• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seni Bangunan Renaissans

Dalam dokumen Tanra - FSD UNM (Halaman 46-55)

PERANCANGAN CONTAINER BOX PA’GANDENG GADDE’

DAFTAR PUSTAKA

V. Seni Bangunan Renaissans

Keahlian manusia membangun kebudayaan dan peradabannya dalam wujud artefak monumental seperti bangunan atau arsitektur bukanlah prestasi yang baru lahir sejak renaissans, sebab sejak sebelum kejayaan Yunani, di Mesir telah dibangun Pyramid dengan

bentuk dan konstruksi yang dahsyat, demikian pula di Babylon telah dibangun Ziggurat, dan orang Yunani juga telah mewujudkan Parthenon di Athena. Semua itu merupakan prestasi-prestasi besar yang pernah dicapai manusia dibidang Arsitektur sebelum abad pertengahan. Setelah memasuki abad pertengahan gaya seni rupa dan arsitektur yang berkembang gaya Romanesque

dan Gothic. Penerapannya dapat dilihat pada karya – karya seni rupa dan bangunan abad pertengahan.

Namun demikian prestasi-prestasi besar tersebut ternyata tidak berkesinambungan pada generasi- generasi selanjutnya, ilmu rancang bangun serta

prinsip-prinsip seni bangunannya belum dapat diurai dengan jelas kecuali semata-mata berdasar

pada mitos dan agama, walaupun dari segi hasil (bentuk, konstruksi, keteraturan, dll) telah mencapai tahap ideal dan sesuai dengan konteks

zamannya. Disamping itu metodologi, konsep, serta dasar – dasar berfikirnya belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun

pada era renaissans pengkajian terhadap sains dan filsafat Yunani untuk kemudian diuji kembali merupakan hal yang penting dalam

penemuan ilmu yang lebih objektif serta penemuan perspektif memiliki andil terhadap penyusunan prinsip-prinsip bangunan renaissans.

Gambar 7, Andrea Palladio. “S. Giorgio Maggiore, and Plan. Venice. Designed 1565.16

16H. W. Janson. ‘History of Art’ hlmn. 386

Seiring perjalanan waktu, pada masa renaissans ini bidang seni rupa maupun arsitektur mulai dianggap sebagai sesuatu yang otonom dan independen, sebab profesi seniman dan arsitek tidak lagi dianggap rendah dan tukang sebagaimana pada masa awal renaissans, sebab pada masa renaissans ini kebebasan kreatifitas para seniman telah menjadikan ia mampu menghasilkan karya-karya besar dan monumental dan tidak dapat dibuat oleh sembarang orang.

Sehubungan dengan hal ini, Widagdo mengatakan bahwa pada masa ini arsitek seperti Brunelleschi, Bramante, Palladio mempunyai kedudukan yang tinggi. Hingga arsitektur berkat karya-karya seniman ini identik dengan “High Culture”, karya-karyanya terdiri dari bangunan bangunan prestige, gereja, katedral, istana, dll. Tidak pernah ada pada masa itu arsitek terkenal membangun bangunan untuk kepentingan- kepentingan biasa, seperti rumah tinggal, perumahan petani, atau lumbung pangan dan gudang, karena ini dikategorikan dalam “mass culture”. Rakyat kebanyakan membangun rumah dan membangun fasilitas kebutuhan lainnya tanpa campur tangan arsitek. Hingga terjadi dua fenomena kebudayaan pada masa-masa pra revolusi industri. Arsitektur dan desain untuk

“high culture” dan “mass culture” masing- masing dengan persepsi Seni Rupa dan nilai- nilainya sendiri.17

17

Gambar 8, Giacomo Della Porta. “Façade of II

Gesu, Rome”. C. 1575-84.18

Prinsip keindahan dan konsep desain Arsitektur yang dijadikan dasar acuan bagi arsitek Renaissans adalah seperti yang telah ditulis oleh pemikir Romawi Vitruvius, sebagaimana telah diuraikan oleh Widagdo19, yang dimaksud adalah : Order atau keberaturan, berarti keberaturan dalam memilih komponen, konsistensi dalam skala, logika hubungan antar komponen, modul, dll. Eurithmy, adalah keindahan dan keserasian antar komponen arsitektur yang akhirnya membentuk kesatuan arsitektonis, proporsi yang indah dan sesuai, antara dimensi lebar, tinggi dan kedalaman ruang. Symmetry; adalah keseimbangan antar bagian-bagian bangunan, Propriety; adalah keterpaduan gaya atau prinsip bentuk tertentu, yang menjadikan bangunan mempunyai sosok arsitektur yang mempunyai prinsip-prinsip bentuk yang sesuai dan konsisten.

