BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.9 Semmes-Weinstein monofilament test
Silent Neuropathy adalah istilah klinis yang digunakan untuk neuropati dengan gangguan motorik dan/atau sensorik, tetapi tanpa keluhan nyeri saraf, parestesia, atau nyeri tekan saraf pada saat palpasi. Silent Neuropathy menyebabkan kerusakan saraf secara klinis dalam waktu yang relatif singkat dalam waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan (Santhanam, 2003)
Deteksi dan pemantauan silent neuropathy sangat penting karena intervensi dini dapat membantu membatasi kerusakan saraf dan pada akhirnya mencegah kecacatan. Namun, metode pengujian konvensional seperti pengujian suhu dengan tabung reaksi panas dan dingin, pengujian sensasi sentuhan dan tekanan dengan bolpoin atau tusukan jarum masih kasar dan tidak memadai untuk mendeteksi
kondisi ini. Tes yang ideal untuk neuropati harus sensitif (sehingga dapat mendeteksi semua kasus neuropati), spesifik (agar tidak mendeteksi mereka yang tidak menderita neuropati), akurat (harus mencerminkan keparahan secara dekat), dapat direproduksi dan dapat diulang (van Brakel, 1994).
Monofilamen bahan nilon pertama kali digunakan untuk pengujian saraf sensorik pada tahun 1969 di Nigeria yang bertujuan untuk membedakan berbagai bentuk kusta. Kit asli Semmes-Weinstein Monofilament Test terdiri dari 20 monofilamen, tetapi satu set terdiri dari lima monofilamen, dengan kemasan yang mudah dibawa, lebih mudah digunakan dan memiliki pengulangan yang lebih besar (Krotoski, et al. 1987).
Filamen terbuat dari polyhexamethylene dodecandiamide, lebih dikenal sebagai nilon 612, yang menyerap sangat sedikit air (kurang dari 3% dalam kelembaban 100%) dan dapat dibersihkan dengan alkohol. Filamen ini memiliki umur simpan yang tidak terbatas. Setiap filamen dipasang pada pemegang seperti kabel sepeda atau dasar jarum dan memiliki panjang 38 mm (Gambar 2.5).
Gambar 2.5 Semmes-Weinstein monofilaments (Bell Krotoski, 1993)
Penggunaan filamen ini harus diterapkan secara tegak lurus ke setiap situs tertentu di tangan (3 situs untuk saraf ulnaris dan median dan 1 situs untuk saraf
radial) dan kaki (7 situs di telapak kaki untuk saraf tibialis posterior, dan 1 situs di telapak kaki), punggung kaki dan dua situs di tulang kering untuk saraf poplitea lateral) secara C-shaped curve atau membentuk kurva berbentuk C (Gambar 2.6)
Gambar 2.6 Teknik pemeriksaan yang benar secara C-shaped curve (Bell Krotoski, 1993)
Aplikasi dimulai dengan filamen terbaik (hijau) hingga filamen oranye.
Rincian skor harus dicatat pada formulir yang sudah terdapat gambar tangan dan kaki untuk setiap saraf (Gambar 2.7 a-b). Pengujian harus dilakukan sekali dalam 15 hari selama 4 bulan pertama dan selanjutnya sebulan sekali.
Gambar 2.7 (a-b) Situs saraf pada tangan dan kaki penderita kusta yang akan diperiksa menggunakan SWMT (Bell Krotoski, 1993)
a b
Pada akhir pemeriksaan, akan dilakukan interpretasi. Hasil interpretasi SWMT bervariasi, yakni setiap pasien yang tidak merasakan filamen ungu atau 2 g monofilamen ditetapkan sebagai penderita silent neuropathy. Interpretasi SWMT dapat dilihat pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Interpretasi Semmes-Weinstein Monofilaments Test (Santhanam, 2003) Warna Berat (g) Skor Interpretasi
Hijau 0.05 5 Normal
Biru 0.20 4 Berkurangnya sentuhan ringan Ungu 2.00 3 Berkurannya sensasi proteksi Merah 4.00 2 Hilangnya sensasi proteksi Oranye 7.50 1 Berkurangnya sensasi tekanan dalam
34 BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1. Kerangka Berpikir
Dari berbagai mekanisme yang mempengaruhi patogenesis kusta, adanya stres oksidatif (SO) yang disebabkan oleh penumpukan reactive oxygen species (ROS) adalah penting untuk dipelajari. Penumpukan ROS pada penyakit kusta dapat terjadi saat fagositosis M. leprae oleh makrofag ataupun pada kondisi reaksi kusta.
