafsirkan.

Bogdan dan Biklen mengatakan bahwa analisis data kualitatif merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang

dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Pujileksono, 2015: 151).

Teknik analisis data yang akan dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:

a. Seleksi Data

Peneliti akan menyeleksi bagian-bagian yang menggambarkan gaya hidup dalam Vlog “Bermain Bersama Cucu” “Mampir di Toko Tuku, Brand Lokal Citarasa Internasional” dan “Kelahiran Dua Ekor Anak Kambing di Istana Bogor” .

b. Klarifikasi Data

Tahap selanjutnya adalah mengklarifikasi bagian-bagian yang dapat menginterpretasikan gaya hidup Jokowi.

c. Analisis Data

Bagian yang telah diklarifikasi, dianalisis dengan menggunakan teori semiotika .

d. Interpretasi Data

Setelah itu peneliti akan menginterpretasikan hasil analisis tersebut.

e. Penyimpulan

Ditahap terakhir ini, peneliti menarik kesimpulan bagaimana gaya hidup Presiden yang ditunjukkan dari Vlog “Bermain Bersama Cucu” “Mampir di Toko Tuku, Brand Lokal Citarasa Internasional” dan “Kelahiran Dua Ekor Anak Kambing di Istana Bogor”.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

Pada bab ini, peneliti menjelaskan kronologi penelitian data, yang terdiri dari proses analisis dan pembahasan hasil penelitian untuk vlog “Bermain Bersama Cucu” “Mampir di Toko Tuku, Brand Lokal Citarasa Internasional” dan

“Kelahiran Dua Ekor Anak Kambing di Istana Bogor” pada account Youtube Jokowi.

Subjek yang akan diteliti adalah gaya hidup presiden yang ditunjukkan dalam ketiga vlog tersebut. Berikut adalah ketiga vlog yang akan diteliti:

1. #JKWVLOG: Bermain Bersama Cucu.

Vlog yang diunggah pada 16 September 2017 ini menunjukkan keseharian Jokowi ketika berada di Solo. Terlihat Jokowi sedang bermain bersama cucunya, Jan Ethes. Vlog berdurasi 1 menit 28 detik ini terdiri dari scene pembuka, 2 scene isi dan scene penutup yang dipilah menjadi 7 gambar berbeda. Hingga saat ini Vlog Bermain Bersama Cucu telah ditonton oleh 727 ribu pengguna Youtube.

Tabel 4.1 Teknik-Teknik Dalam Menyunting Gambar Vlog Bermain Bersama Cucu

Tehnik Pengambilan Gambar Close up, medium shot, long shot Sudut pengambilan Gambar High angle, eye level, low angle

Fokus Gambar Selective focus

2. #JKWVLOG : Mampir di Toko Tuku, Brand Lokal Citarasa Internasional.

Vlog yang diunggah pada 2 Juli 2017 ini menunjukkan kegiatan Jokowi ketika menyambangi salah satu kedai kopi lokal di Jakarta. Jokowi

terlihat menikmati kopi local bersama keluarganya. Vlog berdurasi 2 menit

terlihat menikmati kopi local bersama keluarganya. Vlog berdurasi 2 menit

Dokumen terkait