18H. W. Janson. ‘History of Art’ hlmn.387

19

Ibid, Widagdo, Hlmn. 90-91

Gambar 9, Leon Basttista Alberti. “S.

Francesco”. Façade designed 1450. Rimini.

Economy menunjukkan manajemen pelaksanaan yang baik dan beaya yang masuk akal. Dasar berfikir Arsitektur yang sifatnya universal adalah seperti yang telah ditulis oleh Vitruvius, bahwa Arsitektur atau seni bangunan harus memenuhi tiga syarat, yaitu Utilitas (guna, fungsi), Venustas (keindahan), Firmitas (kokoh, kekuatan, konstruktif benar) ketiga prinsip dasar ini masih berlaku hingga sekarang. Utilitas, berarti bahwa sebuah bangunan harus mampu memenuhi kewajiban sesuai dengan misi kehadirannya, berguna dan dapat memenuhi kehendak dari yang membangun, tidak hanya kehendak yang bersifat materil, tetapi juga memenuhi aspirasi imateriil. Arti guna atau manfaat harus dimengerti lebih luas, bukan arti yang pragmartis saja. Venustas, Keindahan, maksudnya antara lain, sebuah bangunan harus memenuhi kaidah-kaidah estetika, serasi dengan lingkungannya dan sesuai dengan prinsip-prinsip keindahan yang berlaku pada masanya, dan firmitas, kekokohan, atau layak dibangun

Kesimpulan

Di era renaissans banyak lahir tokoh- tokoh besar dalam berbagai disiplin yang mempengaruhi peradaban dunia modern selanjutnya, dibidang filsafat lahir Francis Bacon, Descartes, Machiavelli, Thomas Hobbes, Hegel, dll. Di bidang sains lahir Galileo, Newton, Einstein, dll. Di bidang teknik lahir James Watt, Gustaf eifell, dll. Sedangkan

dibidang seni rupa dan arsitektur diantaranya adalah Leonardo da Vinci, Michelangelo, Bramante, Donatello, Palladio, Raphael, dll. Dan tokoh-tokoh inilah yang banyak menghidupkan tradisi berfikir Yunani lalu mengembangkan sistem dan metode tersebut ke tahap yang lebih objektif dan dapat diaplikasikan untuk kepentingan hidup manusia, dan hasilnya telah dinikmati oleh kebudayaan dan peradaban dunia sampai zaman modern ini.

Pengaruh perkembangan sains, filsafat, dan teknik zaman renaissans terhadap perkembangan Seni rupa, desain dan arsitektur adalah semakin banyaknya karya-karya seni rupa maupun arsitektur yang dibuat dengan berdasar pada pertimbangan-pertimbangan matematis, emosional, rasional, dengan prinsip-prinsip ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, apalagi dengan ditemukannya ilmu perspektif.

Dengan banyaknya kaum borjuis dan orang kaya pada zaman renaissans, juga karena perhatian penguasa/raja yang tinggi terhadap aktivitas berkarya seni, maka banyaklah orang yang cenderung menekuni kehidupan sebagai seorang seniman, apalagi saat itu profesi seniman telah mendapatkan status sosial yang tinggi, sebab karya seni dihargai dengan biaya atau harga yang tinggi, dan tidak semua orang dapat melakukan pekerjaan tersebut.

Daftar Pustaka

Barbara Krystal, dkk. (editor)., “ 100 Seniman Yang Membentuk Sejarah Dunia”,

Jakarta, Penerbit Progres, (tanpa tahun)

Capra, Fritjof., “Titik Balik Peradaban” Yogyakarta: Bentang Budaya, Cetakan Kelima, Agustus 2002.

Collinson, Diane., “Lima Puluh Filosof Dunia Yang Menggerakkan” Jakarta: Murai

Kencana, 2001.

Drake, Stilman., “GALILEO, Pendekar Otonomi Ilmu Pengetahuan”, Jakarta, Grafiti,

1991.