Salah satu radikal bebas yang banyak memainkan peran pada kerusakan sel dan jaringan pada penyakit kusta adalah nitric oxide (NO). Peningkatan kadar NO pada penderita kusta dapat terjadi selama perjalanan penyakit yang kronis. Penurunan kadar NO pada penyakit kusta dipengaruhi oleh pemberian kortikosteroid sistemik.
Molekul NO memodulasi sistem imun, endotel, endokrin maupun saraf pusat dan saraf tepi. Pada penyakit kusta, kadar NO meningkat pada kondisi awal saat makrofag memfagosit M. leprae dan juga pada kondisi reaksi kusta.
Sebaliknya, kadar NO menurun setelah pemberian kortikosteroid sistemik. Pada penyakit neuropati perifer yang kronik seperti penyakit kusta, dimana kadar NO meningkat, berisiko menimbulkan kerusakan saraf. Bila kondisi ini tidak mendapatkan penanganan segera, akan berujung pada kecacatan. Pada kusta tipe MB, non reaksi kusta dapat terjadi silent neuritis. Deteksi dini adanya silent neuritis dan penanganan segera akan mencegah terjadinya cedera saraf tahap lanjut.
Penggunaan antioksidan sebagai co-supplementation telah banyak dilakukan pada berbagai penyakit termasuk neurodegeneratif. Resveratrol adalah salah satu antioksidan alami dengan potensi kuat yang saat ini sedang banyak diteliti dan terbukti memiliki efikasi pada perbaikan neuropati perifer.
Berdasarkan akan data-data tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran co-supplementation resveratrol oral terhadap penurunan kadar NO serum dan peningkatan skor SWMT pada penderita kusta. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan one group pretest-posttest design.
3.2. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian co- supplementation resveratrol 100 mg oral perhari selama 4 minggu pada penderita kusta tipe MB tanpa riwayat reaksi kusta sebelumnya terhadap kadar NO serum dan skor SWMT dapat dilihat pada Gambar 3.1
Keterangan: Diteliti
Penderita kusta tipe MB tanpa riwayat reaksi kusta sebelumnya
Peningkatan Kadar NO
Cacat kusta
Resveratrol intraoral Silent neuritis (terkonfirmasi melalui
SWMT)
Tidak diteliti
Gambar 3.1. Bagan kerangka konsep penelitian 3.3. Hipotesis Penelitian
1. Kadar NO serum lebih rendah setelah diberikan co-supplementation resveratrol 100 mg oral perhari selama 4 minggu dibandingkan dengan kondisi sebelum diberikan co-supplementation resveratrol 100 mg oral oral pada penderita kusta tipe MB non reaksi yang berobat di RSUP Sanglah Denpasar.
2. Skor SWMT lebih tinggi setelah diberikan co-supplementation resveratrol 100 mg oral perhari selama 4 minggu dibandingkan dengan kondisi sebelum diberikan co-supplementation resveratrol 100 mg oral oral pada penderita kusta tipe MB non reaksi yang berobat di RSUP Sanglah Denpasar.
37 BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental one group pre-test post-test design yang bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kadar NO serum dan skor SWMT terhadap pemberian co-supplementation resveratrol 100 mg oral perhari selama 4 minggu pada penderita kusta tipe MB tanpa riwayat reaksi kusta sebelumnya. Secara skematis dapat dilihat pada Gambar 4.1 dibawah ini.
Keterangan:
P : kelompok perlakuan subjek MB tanpa reaksi kusta
O1 : Hasil pretest kadar NO serum dan skor SWMT minggu ke-0 pada kelompok perlakuan
O2 : Hasil post-test kadar NO serum dan skor SWMT minggu ke-4 pada kelompok perlakuan
X : Perlakuan berupa pemberian Resveratrol 100mg oral selama 4 minggu
Gambar 4.1. Rancangan penelitian eksperimental dengan menggunakan one group pretest-posttest design
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah, Denpasar, Bali yang dilakukan pada bulan November 2021 hingga Desember 2021.
Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pengambilan sampel darah serta pemeriksaan SWMT dilakukan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.
Pemeriksaan kadar NO serum dilakukan di Laboratorium RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.
4.3. Pemilihan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Target
Populasi target penelitian ini adalah semua pasien kusta tipe MB di Bali. Skema populasi dan sampel penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.2.
4.3.2. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau penelitian ini adalah semua pasien kusta tipe MB, non reaksi kusta, yang datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah Denpasar selama periode penelitian berlangsung.
4.3.3. Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah total sampling, yaitu semua pasien kusta tipe MB, non reaksi kusta, dengan alasan jumlah pasien kusta tipe MB, non reaksi kusta yang tercatat berkunjung ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah, Denpasar, pada tahun 2021 berjumlah 18 orang. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi
dengan kesalahan yang sangat kecil (Sugiyono, 2010). Semua subyek yang datang memenuhi kriteria penerimaan sampel dimasukkan dalam sampel penelitian, sampai memenuhi jumlah yang diperlukan.
4.3.3.1. Kriteria Inklusi
1. Pasien kusta tipe MB non reaksi kusta, kasus baru atapun lama, memenuhi kriteria kusta secara klinis, yang berkunjung ke Poliklinik Kulit dan Kelamin, RSUP Sanglah Denpasar.
2. Pasien dengan jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan dengan umur antara 18-65 tahun.
3. Warga negara Indonesia (WNI) 4. Keadaan umum baik
5. Bersedia untuk diikut sertakan dalam penelitian dan menandatangani lembar inform consent.
4.3.3.2. Kriteria Eksklusi
1. Tidak bersedia ikut serta dalam penelitian 2. Pasien kusta dengan riwayat ENL dan RR 3. Pasien yang memiliki riwayat reaksi alergi obat
4. Pasien yang sedang mengidap penyakit infeksi akut lainnya 5. Pasien yang sedang mengalami trauma
6. Pasien yang sedang hamil dan menyusui.
7. Pasien yang mengonsumsi alkohol dan merokok secara rutin.
8. Pasien yang menderita penyakit kronis seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, asma bronkial, keganasan, lupus eritematosus sistemik,
penyakit ginjal kronis, psoriasis, dermatitis atopik, sirosis hepatis, akrodermatitis enterohepatika, diare kronis, dan atritis reumatoid.
Gambar 4.2. Skema populasi dan sampel penelitian
4.3.4. Besar Sampel
Besar sampel pada penelitian ini berjumlah 18 orang. Sampel dipilih secara total sampling.
4.4. Variabel Penelitian
4.4.1. Klasifikasi dan Identifikasi Variabel
Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Variabel bebas adalah co-supplementation resveratrol 100 mg oral perhari selama 4 minggu (skala kategorikal)
2. Variabel tergantung adalah kadar NO serum dan skor SWMT (skala numerik).
Penderita Kusta tipe Multibasiler, non reaksi Populasi Target 100 mg oral perhari selama 4
minggu
3. Variabel kendali yaitu kusta tipe PB, ENL. RR, jenis kelamin, usia, pekerjaan, status gizi, hamil, menyusui, penggunaan kortikosteroid sistemik, diuretik, dan kontrasepsi hormonal, konsumsi alkohol dan merokok rutin, penyakit kronis seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, asma bronkial, neoplasia, lupus eritematosus sistemik, penyakit ginjal kronis, psoriasis, dermatitis atopik, sirosis hepatis, akrodermatitis enterohepatika, diare kronis, dan atritis reumatoid.