Dutton, E. P., “Phaidon, Encyclopedia of Arts and Artists”, New York. 1978 by

Phaidon Press Limited.

Gregory, Andrew., “EUREKA !, Lahirnya Ilmu Pengetahuan” Yogyakarta: Penerbit

Jendela, 2002.

Janson, H.W., “History of Art, A Survey of the Major Visual Arts from the Dawn of History to the Present Day”,

Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J. and Harry N. Abrams, Inc., New York, 1966.

Meggs, Philip B., “A History of Graphic Design”, Viking Penguin Inc., New

York, 1983.

Russell, Bertrand., “Sejarah Filsafat Barat, dan Kaitannya dengan kondisi sosio- politik dari zaman kuno hingga

sekarang”, Penerjemah Sigit

Jatmiko, Yogyakarta, Penerbit Pustaka Pelajar, Nov. 2002.

Solomon, Robert C, & Kathleen M. Higgins.,

“Sejarah Filsafat”, Di terjemahkan

dari A Short History of Philosophy, Oxford University Press, New York, 1996. Jogjakarta, Yayasan Bentang Budaya, 2002

Widagdo,. “Desain dan Kebudayaan”, Direktorat

Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2000.

Adaptasi Konten Lokal dalam Metode Ambient pada Desain Media Promosi

Dian Cahyadi

Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar Jl. Malengkeri, Daeng Tata Raya, Parangtambung, Makassar

e-mail: [email protected]

Abstract: Local Content Adaptation in Ambient Methods in Media Design Promotio. Phenomenon declining advertising spending in the country have an impact on the closure of many major advertising agencies for agencies that do not provide unique works as an attraction for advertisers. The presence of advertising works that elevate local content makes the passion back ad spending to grow, this is due to the local berkonten ads served using ambient media are considered to have the appeal and power of high interaction in response evocative communicant. The strength of ambient advertising media is full of creative power and served with the taste of local content into force in carrying capacity towards sustaining cultural values and traditions that are expected to become a global trend.

Keywords: Local Content, Ambient Media, Media Promotion

Abstrak: Adaptasi Konten Lokal dalam Metode Ambient pada Desain Media Promosi. Fenomena menurunnya belanja iklan dalam negeri berdampak pada penutupan banyak agensi-agensi periklanan utamanya bagi agensi-agensi yang tidak memberikan karya yang unik sebagai daya tarik bagi pengiklan. Hadirnya karya-karya iklan yang mengangkat konten lokal menjadikan gairah belanja iklan kembali tumbuh, hal ini disebabkan iklan berkonten lokal tersebut disajikan menggunakan metode ambient media yang dianggap memiliki daya tarik dan daya interaksi tinggi dalam menggugah respon komunikan. Kekuatan iklan ambient media yang penuh daya kreatif dan disuguhkan dengan cita rasa konten lokal menjadi kekuatan dalam daya dukung terhadap upaya pelestarian nilai budaya dan tradisi yang diharapkan mampu menjadi tren yang mendunia.

Pendahuluan

“Culture takes diverse forms across time and space.

This diversity is embodied in the uniqueness and plurality of the identities of the groups and societies making up humankind. As a source of exchange, innovation and creativity, cultural diversity is as necessary for humankind as biodiversity is for nature. In this sense, it is the common heritage of humanity and should be recognized and affirmed for the benefit

of present and future generations.”(UNESCO’s

Universal Declaration on Cultural Diversity) Media promosi mengalami perkembangan pesat satu dekade belakangan ini di Indonesia. Banyak bermunculan perusahaan agensi advertising yang menawarkan beragam kreatifitas dalam menyampaikan pesan produk kepada masyarakat, termasuk ragam tema serta metode pendekatan dalam menyampaikan pesan. Sementara disaat yang sama pula banyak pula industry yang terpaksa tutup disebabkan mereka tidak mampu menghadirkan gagasan-gagasan ide kreatif untuk ditawarkanke pihak produsen sebagai pengiklan.

Televisi saat ini bukan lagi menjadi tujuan utama dalam memproduksi pesan untuk disebarluaskan. Beragam metode dan teknik penyampaian pesan digunakan oleh biro-biro agensi periklanan. Media mainstream yang sedang menjulang adalah media internet pada segmen media social yang mampu merebut perhatian 42 juta netizen (pengguna internet) di seluruh Indonesia. Seiring dengan kemunculannya tentu dibarengi dengan tingkat kreatifitas netizen dalam mengapresiasi berbagai konten visual.