Gambar 4.3 Hubungan antar variabel penelitian
4.4.2. Definisi Operasional Variabel Variabel Bebas
• Resveratrol intraoral
Variabel Tergantung
• Kadar NO serum
• Skor SWMT
Variabel Kendali
Kusta tipe PB, ENL, RR, usia, jenis kelamin, status gizi, pekerjaan, tingkat depresi, konsumsi suplemen seng, hamil, menyusui, penggunaan kortikosteroid sistemik, diuretik, dan kontrasepsi hormonal, konsumsi alkohol dan merokok rutin, penyakit kronis (diabetes melitus, penyakit jantung koroner, asma bronkial, neoplasia, lupus eritematosus sistemik,
penyakit ginjal kronis, psoriasis, dermatitis atopik, sirosis hepatis, akrodermatitis enterohepatika, diare kronis, dan athritis rheumatoid).
1. Penderita Kusta adalah semua pasien kusta yang berkunjung ke subdivisi Morbus Hansen, poliklinik Kulit dan Kelamin, RSUP Sanglah Denpasar periode November 2021– Desember 2021 dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
2. Kusta tipe multibasiler (MB) adalah pasien kusta yang memenuhi kriteria klinis kusta tipe MB menurut WHO yang berkunjung ke subdivisi Morbus Hansen poliklinik Kulit dan Kelamin, RSUP Sanglah Denpasar, periode November 2021– Desember 2021 dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kasus baru adalah semua pasien kusta yang belum mendapatkan pengobatan MDT. Kasus lama adalah semua pasien kusta yang sudah mendapatkan pengobatan MDT.
3. Reaksi Kusta adalah episode akut peradangan klinis yang terjadi selama perjalanan penyakit kronis pada penderita kusta. Reaksi kusta dapat terjadi sebelum, selama dan sesudah pengobatan kusta. Reaksi kusta diklasifikasikan sebagai reaksi tipe I (reversal reaction; RR) atau tipe II (erythema nodosum leprosum; ENL). Reaksi tipe I terjadi pada pasien borderline (BT, BB dan BL) sedangkan ENL hanya terjadi pada bentuk BL dan LL.
4. Co-supplementation resveratrol merupakan pemberian kapsul resveratrol 100 mg oral perhari selama 4 minggu yang diberikan setelah makan pagi sebanyak 1 kali perhari sejak ditentukan sebagai sampel penelitian. Co-supplementation adalah pemberian terapi bersama suplementasi lainnya yang telah ada.
5. Kadar nitric oxide (NO) serum merupakan hasil pengukuran NO serum melalui metode ELISA yang dinyatakan dengan satuan μmol/L. Pengambilan sample darah dilakukan pada jam berkunjung di Poli Kulit dan Kelamin, Divisi
Morbus Hansen, RSUP Sanglah, Denpasar. di Variabel ini dinyatakan dalam skala numerik.
6. Skor Semmes-Weinstein Monofilaments Test (SWMT) adalah skor yang didapatkan setelah melakukan pemeriksaan saraf sensorik menggunakan serabut monofilamen Semmes-Weinstein. Hasil interpretasi dapat dilihat pada tabel 2.1.
7. Resveratrol merupakan salah satu antioksidan alami yang berasal dari tanaman seperti anggur merah, raspberry, kacang tanah, dan banyak tanaman lainnya.
Resveratrol adalah sejenis polifenol yang disebut phytoalexin, suatu kelas senyawa yang diproduksi sebagai bagian dari sistem pertahanan tanaman terhadap penyakit. Pada penelitian ini menggunakan Polygonum cuspidatum PE 50% sebagai sumber resveratrol (resveratrol 50 mg) sebagai bahan aktif obat, dan terdapat juga lesitin 95% 300 mg sebagai bahan tidak aktif obat yang berfungsi sebagai transporter obat.
8. Jenis kelamin sampel yaitu laki-laki atau perempuan yang dievaluasi berdasarkan informasi tertulis pada informed consent dan ciri fisik. Variabel jenis kelamin dinyatakan dalam skala nominal.
9. Usia merupakan lama tahun kehidupan yang dihitung sejak tanggal kelahiran hingga tanggal kedatangan ke lokasi penelitian yang diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner penelitian. Variabel usia dinyatakan dalam skala numerik.