Inti metode penyampaian pesannya adalah dengan melakukan pendekatan psiko-persepsi ataupun psiko-analisis.

Ilmu komunikasi, pada dasarnya mempunyai ciri yang sama dengan pengertian ilmu secara umum. Perbedaan adalah pada objek kajiannya, di mana perhatian dan telaah difokuskan pada peristiwa-peristiwa komunikasi antar manusia.

Mengenai hal itu Berger & Chafee (1987) menyatakan bahwa Ilmu komunikasi adalah suatu pengamatan terhadap produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat

diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang.

Sehingga secara umum ilmu komunikasi adalah pengetahuan tentang peristiwa komunikasi yang diperoleh melalui suatu penelitian tentang sistem, proses, dan pengaruhnya yang dapat dilakukan secara rasional dan sistematis, serta kebenarannya dapat diuji dan digeneralisasikan.

Pembahasan (Kajian Teori)

Desain komunikasi visual

Berdasarkan peristiwa komunikasi yang hendak dibangun terhadap masyarakat di daerah terkait berbagai pesan-pesan visual tentunya akan beroleh sejumlah faktor-faktor penghambat dimana sebagian besar simbol dan lambang- lambang yang terkomunikasikan mengalami proses panjang sebelum memberikan pengaruh balik terhadap simbol dan lambang yang dimaksudkan.

Simbol sebagai tanda, lahir dari kesamaan persepsi suatu komunitas terhadap sebuah obyek. Bisa berbentuk nilai konkrit maupun nilai serapan.

Setiap desainer komunikasi visual yang berperan dalam penyebarluasan pesan visual dituntut agar dapat menyampaikan pesan secara cepat dan tepat kepada masyarakat di daerah dan hal tersebut bukanlah menjadi perkara mudah mengingat keragaman kultur budaya di Indonesia. Oleh sebab itu akan dihasilkan beragam tanda visual yang setiapnya memiliki cirri tanda tersendiri sebagai pembeda (distinctive features)

Beberapa kultur dapat dengan mudah menyerap pesan dengan baik namun belum tentu untuk kultur lainnya dan memerlukan proses atau rekayasa strategi dalam penyampaian pesan.

Menurut Henry Jenkins dalam Alvanov Z. dan Yasraf A. P. (jurnal Wimba vol.2. no. 1/2010: hal. 26) Komunitas penggemar merupakan konsumen aktif atau pemburu

tekstual (content) yang menjadikan proses pemaknaan cultural menjadi bentuk seni. Proses ini diinisiasi tidak hanya oleh penggemar tetapi juga didukung oleh pihak penyelenggara content

itu sendiri (gravity).

Interpretasi Komunikasi

Membentuk perilaku massa dalam teori komunikasi makna sebagai mana teori yang

disampaikan oleh Wilbur Schram :”…media

memiliki kekuatan yang sangat perkasa, dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-

apa.” Namun dalam prakteknya peran media

massa juga memiliki kelemahan yakni dari sisi konten dan konteks pesan.

Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikasi. Tahapan proses komunikasi adalah sebagai berikut :

Penginterprestasian, hal yang

diinterpretasikan adalah motif komunikasi, terjadi dalam diri komunikator. Artinya, proses komunikasi tahap pertama bermula sejak motif komunikasi muncul hingga akal budi komunikator berhasil menginterpretasikan apa yang ia pikir dan rasakan ke dalam pesan (masih abstrak). Proses penerjemahan motif komunikasi ke dalam pesan disebut interpreting.

Penyandian, pada tahap ini masih ada dalam komunikator dari pesan yang bersifat abstrak berhasil diwujudkan oleh akal budi manusia ke dalam lambang komunikasi. Tahap ini disebut encoding, akal budi manusia berfungsi sebagai encorder, alat penyandi: merubah pesan abstrak menjadi konkret.

Pengiriman, proses ini terjadi ketika komunikator melakukan tindakan komunikasi, mengirim lambang komunikasi dengan peralatan jasmaniah yang disebut transmitter, alat pengirim pesan.

Perjalanan, pada tahapan ini terjadi antara komunikator dan komunikan, sejak pesan dikirim hingga pesan diterima oleh komunikan.

Penerimaan, pada tahapan ini ditandai dengan diterimanya lambang komunikasi melalui peralatan jasmaniah komunikan.