10. Pekerjaan adalah suatu aktivitas yang dilakukan subjek untuk mendapatkan upah dari aktivitas tersebut. Variabel pekerjaan diklasifikasikan menjadi
bekerja dan tidak bekerja. Data pada variabel ini didapatkan melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan sebagai variabel ordinal.
11. Status gizi merupakan ukuran keberhasilan pemenuhan gizi melalui konsumsi gizi yang dievaluasi berdasarkan tinggi badan dan berat badan. Status gizi dinyatakan dalam indeks masa tubuh (IMT) dengan satuan kg/m2 melalui penghitungan berat badan (kg) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (m). Hasil kalkulasi IMT dikategorikan sebagai malnutrisi (IMT < 18,5 kg/m2), normal (18,5 – 25 kg/m2), dan nutrisi berlebih (IMT > 25 kg/m2). Variabel ini dinyatakan dalam skala ordinal.
12. Hamil adalah kondisi perkembangan janin intrauterus pada perempuan yang dievaluasi melalui penilaian ciri fisik dan wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam variabel nominal.
13. Menyusui adalah proses pemberian air susu ibu secara langsung melalui payudara ibu kepada bayi yang dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam variabel nominal.
14. Penggunaan obat-obatan yaitu konsumsi kortikosteroid sistemik, diuretik (loop diuretic, thiazide, disulfirams), kontrasepsi hormonal baik oral, implant, atau intrauterine device (IUD), dan konsumsi suplemen seng, vitamin D, dan vitamin A dalam kurun waktu 4 minggu terakhir sejak dilakukan penelitian.
Data diperoleh dari wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
15. Konsumsi alkohol dan merokok rutin adalah subjek yang memiliki riwayat atau sedang mengonsumsi minuman beralkohol dengan jumlah satu gelas atau lebih per hari serta merokok dengan jumlah satu batang atau lebih per hari dalam
rentang waktu lebih dari atau sama dengan tiga minggu sebelum dilakukan penelitian. Evaluasi diketahui melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
16. Diabetes melitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan adanya kondisi hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang disebabkan oleh adanya resistensi insulin atau gangguan sekresi insulin. Variabel ini dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
17. Penyakit jantung koroner adalah kondisi ketika terjadi penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah jantung (arteri koroner) oleh adanya penumpukan lemak dengan gejala seperti sesak napas dan nyeri dada kiri yang bersifat tumpul dan menjalar. Variabel ini dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara.
Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
18. Asma bronkial adalah suatu peradangan kronis saluran napas yang menyebabkan adanya hipersensitivitas bronkus sehingga menyebkan gejala berupa mengi, rasa berat di dada, sesak napas, dan batuk terutama pada malam dan dini hari yang disebabkan oleh pemicu tertentu. Variabel ini dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
19. Diare kronis adalah perubahan konsistensi dan frekuensi buang air besar dengan karakteristik feses cair atau encer atau lebih lunak dari sebelumnya lebih dari tiga kali dalam sehari. Diare kronis berlangsung lebih dari 30 hari.
Variabel diare kronis dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
20. Lupus eritematosus sistemik merupakan kondisi inflamasi kronis yang disebabkan oleh penyakit autoimun dengan manifestasi pada berbagai organ tubuh. Variabel lupus eritematosus sistemik dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
21. Penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal kronis merupakan suatu kondisi dari penurunan fungsi ginjal progesif yang memerlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisa atau ginjal substitusi. Penyakit ginjal kronis yang dialami saat ini dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
22. Psoriasis adalah penyakit inflamasi kronis akibat kondisi autoimun pada kulit dengan karekteristik hiperproliferasi keratinosit yang meningkat dan diferensisasi keratinosit yang berlangsung singkat. Variabel psoriasis dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
23. Dermatitis atopik merupakan penyakit inflamasi kulit kronis, berulang dengan karakteristik gatal, kulit kering, dan kemerahan yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak. Variabel dermatitis atopik dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi menggunakan kriteria
Haniffin & Rajka dan pemeriksaan fisik. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
24. Sirosis hepatis adalah penyakit peradangan luas dan menahun pada hati yang diikuti oleh proliferasi jaringan ikat yang menyebabkan penurunan fungsi dan pengerasan hati. Variabel ini dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara dan pemeriksaan fisik. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
25. Akrodermatitis enterohepatika merupakan penyakit genetik resesif autosomal langka dengan karakteristik dermatitis periorifisial, alopesia, diare, dan ruam pada akral. Penyakit ini menyebabkan terjadinya kelainan absorbsi dan metabolism seng. Variabel ini dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
26. Neoplasia atau keganasan adalah suatu pertumbuhan jaringan tidak terkontrol, abnormal, dan berlangsung terus menerus dan dapat mengancam nyawa.
Variabel ini dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
27. Arthritis rheumatoid merupakan penyakit inflamasi kronis pada sendi, terutama sendi-sendi kecil dan dapat terjadi deformitas akibat kondisi autoimun. Variabel ini dievaluasi sebagai riwayat penyakit terdahulu atau sedang dialami saat ini yang dievaluasi melalui wawancara. Variabel ini dinyatakan dalam skala nominal.
4.5. Bahan dan Instrumen Penelitian 4.5.1. Bahan Penelitian
Dalam penelitian ini bahan yang digunakan adalah darah dari pembuluh vena subjek penelitian.
4.5.2. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain lembar informed consent, kuisioner yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk memperoleh karakteristik pasien, lembar pemeriksaan status dermatologi untuk penegakkan diagnosis kusta, instrumen pemeriksaan kadar NO serum, dan instrumen pemeriksaan skor SWMT. Instrumen pemeriksaan kadar NO serum antara lain antara lain tourniquet, sarung tangan non steril, spuite 5 ml, tabung darah tanpa antikoagulan dnegan tutup royal blue (BD) trace metal, tabung K2-EDTA, tabung plastik untuk pengiriman serum, tabung K3-EDTA.
4.5.3. Intervensi Penelitian
Intervensi yang diberikan berupa pemberian co-supplementation resveratrol 100 mg oral perhari selama 4 minggu.
4.6. Prosedur Penelitian
1. Penentuan sampel penelitian melalui populasi terjangkau yaitu individu narakontak dengan pasien kusta tipe MB berusia 18-65 tahun yang berkujung
ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi melalu anamnesis dan pemeriksaan fisik. Informasi yang dievaluasi pada anamnesis antara lain identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat pengobatan, riwayat penyakit pada keluarga, riwayat sosial, dan riwayat kontak dengan pasien kusta. Informasi pada pemeriksaan fisik antara lain tanda-tanda vital, status general, dan status dermatologis.
2. Individu yang telah diperiksa melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diberikan penjelasan secara tertulis dan lisan mengenai penelitian ini. Individu tersebut akan diberikan informed consent dan menandatangani informed consent tersebut sebagai persetujuan keterlibatan dalam penelitian.
3. Evaluasi tanda kardinal kusta pada individu yang akan menjadi sampel penelitian:
a. Makula hipopigmentasi atau eritematosa, atau meninggi berupa plak yang mati rasa pada sebagian atau seluruh lesi terhadap raba, suhu, dan nyeri.
b. Penebalan saraf tepi dapat disertai rasa nyeri dengan atau tanpa gangguan fungsi sensoris, motorik, dan otonom.
4. Pemberian co-supplementation resveratrol 100 mg oral perhari selama 4 minggu bagi penderita kusta tipe MB tanpa riwayat reaksi kusta sebelumnya.
5. Pemeriksaan skor SWMT
6. Pengambilan sampel darah dari pembuluh vena untuk pemeriksaan kadar NO serum.
a. Persiapan sampel darah
- Sebanyak 5 ml darah vena ditampung dalam tabung dengan tutup royal blue (BD) trace metal tanpa antikoagulan. Sebelum diperiksa, sampel dapat disimpan dengan stabil selama 30 hari dalam kondisi beku, selama 10 hari pada suhu 2-8oC, dan selama 5 hari pada suhu kamar.
- Biarkan serum menggumpal selama 10-20 menit pada suhu kamar lalu disentrifugasi pada kecepatan 2000-3000 RPM selama 20 menit.
b. Persiapan reagen
b. Persiapan reagen