Penyandian Balik, pada tahap ini terjadi pada diri komunikan sejak lambang komunikasi diterima melalui peralatan yang berfungsi sebagai receiver hingga akal budinya berhasil menguraikannya (decoding).

Penginterpretasian, pada tahap ini terjadi pada komunikan, sejak lambang komunikasi berhasil diurai kan dalam bentuk pesan.

Geliat Agensi Adopsi Nilai Muatan Lokal dalam Karya Kreatif Industri Periklanan

Industri periklanan beberapa tahun belakangan ini mengalami kecenderungan menurun secara signifikan, terlihat banyaknya biro-biro iklan yang menutup usaha disebabkan pemesan jasa iklan semakin menurun disamping geliat perang harga sesama biro pengiklan. Tentunya hal ini memberikan penilaian tersendiri bahwa peran media massa seperti televisi, radio dan surat kabar sebagai pengantar pesan sudah tidak efektif lagi.

Melihat gelagat pasar yang cenderung semakin menurun, beberapa biro iklan menawarkan konsep local content dalam materi- materi copywritingnya, hal ini bertujuan untuk mengisi celah-celah sekat komunikasi antar budaya mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku, ratusan anak suku, dan ribuan bahasa. Tentunya dari setiap sekat tersebut menjadi cerminan betapa pentingnya toleransi dalam penulisan naskah untuk mengisi sekat komunikasi tersebut.

Tentu kita masih ingat iklan Pemilu tahun 1999, disalah satu iklannya mengadopsi bahasa dan dialek Manado dengan penciri copynya “Inga’-Inga’…..”, lalu kita ingat pula fenomena iklan salah satu produk kendaraan dengan dialek Bali yang khas dan kental. Dari beberapa contoh kecil tersebut menimbulkan semangat perasaan akan kenyataan keberagaman di nusantara. Mengunggah semangat keingintahuan akan budaya dari suku bangsa yang ada di nusantara, mengunggah rasa kebanggaan bagi etnis/suku yang terwakilkan dalam pentas kaca stasiun televisi nasional. Cobalah dibandingkan dengan iklan-iklan yang

tidak mengandung unsur entitas lokal, ibarat pepatah bagaikan sayur tanpa garam. Saat ini seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi kemudian menambah pilihan media yang dapat digunakan selain media yang selama ini dikenal. Meski media ini sangat populer saat ini yang sangat konfergen dengan kemasan informasi yang lebih menarik, interaktif dan bernilai tambah, namun sangat memiliki keterbatasan untuk diaplikasi kepada komunikan di daerah. Mari kita kepembahasan ringan soallocal content:Local content muatan segala sesuatu yang bersumber pengetahuan/informasi yang asli dihasilkan oleh suatu institusi/lembaga, perusahaan atau daerah sampai dengan negara, yang dapat dijadikan sumber pembelajaran (learning resources) dalam bentuk karya cetak maupun karya rekam.

Potensi local content dapat berupa :

1. Potensi suatu daerah/negara salah satunya kebudayaan, sejarah, pariwisata, perekonomian dan sebagainya, yang menjadi ciri khas dari suatu daerah/negara.

2. Potensi local content perusahaan salah satunya sejarah perusahaan, perkembangan produk yang dihasilkan, dokumentasi suatu media.

3. Potensi local institusi pendidikan atau perguruan tinggi yang terdiri para akademisi, reseachter, desainer non educatif sebagai pengguna informasi pengetahuan aktif yang menghasilkan riset penelitian, Skripsi, Tugas Akhir, Laporan Akhir, artikel ilmiah, materi kuliah, kumpulan kebijakan pimpinan perguruan tinggi, sejarah perguruan tinggi atau event-event yang dilaksanakan oleh institusi/perguruan tinggi yang didokumentasikan baik tercetak maupun terekam.

4. Potensi local lainnya yang dihasilkan oleh para professional

Local content adalah muatan lokal atau isi lokal, mengandung arti materi/informasi lokal tersebut dimasukkan dalam sebuah wadah.

Intinya adalah bagaimana memasukkan unsur lokal ke dalam naskah pesan promosi dengan tujuan menarik perhatian komunikan untuk

dipersepsikan dengan baik kepada pola informasi dan perilakunya(dampak yang diharapkan). Muatan lokal menjadi pilihan penting bagi para desainer komunikasi visual dalam merumuskan konsep materi sebagaimana diharapkan kepada tujuan perancangan desain media promosi visual agar dapat merubah perilaku komunikan sesuai dengan pesan-pesan visual. Kedekatan dan unsur pendekatan budaya lokal dianggap mudah diterima dimasyarakat yang menjadi sasaran atau target promosi. Hal ini disebabkan alam bawah sadar akan budaya setempat dapat dengan mudah menyentuh emosi dan perasaan komunikan (berdaya tarik emosional) sehingga dengan sendirinya merasa disentuh dan dilibatkan secara langsung oleh pesan moral yang disampaikan (keterwakilan).

Alternatif pemilihan jenis iklan Vernakular Iklan Ambient

Iklan ambient merupakan salah satu metode iklan luar ruang maupun dalam ruang yang dianggap memiliki daya tarik dan menjadi trend favorit para agensi. Hal ini disebabkan iklan gaya ini dianggap sarat dengan daya ide kreatif yang selalu muncul diluar dugaan atau hampir tidak terpikirkan oleh orang akan kemampuan para desainer memanfaatkan situasi di lingkungan tempatan iklan. Ide-ide kreatif ini memanfaatkan daya ambience imej produk yang dihadirkan dengan cara-cara kreatif dan diluar dugaan. Oleh sebabnya, kehadiran iklan-iklan ini mampu menarik perhatian konsumen.

Bambang, S.W., dalam jurnal of MARCCOMER, vol.1. no.1, 2009 menjelaskan secara singkat sejarah iklan ambient. Ambient pertama kali digunakan dalam kaitannya dengan periklanan pada tahun 1996 oleh Concord Advertising, sebuah biro iklan Inggris yang mengkhususkan diri pada kampanye luar ruang (outdoor). Penggunaan ambient didorong oleh meningkatnya permintaan klien untuk melakukan

sesuatu yang berbeda („something a bit different‟) dalam beriklan.

Permintaan itu dipicu oleh kecemasan klien akan semakin banyak dan padatnya iklan sehingga membutuhkan suatu terobosan baru.

Alasan lain adalah kompetisi yang semakin ketat, penurunan efektivitas dan semakin kurang tertariknya khalayak akan iklan-iklan yang ada sehingga klien menginginkan iklan yang lebih

“menggigit‟ dari biro iklannya. Permintaan tersebut kemudian diwujudkan oleh biro iklannya melalui penempatan iklan di tempat- tempat yang tidak biasa untuk menarik perhatian khalayak. Sehingga, ‘penempatan di tempat tidak biasa’ tersebut menjadi ciri khas iklan ambient media hingga saat ini. Sementara itu,

penggunaan istilah „ambient media‟ sendiri

sebagai suatu jargon baru muncul pada tahun 1999.

Nama ini diberikan untuk suatu cara menawarkan produk atau servis di luar ruang (out-of-home) melalui beberapa media non- tradisional atau media alternatif. Ambient media dapat digunakan secara bersamaan dengan menumpang media-media tradisional (media massa) ataupun berdiri sendiri.

Namun, dalam perkembangannya, media- media non-tradisional atau media alternatif baik yang dipasang di luar ruang maupun di dalam ruang telah menunjukkan keragaman yang secara signifikan akhirnya membentuk penamaan sendiri, sehingga istilah ambient media menjadi salah satu dan bukan satu-satunya lagi istilah untuk mendeskripsikan penggunaan media non- tradisional, media alternative ataupun media luar ruang seperti dikenal umum selama ini.

1. Iklan layanan masyarakat ‘Harian Kedaulatan

Rakyat’

Salah satu adopsi gaya iklan ambient dalam penerapannya dengan memasukkan unsure muatan local dan vernacular terhadap kultur budaya asli Indonesia seperti terlihat pada

penyajian iklan yang dimuat di ‘Harian Kedaulatan Rakyat”. Iklan layanan masyarakat

tersebut memberikan pesan ajakan kepada para

pembaca perihal ‘kesadaran akan kebersihan’

dan perihal seruan mengajak kepada nilai

warisan leluhur ‘gotong royong’.

Gambar 1. Iklan muatan lokal di Harian Kedaulatan Rakyat,

Dalam dokumen Tanra - FSD UNM (Halaman 46-55)

Dokumen terkait